Rabu, 01 Oktober 2014

_“BAD BOY!”_ Part 12 [Kyu-Hwi School]

_“BAD BOY!”_ Part 12 [Kyu-Hwi School]


Tittle                  : “BAD BOY!”
Cast                    : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Khazuma Tetsuya
Rating                : PG-17 / Straight
Genre                : School Life
Don’t BASH... This Just For Fun!


             “Hwi-ya, bukankah itu mobil Supirmu?” tanya Yura dengan nafas tersengal, sesaat setelah mereka berusaha untuk mengejar mobil yang membawa Kyuhyun saat ini.
             “Eoh?”
             “Kenapa, mereka berempat dapat didalam satu mobil bersama seperti itu?”
             “MWO? BEREMPAT?” balas Hiu Hwi hampir saja berteriak. Tidak! Apa jadinya, jika keempat namja itu bertemu bersama tanpa pengawasan?
             “Yura-shi, sebaiknya kita cepat susul mereka.”
             “EOH!”

This Story Original From @Jjea_







***


‘Terkadang, cinta itu menjadi luka.
Namun terkadang, luka itulah yang membuatku belajar.
Yah...
Karna mencintai, tak hanya sekedar untuk dicintai....’



_“BAD BOY!”_ Part 12


                              
             Panas tak terlalu menyengat hari ini. Sajak hawa dingin itu sepertinya tengah melayang tak berbentuk, seolah ingin menyingkirkan angkara, seolah ingin memonopoli musim yang terus bercakap dengan seluruh aktivitas perubahan cuaca. Cakrawala itu sepertinya memang sengaja tak menyembul di bibir langit saat ini. Ia bersembunyi, nampak lebih memilih untuk mengalah dan beristirahat dalam diam keagungannya.



               * When it all began ... U’ar My Lady *




At Seoul Hospital_
South Korea


              
             Lorong-lorong gedung yang identik dengan cat warna putih bersih ini tampak ramai seperti biasa. Banyak orang yang berlalu lalang dan melakukan kesibukan mereka masing-masing tanpa banyak perduli dan ikut campur pada urusan yang lain. Sama halnya dengan keadaan yang terjadi pada salah satu bangsal Rumah sakit yang terdapat di pusat Kota Seoul ini. Nampak, beberapa namja tampan terlihat tengah mendiamkan diri mereka masing-masing sejak tadi. Tak ada banyak kata ataupun kalimat yang mereka lontarkan untuk sekedar berbasa-basi atau saling menyapa satu sama lain. Semuanya terasa membatu, tak tau harus berbuat dan mengatakan apa dalam keadaan meraka sekarang ini.
             Kim Heechul, Yesung Kim, Khazuma tetsuya dan Cho Kyuhyun ... entah ada keajaiban darimana hingga keempat namja tampan ini dapat berada disebuah ruangan yang sama seperti sekarang. Sedikit aneh dan canggung, itulah yang mungkin mereka rasakan saat ini. Toh, bahkan sudah hampir beberapa menit berlalu, keadaan dan posisi mereka tetap sama seperti tadi. Tak ada yang bergerak atau memiliki inisiatif untuk mengakhiri suasana yang terasa sangat membosankan seperti ini. Mereka bungkam, lebih sibuk dengan aktivitas dan pikiran mereka sendiri-sendiri, kecuali Kyuhyun. Yah, namja itu sepertinya memang belum sadarkan diri semenjak tadi.
             “Op-pa...,” ucap seseorang seketika masuk, membuat pandangan ketiga namja ini sentak saja berpaling ke arah sumber suara. Nampak seorang gadis dengan tampang yang sangat pucat itu berdiri tak tegap seraya mengatur nafasnya dengan cepat. Tanpa perlu banyak kata lagi untuk menjelaskannya, sudah amat terlihat kekuatiran yang tercetak tebal pada wajah cantik gadis itu. Bahkan, masih tampak jelas kedua matanya membengkak, seakan menandakan jika ia baru saja selesai mengeluarkan air matanya dengan cukup banyak.
             “Hiu Hwi Noona....” desah Khazuma yang lebih mirip dengan nada gumaman itu. Hiu Hwi terlihat tak memperdulikan panggilan Khazuma untuknya sekarang ini. Jangankan panggilan semacam itu yang memantaunya, bahkan Hiu Hwi tak sadar sudah meninggalkan Yura di halaman Rumah sakit, dan juga tak menyadari akan keberadaan Heechul yang nampak berdiri sedikit membungkuk di dekat pintu bangsal ini. Mungkin, yang terpenting untuk Hiu Hwi sekarang hanyalah ... Cho Kyuhyun! Pria itu benar-benar sudah membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan dari pertandingan Baseball hari ini dimulai.
             “Kyuhyun Oppa....” Hiu Hwi menghampiri keberadaan Kyuhyun yang kini hanya dapat terbaring lemah di atas sebuah ranjang inap ini. Kyuhyun tak menyahut, kedua sayup matanya tampak mengatup rapat dengan beberapa selang infus yang tersemat pada bagian tubuhnya. Hiu Hwi tak dapat berbuat apa-apa lagi, ia benar-benar menyangsikan jika ini semua adalah kesalahannya.
             “Dia tidak apa-apa Hwi-ya, kau tidak perlu kuatir,” Yesung menepuk bahu kiri Hiu Hwi sejenak, bermaksud untuk setidaknya menenangkan kekalutan yang melanda gadis itu.
             “Kyuhyun hanya perlu istirahat dengan cukup. Demamnya memang sangat tinggi, tapi Dokter mengatakan jika suhu tubuhnya pasti akan berangsur-angsur membaik. Tangan kanannya juga begitu. Sekalipun dia sudah melakukan sebuah kebodohan hingga hampir berujung fatal, tapi kau harus percaya Hwi-ya, semuanya akan baik-baik saja.” Lanjut Yesung yang kini membuat Hiu Hwi dapat bernafas dengan lega. Ditatapnya lekat wajah pucat Kyuhyun dengan perban yang melingkar pada bagian lengan tangan kanannya itu. Bodoh? Kyuhyun memang benar-benar sudah bertindak bodoh.
             “Syukurlah…, aku benar-benar takut,” Hiu Hwi menitikan air matanya lagi seraya berusaha untuk menyentuh tangan kanan Kyuhyun saat ini. Tampak membengkak, Hiu Hwi benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya saat tadi Kyu menahan semua itu seorang diri.
             “Aku … aku rasanya ingin pingsan saja melihatnya seperti tadi. Sangat mengerikan, membuatku sangat takut.” Nada suara dan tubuh Hiu Hwi tampak senada bergetar hebat sekarang, membuat Heechul menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Begitu pula dengan Khazuma, ia benar-benar tak menduga, jika Kyuhyun seakan terlihat begitu berharga dimata Hiu Hwi.
             “Kau sepertinya juga harus istirahat Noona,” Khazuma sentak bersuara. Namja Jepang itu nampak kembali berbaring di atas ranjang inapnya tepat di samping Kyuhyun. Ranjang inap? Tepat sekali! Sepertinya, Hiu Hwi baru menyadari, jika Khazuma juga tengah menjadi pasien di Rumah sakit ini.
             “Ka … kau … kenapa kau juga berbaring disana?” Hiu Hwi mengernyitkan dahinya bingung pada keadaan Khazuma sekarang. Bukankah tadi dia baik-baik saja? Lalu kenapa….
             “Tsk, bocah Pahlawan ini benar-benar merepotkan! Dia muntah banyak sekali saat perjalanan kami menuju kemari. Huhh….” Cibir Yesung sedikit kesal. Sungguh, Khazuma benar-benar sudah membuatnya tampak tak berselera makan lagi hari ini.
             “Eh?”
             “Nde, Noona. Setiap kali muntah, badanku akan terasa lemas. Setelahnya aku pasti demam. Ck, tapi ini juga bukan sepenuhnya salahku. Pria yang tak jelas itu menyupir mobil dengan seenaknya. Aku rasa, dia juga sudah menjebol batas maksimum kecepatan mobil selama ini. Yang benar saja, baru kali ini aku merasakan naik mobil seperti naik halilintar. HUH!”
             “Pria yang menyupir mobil?” tanya Hiu Hwi dengan sedikit kikuk. Hiu Hwi sebenarnya sudah tau siapa itu. Namun entahlah, ia hanya ingin memastikannya saja. Kim Heechul … pria itu sepertinya sudah tak terlihat lagi berada di dekat pintu.
             “Supirmu yang telah membawa kami kemari.” Ucap Yesung tersenyum manis. Hiu Hwi sedikit merunduk, ia mulai merasa bersalah terhadap Heechul saat ini. Bukan apa-apa, semenjak kejadian pertengkaran yang terjadi pada waktu itu, Hiu Hwi merasa sudah terlampau berbuat jauh terhadap Heechul. Bahkan ia sampai memohon pada Appa-nya untuk memecat pria itu hanya karna alasan rasa tak sukanya akan sikap Heechul yang sangat mengekangnya selama ini.
             Sekalipun ia sangat terlihat membenci Heechul, tapi masih ada sebuah rasa dimana Hiu Hwi terkadang juga membutuhkannya. Tak gadis itu pungkiri memang, jika selama ini hanya Heechul lah satu-satunya orang yang berani membentaknya dengan benar, menjaganya dan terutama berada disisinya kapanpun dan dimanapun itu. Setidaknya, sejak Heechul mulai menjadi Supir pribadinya , Hiu Hwi merasa tak kesepian lagi.
              Dari penampilan luarnya, Heechul sepertinya memang terlihat seperti seorang Mafia yang sangat berbahaya. Namun disisi lain yang tak diketahui orang lain, pria itu sama sekali lebih rapuh dari yang semua orang bayangkan. Ia bukanlah pemuda kuat, tapi kehidupannya lah yang memaksanya untuk terlihat kuat.
              “Huhh….” Heechul menghembuskan nafas panjangnya seraya menyandar di dinding putih Rumah sakit ini. Kedua matanya tampak mengatup, seakan mencari sedikit ketenangan disana. Sejujurnya, Heechul benar-benar sangat ingin meminta maaf pada Hiu Hwi. Ia tak ingin gadis itu merasa ini adalah kesalahannya. Yah, Heechul menyadari pada awalnya dialah yang menyebabkan semua ini terjadi.
              “Tuan Kim…,” pantau seseorang seketika, membuat Heechul segera menoleh ke arah samping. Tampak seorang gadis dengan rambut pirang ini sedikit mengatur nafasnya dengan perlahan. Kim Yura … Heechul masih sedikit mengingat akan nama sahabat dari Nona mudanya itu.
              “Kenapa ada di luar?” tanya Yura bersahabat. Jujur saja, gadis ini memang sedikit tertarik dengan Heechul sejak pertama kali mereka bertemu di acara Festival itu.
              “Aku tidak mempunyai hak untuk berada disana. Masuklah Nona Kim Yura, aku tidak apa-apa disini.”
              “Apa kau sangat menyayangi Hiu Hwi?” tanya Yura tiba-tiba mendekat, membuat Heechul sedikit terkejut.
              “Hemm?”
              “Aku bertanya, karna aku merasa jika kau sangat menyayanginya. Itu bahkan terlihat jelas dimatamu Tuan. Mendengar cerita-cerita tentangmu dari Hiu Hwi, aku merasa jika kau bukan hanya bertugas untuk menjadi Supirnya. Aku bukan ingin terlalu ikut campur, tapi….”
              “Tentu saja aku sangat menyayanginya.  Dia … gadis kecil yang selama ini sangat aku rindukan. Setiap kali aku melihatnya, setiap itu jugalah aku mengingat seseorang. Aku rasa mereka sangat mirip, bahkan aku terkadang sangat ingin memeluknya,”
              “Eoh?”
              “Cah, itu tidak terlalu penting. Masuklah Nona, sampaikan salamku pada Nona Lee. Katakan…, jika aku benar-benar minta maaf. Hari ini, aku akan kembali ke Seoul. Sepertinya, aku sudah tak mempunyai alasan lagi untuk berada disini.”
              “Apa kau dipecat?”
              “Dipecat atau tidak, yang pasti aku tak bisa menjadi Supir pribadi Nona Lee lagi. Dia terlihat sekali menderita setiap kali aku berada di dekatnya. Aku sangat tau, ini keinginan Nona Lee selama ini. Dia benar, seharusnya aku tau diri.”
              “Tuan Kim….”
              “Aku akan kembali menjadi Asisten pribadi Tuan besar Lee seperti dulu. Aku rasa, itu lebih membuat Nona Lee tenang. Hummm…., Nona Kim apa boleh aku meminta tolong satu hal padamu?”
              “Mwo?”
              “Tetaplah menjadi sahabatnya,” Heechul mengelus puncak kepala Yura sekilas dan tersenyum manis. Sebuah senyuman yang selama ini jarang sekali ia perlihatkan. Yura terpaku, sekalipun kalimat Heechul tadi itu terdengar biasa, tapi entah mengapa ia merasa ingin menangis sekarang.
              “Dari kecil, dia selalu saja melakukan banyak hal seorang diri. Ajari dia tentang apa artinya seorang sahabat, dan bahagianya saat dapat melakukan banyak hal bersama-sama. Hummm…, sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara disini. Maafkan aku Nona Kim,” Heechul sentak membungkuk ke arah Yura seketika.
              “Ah…, aku harus pergi sekarang. Aku titip Hiu Hwi padamu selama ia disini Nona. Sepertinya, dia masih sangat sibuk di dalam, aku bahkan tidak sempat berpamitan padanya lebih dulu. Baiklah, sampai jumpa. Sampaikan salamku padanya.” Heechul kembali tersenyum dan membungkuk sekilas. Pria itu nampak berbalik, bersiap untuk berjalan pergi dari tempat ini. Yura mematung! Menatap punggung Heechul yang dengan cepat menjauh dari keberadaannya saat ini. Tatapannya nanar dan sedikit berair. Yura yakin sekarang, jika pria yang bernama Kim Heechul itu adalah pria yang baik. Sekalipun, ia pernah mendengar Hiu Hwi mengatakan jika Heechul pernah menjadi salah seorang Mafia di Jepang, tapi sekali lagi Yura yakin Heechul adalah orang baik. Entah darimana perasaan yakin itu bermula, tapi kali ini Yura merasakan melalui nalurinya yang paling dalam.
              “Yak! Hentikan tatapanmu itu!” Tandas seseorang seketika, membuat hampir saja Yura terlonjak kaget.
              “Ash, aku rasa kau benar-benar jelmaan jelangkung Kim Jong Woon-shi! Datang dan pergi selalu saja membuat semua orang kaget. Tidak bisakah, kau muncul dengan cara yang normal?”
              “Kau yang harusnya berpikir normal! Untuk apa kau menatapi pria itu dengan tatapan seperti itu, eh?”
              “Memangnya kenapa? Itu urusanku.”
              “Urusanmu adalah urusanku!”
              “Omo! Sejak kapan ada peraturan yang seperti itu, huh? Ah ya…, mumpung kita berada di Rumah sakit sekarang Jong Woon-shi. Bagaimana jika kau mencoba untuk memeriksan diri? Jja, sepertinya kau harus memeriksakan otakmu itu ke Dokter spesialis. Aku harap, tak tumbuh sarang makhluk halus disana.” Balas Yura dengan senyuman menang seraya masuk ke bangsal Rumah sakit ini untuk menemui Hiu Hwi. Yesung sedikit menggeram, tak biasanya ia sekesal ini.
              “Yak! Kim Yura, aku belum selesai bicara. Kau tidak boleh lagi menatap pria lain seperti tadi, itu sangat berbahaya. YAK…!”



***



‘Mendengarkan semua tentangmu
Adalah caraku untuk mencintaimu
Sederhana … tapi tidak sesederhana itu….’




              Sudah hampir setengah jam yang lalu, tampak suasana di ruangan putih ini benar-benar tak menentu. Entahlah, seperti ada yang memang tak beres disini. Semenjak Kyuhyun bangun dari alam bawah sadarnya itu, keadaan sengit nampak terasa jelas dari sudut-sudut tempat ini. Dari semenjak tadi, Hiu Hwi memang belum pulang ke rumahnya sama sekali. Ia lebih memilih tinggal dan menunggui Kyuhyun sampai sadar ketimbang ikut bersama Yura untuk pulang.
              “Kyuhyun Oppa, ini buahnya….” Riang Hiu Hwi seraya menyodorkan belahan buah apel untuk Kyuhyun. Dengan tampang yang sedikit manja, Kyuhyun membuka mulutnya dan memakan buah yang telah dikupas itu dengan perlahan. Keduanya terlihat mesra, seolah benar-benar tak perduli lagi akan keadaan sekeliling mereka saat ini. Khazuma Tetsuya … baiklah, ia sepertinya sudah menyimpan dua tanduk yang siap meledak-ledak kapanpun itu. Terutama, setiap kali ia melihat kedua insan anak manusia tak jauh darinya kini tengah saling tersenyum penuh arti. Khazuma tampak menekuk wajahnya, meremas-remas keras bantal Rumah sakit itu tanpa perasaan. Sampai….
              “AW … AW…!” Pekik Khazuma tak karuan sembari berguling-guling di atas ranjang inapnya  itu. Hiu Hwi terkesiap, ia sedikit terkejut sebenarnya.
              “Khazuma, waeyo? Apa kau tidak apa-apa?” tanya Hiu Hwi yang sentak saja berdiri dan menghampiri tempat Khazuma sekarang. Namja Jepang itu menyeringai seketika.  Sedang Kyuhyun? Sepertinya, ia hanya dapat mendengus sebal ke arah Khazuma saat ini.
              “Noona, punggungku sakit sekali. Dan ini … sepertinya aku merasakan ingin muntah lagi,”
              “Eoh, jeongmal? Khazuma kau tenang sebentar, ne? Noona akan memanggil Dokter du….”
              “Aniyo, jangan panggil Dokter Noona. Aku … sebenarnya aku hanya ingin memakan jeruk. Apa Noona … mau mengupaskannya untukku?"
              “Nde?”
              “Ash…! Ini karna aku kemarin menolong seseorang sampai keadaanku sekarat seperti ini. Bahkan, untuk mengupas jeruk saja aku merasa sangat lemah sekali.” Khazuma memasang wajah menderitanya sekarang, membuat sukses Hiu Hwi menatapnya penuh rasa bersalah. Entahlah, Kyuhyun sendiri benar-benar tak habis pikir, ini sudah ke10 kalinya Khazuma berucap seperti itu. Sepertinya sekarang, pertolongan yang ia berikan kemarin itu benar-benar menjadi alasan dan umpan utama namja itu untuk menarik perhatian Hiu Hwi.
              “Baiklah, Noona akan mengupaskannya untukmu.” Balas Hiu Hwi seraya mengambil sebuah jeruk dan mengupasnya seperti permintaan Khazuma. Namja itu terkekeh, tampak ia mencari kesempatan yang baik untuk sedikit berdekatan dan menyentuh tangan Hiu Hwi. Kyuhyun menghela nafasnya kasar. Sepertinya, Khazuma senang sekali mendengar dengusan kesal Kyuhyun itu.
              “Ini makanlah Khazuma. Tanganmu tidak terluka, kau bisa memakannya sendiri, bukan?” Hiu Hwi kembali berdiri dengan senyumannya. Gadis itu memang sudah berjanji untuk menjaga kedua namja ini sekaligus.
              “Tapi….” Baru saja Khazuma hendak mencegatnya, Hiu Hwi sudah lebih dulu berjalan untuk menghampiri tempat Kyuhyun lagi sekarang. Khazuma sedikit kecewa, kenapa juga ia tak membuat cidera tangannya itu kemarin seperti Kyuhyun. Benar! Ia benar-benar menyesal!
              “Oppa, kau masih mau buah lagi?” Hiu Hwi menggerakkan tangan kanannya menuju dahi Kyuhyun, bermaksud untuk memeriksa kembali suhu tubuh namja itu. Masih terasa panas, demam Kyuhyun sepertinya hanya turun sedikit dari kemarin.
              “Tidak, aku tidak ingin apa-apa.” Balas Kyu seraya memegang tangan Hiu Hwi yang kini masih berada di dahinya. Khazuma lagi-lagi mengeluarkan asap, ia benar-benar tidak  suka sekali akan pemandangan di sampingnya ini.
              “Huaaaaaa…, Noona sepertinya aku harus di operasi! Aku merasa tubuhku panas sekali sekarang.” Pekik Khazuma yang lagi-lagi membuat Hiu Hwi menghampirinya. Mau tak mau, Kyuhyun harus melepas gengamannya itu dari ditangan Hiu Hwi. Sungguh, jika saja ia bisa menjangkau pisau yang berada di atas nakas meja disini, Kyuhyun pasti sudah berniat untuk menyodorkannya ke arah Khazuma.
              “Operasi? Memangnya kenapa harus sampai di operasi? Khazuma, kau ini jangan bicara yang macam-macam.” Hiu Hwi sentak meletakkan tangannya ke dahi Khazuma, ia terlihat sedikit kuatir memang.
              “Aku tidak macam-macam, Noona. Aku memang merasa sangat sakit sekali.” Rengek Khazuma seraya kini memegangi tangan Hiu Hwi untuk terus menyentuh dahinya. Tidak terlalu panas sama sekali, Hiu Hwi mulai mengernyitkan dahinya bingung sekarang.
              “Kalau begitu, lebih baik kau istirahat saja.”
              “Tapi Noona, aku merasa….”
              “Sebaiknya kau mati saja sekalian bocah.” Timpal Kyuhyun dengan nada sengit. Khazuma memasang tampang tertindasnya lagi sekarang, ia berniat untuk kembali mengambil perhatian Hiu Hwi Dari Kyuhyun.
              “Aku … bagaimana jika aku memang benar-benar akan mati?” Khazuma merunduk dengan sedihnya. Hiu Hwi tercenang untuk sesaat, ia benar-benar bingung harus bagaimana.
              “Tsk! Berlebihan sekali!” Sungut Kyuhyun seraya kembali berbaring dan berusaha untuk menghadap ke arah samping saja untuk memunggungi Khazuma dan Hiu Hwi saat ini. Entahlah, tiba-tiba saja ia merasa kesal tak karuan.
              “Hyung, karna kau punggungku sakit. Apa Hyung sadar, jika akulah yang membantumu sampai bisa berada disini. Aku sudah membelamu di depan banyak orang, dan merendahkan diriku sendiri. Rasanya, aku benar-benar merasa sakit Hyung mengabaikan semua pengorbananku itu,” rutuk Khazuma dengan nada tersiksanya, membuat Kyuhyun segera menutup telinganya dengan bantal. Lagi-lagi namja itu mengungkit hal ini.
              “Noona, jika nanti aku ma….”
              “Yak! Khazuma kau ini bicara apa? Berhentilah berbicara seperti itu. Sekarang tidurlah, kau harus banyak-banyak istirahat untuk mengembalikan semua energimu, hem….” Hiu Hwi menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Khazuma saat ini.
              “Bisakah Noona tetap disini sampai aku tidur? Aku … aku tidak bisa tidur, jika tak memegang sesuatu,”
              “Mwo?”
              “Ma … maksudku … biasanya aku memegang mainan mobil kesukaanku sebelum tidur. Tapi sekarang, sepertinya mau tak mau aku harus memegang tanganmu saja Noona,”
              “Nde? Ta … tapi….”
              “Aighoo…, buruk sekali nasibku ini.” Sela Khazuma dengan rengutan wajahnya itu. Lagi-lagi, rengekan namja ini sukses sekali membuat Hiu Hwi mengalah.
              “Baiklah, aku akan memegang tanganmu sampai kau tidur.” Hiu Hwi sentak menggenggam tangan Khazuma, mengelusnya singkat agar namja itu cepat tertidur. Kyuhyun mulai berkomat-kamit tak jelas sekarang. Ia benar-benar merasa Hiu Hwi kelewat polos, hingga mau-maunya dibodohi oleh Khazuma seperti itu.
              “Noona, biasanya sebelum tidur. Eomma-ku juga menciumku lebih dulu, jika tidak seperti itu aku pasti akan mimpi buruk. Hummm…, maukah Noona menciumku juga sedikit?”
              “MWO?”
              “Di dahi ini saja Noona. Aku … aku takut sekali mimpi buruk. Bagaimana jika nanti itu malah berakibat dengan kondisiku? Bisa-bisa keadaanku ini akan semakin memburuk.” Khazuma berucap itu dengan tampang yang sangat serius. Sungguh, membuat Kyuhyun yang mendengarnya sentak saja gamam.
              “Tapi Khazuma … hummm … aku….”
              “Jika Noona tidak mau juga tidak apa-apa, biarkan saja aku mimpi buruk dan….”
              “Andwe! Ash, arasseo. Tapi setelah ini, kau berjanji untuk diam dan tidur, ne?”
              “Ohk! Tentu saja Noona!” Balas Khazuma bersemangat. Kyuhyun semakin gamam dibalik bantalnya itu. Apa-apain ini? Kenapa Hiu Hwi malah mau melakukannya? Dengan sekali hentakan cepat, Kyuhyun membanting bantalnya itu dan duduk si atas ranjangnya, membuat Hiu Hwi terlonjak.
              “Mwo? Ada apa Hyung? Kau sulit untuk tidur juga?” Khazuma tampak memperlihatkan senyum tanpa dosanya itu pada Kyuhyun.
              “Yak! In … ini Rumah sakit! Kalian tidak boleh berbuat mesum disini!”
              “Kami juga tau ini Rumah sakit Hyung. Tapi, bukankah tidak ada larangannya untuk berciuman disini? Lihat, hanya ada larangan untuk jangan merokok.” Khazuma kembali tersenyum menang. Baiklah, rasanya Kyuhyun ingin sekali mencetuskan vas bunga yang ada disini ke arah namja Jepang itu.
              “Ta … tapi tetap saja tidak boleh!” Hentak Kyuhyun seketika. Hiu Hwi tercenang mendengarnya.
              “Apa ada masalah dengan itu, Hyung? Kenapa kau seolah iri sekali padaku? Ah, apa kau cemburu?”
              “MWO? Ak … aku … aku….”
              “Hahaha…, kalau memang tidak cemburu, santai saja seperti pasien yang lainnya Hyung.”
              “Yak! Kau…” Kyuhyun dengan cepat berdiri dan hendak menghampiri tempat Khazuma saat ini. Hiu Hwi sedikit panik, Kyuhyun seharusnya tak boleh terlalu banyak bergerak seperti itu. Apalagi, tangan kanannya masih tampak membengkak dalam perban yang tengah membalutnya kini.
              “Kyuhyun Oppa, sebaiknya kau….”
              “Biar aku saja yang melakukannya.”
              “MWO?”

CUP

              Tanpa diduga sebelumnya, Kyuhyun sontak saja mencium dahi Khazuma dengan cepat. Bukan hanya Hiu Hwi yang kini membuka mulutnya lebar tak percaya, tapi juga Khazuma yang nyaris saja jantungan mendadak. Dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun, Kyuhyun pun duduk di samping Khazuma dan menggenggam tangan namja itu seketika. Tegangan tubuh Khazuma yang tengah meninggi sekarang, kini tampak terasa semakin meninggi tak menentu. Sepertinya, setelah ini ia benar-benar akan demam tinggi.
              “Kau perlu apa lagi Khazuma? Bukankah kau disini karna aku? Setidaknya, akulah yang harus bertanggung jawab atas semua itu. Apa aku perlu mencium bibirmu juga?” Kyuhyun menatap Khazuma dengan pelototan yang mengerikan. Khazuma ingin sekali menarik tangannya yang berada digenggaman namja setan mengerikan ini sekarang. Namun sayang, tangan kiri Kyuhyun cukup erat meremas jemarinya.
              “Hyung! Kau tak perlu melakukan apapun, cepat kembali ke tempatmu saja sekarang.”
              “Tidak! Kau harus tidur lebih dulu, baru bisa aku tenang.”
              “Baiklah! Aku akan tidur.” Khazuma mendengus dengan kesal. Mau tak mau, ia harus mengatupkan kedua matanya itu sebelum Kyuhyun melakukan tindakan yang dapat membuatnya merinding lagi. Yang benar saja, seumur hidupnya baru kali ini ia dicium oleh seorang pria!
              Hening! Untuk beberapa detik, ketiga orang ini tak menyuarakan apapun. Khazuma terlihat berusaha untuk tidur dengan cepat. Tampak jelas goresan merah di bawah matanya itu tak kunjung hilang. Sungguh, ia sangat merasa risih akan genggaman tangan Kyuhyun di jemarinya itu. Ini Mengerikan!
              “Oppa, kau baik-baik saja?” Hiu Hwi duduk di sebelah Kyuhyun seketika, memperhatikan wajah pucat namja itu dengan seksama. Sekalipun seperti ini, ketampanan namja bermarga Cho ini tetap saja terpancar nyata.
              “Aku baik-baik saja.”
              “Sebaiknya Oppa istirahat juga, biar aku yang….”
              “Tidak! Sepertinya, kau memang ingin sekali memegang tangan Khazuma.”
              “Aniya, Bu … bukan begitu. Aku hanya tak ingin kondisi Oppa juga kembali turun.”
              “Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah tidur sepanjang hari ini. Aku lelah bersandar disana....” Kyuhyun menempatkan kepalanya pada bahu Hiu Hwi sekarang. Entahlah, Kyuhyun merasa jauh lebih nyaman berada di sandaran gadis itu. Sesekali, Kyuhyun menggeliatkan tubuhnya dan meletakkan semakin dalam kepalanya pada leher jenjang Hiu Hwi, membuat gadis bermata bulat itu hanya dapat menahan nafas tak karuan.
              “Aku tak suka … kau bersentuhan dengan orang lain,” Kyu berbisik dengan nafas berat seraya memejamkan matanya perlahan.
              “Mwo?”
              “Hummm….” Kyuhyun tak bersuara lagi sekarang. Ia hanya menghembuskan hawa panasnya di leher Hiu Hwi dan kembali mendekatkan sandarannya pada bahu gadis itu.
              ‘Kyuhyun Oppa….’
              Gumam Hiu Hwi tersenyum seraya mengelus rambut depan Kyuhyun yang nampak tergerai ke depan. Satu harapan Hiu Hwi … semoga hubungannya dengan Kyuhyun akan terus berjalan dengan baik seperti sekarang.
              Rasanya … pemandangan ketiga orang ini benar-benar sangat aneh terlihat. Dengan Kyuhyun dan Khazuma yang saling berpegangan tangan, kepala Kyuhyun yang nampak bersandar dibahu Hiu Hwi. Sungguh, mungkin akan ada banyak orang yang akan salah paham dengan keadaan posisi mereka seperti itu. Yah, layaknya posisi 3 cinta yang terlarang. Haks!



***



                Langit menjemu biru, memancarkan warnanya untuk membantu sang mentari menerangi bumi. Tak ada jejak langit akan menghitam hari ini, semuanya terlihat cerah dengan kehangatan sinar yang membaur damai. Indah … tampak alam turut bersatu dengan riang dan begitu terasa tenang.
              “HORE…!” Pekikan itu menggema hebat dilapangan hijau pertandingan Baseball musim ini. Semuanya bersorak ramai! Nampak juga beberapa orang mulai turun dari kursi penonton untuk membaur bersama Tim kemenangan mereka masing-masing. Ada yang berteriak, bersujud, dan melompat-lompat tak karuan. Sungguh, semuanya terlihat sangat menyenangkan. Akhirnya, Turnament antar Sekolah di Korea selatan ini telah berakhir dengan baik.
              “Hiu Hwi-ya..., kau melihatnya? Wah, tim Sekolah kami menang. Ku akui, Khazuma memang sangat hebat!” Ucap Yura terlihat histeris melalui sebuah layar televisi yang berada di ruangan kamar inap Rumah sakit ini. Hiu Hwi tersenyum, diliriknya Kyuhyun yang nampak menunjukkan ekspresi datarnya semenjak tadi. Memang, hari ini adalah hari pertandingan akhir dari pertandingan Baseball yang sempat dibatalkan tempo lalu. Semenjak kemarin, Khazuma memang sudah keluar dari Rumah sakit dengan jemputan keluarga besarnya. Dan sekarang, tanpa kehadiran Kyuhyun yang notabene masih harus dirawat itu, pertandingan Baseball musim ini benar-benar sudah berakhir. Dan hasil akhirnya adalah … tentu saja, Gwangye Hight School lah yang keluar sebagai pemenang. Yah, sekalipun hanya selisih 1 point saja.
              “Hummm…, mungkin musim depan, Sekolah kita lah yang bisa memegang trophy kemenangan itu,” Hiu Hwi berujar dengan hati-hati, bermaksud untuk sedikit menghibur hati Kyuhyun sekarang. Ia sedikit takut namja itu tersinggung atau merasakan perasaan buruk. Toh, selama ini ia tak pernah absen untuk ikut pertandingan. Tapi sekarang … ia bahkan harus melihat Tim nya kalah.
              “Eungghh…, mungkin juga musim depan, Sekolah kita….”
              “Bocah itu sepertinya memang memiliki bakat dalam olahraga ini,” potong Kyuhyun seraya tetap fokus pada layar di depannya itu. Semenjak Khazuma keluar, Kyuhyun memang dipindahkan ke ruangan sendiri sebagai permintaan Pelatihnya.
              “Nde?”
              “Khazuma Tetsuya, dia memang bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Dia licik dan sangat licin.” Kyuhyun tetap pada posisinya. Apa tadi Hiu Hwi tak salah dengar? Apa perkataan Kyuhyun itu bermaksud untuk memuji Khazuma?
              “Yah, dia juga orang yang sangat aktif sekali. Ckckckck, dimanapun dia berada, sudah pasti tempat itu akan jauh terasa lebih ramai.” Hiu Hwi tersenyum kecil seraya memandangi Khazuma yang tengah berlari kesana kemari dengan riangnya dilayar itu. Hiu Hwi belum menyadari, jika sekarang Kyuhyun kini tengah menatapinya dengan raut tak suka.
              “Ash….” Tanpa banyak bicara lagi, Kyuhyun dengan cepat mematikan layar Televisi itu seketika. Hiu Hwi terkesiap, ia segera menoleh ke arah Kyuhyun dengan ekspresi bingung.
              “Kenapa dimatikan?”
              “Pertandingannya sudah selesai, mau apa lagi? Aku ingin istirahat! Jika kau memang masih ingin menatapi muka bocah tengik itu, kenapa kau tidak menghampirinya ke Sekolah saja sekarang? Kenapa masih menungguiku disini, huh!” Kyuhyun memalingkan wajahnya dari Hiu Hwi saat ini. Entah mengapa, semakin lama Kyu merasa jika ia semakin aneh.
              “Kau kenapa Oppa? Apa ada yang salah?” tanya Hiu Hwi berdiri dan hendak menghampiri Kyuhyun. Namja itu tak menjawab, ia mulai kembali menunjukan sikap dinginnya itu pada Hiu Hwi.
              “Apa masih merasa pusing?” Hiu Hwi kembali mengambil sebuah handuk putih itu dan meletakkannya ke dahi Kyuhyun. Sebenarnya, jika hanya demam saja, mungkin Kyuhyun akan lebih memilih untuk pulang. Namun apa daya, tangan kanannya masih memerlukan pemeriksaan berlanjut.
              “Panasnya sudah mulai turun.” Riang Hiu Hwi seraya memegangi handuk putih itu di dahi Kyu. Namja itu hanya menoleh ke arah Hiu Hwi sepintas, lalu kembali fokus untuk menatap langit-langit kamar ini.
              “Pulanglah…,” desah Kyuhyun seketika.
              “Mwo?”
              “Sudah dari hari kemarin, kau selalu menemaniku disini. Apa … Supirmu itu tidak kuatir?” Hiu Hwi sentak diam mendengar perkataan dari Kyuhyun kali ini. Kepala gadis itu seidkit merunduk, ia kembali sadar dengan kepergian Heechul ke Seoul.
              “Dia sudah tidak menjadi Supirku lagi,”
              “Mwo?”
              “Tidak usah dipikirkan, masalah seperti ini tak terlalu penting. Aku tidak apa-apa, aku … aku senang berada disini menemanimu Oppa. Aku benar-benar merasa tidak enak padamu. Karna aku, kau jadi seperti ini. Setidaknya, biarkan aku menebus semua kesalahanku itu.”
              “Siapa yang mengatakan, jika ini semua adalah kesalahanmu, huh? Bukankah sudah kukatakan, jika ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu? Cah, sekarang pulanglah. Aku masih bisa mengurusi diriku sendiri disini.”
              “Aku tidak mau,”
              “Yak!”
              “Aku tidak akan pergi, sebelum kondisimu memang benar-benar sudah stabil!” Hentak Hiu Hwi berbalik memunggungi Kyuhyun. Gadis itu nampak tak main-main dengan ucapannya.
              “Huhhh…, terserah kau saja! Aku berharap, setelah aku membuka mataku lagi, kau sudah tak ada disini!” Kyuhyun nampak mengarahkan kepalanya ke arah samping, memejamkan matanya untuk kembali tertidur. Hiu Hwi merundukkan kepalanya sejenak, ia sedikit kecewa mendengar lontaran Kyuhyun kali ini. Entah mengapa pria itu seolah ingin sekali ia pulang, seakan ia benar-benar sudah bosan menatapi kehadiran Hiu Hwi sepanjang hari.
              “Aku tau … kau pasti muak denganku Oppa.” Lirih Hiu Hwi pelan, namun tetap saja masih dapat Kyuhyun dengar dengan jelas. Pria itu membuka lagi matanya sesaat, lalu menghembuskan nafas untuk berusaha tertidur lagi.
              “Pulanglah … pulanglah….”



***



              Tak ada yang dapat banyak dilakukan lagi oleh namja berkulit seputih susu ini, selain terbaring di atas ranjang inapnya. Cho Kyuhyun … ia akui jika ia memiliki tubuh yang mudah sekali terserang flu dan demam. Bahkan disaat-saat seperti ini sekalipun, tak ada orang lain yang akan menemaninya. Yah, kecuali seorang gadis yang bermarga Lee itu.
              “Hummmm…,” Kyuhyun nampak bergumam seraya mengedarkan pandangannya ke arah sudut-sudut ruangan ini. Hari sudah cukup larut, terasa benar-benar sangat cepat. Setelah tadi ia sempat bangun dengan melihat Hiu Hwi masih ada dan duduk diam di sisinya. Lalu sekarang? Kyuhyun tak melihat lagi batang hidung yeoja itu di sampingnya. Kyuhyun merunduk, menjangkau handuk putih itu untuk ia lepaskan dari dahinya.
              Senyap dan sepi … itulah yang kini dapat mendeskripsikan keheningan yang terjadi di dalam ruangan putih ini. Kyuhyun tampak berusaha bangun, ia duduk dengan sesekali memegangi pelipisnya yang masih sedikit berkedut nyeri. Kepalanya menoleh ke samping kanan, menatapi kursi kosong yang biasanya menjadi tempat duduk Hiu Hwi untuk menatapinya ketika tidur.
              “Jadi … kau benar-benar pulang?” Kyuhyun tampak bertanya pada dirinya sendiri. Namja itu kembali menghela nafas kecewa. Sejujurnya, ia tak benar-benar ingin Hiu Hwi pulang dan meninggalkannya sendiri disini. Tapi … entahlah! Kyuhyun tak ingin kelak semakin membutuhkan gadis itu.
              “Huh!” Kyuhyun termangu seraya menatapi sinar bulan dari arah luar jendela. Seperti ini lagi hidupnya; sendiri. Bahkan mungkin, Kyuhyun yakin keluarganya tak mengetahui jika ia sedang berada di Rumah sakit sekarang. Seperti saat ia tinggal di Annyang, tak ada yang memperdulikan keberadaannya.
              Kyuhyun kembali ingin berbaring, bersiap untuk menunggu seorang Perawat yang akan datang kemari. Diliriknya lekat tangan kanannya yang tampak kaku dalam bungkusan perban itu. Hampir saja ia kehilangan tangan emasnya ini.
              “Hoaammm….” Kyuhyun sedikit terperanjat kaget saat seketika mendengar aungan yang berada di ruangannya ini. Namja itu kembali duduk, tampak mencari sumber suara yang mengerang tadi.
              “Eh?” Kyuhyun menyipitkan matanya untuk memperjelas apa yang kini ia lihat sekarang. Ruangan ini agak sedikit meremang memang. Nampak sesuatu yang terbalut dengan selimut hitam tebal itu bergerak-gerak di atas sofa panjang yang  berada di tempat ini. Kyuhyun mengernyit, ia benar-benar tak percaya saat selimut hitam itu jatuh ke lantai. Lee Hiu Hwi … Kyuhyun seketika tersenyum melihat kebodohan gadis bermarga Lee itu. Entahlah, Kyu bahkan benar-benar tak habis pikir kenapa Hiu Hwi masih berada disini dan malah tertidur di sofa itu.
              “Dasar idiot!” Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Sejujurnya, ia sangat senang menyadari gadis itu tak pulang dan pergi kemana-mana. Dengan sedikit antusias, Kyuhyun dengan cepat bergerak dan hendak berniat untuk menghampiri Hiu Hwi yang kini nampak lelap sekali tertidur. Lelah … tentu saja gadis itu tampak sangat lelah akhir-akhir ini.
              “Dasar gadis keras kepala! Kau ini benar-benar…,” Kyuhyun menjitak pelan dahi Hiu Hwi yang terlihat sangat amat polos sekarang. Kyuhyun terpaku, ia sedikit terharu akan perhatian dan perlakuan Hiu hwi terhadapnya. Selama ini, belum pernah ada yeoja manapun yang memperhatikannya sampai seperti ini.
              “Gomawo…,” bisik Kyuhyun tepat ditelinga Hiu Hwi, membuat gadis itu tampak menggeliat sejenak. Entah ada apa ini, Kyuhyun benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh wajah Hiu Hwi sekarang. Dengan perlahan, Kyuhyun yang menjongkok itupun tampak membelai wajah Hiu Hwi, menyingkirkan helaian rambut depan gadis itu yang menutupi setengah wajahnya.

CUP!

              Pria itu mengecup singkat bibir Hiu Hwi dengan lembut, menyalurkan kegemasan yang saat ini melandanya akan gadis itu. Kyuhyun terdiam menyadari perbuatannya tadi, seakan ia melakukan itu tanpa ia sendiri sadari. Rasanya aneh, Kyu bahkan ingin sekali memeluk tubuh Hiu Hwi yang terlihat tengah kedinginan sekarang.
              “Kau tau Lee Hiu Hwi? Kau itu … milikku!” Bisik Kyu tersenyum miring. Hiu Hwi sama sekali tak mendengarnya. Gadis itu tampak lebih sibuk dengan dunianya yang tengah beristirahat, melayang bersama mimpi dan angan-angan yang indah.



***



‘Cinta adalah…
Ketika kita merasakan suatu getaran rasa
Yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata….’




               “Eunghh…,” lenguh seseorang tatkala ia merasakan tubuhnya sulit sekali untuk digerakkan. Ada sesuatu yang seolah menahan setiap bagian tubuhnya. Entah apa itu, tapi benar-benar terasa berat sekali. Lee Hiu Hwi … gadis ini merasa ada sesuatu yang seakan tengah mengikat tubuhnya pagi ini. Pagi? Sepertinya, Hiu hwi bahkan belum menyadari jika Matahari sudah mulai kembali hendak beranjak naik ke singgah sananya.
               “Jam berapa in…,”
               “ARGH…!” Belum sempat Hiu Hwi hendak menggeliat lebih lama lagi, seseorang sudah lebih dulu berteriak nyaring. Kedua mata Hiu Hwi yang tadinya tertutup, kini sontak saja membulat dengan sempurna. Tubuhnya tak bergarak, Hiu Hwi baru menyadari jika sekarang ada seseorang yang berada dibelakang tubuhnya.
               “Apa kau ini tak bisa bergerak dengan biasa saja, heng? Tangan kananku masih sakit!” Pekik orang itu tak terima. Hiu Hwi masih diam, ia kenal betul siapa pemilik suara merdu ini.
               “Kyu … Kyuhyun Oppa … ka … kau….”
               “Jangan banyak bergerak lebih dulu. Huhhh…, dari semalam aku benar-benar kuatir pada tanganku ini karnamu,”
               “Nde?” Hiu Hwi sentak memutar kepalanya ke belakang, membuat kini wajahnya dan Kyuhyun sangat amat begitu dekat. Sungguh, Hiu Hwi benar-benar tidak bisa membayangkan, jika semalam mereka tidur bersama di atas sofa yang berukuran sedang ini. Dan lagi … owh … sekarang Hiu Hwi dapat merasakan jika tubuhnya benar-benar bersentuhan dekat dengan tubuh Kyu. Bukankah ini tidak benar? Hiu Hwi yang sentak sadar akan posisi mereka itu pun dengan cepat hendak turun dari sofa ini. Namun sayang….
               “Kau mau kemana, heh?” Kyuhyun dengan cepat menyegah Hiu Hwi dengan melingkarkan tangannya yang masih terbalut perban putih itu ke pinggang gadis itu. Hiu Hwi tak bisa bergerak, ia takut terjadi sesuatu pada tangan Kyuhyun lagi.
               “Oppa, tanganmu….”
               “Hari ini perbannya akan dibuka. Sepertinya sudah cukup membaik, bahkan aku sudah bisa menggerakkannya seperti biasa. Yah…, sekalipun masih terasa agak sedikit kaku.” Kyuhyun berucap itu seraya menggerakkan jemarinya dengan perlahan. Hiu Hwi tersenyum, ia benar-benar senang mendengarnya.
               “Syukurlah! Kalau begitu, aku akan mema….”
               “Tetaplah disini, kau ini kenapa tidak bisa diam, huh?” Kyuhyun mengangkat sebelah kakinya hingga kini tampak mengapit kedua kaki Hiu Hwi. Yeoja itu membeku! Ia benar-benar merasakan jantungnya terpompa dengan gerakan yang sangat cepat.
               “A … aku … aku….”
               “Bagaimana tidurmu semalam? Kau tampak kedinginan seperti orang idiot. Yak! Bukankah kemarin aku sudah mengatakan padamu untuk pulang? Dasar bodoh!”
               “A … aku tidak bisa! Lagipula, kenapa kau juga ikut tidur di sofa ini? Kenapa kau lebih memilih untuk tidur di tempat dengan ukuran sempit dan tak nyaman seperti ini? Bukankah kau masih sakit? Kau bahkan malah membiarkan ranjangmu itu kosong! Siapa yang bodoh sekarang?” tandas Hiu Hwi dengan tone suara yang sedikit meninggi. Kyu diam, ia seperti seorang anak kecil yang tengah diteriaki oleh sang Ibu.
               “Bagaimana jika kondisimu kembali memburuk? Dan bagaimana jika semalam aku dapat membuat tanganmu ini….”
               “Karna aku sangat ingin memelukmu,” sela Kyuhyun cepat.
               “Mmmw … mwo?”
               “Kau pikir aku akan dapat tidur dengan nyenyak, jika aku melihatmu tengah kedinginan disini? Bodoh, bahkan semalam kaulah yang membuatku kuatir. Aku menyuruhmu untuk pulang agar kau dapat beristirahat. Tapi apa? Kau benar-benar sangat keras kepala sekali,”
               “Oppa…,”
               “Jika kau ingin aku baik-baik saja, maka kau juga harus baik-baik saja….,” Kyuhyun tampak mendekatkan kembali tubuh Hiu Hwi padanya, hingga kini kedua pipi putih mereka melekat dengan sempurna. Dapat Hiu Hwi rasakan, nafas Kyuhyun berhembus sangat dekat. Sepertinya, suhu tubuh namja itu kini sudah berada dititik normal, itu berarti demamnya sudah benar-benar turun.
               “Terima kasih….” Lanjut Kyuhyun singkat. Kata itu benar-benar terdengar sangat sederhana. Namun jujur saja, kata seperti itu sebenarnya jarang sekali ia lontarkan kepada orang lain. Singkat, tapi benar-benar mempunyai makna yang dalam.
               Untuk beberapa detik, nampak semuanya terdengar hening disini. Hiu Hwi tak bisa lagi menyembunyikan senyumannya itu sekarang. Entah kebahagiaan seperti apa yang ia rasakan kini. Namun yang jelas, ia benar-benar ingin terus tersenyum dengan lebar.
               “Oppa, sebaiknya kau kembali ke ranjang itu. Pasti sebentar lagi, Dokter akan datang untuk memeriksamu. Aku takut mereka akan salah paham, jika melihat kita seperti ini.”
               “Mereka sudah melihatnya semalam,”
               “MWO?”
               “Ash…, kau jangan berteriak-teriak!”
               “Jadi mereka … Lalu … lalu….”
               “Lalu apa? Ck! Memangnya apanya yang salah?”
               “Tentu saja sal….”
               “Bukankah, waktu itu kau sempat mengatakan jika kau adalah kekasihku, eh?”
               “Mmm ... mmmwo?”
               “Kalau begitu ... bagaimana jika aku juga mengatakan sekarang. Jika kau ... adalah kekasihku!”
               “HUH?”
               “Ingatlah Lee Hiu Hwi, kau tidak akan bisa menarik kata-katamu lagi. Kau … kau sendiri yang sudah memulai ini,” Kyuhyun dengan perlahan-lahan mengubah posisinya agar dapat melihat permukaan wajah Hiu Hwi dengan jarak dekat. Gadis itu hanya mengerjap-ngerjap polos dengan wajah pucat. Sungguh, wajah tampan Kyuhyun yang seperti inilah yang membuatnya dapat mati mendadak. Senyum Kyu itu! Ah, baiklah…, sangat mempesona sekali.
               “Kau ingin merasakan rasa obat yang sangat manis?”
               “Eoh?”
               “Huhhh, dasar idiot!” Terdengar Kyuhyun terkekeh kecil saat ini. Hiu Hwi terpaku mendengar tawanya itu. Bahkan, gadis itu tak menyadari jika kini Kyuhyun sudah menjangkau kedua daun bibirnya dengan gerakan cepat. Tak ada penolakan yang dilakukan Hiu Hwi. Seperti biasa, dia hanya akan terlihat shock atas apa yang dilakukan Kyuhyun saat ini. Persetan dengan perban yang masih membalut tangannya. Namja itu bahkan tak perduli lagi rasa nyeri dan kaku yang beberapa menit lalu masih ia rasakan. Yang terpenting untuknya sekarang adalah … Lee Hiu Hwi! Bahkan Kyu tak menyadari, jika jari jemarinya itu kini telah bermain dan menggenggam tangan Hiu Hwi untuk memintanya saling bertautan.
               “Tsk!” Kyuhyun menghentikan aktivitasnya sebentar dan tersenyum manis. Sungguh, ini kali pertama Kyuhyun tersenyum seperti itu pada Hiu Hwi. Kedua mata gadis itu tampak berkaca-kaca, seakan tak percaya dengan semua ini.
               “Jika kau menangis lagi, jangan salahkan aku jika kelak terjadi sesuatu padamu!” Ancam Kyu membuat Hiu Hwi sentak menahan laju air matanya. Gadis itu tersenyum dengan mata yang berbinar ke arah Kyu. Benar, betapa ia sangat mencintai pria dihadapannya ini.
               “Kau ini….” Kyuhyun menghentakkan kepalanya pada dahi Hiu hwi dengan cukup keras. Tentu saja, itu membuat Hiu Hwi berteriak dengan ringisannya seketika.
               “Apa kami mengganggu Tuan Cho?” tanya seseorang tiba-tiba, membuat sontak saja Kyuhyun dan Hiu Hwi beranjak untuk mengubah posisi mereka sekarang.  Ini memalukan! Tampak terlihat jelas goresan merah tercetak dikedua pipi Hiu Hwi sekarang. Satu hal yang kedua insan anak manusia ini lupakan … yah, mereka tengah berada di Rumah sakit!
             


=TBC=



NEXT PART



“Jangan … kumohon jangan menyentuhnya!”
“Kyuhyun Oppa….” Ringis Hiu Hwi ketakutan, saat kini para pemuda-pemuda itu mulai berniat menyingkap pakaian atasnya. Kyuhyun mengerang, picingan matanya benar-benar sangat mengerikan.
“YAK! JANGAN MENYENTUHNYA…!”


===


“Kau pikir kau siapa, HUH? Hiu Hwi diculik! Dia sahabatku! Aku tidak bisa diam saja disini, aku harus pergi un….”
“YAK! KIM YURA Tenanglah!” bentak yesung membuat Yura sentak diam. Baru kali ini Yesung membentaknya seperti itu.
“Minggir Kim Jong Woon! Apa hakmu untuk….”
BRAAKKK!


===

“Tuan Kim, Nona Lee….”
“BAJINGAN!” Heechul sentak menghempaskan ponselnya itu ke sembarang tempat.
“Jika kalian berani menyentuh Hiu Hwi-ku sedikitpun! Akan kubunuh kalian!” Gumam Heechul mengerang seraya mengambil beberapa pistol dan pisau yang selama ini bahkan tak pernah ia sentuh lagi.
“Siapkan helikopter untukku!”


===


“Mungkin, kita semua akan mati bersama disini, Hyung. Tapi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi pada Hiu Hwi Noona!”







Thank You!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar