_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 3 B [Kyu - Hwi School]
Tittle :: “Your Kiss Is MINE!”
Cast :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre :: Romance, School Life
Rating :: PG + 17
This Story Original From @Jjea_
***
“ARASSEO! Mulai dari sekarang, pergi dan menjauhlah dariku!” Kyu Hyun menghempaskan tangannya yang tadi mencengkram kedua pipi Hiu Hwi dengan cukup kasar. Pria itu berbalik, berjalan dengan diiringi tatapan takut semua orang.
Sedang Hiu Hwi? Gadis itu sentak terduduk dan menangis di lapangan rumput hijau ini. Rasanya sangat sesak! Sakit sekali....
“Aku menyukaimu,” ucap Hiu Hwi yang masih dapat didengar jelas oleh Kyu Hyun. Langkah pria itu terhenti seketika! Tak hanya Kyu Hyun yang terkejut disini, tapi juga semua orang.
***

“Merindukan seseorang adalah...
Cara hati untuk mengingatkanmu bahwa kamu mencintai dia....”
_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 3 B
Suara angin terdengar, menderu cukup keras untuk melayangkan debu-debu yang terpatri di berbagai tempat. Sinar mentari perlahan-lahan kini juga meredup, seakan membiarkan sengatnya berisitirahat sejenak di peraduan itu. Diam ... terkadang ada banyak hal yang dirasakan, tapi ternyata bibir lebih memilih untuk bungkam.
Langkah kaki Kyu Hyun memang nampak terhenti di titik ini, tapi tubuhnya belum berbalik secara penuh. Telinganya masih dengan jelas mendengar isak-isak tangis Hiu Hwi yang cukup memilukan. Lagi, tangan Kyu Hyun nampak mengepal dengan keras. Jika saja boleh jujur, Kyu Hyun paling benci mendengar tangis seorang gadis, apalagi itu Hiu Hwi. Ia benar-benar sangat tak suka! Itu ... melemahkannya.
“Aku menyukaimu, aku memang menyukai Cho Kyu Hyun,” Hiu Hwi berusaha untuk mengatur nafas dan tangisnya. Gadis itu perlahan berdiri, memberanikan diri untuk mengatakan semua apa yang ingin ia katakan itu di hadapan Kyu Hyun secara langsung. Tubuh namja itu bergerak, kedua mata tajamnya sentak menatap Hiu Hwi kembali.
Ada yang berbeda dari raut wajah Kyu Hyun sekarang. Yah, sedikit lebih nampak luluh dari sebelumnya. Hiu Hwi menyukainya? Sungguh, itu adalah sesuatu hal yang tak Kyu Hyun duga sebelumnya. Kyu Hyun akui, jika ia adalah pria yang tak mudah untuk peka, terutama menyangkut perasaan wanita. Tapi sekali lagi, selama ini, sikap Hiu Hwi padanya bahkan membuatnya berpendapat sendiri, jika gadis itu hanya menganggapnya seorang—Kakak. Tapi tadi, apa yang Hiu Hwi katakan?
“Ka....”
“Tapi mulai sekarang, aku akan berhenti untuk melakukannya. Entah kenapa aku selalu terjebak, untuk jatuh cinta pada pria yang pada nyatanya sulit untuk aku gapai,” ucapan Hiu Hwi kali ini sentak saja membuat Kyu Hyun semakin menatapnya dengan tajam. Su Ho berusaha untuk mendongak dalam kesakitannya itu. Ia cukup shock mendengar kalimat Hiu Hwi.
“Aku memang menyukaimu Cho Kyu Hyun, dulu, kemarin, kemarinnya lagi, tahun kemarin, satu jam yang lalu, bahkan sampai menit sekarang inipun, aku masih menyukaimu. Tapi, didetik ini jugalah aku mengatakan, jika aku ... menyerah. Aku menyerah pada rasa sakit hatiku ini. Aku menyerah untuk berhenti melakukan ini,” Hiu Hwi tersenyum miris sekarang. Tangannya gemetar ketika berusaha menyeka air mata yang jatuh itu.
“Kau tak pantas untukku, begitupula aku yang tak pantas untukmu. Benar, bukan karna aku menyukaimu, lantas kau harus menyukaiku juga. Tidak, pada kenyataannya kita berbeda. Aku terlalu percaya diri karna sikapmu yang kadang membuatku melambung tinggi. Seharusnya aku tau, jika seperti itulah pesonamu pada banyak gadis. Maaf, aku terlambat sadar, siapa aku ini!” Hiu Hwi membalas tatapan Kyu Hyun sejenak, kemudian berbalik menghampiri keberadaan Su Ho yang masih terkapar di aspal. Disini, sudah tampak banyak orang memang, tapi tak ada satupun diantara mereka yang berani membuka suara. Bahkan Kyu Hyun! Entah mengapa, ia hanya diam saja setelah mendengar apa yang Hiu Hwi lontarkan tadi. Hanya tatapan tajamnya lah yang belum berpindah ke arah lain, selain Hiu Hwi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Hiu Hwi sembari memapah tubuh Su Ho, mendekap bahu pria itu untuk membantunya berdiri.
“Non—Noona—”
“Berdirilah, aku akan mengantarmu ke Rumah sakit,” bisik Hiu Hwi memindahkan tangan Su Ho untuk merangkul pundaknya. Rahang Kyu Hyun mengeras! Hiu Hwi tak pernah sedekat itu pada pria manapun sebelumnya. Tidak pernah! Bahkan sampai saling berpegangan tangan, merangkul, dan lihat—Hiu Hwi juga menyentuh wajah Su Ho untuk membersihkan kotoran di sekeliling luka pria itu. Dada Kyu Hyun kembali bergerak tak normal, siapapun sadar jika pria itu pasti tengah menahan rasa kesal dan amarahnya yang bisa dikatakan luar biasa. Hiu Hwi benar-benar berani!
Apa semua ini akan berakhir sampai disini? Hiu Hwi pergi bersama Su Ho, lalu meninggalkan Kyu Hyun yang hanya mematung di tempat? Tidak, sama sekali! Kyu Hyun bukan pria yang bisa menyelesaikan masalah hanya dengan seperti ini. Pria itu tidak bisa! Ia tak bisa melihat Hiu Hwi sedekat itu dengan pria lain. Mau dikatakan ia berlebihan, mengerikan, atau semacamnya. Kyu Hyun sama sekali tak perduli. Yang jelas, ia tak bisa melihat miliknya bersentuhan dan melakukan ini padanya.
“Ikut aku!” Hentak Kyu Hyun seraya mencengkram tangan Hiu Hwi, membuat semua orang yang tadinya menghela nafas lega sebentar, kini kembali melotot.
“Kyu!”
“Kau pikir bisa melakukan ini padaku, HUH? Kau pikir bisa pergi setelah membuat perasaanku menjadi seperti ini? Yak! Kau sudah merasa hebat sekarang, Hiu Hwi?”
“Lepaskan!”
“ANDWE!” Pekik Kyu Hyun semakin mengerat. Hiu Hwi terlihat memberontak, membuat Su Ho yang sadarpun sentak melepaskan diri dari Hiu Hwi.
“Aku tidak apa-apa, Noona.” Su Ho seakan mendesah dengan tanaganya yang masih cukup tersisa.
“Su Ho-ya....” Su Ho tersenyum tipis saat mendengar Hiu Hwi lagi-lagi menyebut namanya seperti itu. Sudah cukup dengan ini, bahkan Su Ho merasa dirinya baik-baik saja.
Belum sempat Hiu Hwi hendak mengutarakan kalimat kuatirnya lagi pada Su Ho, Kyu Hyun sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan gadis itu untuk berlalu pergi darisini. Hiu Hwi terlonjak, pria ini tetap saja kasar. Tapi mau seperti apa? Bahkan untuk memberontak dan berteriak memaki pria inipun terasa percuma. Lihat saja—pergelangan tangan Hiu Hwi ia cengkram dengan begitu kuat, seakan tak ingin lepas sedikitpun. Sebenarnya, Hiu Hwi merasa sakit akan cengkramannya ini, tapi ia juga ingin melihat seberapa jauh Kyu Hyun dapat menyakitinya. Jujur, ia membenci pria ini sekarang! Tapi, Hiu Hwi sadar rasa cintanya melebihi dari rasa benci itu sendiri. Dan itu ... memang sulit!
“Aku memang terluka, Noona. Tapi, aku tau Kyu Hyun Hyung lebih membutuhkanmu ketimbang aku sekarang. Seharusnya kau sadar Noona, teriakan Kyu Hyun padamu tadi benar-benar telah mengisyaratkan kepada semua orang, betapa ia juga mencintaimu. Mencengkram dan melakukan hal sampai sejauh ini, karna ia takut kehilanganmu. Ketika pria bersikap seperti itu memang terlihat mengerikan dimata beberapa wanita, tapi kadang wanita sendiri tak menyadari hal lain di dalamnya. Hal lain, mengapa pria bersikap seperti itu,”
Su Ho kembali tersenyum saat Hiu Hwi lagi-lagi menoleh ke arahnya dengan tatapan tak enak.
“Karna aku ... pernah berada diposisi Kyu Hyun Hyung seperti sekarang. Saat dimana orang-orang seperti kami, membutuhkan orang lain untuk menjadi pegangan. Saat dimana orang-orang seperti kami, berada dalam fase paling sulit. Yah, fase melawan diri sendiri....”
Su Ho kembali bergumam, sampai akhirnya tubuhnya limbung dan jatuh kembali ke tanah. Pria bermarga Kim itu pingsan!
***
Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah besar nan mewah ini, Kyu Hyun dan Hiu Hwi sudah tampak diselimuti oleh aura buruk. Tak ada kalimat yang Kyu Hyun lontarkan semenjak perjalanan mereka pulang kembali. Hanya diam dengan wajah yang nyaris tak berubah; dingin.
“Lepas ... lepaskan!” Untuk entah yang keberapa kalinya, Hiu Hwi berusaha memberontak dari cengkraman Kyu Hyun. Namun sayang, tak ada niatan dari pria itu untuk melepaskannya.
“Kyu...,” langkah Kyu Hyun berhenti saat mendengar desahan Hiu Hwi yang semakin memelas. Sial! Bisakah Hiu Hwi tak terlihat menyedihkan seperti itu?
“Lepaskanlah aku. Tak ada untungnya kau menahanku seperti ini, bukan? Harusnya, sudah dari dulu aku pergi dari tempat ini. Ayahmu dan Ibuku tak jadi menikah, seharusnya hubungan kita juga berakhir sampai disana. Aku tidak tau, kenapa semuanya menjadi seperti ini,”
“Sekarang, aku ingin bebas. Baru kali ini aku merasa berani untuk mengatakannya padamu. Jujur saja, selama ini—selama aku tinggal denganmu, aku merasa—huhhhh—aku merasa sangat tersiksa,” isak Hiu Hwi kembali menitikan air matanya lagi. Tersiksa? Oh tidak..., untuk kali ini ia benar-benar telah berbohong.
“Aku tersiksa—Hummpphhh—” kepala Hiu Hwi sentak merunduk, nada bicaranya terlalu bergetar ketika mengatakan itu. Ada rasa sesak yang seakan kini tengah mengejeknya habis-habisan. Sungguh! Ia sama sekali tak merasa tersiksa saat tinggal bersama Kyu Hyun. Tidak pernah! Sekalipun Kyu Hyun mempunyai sifat pemarah yang berlebih, egois, dan selalu ingin menang sendiri. Tapi disisi lain, Kyu Hyun lah yang mengajarkannya untuk kuat, membuatnya merasa dilindungi dan merasa dirinya sangat berharga. Kyu Hyun! Cho Kyu Hyun, demi Tuhan, ia mencintai pria ini!
“Benarkah?” Kyu Hyun seketika bersuara. Tubuhnya itu nampak berbalik menghadap Hiu Hwi. Di lepasnya perlahan cengkramannya itu perlahan.
“Kau berbohong, Hiu Hwi! Aku tau siapa dirimu.” Lanjut Kyu Hyun, membuat Hiu Hwi semakin ingin histeris menangis.
“Aniya, aku sama sekali tidak berbohong. Aku tak bisa hidup terus menerus seperti ini lagi denganmu. Aku tidak bisa. Aku tak sanggup menahan semua sifat burukmu selama ini Kyu,” Hiu Hwi berusaha untuk memberanikan diri mendongak, bertatapan dengan Kyu Hyun yang kini juga tengah memicing ke arahnya.
“Aku tidak bisa, Hiu Hwi. Aku tidak bisa melepaskanmu.” Perkataan Kyu Hyun kali ini sontak saja membuat linangan air itu kembali turun. Tunggu..., ia tak boleh lemah hanya karna ekspresi dan perkataan Kyu Hyun tadi itu. Bukankah belum tentu itu benar?
“Terserah kau saja,” balas Hiu Hwi sembari berjalan untuk masuk ke dalam kamarnya. Tidur? Sama sekali tidak! Hiu Hwi nampak mengambil koper besar untuk memasukkan cepat pakaian-pakaiannya ke dalam koper itu. Jika tidak sekarang ia pergi, mungkin ia tak akan bisa pergi lagi ke depannya.
“Perkenalkan Hiu Hwi, dia—Cho Kyu Hyun; calon Kakak tirimu.”
“Eoh, iya Eomma. Tapi dia—”
“Annyeong, aku Cho Kyu Hyun. Kau Hiu Hwi? Kau teman satu angkatan Sekolahku, bukan?”
“Nde.”
“Baiklah, senang bertemu denganmu Hiu Hwi-ya. Sekarang, aku adalah Kakakmu, aku berjanji akan menjagamu.” Kyu Hyun tersenyum seraya mengusap-usap puncak kepala Hiu Hwi dengan lembut. Itu adalah waktu dimana untuk pertama kalinya, Hiu Hwi tertegun tak dapat dbergerak. Pria ini ... sangat tampan!
Hiu Hwi mengeratkan cengkramannya pada pinggiran kopernya itu tatkala ia mengingat bagaimana dulu ia bertemu dengan Kyu Hyun. Sosok yang bahkan untuk pertama kalinya menatapnya dengan sebuah senyuman yang sangat manis.
“Hiu Hwi-ya, kau pernah berciuman?”
“Ya—YAK! Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya bertanya saja. Kau tau? Aku sudah lebih dari puluhan kali berciuman dengan banyak yeoja, dan itu rasanya—biasa saja sekarang.”
“Benarkah? Cah, kurasa bibirmu itu benar-benar sudah ternodai dengan cukup parah. Tak sepertiku, aku belum pernah berciuman dengan siapapun, dan it—”
“JEONGMAL?”
“Mwo?”
“Yak! Kau harus berjanji padaku, jangan pernah memberikan ciumanmu itu kepada pria manapun, aro? Tidak, pokoknya kepada siapapun. Entah itu yeoja, anak kecil, atau siapapun itu, tidak boleh!”
“Waeyo?”
“Karna aku tidak suka!”
Hiu Hwi menarik resleting koper pakaiannya dengan cepat. Gadis itu memandang pintu kamarnya, pasti Kyu Hyun masih berada di depan. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa pergi meninggalkan Kyu Hyun, jika keadaannya seperti ini?
“Eomma—Eomma—jangan tinggalkan aku—Eomma—”
“Sudahlah, Hiu Hwi. Ku mohon hentikan! Jangan menangis! Jangan pernah menangis di hadapanku seperti ini. Ada aku disini, kau tak sendirian. Kita akan terus bersama-sama, aku akan menjaga dan melindungimu sampai aku mati. Aku berjanji!”
“Kyu....”
Hiu Hwi memandang sebuah bingkai foto ia dan Eomma-nya beberapa tahun silam. Ia masih sangat ingat betul, bagaimana seorang Cho Kyu Hyun mati-matian untuk menghiburnya saat sang Ibu meninggal. Padahal, Kyu Hyun juga tengah kehilangan Appa-nya. Pria itu ... benar-benar menepati janjinya.
“YAK! Mulai sekarang, jangan pernah ada lagi yang berani menyentuhnya. Siapapun itu, kalian akan berhadapan denganku. Aku tidak pernah main-main, jika sampai aku mendengar gadisku ini menangis karna ulah kalian lagi, akan aku pastikan saat itu juga kalian akan menerima balasannya!
Hiu Hwi sentak menyeret koper pakaiannya untuk keluar dari kamarnya ini. Bagaimanapun juga, Kyu Hyun selama ini sudah terlalu banyak memberinya kebahagiaan yang tiada tara. Bahkan, sampai sekarang tak ada lagi yang berani membully-nya, atau mengatainya dengan perkataan buruk. Hidupnya sudah amat tenang di Sekolah itu, semenjak Kyu Hyun mengancam semua orang.
“Aku pergi. Kumohon, jaga dirimu baik-baik Cho Kyu Hyun,” ucap Hiu Hwi seraya berjalan melewati keberadaan Kyu Hyun sekarang. Tak lupa, Hiu Hwi juga membungkuk ke arah pria itu. Pria yang sampai saat ini masih mematung dengan ekspresi tak karuan lagi.
“Berhenti di sana, Lee Hiu Hwi!” Erang Kyu Hyun seketika.
“Kau tau apa akibatnya, jika pergi dariku, huh?”
“Aku tidak perdul—”
“Jika kau sudah keluar dari rumah ini, jangan pernah berharap dapat kembali lagi.” Hiu Hwi tersenyum mendengarnya. Gadis itu berbalik, lalu memaksakan diri untuk tersenyum.
“Ara—arasseo,” jawab Hiu Hwi seketika membuat Kyu Hyun menatapnya lagi dengan terkejut. Apa itu berarti, gadis ini benar-benar akan pergi?
“Kau tenang saja, Cho Kyu Hyun.”
“Yak!”
“Aku tak akan kembali lagi kemari.”
“Kau akan menyesal, Hiu Hwi! Kau akan menyesal!” Hentak Kyu Hyun mengerang dengan kepalan tangannya yang begitu kuat.
“Selama tinggal.” Tak ada kalimat lain lagi yang ingin Hiu Hwi ucapkan kepada Kyu Hyun selain kalimat itu. Perlahan tapi pasti, Hiu Hwi kembali melanjutkan langkahnya dan pergi dari tempat ini, menyisakan Kyu Hyun yang masih nampak tak percaya.
“Kau pikir aku juga tidak bisa hidup tanpamu, huh? BAIKLAH Hiu Hwi, baik! Jika kau mau pergi, pergilah ke tempat yang sangat jauh. Jangan pernah kembali lagi, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” Pekik Kyu Hyun yang sebenarnya masih dapat didengar oleh Hiu Hwi.
“Kau benar-benar hebat! Yah, tak kusangka kau jauh lebih hebat dari musuh-musuhku yang lain. Hanya dengan seperti ini, kau benar-benar telah menghancurkanku! Mwo? Setelah kau mengatakan kau menyukaiku, kau langsung menghempaskanku? Yak! Dimana otakmu, HUH? YAK!” Kyu Hyun kembali berteriak seraya kini menendang apapun barang yang ia lihat. Emosi pria itu kembali naik! Tapi....
“Kajima ... kajima Hiu Hwi. Kajima! KAJIMA!” Desah Kyu Hyun merosot hingga kini ia terduduk di lantai. Ada yang berbeda dari wajah yang selama ini terlihat mengerikan itu. Kyu Hyun menangis!
“Jangan meninggalkanku, kumohon. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa....”
Mata Kyu Hyun memerah, nafasnya nampak terdengar cepat tak beraturan. Sesungguhnya, ia nampak terlihat sangat rapuh sekarang.
***
Kata orang, semakin dalam kita mencintai seseorang, maka akan semakin dalam pula sakit yang akan kita rasakan. Sama halnya, dengan ketika kita jatuh cinta, maka tak ada hal lain yang kita pikirkan selain cinta itu sendiri. Tanpa disadari, akan ada kebutuhan-kebutuhan yang kita perlukan. Seperti, kebutuhan untuk melihatnya, kebutuhan untuk mendengar suaranya, dan kebutuhan untuk memilikinya. Cinta itu memang mudah! Tapi, menahan sakit hatinya lah yang sulit.
Sudah hampir selama 3 hari berlalu, semenjak kejadian perkelahian itu terjadi, dengan pengakhiran Hiu Hwi berpisah hidup dari Kyu Hyun. Tak ada banyak yang berbeda di sini, tapi jika menilisk lebih dalam lagi. Sungguh, banyak hal yang nampak berubah secara drastis.
Su Ho—semenjak itu, tampak ia selalu menjadi pembicaraan banyak orang di Sekolah ini. Setiap ia berjalan, semua orang akan menyingkir, seakan takut dengannya. Sebenarnya, ia sudah terbiasa di tatapi seperti itu. Tapi tetap saja, rasanya sulit.
“Huhhhh..., bukankah aku tidak membawa senjata tajam?”
“Sudahlah, Su Ho-ya. Tidak apa-apa.” Tepuk Sung Min seraya merangkul pundak Su Ho untuk menyemangati pria berkaca mata itu. Masih banyak bekas luka di area wajahnya. Tapi mau bagaimana, ia harus tetap masuk ke Sekolah.
Jika Su Ho masih diizinkan untuk bersekolah setelah perkelahian itu diketahui semua Guru dan Kepala Sekolah, maka lain halnya dengan Kyu Hyun. Sekalipun, yayasan Sekolah ini milik keluarga Kyu Hyun. Tapi tetap, peraturan adalah peraturan. Kyu Hyun mendapat dispensisasi lagi melalui keputusan semua Guru. Tak terlalu buruk memang, mengingat Kyu Hyun sendiri sepertinya membutuhkan waktu istirahat sejenak. Isitirahat? Sejujurnya, itu adalah salah besar.
Lihat saja, apa yang dilakukan Kyu Hyun selama 3 hari ini? Ia tak pulang! Pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat hiburan, di tempat permainan Game, dan—hotel. Ia berubah! Kyu Hyun tampak semakin ramah pada orang lain, malah bisa dikatakan terlalu ramah. Wanita manapun itu, ia rangkul dan bawa pulang untuk hanya bersenang-senang. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah ... pria itu kini malah lebih sering berkelahi. Seperti sekarang, Kyu Hyun baru saja memukuli kekasih wanita yang ingin ia kencani. Gila? Entahlah....
“Hahaha, sayang kau mau uang?” tawa pria itu terdengar. Yah, wajahnya memang tersenyum, tapi terasa—hambar. Hidup Kyu Hyun kini seolah kosong dan penuh gerak kepura-puraan.
Dihamburkannya lembar-lembar uang ke depan wajah gadis yang baru saja memuaskannya itu. Tidak! Sebenarnya, Kyu Hyun tak pernah menyentuh gadis-gadis itu sampai benar-benar bersentuhan. Hanya sebatas membuat hiburan dengan menggerayangi tubuh-tubuh wanita yang ia bayar itu, lalu pergi. Yah, dengan raut tanpa dosanya seperti biasa.
Hidupnya sudah tak menentu sekarang. Kyu Hyun lebih tampak mengerikan lagi dari sebelumnya. Sekalipun ia lebih banyak tersenyum, tapi itu malah semakin menambah betapa mengerikannya hidup pria itu saat ini.
“Hyu—Hyung?” Su Ho sentak terperanjat kaget saat ia baru saja keluar dari gerbang Sekolahnya ini, berjalan sejenak dan melihat Kyu Hyun nampak berdiri di dekat mobil mewahnya itu. Apa yang Kyu Hyun lakukan disini?
“Hyung, menunggu Hiu—”
“Maaf...,” sela Kyu Hyun seketika, membuat Su Ho sentak tercenang mendengarnya. Apa tadi? Maaf?
“Aku hanya akan mengatakannya sekali. Maaf, maafkan aku Kim Joon Myun,” Kyu Hyun menatap Su Ho dengan raut datar. Tubuh Kyu Hyun membungkuk tepat di hadapan Su Ho sekarang. Apa ini mimpi? Su Ho melotot saat melihat Kyu Hyun melakukan semua ini padanya.
“Hyung....”
“Kau mau memaafkanku?” Kyu Hyun mendekat ke arah Su Ho. Ada bau alkohol yang memang tercium dari tubuh Kyu Hyun sekarang. Apa benar pria ini sebenarnya tengah mabuk? Tapi, kenapa kelihatannya Kyu Hyun masih begitu sadar.
“Aku tak meminta apapun darimu lagi. Apa lukamu sudah sembuh? Sepertinya, saat itu aku terlalu kuat memukulmu. Baiklah, sekali lagi aku minta maaf,” Kyu Hyun tersenyum seraya menepuk bahu Su Ho dengan lembut. Lagi-lagi Su Ho tercenang! Apa benar ini Cho Kyu Hyun?
“Kau tak perlu meminta maaf padaku Hyung. Aku tau bagaimana perasaanmu waktu itu. Wajar saja jika kau marah, saat ada pria lain yang menyentuh gadis yang menjadi milikmu.”
“Dia bukan gadisku lagi sekarang. Aku tidak perduli dengan apapun dan apa yang terjadi dengannya lagi saat ini. Dia sendiri yang meminta itu, aku akan mengabulkannya,”
“Kau berubah, Hyung.”
“Aku tau. Tapi aku lebih suka seperti ini.”
“Kapan Hyung akan kembali ke Sekolah? Maaf, karna aku Hyung mendapat dispensasi lagi.”
“Aku malah sangat senang mendapat dispensasi. Ada banyak waktu luangku untuk minum dan bersenang-senang. Cah, baiklah. Aku pergi sekarang.” Kyu Hyun nampak berbalik untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Hyung,” pantau Su Ho memberanikan diri.
“Mwo?”
“Boleh aku beri nasehat padamu?”
“Kau berani?”
“Hummm..., cobalah memaafkan dirimu sendiri lebih dulu, maka semuanya akan memaafkanmu.”
***
Tak ada banyak perubahan yang terjadi pada Hiu Hwi sampai hari ini. Sudah hampir satu minggu berlalu, ia lepas dari Kyu Hyun, hanya ekspresi muramlah yang ia perlihatkan. Kedua matanya tampak kembali menggunakan kaca mata, kembali menjadi gadis cupu yang tak terlalu ingin dilihat semua orang.
Hiu Hwi bekerja Part-time, disebuah kedai makanan atas rekomendasi dari Su Ho. Kini, gadis itu tinggal di kontrakan murah yang sedikit lebih dekat dari Sekolahnya. Sebenarnya, jika dikatakan ia sudah tak perduli lagi dengan Kyu Hyun, maka salah besar. Setiap hari, bahkan setiap jam, setiap menit, dan setiap detik, Hiu Hwi terus memikirkan bagaimana Kyu Hyun. Apa pria itu baik-baik saja? Apa ia makan dengan baik? Apa ia tak sakit-sakitan lagi? Huh! Semuanya Hiu Hwi pikirkan tentang pria itu. Apalagi, berpikir akan siapa yang menemani Kyu Hyun makan setiap harinya? Bukankah ia tak akan makan, jika tak ada orang yang menemani? Lalu....
“Ini tidak benar!” Hiu Hwi kembali mengumpat seraya kembali berjalan untuk bekerja lagi setelah pulang Sekolah. Entahlah, semakin ia mencoba untuk melupakan Kyu Hyun, semakin sering pula wajah pria itu muncul. Ia tau, jika Kyu Hyun saat ini dalam masa dispensasi, hal itu jugalah yang membuatnya kesal. Rasanya, tak melihat wujud pria itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan. Tak enak sama sekali! Semuanya terasa tak bersemangat untuk dilakukan!
“Oppa..., aku menginginkanmu!” Hiu Hwi sentak terdiam mendengar rengekan manja dari seorang gadis yang tengah keluar dari dalam mobil mewah itu. Sial! Hiu Hwi bahkan tak sadar, jika ia malah berjalan ke arah rumah Kyu Hyun. Ada apa dengannya? Dengan cepat, gadis itu bersembunyi di balik pot tanaman yang lumayan besar.
“Tenang saja, aku akan memuasakanmu sayang. Masuklah....” Terdengar lagi suara seorang pria di telinga Hiu Hwi. Suara yang dapat membuat jantungnya berdegup dengan amat begitu kencang seperti sekarang. Yah, siapa lagi jika bukan Kyu Hyun.
Dada Hiu Hwi seakan teriris! Tampak ia melihat Kyu Hyun tengah berjalan limbung untuk masuk ke dalam. Apa pria itu mabuk lagi? Jujur saja, sebenarnya, Hiu Hwi tau apa-apa saja yang Kyu Hyun lakukan selama hampir seminggu ini dari Su Ho. Entahlah, kadang ia merasa bersalah. Ia tak percaya, Kyu Hyun malah lebih mengerikan lagi dari dirinya yang dulu.
“Kau tak ingin masuk Noona?” tanya seseorang seketika, membuat sontak saja Hiu Hwi terperanjat kaget.
“Ka-kau....”
“Apa Noona merindukan Kyu Hyun Hyung?”
“Su Ho-ya, apa yang kau katakan? Sudahlah, ayo cepat pergi.”
“Aku rasa, Hyung juga sangat merindukanmu Noona. Kau tau? Kemarin ia tak pulang lagi, dan menginap di salah satu Apartment mewah bersama seorang wanita berumur 30an. Cah, Hyung benar-benar sudah menjadi bad boy kelas dunia sekarang. Aku dengar, ia juga menghabiskan waktunya untuk minum alkohol dan membuat kekacauan di—”
“Aku tidak perduli! Apa yang menyangkut dirinya, bukan urusanku lagi.” Potong Hiu Hwi seraya berbalik dan dengan cepat pergi dari tempat ini.
“Benarkah Noona sudah tak perduli lagi? Apa Noona benar-benar tak mengkuatirkan keadaan Kyu Hyun Hyung, jika ia terus seperti ini?”
“AKU TIDAK PERDULI!” Hentak Hiu Hwi keras.
“Baiklah, aku mengerti. Huhhh...,” dengan menghela nafas panjangnya, Su Ho menatapi punggung Hiu Hwi yang semakin lama semakin menjauh dari penglihatannya. Kepala pria itu menggeleng, ia tau jika apa yang Hiu Hwi katakan tadi sama sekali bertolak belakang dengan isi hatinya. Jika tidak, kenapa gadis itu datang kemari? Bodoh!
“Sepertinya, kau sangat merindukannya Noona. Ck!”
***
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, menandakan jika sebentar lagi Hiu Hwi haru segera pulang untuk menyelesaikan PR yang belum ia sentuh sama sekali. Mereka akan menghadapi ujian, itu mengapa Hiu Hwi meminta izin untuk pulang satu jam lebih awal agar ia dapat belajar dan berisitirahat dengan baik. Ia tak ingin sakit dan akhirnya tak lulus hanya karna kelelahan.
“Terima kasih, Ahjumma. Aku akan kembali besok,” ucap Hiu Hwi ramah seraya tersenyum dan membungkuk kepada wanita pemilik kedai makanan ini.
“Hati-hati, Hwi-ya.”
“Nde.” Sahut Hiu Hwi mengeratkan sweater tebal yang ia pakai. Baru saja, kakinya hendak berbalik keluar dari tempat ini, seseorang sudah lebih dulu melentangkan tangannya dengan nafas yang tak beraturan.
“Yak! Kau kenapa, Su Ho-ya?”
“Noona..., Hyung—”
“Sudahlah, aku tak ingin mendengar dia lagi. Bisakah kau berhenti untuk membicarakannya kepadaku? Aku sedang tak ing—”
“Kyu Hyun Hyung ditahan di Kantor Polisi sekarang,” sela Su Ho dengan nada serius.
“Mwo?”
“Noona ingat, aku pernah menceritakan jika Hyung pernah menginap ke Apartment wanita yang berumur 30an? Huhhh..., Kyu Hyun Hyung berkelahi dengan suami gadis itu di Pub! Tak hanya itu, dia juga menghajar puluhan anak buah pria itu.”
“Mwo?”
“Dan bodohnya lagi, Hyung tak mengelak. Dia seolah malah ingin ditahan di sana. Noona, sebaiknya Noona melihat Hyung sekarang. Aku takut, akan banyak hal lagi yang akan terjadi dengannya, jika Noona—”
“Namja bodoh!” Umpat Hiu Hwi dengan seketika berlarian pergi dari tempat ini. Bungkusan makanan yang tadi berada di tangannya, terjatuh begitu saja. Su Ho menjongkok, ia masih berusaha mengontrol nafasnya sekarang.
“Noona....” Desah Su Ho menatap punggung Hiu Hwi yang sangat cepat berlalu dari penglihatannya. Tak perlu dikatakan dengan jelas, sudah pasti gadis itu sangat kuatir sekarang. Kantor Polisi? Apa pria itu gila?
Hiu Hwi menghentikan sebuah taksi dengan cepat, lalu masuk. Jari jemarinya bertautan gemetar. Ya ... ya ... ya! Gadis itu menangis!
***
Disatu sisi, tampak seorang pria tampan yang memiliki luka di ujung sudut bibirnya itu kembali menghela nafas. Sudah hampir setengah jam yang lalu, ia duduk di depan Polisi untuk diinterograsi banyak hal. Bosan, Kyu Hyun tak suka ditatapi menuduh seperti itu.
“Sudah selesai? Kalau begitu, antarkan saja aku ke dalam sel penjara. Mudah bukan?”
“Tuan Cho, apa tak ada orang suruhanmu untuk memberi keterangan soal ini?”
“Aku memang sengaja tak menghubungi siapapun. Kau mengatakan aku salah, bukan? Ya sudah, penjarakan saja aku,” ucap Kyu Hyun malas. Beberapa Polisi tampak saling menatap. Disaat banyak orang ingin eluar dari penjara, kenapa pria ini seakan berniat sekali untuk masuk penjara?
“Tak ada pembelaan darimu, Tuan Cho?”
“Apa kalian akan mempercayaiku? Huh! Wanita itu yang mengajakku untuk bermesraan di Apartment-nya lebih dulu, kalian pikir sebagai lelaki aku tak tergoda? Aku namja normal, disaat ada wanita yang dengan mudahnya memberikan kesenangan itu, kenapa aku harus menolaknya? Suami wanita itu saja yang bodoh! Dia pikir, mungkin hanya aku pria yang tidur dengan istrinya. Padahal....”
“Yak! Tuan Cho, kami sedang serius.”
“Kau pikir aku sedang bercanda? Benar bukan, mana mungkin kalian mempercayaiku. Sudahlah, aku sudah mengakui sejak tadi, jika akulah yang menghajar semuanya. Kalian puas? Masukkan aku ke penjara, biar pekerjaan kalian juga lebih mudah,”
“Tuan Cho....”
“Mwo? Setidaknya di Penjara, aku mempunyai teman untuk menemaniku makan. Setidaknya di sana, aku tak perlu memikirkan banyak hal dan membuat ulah. Aku lelah..., biarkan aku terperangkap dalam ruangan itu.” Perkataan Kyu Hyun kali ini kembali membuat Polisi-polisi itu saling menatap. Mereka tau, siapa seorang Cho Kyu Hyun.
“Baiklah, masukkan ia ke penjara.” Kyu Hyun tersenyum miris mendengarnya. Tubuhnya berdiri, bersiap untuk berjalan ke ruang sel yang....
“Cho Kyu Hyun...,” pantau seseorang seketika, membuat Kyu Hyun berbalik untuk menoleh. Suara ini....
“Wae?” pertanyaan itu terlontar mulus dari bibir Hiu Hwi yang bergetar sekarang. Tangisnya kembali pecah, saat menatap keadaan Kyu Hyun yang nampak menyedihkan seperti sekarang. Pria ini ... terlihat kurus.
“Kau siapa Nona?” Hiu Hwi sentak mengalihkan pandangannya, saat salah satu dari Polisi itu menanyainya.
“Aku....”
“Dia bukan siapa-siapaku. Aku tidak mengenalnya! Bisakah kalian cepat kirim aku ke penjara, dan tak usah memperdulikan gadis asing ini?” sela Kyu Hyun seraya menatap Hiu Hwi dengan tajam. Gadis itu merunduk, ia tampak semakin sakit.
“Yak! Bukankah aku pelakunya? Kalian tidak mendengarku?”
“Aku kekasihnya,” kalimat Hiu Hwi ini membuat kontan saja Kyu Hyun kembali menatapnya. MWO? Kekasih?
“Oh, baiklah Nona. Bisa kita bicara sebentar?”
“Tentu saja Pa—”
“PERGI! Yak! NUGUYA? Kekasih? Cah, kau ingin membuat lelucon disini? Siapa yang membutuhkanmu disini, huh? CEPAT PERGI!”
“Kyu....”
“MWO? Untuk apa kau disini? MWO?” bentak Kyu Hyun keras.
“Tuan Cho....”
“Jangan menyiksaku lagi! Kumohon, menjauhlah....” Erang Kyu Hyun dengan pelupuk mata yang sedikit berair. Semuanya diam! Hiu Hwi sejenak menahan nafas.
“Nona, sebenarnya Tuan Cho tak perlu kami tahan. Pria yang menjadi korban itu sudah mencabut laporannya. Huhhh..., kami malah bingung, semenjak tadi Tuan Cho lah yang seolah berusaha untuk kami tahan. Baiklah, jika ada perselisihan diantara kalian, ada baiknya di selesaikan dengan tanpa emosi. Di sini kantor Polisi, ada baiknya juga, jika kalian menyelesaikan permasalahan percintaan kalian ini di tempat lain.”
“Nde, baiklah. Terima kasih.” Hiu Hwi membungkuk dalam, seakan ingin meminta maaf atas semua apa yang Kyu Hyun lakukan.
“SHIT!” Umpat Kyu Hyun sentak mengambil jaket hitamnya, lalu berlalu pergi keluar dari tempat ini.
“Kyu....”
***
AT KYU HYUN HOME’S
20.08 KST
Seoul, South Korea
Seakan tak perduli dengan Hiu Hwi yang sejak tadi terus mengikutinya, Kyu Hyun sentak hendak berniat untuk masuk ke dalam rumah mewahnya tanpa memperdulikan apapun. Ia ... seakan tak melihat keberadaan Hiu Hwi.
“Kyu, apa kau sudah makan? Kau su—”
BLAM!
Pintu besar itu tertutup dengan hentakan keras. Kyu Hyun benar-benar sudah berubah, ia seakan membenci Hiu Hwi sekarang. Gadis itu merunduk, di luar tampak mulai gerimis.
“Pulanglah, ke tempatmu.” Ujar Kyu Hyun dari dalam. Tak ada lagi suara setelah itu. Pulang? Hiu Hwi bahkan belum berniat untuk melakukan itu, sebelum ia tau jika Kyu Hyun benar-benar tidak apa-apa.
“Aku akan pulang, setelah melihatmu makan darisini.” Balas Hiu Hwi seraya duduk disebuah kursi teras depan rumah Kyu Hyun. Sebenarnya, Kyu Hyun masih berdiri di dekat pintu.
“Pulanglah! Aku makan atau tidak, itu bukan urusanmu.”
“Tapi aku ingin melihatmu makan, agar aku tenang. Aku tidak tau aku kenapa, tapi aku benar-benar tidak bisa bernafas dengan lega, jika aku....”
CKLEK!
Pintu besar itu kembali terbuka, menampakkan sosok Kyu Hyun yang berdiri seraya menatap Hiu Hwi dengan tajam. Oh Tuhan..., bagaimana bisa pria ini mendiamkan Hiu Hwi dalam waktu lama? Lihat saja, gadis itu bahkan terlihat mengigil.
“Kau ini sebenarnya mau apa?” tanya Kyu Hyun berdecak pinggang. Pria itu menghela nafas, seakan memohon agar Hiu Hwi jangan menghukumnya lagi.
“Aku ... aku....”
“Bukankah sudah kukatakan, jangan pernah lagi kembali dan muncul di hadapanku lagi, huh?” Hiu Hwi merunduk mendengarnya. Yah, ia ingat itu.
“Apa perkataanku waktu itu kurang jelas? Kau sendiri pasti sudah mengenal siapa aku, bukan?”
“Maaf. Baiklah, aku akan pulang sekarang.” Hiu Hwi yang tak tau lagi harus bagaimana, sontak berbalik; hendak pergi. Tapi....
“Lihat—kau bahkan ingin menghancurkanku lagi. Setelah muncul tiba-tiba, sekarang kau juga ingin pergi lagi seolah tak terjadi apa-apa. Kau gila, Hiu Hwi? Katakan padaku, apa salahku sampai kau berbuat seperti ini? Apa kau mempunyai dendam? Kau ingin aku merasa seperti manusia tak berguna? Jika iya, maka bertepuk tanganlah. Kau sudah berhasil!” Tahan Kyu Hyun pada lengan Hiu Hwi yang begitu dingin. Gadis itu meneguk air liurnya, dan menggeleng.
“Aku sudah mengatakan padamu untuk pergi, bukan? Kau tak akan bisa kembali lagi, jika sudah pergi. Ingat?
“Aku....”
“Dan ... jika kau muncul lagi di hadapanku, maka jangan salahkan aku, jika aku tak bisa melepaskanmu untuk yang kedua kalinya!”
“Kyu, aku....”
BRAKKKK!
Kyu Hyun sontak menghempaskan tubuh Hiu Hwi, hingga kini terdesak di dinding. Tubuh pria itu menghimpitnya, benar-benar membuat jantung Hiu Hwi kembali tak dapat dikendalikan.
Keduanya saling pandang sekarang! Hiu Hwi akan selalu mati kutu, jika Kyu Hyun sudah menatapnya dengan cara yang seperti ini. Begitu tajam, tapi—ahh—mempesona!
“Kau sudah puas sekarang? Kau sudah puas hidup bebas, tanpaku? Bagaimana rasanya, hem? Satu minggu, cukup untukmu bukan?”
“Maafkan aku,”
“Maaf? Kau pikir kata itu yang ingin kudengar?”
“Mwo?”
BRAAKKK!
Kyu Hyun lagi-lagi menghempaskan tubuh Hiu Hwi. Kini, keduanya semakin tampak saling menghimpit.
“Bukan kata maaf yang ingin kudengar, tapi kalimat yang kau ucapkan sebelum kau menghancurkan aku sampai sejauh ini!”
“Apa maksudmu, Kyu?”
“Katakan, kau menyukaiku!” Hiu Hwi sontak membalas tatapan Kyu Hyun untuk kali ini. Mwo? Apa tadi katanya?
“Kau tak ingin mengatakannya? Atau kau ingin aku yang membuatmu mengatakannya lagi, hem?” Kyu Hyun seketika membuka sweater yang Hiu Hwi kenakan, menyampingkan kaos lembut yang kini dipakai yeoja itu, hingga terlihatlah bahu mulus Hiu Hwi yang sangat Kyu Hyun rindukan.
“Tak akan disini saja. Aku akan membuat tanda merah diseluruh tubuhmu, jika kau tak mengatakannya,” ancam Kyu seraya mengecup paksa bahu dan dan mejilati leher Hiu Hwi dengan gerakan mematikan. Gadis itu menutup matanya, mengumpat betapa ia sebenarnya merindukan Kyu Hyun yang seperti ini!
“Kau tetap saja memakai sabun ini, tak berubah. Aku merindukannya,” kecup Kyu lagi seraya memainkan lidahnya di area dagu gadis itu sekarang.
“Kyu, jangan..., kau lupa kita dimana?”
“Aku tidak perduli! Katakan lebih dulu, kau menyukaiku!” Kyu Hyun tersenyum miring seraya semakin merekatkan tubuh keduanya. Oh tidak..., kali ini Kyu Hyun juga menghisap tengkuk Hiu Hwi dengan cukup kuat. Yah, sebuah area yang sebenarnya begitu sensitif bagi Hiu Hwi.
“Ash—Kyu!” Jambak Hiu Hwi kesal. Pria ini benar-benar memaksanya!
“Mwo? Kau rindu sentuhanku, Hwi?” Kyu Hyun menyeringai. Tangannya mulai kembali bergerak nakal untuk mengusap perut rata Hiu Hwi sekarang.
“Hentikan—ak—aku—aku menyukaimu! Yah, aku menyukaimu! Aku benar-benar menyukaimu!” Desah Hiu Hwi akhirnya, membuat Kyu Hyun seketika menghentikan aktivitasnya itu. Yeah! Dia telah mendapatkan yang ia inginkan.
“Kau puas sekarang? Lepaskan aku!” Seloroh Hiu Hwi kesal seraya memukul dada bidang Kyu Hyun untuk menjauh. Namun sayang, bukan malah menjauh, tapi Kyu Hyun malah memiringkan kepalanya. Apa yang ingin pria ini lakukan?
“Berciumanlah denganku...,” pinta Kyu Hyun saat kini bibirnya sedikit lagi menyentuh bibir Hiu Hwi. Gadis itu terhenyak! Kyu Hyun semakin memperhatikan lekuk daun bibir Hiu Hwi sekarang. SIAL!
“Kau gil—Eumhhmmmmppphhh—”
Belum sempat Hiu Hwi hendak mendorong tubuh Kyu, pria itu sudah lebih dulu menempelkan bibirnya pada daun bibir mungil Hiu Hwi. Sontak saja, itu membuat tubuh Hiu Hwi mendadak tegang dengan berjuta-juta tegangan.
Kyu Hyun melepaskan tautan bibir mereka. Tadi itu hanya menempel, belum ada gerakan yang dilakukan Kyu Hyun. Apa sudah? Apa mereka sudah berciuman?
“Ini—”
“Belum! Yang tadi hanya permulaan. Tutup matamu, dan bermainlah dengan lidahku Hiu Hwi,” Kyu Hyun kontan kembali mendekatkan wajahnya, mengamit daun bibir bawah gadis itu untuk ia hisap dengan lembut. Tubuh Hiu Hwi merinding. Apa seperti inilah rasanya berciuman seperti di drama-drama itu? Entahlah...! Persetan dengan hal itu. Yang jelas sekarang, Hiu Hwi merasa ada sesuatu yang lunak yang kini tengah bermain di dalam mulutnya. Demi Tuhan! Kyu Hyun benar-benar menghisap habis saliva Hiu Hwi tanpa rasa jijik sedikitpun.
“Ahhh, Hiu Hwi!” Desah Kyu Hyun disela ciuman mereka seraya memutar kepalanya ke arah yang berbeda. Baru saja Hiu Hwi hendak menarik nafas panjang, Kyu Hyun sudah lebih dulu membawa kedua daun bibirnya untuk ia hisap dengan sangat kuat kembali. Apa yang harus ia lakukan? Hiu Hwi benar-benar tak tau! Ini bahkan baru pertama kali ia rasakan.
Kyu Hyun semakin menggila! Kecupannya semakin lama berubah semakin tak sabaran dan menuntun.
“Ash!” Umpat Kyu Hyun seketika seraya mau tak mau melepaskan bibirnya pada gadis itu. Lihat, bibir Hiu Hwi sangat merah karna perlakuannya tadi. Pria itu tersenyum!
“Ini kenapa aku tidak mau mencium bibirmu sebelum kau utuh menjadi milikku kelak,”
“Mwo?”
“Aku benar-benar tak bisa mengontrol diriku lagi Hiu Hwi, kau benar-benar membuatku lemah. Apa yang akan terjadi, jika selama ini aku tak bisa mengontrol semuanya. Dan apa jadinya kau, jika aku membuatmu hamil, bahkan sebelum kau resmi menjadi istriku,”
“M-mmwo?”
“Maafkan aku....” Ucap Kyu Hyun membelai wajah Hiu Hwi, dan mengecup dahi gadis itu dengan sangat lembut.
-FIN(?)-
Udah abis ya???? Wakakakakakakak... *Dibanting Kyu Hyun*
Kyu : Eh bangke, ini nanggung banget!!!
Huahahahaha.... Iya emank sengaja aku potong disini!!! Nanti bakal ada special ENDING nya soalnyaaa... Lalalalala~ Pengen langsung, Cuma kepanjangan, kebuatlah ntar SPECIAL ENDING. See You yaaaaaaaa..... tak akan lama, tenang aja!

Cast :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre :: Romance, School Life
Rating :: PG + 17
This Story Original From @Jjea_
***
“ARASSEO! Mulai dari sekarang, pergi dan menjauhlah dariku!” Kyu Hyun menghempaskan tangannya yang tadi mencengkram kedua pipi Hiu Hwi dengan cukup kasar. Pria itu berbalik, berjalan dengan diiringi tatapan takut semua orang.
Sedang Hiu Hwi? Gadis itu sentak terduduk dan menangis di lapangan rumput hijau ini. Rasanya sangat sesak! Sakit sekali....
“Aku menyukaimu,” ucap Hiu Hwi yang masih dapat didengar jelas oleh Kyu Hyun. Langkah pria itu terhenti seketika! Tak hanya Kyu Hyun yang terkejut disini, tapi juga semua orang.
***

“Merindukan seseorang adalah...
Cara hati untuk mengingatkanmu bahwa kamu mencintai dia....”
_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 3 B
Suara angin terdengar, menderu cukup keras untuk melayangkan debu-debu yang terpatri di berbagai tempat. Sinar mentari perlahan-lahan kini juga meredup, seakan membiarkan sengatnya berisitirahat sejenak di peraduan itu. Diam ... terkadang ada banyak hal yang dirasakan, tapi ternyata bibir lebih memilih untuk bungkam.
In Here ... all the stories began.
* Never Ending *
Langkah kaki Kyu Hyun memang nampak terhenti di titik ini, tapi tubuhnya belum berbalik secara penuh. Telinganya masih dengan jelas mendengar isak-isak tangis Hiu Hwi yang cukup memilukan. Lagi, tangan Kyu Hyun nampak mengepal dengan keras. Jika saja boleh jujur, Kyu Hyun paling benci mendengar tangis seorang gadis, apalagi itu Hiu Hwi. Ia benar-benar sangat tak suka! Itu ... melemahkannya.
“Aku menyukaimu, aku memang menyukai Cho Kyu Hyun,” Hiu Hwi berusaha untuk mengatur nafas dan tangisnya. Gadis itu perlahan berdiri, memberanikan diri untuk mengatakan semua apa yang ingin ia katakan itu di hadapan Kyu Hyun secara langsung. Tubuh namja itu bergerak, kedua mata tajamnya sentak menatap Hiu Hwi kembali.
Ada yang berbeda dari raut wajah Kyu Hyun sekarang. Yah, sedikit lebih nampak luluh dari sebelumnya. Hiu Hwi menyukainya? Sungguh, itu adalah sesuatu hal yang tak Kyu Hyun duga sebelumnya. Kyu Hyun akui, jika ia adalah pria yang tak mudah untuk peka, terutama menyangkut perasaan wanita. Tapi sekali lagi, selama ini, sikap Hiu Hwi padanya bahkan membuatnya berpendapat sendiri, jika gadis itu hanya menganggapnya seorang—Kakak. Tapi tadi, apa yang Hiu Hwi katakan?
“Ka....”
“Tapi mulai sekarang, aku akan berhenti untuk melakukannya. Entah kenapa aku selalu terjebak, untuk jatuh cinta pada pria yang pada nyatanya sulit untuk aku gapai,” ucapan Hiu Hwi kali ini sentak saja membuat Kyu Hyun semakin menatapnya dengan tajam. Su Ho berusaha untuk mendongak dalam kesakitannya itu. Ia cukup shock mendengar kalimat Hiu Hwi.
“Aku memang menyukaimu Cho Kyu Hyun, dulu, kemarin, kemarinnya lagi, tahun kemarin, satu jam yang lalu, bahkan sampai menit sekarang inipun, aku masih menyukaimu. Tapi, didetik ini jugalah aku mengatakan, jika aku ... menyerah. Aku menyerah pada rasa sakit hatiku ini. Aku menyerah untuk berhenti melakukan ini,” Hiu Hwi tersenyum miris sekarang. Tangannya gemetar ketika berusaha menyeka air mata yang jatuh itu.
“Kau tak pantas untukku, begitupula aku yang tak pantas untukmu. Benar, bukan karna aku menyukaimu, lantas kau harus menyukaiku juga. Tidak, pada kenyataannya kita berbeda. Aku terlalu percaya diri karna sikapmu yang kadang membuatku melambung tinggi. Seharusnya aku tau, jika seperti itulah pesonamu pada banyak gadis. Maaf, aku terlambat sadar, siapa aku ini!” Hiu Hwi membalas tatapan Kyu Hyun sejenak, kemudian berbalik menghampiri keberadaan Su Ho yang masih terkapar di aspal. Disini, sudah tampak banyak orang memang, tapi tak ada satupun diantara mereka yang berani membuka suara. Bahkan Kyu Hyun! Entah mengapa, ia hanya diam saja setelah mendengar apa yang Hiu Hwi lontarkan tadi. Hanya tatapan tajamnya lah yang belum berpindah ke arah lain, selain Hiu Hwi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Hiu Hwi sembari memapah tubuh Su Ho, mendekap bahu pria itu untuk membantunya berdiri.
“Non—Noona—”
“Berdirilah, aku akan mengantarmu ke Rumah sakit,” bisik Hiu Hwi memindahkan tangan Su Ho untuk merangkul pundaknya. Rahang Kyu Hyun mengeras! Hiu Hwi tak pernah sedekat itu pada pria manapun sebelumnya. Tidak pernah! Bahkan sampai saling berpegangan tangan, merangkul, dan lihat—Hiu Hwi juga menyentuh wajah Su Ho untuk membersihkan kotoran di sekeliling luka pria itu. Dada Kyu Hyun kembali bergerak tak normal, siapapun sadar jika pria itu pasti tengah menahan rasa kesal dan amarahnya yang bisa dikatakan luar biasa. Hiu Hwi benar-benar berani!
Apa semua ini akan berakhir sampai disini? Hiu Hwi pergi bersama Su Ho, lalu meninggalkan Kyu Hyun yang hanya mematung di tempat? Tidak, sama sekali! Kyu Hyun bukan pria yang bisa menyelesaikan masalah hanya dengan seperti ini. Pria itu tidak bisa! Ia tak bisa melihat Hiu Hwi sedekat itu dengan pria lain. Mau dikatakan ia berlebihan, mengerikan, atau semacamnya. Kyu Hyun sama sekali tak perduli. Yang jelas, ia tak bisa melihat miliknya bersentuhan dan melakukan ini padanya.
“Ikut aku!” Hentak Kyu Hyun seraya mencengkram tangan Hiu Hwi, membuat semua orang yang tadinya menghela nafas lega sebentar, kini kembali melotot.
“Kyu!”
“Kau pikir bisa melakukan ini padaku, HUH? Kau pikir bisa pergi setelah membuat perasaanku menjadi seperti ini? Yak! Kau sudah merasa hebat sekarang, Hiu Hwi?”
“Lepaskan!”
“ANDWE!” Pekik Kyu Hyun semakin mengerat. Hiu Hwi terlihat memberontak, membuat Su Ho yang sadarpun sentak melepaskan diri dari Hiu Hwi.
“Aku tidak apa-apa, Noona.” Su Ho seakan mendesah dengan tanaganya yang masih cukup tersisa.
“Su Ho-ya....” Su Ho tersenyum tipis saat mendengar Hiu Hwi lagi-lagi menyebut namanya seperti itu. Sudah cukup dengan ini, bahkan Su Ho merasa dirinya baik-baik saja.
Belum sempat Hiu Hwi hendak mengutarakan kalimat kuatirnya lagi pada Su Ho, Kyu Hyun sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan gadis itu untuk berlalu pergi darisini. Hiu Hwi terlonjak, pria ini tetap saja kasar. Tapi mau seperti apa? Bahkan untuk memberontak dan berteriak memaki pria inipun terasa percuma. Lihat saja—pergelangan tangan Hiu Hwi ia cengkram dengan begitu kuat, seakan tak ingin lepas sedikitpun. Sebenarnya, Hiu Hwi merasa sakit akan cengkramannya ini, tapi ia juga ingin melihat seberapa jauh Kyu Hyun dapat menyakitinya. Jujur, ia membenci pria ini sekarang! Tapi, Hiu Hwi sadar rasa cintanya melebihi dari rasa benci itu sendiri. Dan itu ... memang sulit!
“Aku memang terluka, Noona. Tapi, aku tau Kyu Hyun Hyung lebih membutuhkanmu ketimbang aku sekarang. Seharusnya kau sadar Noona, teriakan Kyu Hyun padamu tadi benar-benar telah mengisyaratkan kepada semua orang, betapa ia juga mencintaimu. Mencengkram dan melakukan hal sampai sejauh ini, karna ia takut kehilanganmu. Ketika pria bersikap seperti itu memang terlihat mengerikan dimata beberapa wanita, tapi kadang wanita sendiri tak menyadari hal lain di dalamnya. Hal lain, mengapa pria bersikap seperti itu,”
Su Ho kembali tersenyum saat Hiu Hwi lagi-lagi menoleh ke arahnya dengan tatapan tak enak.
“Karna aku ... pernah berada diposisi Kyu Hyun Hyung seperti sekarang. Saat dimana orang-orang seperti kami, membutuhkan orang lain untuk menjadi pegangan. Saat dimana orang-orang seperti kami, berada dalam fase paling sulit. Yah, fase melawan diri sendiri....”
Su Ho kembali bergumam, sampai akhirnya tubuhnya limbung dan jatuh kembali ke tanah. Pria bermarga Kim itu pingsan!
***
Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah besar nan mewah ini, Kyu Hyun dan Hiu Hwi sudah tampak diselimuti oleh aura buruk. Tak ada kalimat yang Kyu Hyun lontarkan semenjak perjalanan mereka pulang kembali. Hanya diam dengan wajah yang nyaris tak berubah; dingin.
“Lepas ... lepaskan!” Untuk entah yang keberapa kalinya, Hiu Hwi berusaha memberontak dari cengkraman Kyu Hyun. Namun sayang, tak ada niatan dari pria itu untuk melepaskannya.
“Kyu...,” langkah Kyu Hyun berhenti saat mendengar desahan Hiu Hwi yang semakin memelas. Sial! Bisakah Hiu Hwi tak terlihat menyedihkan seperti itu?
“Lepaskanlah aku. Tak ada untungnya kau menahanku seperti ini, bukan? Harusnya, sudah dari dulu aku pergi dari tempat ini. Ayahmu dan Ibuku tak jadi menikah, seharusnya hubungan kita juga berakhir sampai disana. Aku tidak tau, kenapa semuanya menjadi seperti ini,”
“Sekarang, aku ingin bebas. Baru kali ini aku merasa berani untuk mengatakannya padamu. Jujur saja, selama ini—selama aku tinggal denganmu, aku merasa—huhhhh—aku merasa sangat tersiksa,” isak Hiu Hwi kembali menitikan air matanya lagi. Tersiksa? Oh tidak..., untuk kali ini ia benar-benar telah berbohong.
“Aku tersiksa—Hummpphhh—” kepala Hiu Hwi sentak merunduk, nada bicaranya terlalu bergetar ketika mengatakan itu. Ada rasa sesak yang seakan kini tengah mengejeknya habis-habisan. Sungguh! Ia sama sekali tak merasa tersiksa saat tinggal bersama Kyu Hyun. Tidak pernah! Sekalipun Kyu Hyun mempunyai sifat pemarah yang berlebih, egois, dan selalu ingin menang sendiri. Tapi disisi lain, Kyu Hyun lah yang mengajarkannya untuk kuat, membuatnya merasa dilindungi dan merasa dirinya sangat berharga. Kyu Hyun! Cho Kyu Hyun, demi Tuhan, ia mencintai pria ini!
“Benarkah?” Kyu Hyun seketika bersuara. Tubuhnya itu nampak berbalik menghadap Hiu Hwi. Di lepasnya perlahan cengkramannya itu perlahan.
“Kau berbohong, Hiu Hwi! Aku tau siapa dirimu.” Lanjut Kyu Hyun, membuat Hiu Hwi semakin ingin histeris menangis.
“Aniya, aku sama sekali tidak berbohong. Aku tak bisa hidup terus menerus seperti ini lagi denganmu. Aku tidak bisa. Aku tak sanggup menahan semua sifat burukmu selama ini Kyu,” Hiu Hwi berusaha untuk memberanikan diri mendongak, bertatapan dengan Kyu Hyun yang kini juga tengah memicing ke arahnya.
“Aku tidak bisa, Hiu Hwi. Aku tidak bisa melepaskanmu.” Perkataan Kyu Hyun kali ini sontak saja membuat linangan air itu kembali turun. Tunggu..., ia tak boleh lemah hanya karna ekspresi dan perkataan Kyu Hyun tadi itu. Bukankah belum tentu itu benar?
“Terserah kau saja,” balas Hiu Hwi sembari berjalan untuk masuk ke dalam kamarnya. Tidur? Sama sekali tidak! Hiu Hwi nampak mengambil koper besar untuk memasukkan cepat pakaian-pakaiannya ke dalam koper itu. Jika tidak sekarang ia pergi, mungkin ia tak akan bisa pergi lagi ke depannya.
“Perkenalkan Hiu Hwi, dia—Cho Kyu Hyun; calon Kakak tirimu.”
“Eoh, iya Eomma. Tapi dia—”
“Annyeong, aku Cho Kyu Hyun. Kau Hiu Hwi? Kau teman satu angkatan Sekolahku, bukan?”
“Nde.”
“Baiklah, senang bertemu denganmu Hiu Hwi-ya. Sekarang, aku adalah Kakakmu, aku berjanji akan menjagamu.” Kyu Hyun tersenyum seraya mengusap-usap puncak kepala Hiu Hwi dengan lembut. Itu adalah waktu dimana untuk pertama kalinya, Hiu Hwi tertegun tak dapat dbergerak. Pria ini ... sangat tampan!
Hiu Hwi mengeratkan cengkramannya pada pinggiran kopernya itu tatkala ia mengingat bagaimana dulu ia bertemu dengan Kyu Hyun. Sosok yang bahkan untuk pertama kalinya menatapnya dengan sebuah senyuman yang sangat manis.
“Hiu Hwi-ya, kau pernah berciuman?”
“Ya—YAK! Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya bertanya saja. Kau tau? Aku sudah lebih dari puluhan kali berciuman dengan banyak yeoja, dan itu rasanya—biasa saja sekarang.”
“Benarkah? Cah, kurasa bibirmu itu benar-benar sudah ternodai dengan cukup parah. Tak sepertiku, aku belum pernah berciuman dengan siapapun, dan it—”
“JEONGMAL?”
“Mwo?”
“Yak! Kau harus berjanji padaku, jangan pernah memberikan ciumanmu itu kepada pria manapun, aro? Tidak, pokoknya kepada siapapun. Entah itu yeoja, anak kecil, atau siapapun itu, tidak boleh!”
“Waeyo?”
“Karna aku tidak suka!”
Hiu Hwi menarik resleting koper pakaiannya dengan cepat. Gadis itu memandang pintu kamarnya, pasti Kyu Hyun masih berada di depan. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa pergi meninggalkan Kyu Hyun, jika keadaannya seperti ini?
“Eomma—Eomma—jangan tinggalkan aku—Eomma—”
“Sudahlah, Hiu Hwi. Ku mohon hentikan! Jangan menangis! Jangan pernah menangis di hadapanku seperti ini. Ada aku disini, kau tak sendirian. Kita akan terus bersama-sama, aku akan menjaga dan melindungimu sampai aku mati. Aku berjanji!”
“Kyu....”
Hiu Hwi memandang sebuah bingkai foto ia dan Eomma-nya beberapa tahun silam. Ia masih sangat ingat betul, bagaimana seorang Cho Kyu Hyun mati-matian untuk menghiburnya saat sang Ibu meninggal. Padahal, Kyu Hyun juga tengah kehilangan Appa-nya. Pria itu ... benar-benar menepati janjinya.
“YAK! Mulai sekarang, jangan pernah ada lagi yang berani menyentuhnya. Siapapun itu, kalian akan berhadapan denganku. Aku tidak pernah main-main, jika sampai aku mendengar gadisku ini menangis karna ulah kalian lagi, akan aku pastikan saat itu juga kalian akan menerima balasannya!
Hiu Hwi sentak menyeret koper pakaiannya untuk keluar dari kamarnya ini. Bagaimanapun juga, Kyu Hyun selama ini sudah terlalu banyak memberinya kebahagiaan yang tiada tara. Bahkan, sampai sekarang tak ada lagi yang berani membully-nya, atau mengatainya dengan perkataan buruk. Hidupnya sudah amat tenang di Sekolah itu, semenjak Kyu Hyun mengancam semua orang.
“Aku pergi. Kumohon, jaga dirimu baik-baik Cho Kyu Hyun,” ucap Hiu Hwi seraya berjalan melewati keberadaan Kyu Hyun sekarang. Tak lupa, Hiu Hwi juga membungkuk ke arah pria itu. Pria yang sampai saat ini masih mematung dengan ekspresi tak karuan lagi.
“Berhenti di sana, Lee Hiu Hwi!” Erang Kyu Hyun seketika.
“Kau tau apa akibatnya, jika pergi dariku, huh?”
“Aku tidak perdul—”
“Jika kau sudah keluar dari rumah ini, jangan pernah berharap dapat kembali lagi.” Hiu Hwi tersenyum mendengarnya. Gadis itu berbalik, lalu memaksakan diri untuk tersenyum.
“Ara—arasseo,” jawab Hiu Hwi seketika membuat Kyu Hyun menatapnya lagi dengan terkejut. Apa itu berarti, gadis ini benar-benar akan pergi?
“Kau tenang saja, Cho Kyu Hyun.”
“Yak!”
“Aku tak akan kembali lagi kemari.”
“Kau akan menyesal, Hiu Hwi! Kau akan menyesal!” Hentak Kyu Hyun mengerang dengan kepalan tangannya yang begitu kuat.
“Selama tinggal.” Tak ada kalimat lain lagi yang ingin Hiu Hwi ucapkan kepada Kyu Hyun selain kalimat itu. Perlahan tapi pasti, Hiu Hwi kembali melanjutkan langkahnya dan pergi dari tempat ini, menyisakan Kyu Hyun yang masih nampak tak percaya.
“Kau pikir aku juga tidak bisa hidup tanpamu, huh? BAIKLAH Hiu Hwi, baik! Jika kau mau pergi, pergilah ke tempat yang sangat jauh. Jangan pernah kembali lagi, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” Pekik Kyu Hyun yang sebenarnya masih dapat didengar oleh Hiu Hwi.
“Kau benar-benar hebat! Yah, tak kusangka kau jauh lebih hebat dari musuh-musuhku yang lain. Hanya dengan seperti ini, kau benar-benar telah menghancurkanku! Mwo? Setelah kau mengatakan kau menyukaiku, kau langsung menghempaskanku? Yak! Dimana otakmu, HUH? YAK!” Kyu Hyun kembali berteriak seraya kini menendang apapun barang yang ia lihat. Emosi pria itu kembali naik! Tapi....
“Kajima ... kajima Hiu Hwi. Kajima! KAJIMA!” Desah Kyu Hyun merosot hingga kini ia terduduk di lantai. Ada yang berbeda dari wajah yang selama ini terlihat mengerikan itu. Kyu Hyun menangis!
“Jangan meninggalkanku, kumohon. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa....”
Mata Kyu Hyun memerah, nafasnya nampak terdengar cepat tak beraturan. Sesungguhnya, ia nampak terlihat sangat rapuh sekarang.
***
Kata orang, semakin dalam kita mencintai seseorang, maka akan semakin dalam pula sakit yang akan kita rasakan. Sama halnya, dengan ketika kita jatuh cinta, maka tak ada hal lain yang kita pikirkan selain cinta itu sendiri. Tanpa disadari, akan ada kebutuhan-kebutuhan yang kita perlukan. Seperti, kebutuhan untuk melihatnya, kebutuhan untuk mendengar suaranya, dan kebutuhan untuk memilikinya. Cinta itu memang mudah! Tapi, menahan sakit hatinya lah yang sulit.
Sudah hampir selama 3 hari berlalu, semenjak kejadian perkelahian itu terjadi, dengan pengakhiran Hiu Hwi berpisah hidup dari Kyu Hyun. Tak ada banyak yang berbeda di sini, tapi jika menilisk lebih dalam lagi. Sungguh, banyak hal yang nampak berubah secara drastis.
Su Ho—semenjak itu, tampak ia selalu menjadi pembicaraan banyak orang di Sekolah ini. Setiap ia berjalan, semua orang akan menyingkir, seakan takut dengannya. Sebenarnya, ia sudah terbiasa di tatapi seperti itu. Tapi tetap saja, rasanya sulit.
“Huhhhh..., bukankah aku tidak membawa senjata tajam?”
“Sudahlah, Su Ho-ya. Tidak apa-apa.” Tepuk Sung Min seraya merangkul pundak Su Ho untuk menyemangati pria berkaca mata itu. Masih banyak bekas luka di area wajahnya. Tapi mau bagaimana, ia harus tetap masuk ke Sekolah.
Jika Su Ho masih diizinkan untuk bersekolah setelah perkelahian itu diketahui semua Guru dan Kepala Sekolah, maka lain halnya dengan Kyu Hyun. Sekalipun, yayasan Sekolah ini milik keluarga Kyu Hyun. Tapi tetap, peraturan adalah peraturan. Kyu Hyun mendapat dispensisasi lagi melalui keputusan semua Guru. Tak terlalu buruk memang, mengingat Kyu Hyun sendiri sepertinya membutuhkan waktu istirahat sejenak. Isitirahat? Sejujurnya, itu adalah salah besar.
Lihat saja, apa yang dilakukan Kyu Hyun selama 3 hari ini? Ia tak pulang! Pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat hiburan, di tempat permainan Game, dan—hotel. Ia berubah! Kyu Hyun tampak semakin ramah pada orang lain, malah bisa dikatakan terlalu ramah. Wanita manapun itu, ia rangkul dan bawa pulang untuk hanya bersenang-senang. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah ... pria itu kini malah lebih sering berkelahi. Seperti sekarang, Kyu Hyun baru saja memukuli kekasih wanita yang ingin ia kencani. Gila? Entahlah....
“Hahaha, sayang kau mau uang?” tawa pria itu terdengar. Yah, wajahnya memang tersenyum, tapi terasa—hambar. Hidup Kyu Hyun kini seolah kosong dan penuh gerak kepura-puraan.
Dihamburkannya lembar-lembar uang ke depan wajah gadis yang baru saja memuaskannya itu. Tidak! Sebenarnya, Kyu Hyun tak pernah menyentuh gadis-gadis itu sampai benar-benar bersentuhan. Hanya sebatas membuat hiburan dengan menggerayangi tubuh-tubuh wanita yang ia bayar itu, lalu pergi. Yah, dengan raut tanpa dosanya seperti biasa.
Hidupnya sudah tak menentu sekarang. Kyu Hyun lebih tampak mengerikan lagi dari sebelumnya. Sekalipun ia lebih banyak tersenyum, tapi itu malah semakin menambah betapa mengerikannya hidup pria itu saat ini.
“Hyu—Hyung?” Su Ho sentak terperanjat kaget saat ia baru saja keluar dari gerbang Sekolahnya ini, berjalan sejenak dan melihat Kyu Hyun nampak berdiri di dekat mobil mewahnya itu. Apa yang Kyu Hyun lakukan disini?
“Hyung, menunggu Hiu—”
“Maaf...,” sela Kyu Hyun seketika, membuat Su Ho sentak tercenang mendengarnya. Apa tadi? Maaf?
“Aku hanya akan mengatakannya sekali. Maaf, maafkan aku Kim Joon Myun,” Kyu Hyun menatap Su Ho dengan raut datar. Tubuh Kyu Hyun membungkuk tepat di hadapan Su Ho sekarang. Apa ini mimpi? Su Ho melotot saat melihat Kyu Hyun melakukan semua ini padanya.
“Hyung....”
“Kau mau memaafkanku?” Kyu Hyun mendekat ke arah Su Ho. Ada bau alkohol yang memang tercium dari tubuh Kyu Hyun sekarang. Apa benar pria ini sebenarnya tengah mabuk? Tapi, kenapa kelihatannya Kyu Hyun masih begitu sadar.
“Aku tak meminta apapun darimu lagi. Apa lukamu sudah sembuh? Sepertinya, saat itu aku terlalu kuat memukulmu. Baiklah, sekali lagi aku minta maaf,” Kyu Hyun tersenyum seraya menepuk bahu Su Ho dengan lembut. Lagi-lagi Su Ho tercenang! Apa benar ini Cho Kyu Hyun?
“Kau tak perlu meminta maaf padaku Hyung. Aku tau bagaimana perasaanmu waktu itu. Wajar saja jika kau marah, saat ada pria lain yang menyentuh gadis yang menjadi milikmu.”
“Dia bukan gadisku lagi sekarang. Aku tidak perduli dengan apapun dan apa yang terjadi dengannya lagi saat ini. Dia sendiri yang meminta itu, aku akan mengabulkannya,”
“Kau berubah, Hyung.”
“Aku tau. Tapi aku lebih suka seperti ini.”
“Kapan Hyung akan kembali ke Sekolah? Maaf, karna aku Hyung mendapat dispensasi lagi.”
“Aku malah sangat senang mendapat dispensasi. Ada banyak waktu luangku untuk minum dan bersenang-senang. Cah, baiklah. Aku pergi sekarang.” Kyu Hyun nampak berbalik untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Hyung,” pantau Su Ho memberanikan diri.
“Mwo?”
“Boleh aku beri nasehat padamu?”
“Kau berani?”
“Hummm..., cobalah memaafkan dirimu sendiri lebih dulu, maka semuanya akan memaafkanmu.”
***
Tak ada banyak perubahan yang terjadi pada Hiu Hwi sampai hari ini. Sudah hampir satu minggu berlalu, ia lepas dari Kyu Hyun, hanya ekspresi muramlah yang ia perlihatkan. Kedua matanya tampak kembali menggunakan kaca mata, kembali menjadi gadis cupu yang tak terlalu ingin dilihat semua orang.
Hiu Hwi bekerja Part-time, disebuah kedai makanan atas rekomendasi dari Su Ho. Kini, gadis itu tinggal di kontrakan murah yang sedikit lebih dekat dari Sekolahnya. Sebenarnya, jika dikatakan ia sudah tak perduli lagi dengan Kyu Hyun, maka salah besar. Setiap hari, bahkan setiap jam, setiap menit, dan setiap detik, Hiu Hwi terus memikirkan bagaimana Kyu Hyun. Apa pria itu baik-baik saja? Apa ia makan dengan baik? Apa ia tak sakit-sakitan lagi? Huh! Semuanya Hiu Hwi pikirkan tentang pria itu. Apalagi, berpikir akan siapa yang menemani Kyu Hyun makan setiap harinya? Bukankah ia tak akan makan, jika tak ada orang yang menemani? Lalu....
“Ini tidak benar!” Hiu Hwi kembali mengumpat seraya kembali berjalan untuk bekerja lagi setelah pulang Sekolah. Entahlah, semakin ia mencoba untuk melupakan Kyu Hyun, semakin sering pula wajah pria itu muncul. Ia tau, jika Kyu Hyun saat ini dalam masa dispensasi, hal itu jugalah yang membuatnya kesal. Rasanya, tak melihat wujud pria itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan. Tak enak sama sekali! Semuanya terasa tak bersemangat untuk dilakukan!
“Oppa..., aku menginginkanmu!” Hiu Hwi sentak terdiam mendengar rengekan manja dari seorang gadis yang tengah keluar dari dalam mobil mewah itu. Sial! Hiu Hwi bahkan tak sadar, jika ia malah berjalan ke arah rumah Kyu Hyun. Ada apa dengannya? Dengan cepat, gadis itu bersembunyi di balik pot tanaman yang lumayan besar.
“Tenang saja, aku akan memuasakanmu sayang. Masuklah....” Terdengar lagi suara seorang pria di telinga Hiu Hwi. Suara yang dapat membuat jantungnya berdegup dengan amat begitu kencang seperti sekarang. Yah, siapa lagi jika bukan Kyu Hyun.
Dada Hiu Hwi seakan teriris! Tampak ia melihat Kyu Hyun tengah berjalan limbung untuk masuk ke dalam. Apa pria itu mabuk lagi? Jujur saja, sebenarnya, Hiu Hwi tau apa-apa saja yang Kyu Hyun lakukan selama hampir seminggu ini dari Su Ho. Entahlah, kadang ia merasa bersalah. Ia tak percaya, Kyu Hyun malah lebih mengerikan lagi dari dirinya yang dulu.
“Kau tak ingin masuk Noona?” tanya seseorang seketika, membuat sontak saja Hiu Hwi terperanjat kaget.
“Ka-kau....”
“Apa Noona merindukan Kyu Hyun Hyung?”
“Su Ho-ya, apa yang kau katakan? Sudahlah, ayo cepat pergi.”
“Aku rasa, Hyung juga sangat merindukanmu Noona. Kau tau? Kemarin ia tak pulang lagi, dan menginap di salah satu Apartment mewah bersama seorang wanita berumur 30an. Cah, Hyung benar-benar sudah menjadi bad boy kelas dunia sekarang. Aku dengar, ia juga menghabiskan waktunya untuk minum alkohol dan membuat kekacauan di—”
“Aku tidak perduli! Apa yang menyangkut dirinya, bukan urusanku lagi.” Potong Hiu Hwi seraya berbalik dan dengan cepat pergi dari tempat ini.
“Benarkah Noona sudah tak perduli lagi? Apa Noona benar-benar tak mengkuatirkan keadaan Kyu Hyun Hyung, jika ia terus seperti ini?”
“AKU TIDAK PERDULI!” Hentak Hiu Hwi keras.
“Baiklah, aku mengerti. Huhhh...,” dengan menghela nafas panjangnya, Su Ho menatapi punggung Hiu Hwi yang semakin lama semakin menjauh dari penglihatannya. Kepala pria itu menggeleng, ia tau jika apa yang Hiu Hwi katakan tadi sama sekali bertolak belakang dengan isi hatinya. Jika tidak, kenapa gadis itu datang kemari? Bodoh!
“Sepertinya, kau sangat merindukannya Noona. Ck!”
***
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, menandakan jika sebentar lagi Hiu Hwi haru segera pulang untuk menyelesaikan PR yang belum ia sentuh sama sekali. Mereka akan menghadapi ujian, itu mengapa Hiu Hwi meminta izin untuk pulang satu jam lebih awal agar ia dapat belajar dan berisitirahat dengan baik. Ia tak ingin sakit dan akhirnya tak lulus hanya karna kelelahan.
“Terima kasih, Ahjumma. Aku akan kembali besok,” ucap Hiu Hwi ramah seraya tersenyum dan membungkuk kepada wanita pemilik kedai makanan ini.
“Hati-hati, Hwi-ya.”
“Nde.” Sahut Hiu Hwi mengeratkan sweater tebal yang ia pakai. Baru saja, kakinya hendak berbalik keluar dari tempat ini, seseorang sudah lebih dulu melentangkan tangannya dengan nafas yang tak beraturan.
“Yak! Kau kenapa, Su Ho-ya?”
“Noona..., Hyung—”
“Sudahlah, aku tak ingin mendengar dia lagi. Bisakah kau berhenti untuk membicarakannya kepadaku? Aku sedang tak ing—”
“Kyu Hyun Hyung ditahan di Kantor Polisi sekarang,” sela Su Ho dengan nada serius.
“Mwo?”
“Noona ingat, aku pernah menceritakan jika Hyung pernah menginap ke Apartment wanita yang berumur 30an? Huhhh..., Kyu Hyun Hyung berkelahi dengan suami gadis itu di Pub! Tak hanya itu, dia juga menghajar puluhan anak buah pria itu.”
“Mwo?”
“Dan bodohnya lagi, Hyung tak mengelak. Dia seolah malah ingin ditahan di sana. Noona, sebaiknya Noona melihat Hyung sekarang. Aku takut, akan banyak hal lagi yang akan terjadi dengannya, jika Noona—”
“Namja bodoh!” Umpat Hiu Hwi dengan seketika berlarian pergi dari tempat ini. Bungkusan makanan yang tadi berada di tangannya, terjatuh begitu saja. Su Ho menjongkok, ia masih berusaha mengontrol nafasnya sekarang.
“Noona....” Desah Su Ho menatap punggung Hiu Hwi yang sangat cepat berlalu dari penglihatannya. Tak perlu dikatakan dengan jelas, sudah pasti gadis itu sangat kuatir sekarang. Kantor Polisi? Apa pria itu gila?
Hiu Hwi menghentikan sebuah taksi dengan cepat, lalu masuk. Jari jemarinya bertautan gemetar. Ya ... ya ... ya! Gadis itu menangis!
***
Disatu sisi, tampak seorang pria tampan yang memiliki luka di ujung sudut bibirnya itu kembali menghela nafas. Sudah hampir setengah jam yang lalu, ia duduk di depan Polisi untuk diinterograsi banyak hal. Bosan, Kyu Hyun tak suka ditatapi menuduh seperti itu.
“Sudah selesai? Kalau begitu, antarkan saja aku ke dalam sel penjara. Mudah bukan?”
“Tuan Cho, apa tak ada orang suruhanmu untuk memberi keterangan soal ini?”
“Aku memang sengaja tak menghubungi siapapun. Kau mengatakan aku salah, bukan? Ya sudah, penjarakan saja aku,” ucap Kyu Hyun malas. Beberapa Polisi tampak saling menatap. Disaat banyak orang ingin eluar dari penjara, kenapa pria ini seakan berniat sekali untuk masuk penjara?
“Tak ada pembelaan darimu, Tuan Cho?”
“Apa kalian akan mempercayaiku? Huh! Wanita itu yang mengajakku untuk bermesraan di Apartment-nya lebih dulu, kalian pikir sebagai lelaki aku tak tergoda? Aku namja normal, disaat ada wanita yang dengan mudahnya memberikan kesenangan itu, kenapa aku harus menolaknya? Suami wanita itu saja yang bodoh! Dia pikir, mungkin hanya aku pria yang tidur dengan istrinya. Padahal....”
“Yak! Tuan Cho, kami sedang serius.”
“Kau pikir aku sedang bercanda? Benar bukan, mana mungkin kalian mempercayaiku. Sudahlah, aku sudah mengakui sejak tadi, jika akulah yang menghajar semuanya. Kalian puas? Masukkan aku ke penjara, biar pekerjaan kalian juga lebih mudah,”
“Tuan Cho....”
“Mwo? Setidaknya di Penjara, aku mempunyai teman untuk menemaniku makan. Setidaknya di sana, aku tak perlu memikirkan banyak hal dan membuat ulah. Aku lelah..., biarkan aku terperangkap dalam ruangan itu.” Perkataan Kyu Hyun kali ini kembali membuat Polisi-polisi itu saling menatap. Mereka tau, siapa seorang Cho Kyu Hyun.
“Baiklah, masukkan ia ke penjara.” Kyu Hyun tersenyum miris mendengarnya. Tubuhnya berdiri, bersiap untuk berjalan ke ruang sel yang....
“Cho Kyu Hyun...,” pantau seseorang seketika, membuat Kyu Hyun berbalik untuk menoleh. Suara ini....
“Wae?” pertanyaan itu terlontar mulus dari bibir Hiu Hwi yang bergetar sekarang. Tangisnya kembali pecah, saat menatap keadaan Kyu Hyun yang nampak menyedihkan seperti sekarang. Pria ini ... terlihat kurus.
“Kau siapa Nona?” Hiu Hwi sentak mengalihkan pandangannya, saat salah satu dari Polisi itu menanyainya.
“Aku....”
“Dia bukan siapa-siapaku. Aku tidak mengenalnya! Bisakah kalian cepat kirim aku ke penjara, dan tak usah memperdulikan gadis asing ini?” sela Kyu Hyun seraya menatap Hiu Hwi dengan tajam. Gadis itu merunduk, ia tampak semakin sakit.
“Yak! Bukankah aku pelakunya? Kalian tidak mendengarku?”
“Aku kekasihnya,” kalimat Hiu Hwi ini membuat kontan saja Kyu Hyun kembali menatapnya. MWO? Kekasih?
“Oh, baiklah Nona. Bisa kita bicara sebentar?”
“Tentu saja Pa—”
“PERGI! Yak! NUGUYA? Kekasih? Cah, kau ingin membuat lelucon disini? Siapa yang membutuhkanmu disini, huh? CEPAT PERGI!”
“Kyu....”
“MWO? Untuk apa kau disini? MWO?” bentak Kyu Hyun keras.
“Tuan Cho....”
“Jangan menyiksaku lagi! Kumohon, menjauhlah....” Erang Kyu Hyun dengan pelupuk mata yang sedikit berair. Semuanya diam! Hiu Hwi sejenak menahan nafas.
“Nona, sebenarnya Tuan Cho tak perlu kami tahan. Pria yang menjadi korban itu sudah mencabut laporannya. Huhhh..., kami malah bingung, semenjak tadi Tuan Cho lah yang seolah berusaha untuk kami tahan. Baiklah, jika ada perselisihan diantara kalian, ada baiknya di selesaikan dengan tanpa emosi. Di sini kantor Polisi, ada baiknya juga, jika kalian menyelesaikan permasalahan percintaan kalian ini di tempat lain.”
“Nde, baiklah. Terima kasih.” Hiu Hwi membungkuk dalam, seakan ingin meminta maaf atas semua apa yang Kyu Hyun lakukan.
“SHIT!” Umpat Kyu Hyun sentak mengambil jaket hitamnya, lalu berlalu pergi keluar dari tempat ini.
“Kyu....”
***
AT KYU HYUN HOME’S
20.08 KST
Seoul, South Korea
Seakan tak perduli dengan Hiu Hwi yang sejak tadi terus mengikutinya, Kyu Hyun sentak hendak berniat untuk masuk ke dalam rumah mewahnya tanpa memperdulikan apapun. Ia ... seakan tak melihat keberadaan Hiu Hwi.
“Kyu, apa kau sudah makan? Kau su—”
BLAM!
Pintu besar itu tertutup dengan hentakan keras. Kyu Hyun benar-benar sudah berubah, ia seakan membenci Hiu Hwi sekarang. Gadis itu merunduk, di luar tampak mulai gerimis.
“Pulanglah, ke tempatmu.” Ujar Kyu Hyun dari dalam. Tak ada lagi suara setelah itu. Pulang? Hiu Hwi bahkan belum berniat untuk melakukan itu, sebelum ia tau jika Kyu Hyun benar-benar tidak apa-apa.
“Aku akan pulang, setelah melihatmu makan darisini.” Balas Hiu Hwi seraya duduk disebuah kursi teras depan rumah Kyu Hyun. Sebenarnya, Kyu Hyun masih berdiri di dekat pintu.
“Pulanglah! Aku makan atau tidak, itu bukan urusanmu.”
“Tapi aku ingin melihatmu makan, agar aku tenang. Aku tidak tau aku kenapa, tapi aku benar-benar tidak bisa bernafas dengan lega, jika aku....”
CKLEK!
Pintu besar itu kembali terbuka, menampakkan sosok Kyu Hyun yang berdiri seraya menatap Hiu Hwi dengan tajam. Oh Tuhan..., bagaimana bisa pria ini mendiamkan Hiu Hwi dalam waktu lama? Lihat saja, gadis itu bahkan terlihat mengigil.
“Kau ini sebenarnya mau apa?” tanya Kyu Hyun berdecak pinggang. Pria itu menghela nafas, seakan memohon agar Hiu Hwi jangan menghukumnya lagi.
“Aku ... aku....”
“Bukankah sudah kukatakan, jangan pernah lagi kembali dan muncul di hadapanku lagi, huh?” Hiu Hwi merunduk mendengarnya. Yah, ia ingat itu.
“Apa perkataanku waktu itu kurang jelas? Kau sendiri pasti sudah mengenal siapa aku, bukan?”
“Maaf. Baiklah, aku akan pulang sekarang.” Hiu Hwi yang tak tau lagi harus bagaimana, sontak berbalik; hendak pergi. Tapi....
“Lihat—kau bahkan ingin menghancurkanku lagi. Setelah muncul tiba-tiba, sekarang kau juga ingin pergi lagi seolah tak terjadi apa-apa. Kau gila, Hiu Hwi? Katakan padaku, apa salahku sampai kau berbuat seperti ini? Apa kau mempunyai dendam? Kau ingin aku merasa seperti manusia tak berguna? Jika iya, maka bertepuk tanganlah. Kau sudah berhasil!” Tahan Kyu Hyun pada lengan Hiu Hwi yang begitu dingin. Gadis itu meneguk air liurnya, dan menggeleng.
“Aku sudah mengatakan padamu untuk pergi, bukan? Kau tak akan bisa kembali lagi, jika sudah pergi. Ingat?
“Aku....”
“Dan ... jika kau muncul lagi di hadapanku, maka jangan salahkan aku, jika aku tak bisa melepaskanmu untuk yang kedua kalinya!”
“Kyu, aku....”
BRAKKKK!
Kyu Hyun sontak menghempaskan tubuh Hiu Hwi, hingga kini terdesak di dinding. Tubuh pria itu menghimpitnya, benar-benar membuat jantung Hiu Hwi kembali tak dapat dikendalikan.
Keduanya saling pandang sekarang! Hiu Hwi akan selalu mati kutu, jika Kyu Hyun sudah menatapnya dengan cara yang seperti ini. Begitu tajam, tapi—ahh—mempesona!
“Kau sudah puas sekarang? Kau sudah puas hidup bebas, tanpaku? Bagaimana rasanya, hem? Satu minggu, cukup untukmu bukan?”
“Maafkan aku,”
“Maaf? Kau pikir kata itu yang ingin kudengar?”
“Mwo?”
BRAAKKK!
Kyu Hyun lagi-lagi menghempaskan tubuh Hiu Hwi. Kini, keduanya semakin tampak saling menghimpit.
“Bukan kata maaf yang ingin kudengar, tapi kalimat yang kau ucapkan sebelum kau menghancurkan aku sampai sejauh ini!”
“Apa maksudmu, Kyu?”
“Katakan, kau menyukaiku!” Hiu Hwi sontak membalas tatapan Kyu Hyun untuk kali ini. Mwo? Apa tadi katanya?
“Kau tak ingin mengatakannya? Atau kau ingin aku yang membuatmu mengatakannya lagi, hem?” Kyu Hyun seketika membuka sweater yang Hiu Hwi kenakan, menyampingkan kaos lembut yang kini dipakai yeoja itu, hingga terlihatlah bahu mulus Hiu Hwi yang sangat Kyu Hyun rindukan.
“Tak akan disini saja. Aku akan membuat tanda merah diseluruh tubuhmu, jika kau tak mengatakannya,” ancam Kyu seraya mengecup paksa bahu dan dan mejilati leher Hiu Hwi dengan gerakan mematikan. Gadis itu menutup matanya, mengumpat betapa ia sebenarnya merindukan Kyu Hyun yang seperti ini!
“Kau tetap saja memakai sabun ini, tak berubah. Aku merindukannya,” kecup Kyu lagi seraya memainkan lidahnya di area dagu gadis itu sekarang.
“Kyu, jangan..., kau lupa kita dimana?”
“Aku tidak perduli! Katakan lebih dulu, kau menyukaiku!” Kyu Hyun tersenyum miring seraya semakin merekatkan tubuh keduanya. Oh tidak..., kali ini Kyu Hyun juga menghisap tengkuk Hiu Hwi dengan cukup kuat. Yah, sebuah area yang sebenarnya begitu sensitif bagi Hiu Hwi.
“Ash—Kyu!” Jambak Hiu Hwi kesal. Pria ini benar-benar memaksanya!
“Mwo? Kau rindu sentuhanku, Hwi?” Kyu Hyun menyeringai. Tangannya mulai kembali bergerak nakal untuk mengusap perut rata Hiu Hwi sekarang.
“Hentikan—ak—aku—aku menyukaimu! Yah, aku menyukaimu! Aku benar-benar menyukaimu!” Desah Hiu Hwi akhirnya, membuat Kyu Hyun seketika menghentikan aktivitasnya itu. Yeah! Dia telah mendapatkan yang ia inginkan.
“Kau puas sekarang? Lepaskan aku!” Seloroh Hiu Hwi kesal seraya memukul dada bidang Kyu Hyun untuk menjauh. Namun sayang, bukan malah menjauh, tapi Kyu Hyun malah memiringkan kepalanya. Apa yang ingin pria ini lakukan?
“Berciumanlah denganku...,” pinta Kyu Hyun saat kini bibirnya sedikit lagi menyentuh bibir Hiu Hwi. Gadis itu terhenyak! Kyu Hyun semakin memperhatikan lekuk daun bibir Hiu Hwi sekarang. SIAL!
“Kau gil—Eumhhmmmmppphhh—”
Belum sempat Hiu Hwi hendak mendorong tubuh Kyu, pria itu sudah lebih dulu menempelkan bibirnya pada daun bibir mungil Hiu Hwi. Sontak saja, itu membuat tubuh Hiu Hwi mendadak tegang dengan berjuta-juta tegangan.
Kyu Hyun melepaskan tautan bibir mereka. Tadi itu hanya menempel, belum ada gerakan yang dilakukan Kyu Hyun. Apa sudah? Apa mereka sudah berciuman?
“Ini—”
“Belum! Yang tadi hanya permulaan. Tutup matamu, dan bermainlah dengan lidahku Hiu Hwi,” Kyu Hyun kontan kembali mendekatkan wajahnya, mengamit daun bibir bawah gadis itu untuk ia hisap dengan lembut. Tubuh Hiu Hwi merinding. Apa seperti inilah rasanya berciuman seperti di drama-drama itu? Entahlah...! Persetan dengan hal itu. Yang jelas sekarang, Hiu Hwi merasa ada sesuatu yang lunak yang kini tengah bermain di dalam mulutnya. Demi Tuhan! Kyu Hyun benar-benar menghisap habis saliva Hiu Hwi tanpa rasa jijik sedikitpun.
“Ahhh, Hiu Hwi!” Desah Kyu Hyun disela ciuman mereka seraya memutar kepalanya ke arah yang berbeda. Baru saja Hiu Hwi hendak menarik nafas panjang, Kyu Hyun sudah lebih dulu membawa kedua daun bibirnya untuk ia hisap dengan sangat kuat kembali. Apa yang harus ia lakukan? Hiu Hwi benar-benar tak tau! Ini bahkan baru pertama kali ia rasakan.
Kyu Hyun semakin menggila! Kecupannya semakin lama berubah semakin tak sabaran dan menuntun.
“Ash!” Umpat Kyu Hyun seketika seraya mau tak mau melepaskan bibirnya pada gadis itu. Lihat, bibir Hiu Hwi sangat merah karna perlakuannya tadi. Pria itu tersenyum!
“Ini kenapa aku tidak mau mencium bibirmu sebelum kau utuh menjadi milikku kelak,”
“Mwo?”
“Aku benar-benar tak bisa mengontrol diriku lagi Hiu Hwi, kau benar-benar membuatku lemah. Apa yang akan terjadi, jika selama ini aku tak bisa mengontrol semuanya. Dan apa jadinya kau, jika aku membuatmu hamil, bahkan sebelum kau resmi menjadi istriku,”
“M-mmwo?”
“Maafkan aku....” Ucap Kyu Hyun membelai wajah Hiu Hwi, dan mengecup dahi gadis itu dengan sangat lembut.
-FIN(?)-
Udah abis ya???? Wakakakakakakak... *Dibanting Kyu Hyun*
Kyu : Eh bangke, ini nanggung banget!!!
Huahahahaha.... Iya emank sengaja aku potong disini!!! Nanti bakal ada special ENDING nya soalnyaaa... Lalalalala~ Pengen langsung, Cuma kepanjangan, kebuatlah ntar SPECIAL ENDING. See You yaaaaaaaa..... tak akan lama, tenang aja!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar