Kamis, 23 Oktober 2014

_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 1 [Kyu - Hwi School] 3Shoot

_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 1 [Kyu - Hwi School] 3Shoot


Tittle                    :: “Your Kiss Is MINE!”
Cast                     :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre                   :: Romance, School Life
Rating                  :: PG + 17 


This Story Original From @Jjea_



***


              
             ‘Sesuatu yang sulit...
             Ketika tahu bahwa kamu harus melepaskan,
             Tapi kamu tetap berharap sebuah keajaiban....’



_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 1





             Fajar mulai terkikis hangatnya sinar sang mentari, tenggelam bersama kabut gelap dan bersiap untuk menyambut dunia pagi. Lembab! Angin seolah mengendap menjadi embun dan berhembus melayang jauh meninggalkan jejak menyengat. Menurut pendapat beberapa orang, semua apa yang akan terjadi kelak, diawali dengan apa yang kita lakukan di pagi hari. Yah, itu mungkin memang benar.


             In Here ... all the stories began.
             * MINE *


             Seperti biasa, tak ada hal lain yang akan dilakukan oleh para Pelajar Sekolah, selain disibukkan dengan kegiatan belajar setiap paginya. Kebutuhan wajib? Benar, Sekolah sendiri menjadi tujuan utama anak-anak remaja ini untuk mengejar masa depan mereka  kelak yang lebih baik. Sama halnya dengan apa yang dirasakan para Siswa-siswi yayasan Sekolah populer di Seoul ini.
             Walau terkadang mereka terlihat senang akan belajar, tetapi ada kalanya mereka juga jenuh dengan banyaknya perhitungan angka-angka dan banyaknya rumusan yang harus mereka ingat di luar kepala. Namun dari itu semua, ada hal lain yang juga dapat dipelajari dari Sekolah sendiri. Bukan hanya tentang semua pelajaran bahasa dan hitungan-hitungan itu saja, tetapi juga tentang hal lain, yang bahkan mungkin tak disadari sekalipun. Seperti halnya ... cinta, persahabatan, dan pendewasaan diri.
             “Hhh..., udaranya benar-benar sejuk. Damai sekali! Ternyata, Sekolah ini tak terlalu buruk,” ucap seorang pria berkaca mata dengan setelan jas Sekolah barunya seraya berdecak kagum. Bangunan Sekolah ini sudah cukup membuatnya terpesona. Dengan banyak menggunakan aksen klasik, Sekolah ini memang lebih terlihat berbeda dari yang lain, unik dan juga nampak memiliki nilai arsitektur yang tinggi.
             Kim Joon Myun ... itulah nama namja yang sedari tadi tak pernah berhenti berdecak dengan wajah polosnya itu akan Sekolah barunya ini. Seorang pria yang sebenarnya lebih dikenal dengan nama panggilan kecilnya; Su Ho.
             Dengan kembangan tipis di wajahnya, namja bernama Su Ho itu berangsur mengayunkan kakinya lagi perlahan untuk masuk ke Sekolah ini lebih dalam. Ini kali pertamanya kembali masuk sebagai seorang Pelajar setelah hampir satu bulan ia tak melakukan apapun, akibat adanya sedikit masalah akan berkas perpindahannya dari New York. Untunglah, semua penyendatan itu sudah selesai sekarang.
             “Dimana ruang Gurunya?” Su Ho menatap sejenak arah sekelilingnya. Tak ada satu pun orang yang ia kenal. Bahkan, semuanya benar-benar nampak terasa asing.
             “Errr..., mungkin di sebelah sana,” Su Ho nampaknya lebih memilih untuk menebak-nebak, ketimbang bertanya pada salah satu orang di Sekolah ini. Yah, sebenarnya ia termasuk pria yang lebih menjunjung tinggi rasa gengsinya.
             “Hhuhh..., inilah mengapa aku tak suka tempat baru, semuanya terasa kaku dan as—”

             BRUUKK!

             Belum sempat Su Ho hendak kembali melanjutkan langkah dan omelannya itu, nampak tanpa sengaja seseorang menabraknya tepat di tengah lapangan luas ini. Jujur saja, sebenarnya Su Ho mulai ingin mendengus kesal sekarang. Bagaimana tidak? Lapangan ini menurutnya sudah cukup luas untuk dilewati dengan ratusan Pelajar dalam jarak yang berjauhan. Tak mungkin ada yang dengan bodohnya bertabrakan, jika jalur sebelah kanan dan kirinya bahkan masih teramat luas bukan?
             Ini pagi pertamanya disini, ia tak ingin merusak mood-nya hanya karna tabrakan yang tak jelas semacam ini. Namun apa perlu dikata? Bahkan seseorang yang menabraknya itu ternyata juga menumpahkan isi kotak susunya di punggung jas baru Sekolahnya ini. Kesal? Tentu saja! Walau tumpahannya itu hanya sedikit, tetap saja sudah ternodai bukan?
             “Jwesonghamnida,” baru saja Su Ho hendak mengerang sebal, seseorang yang ia tabrak itu sentak lebih dulu bersuara. Baiklah, ternyata ia seorang yeoja.
             “Tadi kaki kananku tidak sengaja tersandung batu kecil di sana. Aku akan mengganti jas Sekolah-mu,” gadis itu kembali melanjutkan kalimatnya, membuat Su Ho sontak mendongak cepat menghadap ke depan. Demi apapun yang ada di alam semesta ini, Su Ho merasa jika ini kali pertamanya ia tak dapat mengucapkan apapun dan berpaling ke arah manapun. Terasa hati dan jantungnya mulai bekerja dengan gerakan yang berbeda!
             Kedua mata Su Ho mengerjap, seakan ingin memperjelas akan bagaimana rupa wajah gadis di hadapannya itu. Cantik! Sangat! Bahkan lebih dari kata itu menurutnya. Dengan rambut panjang hitam lurus menjuntai ke bawah, kulit putih susu, bibir tipis yang berwarna merah muda menggoda, serta bulu mata yang lentik dan kedua mata yang begitu indah. Sungguh, gadis itu seperti salah satu contoh pahatan Tuhan yang amat sempurna dipandangan Su Ho.
             “Kau tidak apa-apa?” suara gadis itu kali ini menyentakkan lamunan Su Ho seketika. Pria itu sejenak tergagu, bingung harus bagaimana.
             “Eh-oh, aku tidak apa-apa.”
             “Aku akan mengganti jasmu,”
             “Eh? Ah..., tidak perlu. Ini hanya tumpahan susu, aku rasa masih bisa hilang dan dipakai. Tak perlu yang baru, lagipula aku—”
             “Baguslah. Jadi, aku tak perlu repot.” Potong gadis itu sembari berbalik dan kembali berlalu pergi. Su Ho melongo! Bukan hanya kata-kata gadis itu yang membuatnya bingung, tetapi juga ekspresi yang ditunjukannya; datar dan seakan tak bersahabat. Bahkan mungkin, permintaan maafnya tadi benar-benar sama sekali tak ada kesan menyesal sedikitpun.
             “Aaaa..., Nona!” Pantau Su Ho lagi yang sebenarnya tak ia pikirkan sebelumnya. Entah apa yang ingin ia katakan, yang jelas bibirnya tanpa sadar berucap itu.
             “Mwo?” kepala gadis itu berbalik, tanpa memutar serta tubuhnya.
             “Ehmmm—errr—senang bertemu denganmu—” baiklah! Hanya kalimat bodoh seperti itulah yang kini hanya mampu Su Ho katakan. Tubuh pria itu membungkuk, lalu tersenyum manis.
             Tak ada balasan dari gadis yang kini hanya menatapnya dengan raut dingin. Gadis itu kembali memutar kepalanya, melanjutkan langkah kakinya tanpa berniat untuk menimpali perkataan Su Ho.
             “Assh..., Nona siapa namamu? Perkenalkan, aku Su Ho. Aku Siswa baru di Sekolah ini,” Su Ho sedikit memekik. Lagi, gadis itu tetap berjalan tanpa menghiraukannya.
             “Nona, bolehkah aku bertanya sesuatu lagi? Nona ... Non—Hmmmpphhh—” belum sempat Su Ho hendak melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tinggi lagi, nampak seseorang sudah lebih dulu membekap mulutnya itu tiba-tiba. Su Ho hendak memberontak tak terima. Namun....
             “Eh..., Sung Min Hyung!”
             “Ckckck!”
             “Huhhh..., Hyung kenapa kau membekap mulutku?”
             “Seharusnya, aku yang bertanya padamu. Kenapa kau berteriak-teriak tak jelas seperti itu, Kim Joon Myun?”
             “Gadis itu—”
             “Dan kenapa kau harus meneriaki Hiu Hwi? Kau ingin membuat masalah dihari pertamamu ini, huh?” sela Sung Min cepat seraya menatap Su Ho dengan gelengan kepalanya itu.
             “Mwo? Hiu—Hiu Hwi?”
             “Ash..., kau terlibat apa dengan gadis itu?”
             “Jadi gadis itu bernama Hiu Hwi, Hyung?” tanya Su Ho dengan senyuman antusiasnya.
             “Yak! Kau jawab pertanyaanku lebih dulu?”
             “Nde? Ah, tadi dia tanpa sengaja menabrakku, lalu menumpahkan isi sedikit kotak susunya itu di punggungku Hyung. Ini—”
             “Oh..., hanya itu? Baguslah. Aku harap, kau jangan terlibat apapun lagi dengannya. Hiu Hwi itu ... berbahaya. Sudahlah, ayo biar Hyung antarkan kau ke ruangan Guru terlebih dulu,”
             “Changkaman Hyung. Berbahaya?”
             “Su Ho-ya, jangan katakan kepadaku, jika sekarang kau mulai tertarik dengan Hiu Hwi.”
             “Ah..., aku ... aku ... aku hanya... bukankah gadis itu sangat cantik Hyung?”
             “Ck! Sudah ku duga,” Sung Min mendengus, menatap Su Ho tersenyum dengan tanpa dosanya itu.
             “Sebagai Kakak sepupumu, aku sarankan agar kau segera mencabut kembali rasa tertarikmu itu kepada Hiu Hwi, sebelum benar-benar terlambat. Yah baiklah, aku setuju tentang pendapatmu yang mengatakan, jika Hiu Hwi memang cantik. Tidak, dia juga melebihi kata cantik. Dia juga manis, mempesona, dan juga memiliki sebuah kharisma yang hebat. Bahkan, aku juga berani bertaruh, jika tak ada pria manapun yang akan dengan bodohnya menolak gadis sepertinya,”
             “Apa Hyung menyukainya? Jadi, karna itu aku tak boleh tertarik dengannya lagi? Karna Hyung cemburu?”
             “Bodoh!” Umpat Sung Min seraya mendeplak kepala Su Ho dengan kesal. Kedua pria tampan ini sebenarnya adalah Kakak dan adik. Yah, Sung Min adalah Kakak sepupu Su Ho yang notabene juga adalah orang yang telah berjasa memasukkan pria itu ke Sekolah ini. Tadi pagi, Sung Min yang masih terlelap mau tak mau harus bangun dan ikut bersiap ke Sekolah, tatkala ia melihat Su Ho telah rapi dengan pakaian seragamnya. Alhasil, Su Ho ternyata telah lebih dulu ke Sekolah tanpa menunggunya lagi.
             “Huhhh..., tak aku pungkiri memang, jika dulu aku juga sempat menyukai Hiu Hwi. Saat pertama kali melihatnya, aku sempat merasa kagum pada sosoknya itu. Tapi, untuk menyukai gadis sepertinya, pria-pria seperti kita hanya akan terlihat menyedihkan. Yah, karna itu mustahil,”
             “Maksud Hyung?”
             “Gadis itu milik Kyu Hyun, milik seorang Cho Kyu Hyun,”
             “HUH? Cho ... Cho Kyu Hyun?”
             “Yah, Lee Hiu Hwi ... gadis itu adalah adik dari Kyu Hyun. Tidak, sebenarnya jika dikatakan sebagai seorang adik, mereka bahkan tak memiliki ikatan apapun sampai sekarang. Mungkin lebih tepatnya adalah ... calon adik. Yang aku tau, pada awalnya, Ayah Kyu Hyun akan menikah dengan Ibu Hiu Hwi setahun yang lalu. Namun na’as, kecelakaan terjadi sehari sebelum mereka menikah. Keduanya sekarang yatim piatu, Hiu Hwi yang tak memiliki apapun lagi setelah Ibunya meninggal, kini tinggal bersama Kyu Hyun. Seorang pria yang seharusnya menjadi Kakak tirinya,”
             “Lalu, apanya yang berbahaya Hyung?”
             “Kau tau siapa Kyu Hyun? Dia adalah pria yang paling ditakuti di Sekolah ini. Kyu Hyun seorang Yankee!”
             “Yankee?”
             “Di Jepang, Yankee itu adalah sebutan untuk Pelajar yang nakal, berandalan, yang juga dikenal sebagai pribadi yang keras, kasar, dan sering bertindak seenaknya. Yang kudengar, Kyu Hyun juga pernah masuk penjara selama 3 bulan karna terlibat dalam kasus pengeroyokan dan pembunuhan. Walau ia tak terbukti bersalah, tetap saja ia ikut dalam pengeroyokan itu. Tak hanya itu, satu bulan yang lalu ia berhasil mematahkan beberapa tulang yang kudengar adalah komplotan para Mafia,”
             “Mwo? Lalu kenapa dia tidak dikeluarkan?”
             “Alasannya mudah, karna ... Yayasan Sekolah ini milik keluarganya. Satu lagi, banyak Guru yang sebenarnya juga takut padanya. Setiap kali ia membuat ulah, hanya kata dispensasi-lah yang akan Kyu Hyun terima. Ah ya, mungkin karna ia juga selalu berkelahi di luar jam Sekolah,”
             “Cah...,”
             “Untuk itu aku peringatkan padamu Su Ho-ya. Jangan pernah memiliki masalah dengan Kyu Hyun. Kau baru duduk di kelas 2, sedang Kyu Hyun dan Hiu Hwi duduk di kelas 3, sama sepertiku. Jadi, aku harap kau dapat menjadi adik kelas yang tak terlalu mencolok dari yang lain. Jangan membuat masalah, Sekolah ini berbeda dengan Sekolahmu di NY. Kau mengerti?”
             “Ara, Hyung. Tapi ga—”
             “Termasuk soal Hiu Hwi. Jangan pernah mencoba untuk berdekatan dengannya. Jika mungkin, kau harus menjauhi apa saja yang menyangkut soal gadis itu, mengerti? Kyu Hyun sangat tak suka apapun yang telah menyangkut dirinya disentuh oleh orang lain. Untuk itu, carilah yeoja manapun yang kau sukai di Sekolah ini, kecuali Hiu Hwi,”
             “Tapi Hyung—”
             “Ashhh..., itu Cho Kyu Hyun!”
             “Mwo? CHO KYU HYUN?” ulang Su Ho polos dengan nada yang cukup tinggi, membuat sang pemilik nama yang tadinya hendak lewatpun, sentak berhenti seketika. Sung Min mendengus, ia harus segera menyeret dan menyumpal mulut adik sepupunya itu sekarang.
             “Mwo?” tanya namja yang bernama Kyu Hyun itu seraya memicing. Sungmin merunduk! Matilah mereka sekarang.
             “A-aniyo. Permisi,” ucap Sung Min seraya memaksakan senyumnya, lalu menarik Su Ho untuk segera pergi dari tempat ini. Su Ho menampakkan raut tak mengertinya kali ini, di liriknya sejenak Kyu Hyun yang nampak menatapnya dengan tajam. Baiklah, sekarang Su Ho mengerti apa yang dikatakan  Sung Min padanya tadi, tentang betapa pria ini menakutkan.
             “Sepertinya, kali ini aku harus mengajarimu tentang bagaimana menurunkan volume suara, Kim Joon Myun!”
             “Hhehe, maafkan aku Hyung.”



***



             Seperti biasa, setiap pulang dan pergi dari Sekolah, Hiu Hwi selalu menaiki Bus. Ia lebih memilih alat transportasi itu, ketimbang menerima semua fasilitas yang acap kali Kyu Hyun tawarkan padanya. Bukan apa-apa, tapi dengan begini, Hiu Hwi lebih merasa bebas. Tak ada teman, sahabat, apalagi orang yang berniat untuk mendekatinya. Sendiri, kehidupannya benar-benar telah berubah semenjak sang Ibu sudah tak ada lagi di dunia ini untuk mengurusinya.

TINNN

             Hiu Hwi sedikit terperanjat tatkala bunyi klakson bus itu seakan menawarinya. Dengan gerakan cepat bersama yang lain, gadis itupun sontak berdiri, lalu berlari agar mendapat bagian tempat duduk di antara yang lain, meninggalkan lipatan kertas origami yang tadi sempat ia buat. Namun seketika....

BRUKKKK!

             “Aw...,” saat hendak menaiki tangga Bus itu, Hiu Hwi kontan terjatuh hingga kini tubuhnya terdorong kembali ke aspal jalan. Banyak orang yang menatapnya sekarang, tapi sayang, tak ada satupun dari mereka yang seolah berani menolongnya. Ck!
             “Huhhh...,” Hiu Hwi berusaha hendak berdiri. Ia sadar jika kini lututnya nampak kemerahan akibat terbentur aspal. Sakit? Tidak, Hiu Hwi hanya merasa sedikit perih. Kepala gadis itu merunduk, ia tau jika sekarang ia menjadi titik pusat perhatian semua orang yang ada disini sekarang. Tapi—hanya sebentar—yah—setelah itu, semua orang bahkan kembali melanjutkan langkah mereka tanpa memperdulikannya.
             “Kau tidak apa-apa?” Hiu Hwi sentak menoleh dengan terkejut, saat mendapati sesorang kini memungut tas sandangnya. Pria ini....
             “Ini Tasmu ... Hiu Hwi Noona,”
             “Kau—”
             “Namaku Kim Joon Myun, tapi panggil saja aku dengan sebutan Su Ho. Aku anak tingkat 2 Noona, yang tanpa sengaja kau tabrak tadi pagi.”
             “Ah ya...,”
             “Apa ... lutut Noona tidak apa-apa? Sepertinya terluka, lebih baik aku....”
             “Permisi.” Potong Hiu Hwi cepat seraya dengan cepat naik ke Bus di hadapannya itu. Su Ho lagi-lagi melongo. Gadis ini terlalu dingin sepertinya! Bahkan, ia sama sekali tidak berterima kasih.
             “Noon—ckckckck—” Su Ho seketika mengurungkan panggilannya, lalu tersenyum. Bus itu perlahan-lahan bergerak pergi, membuat Su Ho kini hanya mampu melambai ke arah Hiu Hwi yang duduk di dalamnya. Jika saja ia tidak mengingat peringatan yang diberikan Sung Min padanya tadi pagi, Su Ho pasti sudah ikut masuk ke dalam Bus itu dan mengejar Hiu Hwi.
             “Sayang sekali, setelah tadi aku sudah berkeliling-keliling di Sekolah, hanya gadis yang bernama Hiu Hwi itu yang membuatku tertarik. Maafkan aku Sung Min Hyung. Hhhh...,” Su Ho mendesah dalam. Diliriknya lipatan kertas origami buatan Hiu Hwi tadi di telapak tangannya itu.
             “Gadis unik!”



***



          
              Tak ada bedanya dari hari kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi. Setelah pulang Sekolah, Hiu Hwi sentak mengerjakan banyak pekerjaan rutinnya. Rumah yang ia tempati kini adalah rumah keluarga Cho. Sebuah rumah yang selama hampir setahun ini menjadi tempat ia dan Kyu Hyun tinggal bersama. Tak ada pembantu disini, karna memang Kyu Hyun tak suka jika barang apapun miliknya disentuh oleh orang asing. Yah, pria itu tak bisa dengan mudahnya percaya pada orang lain.
              “Huft..., akhirnya semua selesai!” Ucap Hiu Hwi sembari membenarkan letak handuk yang kini terpasang di atas kepalanya. Setelah tadi membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan mengerjakan PR, gadis itu kini juga sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lelah? Benar. Tapi hanya hal-hal yang seperti inilah yang membuatnya tak jenuh dalam menghabiskan waktu per-harinya. Lihat saja, bahkan tak terasa hari sudah malam sekarang.
              “Kau tak ingin makan?” pertanyaan itu terdengar seketika di balik pintu, membuat Hiu Hwi sedikit terlonjak di buatnya. Nampak seorang pria dengan kaos putih santai itu berdiri seraya menyandar di sana.
              “A ... aaaku sebentar lagi akan turun.” Balas Hiu Hwi sembari merekatkan baju mandi yang tadi sempat ingin ia buka. Benar, ia lupa jika pria yang tinggal bersamanya ini mempunyai kebiasaan ‘tak mengetuk’ pintu lebih dulu.
              “Kau tau aku tak suka menunggu, bukan?”
              “Ya, sudah. Kau makan saja leb....”
              “Dan kau pasti juga tau, jika aku tak suka makan sendiri.” Hiu Hwi mendelik mendengar selaan kalimat dari pria tampan bermarga Cho ini. Tak ada penolakan ... selalu itu yang membuatnya merasa muak!
              “Lalu, kau ingin aku makan dengan baju mandi seperti ini, Cho Kyu Hyun?”
              “Ya sudah, berganti saja sekarang,”
              “Mwo?” Hiu Hwi sedikit mendengus saat mendengar perkataan demi perkataan yang Kyu Hyun lontarkan. Apa tadi katanya? Berganti baju sekarang? Di hadapannya seperti ini maksudnya? Apa pria ini tak punya otak?
              “Waeyo? Apa kau ingin aku yang memakaikannya?” Kyu Hyun menggerakkan tubuhnya masuk lebih dalam, membuat Hiu Hwi menatapnya dengan sebal.
              “Terserah kau saja!” Hiu Hwi sontak melepaskan baju mandinya, hingga kini hanya menyisakan baju dalam atas dan bawah berwarna hitam yang memang menjadi favoritnya selama ini. Kyu Hyun tersenyum miring, terlihat mengerikan. Pria itu dengan santainya duduk  di atas ranjang tempat tidur Hiu Hwi seraya memperhatikan betapa indahnya lekuk tubuh gadis bermarga Lee ini. Jika dikatakan ini kali pertamanya ia melihat betapa sexinya Hiu Hwi dengan hanya memakai pakaian seperti itu, maka salah besar. Kyu Hyun sudah hampir selama setahun ini telah melihatnya. Yah, walau hanya sebatas itu.
              Mata Kyu Hyun memicing saat Hiu Hwi perlahan-lahan mulai menutupi area punggung belakangnya itu. Ada sesuatu disana, bekas luka bakar yang yang cukup besar.
              “Kau tetap terlihat sexi,” komentar Kyu Hyun seraya berdiri, membuat Hiu Hwi menghentikan aktivitasnya kini. Ia sangat tau akan maksud dari perkataan Kyu Hyun itu, menjurus ke luka bakar yang bukan hanya berbekas di tubuhnya, tetapi juga batinnya.
              “Kau pikir bekas luka mengerikan ini terlihat ... sexi? Ck! Jika benar, maka pasti semua orang akan melukai dirinya sendiri, lalu membuatnya berbekas agar terlihat sexi sepertiku. Benar bukan? Tapi sayang, bagiku ini menjijikan!”
              “Bodoh! Kau pikir aku berkata seperti itu untuk menghiburmu? Jangan pernah berpikir aku perduli akan penderitaanmu selama ini. Aku hanya berkata apa yang aku pikirkan dan aku rasakan. Dan aku benar, lukamu ini semakin membuatmu terlihat sexi di mataku,” Kyu Hyun membelai punggung Hiu Hwi, tepatnya di area bekas luka itu. Tubuh Hiu Hwi mengejang, sentuhan Kyu ini membuatnya sedikit—errrr—merinding.
              “Ini menjijikan, Kyu! Luka ini benar-benar mengerikan. Ini sebuah kelemahan yang harus aku tutupi. Semua orang pasti akan menghina dan mencekamku ketika mereka tau, bahwa aku mempunyai bekas luka yang tampak sangat—”

CUP

              Belum sempat Hiu Hwi hendak meneruskan perkataannya ini, sebuah kecupan demi kecupan terdengar dari area punggungnya. Cho Kyu Hyun! Pria ini selalu saja membuatnya lemah.
              “Akan kubunuh siapa saja orang yang menghina dan mencekammu itu. Apanya yang mengerikan, huh? Hanya sebuah bekas luka, bukan aib yang bisa orang lain tertawakan,”
              “Kyu Hyun-ah....” Desah Hiu Hwi menitikan air matanya sembari menutup mata, tatkala kini Kyu Hyun mendekapnya dari arah belakang.
              “Biar aku yang memakaikan pakaian ke tubuhmu,” Kyu Hyun sentak membalikkan tubuh Hiu Hwi untuk menghadapnya, mengancingkan satu per satu baju tidur yang memang telah separuh menempel di tubuh Hiu Hwi. Kepala gadis itu merunduk dengan sesekali melirik Kyu Hyun yang nampak sibuk.
              Pria ini ... sebenarnya, Hiu Hwi sendiri bingung dengan hubungan apa yang ia dan Kyu Hyun lakukan sekarang. Calon Kakak dan adik? Bukankah itu sudah tak mungkin lagi? Kekasih? Tidak! Bahkan ia maupun Kyu Hyun tak pernah tau apakah mereka saling mencintai atau tidak. Sahabat? Teman? Atau mungkin hanya sebatas—kenalan? Entahlah, yang Hiu Hwi tau adalah ... tak ada sahabat, teman, atau kenalan yang mempunyai hubungan sampai sejauh ini bukan? Gadis itu bahkan terkadang merasa jika dirinya seperti layaknya seorang pembantu—ah tidak—lebih tepatnya mungkin seperti seorang Baby sister yang mau tak mau sibuk mengurusi seorang Pangeran tampan nan seenaknya sendiri seperti Kyu Hyun.
              “Selesai! Ayo makan,” Kyu Hyun tersenyum dengan gerakan andalannya; miring. Yah, seperti biasa. Hiu Hwi mengangguk perlahan, membiarkan tubuh Kyu Hyun berbalik lebih dulu untuk berjalan.
              “Argh....” Ringis gadis itu kecil. Ada yang berdenyut di area lututnya. Sial! Ia baru ingat, jika sejak tadi lukanya itu belum sempat ia obati.
              “Mwo?” Kyu Hyun kembali menoleh, membuat Hiu Hwi dengan segera menggeleng cepat.
              “Aaa ... aaku tidak apa-apa. Aku hanya—”
              “Perlihatkan padaku,”
              “Kyu Hyun-ah, aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya—”
              “Siapa yang melukaimu, huh?” tubuh pria itu sentak merunduk, mensejajarkan penglihatannya dengan lutut kanan Hiu Hwi sekarang. Ini yang membuat Hiu Hwi sedikit takut pada Kyu Hyun.
              “Tidak ada,”
              “Benarkah?”
              “Aww....” Ringis Hiu Hwi saat Kyu Hyun sedikit menekan kaki kanannya itu, seakan memberi kode Hiu Hwi untuk berkata jujur. Hiu Hwi mencengkram tangannya, Kyu Hyun sedikit kasar sebenarnya.
              “Aku benar-benar tidak apa-apa Kyu. Tak ada yang melukaiku sama sekali. Tadi siang, aku hanya terjatuh saat ingin menaiki Bus dan—”
              “Bodoh!” Hentak Kyu Hyun seketika, membuat Hiu Hwi terperanjat. Pria ini....
              “Kenapa kau selalu saja ceroboh, huh? Terjatuh, menabrak sesuatu, selalu itu hal-hal yang kau lakukan selama ini. Bukankah sudah aku peringatkan untuk hati-hati?” bentak Kyu Hyun lagi. Baiklah, jika sudah seperti ini, Hiu Hwi hanya dapat menghembuskan nafasnya.
              “Bisakah kau tidak usah berteriak seperti itu? Bukankah aku yang terluka, kenapa kau yang sepertinya sangat marah?”
              “Aku marah karna kau selalu saja tak becus menjaga tubuhmu sendiri! Lihat punggungmu itu, kau pikir kenapa bisa sampai seperti itu, huh?” kalimat Kyu Hyun kali ini sontak membuat Hiu Hwi diam. Lagi-lagi pembahasan tentang bekas luka itu membuat dadanya berdesir hebat.
              Kyu Hyun sadar akan perubahan raut wajah gadis di hadapannya ini sekarang. Pria itu menarik nafas kasar.
              “Sudahlah, aku akan mengobati lukamu ini terlebih dulu, lalu setelah itu kita makan,” ucap Kyu Hyun seraya tiba-tiba menggendong tubuh Hiu Hwi ke atas ranjang. Gadis itu tak berkutik, membiarkan lagi-lagi Kyu Hyun melakukan apapun yang ingin ia lakukan. Toh, akan percuma untuk membantah.
              “Jangan terlalu banyak melamun, itu kenapa kau selalu saja dengan mudahnya melukai dirimu sendiri,”
              “Maaf.” Balas Hiu hwi memalingkan wajah, saat kini Kyu Hyun mengambil obat merah dan perban di dalam lemari. Ia sendiri bingung, kenapa ia yang minta maaf? Bukankah dia sendiri yang terluka?
              “Aku sudah mengatakan padamu, agar kau pulang dan pergi diantar oleh orang suruhanku saja. Kau keras kepala, itu kenapa kau acap kali selalu terluka.” Omel Kyu Hyun lagi. Hiu Hwi kini menggerakkan kepalanya untuk menatap Kyu Hyun yang nampak telaten memasangkan perban itu di lututnya. Pria ini tampan sebenarnya! Yah, entah mengapa Hiu Hwi baru menyadari itu sekarang.
              “Aku lebih suka naik bus.” Jawab Hiu Hwi sekenanya membuat Kyu Hyun mendelik ke arah gadis itu.
              “Aku tidak perduli kau menyukai Bus atau tidak. Bukankah aku sedang tak membuat pilihan padamu?”
              “Maksudmu kau ingin memaksa?”
              “Apa kau merasa berhak menolak, hem?”
              “Cih!” Hiu Hwi membalas tatapan mata Kyu Hyun kali ini. Lagi-lagi tak mungkin ada penolakan disana. Hiu Hwi tau benar siapa Kyu Hyun, namja yang paling tak suka dibantah.
              “Kau bisa berdiri? Jika tidak, naiklah ke punggungku.”
              “Tidak perlu!” Sahut Hiu Hwi seraya turun dari atas ranjang ini dan berusaha berjalan dengan kaki sedikit terpincang. Persetan dengan senyuman mengejek Kyu Hyun yang kali ini nampak terlihat ke arahnya.
              “Yah, sepertinya memang kau tak perlu bantuanku. Tapi kau lupa satu hal, kau tak mempunyai hak untuk menolak seorang Cho Kyu Hyun, Nona Lee yang terhormat.” Kyu Hyun berucap itu seraya sentak mengangkat tubuh Hiu Hwi ke dalam gendongannya dan berjalan turun untuk pergi ke meja makan. Hiu Hwi ingin memberontak, namun apa daya, bahkan tubuhnya senang akan perlakuan Kyu Hyun yang seperti ini.
              “Kau gila!” Umpat Hiu Hwi memalingkan wajah, menutupi rasa malu yang ia rasakan sebenarnya.
              “Dan kau keras kepala!” Balas Kyu Hyun sembari memajukan bibirnya lebih dekat ke arah telinga Hiu Hwi. Sial! Pria ini seakan mendesah, membuat Hiu Hwi lagi-lagi merinding di buatnya.
              “Manis! Like always....” Kyu Hyun menjilat belakang telinga Hiu Hwi lamban, mengigit ujung daunnya dengan gerakan lembut.
              “Oh, shit! KYUUUU...!”



***



              Apa memang benar ada cinta yang tumbuh dengan seiring berjalannya waktu? Bukankah jika memang sedari awal tak suka, maka akan tetap tak akan suka? Lalu, kenapa beberapa orang malah mempercayai itu? Entahlah..., ada banyak pendapat dan istilah tentang apa itu cinta sebenarnya. Yang benar hanyalah ... apa yang kau rasakan sendiri.
              Lee Hiu Hwi ... siapa yang tak mengenalnya sekarang? Seorang gadis cantik nan populer dari Yayasan Sekolah cukup terkenal di Seoul. Banyak gadis yang iri dengannya. Dari yang hanya seekor itik buruk rupa, kini berubah menjadi angsa yang begitu indah. Itik buruk rupa? Benar, saat duduk di bangku pertama Sekolahnya, Hiu Hwi adalah gadis yang biasa-biasa saja sebenarnya, bahkan ia bisa dikatakan gadis yang sangat bodoh. Tapi semua berubah ... berubah saat ia mengenal sosok seorang Cho Kyu Hyun—calon Kakak tirinya.

              “Gadis bodoh! Gadis menyebalkan! Dasar...!”
              “Kau sengaja ingin membuat masalah dengan kami, huh? Kau berani?”
              “Apa kau belum pernah merasakan mandi dengan air sumur yang berlumut? Ini—rasakan! Oh, atau kau juga belum pernah merasakan rasanya mandi dengan air hangat yang paling hangat?”
              PRANGGGG!

              “Huh!” Hiu Hwi sentak terbangun dari alam bawa sadarnya dengan keringat dingin bercucuran di daerah pelipisnya. Gadis itu melirik sekelilingnya. Ramai! Oh, baiklah ternyata ia masih berada di kantin Sekolah. Entah bagaimana ia dapat tertidur disini, lalu memimpikan hal yang selalu menghantuinya itu.
              Masa lalu Hiu Hwi begitu kelam. Saat ia pertama kali masuk ke Sekolah ini, gadis itu bisa dikategorikan sebagai gadis cupu; kutu buku. Cupu disini maksudnya, bukan gadis yang memakai kaca mata tebal, baju panjang rapi dengan kancing kemeja atas yang begitu rapat. Tidak! Hiu Hwi dianggap kutu buku karena ia gadis yang begitu penakut dan ceroboh. Tak akan ada masalah padanya, jika gadis itu tak jatuh atau menabrak teman ataupun senior-seniornya yang ada disini. Saat tingkat 1, Hiu Hwi lah yang selalu menjadi incaran banyak orang untuk dijahili, untuk di bully, dan untuk takut-takuti.
              Ia menjadi banyak musuh tatkala ia selalu saja melakukan hal yang membuat banyak orang kesal. Contohnya saja—menumpahkan apapun itu ke kemeja seniornya, atau mungkin menabrak teman-temannya sampai mereka terjatuh atau tersungkur ke tanah. Alhasil, tak ada orang yang mau dengan tulusnya berteman denganya. Yah, kecuali orang-orang yang merasa senasib.
              Namun, semuanya tiba-tiba berubah, saat sang Ibu memperkenalkannya dengan Kyu Hyun sebagai sosok calon Kakak tirinya. Semenjak itu, Hiu Hwi menjadi ditakuti di Sekolah. Siapapun yang pernah mengerjai gadis itu, sudah mendapat imbalan yang setimpal dari Kyu Hyun. Pria itu—telah menjaganya sampai sekarang. Bahkan disaat terakhir kali ia di bully oleh teman-teman sekelas Kyu Hyun. Yah, kejadian itu satu tahun yang lalu. Sebuah masa dimana tak akan pernah Hiu Hwi akan lupakan seumur hidupnya.
              Ketika itu, saat ada kompetisi memasak sebagai acara penutupan semester pertama, Hiu Hwi yang ikutpun tanpa diketahui oleh siapapun diseret ke belakang oleh beberapa senior-nya. Tak bermaksud untuk menyakiti Hiu Hwi sebenarnya, namun yang terjadi malah di luar dugaan! Tanpa sengaja, segerombolan gadis-gadis itu menumpahkan minyak panas di punggung Hiu Hwi. Awalnya hanya untuk menakut-nakuti, tetapi semua malah terjadi secara sebenarnya. Gadis itu memekik hebat! Tepat saat itulah Kyu Hyun berlari, dan mendapati Hiu Hwi telah lemas dengan punggungnya yang telah terkena minyak panas.
              Semenjak saat itu, Kyu Hyun mencari siapapun yang terlibat atas inseden yang membuat Hiu Hwi hampir ingin bunuh diri itu. Dan yah, bukan Kyu Hyun namanya jika tak membuat segerombolan gadis yang notabene adalah taman sekelasnya itu jera dengan berlinangan air mata. Kyu Hyun tak memukul mereka, ia hanya menyuruh gadis-gadis itu untuk menyiramkan minyak panas ke tubuh sesama mereka satu per satu. Kejam? Tidak untuk seorang Cho Kyu Hyun.
              “Apa aku boleh duduk disini?” Hiu Hwi sentak terperanjat kaget tatkala ia mendengar kata sapaan dari seseorang. Bibir gadis itu mengerucut. Pria ini lagi!
              “Noona, aku belum tau banyak hal tentang Sekolah ini. Apa kau mau membantuku?” Su Ho! Yup, pria mana lagi yang akan dengan beraninya mendekati Hiu Hwi selain pria ini.
              “Kau tak perlu tau banyak hal tentang Sekolah ini, yang perlu kau tau adalah pelajaran yang diberikan, bukan sejarah Sekolah. Tsk!” Hiu Hwi sentak berdiri dan hendak berlalu pergi, sampai akhirnya Su Ho dengan beraninya menggapai pergelangan tangannya itu. Dadanya Hiu Hwi berdesir! Ini kali pertamanya disentuh oleh orang lain selain Kyu Hyun setelah satu tahun yang lalu. Hiu Hwi melirik arah sekelilingnya, banyak orang yang kini menatap mereka. Benar, pria ini seakan ingin mencari mati!
              “Bodoh!” Umpat Hiu Hwi sembari menghempaskan tangan Su Ho dan sentak pergi dari penglihatan orang-orang yang ada disini. Su Ho mengerjap polos, kenapa semua orang seakan menatapinya aneh seperti itu? Bukankah biasa saja jika tadi ia menggapai tangan Hiu Hwi? Gadis itu juga manusiakan?
              “Noona!” Pantau Su Ho seraya ikut berlalu untuk mengejar Hiu Hwi yang kini nampak semakin mengumpat-umpat kesal tak karuan. Gadis itu melewati lorong ke arah  Taman belakang Sekolah. Rencananya, Hiu Hwi ingin mendinginkan kepalanya di Taman itu. Namun apa perlu dikata, kakinya sudah lebih dulu tercekat tepat di dekat kelas kosong Sekolah ini. Terdengar bunyi decakan pautan bibir disina. Sedikit—err—menjijikan, tapi itu....
              “Aish, Kyu Hyun Oppa, kau sangat sexi! Jangan terlalu cepat, perlahan-lahan saja.” Desahan itulah yang Hiu Hwi dengar. Jika saja bukan nama Kyu Hyun yang ia sebut, Hiu Hwi mungkin tak akan terlalu tertarik, tapi tadi ... Kyu Hyun Oppa?
              Oh Baiklah! Seperti tebakannya, kedua orang yang tengah berciuman panas di dalam ruangan kelas kosong itu memang Kyu Hyun. Yah, Kyu Hyun bersama dengan—adik kelas mereka mungkin. Hiu Hwi meneguk air liurnya, ia tau jika Kyu Hyun memang acap kali seperti ini bersama wanita-wanita polos yang masih berumur di bawahnya. Jantung Hiu Hwi berdegup! Tak ia pungkiri, ada setitik perasaan kecewa dan benci setiap kali ia melihat Kyu Hyun seperti itu.
              “Hmmm...,” Hiu Hwi sedikit membelalakan kedua matanya saat satu picingan mata Kyu Hyun menatapnya. Sial! Dia ketauan! Tapi tidak, sekalipun begitu, Kyu Hyun hanya terlihat tersenyum ke arahnya. Pria itu tampak melepaskan ciumannya sejenak, memperlihatkan bagaimana air liurnya dan gadis di hadapannya itu telah berpadu. Hiu Hwi sedikit merunduk! Ia pikir Kyu Hyun akan menghentikan aktivitasnya itu setelah melihatnya. Namun apa ini? Namja itu malah memindahkan ciumannya di pusat leher gadis yang Hiu Hwi yakini masih duduk di bangku kelas 1 itu. Sesak? Ada perasaan marah ketika ia melihat adegan itu!
              “Noona, kau kenapa diam disini? Tadi aku sebenarnya hanya ingin memberikan ini padamu,” ucap seseorang seketika seraya berlarian menghampiri Hiu Hwi. Na’asnya, suara itu cukup terdengar nyaring, membuat Kyu Hyun dan gadis yang ia cumbui itu terpaksa menghentikan apa yang tadi mereka lakukan. Hiu Hwi memucat! Pria yang bernama Su Ho ini sepertinya benar-benar ingin mencari mati.
              “Kau—kenapa kau mengejarku?” tanya Hiu Hwi menatap Su Ho yang masih belum sadar akan situasi gawat ini.
              “Aku ingin memberikan ini pada Noona—” balas Su Ho polos seraya menunjukan beberapa origami yang ia berusaha pelajari kemarin. Hiu Hwi menatapnya sejenak, sebenarnya ia sedikit terharu dengan Su Ho.
              “Kau benar-benar bodoh!” Hentak Hiu Hwi tertahan seraya berniat untuk menarik Su Ho pergi dari tempat ini, sebelum terjadi sesuatu.
              “Mwo?” Su Ho yang masih belum mengertipun dengan seketika menolehkan pandangannya, menatap lurus Kyu Hyun yang kini tengah memicing ke arahnya.
              “Ayo cepat, ik—”
              “Siapa kau?” belum sempat Hiu Hwi hendak menarik Su Ho pergi, Kyu Hyun sudah lebih dulu bersuara. Terdengar jejak langkah sepatu pria itu berjalan ke arah mereka perlahan.
              “Noona?” ucap Kyu Hyun bertanya dengan seringainya seraya menatap Su Ho dan Hiu Hwi secara bergantian. Hiu Hwi diam! Selama ini, siapapun yang dekat dengannya pasti akan berakhir di tangan Kyu Hyun.
              “Kalian berteman? Atau ... kalian mempunyai hubungan spesial?”
              “Kyu!”
              “Kau tau siapa gadis ini untukku?” Kyu Hyun menghadapkan tubuhnya ke arah Su Ho sekarang.
              “Aku tau, Cho Kyu Hyun Hyung. Gadis ini; Lee Hiu Hwi ... bukankah dia hanya calon adik tirimu? Yah, calon adik tirimu.” Jawab Su Ho dengan senyuman tanpa dosanya, membuat Hiu Hwi yang tadinya merunduk, kini mendongak dengan terkejut. Kim Joon Myun ... apa ia sudah bosan hidup? Baru kali ini ada yang dengan beraninya menjawab pertanyaan Kyu Hyun itu.
              “MWO?” Kyu Hyun sentak kembali menatap Su Ho dengan tatapan mengerikan. Rahang pria itu mengeras! Calon adik tiri? SHIT! Itu kata yang sebenarnya dapat membuat puncak emosi Kyu Hyun naik dengan cepat.



=TBC=

1 komentar: