Kamis, 23 Oktober 2014

_“Your Kiss Is MINE!”_ SPESIAL SEQUEL 2

_“Your Kiss Is MINE!”_ SPESIAL SEQUEL 2


Tittle                    :: “Your Kiss Is MINE!”
Cast                      :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun,  And Others Cast
Genre                   :: Romance, School Life
Rating                  :: PG + 17 
This Story Original From @Jjea_




- "Terkadang orang yang paling dekat dengan kita, adalah orang yang sering menyakiti kita. Tapi, jika kita tidak mengalaminya, maka kita tidak akan tahu seperti apa rasa sakit yang sesungguhnya." -



_“Your Kiss Is MINE!”_


 
             


               Dalam waktu 24 jam dalam sehari, tak ada hal yang lebih banyak menarik perhatian gadis bermata bulat ini, selain berkirim pesan dan saling menelpon dengan seseorang. Seseorang yang tanpa sadar selalu ia pikirkan dan rindukan tiap detiknya ia bernafas. Cho Kyu Hyun ... itulah nama pria itu. Pria yang untuk pertama kalinya mengajarinya tersenyum dan bertahan dalam rasa sakit, pria yang sangat ia cintai di dunia setelah
sosok Ayahnya.

            Dalam minggu terakhir bulan maret ini, seharusnya Kyu Hyun menjemput Hiu Hwi untuk kembali ke Korea dan melangsungkan pernikahan mereka. Tapi apa daya, Hiu Hwi yang lulus tes kemarin harus menjalani tes lagi untuk selanjutnya. Dan Kyu Hyun? Ia tak bisa apa-apa, jika bahkan proyek pertama yang ia tangani sendiri ini juga butuh penanganan yang lebih serius dari kemarin. Kyu Hyun sepertinya tak ingin main-main. Jika sudah menyangkut nama keluarga besar Cho, ia pasti akan serius menanganinya seperti janjinya saat Tuan Cho meninggal beberapa tahun silam.

             Pernikahan keduanya akhirnya diundur, sampai mereka memiliki waktu yang tepat. Mungkin, di bulan April mendatang. Dan kebetulan, bulan itu adalah bulan untuk pertama kalinya mereka dipertemukan sebagai calon adik dan kakak. Tapi sekarang, mungkin kelak mereka akan kembali dipertemukan di bulan ini, tapi—dengan keadaan dan hubungan yang telah berbeda dari sebelumnya.

            “Kau belum mengantuk?” tanya Kyu Hyun disela kesibukannya menatapi langit malam melalui kamar tidurnya itu. Sekalipun waktu Korea dan Australia berbeda, tapi keadaannya tetap saja mereka berada pada malam hari. Waktu dimana, keduanya sering menghabiskan waktu untuk berbincang. Ini sudah detik ke 3 jam mereka bercerita melalui ponsel genggam. Hanya dengan seperti ini, sepertinya benar-benar sangat cukup. Oh baiklah..., apakah ini rasanya menjalani hubungan jarak jauh? Walau cukup, tapi tetap saja tak puas.

            “Sedikit. Bagaimana denganmu, Tuan Cho? Kau sudah mengantuk? Aku rasa di sana sudah hampir pagi benar? Tidurlah, bukankah besok kau harus bekerja lagi?”

             “Kau tau aku merindukanmu, huh?”

            “Cah..., kau mengatakan kata ‘rindu’ dengan nada yang seperti itu, benar-benar tak romantis!”

            “Bukankah kau tak suka dengan pria yang romantis? Karna yang kutau, kau hanya menyukai pria dengan tipe ideal sepertiku!” Hiu Hwi sentak tersenyum mendengar balasan Kyu Hyun kali ini. Jika bisa sekarang, ingin sekali ia memeluk pria itu dan tak ingin melepaskannya.

            “Hummm..., tapi ini sudah tiga jam kita bertelponan. Kau tau betapa panasnya ponselku sekarang?”

            “Aku tidak perduli. Ah..., jika aku berada di sana, aku akan menghempaskan ponselmu itu. Sudah 3 bulan semenjak aku membelikannya benar?”

             “Kyu....”

             “Kau pikir waktu tiga jam cukup untukku melepaskan rasa sialan ini? Hiu Hwi-ya..., itu terlalu singkat. Aku ingin ... aku ingin berlari ke sana, lalu memelukmu dengan erat. Sungguh, aku benar-benar ingin melihatmu. Satu detik! Cukup satu detik sekarang,”

             “Tapi, bukankah masih ada hari esok? Kau harus bangun pagi, dan bekerja. Aku tak ingin kau semakin lelah hanya karna kurang beristirahat.”

             “Kau sadar, jika akhir-akhir ini kita tak banyak berkomunikasi seperti dulu? Kau sibuk, dan aku sibuk. Bagaimana bisa aku berkonsentrasi penuh pada pekerjaanku, jika bahkan aku kekurangan vitamin untuk semua organku? Kau tau apa yang kumaksud bukan?”

             Tangan Hiu Hwi bergetar memegang badan ponsel miliknya kini. Bukan hanya karna perkataan Kyu Hyun saja yang membuat kedua matanya memanas sekarang, tetapi juga karna perasaannya yang sama seperti
Kyu Hyun. Jeongmal! Ia benar-benar merindukan pria bermarga Cho itu sekarang. Ia akui, jika akhir-akhir ini, mereka jarang berkomukasi seperti dulu yang setiap saat dapat saling menelpon. Sekarang, bahkan satu menitpun rasanya berharga sekali.

             “Kau benar merindukanku, Kyu? 3 jam tak cukup? Benarkah?”

             “Hwi-ya, kau sen—”

             “Apa bukan karna kau mendapat gratis menelpon?”

             “YAK!”

             Hiu Hwi terkekeh untuk menyembunyikan nada getarannya sekarang. Ia tak perduli bagaimana telinganya telah berdengung dengan hebat. Yang jelas, ia sebenarnya juga tak ingin menghentikan komunikasi mereka begitu saja. Walau hanya perbincangan bodoh yang selalu mereka perdebatkan, tapi semua itulah yang membuatnya merasa, jika kebahagian itu benar-benar sederhana.

             “Jika kau mengantuk, pejamkan matamu Hiu Hwi,”

             “Hummmm....”

             “Rasakan aku ada di sana, dan tengah memelukmu,”

             “Kyu....”

             “Kau tau? Aku juga tengah memejamkan mataku sekarang, merasakan kau ada di sini, di dekatku, di dalam pelukanku. Ummmhhh..., benar-benar hangat! Ah ya..., Hwi-ya...,”

             “Mwo?”

             “Cium aku!”

             “Hahaha, dasar Cho Pervert!”

             “Ayolah, sedikit saja. Anggap saja kecupan sebelum tidur, atau mungkin kecupan—”

             “Andwe!”

             “Andwe? Oh baiklah..., aku akan meminta tolong pada sekretarisku saja untuk menciumku, karna yeoja-ku sendiri tidak mau memberinya.”

             “YAK!”

             “Hahaha..., kalau begitu cepat lakukan. Cium aku sampai aku terlelap. Jangan melepaskannya, sebelum aku yang meminta. Aku ingin, malam ini bibirmu menempel pada bibirku sampai pagi.”

             “Ckckckck! Dasar Cho mesum!”

             “Yak! Palli...!” Rengek Kyu Hyun manja, membuat Hiu Hwi tersenyum kecil mendengarnya.

             “Emmmuuuach....” Kecup Hiu Hwi seraya menghadapkan ponselnya itu di dekat bibir mungilnya. Kyu Hyun sentak melekukkan wajahnya membuat senyuman yang begitu lebar. Sekalipun itu bukanlah ciuman yang nyata, tapi rasanya bahkan lebih nikmat dari sebelumnya.

             “Berbicaralah terus Hiu Hwi, jangan menghentikan ucapanmu. Katakan apapun padaku, aku benar-benar hanya butuh untuk mendengar suaramu sekarang.”

             “Cah..., kau curang!”

             “Bayangkan aku tengah memelukmu dari arah samping, menciumi pipimu, lalu merekatkan lagi pelukanku sampai tubuh kita benar-benar tak ada jarak lagi sekarang. Kau bisa membayangkannya?”

             “Aku merindukanmu Oppa.”

             “Bayangkan tiba-tiba saja tubuhku sedikit bangkit, lalu menatapmu. Mata, hidung, dan bibirmu itu adalah organ yang membuatku tak dapat berhenti memikirkanmu saat pertama kali kita bertemu. Aku ingin mereka menjadi milikku. Bukan hanya itu, tetapi semua yang ada padamu. Sekarang, bayangkan aku tiba-tiba mencium bibirmu sayang, sangat lembut. Kau harus menikmati setiap sentuhanku padamu, kau mengerti?”

             “Sayang?”

             “Jangan katakan padaku, jika kau ingin muntah mendengarnya,”

             “Hahahaha....”

             “Lalu, setelah aku menciummu, aku menggerakkan tangannku untuk menyentuh bahumu, menciummu lebih dalam sampai daerah leher dan—”

             “YAK! CHO KYU HYUN...! Apa tak ada hal lain dalam otakmu itu selain hal-hal seperti itu, huh? Ck!”

             “Hahaha, aku hanya bercanda bodoh! Kau benar-benar menggemaskan ketika kau berteriak dengan wajah merah seperti itu padaku.”

             “Si-siapa yang merah?”

             “Hwi-ya...,”

             “Mwo?”

             “Ayo kita tidur,”

             “Kajja!”

             “Hwi-ya...,”

             “Mwoya?”

             “Kita tidur,”

             “Yak! Cho Kyu Hyun, kau—”

             “Hiu-ie...,”

             “Ash...! Mw—”

             “Aku mencintaimu, Lee Hiu Hwi.”

             “Nde? Kyu....”


PIPP ... PIPPP


             Belum sempat Hiu Hwi hendak meminta Kyu Hyun untuk mengulang kalimatnya tadi, pria itu sudah lebih dulu dengan tidak sopannya menutup sambungan telpon mereka secara sepihak. Hiu Hwi tergagu dengan masih memegang badan ponselnya itu. Pria ini....

             “Kau pasti malu setelah mengatakannya langsung padaku, eoh? Dasar...! Cho, aku juga mencintaimu. Ani, aku sangat ... sangat mencintaimu. Selamat malam Oppa.”



***


             Kyu Hyun membenarkan letak kaca matanya saat kini ia menatap seorang wanita yang ia yakini adalah Cha Eun Yong itu dengan seksama. Tunggu..., wanita itu kali ini masuk ke dalam ruangannya dengan rok yang cukup pendek sampai memperlihatkan paha putih mulusnya dengan jelas. Jika ditanya apakah Kyu Hyun tergoda dengan keseksian sekretarisnya itu, maka jawabannya adalah ‘iya’. Come on, dia adalah pria normal.

             “Kau semakin sexi dimataku Nona Cha,” ucap Kyu Hyun seraya mencoretkan sesuatu pada berkas di hadapannya, membuat Eun Yong seketika tersenyum malu. Entah ini pikirannya saja atau bukan, menurut Kyu Hyun, setiap kali Eun Yong masuk ke dalam ruangannya, rok gadis itu pasti menyempit dan terlihat lebih pendek dari sebelumnya. Apakah gadis itu mengangkat roknya lebih ke atas, atau mungkin memotongnya sebelum masuk kemari? Entahlah....

             “Aku rasa, kekasih Direktur lebih sexi dariku, benar?”

             “Tidak, kau bahkan jauh lebih sexi darinya. Hiu Hwi tak pernah memakai baju yang terlalu terbuka. Dia lebih suka memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Setiap kali memakai rok pendek atau menggunakan baju yang tanpa lengan, dia pasti akan mengeluh ‘malu’ padaku.”

             “Benarkah? Lalu, apa Direktur lebih suka dengan wanita yang sexi?”
           
             “Tentu saja. Aku seorang pria normal, tentu aku suka hal-hal yang berbau
dengan keseksian seperti itu.”

             “Ah..., jeongmal?”

             “Sebagai seorang pria aku memang suka dengan hal-hal yang seperti itu. Tapi, hanya sebatas suka dan tertarik, bukan hal yang membuatku ingin merasa lebih memilikinya,”

             “Nde?”

             “Banyak pria yang memang tertarik melihat wanita yang memperlihatkan jelas lekuk tubuhnya. Apa kau tau itu karna apa? Karna nafsu dan hasrat. Walau tak kujelaskan, pasti kau mengerti bagaimana arti dari nafsu dan hasrat yang kubicarakan ini, biasanya rasa seperti itu hanya sementara. Dan untuk seorang wanita, seharusnya itu menjadi sebuah kerugian. Aku memang suka wanita sexi, bahkan dulu aku juga sering bermain-main dengan mereka, tapi hanya sebatas itu. Untuk masuk ke dalam ketegori menjadi Ibu dari anak-anakku kelak, aku sama sekali tak butuh wanita-wanita sexi itu, mereka tak pernah masuk ke dalam daftar seseorang yang ingin kunikahi, karna kurasa aku tak butuh hal-hal yang seperti itu. Aku lebih suka wanita yang seperti Hiu Hwi-ku. Dia membuatku menjadi pria yang paling spesial di dunia ini, karna hanya akulah yang dapat melihat betapa sexinya dia, tak ada pria lain, tak ada orang lain yang pernah melihat tubuhnya sedikitpun. Aku lebih suka wanita yang menjaga seluruh tubuhnya untuk satu pria saja; suaminya kelak. Aku suka sexi, tapi aku
lebih tertarik pada wanita yang dapat membuatku penasaran sampai aku ingin memilikinya di hidupku. Hanya untukku! Aku tak butuh wanita yang memperlihatkan paha, dada, lengan dan apapun itu kepada banyak orang,”

             Perkataan Kyu Hyun itu sontak saja membuat air mata Eun Yong seketika tumpah. Betapa kalimat sederhana dari pria itu telah benar-benar menohok langsung ke ulu hatinya. Kyu Hyun sebetulnya—benar!

             “Maaf sebelumnya. Jika aku boleh memberi saran padamu Eun Yong-shi, jadilah wanita yang dapat membuat pria yang kau sukai merasa spesial, jadilah wanita yang dapat membuat banyak pria jatuh hati padamu, bukan karna apa yang diperlihatkan oleh tubuhmu, tapi dari hati dan rasa tulusmu. Kau cantik! Aku yakin, kelak pasti ada pria yang akan menyukaimu tanpa adanya alasan lain yang ia pikirkan. Jika kau tulus mencintai orang lain, aku percaya kau juga akan mendapatkan ketulusan dari orang lain,”

             “Maafkan aku Direktur Cho, aku permisi.” Eun Yong menghapus air matanya cepat seraya membungkuk sekilas dan berbalik untuk segera keluar dari ruangan ini. Kyu Hyun menatapi punggung sekretarisnya itu yang nampak bergetar hebat.

             “Dan jika kau telah berhasil membuat seorang pria jatuh hati padamu karna ketulusan, maka jangan harap pria itu akan lari darimu. Sama sepertiku, karna ikan bodoh itu, aku menjadi gila seperti ini! Cah...,” Kyu Hyun tampak berbicara pada dirinya sendiri, lalu sentak mengambil telponnya dan menekan nomor seseorang di sana. Lagi, untuk kesekian kalinya, gadis itu terlintas dalam benak dan otaknya.

             “Yeoboseyo?”

             “Ikan, kau sudah makan?”

             “Yak!”

             “Hahaha....”

             “Menelpon seseorang saat masih berada pada jam kantor, kau ingin kupecat Direktur? Apa kau tak punya pekerjaan?”

             “Pekerjaanku masih banyak sekali, tapi aku ingin mendengar sebentar suara vitaminku ini berbicara. Hiu Hwi-ya..., gwenchana?”

             “Gwenchana, aku hanya merasa sedikit pusing. Hidungku rasa dipenuhi dengan banyak gumpalan. Dari ta—Haaa—Haaachi—”

             “Kau bersin? Cah..., dimana kau sekarang? Kau tak kuliah bukan? Sudah minum obat? Yak! Kalau perlu ke Dokter sekarang. Jangan menyepelehkan hal kecil, cepat obati sampai sembuh,” omel Kyu Hyun dengan nada panik, membuat Hiu Hwi tersenyum mendengarnya.

             “Gwenchana....”

             “Gwenchana? Kau selalu berkata seperti itu! Jika memang tidak apa-apa, kenapa suaramu seperti itu?”

             “Aku sudah minum obat Kyu, kurasa besok juga sembuh.”

             “Obat apa yang kau minum? Aku minta fotomu sekarang! Awas jika wajahmu pucat!”

             “Ashh..., gwenchana. Kau tak usah berlebihan seperti itu. Hari ini aku tak kuliah, aku juga sedang berbaring di kamar untuk beristirahat. Aku sudah makan, aku juga sudah minum obat...,” balas Hiu Hwi dengan satu tarikan nafas. Tak ada jawaban dari Kyu Hyun. Kenapa pria itu diam?

             “Kyu Hyun-ah...,” tetap tak ada jawaban!

             “Kyu, aku sungguh baik-baik saja. Aku hanya demam kecil, dan itu—”

             “Kelak, jangan menghubungiku jika kau sedang sakit, jangan berbicara padaku jika kau sedang tak baik-baik saja,”

             “Mwo?”

             “Apa perlu aku berteriak menyuruhmu untuk pergi ke Dokter?”

             “Tidak perlu. Aku bukannya memiliki penyakit yang besar Kyu, aku hanya—”

             “Terserah kau saja! Bukankah kau bisa mengurus dirimu sendiri, benar? Ya sudah....”


PIPP ... PIPP


             “Cah..., ige mwoya?” tanya Hiu Hwi pada ponselnya sendiri, sesaat setelah Kyu Hyun tiba-tiba saja mematikan percakapan mereka di detik itu. Apa Kyu Hyun marah padanya? Tapi karna apa? Bukankah dia yang sakit?

             “Dasar Cho Kyu Hyun!” Umpat Hiu Hwi menghempaskan ponselnya ke samping tempat tidurnya itu. Tangan kanannya terangkat, memijat pelan pelipisnya yang seakan berdenyut, Entah bagaimana caranya kali ini ia membujuk Kyu Hyun agar tak marah-marah lagi seperti tadi.

             “Ah...! Aku tidak perduli!”


***


             Sudah sampai selarut ini, Hiu Hwi tak jua menghentikan aktivitasnya menatap ponselnya itu. Entah mengapa ia sekarang malah menunggu panggilan ataupun pesan singkat dari Kyu Hyun. Tak ada apapun di
ponselnya, rasanya ingin mati saja.

             Hiu Hwi tampak menghembuskan nafasnya menatapi lipatan kertas yang berada di atasnya, lalu berpaling ke arah jari manis kanannya yang kini telingkari oleh sebuah cincin yang begitu indah. Tubuhnya pegal sekali untuk digerakkan. Hiu Hwi merasa jika semakin malam, tubuhnya semakin panas. Tampak beberapa mie gelas yang terparkir di atas nakas meja kamarnya itu. Jika saja Kyu Hyun mengetahui ia makan makanan seperti itu disaat seperti ini, habislah ia!


PIPPP ... PIPPP


             Hiu Hwi sentak bangun saat ia mendengar ponselnya berbunyi kecil. Dengan gerakan cepat, gadis itu membuka pesan atas nama Kyu Hyun disana. Yeah! Pria itu tak mengatakan apapun di kalimat pesannya. Ya Tuhan..., apa-apaan pria ini? Sejak tadi ia menunggu pesan Kyu Hyun dan ternyata pria itu hanya mengiriminya pesan kosong?


             “Wae?”

             Terkesan dingin, Hiu Hwi mengirimkan pesan itu pada Kyu Hyun.

             “Mwo?”

             Tak terlalu lama, hanya berselang satu menit, Hiu Hwi sudah dapat membaca jawaban Kyu Hyun. Mwo? Baiklah..., apa pria ini tengah mabuk?

             “Kenapa kau mengirimiku pesan kosong? Ada apa?”

             Jika boleh jujur, sebenarnya bukan hanya kalimat yang seperti itu yang ingin Hiu Hwi katakan pada Kyu. Tapi....

             “Eoh? Ah..., mungkin ponselku hanya rindu mengirim pesan padamu. Changkaman....”

             Hiu Hwi melongo membaca pesan Kyu Hyun itu. Cah..., apa pria ini tadi sebenarnya ingin menggombal? Changkaman? Hiu Hwi mengernyitkan dahinya.

             Baru saja Hiu Hwi hendak membalas kembali pesan Kyu Hyun itu, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi lagi. Tanpa membuang waktu, gadis itu sentak saja membukanya, dan....

             Tak ada teks lagi dari pesan Kyu Hyun itu, tapi kali ini ... pria itu sepertinya tampak mengirimkan sebuah foto selcanya pada Hiu Hwi. Gelap! Kyu Hyun seolah berfoto pada ruang yang hanya tersinari oleh beberapa lilin. Hiu Hwi tersenyum melihatnya, sekalipun Kyu Hyun tak terlalu menampakkan senyum lebar, tapi rasanya cukup!

             Hiu Hwi ingin menangis sekarang! Rasa rindu itu kian membuncah dalam relung jiwanya. Tapi tunggu...! Dimana Kyu Hyun mengambil foto ini? Tidak! Ruangan ini seperti tak asing lagi untuknya. Gadis itu diam sebentar! Sampai akhirnya, ia memaksakan tubuhnya untuk turun dari ranjang dan berlari untuk kel—


CKLEK!


             Baru satu gerakan tangan Hiu Hwi membuka knop pintu kamarnya ini, ia sudah disuguhkan dengan banyaknya lilin dalam ruang tamu Apartment-nya yang meremang. Lilin-lilin kecil itu seolah membentuk emoticon senyuman lebar, yang juga membentuk sebuah jalan menuju ke arah seseorang. Yah, seorang pria yang kini masih mengenakan jas hitam kerjanya.

             “Kkkkkyu....” Tersirat wajah lelah dengan lingkaran hitam di dekat mata pria itu. Tapi sama sekali tak mengurangi kadar ketampanannya. Tanpa disadari, Hiu Hwi sudah membulirkan air bening itu untuk turun dan melewati kedua pipi mulusnya. Ruangan Apartment-nya ini tampak sudah tersulap dengan berbeda dari sebelumnya. Apakah Kyu Hyun melakukan ini ketika ia tengah tertidur lelap? Ya Tuhan Kyu....

             “100 lilin kecil untukmu,” ujar Kyu Hyun mendekat.

             “Aniya, bukan 100. Tapi ... 101 termasuk yang ini,” lanjut Kyu tersenyum seraya memegangi satu lilin di tangannya.

             “Sebuah lilin yang dapat bersinar terang itu bukan tanpa masalah. Ia menghalau angin dan sejuta gangguan lainnya agar tetap bertahan. Tapi, aku tak ingin kau menjadi seperti lilin. Ia memang menerangi, ketika dalam kegelapan. Tapi, ia membinasakan diri.  Mengorbankan diri dengan menjadi lilin untuk menerangi semua orang, itu tidak baik. Karna, setelah lilin itu habis, maka kegelapan akan kembali menjelma dan lilin itu tidak akan dapat bangkit kembali untuk menerangi orang lain lagi. Cukup menjadi Lee Hiu Hwi yang bodoh, maka keadaan gelap pun akan terasa terang untukku,”

             “Kyu Hyun-ah....”

             “Jangan mengatakan kau tidak apa-apa lagi padaku, ketika kau pada kenyataannya memang tengah merasa kesakitan. Apa kau merasa kau wanita kuat dengan melakukan itu? Jangan mengatakan kebohongan hanya agar orang lain tak kuatir padamu,”

             “Kyu....”

             “Jangan sakit, jeball. Aku benar-benar merasa ketakutan setiap kali aku mendengar, jika kau dalam keadaan tak baik,” kelopak mata Kyu nampak berair, membuat Hiu Hwi tak kuat lagi menahannya. Gadis itu dengan cepat berlari ke arah Kyu Hyun, segera memeluk pria itu dalam bias kerinduannya selama ini.

             “Bogoshipo....” Isak Hiu Hwi seraya memeluk Kyu Hyun dengan begitu erat. Pria itu tersenyum, mengangkat tangannya untuk segera membalas pelukan gadisnya ini. Ia rela terbang dari Seoul ke Australia, setelah menelpon Hiu Hwi siang tadi dan menyiapkan semua ini ketika Hiu Hwi terlelap. Persetan dengan berkas-berkas pekerjaannya yang tertinggal di ruang kerjanya itu. Semua orang yang berada di kantornya sentak
panik, menyadari jika sang Direktur tiba-tiba hilang entah kemana. Yang terpenting untuk Kyu Hyun sekarang adalah ... calon istrinya ini.

             “Badanmu sangat panas, Hiu-ie. Berapa derajat suhu badanmu ini, huh?” Kyu Hyun berbicara itu seraya meletakkan lilin di tangannya, lalu mengangkat Hiu Hwi untuk berada dalam gendongannya sekarang.

             “Mollasseo.” Hiu Hwi menyandarkan kepalanya di dada Kyu Hyun, mengaitkan tangannya untuk berpegangan pada bahu namja itu.

             “Apa masih sangat pusing?”

             “Aniya,”

             “Hemmmmmmm?”

             “Cho! Sungguh, aku tidak terlalu merasa pusing lagi sekarang. Kali ini aku benar-benar tak berbohong. Kau tau kenapa? Karna Dokter dan obatku sudah bersamaku sekarang.”

             “Kau belajar darimana kalimat seperti itu, eh?” Kyu Hyun tersenyum lagi sembari kini berjalan dan melewati lilin itu untuk masuk ke dalam kamar Hiu Hwi, meletakkan tubuh gadisnya itu perlahan ke atas tempat tidur.

             “Cho, untuk sekian kalinya kau membuatku terkejut. Kau sadar, betapa romantisnya kau itu?”

             “Waktu itu kau mengatakan, jika aku sama sekali tak romantis. Tapi sekarang? Cah..., bahkan kau sampai menangis. Bodoh!” Kyu Hyun menopang kedua tangannya di sisi kiri-kanan Hiu Hwi, agar tubuhnya tak terlalu menindih gadis ini.

             Kyu Hyun memiringkan kepalanya, bersiap untuk menghisap daun bibir mungil di hadapannya itu seperti biasa, tapi....

             “Tidak boleh! Aku tak ingin kau tertular!” Hiu Hwi kontan menutupi bibirnya erat, membuat Kyu Hyun mendengus dengan senyuman kecil.

             “Yak! Aku jauh-jauh kemari untuk menciummu, tapi sepertinya kali aku tak mendapat jatah begitu?”

             “Jadi, kau kemari hanya untuk menciumku?”
           
             “Tidak! Tapi, juga untuk membuat segera penerus Cho Grup agar ia segera menggantikanku di kantor. Aish..., Hiu Hwi-ya, kau tau betapa sengsaranya aku mengerjakan semua berkas-berkas sialan itu? Aku ingin segera memiliki anak, lalu memperkerjakannya di sana, agar aku dapat bebas dan hanya ada berada di
kamar untuk mencumbuim—”


PLETAK!


             “Arghhhh—Yak!” Kyu Hyun sentak melotot ke arah Hiu Hwi tatkala gadis itu menjitak kepalanya cukup keras.

             “Dasar Cho Pervert!”

             “Hahaha, aku hanya bercanda bodoh. Kau tau siapa aku, bukan?” Kyu Hyun nampak memasukkan kepalanya untuk berada di sela leher gadis itu, menikmati sensasi hangat yang tercipta di sana.

             “Kepalamu masih sakit?” Hiu Hwi mengangguk mendengar pertanyaan Kyu Hyun kali ini. Mata gadis itu tampak sayu, mengisyaratkan sekali rasa sakit yang ia tanggung sekarang.

             “Dingin.” Hiu Hwi memeluk tubuh Kyu Hyun dan memejamkan matanya. Kyu Hyun berpindah tempat ke arah samping, memeluk Hiu Hwi dan mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Kyu Hyun tak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Melihat Hiu Hwi yang tengah terkulai lemah tak seperti biasanya, membuatnya seakan ikut sakit. Bahkan, lebih sakit dari itu.

             “Tidurlah...,” bisik Kyu Hyun mencoba untuk membuat Hiu Hwi terlelap dan berhenti merasakan rasa pening itu. Gadis itu mengangguk kecil, lalu berusaha untuk tidur. Rasanya hal seperti ini biasa, tapi tidak untuk hati seorang Cho Kyu Hyun sekarang. Ini luar biasa! Momen seperti ini tak akan pernah bosan untuk ia lewati.

             Sejak dulu, bahkan hanya Hiu Hwi yang dapat membuatnya seperti ini. Su Ho Kim? Ia masih sangat ingat betul, bagaimana cemburunya ia tatkala Hiu Hwi bersama bocah itu. Entah bagaimana kabar Su Ho sekarang, yang jelas..., Kyu Hyun tau pria itu sedang berada di tingkat 3 dan menggantikan posisinya di Sekolah itu menjadi Senior yang tampan nan ditakuti! Kyu Hyun tersenyum mengingat masa Sekolahnya dulu. Jika bisa diulang, Sekolah yang dulu terasa membosankan untuknya, ternyata lebih menyenangkan ketimbang bekerja layaknya orang dewasa seperti ini. Dulu, bahkan hanya kesenanganlah yang ia pikirkan.

             “Hwi-ya...,” desah Kyu Hyun saat ia merasakan Hiu Hwi menggeliat dengan deruan nafasnya yang tak beraturan. Oh ya Tuhan..., ia tak tega melihat Hiu Hwi menanggung rasa tak nyaman itu seorang diri. Jika bisa, ingin sekali ia meminta penyakit gadis itu berpindah padanya saja sekarang.

             Di tatapnya sejenak wajah Hiu Hwi yang tak semanis biasanya. Gadis itu seolah menahan sesuatu di tubuhnya. Kyu Hyun tak bisa melihat gadis ini seperti ini, sampai seketika....

             “Kyu....”

             “Diam saja!” Bisik Kyu Hyun seraya memposisikan kembali tubuhnya berada di atas gadis itu, dan memiringkan wajahnya. Kyu Hyun mengecup sekilas daun bibir Hiu Hwi, lalu kembali menempelkan bibirnya untuk mencumbu bibir mungil gadis itu. Tak seperti biasanya, Kyu Hyun tampak menghisapnya dengan terburu-buru.

             “Apa yang kau lakukan? Kau bisa sakhh—Hummmmpphhh—” Hiu Hwi tak bisa lagi banyak berbicara sekarang, bahkan untuk merontapun percuma. Kyu Hyun sudah lebih dulu menahan kedua tangannya, dan
kembali mengecup bibirnya lagi.

             “Kau tak kuliah kan besok? Baguslah!” Tanpa perlu meminta jawaban Hiu Hwi, Kyu Hyun sentak menempelkan bibirnya pada leher gadis itu, membuat tanda kemerahan di sana yang membuat Hiu Hwi sedikit mengumpat dibuatnya.

             “Aku akan membantumu melupakan rasa sakit itu,”

             “Kyu—ahhh—” Hiu Hwi mengepalkan tangannya tatkala Kyu Hyun menjulurkan lidahnya mengelilingi leher serta bahu putihnya itu. Gadis itu tak dapat menolaknya lagi, sampai Kyu Hyun perlahan melepaskan cengkramannya pada kedua tangan gadis itu, dan memintanya untuk bergelayut di leher Kyu.

             Kyu Hyun sedikit membenarkan lagi posisinya, sampai kini ia dapat dengan jelas membuka mulutnya untuk mengecupi bibir Hiu Hwi yang bukan hanya sekedar menggodanya kini. Hiu Hwi tanpa sadar ikut menghisap bibir bawah Kyu, tatkala namja itu memainkan lidahnya dirongga mulut Hiu Hwi.

             “Euuummmhhh—hhhhh—” Kyu Hyun tak dapat menahan suaranya, hingga decakan perpaduan bibir keduanya pun ikut terdengar. Tangan kanan Kyu Hyun mengelus pelan rahang Hiu Hwi, meminta gadis itu untuk sedikit mendongak, agar bibir keduanya dapat lebih merapat lagi. Seakan tak ingin terlalu lama lebih dulu, Kyu Hyun mengalihkan bibirnya pada dagu runcing Hiu Hwi, memasukkan secara penuh dagu gadis itu ke dalam mulutnya untuk ia hisap kuat. Berpindah, ke arah pipi kanan Hiu Hwi, mengecupnya sebentar sampai sedikit memerah, lalu menjilatinya, seakan pipi gadis itu adalah makanan terlezat di dunia.

             “So delicious, beb—” erang Kyu Hyun menarik selimut tebal untuk segera menutupi tubuh keduanya. Bukan bermaksud apa-apa, Kyu Hyun hanya ingin Hiu Hwi mengeluarkan banyak keringatnya sekarang.

             Dengan penuh kelembutan, Kyu Hyun menggigit daun telinga kanan Hiu Hwi dan menjilati tengkuk gadis itu layaknya seekor kucing. Hiu Hwi merasa geli yang amat sangat menjalar ditubuhnya sekarang.

             “Jangan mengeluarkan suaramu, atau aku benar-benar akan kehilangan kontrol,” Kyu Hyun tersenyum miring sejenak, hingga ia kembali membuat banyak kemerahan di leher gadis itu. Mungkin jika di Indonesia, ini bisa dikatakan sebagai ‘kerokan’? Yah, atau apalah itu. Yang jelas, ini cara Kyu Hyun melakukannya.

             Baju atas yang dipakai Hiu Hwi sedikit tertarik ke arah samping, hingga kini membuat Kyu juga dapat
melancarkan aksinya pada bahu serta tulang selangka gadisnya itu. Untuk bagian yang ini, Kyu Hyun tampak begitu buas menghisapnya. Kyu Hyun tersenyum puas, saat ia dapat melirik wajah Hiu Hwi yang menunjukan perbedaan. Gadis itu sepertinya melupakan penyakitnya. Baguslah!

             “Seandainya, kita sudah menikah kemarin, aku benar-benar tak akan mengampunimu malam ini!” Kyu Hyun menggesekkan hidungnya pada hidung mancung Hiu Hwi, membiarkan gesekan itu membuat Hiu Hwi
bernafas panjang sebentar.

             “Aw...!” Kyu Hyun meringis sejenak, saat Hiu Hwi tanpa sengaja mengigit kecil hidung Kyu Hyun yang nampak mengusap-usap daun bibirnya itu. Namja itu menatap Hiu Hwi yang masih dalam keadaan menutup
matanya dengan senyuman nakal.

             “Kau gigit bagian yang ini saja, sayang....” Desah Kyu Hyun menempelkan lagi daun bibirnya untuk membiarkan mereka kembali berpadu dalam dua rongga mulut itu. Kyu Hyun tampak memiringkan kepalanya ke kiri, lalu berpindah ke kanan, menghisap cepat lidah gadis itu dengan pelan. Kembali, keduanya bergumul dalam ciuman hangat mereka.



***
           

              Pagi menyapa dengan lembut, memberikan sengat hangat dan dingin secara bersamaan. Cicit burung berkumandang, seakan menyuarakan betapa indahnya Negara ini pada pagi hari. Sudah banyak orang yang
nampak kembali melanjutkan pekerjaan mereka seperti hari kemarin-kemarin. Menurut pendapat beberapa orang, apa yang kita kerjakan dipagi hari adalah penentuan perubahan apa yang akan terjadi pada hari ini.

              Tak seperti waktu itu, saat membuka mata Kyu Hyun telah hilang untuk kembali ke Korea. Tapi sekarang? Pria itu bahkan masih sangat lelap sekali tertidur seraya memeluk Hiu Hwi dengan erat. Tak pernah pelukan pria itu mengendur sedikitpun. Hiu Hwi tau, jika Kyu Hyun baru saja tertidur pada jam 5 pagi ini. Ia menjaga Hiu Hwi dalam keadaan terlelap maupun tidak.

              “Gomawo,” bisik Hiu Hwi seraya menatap wajah polos Kyu Hyun yang masih nampak begitu lelap. Bibir pria itu sedikit terbuka, membuat Hiu Hwi mengingat kembali bagaimana bibir itu bekerja semalam. Kyu Hyun lagi-lagi menepati janjinya! Ia berhasil menahan nafsunya, sekalipun Hiu Hwi tau betapa Kyu Hyun hampir lepas kontrol semalam. Tapi, tetap ... Kyu Hyun pada akhirnya, mampu melawan itu. Tak terjadi apapun semalam,
selain ciuman-ciuman itu.

              Hiu Hwi sedikit menggeliat. Rasa tubuh dan kepalanya tak sesakit semalam. Begitu besarkah efek seorang Cho Kyu Hyun untuk Lee Hiu Hwi? Sampai, saat inipun Hiu Hwi benar-benar merasa tubuhnya semakin baik-baik saja. Kepala Hiu Hwi berpaling kembali menatap sosok Kyu Hyun di sampingnya, tersenyum geli memperhatikan wajah tampan pria bermarga Cho itu.

              “Cho, bangunlah. Bukankah kau harus segera kembali ke Korea pagi ini?” bisik Hiu Hwi seraya memainkan jari telunjuknya pada bibir pria itu.

              “Eummm...,” Kyu Hyun hanya melenguh mendengar perkataan Hiu Hwi, menarik pinggang gadis itu untuk ia dekap lagi. Hiu Hwi sebenarnya ingin menjitak Kyu Hyun sekarang, tapi ia urungkan saat ia merasakan suhu tubuh Kyu Hyun cukup panas sekarang.

              “Yak! Jangan katakan, jika kau ikut demam Cho?” tanya Hiu Hwi seraya menempelkan punggung tangannya pada dahi Kyu Hyun. Pria itu hanya diam dengan masih memejamkan matanya. Panas! Oh baiklah..., Kyu Hyun demam!

              “Ash! Bukankah semalam aku sudah mengatakan, jangan menciumku dulu? Kau akan tertular! Lihat, perkataanku benar bukan? Kau ini....” Hiu Hwi hendak bangkit dari tempat tidurnya, namun dekapan tangan Kyu Hyun tak mengendur sedikitpun.

              “Kau sudah merasa baik?” tanya Kyu Hyun dengan suara parau.

              “Kyu....”

              “Aku akan lebih bahagia, jika kau dapat membagi rasa sakitmu itu padaku. Kau tau? Aku tak kuat saat melihatmu kesakitan seperti semalam. Jika aku demam sekarang, berarti pekerjaanku semalam tak sia-sia.”

              “Kau ini bodoh atau apa? Tsk!”

              “Sekarang, kau yang harus menyembuhkanku seperti apa yang kulakukan semalam! Aku sudah siap! Apa aku harus membuka semua bajuku juga?”

              “Cho...!”

              “Hahaha...,”


CUP!


              “Kiss morning,” Kyu Hyun sentak mencengkram kerah baju Hiu Hwi, lalu mengangkatnya untuk dapat menggapai bibir gadis itu tanpa perlu bergerak banyak. Pria itu tetap belum ingin membuka matanya, rasanya masih berat sekali.

              “Ini sangat romantis! Kita berdua sama-sama demam sekarang, hahaha.” Kyu Hyun tertawa sebentar, lalu membalikkan tubuh Hiu Hwi agar kini ia yang berada di atas gadis itu. Kali ini, Kyu Hyun membuka matanya perlahan.

              “Kepalamu pusing, Cho?”

              “Terasa sangat berat.”

              “Kalau begitu, kau tak boleh kembali ke Korea sekarang. Tetap di sini bersamaku, sampai kita sembuh bersama. Kau mengerti?”

              Kyu Hyun hanya mengangguk kecil mendengar penuturan Hiu Hwi seraya menyandarkan kepalanya untuk tertidur pada dada gadis itu. Hiu Hwi mengangkat jari jemarinya, mengelus puncak rambut Kyu Hyun dengan lembut.

              “Aku akan membuat bubur sebentar Kyu, menyingkarlah.”

              “Cium aku lebih dulu, Nyonya Cho!” Kyu Hyun mengangkat kepalanya lagi menatap Hiu Hwi dengan wajah memelas, membuat gadis itu mendengus kecil. Keduanya saling bertatapan dalam bisa senyum mereka, sampai akhirnya Hiu Hwi hendak mendekatkan wajahnya pada Kyu, memasang ancang-ancang untuk mengec—

              “Haaaachi!” Hiu Hwi dan Kyu Hyun tampak serentak mengeluarkan bersin mereka di titik ini, membuat keduanya sentak tertawa bersama setelahnya.

              “Kita benar-benar romantis!”

              “Hahaha, Cho!”

              “Ikan!”

              “Yak! Ash...!”

              “Kau berteriak seperti mendesah, Hwi. Tolong jangan menggodaku sepagi ini!”

              “Itu bukan desahan, Cho! Tapi ini—Ahhhh—Ummmmhhhh—itu baru namanya—”

              “Yak! Kemari kau CHO HIU HWI!”

              “Hahahaha....”



=FIN=







SEE YOU...!! THANK YOU SO MUCH buat RCL kalian selama ini ya..!! Maaf teh, aku gax bisa bales satu2... Tapi selalu aku baca semua2nya dan jadi referensi buatku ke depannya... XD

1 komentar: