_”Bad Boy”_ Part 10 [KYU-HWI SCHOOL]
Tittle : “BAD BOY!”
Cast : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Khazuma Tetsuya
Rating : PG-17 / Straight
Genre : School Life
Don’t BASH... This Just For Fun!
Disatu sisi, tampak seorang namja tengah mengosok-gosokkan kedua tangannya berulang kali dibangku Taman ini. Kedua kakinya menekuk, seakan meminta setitik kehangatan disana. Tubuhnya menggigil, bahkan bibirnya pun telah membiru menahan dingin. Bodoh? Sepertinya, namja yang bernama Kyuhyun ini tengah bertindak bodoh sekarang. Ia terus menerus menunggu ditempat ini dengan hanya memakai baju lengan panjang pada cuaca sedingin ini. Terdengar, namja itu sesekali terbatuk dan bersin ditempat ini.
“Yak! Lee Hiu Hwi kau kemana, HUH? Ash..., dingin!”
This Story Original From @Jjea_

‘Terkadang, mencintaimu menjadi lukaku,
Tapi entah mengapa, aku tak perduli rasa sakit itu.
Terkadang, aku merasa bukan siapa-siapa dimatamu
Tapi entah mengapa, aku tak perduli tentang hal itu.
Aku terus menyukaimu, sekalipun itu sangat menyiksaku’
_”Bad Boy”_ Part 10
Dunia membatu, dingin. Bongkahan lembut salju itu tampak satu per satu turun menutupi pasir, seolah melayangkan irama sajak yang sederhana. Sepertinya ... bintang tengah berpaling, bersembunyi dibalik awan-awan hitam yang begitu pekat diatas sana, bergerak tak senada melukiskan arah angin kehidupan yang nyata. Malam ini ... langit meremang, membiarkan bongkahan putih itu untuk terus-menerus melayangkan senyuman indah pada dunia.
* When it all began ... Mianhae *
“Huhhh...,” deru nafas berat namja tampan ini kembali terdengar lagi disisi bangku Taman ini. Kedua tangannya terlipat memeluk tubuhnya sendiri, seakan ingin terbebas dari kata menggigil. Sesekali, terlihat ia menggerakan tubuhnya tak karuan, bermaksud untuk mencari posisi yang dapat membuat keberadaannya nyaman sekarang. Tampak ia mengumpat berulang. Terkadang pula ia malah mendesah ngilu dengan bersandar di besi penyangga bangku itu.
“Dingin...,” kata itu kembali terucap dari bibirnya. Cho Kyuhyun ... bahkan sampai sekarang, namja itu masih saja belum bergerak dari tempatnya. Ia terlihat seakan tak berniat untuk pulang dari Taman ini. Persetan dengan kebodohannya itu, Kyuhyun sama sekali masih ingin menunggu Hiu Hwi. Seseorang yang dari satu jam yang lalu tak jua kembali.
Kyuhyun tampak memiringkan kembali kepalanya, bersandar dibesi dengan terus berusaha untuk mencari kehangatan disana. Ia tak tahan, dingin itu rasanya benar-benar merobek pertahanannya. Hingga sekarang, Kyuhyun mulai perlahan-lahan menutupkan kedua matanya, seakan ingin tertidur disana. Namja itu seolah-olah tak perduli lagi saat beberapa orang menatapnya aneh berserta tatapan iba secara bersamaan. Benar, ia mungkin bisa saja mati kedinginan disini.
“Hummm....” desah nafasnya terlihat seakan membentuk sebuah asap. Sungguh, Kyuhyun mungkin tak akan menyangka, jika ini dapat membuat suhu tubuhnya berada dititik tak normal. Bahkan sekarang, wajahnya telah benar-benar pucat. Hiu Hwi sejak tadi tak muncul, ia benar-benar tak paham tentang jarak dari tempat ini ke kotak minuman berada, seakan sangat jauh sekali, bahkan sampai yeoja itu belum kembali sampai sekarang. Tak ada lagi yang Kyuhyun inginkan selain melihat wujud gadis itu saat ini. Yah, ia sedikit kuatir tentang itu.
Sebenarnya, rasa kekuatiran itu sepertinya bukan hanya terjadi pada Kyu, tapi juga pada Hiu Hwi saat ini. Gadis dengan mata merah membengkak itu tampak mondar-mandir didalam kamarnya dengan raut panik. Ia benar-benar bingung sekarang, pikirannya seakan menyugestikan untuk berpikir dengan keras tentang apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Apa Kyuhyun Oppa masih menungguku disana? Ya Tuhan..., bagaimana ini?” Hiu Hwi nampak terdiam untuk sejenak. Yeoja itu tak bisa keluar dari dalam kamarnya saat ini, bahkan untuk bertindak yang macam-macam. Yah, itu terlalu berisiko. Namun, ia juga tak bisa menanggung perasaan tak tenang seperti ini terus-menerus. Ia benar-benar sangat ingin sekali memastikan, jika Kyuhyun tak ada lagi disana; tak menunggunya lagi di Taman itu.
“Aku tak bisa jika hanya menebak!” Hiu Hwi berbalik untuk mencari ponsel mungilnya diatas ranjang dengan cepat. Ia tak bisa diam, setidaknya ia berharap dapat tertidur nyaman malam ini, tanpa ada satupun pikiran kalut yang menyelimutinya.
“Yura!” Hiu Hwi bergumam kasar seraya mencari kontak telpon gadis itu. Jari jemarinya terlihat sekali bergetar, memberikan tanda jika tubuhnya sudah sangat begitu lelah hari ini. Gadis itu menitikan air matanya perlahan, menekan beberapa huruf untuk ia kirimkan pada Yura. Hiu Hwi benar-benar sudah tak tau lagi harus bagaimana. Setidaknya, ia sangat membutuhkan orang lain untuk membantunya sekarang.
“Salju turun cukup hebat! Yura-shi bisakah kau membantuku? Tolong temui Kyuhyun Oppa di Taman, aku tidak bisa keluar lagi. Bisakah kau membantuku untuk memastikan jika dia sudah pulang? Kumohon..., sebentar saja. Aku tak akan bisa tidur dengan tenang jika seperti ini. Kyuhyun bisa sakit, jika memang dia terus menungguku.”
Kalimat itulah yang kini Hiu Hwi kirimkan pada Yura, berharap jika yeoja itu akan membalasnya dengan cepat. Ia tak punya siapa-siapa lagi untuk ia mintai tolong, hidupnya selalu sendiri. Itu kenapa, Hiu Hwi sama sekali belum mengenal banyak tentang orang lain, tentang perlunya seorang teman disaat hal-hal yang tak terduga seperti ini.
“Aku mohon,” Hiu Hwi tampaknya sangat berharap sekali Yura akan mengiyakan permintaannya itu. Namun sayang, hampir 10 menit berlalu. Yura tak kunjung membalasnya. Apa gadis itu sudah tidur? Tidak mungkin! Yura adalah tipikal yeoja yang sering tidur larut malam, sama sepertinya. Aneh, tak pernah Yura tak membalas pesan dari Hiu Hwi seperti ini, sesingkat apapun itu.
Hiu Hwi mendadak gamam, Yura bahkan sama sekali tak menjawab panggilan darinya. Frustasi ... ia benar-benar tampak putus asa sekarang. Hiu Hwi tak tau, jika Yura juga tengah diselimuti rasa bimbang sekarang. Sejujurnya, ia sudah membaca pesan dari Hiu Hwi itu. Namun baru saja Yura hendak membalasnya, pesan lain pun masuk ke layarnya lebih dulu.
“Hey, Kim Yura! Ingat pesanku tadi siang.”
Sekalipun tak ada kontak nama dari nomor yang mengiriminya SMS seperti itu, tapi Yura yakin itu adalah Yesung. Gadis itu hanya mampu menghela nafas panjang dengan pikiran kalut. Ia ingat betul pesan Yesung tadi siang untuk tidak membantu dan membiarkan Hiu Hwi bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri. Tapi ... apakah benar ia harus percaya? Bukankah selama ini ia sangat tidak mempercayai Yesung? Entahlah, Yura tak mengerti mengapa ia mengizinkan hatinya untuk mengikuti perintah Yesung kali ini. Tidak! Ia memang tak boleh ikut campur.
“Mianhae Hwi-ya, jeongmal mianhae. Huft!” Yura tampak menarik selimut tebalnya sampai ke kepala, berharap pikirannya tak fokus pada deringan ponsel itu. Ia tau jika saat ini Hiu Hwi tengah menelponnya. Namun apa daya, ia tak bisa. Ada sesuatu yang seolah membiarkannya percaya pada Yesung. Yah, sekalipun ia tak mengerti sama sekali maksud dari ini semua. Bahkan, ia sangat yakin jika sekarang Hiu Hwi tengah dilanda dilema yang besar. Gadis itu pasti tengah merasa terluka sekarang dan butuh seseorang. Setelah pertengkaran besar tadi itu terjadi, rasa panas akibat tamparan sang Ayah itupun bahkan sepertinya masih sangat membekas dihatinya. Belum lagi tentang kekuatirannya akan keadaan Kyuhyun. Benar, Tuhan seolah tengah menghukumnya sekarang.
“Tidak! Aku harus keluar!” Hiu Hwi sentak berdiri dari duduknya itu seketika. Kedua matanya sudah sangat begitu merah, menatapi jendela kamar tidurnya dengan seksama. Dulu, Hiu Hwi sering melakukan ini; kabur keluar melalui jendela kamarnya. Saat ia kecil, memang banyak pengalaman yang sempat ia pelajari dan lakukan seorang diri.
‘Tidak perduli apapun, aku tak bisa diam seperti ini!’
Tubuh Hiu Hwi mulai bergerak, membuka jendela kamarnya untuk bersiap pergi. Design arsitektur rumahnya ini memang sedikit menguntungkannya, mengingat ia hanya perlu turun melalui dinding yg memang bertahap disana, beserta pipa panjang yang menjulur sampai kebawah cukup kuat. Sungguh, itu memudahkannya sekali untuk langsung turun ke bawah.
‘Maaf Appa ... sekali lagi, aku tak bisa menuruti perintahmu. Jika Appa tetap tak bisa mengajariku apa itu kebahagian, maka biarkan aku untuk mencarinya sendiri....’
Hiu Hwi telah menapaki kedua kakinya di rerumputan halaman samping rumahnya ini. Kepalanya mendongak menatapi kamarnya sejenak, lalu berbalik untuk berlari pergi keluar dari tempat ini dengan cepat. Mungkin akan berbahaya sekali, jika apa yang ia lakukan sekarang ini diketahui oleh Tuan Lee. Bukan hanya akan langsung dipulangkan ke Annyang, tapi bisa saja ia langsung akan dipindahkan ke luar Negri.
‘Aku tidak perduli! Aku akan....’
Langkah Hiu Hwi kontan saja terhenti cepat, saat ia melihat seorang namja tengah berdiri tegap tak jauh darinya sekarang. Namja itu memicing, berpose dengan kedua tangan berada dikantong mantel hitam panjangnya itu. Hiu Hwi membulatkan matanya. Sial, ia ketahuan!
“Kau mau kemana, Nona?” tangan Hiu Hwi mengepal! Bahunya naik turun tak jelas sekarang. Kim Heechul, kenapa ia lagi-lagi harus berurusan dengan namja ini.
“Itu bukan urusanmu! Kau bahkan bukan siapa-siapa lagi!” Hiu Hwi sentak membalasnya dengan sengit. Berjalan untuk melewati Heechul dan melanjutkan langkahnya. Namun seketika....
“Tidak baik kau keluar sendiri seperti ini,” cegat Heechul seraya mencengkram lengan Hiu Hwi cepat. Gadis itu terlonjak, mengerang tak karuan.
“Lalu, apa urusannya denganmu? Jangan harap aku akan kembali ke kamar dan—”
“Jika kau terus berbicara dengan nada seperti itu, Tuan Lee pasti akan mendengarnya. Masuklah ke mobil, aku akan mengantarmu.” Potong Heechul seketika, membuat Hiu Hwi sontak terkejut. Namja itu berbalik, berjalan kearah mobil hitam yang terparkir disana.
“Mwo?” Hiu Hwi tampak berpikir sejenak. Apa tadi ia tak salah dengar? Yah sekalipun itu benar ... sesungguhnya, ia masih terlalu gengsi untuk menerima penawaran Heechul itu. Namun, tak ada cara lain memang, jika ia ingin sampai dengan cepat dan aman kembali ke Taman itu. Hiu Hwi diam! Ia berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam mobil. Tubuhnya bergetar! Lagi-lagi ia merasa ingin menangis sekarang. Mengapa selalu saja ada keadaan yang sangat menyudutkannya.
“Huhhh....” Heechul mendesah singkat, menghidupkan gas untuk melewati gerbang yang dijaga ketat oleh beberapa Penjaga itu. Hiu Hwi memalingkan wajahnya kearah jendela, sedikit merasa tak enak. Ia menyadari, jika kini ia kembali duduk bersama dalam satu mobil dengan namja yang tadi sempat ia umpati dengan kasar.
Hening! Tak ada yang berbicara diantara keduanya. Heechul tampak sibuk menyetir dan fokus pada bait jalanan dihadapannya. Sedangkan Hiu Hwi, gadis itu malah lebih sibuk berkutat dengan pikiran-pikirannya saat ini. Banyak hal yang masih ia pertanyakan sekarang.
‘Kenapa? Kenapa namja ini mau membantuku? Apa yang ia inginkan sebenarnya? Apa dia ingin aku merasa bersalah dan mengutuk diriku sendiri?’
Hiu Hwi bergumam lirih, matanya lagi-lagi memanas. Tangannya bertaut dengan tatapan kosong kearah luar jendela mobil ini. Tak terdengar suara sapaan atau basa-basi diantara keduanya, seolah tak saling mengenal. Heechul melirik sekilas Hiu Hwi melalui kaca spion mobil dihadapannya. Perasaan itu kembali muncul ... perasaan menyayangi dan sangat ingin melindungi. Seandainya saja Hiu hwi tau, jika dia bukanlah orang jahat yang selalu dituduhkan oleh yeoja itu. Ia hanya belum dapat mengatakan tentang jati dirinya saja yang sebenarnya pada semua orang. Bukan apa-apa, ia hanya merasa belum siap.
CKLK!
Hiu Hwi sedikit tersentak saat ia mendengar suara sabuk pengaman Heechul terlepas. Ia baru sadar, jika kini mereka telah sampai ke Taman itu. Persis sekali dimana Heechul tadi membawanya pulang. Tanpa perlu banyak kata lagi, yeoja itu sontak saja membuka pintu mobilnya dan keluar, termasuk Heechul.
“Huhhh...,” dengan raut wajah yang dingin, Hiu Hwi tanpa memandang Heechul lagi, tiba-tiba saja berjalan cepat hendak menuju keberadaan Kyuhyun saat ini. Namun tunggu, tanpa diduga Heechul malah kembali menahan tangannya, bermaksud untuk menyergah Hiu Hwi sebentar. Gadis itu terdiam untuk sejenak! Nafasnya terlihat tak beraturan sekarang, seolah ia tengah menahan sesuatu yang mendesak ingin runtuh dalam jiwanya.
“Waeyo?” tanya Hiu Hwi dengan nada biasa. Tanpa berbalik, yeoja itu tak saling menghadap pada Heechul. Ia seakan membiarkan pergelangan tangannya disentuh oleh namja itu kali ini.
“Hummm...,” Heechul bergumam lebih dulu, mendongak menatap salju yang tengah turun menerpa tubuh mereka sekarang.
“Cuaca sangat dingin, kau akan kedinginan jika keluar hanya dengan memakai pakaian seperti itu,” Heechul melepaskan cengkramannya seketika, membuka mantel panjang tebal yang ia kenakan saat ini, lalu memakaikannya ke tubuh Hiu Hwi. Gadis itu terpaku, ia benar-benar tak tau lagi apa yang akan ia lakukan saat ini. Sedikit terkejut!
“Pergilah. Jangan terlalu malam, bagaimanapun juga kau seorang gadis.” Heechul mengusap puncak kepala Hiu Hwi dari arah belakang sejenak, berbalik untuk kembali menuju mobilnya. Tubuh gadis itu bergetar, ia semakin merasa banyak macam perasaan saat ini.
‘Gomawo....’
Gumam batin Hiu Hwi miris. Gadis itu menjatuhkan air matanya perlahan lalu tanpa berbalik menghadap Heechul, ia sentak berlari pergi. Hiu Hwi seakan tak perduli salju itu turun semakin lebat sekarang, yang ia rasakan saat ini adalah sesak. Entahlah, Hiu Hwi merasa sangat nyaman sekali berlari sembari menangis seperti ini. Ia sadar, jika Heechul sekarang pasti tengah menatapi punggungnya berlalu. Berlalu kearah Kyuhyun yang kini terus menerus mengeluarkan asap putih melalui nafas beratnya itu. Ia seperti namja yang tak memiliki keluarga dan rumah untuk ia kembali.
“Oppa...,” ucap Hiu Hwi dengan nafas tersengal seketika. Ia berhenti tepat beberapa meter lagi dari tempat Kyuhyun berada. Tak ada balasan dari Kyu, bahkan namja itu masih setia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua mata tertutup disandaran besi bangku itu. Hiu Hwi terdiam menatapnya miris, betapa namja ini menjadi sangat bodoh sekarang. Sungguh, Hiu Hwi sangat amat tidak menyangka Kyuhyun masih berada disini, masih menunggunya sekalipun tubuhnya tampak mengigil kedinginan seperti itu.
“Bodoh!” Rutuk Hiu Hwi menghampiri Kyuhyun lalu membuka jaket tebal milik Heechul itu ke tubuhnya. Kyuhyun tersontak untuk membuka matanya perlahan, merasakan sesuatu yang kini mulai menghangatinya.
“Oppa gwenchana?” Hiu Hwi menyingkirkan rambut depan Kyuhyun yang kini menutupi sebagian wajahnya. Namja itu memicing, mulai kembali menunjukan raut wajah yang sangat kesal.
“Kau ... kau darimana saja, huh?” Kyuhyun berbicara dengan nada yang sedikit tak terima. Wajahnya berpaling pelan, masih merasakan kedinginan itu merasuki tubuhnya. Hiu Hwi merunduk, ia tak tau harus menjawab apa pada Kyu. Namja itu berusaha untuk bergerak lagi saat ini, melirik Hiu Hwi yang seakan sangat bersalah dihadapannya. Jujur, sebenarnya ia sedikit lega dapat melihat gadis ini kembali dengan selamat.
“Mianhae Oppa,”
“Mianhae? Cah, sepertinya kau ingin balas dendam denganku, ne? Kau sengaja membuatku menunggu dan merasakan kedinginan yang luar biasa seperti ini,”
“Bukan seperti itu, aku....”
“Lalu sekarang, dimana minuman yang tadi kupesan?”
“Aku ... aku meninggalkannya ditempat aku membelinya. Mianhae Oppa, aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukan ini.”
“YAK!” Kyuhyun sentak saja hendak berdiri dari tempat duduknya sekarang. Darah tingginya itu sepertinya mulai kembali terpancing.
“Kau meninggalkannya? Jadi maksudmu, dari sejam yang lalu kau pergi dan membuatku mengigil disini. Kau tak membawa apa-apa begitu? Ck, lalu apa saja yang kau lakukan sejak tadi, eh? Uhuk....” Kyuhyun kembali terbatuk dan mencari sesuatu untuk menjadi sanggahannya berdiri sekarang. Entah mengapa, tiba-tiba saja kepalanya menjadi sangat amat begitu pusing.
“Oppa kau baik-baik saja?”
“Kau—” umpatan Kyuhyun kali ini terhenti seketika. Namja itu terpaku saat menatap Hiu Hwi yang terus menerus mengeluarkan air mata dari dalam kedua matanya itu. Hiu Hwi menangis! Ia baru menyadari itu sejak tadi.
“Huhh..., sudahlah. Yang penting kau sudah kembali dengan selamat. Setidaknya, itu sudah cukup membuatku tenang,” Kyuhyun mengubah intonasi suaranya semakin rendah. Sial, hanya karna melihat air mata gadis itu, emosi Kyuhyun bahkan runtuh dengan cepat.
“Jja, kita pergi ke Super market itu. Kita beli minuman panas disana saja, aku sudah sangat kedinginan,” Kyuhyun merekatkan jaket hitam yang tadi diberikan Hiu Hwi padanya, berusaha untuk berjalan seperti biasa. Kyuhyun sadar tubuhnya sangat tak normal saat ini, tapi entahlah ... ia merasa tak ingin pulang sekarang.
“Op—”
“Kau orang yang pertama kali membuatku menunggu seperti ini, kau harus bertanggung jawab. Huft....” Kyuhyun menyentuh tangan kanan Hiu Hwi dengan perlahan, memasukan jari jemarinya untuk ia genggam dengan erat. Hiu Hwi kontan terlonjak kaget, ia merasakan Kyuhyun tengah meremas telapak tangannya untuk menyalurkan dingin serta kehangatan itu bersama-sama.
Hening! Tak ada yang berbicara lagi diantara kedua orang ini. Kyuhyun sentak duduk disebuah kursi di depan Super market itu, sedang Hiu Hwi berbalik untuk membeli minuman hangat yang memang terdapat ditempat ini.
“Ah...,” Kyuhyun kembali menutup kedua matanya sejenak, merasakan keringat dingin mulai mengucur dari tubuhnya kali ini.
“Ige—minumlah,” Hiu Hwi menyodorkan segelas cangkir plastik berwarna putih pada Kyu. Namja itu mengambilnya dengan perlahan. Ada rasa yang tak enak sekali dalam tubuhnya sekarang, mungkinkah ia demam?
“Maafkan aku, aku selalu saja membuat masalah.” Hiu Hwi angkat bicara seraya duduk disamping Kyuhyun. Namja itu berpaling sejenak, melirik wajah takut dan kuatir Hiu Hwi yang sejak tadi tak pernah hilang.
“Apa kau pernah menghitung sudah berapa kali hari ini kau mengucapkan maaf padaku?
“Itu karna aku merasa sangat bersalah padamu. Aku ... aku kembali karna aku takut terjadi sesuatu padamu, aku tak ingin kau merasa terluka apapun karnaku. Hanya dengan melihatmu seperti tadi saja, sudah membuatku sangat takut,” ucap Hiu Hwi gemetar, membuat Kyuhyun sontak saja menatapnya.
“Hari ini, banyak hal yang telah terjadi padaku. Tapi ... ada dimana waktu hari ini aku merasa sangat berbahagia. Itu semua karnamu. Jujur saja, ini kali pertamanya aku keluar bersama seorang pria. Tidak, aku bahkan juga jarang berjalan-jalan dengan orang lain. Dari dulu, setiap kali aku merasa bahagia, aku akan tertawa sendiri. Setiap kali aku merasa ingin menangis, aku akan berusaha untuk menghapus jejak air mataku sendiri. Dan setiap kali aku merasa jatuh, aku akan mengangkat diriku sendiri untuk bangkit. Semuanya kulakukan sendiri, bahkan setiap kali aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkanku, aku akan berbicara pada diriku sendiri. Menyedihkan, bahkan uang Appa-ku tak bisa membeli semua kesepian itu,” Hiu Hwi merunduk seraya tersenyum miris. Benar, ada kalanya ia merasa berada disebuah titik kelelahan dalam hidupnya itu.
“Aku merasa bersalah terhadap banyak orang sekarang, aku....”
“Aku baru sadar, jika kau secantik ini.” Potong Kyuhyun cepat seraya menjatuhkan kepalanya ke bahu Hiu Hwi. Hangat! Hembusan nafas Kyuhyun terasa sangat hangat ditubuhnya.
“M-mmwo?”
“Kau tau gadis bodoh? Jika bukan hanya kau yang merasakan hal yang seperti itu. Setiap orang pasti pernah merasa kesepian, karna memang pada hakikatnya semua manusia itu dilahirkan seorang diri. Semua apa yang ada disekelilingmu sekarang akan hilang perlahan-lahan, dan kelak hanya akan kau temui dirimu sendiri.” Balas Kyu sebisa yang ia bisa. Sejujurnya, kini ia merasakan tubuhnya semakin melemah.
“Mungkin kau benar Oppa. Semuanya memang berawal sendiri, dan pada akhirnya juga akan memilih jalan sendiri-sendiri. Cah, hidup itu menyakitkan. Apa Oppa juga pernah merasakannya?” Hiu Hwi bertanya seraya menghembuskan nafas beratnya sekarang.
“Aku rasa, kau juga memiliki masalah dengan orang tuamu Oppa. Apa jika kita tidak menuruti permintaan mereka, itu petanda kita durhaka?” lanjut Hiu Hwi yang terus saja membuka kedua daun bibirnya itu untuk berbicara. Kyuhyun hanya diam, ia bahkan tak menyahut sama sekali apa perkataan Hiu Hwi kali ini.
“Oppa...,” Hiu Hwi merasa Kyuhyun mengabaikannya. Gadis itu menggerakkan perlahan-lahan kepalanya untuk berpaling kearah samping, menghadap Kyu yang kini tengah bersandar pada pundaknya itu. Hiu Hwi tertegun, Kyuhyun tampak sedikit aneh sekarang.
“Oppa waeyo? Gwenchana?” Gadis itu sedikit memutar tubuhnya untuk melihat kondisi Kyuhyun saat ini.
“Eoh ... dingin....” Sahut Kyuhyun dengan nafas yang terdengar cepat. Pelipisnya berkeringat banyak, tapi Kyuhyun merasa tubuhnya seakan tengah diselimuti balok es sekarang; dingin. Kepalanya seakan berdenyut setiap kali ia berusaha untuk mendongak, seakan selalu ingin terus bersandar pada sesuatu.
“Ya Tuhan Oppa, badanmu panas sekali. Ash..., kau pasti demam! Jja, kita pergi ke Rumah sakit sekarang.” Hiu Hwi sontak berdiri dan hendak membuat ancang-ancang untuk bersiap pergi. Setidaknya, ia harus meminta tolong Heechul, atau mencari taksi didekat sini untuk membawa Kyuhyun ke Rumah sakit. Namun ... belum sempat gadis itu melangkah lebih banyak lagi, Kyuhyun sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya, membuat Hiu Hwi kembali terduduk. Gadis itu terlonjak kaget! Kali ini, ia bukan duduk dibangku panjang itu lagi seperti tadi, tapi duduk dipangkuan Kyuhyun! Namja itu dengan cepat menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang Hiu Hwi dari arah belakang. Sebuah posisi yang benar-benar dapat membuat jantung Hiu Hwi berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
“Kau mau kemana lagi, huh? Tidak bisakah kau diam dan tetap bersamaku saja?” ucap Kyuhyun dengan nada yang berat dan sedikit pelan.
“Mmm-mmwo? Oppa, aku hanya ingin memanggil taksi untuk—”
“Jangan meninggalkanku lagi! Aku tak suka ditinggalkan, aku tak suka sendirian seperti itu!” Racau Kyuhyun seraya membuka lebar kedua kakinya, agar Hiu Hwi dapat duduk dibangku tepat dihadapan tubuhnya sekarang. Gadis itu merasakan, jika Kyu juga semakin merekatkan kedua tangannya itu. Benar, jika sudah seperti ini, bahkan Hiu Hwi tak akan dapat berkutik lagi.
“Oppa...,” Hiu Hwi sedikit merunduk, menatapi tangan Kyuhyun yang nampak sangat erat dipinggangnya. Ia tak bermimpi! Terdengar jelas desahan nafas Kyuhyun yang cepat dan begitu hangat menerpa punggungnya saat ini. Namja itu terlihat bersandar dibelakangnya dengan memejamkan kedua matanya, seakan tengah mencari kenyamanan disana. Suhu panas tubuh Kyuhyun sangat tinggi sekarang, Hiu Hwi benar-benar kuatir tentang itu.
“Oppa, sebaiknya kita pulang sekarang. Kau harus beristirahat!”
“Aku tidak apa-apa. Diamlah, dan tetaplah seperti ini,”
“Tapi kau sedang sakit. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Aku yang salah, aku yang meninggalkanmu dan—”
“Kumohon diamlah! Aku sangat nyaman dengan posisi seperti ini sekarang. Aku ... aku merasa tak sendirian lagi untuk pertama kalinya dalam hidupku saat aku memelukmu seperti ini. Ada sesuatu yang tengah bersamaku, yang dapat aku peluk dan mengkuatirkanku. Rasanya sangat menenangkan! Selama ini, tak pernah ada hal yang seperti itu,”
“Eh?”
“Eomma ... Eomma...,” Kyuhyun nampak tersenyum miris sejenak. Tubuhnya semakin bergetar sekarang.
“Saat aku kecil dan ketika aku demam, beliau akan memelukku dan mengatakan banyak hal yang dapat membuatku melupakan kesakitan itu. Beliau menatapku dengan kuatir, menangis untukku, berdoa untukku, dan merawatku seakan aku adalah harta paling berharga untuknya. Dia mengajariku tentang betapa beruntungnya aku lahir ke dunia ini. Tapi ... aku tak akan pernah merasakan hal itu lagi. Semakin aku tumbuh, semakin banyak hal yang telah berubah. Bahkan disaat aku kecil, aku sangat berani untuk mengatakan jika aku sangat menyayanginya. Namun sekarang, bibirku tak bisa lagi mengucapkannya dengan mudah,” Kyuhyun sontak menitikan air matanya sekarang. Ia menangis! Bibirnya bergetar, seakan menahan perasaan sakit yang sejak dulu ia tanggung.
“Tidak perduli seberapa besar aku membencinya sekarang. Jauh didalam lubuk hatiku, aku sangat menyayangi beliau melebihi nyawaku sendiri. Seharusnya, dia mengetahui itu.” Kyuhyun semakin menenggelamkan kepalanya pada punggung Hiu Hwi, meneteskan air matanya dengan cepat.
“Kyuhyun Oppa....” Entah mengapa, Hiu Hwi juga ikut menangis sekarang. Jujur saja, ia benar-benar tak menyangka, jika Kyuhyun akan menangis didekatnya seperti ini. Sesuatu hal yang awalnya sedikit mustahil untuk terjadi! Dengan gerakan cepat, gadis itupun sentak saja membalikkan tubuhnya sedikit ke belakang, menatap wajah Kyuhyun yang merunduk dengan air matanya.
“Aku tidak apa-apa, aku tidak menangis!” Sergah Kyuhyun sibuk menghapus air matanya, membuat Hiu Hwi tersenyum kecil.
“Cho Kyuhyun ... semua akan baik-baik saja. Percayalah, Waktu mendatang kelak akan membuat semuanya pasti akan jauh lebih baik. Kita harus bertahan untuk menghadapinya, eoh?” dengan senyuman manis yang semakin tercetak tebal diwajah Hiu Hwi, gadis itu pun seketika mengangkat tangan kanannya untuk mengusap puncak rambut Kyuhyun sejenak. Namja itu terdiam! Kedua matanya tampak tak berpaling menatapi Hiu Hwi.
“Aku akan berusaha untuk selalu berada di sampingmu Oppa. Itupun, jika kau memang mengizinkannya.” Hiu Hwi sontak memeluk tubuh Kyuhyun, membawa kepala namja itu untuk bersandar pada tubuhnya. Ia tau, ketika demam seperti ini, akan jauh lebih menyenangkan, jika ada orang yang mau berbagi rasa sakit itu.
Kyuhyun tak berkutik apapun, entah apa yang ia pikirkan sekarang. Yang jelas, sepertinya Hiu Hwi memang sudah berhasil membuat namja ini tak dapat berbuat apapun.
“Jika aku sudah mengizinkanmu, jangan harap untuk kelak menarik lagi kata-katamu tadi,” Sahut Kyu seraya menyeringai melalui wajah pucatnya itu.
“Nde?”
“Cah, kau memancingku!” Kyuhyun perlahan-lahan menarik kepalanya dari Hiu Hwi. Yeoja itu mengerjap-ngerjap seakan ia sama sekali tak mengerti.
“Ummm...,” Kyuhyun tampak meneguk air liurnya sebentar, bermaksud membasahi sekitaran bibirnya yang tampak kering saat ini. Benar, kedua mata indahnya itu sama sekali tak berpaling kearah lain, terus saja menatap Hiu Hwi yang kini berada dekat dihadapannya. Kyuhyun tersenyum, ia menyadari perubahan raut wajah Hiu Hwi yang kemerah-merahan akibat tatapannya itu sekarang, Sungguh membuatnya semakin gemas!
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap dalam satu sama lain, seakan berbicara melalui pancaran mata itu. Hingga perlahan-lahan, tampak Kyuhyun mengangkat tangan kanannya untuk membelai singkat rambut gadis itu dengan lembut. Hiu Hwi sentak gamam! Ia pastikan, jika jantungnya itu berdegup kencang dengan hebat. Seharusnya, ia berdiri sekarang, menjauhkan dirinya pada Kyuhyun sebelum jantungnya semakin meledak-ledak. Namun entahlah, rasanya sulit sekali untuk bergerak saat ini. Sampai....
CUP
Hiu Hwi merasakan ada sesuatu yang lunak, yang kini tengah menempel dipipi kanannya. Tubuh gadis itu menegang, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak disana. Kontan saja, Hiu Hwi menutup kedua matanya dan memanjatkan gumaman untuk membuat perasaannya sedikit rileks. Tak sampai disitu saja, Hiu Hwi seketika juga merasakan jika bibir Kyuhyun itu bergerak dengan lembut! Yah, bergerak semakin dekat menuju lapisan daun indera perasanya itu. Hiu Hwi membatu! Bibir Kyuhyun semakin lama semakin bergerak tak karuan, hingga kini menempel tepat pada daun bibir mungilnya. Dapat Hiu Hwi rasakan, jika Kyuhyun meniup sebentar bibir mungilnya itu. Entah untuk alasan apa!
“Hhhh..., aku tidak ingin kau ikut demam,” bisik Kyuhyun seketika, membuat Hiu Hwi membuka kedua matanya perlahan.
“Demam? Memangnya kenapa aku juga bisa ikut demam? Apa kau punya penyakit menu—”
“Dasar bodoh!” Umpat Kyuhyun seraya menjangkau leher Hiu Hwi dan mengecup bibir gadis itu seketika. Persetan dengan kekuatirannya beberapa detik yang lalu itu. Gadis ini benar-benar menyiksa nalurinya! Hiu Hwi membelalakan matanya lebar! Kyuhyun menciumnya jauh lebih dalam dari sebelum-sebelumnya. Sungguh, Kyuhyun benar-benar mengejutkannya kali ini.
“Yak! Apa yang kau lihat, huh?” Kyuhyun mengumpat singkat saat Hiu Hwi dengan mata lebarnya itu menatapi reka jalannya perpaduan kedua daun bibir mereka itu. Dengan sekali hentakan, Kyuhyun seketika menutup kedua mata Hiu Hwi, dan mencium gadis ini kembali. Tidak terlalu lama. Baiklah, ternyata Kyuhyun tetap saja mengkuatirkan keadaan gadis ini nantinya.
“Aku suka kau yang idiot seperti ini,” bisik Kyuhyun sesaat ia telah melepaskan tautan mereka itu. Hiu Hwi tampak termangu, layaknya orang linglung sekarang.
“Mwo ... mwoya?” tanya Hiu Hwi tergagap. Kyuhyun yang sadar akan ucapannya itupun, sontak memalingkan wajah.
“It ... itu dibibirmu bersihkan dulu.” Ucap Kyuhyun salah tingkah, tatkala ia melihat ada bercak air liurnya yang masih tertinggal dibibir mungil gadis itu. Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, terbatuk sejenak untuk menghilangkan perasaan kikuk seperti ini.
“Eo ... eoh.” Balas Hiu Hwi merunduk malu. Baiklah, tanpa perlu dijelaskan panjang lebar lagi, sudah sangat dipastikan jika wajah gadis itu kini tengah memerah menahan segala rasa yang mengembang dalam relung jiwanya saat ini.
“Cah....” Kyuhyun tersenyum seketika. Manjangkau kembali cangkir plastik yang ia letakkan dibawah kakinya itu. Hiu Hwi pun hanya menggoyangkan tubuhnya perlahan sekarang, ikut tersenyum dalam tundukan dalam kepalanya itu.
“Dasar Bad Boy!” Umpat Hiu Hwi pelan dengan kekehan kecil.
“Mwo?”
“Eoh? Aniyo, hahaha.”
“Jangan macam-macam, atau aku akan menyeretmu ke Apartment-ku malam ini!”
“MWO?” Hiu Hwi terperanjat kaget tatkala mendengar lontaran yang sedikit gila dari bibir Kyuhyun saat ini. Namja itu menyeringai, meneguk air hangat yang berada di cangkir itu dengan kedipan mata. Baiklah, Hiu Hwi merasa jika Kyuhyun akan menjadi sedikit tak waras ketika demam.
“Huhhh..., dingin sekali.” Ucap Kyu seraya kembali pada posisinya. Yah, meletakkan kepalanya itu pada bahu Hiu Hwi. Benar, tak ada hal yang lebih nyaman lagi untuk dilakukannya selain berbaring atau bersandar pada sesuatu sekarang.
“Tidurlah sebentar. Lalu, kita akan sama-sama pulang agar kau dapat beristirahat dengan total,” Hiu Hwi ikut memiringkan kepalanya hingga berbenturan dengan kepala Kyuhyun yang berada tepat di sampingnya saat ini. Gadis itu sedikit merunduk dan kembali tersenyum kecil, saat ia menyadari jika Kyuhyun menautkan jari jemari mereka dengan erat.
‘Cho Kyuhyun, aku sangat mencintaimu. Tak perduli seberapa kali aku berusaha untuk mengatakan aku tidak boleh mencintaimu, tapi tetap saja aku mencintaimu....’
Gumam Hiu Hwi dengan perlahan-lahan ikut menutup kedua matanya sekarang. Gadis ini terlihat sangat bahagia, seakan ia lupa tentang semua hal yang telah membuatnya menangis beberapa jam yang lalu. Rasanya, semua perasaan itu lenyap seketika. Apakah ini yang dimaksud dengan cinta mampu mengobati semuanya? Bahkan, Hiu Hwi tak menyadari jika sejak tadi tampak seorang namja tengah berdiri tegak memperhatikan mereka dibalik sebuah pohon. Kedua tangannya tampak melipat didepan dada, seolah ingin merangkul rasa dingin itu.
Kim Heechul ... tampak pria itu hanya tersenyum miris pada dirinya sendiri. Disaat ia mengkuatirkan Hiu Hwi agar gadis itu tak merasa kedinginan, gadis itu malah mengkuatirkan orang lain. Sakit? Sangat!
“Huh!” Ia mendesah kasar. Kepalanya tampak kembali berpaling kearah Hiu Hwi dan Kyuhyun yang kini tengah berbagi mantel tebal miliknya itu. Ada perasaan sesak bercampur bahagia saat ia menyadari betapa bahagianya Hiu Hwi berada didekat pria bermarga Cho itu. Sangat jauh berbeda darinya, sekalipun ia rela merasakan salju ini menerpa langsung kulitnya, tetap saja itu seolah sama sekali tak berarti untuk Hiu hwi.
“Sedikit sulit untuk melepaskannya,” Heechul sentak mendongakkan kepalanya itu menatap langit, berusaha untuk menahan air mata agar tak terjatuh. Tapi sayang, ia malah semakin merasakan hatinya begitu sesak.
“Maaf ... maafkan aku. Mungkin, aku hanya bisa menjaganya dari diamku mulai sekarang,” Heechul menatapi langit malam yang kini malah membuat wajahnya diterpa oleh butiran salju-salju itu. Rahangnya mengeras hebat, saat ia merasakan ketika air mata itu akhirnya jatuh dengan pelan. Heechul diam ditempat ini. Tangannya tampak sekali mengepal. Tak ia pungkiri, ia menahan marah sekarang.
***
'Apa kau tau?
Kebodohanku adalah ketika aku mencintaimu,
Dan
Penderitaanku adalah ketika aku berusaha untuk melupakanmu....'
AT Gwangye High School
Seoul, South Korea
Tak seperti keadaannya sebelumnya, Sekolah yang terkenal dengan fasilitas terlengkap di Seoul inipun seakan tampak lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Mungkin, bukan hanya karna Turnament antar Sekolah ini akan segera selesai. Tetapi juga, karna banyak sekali kejadian dan berita yang mendadak ramai untuk dipergunjingkan disini. Terutama, jika itu menyangkut Siswa-siswi para idola-idola Sekolah. Termasuk, sosok Cho Kyuhyun sendiri. Sudah dari tadi pagi, seisi Sekolah ini berbisik dan seakan tak pernah henti untuk mendiskusikan soal Kyuhyun. Toh, hari ini adalah hari terakhir dimana semua yang masuk babak final seluruh pekan olahraga ini melakukan latihan dan persiapan. Besok ... adalah babak penetuan yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang.
“ARGH!” Pekik Kyu tatkala ia merasakan tangan kanannya berteriak minta tolong untuk menyudahi ini. Kyuhyun sangat sadar akan rasa sakit itu, tapi ia tetap saja berusaha untuk memegang stik Baseball itu semampu yang ia bisa. Semua orang yang berada dipinggiran lapangan ini nampak seklai terlihat kuatir dan iba menatap Kyu. Bukan hanya, tangan kanannya yang kini bermasalah, tapi juga ia sedang demam sekarang.
“Wajahnya pucat sekali. Kyuhyun terlihat sekali memaksakan itu. Besok adalah babak penentuannya, jika saja Kyuhyun tidak mengalami kondisi yang seperti itu. Aku sendiri yakin, jika Sekolah kalianlah yang akan memegang juara itu Hiu Hwi. Tapi ini? Ia bukannya hanya demam, tapi tangannya juga tengah terluka. Kalau seperti ini, mungkin Sekolah kami yang akan menang. Huh, Khazuma juga tidak bisa dianggap remeh.” Ucap Yura dengan wajah yang amat sangat prihatin.
“Ini semua salahku Yura-shi, semua apa yang terjadi padanya sekarang adalah salahku. Aku benar-benar membuat masalah besar,” sahut Hiu Hwi merunduk. Ia sesak! Terlihat sekali goresan perasaan itu saat ia melihat bagaimana pucatnya Kyuhyun menahan rasa sakit itu seorang diri.
“Hwi-ya....”
“Kyuhyun adalah seorang Kapten utama Baseball Sekolah kami. Sekalipun dia tidak mengatakannya, aku yakin dia sangat menyukai olahraga itu. Dia selalu tertawa dengan bahagianya ketika ia berhasil memenangkan setiap lomba Baseball itu. Seperti ... ada sebuah nyawa saat Kyuhyun memegang stik itu dan mengayunkannya dengan keras. Tapi....” Hiu Hwi sontak menghentikan kalimatnya saat ini, memandang Kyuhyun yang terlihat begitu lemas diantara kekuatiran tatapan teman-temannya yang lain.
“Aku sudah melukainya.” Hiu Hwi menitikan air matanya cepat, membuat Yura sontak saja memeluknya dengan erat.
“Hiu Hwi, jangan berbicara seperti itu. Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri, eoh? Aku pikir Kyuhyun namja yang kuat, dia pasti tau mana yang terbaik untuknya.”
“Yura-shi, dia terlihat sekali begitu lemas.”
“Hwi-ya kau....”
“ARGH!” Pekik Kyuhyun terjatuh diatas lapangan rumput-rumput itu, membuat sontak saja Hiu Hwi mendongak dengan tubuh bergetar.
“Kenapa dia bodoh sekali!” Umpat Hiu Hwi seraya berbalik dan berlari dari atas kursi penonton ini. Yura terdiam! Satu hal yang telah ia pelajari dari Hiu Hwi. Benar, sebuah ketulusan cinta yang membuat sesuatu yang mustahil dapat menjadi mungkin. Gadis itu hanya menghela nafas menatapi Hiu Hwi yang berlari penik hendak menghampiri Kyu. Rasanya, ia ingin ikut menangis sekarang.
Disatu sisi, tampak kini seorang namja tengah mengumpat-umpat kasar kepada tangan dan tubuhnya sendiri. Sudah sedari tadi, ia berusaha untuk melawan semua rasa sakit itu. Namun ternyata, semua itu tak semudah dari apa yang ia bayangkan. Cho Kyuhyun ... ia benar-benar sadar sudah membuat semua orang menatapnya kuatir sekarang. Termasuk Hiu Hwi! Shit, dia benar-benar tak suka melihat wajah murung gadis itu.
“Jja...,” ucap seseorang, membuat Kyu mendongak. Tampak seorang namja dengan kaos Baseball Sekolahnya tengah menjulurkan tangan kearah Kyu. Khazuma Tetsuya ... Kyuhyun lebih baik mati daripada harus menyambut pertolongan namja yang lebih muda darinya itu.
“Tidak perlu. Aku masih memiliki tenaga untuk berdiri.” Balas Kyu sengit seraya berdiri sekarang.
“Kau memang namja yang sangat keras kepala sekali Hyung,” Khazuma tersenyum kecil dengan berdecak pinggang didepan Kyu. Kyuhyun hanya menatapnya sesaat, sama sekali tak berniat berbicara lebih panjang lagi dengan namja Jepang ini.
“Hyung..., kau tampak sangat bodoh sekarang. Tubuhmu terlihat tengah sekarat, tapi kau tetap saja memaksakan semua organ tubuhmu itu untuk bergerak. Baiklah, kuakui kau benar-benar hebat!” Kyuhyun sontak menghentikan langkahnya saat ia mendengar penuturan Khazuma kali ini. Dengan sigap, ia berbalik. Menatap tajam Khazuma yang sejak tadi seakan tertawa mengejeknya.
“Itu bukan urusanmu anak kecil. Sebaiknya, kau pulang dan ganti popokmu.” Kyuhyun hendak kembali melanjutkan langkahnya pergi menjauh. Namun seketika....
“Kyuhyun Hyung, bagaimana jika kita taruhan?” Khazuma lagi-lagi menyegat langkah Kyuhyun untuk pergi. Namja Jepang itu terlihat serius kali ini.
“Jika aku memang menang pada pertandingan nanti, aku harap kau mau melepaskan Noona untukku.”
“Cah, Mwo?”
“Kali ini, aku sangat ingin menang darimu Cho Kyuhyun. Kau tau apa maksudku tadi, bukan?”
“Kau pikir aku tertarik dengan taruhanmu itu bocah tengik?"
“Kau tidak mempunyai pilihan. Aku yakin akan memenangkan pertandingan itu dengan mudah berkat kondisimu yang seperti ini. Ck, menyedihkan!"
“KAU—”
“Mwoya? Apa kau takut Hyung?” ejek Khazuma mendekat dan menepuk bahu Kyuhyun cukup keras. Kyuhyun hanya diam ditempatnya, mengepalkan kedua tangannya, seolah ingin sekali mendorong tubuh Khazuma menjauh drainya.
“Yak! Aku—”
“Kyuhyun-ah...,” potong seseorang seketika seraya semakin mendekat kearah dua namja tampan ini. Kyuhyun menghela, seakan ingin meredakan amarahnya pada setan laknat yang masih merangkul bahunya itu.
“Nde, Pelatih Kim. Waeyo?” tanya Kyu sembari melepaskan kasar tangan Khazuma yang masih menampakkan raut sok akrabnya itu. Khazuma menyentuh kedua pipi Kyuhyun sejenak, lalu merunduk untuk berbalik pergi. Ia sepertinya, tak terlalu ingin ikut campur masalah anak asuh dan pelatihnya itu.
“Apa ada yang penting Pelatih Kim? Aku rasa besok—”
“Huhh..., kau sadar betapa pucatnya wajahmu itu, huh? Cepat bereskan semua barang-barangmu, dan istirahatlah. Aku tidak mau mempertaruhkan nyawa anak muridku untuk pertandingan besok,”
“Mwo? Pelatih Kim aku....”
“Cho Kyuhyun. Tadi, aku mendengar semua perkataan Dokter yang memeriksamu. Kau sadar, huh? Tulang tangan kananmu itu terluka, membengkak serius. Kau tidak boleh menggerakannya dan memaksakan tanganmu itu untuk melakukan aktivitas berat!” Ucap sang Pelatih, membuat Kyuhyun hanya mampu diam ditempat.
“Kau bodoh? Kau pikir ini tidak membahayakanmu, eh? Jika kau terus memaksa seperti itu, kau bahkan tak akan bisa bermain baseball lagi nantinya. Biar ku antar kau ke Rumah sakit sekarang, kita harus melakukan pemeriksaan yang lebih—”
“Aku tidak apa-apa Pelatih Kim.”
“Mwo?”
“Yak! Kau ingin kehilangan tanganmu, huh? Jangan bodoh! Aku pastikan besok kau tak akan ikut pertandingan. Kyuhyun-ah, kau harta besar dalam dunia Baseball Negeri ini, kau tak boleh kehilangan kesempatan hanya karna Turnament seperti ini. Kita masih memliki peluang untuk menang, teman-temanmu pasti bisa melakukan yang terbaik. Aku harap kau tidak akan keras kepala!”
“Tapi Pelatih, aku—”
“Tenang saja Pelatih Kim, Kyuhyun Oppa tidak akan mengikuti pertandingan besok.” Potong seseorang seketika, membuat Kyuhyun berpaling kearah samping. Tampak kini Hiu Hwi tengah berdiri seraya mengatur nafasnya yang tak karuan.
“Aku harap begitu.” Sambung sang Pelatih seraya menepuk pelan bahu Kyu dan berbalik pergi dari lapangan ini. Kyuhyun tak berkata apa-apa, matanya berkilat menatap Hiu Hwi dengan tajam.
“Kyuhyun Oppa....”
“Seharusnya, kau tak perlu ikut campur!” Sengit Kyu sembari menghempaskan bola yang sejak tadi ia genggam dengan keras. Namja itu berbalik, meninggalkan Hiu Hwi yang mematung dengan goresan panik pada wajahnya.
“Cho Kyuhyun..., selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu. Tapi untuk kali ini saja, aku mohon jangan ikut pertandingan besok. Kau akan semakin membuatku merasa bersalah, jika kau tetap keras kepala. Kau tau bagaimana perasaanku sekarang? Aku terluka, aku sangat sakit ketika menatapmu dalam keadaan yang seperti ini. Jika aku boleh memilih, aku ingin sekali bersikap untuk tidka perduli padamu. Tapi aku tidak bisa, aku takut terjadi sesuatu padamu!” Pekik Hiu Hwi, membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya saat ini.
“Sebagai orang yang sangat menyukaimu, aku hanya memohon satu hal ... tolong jaga dirimu sendiri.” Lanjut Hiu Hwi menitikan air matanya, membuat semua ini menjadi tontonan yang hebat ditempat ini. Kyuhyun menghembuskan nafas panjangnya sesaat, berpaling sebentar dan memutuskan untuk melanjutkan langkahnya pergi. Kedua mata namja itu menyipit, menatap Khazuma yang juga tengah menatapnya dengan tajam.
Semua tampak terlihat diam. Entah apa yang akan terjadi keesokan harinya kelak. Sungguh, situasi seperti ini kadang benar-benar membuat semua orang tak dapat menerka akan seperti apa pertandingan penentuan besok. Semuanya masih tampak berkabut, tak jelas. Banyak kemungkinan yang akan terjadi pada pertandingan itu, dan sepertinya Kyuhyun memiliki sebuah pilihan yang benar-benar sulit saat ini. Antara sebuah kemenangan, harga diri, masa depan, dan tentang taruhan itu. Yah, sangat menyulitkannya!
“Huhhh..., sepertinya besok akan sangat ramai. Banyak sekali yang akan terjadi tanpa diduga, benar-benar sangat seru.” Ucap Yesung seraya kembali memfoto Yura dari kejauhan dan kembali tersenyum manis.
=TBC=
NEXT PART
“Hwi-ya! Sungguh, aku tidak pernah melihat Khazuma Tetsuya melakukan hal yang seperti itu. Dia benar-benar....”
“Yu ... Yura-shi.”
===
“Hwi-ya, bukankah itu mobil Supirmu?”
“Eoh?”
“Kenapa, mereka berempat dapat didalam satu mobil bersama seperti itu?”
“MWO?”
===
“Aku minta maaf.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar