_“Your Kiss Is MINE!”_ Special SEQUEL
Cast :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre :: Romance, School Life
Rating :: PG + 17
This Story Original From @Jjea_
***

Australia..., adalah sebuah Negara maju nan makmur yang memiliki ekonomi terbesar ke-13 di dunia. Tak hanya itu, dalam skala pendidikan, Australia juga memiliki siswa internasional terbanyak dengan peringkat ketiga di dunia setelah Inggris dan Amerika serikat. Itu mengapa, tak aneh jika Australia memiliki tujuh dari 100 universitas terbaik di dunia.
Banyak dari lulusan mereka termasuk dalam kategori jenius di dunia. Dalam hal kehebatan dari pendidikannya, Australia telah menghasilkan 15 pemenang hadiah Nobel untuk membuat hidup mereka, dan kehidupan orang lain, lebih baik. Setiap hari lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada penemuan dan inovasi Australia—seperti penisilin, IVF, USG, Wi-Fi, Telinga Bionik, vaksin kanker serviks dan Black Box Perekam Penerbangan. Itu mengapa, gadis itu; Lee Hiu Hwi, lebih memilih Australia sebagai tempat awal masa depannya.
In Here ... all the stories began.
* I Want To See You *
Sudah selama hampir satu jam yang lalu, Lee Hiu Hwi hanya diam dan terus berkutat dengan buku-buku di hadapannya. Sesekali, tampak ia menyoretkan sesuatu dilembar bukunya itu, sesekali pula tampak kepalanya berpaling menatap sebuah ponsel yang sudah sejak tadi tak pernah berhenti bergetar. Cho Kyu Hyun! Oh baiklah, tak ada waktu semenitpun pria itu untuk tidak mengganggu konsentrasi Hiu Hwi. Yah, kadang terasa menjengkelkan.
“Yeobose—”
“Yak! Kenapa kau lama sekali mengangkatnya, huh? Kau tau, jika menunggu itu benar-benar menyebalkan?” belum sempat Hiu Hwi hendak menyahut, pria yang bernama lengkap Cho Kyu Hyun itu sudah lebih dulu menghentakkan kalimatnya dengan buru-buru. Hiu Hwi menghela, pria ini masih sama saja.
“Aku sedang di Perpustakaan, Kyu.”
“Mwo? Perpustakaan? Dengan siapa?” nada Kyu Hyun terdengar seolah curiga. Pria ini....
“Sendiri,” jawab Hiu Hwi malas. Oh tidak..., apakah ini bisa disebut berlebihan? Lihat saja, baru tiga hari yang lalu Hiu Hwi tinggal di sini, tapi Kyu Hyun seolah sudah sangat mengkuatirkan.
“Benar sendiri?”
“Huhh..., sebenarnya tidak, aku bersama—”
“MWO? YAK! Nugu? Apa seorang pria?”
“NDE!”
“Mwo?”
“Di sini banyak pria, ada juga wanita, ada penjaga perpustakaan, dan juga—”
“Huhhh...! Kau ini....” Nada Kyu Hyun berubah kesal, membuat Hiu Hwi terkekeh sejenak mendengarnya.
“Kau sudah makan, Kyu?”
“Kau pikir aku bisa makan tanpamu, huh?”
“Mwo? Yak! Jadi kau belum makan?” Hiu Hwi sedkit memekik sekarang, membuat beberapa orang kini menatapnya. Gadis itu menghela. Di tatapnya jam dinding yang telah menunjukan pukul dua siang. Itu berarti, ini sudah lewat dari jam makan siang Kyu Hyun selama ini.
“Makanlah sekarang, aku akan menemanimu. Sekretarismu sudah membelikan makanannya bukan? Maafkan aku, lama mengangkat telponmu Kyu.”
“Gwenchana. Aku masih bisa makan sekarang. Ini dengarlah—” Kyu Hyun nampak menyendokkan makanan di hadapannya itu, lalu sengaja membesarkan volume kunyahannya agar di dengar oleh Hiu Hwi. Gadis itu tersenyum; matanya sedikit berair. Kyu....
“Ini—aku juga makan.” Hiu Hwi nampak mengambil sepotong roti di hadapannya, lalu mengigitnya kecil. Ia sudah makan, tapi demi Kyu Hyun, ada baiknya jika ia kembali makan sedikit.
“Gomawo Hiu-ie...,” terdengar Kyu Hyun semakin bersemangat untuk makan. Sejak kecil, Kyu bahkan sangat benci makan seorang diri. Ia tak suka! Bahkan terkadang, ia lebih memilih tak makan, atau mencari tempat makan yang ramai demi agar ia tak sendiri mengunyah makanan-makanan itu.
“Apa ada yang kurang di sana? Kau hanya perlu mengatakannya saja padaku,”
“Aniya Kyu Hyun Oppa, di sini malah sangat sempurna.”
“Bisakah kau terus menerus memantauku dengan sebutan Oppa seperti tadi? Aku bingung padamu, kadang kau memanggilku Kyu ... Kyu ... Kyu. Tapi terkadang kau juga memanggilku dengan sebutan Oppa. Kau tau betapa sikapmu itu sangat memprihatinkan?”
“Hahaha, arasseo. Tapi, aku lebih suka seperti itu.”
“Hummm..., Hwi-ya,”
“Mwo?”
“Eunghh—soal—soal—”
“Soal apa?” tanya Hiu Hwi bingung. Aneh, nada Kyu Hyun berubah saat ini. Pria itu tampak mengehla nafas. Shit! Sebenarnya, ia hanya ingin menanyakan tentang isi dari dalam origami ke 1001 yang ia buat waktu itu. Kyu bingung, bahkan semenjak mereka berpisah, tak ada bahasan atau komentar apalagi jawaban yang Hiu Hwi lontarkan padanya. Padahal, bukan apa-apa. Selama 3 hari ini ia menelpon dan menganggu Hiu Hwi, sebenarnya karna ingin menunggu jawaban dari gadis itu.
Benar, rasa gengsinya terlalu tinggi! Pria itu bingung bagaimana cara menanyakannya.
“Tidak jadi. Sebentar lagi aku ada rapat. Ingat perkataanku! Jangan nakal di sana, aro?”
“Omo! Kau pikir aku anak kecil, Tuan Cho? Seharusnya, aku yang memperingatimu kali ini. Hummm..., jangan merindukanku, eh?”
“OK!”
“Jangan menelponku terlalu sering, hum?”
“OK!”
“Jangan mengirimiku SMS dengan nada ancaman tentang namja-namja yang ada di Negara ini, hum?”
“OK!”
“Dan jangan memintaku berbuat macam-macam, ok?”
“OK!”
“Ok? Ji-jinchayo?”
“NDE! OK Lee Hiu Hwi! OK ... OK, AKU TIDAK BISA!” Sebal Kyu, membuat Hiu Hwi tersenyum kecil.
“Kau meminta hal-hal yang sialan. Kau pikir aku akan menurutimu? Aku tidak bisa! Dan jangan pernah berpikir, aku akan melakukannya. Yak! Aku tak perduli di sana banyak pria-pria bule yang aku pikir memiliki wajah yang semuanya hampir mirip. Yang jelas, jika ada diantara mereka yang berani menggodamu, aku tak akan segan-segan mematahkan tulangnya!” Ancam Kyu dengan nada serius. Sekalipun, terdengar sedikit bercanda, tapi Hiu Hwi tau, jika perkataan Kyu Hyun itu tidaklah main-main. Baiklah, dia masih ingat betul, bagaimana caranya seorang Cho Kyu Hyun membuat remuk tulang persendian lawannya.
“Lalu ... bagaimana denganmu?” lanjut Kyu, membuat Hiu Hwi mengernyitkan dahinya bingung.
“Mwo?”
“Ck! Bagaimana denganmu? Apa kau bisa hidup bahagia di sana, tanpaku? Tanpa bertemu, atau tanpa mendengar suaraku?” pertanyaan Kyu Hyun kali ini sentak membuat dada Hiu Hwi berdesir di buatnya. Apa pria ini bodoh, sampai ia harus mempertanyakan hal semacam itu?
“Aku ... bisa melakukannya, Kyu. Tapi, dengan cara memaksa.” Balas Hiu Hwi merunduk, menatapi banyak coretan yang tadi ia buat. Damn! Ia sebenarnya sangat merindukan Kyu Hyun. Ingin sekali ia melihat pria itu dan merasakan lagi betapa kencangnya jantung itu berdetak setiap kali dekat dan melihat pria bermarga Cho itu.
***
Sama seperti halnya hari kemarin, Kyu Hyun selalu tak pernah henti-hentinya memantau apa-apa saja yang dilakukan Hiu Hwi. Jika ingin makan, Kyu Hyun pasti akan menelpon Hiu Hwi lebih dulu, meminta gadis itu untuk menemaninya melalui telpon. Kadang, semua itu terasa tak mengganggu bagi Hiu Hwi. Tapi akhir-akhir ini, ia harus melakukan beberapa tes yang membuatnya lebih banyak menghafal dan belajar di perpustakaan. Itulah mengapa, Hiu Hwi acap kali lebih memilih untuk meninggalkan ponselnya, mematikannya, ataupun juga berpura-pura tak perduli. Bukan apa-apa, ia hanya ingin berkonsentrasi penuh untuk tes ini.
“Sudah sebanyak enam kali aku menelponmu hari ini, tapi baru kali ini kau mengangkatnya. Waeyo?”
“Aku sedang sangat sibuk, Kyu.”
“Kau pikir aku tidak sibuk di sini? Aku tak meminta banyak Hiu Hwi, aku hanya ingin tau kabarmu setiap harinya. Itu saja! Aku tau, kau merasa terganggu bukan?”
“Ani, bukan begitu Kyu.”
“Aku pikir, kau memang sudah terbiasa hidup tanpaku lagi Hiu Hwi. Arasseo! Hanya aku yang belum terbiasa di sini. Seharusnya, aku juga melakukan itu, ne?”
“Kyu....”
“Baguslah. Bagus, jika kau tak membutuhkanku lagi. Berjuanglah di sana!”
“Kyu, kau ini kenapa? Aku hanya tidak mengangkat telponmu karna aku sedang sibuk belajar untuk tes besok. Kau tau? Kau itu berlebihan sekali!”
“Aku tau, aku berlebihan! Ya sudah, aku mengerti. Maaf, jika aku menganggumu.” Hentak Kyu Hyun keras.
“Mwo?”
“Sudahlah....”
PIPPP ... PIPPP
Kyu Hyun sentak menutup dan menghempaskan gagang telpon kantornya itu dengan kasar. Pria itu memegang pelipisnya sejenak, mengendurkan dasi yang terpasang erat melingkari lehernya. Rasanya penat sekali! Bibirnya nampak pucat dengan keringat dingin yang entah sejak kapan membasahi beberapa bagian tubuhnya.
Hiu Hwi ... Hiu Hwi ... Hiu Hwi...! Oh shit! Hanya gadis itulah yang sangat Kyu Hyun butuhkan sekarang. Tapi apa? Bahkan Hiu Hwi sepertinya sama sekali tak bisa diganggu. Kyu sadar, mungkin sikapnya selama ini memang benar-benar telah keterlaluan. Tapi, tidak bisakah Hiu Hwi mengerti paling tidak untuk hari ini saja?
“Direktur Cho, ini sudah sore. Ada baiknya Direktur makan lebih dulu. Ini—aku memasak sendiri tadi di rumah. Jika boleh, bagaimana jika aku saja yang menemani Direktur makan?” Kyu Hyun sedikit menengok menatap seorang gadis yang ia yakini adalah sekretarisnya itu; Cha Eun Young.
“Aku tidak apa-apa.”
“Tapi, sudah dua hari ini Direktur terserang demam. Jika terus dibiarkan, itu akan berakibat fatal. Tentu saja, itu juga berakibat pada Perusahaan. Semua apa yang ada di sini, bukankah bergantung pada Direktur?” Eun Young tersenyum manis. Gadis yang lebih tua darinya ini sebenarnya cukup cantik memang. Terlihat Kyu Hyun berpikir sejenak akan perkataan dari sekretarisnya itu. Yah, memang ada benarnya juga.
“Baiklah. Kau temani aku makan di sini.”
“Dengan senang hati, Direktur.” Balas Eun Young berseri seraya mengambil tempat duduk dan meletakkan beberapa nampan yang ia bawa ke hadapan Kyu Hyun.
“Kau mamasak semua ini sendiri?”
“Nde, dari kecil aku memang suka memasak. Direktur, harus makan banyak,” Eun Young lagi-lagi tersenyum. Betapa senangnya ia sekarang, dapat sedekat ini dengan Pewaris tunggal Perusahaan Cho Group.
Terdengar nada getaran dari ponsel Kyu. Pria itu berpaling sejenak, melihat sekilas akan siapa nama yang tengah menelponnya itu. Lee Hiu Hwi! Kepalanya kembali berdenyut. Sebenarnya, ia ingin sekali mengatakan pada Hiu Hwi, jika sebenarnya ia sedang sakit. Pria itu sedang membutuhkannya! Tapi tidak, mood Kyu Hyun pada gadis itu sekarang sudah sangat buruk.
“Apa Direktur, tidak mau mengangkatnya?” tanya Eun Young hati-hati.
“Aniya. Aku paling tidak suka diganggu saat sedang makan.”
“Tapi, bukankah itu dari kekasihmu, Direktur?”
“Aku tidak perduli. Itu tidak terlalu penting.” Sahut Kyu Hyun seraya terus menyantap makanan di hadapannya. Eun Young menghentikan sejenak suapannya itu, melirik Kyu Hyun dengan senyuman yang begitu gembira. Oh tidak..., entah mengapa ia begitu senang, jika pada akhirnya Kyu Hyun dan gadis yang bernama Hiu Hwi itu berpisah selamanya. Yah, setidaknya ia memiliki kesempatan untuk menjadi Nona muda Cho, bukan?
***
Empat hari! Baiklah, sudah hampir selama itu, Kyu Hyun sama sekali tak lagi menghubungi Hiu Hwi. Menyiksa? Yah, sangat untuk Hiu Hwi. Gadis itu terkadang mencoba untuk menerimanya, tapi terkadang ... itu terlalu sulit. Beberapa kali, Hiu Hwi mencoba untuk menelpon Kyu Hyun, mengirimi SMS singkat pada pria itu. Tapi apa? Bahkan Kyu sama sekali tak menjawabnya.
“Apa pria ini benar-benar ingin membunuhku? ARA ... ARASSEO!” Kesal Hiu Hwi seraya menekan kembali tombol memanggil di sana. Ia sangat berharap, Kyu Hyun akan mengangkatnya kali ini. Balas dendam? Apakah Kyu Hyun memang sengaja melakukannya?
“Yeoboseyo?”
“Ah! Kyu Hyun-ah...,” Hiu Hwi sentak berdiri senang saat kini, Kyu Hyun tanpa berlama-lama lagi mengangkat telponnya itu.
“Hemm? Waeyo?”
“Aaa-aniya. Aku hanya ... hanya ingin menanyakan, apa kau sudah makan?”
“Oh, sudah.”
“Hummm..., benarkah? Baguslah. Tapi, siapa yang menemanimu?”
“Sekretarisku.”
“Eoh?”
“Nde? Apa ada hal lain? Aku sedang rapat sekarang. Jika masih banyak yang ingin kau katakan, lebih baik kau mengirimiku pesan, aku akan membacanya nanti.”
“Ne, tapi Kyu....”
PIPP ... PIPPP
Baiklah, kali ini sepertinya Hiu Hwi yang ingin sekali menghempaskan ponselnya itu dengan sebal. Apa tadi? Jawaban seperti apa itu? Hiu Hwi menggusar! Sudah hampir selama berhari-hari ini ia memikirkan Kyu Hyun, pria itu malah seperti itu. Tidakkah Kyu Hyun tau, jika karna dirinyalah, Hiu Hwi tak lulus akan tes kemarin? Ia terlalu memikirkan Kyu Hyun, sampai-sampai sulit sekali untuk menghafal kata-kata dan angka-angka itu. Untung saja, masih ada tes ulang minggu depan. Tapi, jika keadaannya tetap seperti ini. Bukankah kemungkinannya ia bisa saja tak lulus kembali? Cho Kyu Hyun!
“Apa kau marah padaku, Kyu? Mianhae....”
Hiu Hwi menekan tombol SEND, lalu segera membereskan buku-buku yang berserakan di mejanya itu. Kepalanya hampir meledak! Ingin sekali, ia bebas dari semua hafalan-hafalan memuakkan ini.
“Sekretaris? Ash! Apa Sekretarisnya itu wanita muda? Huh!” Hiu Hwi kembali menggusar tak karuan, membuat beberapa pasang mata kini menatapnya dengan aneh. Di sini semuanya memakai bahasa Inggris. Akan terasa aneh, jika Hiu Hwi mengamuk dengan mengunakan bahasa Korea di sini. Persetan dengan itu! Ia benar-benar masih kesal dengan Kyu Hyun.
Ada rasa kesepian yang kini Hiu Hwi rasakan. Di Universitas ini, hanya beberapa orang yang pernah berbicara padanya. Hiu Hwi sbeenarnya adalah sosok gadis yang tertutup. Ia tak bisa memulai percakapan lebih dulu pada orang lain. Yah, seperti ... jika tak disapa, maka dia tak akan menyapa. Jika tak ditanya, maka dia tak akan bersuara. Itulah Hiu Hwi, ia lebih memilih untuk benar-benar fokus pada apa yang ia pilih saat ini. Tak terlalu ingin terkesan—ramah pada orang lain.
Dalam hal segi penampilan sekalipun, gadis itu lebih memilih untuk kembali memakai kaca matanya, memakai baju tertutup agar berharap tak ada orang yang berniat ingin mengenalnya, hingga terlibat masalah seperti saat ia Sekolah dulu. Di sini tak ada Kyu Hyun. Akan jadi apa dirinya, jika orang-orang asing itu mengganggunya.
Bangun, pergi kuliah, mengerjakan tugas, belajar, makan, kembali pulang, lalu tertidur. Selalu seperti itu kehidupannya, tak pernah berubah.
***
Jika dibandingkan, ada yang berbeda memang, dari hembusan udara yang ada di Korea dan Australia ini. Mungkin, bukan hanya dua dari Negara itu saja. Tapi juga, Negara-negara lain. Semuanya ada perbedaan. Entahlah, tapi itu yang Hiu Hwi rasakan sekarang.
Awalnya, tempat ini terasa sangat asing bagi gadis itu. Tapi sekarang, perlahan-lahan tapi pasti, segala sesuatunya sudah mulai ia biasakan. Bahkan, tentang kebiasaan-kebiasaan orang yang tinggal di Australi.
“Ummmhh..., dingin sekali,” usap Hiu Hwi seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong pakaian tebalnya itu. Langkahnya terhenti pelan, mengambil sesuatu dari dalam kantong untuk ia tatapi. Kosong! Tak ada panggilan ataupun pesan yang masuk ke ponselnya itu. Dari semalam, Hiu Hwi bahkan sangat menunggu balasan pesan dari Kyu Hyun. Tapi, sepertinya pria itu sudah benar-benar sangat sibuk pada Perusahaannya.
Hanya pesan terakhir Kyu Hyun yang mengatakan, jika dirinya belum pulang ke rumahlah yang menjadi akhiran dari pesan mereka. Itupun, Kyu Hyun mengirimnya pada jam 12 malam. Entah apa saja yang ia lakukan di sana. Bekerja? Apa bisa sampai selarut itu? Bukankah dia seorang Direktur?
“Huhhh...,” Hiu Hwi terus berjalan melewati pinggiran jalan menuju Apartment-nya itu. Sebenarnya, ada sedikit rasa curiga yang melandanya sekarang. Mengingat, ia kenal betul bagaimana watak Kyu Hyun selama ini. Pria itu memiliki hobi yang berlebih pada sosok wanita! Tsk!
Hiu Hwi mengambil kunci Apartment di sakunya, lalu membuka kode untuk masuk ke dalam. Sepi! Apakah ia harus terus menerus seperti ini? Jujur saja, sebenarnya ada rasa ingin kembali ke Korea sekarang juga, tapi....
BRAAKKK!
Baru tiga langkah Hiu Hwi masuk ke dalam Apartment-nya ini, seseorang sudah tampak menarik pinggangnya hingga kini berbenturan dengan tubuh seseorang. SESEORANG? Yah, dia....
“Cho ... Cho Kyu-Hyun?” mata Hiu Hwi membesar! Apa ia bermimpi? Pria ini—kenapa bisa ada di sini? Aniya, kenapa ia bisa berada di Australia? Di dalam Apartment-nya?
“Waeyo? Kenapa kau seperti sedang melihat hantu, eh?” Kyu Hyun kembali merekatkan tubuh Hiu Hwi pada tubuhnya, mengalungkan kedua tangan kekarnya itu dipinggang ramping Hiu Hwi. Gadis itu menganga? Kedua kelopak matanya terus menerus mengerjap tak karuan.
“Hummmhh...,” Kyu Hyun mendesah singkat. Nampak bibir dinginnya itu menyentuh leher samping Hiu Hwi, membuat sengatan yang luar biasa terjadi pada gadis bermata bulat itu. Ini nyata? Sekali lagi, Hiu Hwi nampak masih diam layaknya orang bodoh.
“Errrr....” satu tangan Kyu Hyun terangkat menyentuh rahang Hiu Hwi, menggerakkan secara perlahan kepala gadis itu agar sedikit mendongak ke atas. Ia ingin bebas memainkan lidahnya di leher putih gadis itu, mengecupinya hingga basah di sana.
“Changkaman...,” cegat Hiu Hwi cepat seraya mendorong sedikit dada Kyu Hyun untuk berhenti. Rambut pria ini masih menjuntai basah! Bahkan lihat, ia hanya memakai lapisan handuk putih yang menutupi setengah bagian tubuhnya itu. Oh Shit! Jika ini sebuah khayalan semata, betapa mesumnya ia sekarang. Tapi sepertinya....
“Wae?”
“Kyu Hyun-ah, jadi benar kau—kau—”
“Wae?”
“Yak! Bagaimana bisa kau ada di sini?”
“Kau lupa, jika aku yang membelikan Apartment ini padamu? Jadi, tentu saja aku tau kodenya.”
“Bukan itu maksudku. Tapi, kenapa kau dapat berada di Australi? Bukankah semalam kau mengatakan padaku, jika bahkan jam 12 malam kau masih berada di kantor? Lalu sekarang meng—”
CUP!
Kyu Hyun sontak menyumpal bibir Hiu Hwi dengan kedua daun bibirnya. Pria itu menghadap lurus, membiarkan kedua batang hidung mereka saling berlawanan sejenak. Hingga dengan perlahan, Kyu Hyun membuka mulutnya kecil, memiringkan kepalanya untuk menjulurkan lidah menjilati dua daun bibir Hiu Hwi yang benar-benar menggodanya itu. Hiu Hwi meneguk air liurnya susah payah, membiarkan kedua matanya mengatup seiring dengan hisapan Kyu Hyun di bibir atasnya itu.
Sangat memburu, tapi begitu lembut. Itulah yang Hiu Hwi rasakan pada permainan Kyu Hyun kali ini. Pria itu nampak menggeser tangannya menuju tengkuk belakang Hiu Hwi, menekannya agar kedua daun bibir mereka nampak semakin melekat sempurna.
Kyu Hyun melepaskan tautan bibirnya seketika, menatap Hiu Hwi di balik juntaian rambutnya itu. Oh God..., entah mengapa Hiu Hwi seketika lemah akan pesona pria di hadapannya ini. Tak ia pungkiri memang, betapa ia merindukan pria ini.
“Setelah aku mengerjakan semua pekerjaanku kemarin, aku langsung terbang kemari. Aku tak bisa menahannya lagi, aku bisa gila!”
“Kyu....” Keduanya nampak saling bertatapan. Tubuh atas Hiu Hwi sedikit memundur. Ia tak menghiraukan betapa kecepatan detakan jantungnya itu. Yang jelas, ia ingin melihat wajah Kyu Hyun.
“Semuanya benar-benar menyiksaku. Aku lelah...,”
“Aku tau, sepertinya memang sangat melelahkan untukmmmphmmmm—”
Belum sempat Hiu Hwi hendak meneruskan kalimatnya, Kyu Hyun sudah lebih dulu menarik pinggang gadis itu lagi, memegangi tengkuknya, lalu menempelkan lagi bibirnya itu dan menghisap langsung dua daun bibir Hiu Hwi dengan kuat. Sesekali, nampak bibir Kyu membuka dan mengerucut untuk merasakan hal yang lebih lagi. Hiu Hwi hanya diam. Bagaima bisa ia memberontak jika seperti ini?
“Kkk-Kyu..., aku bisa kehabisan nafas!” Hiu Hwi merajuk seraya melepas paksa tautan mereka. Kyu Hyun sama sekali tak merubah ekspresinya. Kedua matanya terus menerus menatap Hiu Hwi tanpa berkedip. Ash! Pria ini semakin tampan!
“Itu kamarmu, bukan?”
“Nnnndde? Itu—” tanpa perduli jawaban Hiu Hwi, Kyu Hyun sentak mengangkat tubuh Hiu Hwi dan membuka kamar gadis itu. Hiu Hwi tercenang, untuk beberapa detik, gadis itu nampak menganga lebar tak percaya. Apa ia tak salah masuk kamar? Ini....
“So Beautiful....” Decak Hiu Hwi kagum, saat menatapi kamarnya yang meremang gelap, kini tersinari oleh banyaknya lampu yang terbungkus lipatan kertas berbentuk layaknya seekor burung yang cukup besar. Hiu Hwi tertegun, apa ini Kyu Hyun yang membuatnya?
“Itu terbuat dari 1000 lipatan kertas yang bergabung dan membentuk sebuah keajaiban,” Kyu Hyun tersenyum, melihat Hiu Hwi yang masih berada dalam gendongannya.
“Kau tau apa keajaibannya dari semua itu? Kebersamaan,” lanjut Kyu Hyun mengecup sejenak dahi Hiu Hwi dengan lembut. Kaki jenjang pria itu bergerak, nampak memindahkan tubuh Hiu Hwi untuk ia tidurkan di atas ranjang.
“Kyu....”
“Selama berhari-hari aku tidak berhubungan denganmu, rasanya benar-benar membuatku frustasi. Aku benar-benar sibuk menangani Perusahaan agar kali ini proyekku berhasil, dan aku dapat diizinkan untuk kemari tinggal denganmu beberapa hari. Semuanya sulit, tapi aku harus berusaha bertanggung jawab pada Perusahaan dan padamu. Aku berusaha menahan diri untuk tidak menganggumu dan mengatakan padamu, jika betapa aku membutuhkanmu di sana,” Kyu Hyun mengelus pinggiran rambut Hiu Hwi. Kini, tubuh pria itu tampak berada di atas tubuh Hiu Hwi yang sekarang tengah menangis.
“Tapi nyatanya, aku benar-benar tidak sanggup menahannya. Aku merindukanmu, Hiu Hwi, Aku sangat ingin melihatmu...,”
“Oppa....”
“Besok adalah penentuan tentang proyek pertamaku, aku benar-benar tegang. Aku tak ingin mengecewakan Appa, lalu tak bisa meminta tinggal di sini untuk beberapa hari. Kau mau mendoakanku?”
“Tentu. Kau harus berhasil! Aku tidak apa-apa. Dapat melihatmu bekerja keras seperti ini, rasanya untuk kesekian kalinya, aku jatuh cinta padamu Kyu,” Hiu Hwi seketika memeluk tubuh Kyu Hyun dan melampiaskan semua hasratnya.
“Aku tau. Dan aku akan memastikan, jika kau tak akan jatuh cinta lagi pada pria lain,” Kyu Hyun terlihat menggesekkan batang hidungnya pada Hiu Hwi, mengecup ujung hidung gadis itu dengan gemas.
“Ash! Sudah berapa lama aku tidak seperti ini. Aku benar-benar merindukannya,” Kyu Hyun menyeringai, lalu mengigit-gigit kecil daun telinga Hiu Hwi seraya tersenyum. Tubuh gadis bergelinjang, ia merinding! Apalagi, sejak tadi Kyu Hyun masih hanya menggunakan handuk.
“Kyu, kau ingat—”
“Ara, malam ini aku akan tidur di sofa, kau tenang saja.” Kyu Hyun mengusap puncak kepala Hiu Hwi dengan gemas. Gadis ini, benar-benar telah membuat dunianya berubah.
“Tidak usah, kau tidur saja di sini. Cepatlah pakai bajumu!” Kyu Hyun sedikit terkejut mendengarnya. Pria itu tersenyum miring, seolah memastikan jika Hiu Hwi tak akan bisa menarik ucapannya lagi di waktu ini.
“Apa kau sedang memberikanku kode?”
“Ko-kode apanya? YAK! Jangan berpikiran yang macam-macam Cho Kyu Hyun! Cepat pakai bajumu. Kau ingin demam?”
“Aku mengerti, sayang.” Kyu Hyun mengecup bibir Hiu Hwi sekilas, lalu beranjak untuk turun dari ranjang. Hiu Hwi masih diam tak berkutik sekarang. Tunggu! Sayang? Kata itu umum bukan? Tapi, kenapa rasanya bisa semendebarkan ini?
“Aku sudah terbiasa tidur tak memakai baju, kau tau itu bukan?”
“YAK! Cho Kyu Hyun...!”
“Hahaha. Kau sendiri yang salah. Ingat! Kau tak bisa menarik ucapan yang telah kau katakan padaku.”
“Aku akan membunuhmu, jika tengah malam nanti, kau menggerayangi tubuhku.”
“Membunuhku? Kau bisa? Aku tidak berjanji dapat mengontrol bibir dan tangannya malam ini.”
“YAK! Kau tidur di sofa saja!”
“Hhahaha....”
***
Hiu Hwi menggeliat pelan, tatkala sinar mentari perlahan-lahan masuk ke dalam ventilasi ruangan kamarnya ini. Entahlah, rasanya sudah lama ia tak tidur sampai senyenyak ini. Rasanya ... benar-benar sangat nyaman.
Dengan gerakan pelan, kedua kelopak matanya terbuka, memperlihatkan lipatan kertas 1000 berbentuk burung itu di atasnya. Hiu Hwi tersenyum! Ternyata, tadi malam itu bukanlah sebuah mimpi? Dengan cepat, Hiu Hwi menoleh ke arah samping. Tak ada Kyu Hyun di sana. Lalu, apakah pria itu tidur di sofa? Tidak! Hiu Hwi ingat betul, jika Kyu semalam memeluknya sampai ia terlelap.
“Maafkan aku Hiu-ie, aku harus segara kembali ke Korea pagi ini. Kau tidak apa-apa? Cepat kabari aku, jika kau sudah bangun. Jangan lupa, makan sarapanmu ini. Aku sudah membuatnya susah payah. Ah..., aku benar-benar tak bisa melepskanmu seperti ini. Aku berjanji, setelah proyek pertama ini selesai, aku akan lebih lama lagi bersamamu di sana. Jangan berselingkuh! Jika kau pergi menggunakan taksi, jangan pilih supir yang pria muda, ARO?”
Hiu Hwi nampak terkekeh pelan membaca tulisan disebuah kertas tepat di atas nakas tempat tidurnya. Yah, tentu saja bersamaan dengan banyaknya nampan yang tertutup di sana. Kyu..., entah sejak dari jam berapa pria itu bangun dan menyiapkan semua ini.
Mata Hiu Hwi berpaling pada origami kecil yang nampak terletak di atas nampan-nampan itu. Dengan segera, ia ambil origami itu, lalu membukanya.
“Di balik ke 1000 lipatan kertas yang membentuk burung itu, selalu ada kalimat harapanku untukmu. Hiu Hwi-ya..., aku tidak perduli kau mau atau tidak. Tapi yang jelas ... jadilah Ibu dari penerus-penerus CHO GROUP kelak. Setelah lulus tes minggu depan, aku akan menjemputmu untuk kembali ke Korea dan menikah di sana. Ini ... keajaiban lipatan kertas ke 1001 ku lagi untukmu.”
Hiu Hwi menitikan air matanya, tepat di saat ia melihat sebuah cincin yang ikut berada di dalam origami 1001 yang Kyu buat untuk kedua kalinya. Ya Tuhan..., ternyata disela kesibukan pria itu mengurus Perusahaannya, ia membuat lipatan kertas ini untuknya. Yah, hanya untuknya.
“Cho Kyu Hyun....” Hiu Hwi tampak berdiri, lalu menjijit untuk memasukkan lipatan kertas ke 1001 itu pada lipatan kertas besar di atasnya. Ada ruang kosong di sana yang sengaja Kyu berikan untuk lipatan ke 1001. Benar! Kini, sempurna sudah lipatan kertas besar berbentuk burung itu di sana. Tak ada lagi ruang kosong yang terlihat.
Hiu Hwi menghapus jejak air matanya perlahan, memasangkan cincin itu ke jari manisnya, lalu dengan cepat mengambil ponsel yang ia maksudkan untuk menghubungi Kyu Hyun. Tapi tunggu....
Ada pesan suara yang nampak di ponselnya. Cho Kyu Hyun!
“Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave, How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
Lee Hiu Hwi, aku mencintaimu
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more....”
Hiu Hwi kembali menitikan air matanya di detik ini, tatkala ia mendengar betapa indahnya saat Kyu Hyun menyanyikan lagu itu untuknya. Apa Kyu melakukan ini semalam, saat Hiu Hwi tengah terlelap? Entahlah..., yang jelas ini benar-benar indah.
Tanpa diberi aba-aba, Hiu Hwi sentak menekan beberapa tombol di ponselnya, lalu mengetikkan beberapa kalimat.
“Aku menunggu jemputanmu, Cho Kyu Hyun.”
Pesan itu ia kirimkan pada Kyu Hyun. Yah, siapa lagi pria yang berada di kontak ponselnya itu selain Kyu. Seorang pria yang kini tampak menghentikan Persentasi-nya sejenak, lalu tersenyum menatap layar ponsel itu tanpa alasan.
“Dari siapa Direktur Cho?” tanya Eun Young berbisik pelan.
“Dari calon Ibu anak-anakku.” Balas Kyu Hyun tersenyum.
=THE END=

SEE YA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar