_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 3 A [Kyu - Hwi School]
Cast :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre :: Romance, School Life
Rating :: PG + 17
This Story Original From @Jjea_
***
“Hyung, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini....” Ucap Su Ho seraya mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang terasa nyeri setelah memukul Kyu Hyun. Tak ada kaca mata lagi yang bertengger pada kedua mata Su Ho sekarang. Hiu Hwi terkejut setengah mati! Tidak..., bukan hanya Hiu Hwi, tapi semua orang yang ada disini. Tak pernah sekalipun Kyu Hyun dikalahkan oleh siapapun dalam hal berkelahi, tapi ini? Tampak pria bermarga Cho itu terkulai di atas aspal dengan bercak darah di sudut bibirnya.
Su Ho memalingkan wajah ke arah samping, mendapati Hiu Hwi yang memucat disana. Apa yang sebenarnya terjadi?
***
‘Cinta yang kamu miliki tulus adanya,
Jika kamu mampu mencintai seseorang dengan menutup kedua matamu....’
_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 3 A

Sengat sinar sang mentari siang ini nampak semakin membumbung tinggi. Terpaan cahayanya mulai menyilaukan, seolah ingin menunjukan betapa kuasanya sang cakrawala. Ada banyak hal yang terjadi di alam ini setiap jamnya, menitnya, maupun detiknya. Entah itu peristiwa yang menyenangkan ataupun kejadian yang menyedihkan. Yah, begitu banyak! Termasuk—sesuatu yang terjadi di sebuah Yayasan Sekolah Populer di Kota ini sekarang.
In Here ... all the stories began.
* I Want You! *
Semua orang yang mengelilingi kedua pria tampan ini terdiam, beberapa di antaranya nampak menutup mulut mereka dengan tatapan tak percaya. Beberapa menit yang lalu, terjadi perkelahian yang cukup mengerikan disini, tepat di depan gerbang besar Sekolah mereka. Hiu Hwi kembali mengerjap, di tatapnya Su Ho yang juga kini menatapnya dengan raut yang berbeda dari sebelumnya. Pria itu seketika merunduk!
“Maafkan aku, Hyung—” ucap Su Ho seraya membungkuk sekilas di depan Kyu Hyun yang kini tengah menahan rasa ngilu di tubuhnya. Ia benar-benar telah salah besar meremehkan namja bermarga Kim ini. Buktinya, setiap pukulannya benar-benar mematikan. Ia bahkan tau dimana saja titik-titik yang dapat membuat lemah lawannya dengan mudah.
“Hummm..., sebenarnya ... aku sama sepertimu Hyung,” lanjut Su Ho, membuat semua orang tergelak dengan pengakuannya ini. Sung Min yang telah berada diantara kerumunan orang-orang itu seketika mendongak ke arah Su Ho. Ia benar-benar tak menyangka, Su Ho akan mengatakan jati dirinya yang sebenarnya secepat ini pada semua orang.
“Aku tidak tau disebut apa orang-orang yang seperti kita. Yankee? Entahlah, yang jelas aku mungkin lebih parah darimu, Hyung. Aku bersekolah di Beijing, lalu berpindah tempat hampir belasan kali karna aku dikeluarkan dari Sekolah. Aku baru pindah ke Seoul setelah aku membuat koma anak pejabat Negeri disana. Cah...,” Su Ho sedikit merunduk tatkala ia sadar, jika kini ia menjadi sorotan banyaknya massa di tempat ini. Termasuk—Cho Kyu Hyun. Ia tak menyangka, jika Su Ho yang memiliki wajah sepolos, wajah yang layaknya pria baik-baik itu ternyata....
“Orang-orang seperti kita, mungkin memiliki banyak persamaan. Menjadi seperti ini, karna tak mendapatkan banyak perhatian dari orang lain, dari orang tua, atau mungkin karna kurangnya kasih sayang. Menyedihkan! Tapi kau lebih bodoh Hyung. Sebenarnya kau memiliki banyak hal yang dapat kau miliki. Namun, kau merusak dirimu sendiri,” Perkataan Su Ho kali ini membuat Kyu Hyun sentak bereaksi singkat. Tangan pria itu kembali mengepal.
“Apa yang kau dapatkan berbuat semacam ini? Kepuasaan? Kebahagiaan? Aku rasa tidak ada, bukan? Kau bersikap angkuh dan membuat jati dirimu ditakuti hanya agar kau lebih mendapat perhatian dari banyak orang. Pengecut! Hanya seorang pengecut yang tidak bisa menahan laju emosinya, membiarkan diri dikuasai oleh amarah—”
“YAK!” Kyu Hyun yang masih memiliki sedikit tenagapun sontak berdiri hendak kembali melayangkan kepalan tinjunya ke arah wajah Su Ho. Namun tidak, tubuhnya sudah lebih dulu ditahan oleh beberapa orang.
“Pengecut! Sama ... sepertiku,” Su Ho tersenyum getir. Di tatapnya lagi Hiu Hwi yang nampak memandangnya dengan ekspresi pucat. Pria itu perlahan menggeser tubuhnya, berbalik dan memasangkan kembali kaca matanya itu.
“Sekali lagi, tolong maafkan aku Hyung.” Su Ho kembali membungkuk dalam. Cukup lama, sampai ia memutar tubuhnya lagi dan pergi dari tempat ini. Semua orang tertegun, tak tau harus menyaksikan apalagi setelah ini.
Kyu Hyun memberontak, mendorong beberapa orang yang tadi sempat menahan tubuhnya itu hingga jatuh tersungkur di aspal. Emosinya masih belum turun sedikitpun, membuat Kyu Hyun benar-benar masih terlihat mengerikan dimata semua orang. Sedang Sung Min? Tanpa aba-aba lagi, ia segera berlarian menyusul Su Ho. Ia cukup hafal, bagaimana kondisi batin pria itu jika berada dalam keadaan yang seperti ini. Padahal, Su Ho pernah berjanji di hadapan keluarganya, jika ia tak akan pernah berkelahi lagi. Tapi ini....
“Aku akan membunuhmu!” Erang Kyu Hyun dengan rahang mengeras dan dengan kepalan tangannya yang penuh kobaran amarah. Diliriknya orang-orang di sekitar sini, membuat semunya mulai bergidik dan melanjutkan langkah mereka. Kecuali gadis itu; Hiu Hwi. Tampak ia masih diam, memandang Kyu Hyun yang sepertinya kembali menahan luka di area wajah tampannya itu. Entahlah, degup jantung Hiu Hwi sudah sedari tadi berdetak dengan kecepatan tak normal. Ada perasaan takut yang juga singgah disana, perasaan panik dan kuatir saat ia menatapi Kyu Hyun seperti itu. Rasanya, ia benar-benar sangat takut terjadi apapun pada namja itu.
“Bodoh!” Umpat Hiu Hwi menitikan air matanya. Kyu Hyun menoleh ke arah samping, membalas tatapan Hiu Hwi yang seakan kini ingin meneriakinya itu.
Gadis ini ... kenapa ia menangis?
***
At Kyu-Hwi Home’s
20.06 KST
Seperti biasa, tak ada pendengaran apapun yang terjadi di rumah ini. Lebih banyak suara senyap yang mendominasi. Sama halnya yang terjadi pada bibir gadis berambut panjang ini, lebih banyak bungkam. Perasaannya terasa kalut, sudah sedari tadi ia sama sekali tak berkonsentrasi melakukan apapun. Baiklah, ia tak berlebihan. Mengingat, sudah semenjak kejadian perkelahian siang tadi, Kyu Hyun masuk kamarnya dan sama sekali belum keluar sampai sekarang. Siapa yang tak kuatir?
“Apa dia tak lapar?” Hiu Hwi bertanya pada dirinya sendiri, seolah ingin meminta keyakinan pada hatinya itu. Sudah kebiasaan, jika Kyu Hyun sedang dalam keadaan yang seperti itu, maka Hiu Hwi tak akan berani mengganggunya. Akan sangat berbahaya! Bisa jadi, Kyu Hyun yang mungkin saja masih di kelilingi aura marah itu malah melampiaskan kepadanya nanti. Tapi..., ini sudah lewat dari jam makan malam mereka. Tak pernah Kyu Hyun selama ini bersikap seperti itu sebelumnya. Benar, bagaimana dengan lukanya tadi? Apa sudah terobati?
“Kyu ... Kyu Hyun-ah,” pantau Hiu Hwi akhirnya seraya mengetuk perlahan. Ia mulai berdoa dalam hati, semoga saja tak terjadi apapun padanya setelah melakukan ini. Sesungguhnya ia tak akan tenang sebelum tau bagaimana kondisi Kyu Hyun sekarang. Persetan dengan hal lain lebih dulu!
“Ka ... kau tak makan? Apa aku membawa makan malammu ke dalam saja?” tanya Hiu Hwi dengan nada di buatnya selembut mungkin. Namun sayang, tak ada jawaban disana. Apa pria ini sudah tidur? Hiu Hwi mengigit bibir bawahnya bingung.
“Baiklah, ada baiknya aku membawa makan malammu masuk saja ke dalam, ne? Aku yakin kau pasti lap—”
“Masuk dan kunci pintunya.” Potong Kyu Hyun dari dalam. Hiu Hwi melongo untuk beberapa detik.
“Nde?” Gadis itu nampak berpikir sejenak. Apa katanya tadi? Masuk dan kunci pintunya? Baiklah, kenapa otaknya lambat sekali berpikir disaat yang seperti ini.
“Masuk?” entah ini naluri atau bukan, tapi Hiu Hwi merasa jika akan ada sesuatu yang terjadi jika ia masuk. Apalagi suara Kyu Hyun tadi terdengar berbeda; dingin sekali! Dengan menghembuskan nafas panjangnya, gadis itu sentak membuka knop pintu dan perlahan-lahan menginjakkan kakinya di ruangan origami ini. Yah, banyak sekali origami yang digantung di sini. Sebenarnya, sama dengan kamarnya, tapi pada kenyataannya tak sebanyak ini.
“Kkk-Kyuu...,” Hiu Hwi menatap punggung Kyu Hyun yang tanpa baju atas lagi di hadapannya. Gadis itu meneguk ludahnya, ia yakin jika Kyu Hyun juga baru saja selesai mandi. Lihat, rambutnya masih nampak sedikit basah. Oh sial, kenapa dia makin tampan jika seperti itu?
“Kunci pintunya.”
“M-mmwo?” baru kali ini Hiu Hwi merasa gugup yang sangat ... sangat fatal ia rasakan. Tubuhnya setengah berbalik, mengunci pintu seperti apa yang pria ini katakan tadi. Hiu Hwi kembali menatap Kyu Hyun yang masih memunggunginya, darahnya berdesir.
“Kau belum makan?” tanya Kyu Hyun menegak secangkir kecil alkohol di dekatnya. Pria ini—minum?
“Belum. Ak-aku menunggumu.”
“Bagus! Kau tak boleh makan tanpaku,”
“Nde?”
“Mendekat ke arahku Hiu Hwi, aku sedang sangat membutuhkanmu sekarang,” Hiu Hwi mengangguk. Tampak ia mendekat ke arah Kyu Hyun dan berdiri di samping pria itu sekarang. Mereka tengah berada di dekat jendela, mambuat angin menerpa cukup mendamaikan.
“Siapa yang menyuruhmu berdiri di sampingku, heh? Berdirilah di depanku!” Perintah Kyu Hyun dengan menoleh ke arah samping, tepat menatap manik mata Hiu Hwi. Shit! Sekalipun nampak banyak goresan luka di wajah pria itu, tapi kenapa ia tetap terlihat tampan? Cho Kyu Hyun ... ia seakan tak berhenti menaburkan racun pesonanya.
“Kau mau apa?” Hiu Hwi berpindah di sela-sela antara pinggiran jendela dan tubuh Kyu Hyun sekarang. Baiklah, ia akan mengalah untuk kali ini.
Kedua pelupuk mata Kyu Hyun mengerjap dengan tanpa melepas pandangannya dari Hiu Hwi, mengangkat kedua tangannya untuk ia taruh di kiri-kanan tubuh Hiu Hwi sekarang. Hiu Hwi sedikit merunduk! Sial, lagi-lagi jantungnya seakan ingin melompat keluar. Ini tidak benar, apakah ia memiliki penyakit jantung atau semacamnya?
“Aku senang saat sadar, jika aku memilikimu,” ucap Kyu membuat Hiu Hwi sentak mendongak memberanikan diri membalas tatapan pria ini.
“Kk-kyu....” Baru saja Hiu Hwi hendak membalas ucapan Kyu Hyun, pria itu sudah lebih dulu membuat mulutnya berhenti bergerak. Bibir Kyu Hyun menempel di pipi kanannya, seakan tengah mencubit tapi dengan menggunakan daun bibir. Tangan kanan Kyu tak tinggal diam, dengan gerakan yang cukup aktif, disentuhnya wajah dan pinggiran rambut Hiu Hwi dengan amat begitu lembut. Tubuh Hiu Hwi mulai lagi-lagi memanas. Pria ini....
“Nyaman,” komentar Kyu Hyun saat kini ia dengan tanpa dosanya menggerakkan kepalanya itu untuk bersandar di bahu kanan Hiu Hwi. Bersandar? Tidak! Bukan Kyu Hyun namanya, jika hanya diam seperti itu. Telunjuk pria itu kembali bergerak, menyentuh dahi, hidung, bibir dan dagu Hiu Hwi dengan penuh godaan.
“Kyu....”
“Sepertinya besok, kau harus pergi ke Sekolah dengan menggunakan syal lagi,”
“Ash—damn!” Hiu Hwi kontan menutup kedua matanya rapat, saat kini Kyu Hyun mulai lagi mengecupi bahunya perlahan. Dingin! Bibir pria yang baru saja mandi itu semakin membuat tubuh Hiu Hwi merinding!
“Aku senang mendengarmu mengumpat dengan nada yang seperti itu, Lee Hiu Hwi,” Kyu Hyun tersenyum miring. Tak perduli akan luka yang masih nampak merah di sudut bibirnya itu, Kyu Hyun semakin menelusuri bahu, leher, sampai kini ke arah telinga kanan gadis itu. Kedua tangan Hiu Hwi mengepal! Ia harus bersiap mendorong tubuh pria ini sebelum ia semakin mabuk.
“Tubuhmu yang pendek kadang membuatku sangat kesal, tapi itulah yang semakin membuatku ingin...,” Kyu Hyun mengangkat tubuh Hiu Hwi ke dalam gendongannya, sentak saja itu membuat Hiu Hwi membuka lebar matanya. Keduanya saling bertatapan! Hal inilah yang sebenarnya Hiu Hwi hindari sejak tadi.
“Hentikan Kyu, aku lapar,” tolak Hiu Hwi ingin turun dari gendongan Kyu Hyun sekarang.
“Kau pikir aku tidak lapar?” Kyu Hyun tersenyum; sangat manis. Oh Tidak ... ia juga mengedipkan sebelah matanya itu dengan tampannya. Hiu Hwi meleleh, bagaimana bisa ia lemah diperlakukan seperti ini. Hiu Hwi semakin membuka matanya lebar! Ia tak sadar, jika ekpresinya itu malah semakin membuatnya seperti gadis cupu 2 tahun yang lalu.
“Ka-kau lapar? Ya sudah, ki-kita makan saja di lu—”
“Jangan menggemaskan!”
“Mwo?”
“Jangan memperlihatkan wajah menggemaskan seperti itu padaku. Kau akan terancam, jika kau melakukan itu lagi Nona Lee,”
“Cah, dasar kau Cho....”
“Cho apa, hemm?” Kyu Hyun sentak mendudukan Hiu Hwi ke pinggiran jendela kamarnya ini, membuat kini gadis itu sedikit merunduk menatapnya. Kedua batang hidung mereka beradu!
“Bibirmu ... sangat indah,” bisik Kyu Hyun sembari mengusap-usap daun bibir mungil Hiu Hwi perlahan.
“Dan aku yakin, pasti rasanya juga sangat manis,” Kyu Hyun melirik lagi mata Hiu Hwi dan tersenyum.
“Jangan pernah memberikan bibir ini kepada pria manapun kecuali aku, kau mengerti? Kau tau aku tak pernah main-main Hiu Hwi, jika sampai kau melakukannya, kau akan melihat sisi paling burukku selama ini.”
“Kau mengerikan, Cho.”
“Bahkan lebih dari yang kau bayangkan,” balas Kyu Hyun seraya sentak membawa kepalanya untuk berada di leher gadis itu. Hiu Hwi menepuk pelan kepala Kyu Hyun, memastikan jika pria ini benar-benar tak membuat bulatan merah di sana.
“Yak! Cho Kyu-Hyun!”
“Kau terlambat Nyonya Lee!” Kekeh Kyu Hyun tersenyum puas saat kini ia berhasil membuat tanda disana. Hiu Hwi menatapnya kesal! Tapi itu tak mengurungkan niat Kyu Hyun lagi untuk melakukannya. Kali ini, tangan Kyu tampak menarik baju tidur Hiu Hwi untuk sedikit menurun ke bawah.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan?” Hiu Hwi yang tak ingin terjadi apa-apa diantara mereka pun sentak sedikit mendorong tubuh Kyu Hyun untuk menjauh. Namun na’as, kyu Hyun semakin mengeratkannya.
“Kyu!” Hentak Hiu Hwi berusaha sedikit memberontak sekarang. Sampai....
“Yak! Cho Kyu Hyun!” Gadis itu berhasil mendorong tubuh Kyu Hyun hingga kini nampak tersungkur di lantai. Kepala pria itu merunduk seakan menahan sesuatu. Nafasnya tak beratur, keringat dingin bercucuran di sekitar pelipisnya.
“Kyu Hyun-ah,” panggil Hiu Hwi seraya turun dengan rasa bersalah. Apa tadi dorongannya terlalu keras? Tapi bukankah selama ini Kyu Hyun selalu bisa menahannya?
“Gwenchana? Mianhae...,” Hiu Hwi berjongkok menatap Kyu Hyun yang seakan sulit untuk bernafas. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, dan tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Yak! Kau kenapa? Kyu Hyun-ah, kau sakit?” Hiu Hwi segera menempelkan tangan kananya menyentuh dahi Kyu Hyun. Yang benar saja, panas sekali. Bodoh! Kenapa ia baru menyadari itu sekarang?
“Ayo, berbaringlah ke atas tempat tidur,” Hiu Hwi memapah tubuh Kyu Hyun untuk bergerak dan tidur di tempat tidur besar milknya ini. Hiu Hwi gamam, pantas saja tubuhnya tadi terasa semakin panas saat berdekatan dengan Kyu Hyun.
“Aku akan mengambilkan obat dan membuatkan bubur untukmu sebentar,” ucap Hiu Hwi berniat untuk hendak berbalik keluar dari kamar ini. Namun Kyu Hyun lebih dulu menyegatnya. Hiu Hwi menoleh, dapat dengan jelas ia lihat tangan Kyu Hyun mencengkram erat lengannya.
“Jangan pernah berani meninggalkanku dan berteriak membutuhkan orang lain selain aku. Aku akan membunuhmu, jika kau sampai berani melakukannya.” Ancam Kyu Hyun menatap Hiu Hwi dengan penuh keseriusan.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan obat merah dan obat penurun panasmu,” Hiu Hwi berdiri dan melanjutkan perjalanan yang tadi sempat tertunda. Dapat diliriknya sebentar Kyu Hyun yang menghembuskan nafasnya, lalu menutup kedua matanya dengan nafas yang benar-benar tak beratur.
Tanpa menunggu waktu lagi, Hiu Hwi dengan cepat berlari mengambil apa-apa saja yang ia butuhkan, lalu kembali ke dalam kamar Kyu Hyun. Pria itu sepertinya tengah menahan rasa sakit di tubuhnya. Benar-benar sangat tak tega melihatnya seperti itu.
“Dasar bodoh, jika kau merasa sakit, seharusnya kau mengatakannya dari awal padaku!” Hiu Hwi dengan kicauan-kicauan sebal perlahan meletakkan handuk kecil dingin di dahi Kyu Hyun. Pria itu masih diam, ada asap hangat setiap kali ia mengeluarkan nafas. Tanpa diperintah, Hiu Hwi dengan telaten memakaikan baju hangat Kyu Hyun, dan menutupi tubuh pria itu dengan selimut sampai batas lehernya.
“Kau sudah tertidur? Jika belum, sebaiknya makan lebih dulu, lalu minum obat. Ini—”
“Aku hanya membutuhkanmu,” tanpa membuka mata, Kyu Hyun berbicara itu. Hiu Hwi tertegun, menatap jari jemarinya di genggam erat oleh Kyu.
“Pada kenyataannya, kau tetap membuthkan makan dan obat juga. Jangan berkata yang macam-macam, kau semakin terlihat mengerikan Cho Kyu Hyun,” Hiu Hwi mengusap rambut Kyu Hyun sejenak, hingga didetik berikutnya, ia tempelkan obat merah dengan kapas di luka-luka kecil yang terdapat di beberapa bagian wajah putih Kyu.
“Etsssshh....” Kyu Hyun sedikit bergerak dengan sedikit mengerang sakit tanpa membuka matanya. Hiu Hwi tersenyum, pria ini benar-benar terlihat sangat polos dan lugu ketika sedang seperti ini.
“Maaf, aku akan pelan-pelan.”
***
Sudah hampir selama 3 jam Hiu Hwi duduk seraya menatapi Kyu Hyun yang nampak tertidur di hadapannya itu. Pulas sekali! Pria itu sepertinya memang benar-benar lelah. Hiu Hwi kembali membasuh handuk kecil dingin itu untuk ia kembali kompreskan ke dahi Kyu lagi. Tak ada kata bosan dan lelah untuk apa yang ia lakukan sekarang. Hiu Hwi sejak tadi mulai berpikir, jika apakah ia benar-benar menyukai Kyu Hyun? Baiklah, kalau saja itu memang terjadi, apa itu tidak apa-apa? Apa itu bukan sebuah kesalahan?
Hiu Hwi tak berharap banyak akan kondisi hubungannya dengan Kyu Hyun. Benar, apa yang dikatakan Su Ho padanya waktu itu. Ia tak seharusnya tinggal berdua di sini dengan Kyu Hyun tanpa alasan, tapi apa perlu dikata? Ia bahkan merasa selalu ingin berada di dekat pria ini. Hiu Hwi tau resikonya menyukai pria seperti Kyu Hyun; sakit hati. Semua cinta memang harus bersiap-siap menghadapi itu, bukan? Tapi, ketika merasa sakit hati kepada orang yang belum menjadi milik kita seutuhnya, apakah itu diizinkan?
“Huhhh...,” Hiu Hwi menghela nafas dan tersenyum kecut. Ia tak sebodoh itu. Ia tau ia jatuh cinta dengan Kyu Hyun, entah mulai sejak kapan. Mungkin—sejak pertama kali melihat pria ini? Hatinya lah yang sebenarnya selalu menyangkal itu selama ini. Jika sudah begitu, sekarang Hiu Hwi mulai harus belajar untuk mengendalikannya agar tak terlalu terluka pada akhirnya kelak.
“Kau tak tidur?” pertanyaan itu sentak saja terdengar seketika, membuat Hiu Hwi cukup terperanjat kaget. Nampak wajah pucat Kyu Hyun lah yang menatapnya sekarang.
“Suhu tubuhmu belum juga turun. Aku akan menjagamu disini, setidaknya aku rela malam ini menjadi budakmu Kyu.”
“Budakku? Kalau begitu, kau akan menuruti semua apa yang kusuruh?”
“Kau membutuhkan apa?” Kyu Hyun menatap Hiu Hwi dalam diam sejenak. Sebenarnya, ada rasa haru saat ia menyadari, jika Hiu Hwi rela melakukan semua ini untuknya.
“Tidurlah ... malam ini denganku,”
“Eh? Mwo? MWO?” nampaknya Hiu Hwi cukup berlebihan membalas perkataan Kyu Hyun kali ini.
“Naiklah,”
“Ta-tapi kita....”
“Tenang saja, aku tak akan melampiaskan nafsuku disaat aku tengah lemah seperti ini. Jadi, kau tak perlu kuatir. Kemarilah...,” Kyu Hyun membuka selimutnya pelan, menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi ruang pada Hiu Hwi tertidur di sampingnya. Gadis itu mengangguk, melentangkan sekujur tubuhnya di atas ranjang itu.
Kyu Hyun tersenyum. Tubuhnya bergerak, berusaha untuk berbalik menghadap Hiu Hwi.
“Eh?”
“Gomawo,” Kyu Hyun dengan cepatpun menindih tubuh gadis itu hingga kini terhimpit di bawah tubuhnya. Kyu Hyun memang masih merasakan kepalanya sangat pening, tapi rasanya ia ingin mencoba untuk mengalihkan itu.
“Menjauhlah! Tadi kau berjanji apa padaku, hem?”
“Memangnya kau pikir aku ingin melakukan apa? Aku hanya ingin melihatmu dengan posisi ini. Pasti akan menyenangkan, jika setiap hari aku dapat melakukannya,”
“Kyu....”
“Aku sangat bersyukur, Appa telah memperkenalkan dan mempertemukanku dengan gadis bodoh sepertimu,” kecup Kyu Hyun tepat di dahi Hiu Hwi, membuat lagi-lagi degup jantung gadis itu berdentam nyaring.
“Aku juga. Aku senang saat Eomma mengatakan padaku, jika akan ada yang melindungiku setelah Appa pergi. Dan kau—calon kakak tiriku yang benar-benar hebat!”
“Jika saja mempunyai calon adik tiri itu semenyenangkan ini, aku pasti sudah dari dulu merengek pada Appa untuk memberikanku yang sepertimu. Ternyata, mempunyai adik yang bisa aku cumbui setiap saat seperti ini benar-benar membuatku senang,” Kyu Hyun mengecup ujung hidung Hiu Hwi sejenak, lalu beralih pada dagu runcing gadis itu untuk ia hisap sebentar. Hiu Hwi tersenyum kecut.
“Kyu Hyun Oppa...,” pantauan Hiu Hwi kali ini sontak saja membuat Kyu Hyun menghentikan aktivitasnya sejenak, dan menatapi Hiu Hwi lagi.
“Eoh? Op-pa?”
“Oppa....” Cengir Hiu Hwi dengan nada manja.
“Bukankah tadi sudah kukatakan jangan menunjukan ekspresi menggemaskan seperti itu lagi? Yak! Kau benar-benar ingin....”
“Siapa yang menunjukan raut menggemaskan? Bukankah memang wajahku sendiri yang sudah menggemas—argh—Cho Kyu Hyun!” Pekik Hiu Hwi tertahan saat kini Kyu Hyun mengigit cukup kuat tepat di belakang telinga gadis itu. Kyu Hyun tersenyum senang. Dasar pria ini....
***
Nampak disatu sisi, seorang pria yang masih mengenakan seragam Sekolahnya itu membuka pintu rumahnya dengan ragu. Kim Joon Myun atau yang lebih akrab disapa Su Ho ini menghela nafas, saat tebakannya benar. Tuan Kim; sang Ayah, tampak telah berdiri dengan tampang sinis dan emosi ke arahnya. Seakan tak memperdulikan, Su Ho melanjutkan langkahnya kembali untuk masuk ke dalam.
“Hebat! Kau berkelahi lagi?” pertanyaan sinis dari Tuan Kim ini sontak membuat Su Ho menghentikan langkahnya. Pria itu malah membungkuk hormat, malas untuk menjawab.
“Kau ingin jadi jagoan lagi di Sekolahmu? Yak! Apa kau ini preman? Berandalan? Kenapa kau selalu saja membuat masalah, huh? Dasar anak tidak tau diri! Kau benar-benar tidak atu bagaimana caranya berterima kasih!” Tuan Kim sentak mendorong Su Ho hingga pria itu jatuh ke lantai. Rahang Su Ho mengeras, kedua tangannya mengepal hebat. Luka yang berada disudut bibirnya itu semakin terasa mengoyak.
“Jika sampai aku mendengarmu berkelahi lagi, aku tak akan segan-segan mematahkan tulangmu!”
“Patahkan saja.” Balas Su Ho berdiri seraya dengan cepat berjalan menuju kamarnya.
“Mwo? Yak! Apa katamu? Yak! Dasar anak pecundang! Berani sekali kau menjawab perkataanku seperti itu!”
BLAM!
Su Ho sentak menutup pintu kamarnya tanpa perduli teriakan sang Ayah yang terus memakinya. Pria itu bersandar di pintu kamarnya, membuang tas Sekolahnya sembarangan, lalu duduk di dekat ranjang tidurnya.
“Kenapa kau tidak mati saja menyusul Ibumu! Kau malah masih hidup dan selalu menyusahkanku!”
Su Ho masih mendengar semua ucapan-ucapan Tuan Kim itu dengan tubuh yang bergetar. Tanpa perlu dapat ia tahan lagi, air mata itu menetes, merangkai banyak rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Seperti inilah hidupnya. Dari kecil ia sudah mendapat kekerasan dari sang Ayah seperti ini, bukan hanya lewat pukulan tapi juga lewat perkataan tajam. Itu kenapa, Su Ho tumbuh menjadi seperti ini.
Dia anak baik sebenarnya, hanya kehidupannya lah yang seolah menuntutnya untuk berhenti menjadi pria penurut dan dihakimi oleh banyak orang tanpa mampu melawan.
Su Ho melirik sebuah origami yang belum sepenuhnya selesai di atas mejanya. Lipatan kertas itu adalah sisa saat ia belajar membuat origami pada malam itu. Jika melihat ini, Su Ho sentak teringat dengan sosok seorang gadis. Lee Hiu Hwi, masih sangat jelas terlihat tatapan Hiu Hwi yang menatapnya terkejut siang tadi.
“Noona....” Desah Su Ho sembari perlahan-lahan mengeluarkan ponsel kesayangannya dan menekan nomor seseorang di sana. Tangan pria itu gemetar memegang gagang telpon. Ia tak tau harus bagaimana lagi untuk menghentikan laju air mata itu.
Bunyi sambungan telpon terdengar, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda orang akan yang akan mengangkatnya.
“Noona, aku membutuhkanmu. Tolong, beri aku kesempatan untuk sebentar saja mendengar suaramu....”
DRRRTTTT ... DRTTTTT
Bunyi ponsel Hiu Hwi yang bergetar sentak saja menghentikan canda kedua orang ini sebentar. Hiu Hwi yang nampak masih asyik membilas kompres Kyu Hyun itupun terhenti. Tertera nomor baru disana. Dengan pelan, gadis itu terlihat menekan tombol buka dan membaca isinya.
“Noona, apa aku pantas bahagia? Kenapa aku merasa Tuhan membenciku? Aku tidak tau lagi harus melakukan apa. Terkadang, ada rasa ingin segera menyusul Eomma di surga sana lebih cepat. Aku lelah....”
Hiu Hwi mengernyitkan dahinya tak percaya saat membaca pesan yang tanpa nama ini. Tapi sekalipun tak jelas, Hiu Hwi sudah tau akan siapa yang sering memanggilnya ‘Noona’ itu. Su Ho ... apa yang terjadi dengan namja itu?
Baru saja Hiu Hwi hendak membalas, Kyu Hyun sudah lebih dulu mengambil paksa ponselnya itu, lalu membuangnya ke sembarang tempat. Terdengar bunyi benda yang jatuh disana. Hiu Hwi menoleh, menatap kesal pada Kyu Hyun.
“Wae? Ponsel itu yang aku berikan padamu 3 bulan yang lalu, bukan? Kalau begitu, besok aku akan memberikanmu lagi yang baru,”
“Mwo?”
“Kenapa? Kau tidak suka?”
“Itu ponselmu, kau memang berhak menghancurkannya Cho Kyu Hyun.”
“Bravo! Aku senang kau tau itu. Hummm..., aku memberikanmu ponsel hanya untuk menghubungi dan aku hubungi. Jadi, tak perlu memuat nomor orang lain di kontakmu. Aku tidak suka, kau hapus semua kontak-kontak itu dan sisakan hanya namaku,”
“Huhhh....”
“Sekarang kita tidur,” Kyu Hyun sedikit memaksa tubuh Hiu Hwi untuk semakin merajuk ke arah dada bidangnya. Gadis itu diam, ia tak tau bagaimana caranya menolak seorang Cho Kyu Hyun.
“Hiu Hwi-ya, kau tau mengapa aku suka origami?” Hiu Hwi menggeleng akan pertanyaan ini. Sebenarnya, itu agar pada ujungnya ia tak mendapat masalah lagi. Percuma beradu mulut dengan Kyu Hyun. Toh, pria ini selalu menganggap dirinya benar.
“Saburo Kase adalah seorang master origami yang handal, meskipun beliau buta. Bukan hanya sebatas lipatan kertas semata. Dulu, Eomma sangat menyukai origami dan selalu membuatkanku itu dengan jumlah yang sangat banyak. Beliau mengatakan ... jika origami; Paper Crane melambangkan sebuah keajaiban Tuhan. Aneh memang, tapi kita hanya butuh untuk percaya,” Hiu Hwi dapat merasakan nafas hangat Kyu Hyun yang menerpa wajahnya.
“Di Jepang, Paper Crane itu sendiri memiliki sebuah kisah. Katanya, Jika kita berhasil membuat seribu paper Crane maka satu keinginan kita akan terwujud,”
“Mwo? Benarkah?”
“Hummm..., sekali lagi, kita hanya butuh percaya akan hal itu. Jika kau percaya semua itu kelak benar adanya, maka lakukanlah. Tapi jika tidak, kau hanya tak perlu melakukannya. Keajaiban terkadang datang pada hal-hal yang dianggap tidak mungkin, datang hanya kepada orang-orang yang percaya,”
“Percaya?”
“Sekalipun itu lelucon, tapi percayalah ... disana benar-benar ada keajaiban,”
“Apa harus seribu Paper Crane untuk mewujudkannya? Kenapa harus sebanyak itu?”
“Kau merasa tidak mungkin, bukan? Itu sama halnya saat aku pertama kali dibertahu oleh Eomma. 1000? Benar, itu rasanya tak mungkin aku lakukan. Terlalu banyak! Tapi, aku melakukannya. Hal yang kuanggap mustahil bagiku dulu, kini semua menjadi nyata. Itu keajaiban! Ketika kau percaya akan kerja kerasmu dapat membuat 1000 banyak origami, maka pasti kau akan dapat melakukannya,” Hiu Hwi tertegun mendengar ujaran kalimat Kyu Hyun kali ini. Gadis itu mendongak, mulai mengamati origami yang nampak menggantung di langit-langit kamar Kyu Hyun itu. Sepertinya, gadis itu mulai menangkap apa yang tadi Kyu Hyun jelaskan. Ia tersenyum! Baru kali ini ia terpesona dengan kata-kata yang keluar dari bibir Kyu.
“Jadi, jika aku bekerja keras dan percaya. Maka, keajaiban itu akan datang?”
“Kau ingin mencobanya? Jika kau berhasil melakukannya, apa yang kau minta?”
“Kau sendiri apa? Bukankah kau mengatakan kau sudah berhasil membuatnya? Berarti, ada 1000 origami di dalam kamarmu ini? Aku benar?”
“Aku hanya meminta satu hal,”
“Eh? Mwo?” Hiu Hwi sedikit menggeser dekapan Kyu Hyun pada tubuhnya.
“Aku ingin meminta waktu. Waktu kembali disaat aku masih dapat berlarian bersama Eomma, Appa. Tapi ... permintaanku itu terlalu mustahil, bukan?”
“Kyu....”
“Karna ada hal yang tidak bisa kembali di dunia ini ... kesempatan, perkataan, dan—waktu.”
“Kyu Hyun-ah....”
Di lain tempat, tampak Su Ho telah memejamkan matanya dengan erat. Tubuhnya terkulai di atas lantai dingin ini seraya tertidur pulas. Tampak satu tangannya masih menggenggam Paper Crane yang ia buat sendiri itu. Terlihat jelas, betapa lelahnya ia sekarang. Namun ada yang berbeda!
Su Ho tersenyum dalam balut mimpinya kini. Tak ada yang paling menyenangkan untuknya, ketimbang dapat bertemu dengan sang Ibu. Yah, sekalipun hanya melalui mimpi. Sudah lama ia menginginkan itu, bahkan sekedar bunga tidur pun ia sudah sangat bahagia sekarang. Rasa sakit yang tadinya ia rasakan, kini bergulir hilang.
‘Eomma....’
Tangan Su Ho bergerak untuk semakin mengeratkan Paper Crane yang tanpa sadar ia pegangi itu.
***
Ini sudah ke 3 harinya, Kyu Hyun tak masuk ke Sekolah, membuat banyak sekali gosip yang mulai berkembang biak di Sekolah ini. Hiu Hwi kadang muak, banyak sekali orang-orang yang seakan ingin selalu tau urusan orang lain. Bukankah itu sebuah hal yang tak penting sebenarnya?
“Kau baik-baik saja, Noona?” Hiu Hwi menghentikan laju kakinya saat ia mendengar suara itu menyapanya. Kepala gadis itu berpaling, menatap seorang pria berkaca mata itu dengan senyum tipis.
“Aku baik, bagaimana denganmu? Lukamu?”
“Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa seperti ini. Hummm..., aku dengar Kyu Hyun sakit, aku benar-benar minta maaf.” Su Ho membungkuk, membuat Hiu Hwi mendekat ke arahnya.
“Yah, sudah 3 hari ini dia sakit. Aku rasa, itu bukan kesalahanmu. Entah siapa yang salah, tapi ada baiknya kita melupakan semuanya.”
“Apa Noona marah padaku? Waktu itu, aku tau kau sangat terkejut. Aku merasa sudah salah....”
“Aku bukan hanya terkejut. Tapi aku juga merasa takut,”
“Mwo?”
“Kau ternyata lebih kuat dari Kyu Hyun. Aku benar-benar tidak menyangka,”
“Ah, itu—”
“Tapi, aku tidak suka itu. Saat kemarin aku melihat kau memukul Kyu Hyun, aku seakan ikut merasa sakit. Melihatnya tergeletak dengan tak berdaya, semakin membuatku sadar, jika aku tak bisa melihat Kyu Hyun dilukai oleh siapapun. Aku tak kuat melihat seperti kemarin, rasanya aku ingin menangis di depan semua orang dan memeluknya,”
“Noona,”
“Yah, aku menyukainya. Dengan bodohnya, aku menyukainya.” Ucap Hiu Hwi akhirnya. Su Ho tersenyum.
“Akan membuatku lebih terkejut, jika Noona mengatakan tidak mencintainya,”
“Su Ho-ya....”
“Ini kali pertama Noona menyebut namaku seperti itu, terima kasih. Dan ah ya, sekali lagi aku minta maaf telah membuat Noona merasa sedih saat melihatku memukul Kyu Hyun Hyung. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.”
“Kau berjanji? Apa itu....”
“Pria sepertiku, pantang mengingkari apa yang telah aku katakan Noona.”
“Terima kasih, Su Ho-ya.”
“Cah, tidak perlu Noona. Jangan bersikap seperti ini, bersikap saja dingin padaku seperti biasa. Karna nanti, aku takut akan semakin menyukaimu Noona,”
“Yak!”
“Hahaha. Noona, ada sesuatu di bibirmu. Apa tadi kau makan sayuran?”
“Nde? Ah iya....”
“Di sini—haha—” Su Ho nampak mendekat ke arah Hiu Hwi, membersihkan bekas sayur di sudut pinggiran bibir gadis itu.
“Noona, memang benar-benar ceroboh!”
“Yak! Apa sudah hilang?”
“Sedikit lagi, di si—”
BUGH!
Belum sempat Su Ho hendak melanjutkan aktivitasnya, seseorang sudah lebih dulu menarik kemejanya dari arah belakang, lalu memukulnya dengan pukulan keras. Hiu Hwi terlonjak kaget. Ia melihat Kyu Hyun saat ini tengah hendak menghampiri Su Ho lagi untuk memukulnya. Hari ini Kyu Hyun tak masuk Sekolah, tapi ia tak menyangka jika pria itu menjemputnya dan mungkin—ia salah paham dengan adegan tadi. Ini tidak benar! Sepertinya, kali ini akan ada perkelahian yang lebih mengerikan lagi dari sebelumnya.
“Ayo bangun!”
BUGH!
Dengan kepalan yang begitu kuat, Kyu Hyun kembali melayangkan pukulannya pada Su Ho. Taman belakang Sekolah yang tadinya sepi, kini mulai dipadati dengan siswi-siswa yang ingin melihat pertikaian ini. Sorot mata Kyu Hyun menyiratkan amarah yang benar-benar luar biasa. Ini mengerikan! Kyu Hyun seperti orang kerasukan sekarang.
“Brengsek!” Umpat Kyu Hyun mengangkat kemeja Su Ho dan memukulnya berulang. Kaca mata pria itu jatuh dan pecah! Su Ho seolah tak berniat membalas sama sekali. Ia malah terlihat tersenyum, seolah mengejek akan emosi Kyu Hyun kali ini. Terang saja, itu malah makin membuat Kyu Hyun serasa ingin membunuhnya detik ini juga.
“Siapa yang brengsek sekarang, Cho Kyu Hyun?”
“KAU—”
BUGH!
BUGH!
“Lagi-lagi kau membuat kesalahan fatal! Dengan begini, kau semakin menunjukan betapa kau tak cocok dengan Hiu Hwi Noona. Kau terlalu kasar!”
“YAK!”
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Jari jemari Hiu Hwi bertaut gemetar. Apa ini? Kenapa Su Ho tak melawan serengan Kyu Hyun? Kenapa dia seakan pasrah dengan amarah Kyu Hyun yang bahkan lebih mengerikan dari kemarin?
Darah semakin menganak, entah bagaimana bentuk rupa Su Ho saat ini. Bibirnya nampak telah pecah akibat pukulan Kyu Hyun.
“Aku sudah berjanji padamu Noona, aku tak akan membalas. Aku tak ingin kau menangis lagi, hanya karna aku memukul orang yang kau cintai. Biarkan Kyu Hyun Hyung melampiaskan semua amarahanya, karna jika ditahan itu lebih menyakitkan. Aku pernah merasakan itu. Lagipula, aku sudah berjanji pada pria tua itu, seseorang yang masih ku anggap sebagai Appa....”
Dengan terbangan jaket coklatnya itu, Kyu Hyun kembali memukul Su Ho. Kali ini, Kyu Hyun menitikan jua air matanya. Entah karna apa, tapi Su Ho sadar pria yang memukulnya ini tengah menangis. Su Ho tersenyum, ia pernah berada diposisi itu dulu. Dimana semua amarah, rasa sakit itu berkubang menjadi satu.
“Hentikan...,” isak Hiu Hwi tak kuat.
“Yak! Hentikan!” Tak bisa melihat ini lebih lama lagi, Hiu wi sentak menghampiri keberadaan kedua pria ini, lalu mencengkram bahu Kyu Hyun untuk meminta berhenti. Tapi....
BRUKKKK!
Kyu Hyun malah menghempaskan Hiu Hwi hingga gadis itu tersungkur ke tanah, lalu melanjutkan pukulannya. Hiu Hwi merasa lututnya terluka. Tidak perduli akan hal itu, gadis itu lagi-lagi menghampiri keberadaan Kyu Hyun dan Su Ho.
“Sudah, hentikan Cho Kyu Hyun! Hentikan..., kau bisa membunuhnya! LEPAS ... LEPASKAN!” Pekik Hiu Hwi menahan tangan Kyu Hyun yang hendak kembali memukul Su Ho. Gadis itu menitikan air matanya dengan sangat deras, membuat Su Ho tertegun melihatnya. Kenapa gadis ini malah menangis? Bukankah bukan Kyu hyun yang dipukuli?
“Menyingkirlah, Lee Hiu Hwi!” Bentak Kyu Hyun emosi.
“Andwe! Neo micheoseo?” Hiu Hwi mendorong tubuh Kyu Hyun dengan cukup keras. Kyu Hyun sedikit terjungkal ke belakang, karna memang kini tubuhnya masih sedikit demam.
“Kau selalu mengandalkan semua amarahmu itu untuk melakukan apapun! Kau pikir karna kau punya segalanya, kau bisa melakukan apapun yang kau kehendaki? Aku muak denganmu Cho Kyu Hyun! Kau pikir aku selama ini tak lelah menghadapi semua sifat egoismu itu, huh? Aku benar-benar sangat benci saat kau memukul banyak orang seolah tak perduli dunia lain lagi,”
“Lee Hiu Hwi...!”
“WAE? Kau melakukan apapun tanpa lebih dulu maminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kau selalu mengutamakan pikiranmu tanpa berpikir lebih dulu. Kua puas sudah membuatnya seperti ini, huh? Kau senang? Kau bangga?”
“YAK!”
“Apa yang kau dapatkan setelah itu? Kau mengharapkan tepuk tangan semua orang yang ada di sini? Kau benar-benar tak punya otak Cho Kyu Hyun! Bagaimana jika dia mati? Kau bangga masuk penjara karna selalu terlibat kasus yang seperti ini, huh? Lihat pria itu—dia sudah tak berdaya lagi sekarang. Kau tak berpikir bagaimana rasa sakitnya luka-luka itu? Setidaknya, Su Ho jauh lebih darimu. Dia berhasil menahan semua amarahnya, disaat ia bahkan sudah hampir sekarat seperti sekarang. Tapi kau? Apa? Aku ragu untuk selalu mengandalkamu disetiap apa yang aku lewati Kyu. Kau mengerikan!”
“Yak! Coba katakan apa yang tadi kau katakan, HUH?” hentak Kyu Hyun seraya memegang kedua pipi Hiu Hwi dengan satu tangannya.
“Aku membencimu, Kyu! Bisakah mulai dari sekarang, kau jangan menggangguku lagi?” Hiu Hwi kembali meneteskan air matanya hingga kini mengalir di tangan Kyu Hyun. Pria itu semakin menatap Hiu Hwi dengan tajam.
“Aku mohon! Ini untuk sekian kalinya aku berpikir lepas darimu. Aku bukan siapa-siapa untukmu bukan? Aku malu Kyu, aku malu pada diriku dan semua orang. Gadis macam apa aku ini? Kau membuatku semakin rendah Kyu.”
“Lee Hiu Hwi...,”
“Aku membencimu! Aku memben—”
“ARASSEO! Mulai dari sekarang, pergi dan menjauhlah dariku!” Kyu Hyun menghempaskan tangannya yang tadi mencengkram kedua pipi Hiu Hwi dengan cukup kasar. Pria itu berbalik, berjalan dengan diiringi tatapan takut semua orang.
Sedang Hiu Hwi? Gadis itu sentak terduduk dan menangis di lapangan rumput hijau ini. Rasanya sangat sesak! Sakit sekali....
“Aku menyukaimu.” Ucap Hiu Hwi yang masih dapat didengar jelas oleh Kyu Hyun. Langkah pria itu terhenti seketika! Tak hanya Kyu Hyun yang terkejut disini, tapi juga semua orang.
=TBC=
Eh... BTW..... Catet Ratingnya ya.... Gax ada NC kok, cuma ya ratingnya PG+17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar