_“BAD BOY!”_ Part. 9 [Kyu-Hwi School]
Tittle : “BAD BOY!”
Cast : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Khazuma Tetsuya
Rating : PG-17 / Straight
Genre : School Life
Don’t BASH... This Just For Fun!
“Aku tidak mau tau, kita harus BERKENCAN! Pulang Sekolah, aku akan menunggumu di Taman kota,”
“Mwo?
“Aku peringatkan padamu Lee Hiu Hwi, jika sampai kau tak datang ... mati kau ditanganku!”
“Mwo?” Hiu Hwi sentak mengerjap-ngerjap tak jelas sekarang. Sungguh, Kyuhyun seakan terlalu cepat berkata, membuatnya terlalu sulit untuk mencerna apa maksud dari namja itu. BERKENCAN? DENGAN CHO KYUHYUN?
This Story Original From @Jjea_

***
‘Ada banyak hal yang sulit untuk dilakukan di Dunia ini.
Tapi, diantara rasa suka dan benci...
Lebih sulit menahan rasa suka, daripada menahan rasa benci....’
_“BAD BOY!”_ Part. 9
* When it all began ... Firts Date *
Sudah semenjak tadi, gadis dengan kunciran kecil dirambut kirinya itu tampak memperlihatkan perubahan ekspresi wajah yang tak jelas. Ia lebih banyak melamun dengan terkadang tersenyum-senyum sendiri, seakan ia tak banyak perduli lagi dengan alam sekitarnya sekarang. Lee Hiu Hwi ... itulah nama gadis itu. Seorang gadis yang seolah tengah terkena Syndrom aneh yang melanda jiwa dan hatinya saat ini.
“Hiu Hwi-ya, kau baik-baik saja?” tanya Yura kuatir, mengingat sejak tadi seolah ada sesuatu yang salah pada yeoja itu. Sungguh, ini untuk yang entah keberapa kalinya Yura bertanya.
“Ashh...,” Hiu Hwi sentak menghentikan langkahnya dititik ini, menoleh kearah Yura dengan mata yang sedikit kebingungan. Aneh!
“Wae geurae? Apa ada yang salah? Hiu Hwi-ya, kau tau? Kau terlihat mengerikan sekarang! Terkadang matamu itu berbinar indah, terkadang lagi seperti orang frustasi. Waeyo?”
“Yura-shi, aku harus bagaimana?”
“Bagaimana apanya? Soal Kyuhyun?” tebak Yura, membuat Hiu Hwi tiba-tiba sentak mengangguk pelan dan merunduk malu.
“Apa dia masih mengacuhkanmu, eh? Kalau memang begitu, sebaiknya kau tidak usah memikirkannya lagi. Masih banyak pria yang jauh lebih tampan darinya untuk kau sukai, atau jika perlu aku yang—”
“Bukan soal itu. Tapi ... apa kau tau? Dia malah mengajakku berkencan!”
“Ya sudah kau teri ...,” perkataan Yura sentak tercekat dititik ini sejenak. Matanya membulat, seakan baru menyadari apa yang telah diucapkan oleh Hiu Hwi barusan.
“Eoh? Berkencan?” lanjut Yura mengerjap-ngerjap tak percaya. Bukankah kemarin-kemarin kedua orang itu sama sekali tak saling tegur menegur dan saling sapa? Lalu sekarang berkencan? Benar, tidakkah itu terdengar sedikit gila?
“Dia mengajakku berkencan nanti. Apa yang harus aku lakukan Yura-shi? Kenapa aku malah jadi takut seperti ini?”
“MWO? Jadi kalian benar-benar akan BERKENCAN?” pekik Yura seketika, membuat Hiu Hwi sontak saja mengangkat jari telunjuknya ke depan bibir, berharap jika gadis dihadapannya itu akan menurunkan tone suaranya sekarang.
“Yura-shi..., ash! Bisakah kau jangan berteriak? Kau ingin membuat semua orang tau, lalu para gadis-gadis itu memutilasiku, eh?”
“Mianhae, aku hanya sedikit terkejut. Yah, bukankah hubungan kalian akhir-akhir sangat terlihat jauh? Lalu, kenapa bisa sekarang berkencan?”
“Aku juga tidak mengerti dengan sifat namja itu. Tapi, saat istirahat pertama tadi, dia tiba-tiba saja menarikku, lalu mengajakku berkencan begitu saja.”
“Apa mungkin kali ini dia juga mempermainkanmu lagi?”
“Aku rasa dia serius. Bahkan, dia berteriak-teriak dan mengancamku saat mengatakan itu. Huhh..., tadi dia bahkan juga terlihat seperti bukan mengajakku berkencan, tapi lebih mirip seperti mengajakku tawuran.”
“Mwo? Hahahahaha,”
“Kenapa kau tertawa?”
“Hahaha ... aku hanya aneh saja pada kalian berdua. Lalu, apa yang kau bingungkan sekarang Hwi-ya? Bukankah ini memang harapanmu, eoh?”
“Tapi....”
“Berdandanlah dengan cantik. Berikan kesan yang baik dihari kencan pertamamu dengannya.”
“Eoh? Hummm..., aku mengerti. Ah ya, Yura-shi ... kalau begitu, aku pulang sekarang, ne? Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari ini. Terima kasih!” Ucap Hiu Hwi seraya tersenyum dan berlari untuk lebih cepat berjalan dari Yura. Gadis itu melambai sejenak, membuat Yura ikut tersenyum melihat tingkahnya. Sungguh, kedua yeoja ini seolah memiliki garis senyum yang hampir mirip.
“Kuharap, kencan pertamamu ini berjalan lancar Hiu Hwi-ya,” desah Yura yang lebih mirip dengan gumaman kecil itu. Kedua matanya tampak masih menatap lurus ke depan, memandangi punggung Hiu Hwi yang semakin menjauhinya.
“Ah ya, aku lupa sesuatu! Hiu Hwi-ya, kau tidak boleh memakai rok jika berkencan dengan pria semacam itu! Ash ... Hiu Hwi!” Pekik Yura seraya hendak berniat untuk mengejar langkah Hiu Hwi yang lumayan cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Namun sayang, langkah Yura sama sekali tak bisa ia gerakkan ke depan tatkala gadis itu merasakan, jika seseorang dengan tanpa rasa bersalahnya, memegangi tas selandang belakangnya cukup erat. Benar, Yura hanya mampu berjalan ditempat saat ini.
“YAK! Apa-apain ini? Lepaskan tanganmu dari tasku!” Yura berdecak kesal seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya kasar di aspal.
“Kau mau kemana, eh? Jangan ikut mencampuri urusan orang lain, itu tidak baik. Relakan saja sahabatmu itu berkencan.” Ucap orang itu, membuat Yura dengan seketika menoleh ke belakang, mendapati seorang namja tengah tersenyum manis kepadanya.
“Ya Tuhan....!” Umpat Yura merunduk dalam. Entah mengapa, gadis itu merasakan tubuhnya mendadak panas-dingin sekarang. Baiklah, ciuman singkat yang terjadi di kantin itu benar-benar membuatnya gila setengah mati. Kim Jong Woon! Yah, siapa lagi namja yang akan dengan beraninya bersikap seperti ini pada Yura.
“Kau kenapa?” tanya Yesung aneh. Yura semakin merunduk, menyembunyikan raut wajahnya mati-matian dari namja ini. Yura merasakan, jika wajahnya itu pasti sudah sangat memerah sekarang. Tak ia pungkiri memang, jika semenjak ciuman itu terjadi pada mereka, Yura sama sekali sulit bernafas lega, mengingat ia harus dengan mati-matian menghindari sosok Yesung. Malu? Yura mengumpat dalam hati berulang, kenapa ia harus merasakan perasaan yang menggelikan seperti itu.
“Kau sakit?” tangan Yesung kali ini sontak saja terangkat menyentuh dahi Yura, membuat tubuh gadis itu dengan secara tiba-tiba saja seakan tersengat aliran listrik tegangan tinggi.
“YAK! JANGAN MENYENTUHKU!” Pekik Yura kelabakan, membuat lagi-lagi Yesung tampak tercenang bingung melihat tingkah gadis dihadapannya itu.
“Kau kenapa, huh?”
“Menjauhlah! Jangan mendekat padaku, atau aku akan berteriak! Dasar dukun mesum, kau benar-benar semakin terlihat mengerikan!”
“Hahahaha, dukun mesum? Panggilan baru untukku? Baiklah, setidaknya ada peningkatan kecil dalam hubungan kita ini.”
“Ap-apa maksudmu? Hub-hubungan apa?”
“Apa kau ingin berkencan seperti Hiu Hwi? Aku siap kapanpun itu.”
“Jangan pernah bermimpi. Kau pikir aku yeoja bodoh yang mau berkencan dengan namja tak waras sepertimu, huh? Yang ada, pasti tempat kencanmu itu adalah tempat-tempat mistis, tempat-tempat bersalin wanita hamil, atau mungkin tempat pembangkitannya setan-setan dimuka bumi ini.”
“Hahahaha, kau lucu sekali. Dasar gadis bodoh!” Yesung nampak tersenyum kecil dititik ini, menggerakkan sedikit kakinya lebih mendekat kearah Yura. Gadis itu membatu melihat senyuman maut namja itu untuk seperkian detik. Sampai akhirnya, Yura tersadar, dan merunduk kembali dengan wajah memerah.
“Ak-aku harus menyusul Hiu Hwi.” Ucap Yura seraya hendak berniat untuk kembali pergi dari tempat ini. Namun sial, lagi-lagi Yesung menahannya.
“Tidak usah mengejarnya lagi. Hiu Hwi tau mana yang terbaiknya untuknya dengan caranya sendiri. Yang perlu kau lakukan sebagai sahabatnya sekarang adalah ... memberikannya waktu untuk bersenang-senang dengan permasalahannya itu,”
“Apa maksudmu?”
“Ingat pesanku ini ... apapun yang terjadi nanti, kau tak boleh membantu Hiu Hwi. Kali ini, setiap tindakannya akan mengubah sesuatu. Biarkan dia menyelesaikannya sendiri, kau jangan ikut campur. Bukankah kau ingin melihatnya bahagia?”
“Geurae, tapi Yesung-shi ... apa maksudmu?”
“Nanti, kau sendiri akan paham maksudku. Kali ini, aku harap kau dapat mempercayaiku. Sampai jumpa ... calon istriku!” Ucap Yesung sembari tersenyum manis dan mengusap puncak kepala Yura sejenak. Namja itu kemudian berbalik, meninggalkan Yura yang masih membatu ditempat.
“YA-YAK!”
***
15.00 KST
Terdengar, dentangan pelan jarum jam yang terdapat disebuah kotak Menara kecil Taman Kota ini. Angin berlalu cukup cepat, membuat awan-awan diatas sana juga bergerak dengan irama senada. Tak nampak kecerahan matahari pada sore hari ini, ia seolah sedikit tampak redup dengan suhu yang cukup dingin.
Gugup ... mungkin itulah yang kini dirasakan Hiu hwi tatkala ia berjalan menyusuri tempat ini. Sudah sejak tadi, bibirnya mengumpat-umpat kecil tak karuan. Jantungnya berdebar kencang dengan tubuh yang panas-dingin. Sial, hanya berkencan dengan seorang Cho Kyuhyun saja, ia sudah harus merasakan banyak macam perasaan gila seperti ini.
“Huhhh...,” Hiu Hwi kembali menghembuskan nafas panjangnya lagi sekarang, berusaha untuk mengatur kegugupan yang semakin lama semakin mengompori hatinya itu. Tangannya terangkat untuk merapikan kembali pakaian yang ia kenakan kini. Setelan yang gadis itu kenakan cukup terlihat simple nan modis memang. Mengingat, jika cuaca hari ini berhembus lebih dingin dari biasanya. Hiu Hwi lebih memilih untuk memakai celana jeans panjang yang terbalut sepatu boots berwarna coklat, serta jaket tebal panjang selutut yang memang dihiasai dengan syal berwarna putih. Tak hanya itu saja, rambut panjang bergelombang yang kerap ia uraikan itu, kini tampak ia ikat setengah dengan aksen kelabang yang indah. Gadis itu terlihat sekali seperti gadis yang memiliki kharisma yang unik.
“Apa dia benar-benar datang?” tanya Hiu Hwi pada dirinya sendiri seraya terus berjalan mengamati beberapa titik di tempat ini. Ia akan seperti gadis bodoh, jika sampai Kyuhyun benar-benar tidak datang sekarang. Bola mata gadis itu terhenti disebuah menara kecil yang berada di Taman ini, mengamati tempat itu yang sama sekali tak ada Kyuhyun disana. Padahal, disanalah biasnya orang-orang membuat janji untuk bertemu.
“Apa aku yang terlalu cepat datang?” Hiu Hwi menghela nafas dengan menatapi jam tangan yang bertengger indah ditangan kanannya itu. Tidak! Ini memang sudah waktu janji temu mereka itu. Namun entah kenapa, Kyuhyun belum juga sampai ditempat ini. Otak Hiu Hwi mulai bimbang akan sesuatu hal. Yah, mana mungkin Kyuhyun akan mengajaknya kencan secara tiba-tiba seperti tadi, jika ia tak bermaksud lain. Mempermainkannya kah? Atau ini memang sebagai bentuk rasa balas dendam Kyuhyun kepadanya atas kejadian perkelahian itu? Hiu Hwi merunduk, berpikir untuk berbalik pulang sekarang.
“Seharusnya, aku tidak terlalu bermimpi untuk ingin berkencan dengan namja sepertinya. Huhhh..., aku benar-benar bodoh,” ucap Hiu Hwi berbalik sembari berjalan untuk meninggalkan tempat ini. Memang sejak awal, ia cukup ragu akan kencan khayalannya ini dengan Kyuhyun. Yah, sedikit sulit untuk dipercaya. Sampai seketika....
BRUKK!
Hiu Hwi sentak merasakan tubuhnya tengah menabrak seseorang sekarang. Gadis itu mengumpat akan kecerobohannya kali ini. Toh. bagaimana mungkin ia dapat berjalan dengan tundukan kepalanya seperti tadi.
“Jwesonghamnida...,” ucap Hiu Hwi membungkuk berulang kali. Gadis itu menghela sejenak, dan kembali melanjutkan langkahnya pulang. Entahlah, ada perasaan yang kelewat kecewa yang saat ini tengah ia rasakan itu. Jarum jam sudah lewat dari jam yang mereka janjikan, mungkin itulah kenapa Hiu Hwi sedikit merasa putus asa sekarang.
“Kau mau kemana, heh?” tanya seseorang seketika, membuat Hiu Hwi dengan cepat menghentikan langkah kakinya sekarang. Yeoja itu sedikit tampak kaget mendengar suara ini. Suara yang sejak tadi ia tunggu; Cho Kyuhyun.
“Eoh?” Hiu hwi sentak kembali menoleh ke belakang, menatapi seorang namja dengan memakai baju lengan panjang tampak memasukan kedua tangannya ke depan kantong celana jeans hitam yang ia kenakan itu. Entah mengapa, Hiu Hwi baru menyadari jika orang yang tadi ia tabrak itu adalah Kyuhyun!
“Kau—”
“Sudah terlambat, mau pergi begitu saja. Cah, ayo ikut!” Balas Kyuhyun seraya menarik pergelangan tangan Hiu Hwi untuk pergi dari tempat ini. Hiu Hwi termangu, ia masih belum bisa menetralisirkan keterkejutannya sekarang. Benarkah ini Kyuhyun? Benarkah jika mereka sekarang jadi untuk pergi berkencan?
“Huhhh..., ternyata cuaca dingin sekali.” Desah Kyuhyun menyesal saat ia baru menyadari, jika saat ini ia hanya memakai pakaian lengan panjang. Hiu Hwi mungkin tak tau, jika Kyuhyun bergegas pergi ke tempat ini bahkan melupakan jaket panjangnya itu. Ia datang bahkan setengah jam sebelum janji mereka itu.
“Ki-kita mau kemana?” tanya Hiu Hwi memberanikan diri bersuara. Kyuhyun menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Hiu hwi.
“Kau pikir?”
“Nde?”
“Bagaimana jika kita menonton?”
“Mwo?” Hiu Hwi sentak terperanjat kaget tatkala kini Kyuhyun kembali menarik pergelangan tangannya pergi berbelok menuju sebuah Bioskop. Kedua pelupuk mata gadis itu mengerjap-ngerjap, seakan ia tak pernah percaya ini akan terjadi.
Disatu sisi, terlihat seorang namja dengan jas hitam ini tengah berbaring lelah diatas sebuah sofa. Tangan kanannya tampak bertumpu dibagian atas kepalanya, menghembuskan nafas pelan dengan gerakan kecil pada tubuhnya itu. Tampak jelas diwajahnya, jika sekarang ia tengah menyimpan beribu banyak pikiran kalut. Kim Heechul ... itulah nama sosok namja tampan itu.
“Ash! Kenapa aku tidak bisa tidur!” Umpatnya kasar seraya membenarkan letak posisinya saat ini. Heechul kembali membuka mata besarnya itu perlahan, menatap kosong dinding-dinding rumah ini dengan seksama. Sesungguhnya, ia kini dilanda kekuatiran setengah mati akan sesuatu hal. Semenjak Hiu Hwi pergi tanpa berniat lagi meminta izin padanya, Heechul semakin tampak tak tenang saat ini. Gadis itu semakin ketus dan seolah menatapnya dalam ekspresi wajah yang sangat muak. Kembali, Heechul tampak mengingat apa yang tadi dikatakan yeoja itu padanya.
“Nona Lee, kau mau kemana?”
“Kau benar-benar orang yang tak tau malu Tuan Kim. Setelah kejadian waktu itu, ternyata kau masih berani berbicara dan bertanya seperti itu padaku sekarang. Sungguh menyebalkan! Seharusnya, kau dapat sadar diri untuk sekali saja.”
“Biar aku yang mengantar Nona pergi....” Heechul hendak beranjak untuk mengambil kunci mobil dimeja tepat di belakangnya. Namun seketika....
“Tidak usah! Aku akan pergi berkencan, kau pikir aku anak kecil?”
“Mwo? Nona berkencan?”
“Geurae, waeyo?”
“Tapi Nona Lee—”
“Bisakah untuk hari ini saja, kau tidak usah mengganggu hidupku? Aku benar-benar bosan bertengkar denganmu! Aku tidak mau tau, aku akan pergi sekalipun kau akan membunuhku!” Balas Hiu Hwi seraya mendorong bahu Heechul dan pergi dengan tatapan yang sama sekali tak bersahabat. Heechul diam, kedua kakinya bahkan tak berniat untuk mengejar gadis itu.
Heechul tampak kembali menghela nafas panjangnya dengan pecuma, tatkala ia mengingat kembali perdebatannya dengan Hiu Hwi tadi siang. Sungguh, tatapan gadis itu benar-benar membuatnya merasa amat sangat bersalah. Untuk itulah, Heechul kali ini mengalah dan berusaha untuk menekan semua konflik batinnya sendiri. Ia membiarkan Hiu Hwi pergi keluar seorang diri kali ini. Dan bahkan keluar untuk berkencan dengan seorang pria. Sesungguhnya, ia tak punya maksud lain. Namja itu hanya tak ingin Hiu Hwi terluka dan mendapatkan banyak masalah kelak.
“Gadis bodoh! Seandainya kau tau yang sebenarnya, apa kau tetap akan terus bersikap seperti ini padaku?” Heechul mengerang ngilu sejenak, memandang kaleng bir yang tadi ia minum dengan tatapan miris. Untuk beberapa detik namja itu hanya terpaku diam, sampai getaran ponselnya bergetar, menandakan jika ada pesan singkat yang masuk melalui ponselnya.
“Tuan Kim, Presdir Lee sedang berada diperjalanan, dia akan segera pulang ke Seoul sekarang.”
Heechul sentak terbelalak kaget tatkala melihat isi pesan singkat itu dilayar ponselnya. Otaknya dengan cepat berputar, memikirkan sesuatu yang mungkin akan terjadi ke depannya. Namja itu sentak berdiri, entah apa yang harus ia lakukan saat ini.
***
‘Cinta itu bukan tentang uang, jabatan, dan pendidikan tinggi.
Tapi cinta itu tentang bagaimana caranya mengasihi untuk saling memberi....’
At Bioskop_
Seoul, South Korea
Ruangan yang cukup besar ini tampak ramai oleh teriakan histeris beberapa orang. Terlihat jelas, jika hampir seluruh orang-orang yang ada disini, menikmati apa yang mereka tonton melalui layar besar itu, kecuali satu orang. Lee Hiu Hwi ... sepertinya sudah sejak awal film ini diputar, gadis itu hanya menekuk wajahnya sebal.
“Hahaha, HEBAT SEKALI!” Teriak Kyuhyun tatkala ruangan ini kembali riuh oleh suara-suara yang tak karuan. Hiu Hwi menghela nafas panjang disampingnya, seolah sangat tampak frustasi. Baiklah, ia benar-benar tak menyangka jika Kyuhyun sepertinya sangat menikmati film itu.
‘Apa ini yang dia sebut dengan BERKENCAN, eh? Aku pikir, dia akan mengajakku menonton film percintaan dengan adegan-adegan yang romantis didalamnya. Tapi apa ini? Sama sekali jauh dari apa yang aku bayangkan sebelumnya. Berkencan dengan menonton film robot-robotan anak-anak? Tidakkah itu seperti sebuah lelucon? Bahkan lihatlah, orang-orang yang menonton disinipun kebanyakan anak-anak dibawah umur 15 tahun!’
Gumam Hiu Hwi mengembungkan kedua pipinya bosan. Diliriknya lagi Kyuhyun yang tampak tertawa dengan memakan popcorn ditangannya itu. Sejak tadi, bahkan namja itu sama sekali tak perduli akan ekspresi frustasinya ini.
“Aku keluar.” Hiu Hwi akhirnya berucap kata itu juga setelah ia mati-matian untuk menahan diri ditempat ini. Kyuhyun dengan cepat menoleh kearahnya, sedikit bingung.
“Kau mau kemana, huh?”
“Aku ingin berubah menjadi Power rangers dulu diluar, hahahaha.” Sahut Hiu Hwi dengan cercaan tawanya yang sangat amat dipaksakan. Kyuhyun hanya mengernyitkan dahi, membuat gadis itu kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar. Kesal? Sangat! Hiu Hwi merasa, jika kencan pertama mereka ini akan mengalami kegagalan yang memalukan.
“Lebih baik aku keluar! Daripada harus menonton sesuatu yang sama sekali tak aku mengerti!” Gerutunya seraya duduk disebuah kayu dekat ruangan bioskop itu. Gadis itu tampak merunduk, memperhatikan kedua sepatunya secara bergantian. Sejujurnya, ia bingung harus melakukan apalagi setelah ini.
“Tapi ... tadi tawa namja itu benar-benar terlihat manis, kekanak-kanakkan sekali,” Hiu Hwi seketika tergelitik untuk tersenyum, membayangkan kembali betapa antusiasnya wajah tampan Kyuhyun saat menonton film anak-anak itu. Lucu! Kyuhyun seperti bocah yang masih berumur 10 tahun.
“Hahahaha, apa dulu dia mungkin memang tak pernah menonton film-film seperti itu? Hahaha....”
“Apa yang kau tertawakan, huh?” tanya seseorang seketika, membuat Hiu Hwi sentak tergelak diam. Yeoja itu mengerjap, menatapi Kyuhyun yang kini telah berdiri dihadapannya.
“Aaaaniyo, tadi aku hanya—”
“Kau tak suka dengan filmnya?”
“Mwo? Nde, sebenarnya bukan tak suka, tapi aku memang akan cepat merasa bosan, jika menonton film yang seperti itu. Humm..., jika kau masih mau menonton, masuk saja. Aku akan menunggumu disini sampai selesai.”
“Maksudmu, kau lebih menyukai film-film dengan tema roman picisan dan percintaan yang mengharukan seperti itu, huh?”
“Geurae, tapi sebenarnya aku juga suka—”
“Menjijikan!”
“Eoh?”
“Aku bosan menonton film-film yang seperti itu. Tidak terlalu menegangkan!”
“Lalu ... kau pikir film robot-robotan seperti tadi itu menegangkan? Tidak semuanya kisah percintaan itu menjijikan. Lagipula, anak muda zaman sekarang, jika berkencan juga menonton film-film seperti itu.”
“Oh..., jadi kau ingin menonton film cinta-cintaan itu, eh? Aku bisa saja menyetujuinya, asal kelak kau dapat bertanggung jawab padaku setelah menontonnya,” hardik Kyuhyun membuat Hiu Hwi dengan cepat berdiri. Gadis itu menunjukan raut muka yang tak mengerti.
“Tanggung jawab? Apa maksudmu?”
“Saat dalam film dengan tema yang seperti itu, kebanyakan selalu ada adegan berciuman atau bisa saja lebih dari itu. Cah, bagaimana jika aku tergoda untuk melakukannya juga? Kau bersedia bertanggung jawab, eh? Kau tau resikonya, jika sudah memancingku kan?” bisik Kyuhyun tersenyum miring, membuat Hiu Hwi meneguk air liurnya susah payah. Sungguh, ia lupa jika sekarang ia tengah berkencan dengan namja sekelas CHO KYUHYUN! Namja itu tampak mendekat, menyeringai kecil yang mampu membuat degup jantung Hiu Hwi hampir melompat keluar.
“Atau jangan-jangan, kau memang sengaja ingin—”
“AA-AANIYO!”
“Bodoh...,” Kyuhyun sentak memukul kepala Hiu Hwi melalui kepalanya sejenak. Namja itu tersenyum kilat, membuat Hiu Hwi semakin ingin melompat-lompat tak karuan.
“Aku sudah terlalu sering menonton film dengan tema yang seperti itu. Setiap gadis-gadis yang mengajakku pergi keluar, tak ada hal lain yang kami tonton, selain film-film seperti itu. Aku hanya ingin mencoba hal baru, karna aku kurang suka melakukan hal yang sama berulang kali. Termasuk berkencan, seolah tak ada hal lain yang dapat dilakukan selain terus menerus melakukan hal yang membosankan seperti itu.”
“Benar, jika sudah setiap hari berkencan sepertimu dengan yeoja yang berbeda-beda, memang akan sangat terasa membosankan!” Kesal Hiu Hwi, membuat Kyuhyun dengan cepat menoleh kembali padanya. Sungguh, terdengar sekali nada cemburu dari gaya bicara gadis itu.
“Tapi ... semua itu tak akan terasa membosankan, jika kau dapat menikmatinya. Jja, sekarang kita berkeliling!” Pekik Hiu Hwi seraya sontak menggenggam tangan kiri Kyuhyun dengan erat, mengingat tangan kanan namja itu masih cidera.
“Kita mau kemana?”
“Kemanapun kau mau Oppa, aku akan menemanimu!” Sahut Hiu Hwi tersenyum renyah, membuat Kyuhyun terkesiap menatapnya. Gadis itu mengangguk sejenak meminta persetujuan dari Kyu, dan sentak menarik tangan Kyuhyun untuk berlari pergi dari tempat ini.
***
Di dunia ini, tak ada yang tau bagaimana wujud cinta itu yang sebenarnya. Karna ia dirasa, bukan untuk dilihat. Cinta ... juga sama sekali bukan untuk ditunggu dan hanya untuk didiamkan, tapi untuk diberikan! Dalam sebuah permasalahan cinta, sedikit tindakan atau sedikit perkataan pun, terkadang membawa sebuah perubahan besar didalamnya. Sama halnya seperti apa yang dilakukan Hiu Hwi sekarang! Dengan menekan harga diri dan rasa malunya mati-matian, yeoja itu terus berusaha untuk menarik perhatian Kyuhyun, membuat bagaimana namja itu dapat menikmati kebersamaan ini dengan tulus, bukan paksaan atau formalitas semata. Dan yah, sepertinya ia cukup berhasil memang.
Tampak, kedua anak manusia ini sekarang tengah berjalan-jalan seraya berpegangan tangan mengelilingi jajanan yang berada dipinggiran kota ini. Terkadang, terlihat mereka begitu kompak, terkadang pula terlihat adu mulut yang tak berkesudahan. Sungguh, mereka lebih mirip seperti pasangan yang baru saja menikah!
“Oppa, cicipi dulu yang ini. Kau tau rasanya? Enak sekali!”
“Kau pikir aku bodoh, huh? Itu sangat pedas! Apa kau bermaksud mengerjaiku?”
“Mengerjai apanya? Cah, terkadang kau ini terlalu berlebihan! Makanan ini hanya memakai 5 cabe kecil, warnanya saja yang merah seperti itu.”
“Tidak mau!”
“Sedikit saja ya...,”
“Yak! Kenapa kau ini keras kepala sekali, huh? Aku tidak mau!”
“Tapi—”
“Jika sampai kau berbicara lagi, akan kucium kau sekarang juga.”
“Mmmm-mwo?”
“Cah....” Kyuhyun tampak tersenyum menang sekarang, berjalan santai seraya meninggalkan Hiu Hwi yang saat ini memanas akibat perkataannya tadi. Entah mengapa, setiap apa yang terlontar dari bibir namja itu, selalu saja dapat membuat darahnya berdesir hebat.
Sudah beberapa jam sejak tadi, keduanya menghabiskan waktu bersama. Sama sekali tak terasa lambat, waktu benar-benar seakan cepat berputar. Bahkan, Hiu Hwi dengan bodohnya baru menyadari, jika hari sudah semakin gelap. Terlalu banyak detik yang membahagiakan hari ini, membuatnya lupa akan banyak hal.
“Gulalinya manis sekali!” Ucap Hiu Hwi tatkala kini mereka duduk disebuah bangku Taman yang berada dekat dengan bunga-bunga indah.
“Benarkah? Coba aku cicipi,” balas Kyuhyun seraya menjulurkan lidahnya untuk mengamit gulali yang berada ditangan Hiu Hwi seketika. Gadis itu hampir terperanjat kaget, jarak Kyuhyun mendekat lagi sekarang.
“Bu-bukankah kau juga punya gulali ditanganmu. Kenapa memakan punyaku?”
“Rasanya pahit! Ternyata, punyamu jauh lebih manis.”
“Benarkah?” tanya Hiu Hwi yang dengan polosnya percaya begitu saja. Kyuhyun kembali mendekat kearahnya, mejilati gulali berwarna pink itu masuk ke dalam bibirnya. Hiu Hwi sedikit mengernyitkan dahi, lalu ikut memakan gulali itu dengan pikiran yang masih bingung.
“Bukankah kita beli ditempat yang sama? Kenapa gulali milikmu rasanya berbeda?” Hiu Hwi tak habis pikir akan hal ini. Dengan masih memikirkan rasa gulali itu, yeoja itu juga ikut memakan gulali yang berada ditangannya. Hingga seketika....
CUP!
Gadis itu dapat merasakan sesuatu yang bergerak menyentuh kedua daun bibirnya saat ini. Tubuh Hiu Hwi membeku! Ia semakin dapat merasakan sesuatu bergerak itu tiba-tiba semakin jelas. Ia tak dapat berkedip lagi sekarang, bahkan untuk menggerakkan kepalanya pun sulit. Namun, Hiu Hwi mampu memastikan, jika sekarang Kyuhyun semakin memiringkan kepalanya dan terus menekan ke depan! Gila, Hiu Hwi merasakan sesuatu yang basah dibibirnya dengan campuran rasa gulali itu. Manis? SANGAT!
“Uhmm..., benar-benar sangat manis!” Bisik Kyuhyun singkat, lalu dengan cepat menghempaskan gulali yang berada ditangannya, dan menarik punggung Hiu Hwi agar semakin mencodong dihadapannya. Namja itu terkekeh kecil melihat ekspresi terkejut Hiu Hwi saat ini. Sungguh polos, membuatnya seakan mendapatkan kesempatan untuk melakukan ini lebih lama lagi. Tangan Hiu Hwi bergetar memegang tungkai gulali ditangannya itu, bahkan sekarang kontan terlepas dari genggamannya. Mungkin itu jugalah, yang membuat Kyuhyun kini seketika melepaskan kecupannya itu seketika.
“Gulalimu sudah habis, tidak seru lagi.” Kyuhyun menarik wajahnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Yeoja itu hanya mengerjap-ngerjap dengan posisi yang sama, seolah belum sepenuhnya sadar dengan semua ini.
“Ta ... tadi. Kau ... kau....”
“Mwo? Tadi? Aku? Huhh..., apa kau tak merasakannya, eh? Bodoh!”
“Ke-kenapa kau menciumku?” tanya Hiu Hwi berusaha untuk terlihat sedikit kesal. Wajah gadis itu memucat, membuat Kyuhyun dengan cepat kembali menatapnya.
“Ke-kenapa sepertinya kau hobi sekali menciumku secara tiba-tiba seperti itu,” lagi-lagi Hiu Hwi berkata dengan tergagap. Kyuhyun diam! Sepertinya, ia juga sedang bingung untuk mencari alasan yang tepat sekarang.
“Ehem! Aku haus, aku akan pergi mencari minum sebentar.”
“Tidak usah! Bi-biar aku saja yang membelinya. Oppa, duduk saja disini. Aku akan pergi sebentar mencari minum.” Hiu Hwi tak dapat mendongakkan kepalanya sekarang. Sial! Kyuhyun menghujaninya dengan bertubi-tubi tingkah yang mampu membuatnya semakin salah tingkah.
“Eoh, baiklah.”
“Nde, aku pergi dulu.”
“Humm..., cepatlah. Aku sangat ingin menghangatkan tubuhku dengan minuman panas, disini dingin sekali,” tambah Kyuhyun, membuat Hiu Hwi mengangguk-angguk mengerti. Gadis inipun dengan cepat berlari, meninggalkan Kyuhyun yang berdiri tegap memandangi punggungnya dengan senyuman kecil.
“Hey. Nona muda Lee...,” panggil Kyuhyun lagi. Gadis itu dengan cepat menoleh kearahnya dengan tampang merah.
“Jangan lama-lama membeli minumannya, kau harus cepat kembali disini bersamaku,”
“Eoh?”
“Aku suka ketika kau berada didekatku seperti tadi. Perasaanku sangat nyaman, belum pernah aku merasakan hal yang seperti itu,”
“HUH?”
“YA-YAK! Ce-cepatlah pergi! Kenapa kau malah seperti orang idiot. Dasar gadis bodoh!”
“Tadi kau mengatakan apa?”
“Apanya, huh? Tadi aku mengatakan, agar kau membeli minumannya dengan uangmu sendiri. Dasar!”
“Eoh, baiklah.” Sahut Hiu Hwi sekenanya seraya kembali berbalik untuk pergi. Sungguh, sebenarnya tadi ia mendengar kalimat Kyuhyun itu. Indah ... hanya uraian kata seperti itu saja, hatinya sudah sangat amat berbunga-bunga. Kyuhyun tampak terpaku menatapi punggung Hiu Hwi, sesosok gadis yang tak pernah ia pikirkan akan melewati hari seperti ini bersamanya. Berkencan? Jujur saja, ketika ia mengatakan itu tadi siang, tak pernah ada sebuah perencaan lebih dulu dari Kyuhyun. Entahlah, semuanya terlontar begitu saja dari bibirnya.
“Huhh..., bahkan aku sendiri bingung. Kenapa aku berada disini dan malah bersama gadis itu?” Kyuhyun menatap langit! Sepertinya, salju mulai tampak perlahan-lahan turun dengan perlahan.
Ditempat lain, terlihat Hiu Hwi tengah berdiri dengan senyuman seperti orang gila tepat didepan kotak minuman ini. Sepertinya, tangannya itu belum berniat untuk memasukan koin uang. Rasanya ... mendebarkan! Perasaan bahagia seperti ini, sudah lama sekali tak ia rasakan.
“Cho Kyuhyun ... apapun yang kau lakukan, kenapa kau selalu terlihat tampan dan mampu membuat jantungku seperti ini...,” Hiu Hwi kembali terkekeh pelan. Tangan kanannya itu tampak bergerak keatas, menyentuh permukaan bibir yang masih terasa manis sejak tadi. Seperti inikah rasanya berkencan?
“Ash..., bodoh!” Rutuk Hiu Hwi sembari memasukan uang ke dalam kotak minuman itu. Ia ingin sekali memberikan Kyuhyun minuman yang mampu menghangatkan tubuh mereka sekarang.
“Sepertinya, aku lebih baik juga membelikannya minuman hangat disebarang sana,” gadis itu dengan cepat mengambil kaleng minuman yang tadi ia beli. Lalu, bergegas untuk kembali pergi ke tempat lain. Namun sayang, baru beberapa langkah Hiu Hwi berjalan, tampak kakinya kontan terhenti begitu saja. Raut wajahnya tampak berubah dengan cepat, saat menatapi seorang namja tengah berdiri tegap tak jauh darinya sekarang. Benar, sosok ini sama sekali tak ingin Hiu Hwi lihat sekarang.
“Cah, kau benar-benar berbakat menjadi seorang pelacak Tuan Kim yang terhormat,” sinis Hiu Hwi tersenyum tak mengenakkan sama sekali. Ditatapnya lagi, namja tampan yang mengenakan jaket panjang hitam dihadapannya itu.
“Ikutlah aku pulang, Nona.”
“Waeyo? Kau ingin menyeretku lagi seperti kemarin, Huh? Kau pikir aku akan mengalah lagi kalah ini? Aku—”
“Tuan Lee Di Seoul, Appa Nona sekarang berada dirumah.”
“Mwo?”
“Beliau tengah menunggumu pulang,” ujar Heechul seraya sentak menatapi jam tangannya sekilas. Jam 9 malam! Sesungguhnya, Hiu Hwi tak pernah keluar rumah pada saat jam seperti ini.
“Ap-pa?” Hiu Hwi sontak menghempaskan kaleng minuman yang berada ditangannya saat ini. Tubuh gadis itu bergetar seketika, menandakan jika ia mulai takut akan sesuatu hal. Hiu Hwi ingat sekali betapa Ayahnya itu adalah sosok yang begitu keras. Sejak kecil, Hiu Hwi selalu dijaga dengan ketat, tak pernah sekalipun yeoja itu dapat bermain dengan banyak hal seperti gadis seumurannya. Hiu Hwi seakan dituntut untuk belajar yang serius dan menjadi gadis yang kelak dapat diandalkan keluarganya. Bahkan, pergaulan Hiu Hwi pun selama ini selalu tak pernah lepas dari penjagaan Appa-nya. Bukan apa-apa, tapi Hiu Hwi adalah anak satu-satunya dari keluarga besar Lee, terutama gadis itu adalah seorang wanita. Ada banyak yang menginginkan kursi dan iri dengan apa yang didapatkan Ayahnya itu sekarang. Untuk itulah, Tuan Lee takut jika kelak Hiu Hwi akan menjadi sasaran utama bisnis yang ia dirikan itu.
“Silahkan Nona....” Heechul membukakan pintu belakang mobil hitam mewah itu. Hiu Hwi menautkan jari jemarinya, ia takut pulang saat ini.
“Huhhh...,” Tanpa perlu diperintah lagi, kedua kaki yeoja itu perlahan-lahan bergerak, berjalan untuk memasuki mobil itu dengan kalut.
“Kenapa Appa bisa pulang ke Seoul dengan tiba-tiba seperti ini?”
“Hummm....” Heechul tak menjawab pertanyaan Hiu Hwi kali ini, namja itu dengan hentakan cepat menghidupkan gas mobil ini dan berlalu pergi. Sepertinya, ada sesuatu yang serius yang akan terjadi ke depannya.
Sedang disatu sisi, tampak kini Kyuhyun tengah duduk dibangku Taman itu dengan sedikit meringkuk. Sedikit sial baginya, mengingat dalam keadaan cuaca yang seperti ini, namja itu hanya memakai lengan panjang tanpa lapisan apapun lagi. Salju terus menerus turun dari langit, menyisakan gumpalan awan hitam yang tampak mengigil hebat diatas sana.
***
‘Terkadang melihat seseorang yang membencimu itu, lebih baik
Ketimbang kau tak bisa melihatnya lagi.
Terkadang melihat seseorang yang melukaimu itu, lebih baik
Ketimbang kau tak bisa menyukainya lagi....’
@Kediaman Keluarga Lee
Tak butuh waktu lama, bagi seorang Kim Heechul untuk cepat sampai pada rumah mewah ini. Sedikit ada perubahan yang terlihat saat memasuki gerbang. Yah, terlihat beberapa mobil dengan harga tinggi terparkir diperkarangan rumah. Hiu Hwi mengepalkan tangannya panik, ia paling takut dengan sosok Appa-nya itu.
“Tidak apa-apa, turunlah. Sudah sejak tadi, Tuan Lee menunggumu pulang.” Ucap Heechul membuyarkan lamunan Hiu Hwi saat ini. Yeoja itu merunduk singkat, berharap jika tak akan terjadi apapun nantinya. Sungguh, ia berniat untuk memberikan alasan palsu kepada Ayahnya itu tentang malam ini.
“Selamat malam Nona Lee....” Sapa beberapa orang berjas hitam itu hormat, saat Hiu Hwi memasuki rumah mewahnya ini. Gadis itu hanya merunduk singkat membalasnya, lalu berjalan perlahan-lahan untuk setidaknya pergi menemui sang Ayah. Heechul hanya diam saja dibelakangnya. Ia tau betul, betapa gadis itu merasa ketakutan dan panik sekarang.
“A-Appa...,” suara Hiu Hwi terdengar pelan dari ruangan tengah rumah ini, membuat tampak sesosok pria paruh baya itu seketika berbalik dan mendongak menatapnya.
“Kau baru pulang?” tanya Tuan Lee sembari berjalan untuk menghampiri keberadaan anak semata wayangnya itu saat ini. Ia berdoa dalam hati, berharap ada seseorang yang akan langsung membawanya pergi ke kamar sekarang.
“Nde, aku—”
“Kau tau ini jam berapa Lee Hiu Hwi? Tak pernah kau keluar malam seorang diri seperti ini sebelumnya. Waeyo? Apa karna tinggal jauh dari Appa, kau merasa bebas untuk melakukan sesukamu, heh?”
“Aaaniyo. Bukan begitu Appa, aku—”
“Kau sudah besar rupanya sekarang,” Tuan Lee tampak mengusap puncak kepala Hiu Hwi sekilas, membuat yeoja itu sontak merunduk dalam.
“Apa saja yang telah namja itu ajarkan padamu, heh? Keluar malam? Membolos? Membuat ulah di Sekolah atau mengajarimu hal-hal yang tidak-tidak?”
“MWO?” balas Hiu Hwi terperangah tak percaya sekarang. Namja? Apakah Ayahnya ini tau, tentang hubungannya dengan Kyuhyun selama ini? Dari siapa? Bukankah Ayahnya itu sosok yang kadang tak pernah perduli akan kehidupannya? Lalu sekarang? Hiu Hwi sontak mengalihkan tatapannya pada Heechul, memicing menatap pria itu dengan perasaan marah. Heechul tau arti tatapan Hiu Hwi padanya sekarang, sebuah tatapan menuduh atau menjadi propokator dalam masalah ini.
“Cho Kyuhyun ... apa itu namanya?”
“Mwo? Appa....”
“Waeyo? Kau terkejut karna Appa tau tentang kekasih berandalanmu itu, heng?”
“Appa, Kyuhyun Oppa bukan namja yang seperti Appa pikirkan itu. Kyuhyun Oppa dari keluarga baik-baik, dan dia sebenarnya adalah putra dari—”
“Istri simpanan anak dari mantan Presiden begitu? Sosok anak yang tak jelas dan mempunyai latar belakang buruk. Bagus sekali! Kau pandai sekali memilih teman pria sayang. Bahkan, bukan hanya itu saja ... dalam catatan kesiswaan Sekolah kita di Annyang, dia adalah sosok pria yang sering sekali membuat ulah, dan selalu berada dideretan buku hitam akibat berprilaku tidak baik. Seorang pria tampan yang selalu bermasalah dengan gadis-gadis teman Sekolahnya sendiri. Sungguh, mengagumkan!” Ucap Tuan Lee dengan nada ejekan yang benar-benar menghunus tajam jantung Hiu Hwi yang paling dalam. Gadis itu membatu! Sial, kenapa Ayahnya seakan tau banyak hal tentang Kyuhyun.
“Appa, apa yang Appa dengar dari orang lain tentang Kyuhyun, belum tentu benar. Aku mohon, Appa dapat percaya padaku satu kali ini saja.” Hiu Hwi mendelik menatap Heechul sejenak. Entah mengapa, gadis itu teramat yakin, jika Heechul lah yang mengadukan semua ini kepada sang Ayah.
“Sayang, Appa lebih dulu lahir darimu. Jadi, apa lebih banyak berpengalaman soal hal-hal yang seperti ini. Sudahlah, lebih baik kau fokus pada Sekolahmu, lalu lulus dengan nilai baik untuk masuk ke Universitas tinggi. Menjalin hubungan seusiamu saat ini, sangatlah mampu menurunkan konsentrasi dalam pelajaran. Jadi itulah mengapa, Appa tak suka kau bergaul dengan namja lebih dulu,”
“Tapi Appa....”
“Kau akan Appa kembalikan ke Annyang lebih cepat, jika sampai kau tak ingin mendengar perintah Appa. Selama Appa tak berada disini untuk mengawasimu, kau sebaiknya patuh pada Kim Heechul. Jangan pernah melawannya, Appa tak akan memaafkanmu.”
“Mwo? Apa aku tak salah dengar? Patuh pada Supirku sendiri? Bukankah itu tak terbalik? Seharusnya, Appa yang mengajarkannya untuk patuh padaku. Apa Appa tau? Dia sudah memukuli temanku sampai babak belur, dan sampai sekarang ia bahkan belum meminta maaf sedikitpun.”
“Itu mungkin karna temanmu sendiri yang tak punya sopan santun. Appa tidak mau tau, kau harus menurut pada Heechul. Dia akan menggantikan Appa untuk mengawasimu.”
“Ige Mwoya? Kenapa Appa selalu saja membela Tuan Kim yang terhormat ini daripada aku? Bahkan, appa lebih mempercayainya ketimbang mempercayai anak Appa sendiri. Aku tidak suka dengannya! Aku membenci pria itu. Dia selalu memaksaku dengan kasar, dia selalu bertindak seolah dia mempunyai hak atas diriku. Aku bukan anak kecil lagi yang harus diajari tentang baik dan buruknya isi dunia ini. Appa, aku lelah! Selama Eomma meninggal, aku selalu menuruti perkataan Appa, tapi apa pernah mendengarkan permintaanku? Aku hanya ingin bebas ... aku hanya ingin bahagia seperti gadis-gadis seusiaku.”
“Lee Hiu Hwi, jaga ucapanmu!” Hentak Tuan Lee yang kini mulai terpancing. Heechul sontak merunduk, tersenyum sinis dalam balutan hatinya yang seakan tersayat sembilu sekarang. Sungguh, kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir mungil Hiu Hwi itu seakan menohok langsung ke jantung hatinya.
“Aku hanya ingin dia dipecat! Apa susahnya Appa? Aku tidak tau, mengapa Appa lebih membiarkanku menderita bersamanya, daripada melihatku bahagia. Aku tak kuat, jika harus hidup terus-menuerus seperti ini. Rasanya aku tak mempunyai siapa-siapa, rasanya aku lebih menginginkan mati untuk setidaknya tenang sedikit saja. Dari kecil, hidupku diatur, aku kesepian! Kalian hanya mengajariku banyak pelajaran untuk perkembangan Perusahaan, tapi tak pernah mengajariku tentang bagaimana untuk saling mengasihi. Lihat aku? Aku gadis yang tak mempunyai teman. Aku tak mengenal apa itu cinta, persahabatan dan banyak hal yang sebenarnya dapat menjadi sumber kebahagiaan terbesarku selama ini. Aku hidup seperti mati, terus menerus hidup dengan aturan yang memuakan itu!”
“Cukup! Lee Hiu Hwi, cepat masuk ke kamarmu sekarang!” Bentak Tuan Lee cepat. Hiu Hwi merasakan tubuhnya semakin bergetar sekarang, ia sama sekali tak bisa dibentak seperti ini. Heechul hanya dapat diam, ia mengepalkan tangannya dengan keras.
“Aku tidak mau, sebelum apa menjelaskan padaku. Kenapa Appa sepertinya sangat membela Tuan Kim ini dan seolah memaksaku untuk dijaga olehnya? Apa jangan-jangan dia sudah menjilat Appa, huh? Apa dia....”
“LEE HIU HWI!”
“Lihat? Appa bahkan berteriak padaku untuk membelanya. Tidakkah itu berlebihan? Aku ingin—”
PLAKKKK!
Teriakan Hiu Hwi dititik ini tiba-tiba saja terhenti dengan cepat saat sebuah tamparan melayang ngilu dipipinya. Gadis itu menitikan air matanya perlahan, merasakan sakit yang bukan hanya tergores dipipinya saja, tapi juga dihatinya. Tuan Lee ... selama ini sang Ayahnya itu tak pernah sekalipun memukulnya. Lalu ini? Heechul terbelalak kaget melihat kejadian miris ini, kakinya sedikit bergerak. Sungguh, ingin sekali ia memeluk Hiu Hwi sekarang.
“Ayah dan Ibumu tak pernah mengajarkanmu untuk bersikap kurang ajar seperti ini Hiu Hwi. Pria itu sepertinya benar-benar sudah mengotori cara berpikirmu.”
“Ini bukan tentang masalah pria itu Appa, tapi ini tentang masalahku. Jika memang Appa sangat menyukai namja yang bernama Heechul ini, lalu kenapa? KenapaAppa tidak menjodohkanku saja dengannya, huh? Kalau Appa takut aku akan berhubungan dengan Kyuhyun Oppa, kenapa tidak Appa langsung nikahkan kami saja sekarang agar Appa PUAS? Mungkin pria ini juga akan sangat senang, bukan? Dia sudah berhasil membuat hidupku menderita!”
“Hiu Hwi, TUTUP MULUTMU! Appa bisa saja memukulmu untuk yang kedua kalinya, kau tau itu?”
“Baiklah! Baik, aku akan menuruti perintah Appa dengan selalu bersama namja bernama Kim Heechul itu. Jika memang Appa tidak ingin memecatnya, bagaimana jika sekarang kita naikan jabatannya menjadi Direktur Kim? Yah, calon suamiku agar aku tidak perlu bersusah payah lagi belajar tent—”
“Aku berhenti!” Potong Heechul dengan rahang yang sangat mengeras. Semua orang tampak hening disini! Heechul mendongak, sirat kedua matanya itu benar-benar terlihat merah.
“Maaf Tuan besar Lee, aku berhenti untuk menjadi Supir Nona Lee. Mulai sekarang, aku tak ingin mengusik hidupnya lagi. Terima kasih Nona, terima kasih banyak atas waktu luangnya selama ini.” Lanjut Heechul seraya membungkuk, lalu berbalik pergi. Ketukan langkahnya terdengar gontai diruangan ini, mengisyaratkan jika keadaannya sekarang sedang tak baik-baik saja.
“Kau puas?” Tuan Lee sontak ikut bersuara. Duduk disebuah kursi untuk memijat pelan dahinya saat ini. Hiu Hwi terpaku! Ia masih menatap punggung Heechul yang berjalan keluar dari tempat ini. Banyak pertanyaan yang berkutat diotaknya saat ini ... mengapa Heechul lebih memilih keluar? Bukankah tadi ia sudah mengalah, dan bahkan meminta untuk menaikan jabatan Heechul? Bukankah namja itu juga pernah mengatakan mencintainya? Lalu kenapa Heechul malah menolak dan lebih memilih untuk pergi? Hiu Hwi tampak mengeluarkan tangisannya dengan deras dititik ini. Ia butuh seseorang untuk memeluk sekarang! Entah mengapa, ia merasakan sakit yang amat sangat dalam sekarang.
Hiu Hwi menatapi Appa-nya sekilas, lalu bergegas berlari untuk menaiki satu per satu tangga, dan masuk ke dalam kamarnya seketika. Tak ada nama yang dapat Hiu Hwi lafalkan sekarang, selain....
“Eomma....,” desahnya terisak perih. Hiu Hwi melangkahkan kakinya kearah jendela, menatapi salju turun yang seolah ingin menutupi kaca jendela kamarnya itu. Sejak tadi, ia baru menyadari, jika salju sudah turun cukup lebat sekarang. Cukup lebat? Hiu Hwi sontak menghentikan tangisannya dititik ini, mengingat sesuatu yang tadi sempat ia lupakan.
“Ya Tuhan, Kyuhyun Oppa.” Ucap Hiu Hwi panik. Gadis itu kontan saja bergegas untuk kembali keluar dari kamarnya ini. Namun tidak! Di bawah masih ada Appa-nya, tak mungkin ia meminta izin keluar dalam keadaan yang seperti ini.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa Kyuhyun Oppa masih disana?” tanya Hiu Hwi panik setengah mati. Gadis itu sentak saja mengeluarkan ponsel mungil disakunya saat ini, menekan nomor Kyuhyun dengan cepat. Namun naas, suara operator lah yang menjawabnya sekarang.
Disatu sisi, tampak seorang namja tengah mengosok-gosokkan kedua tangannya berulang kali dibangku Taman ini. Kedua kakinya menekuk, seakan meminta setitik kehangatan disana. Tubuhnya menggigil, bahkan bibirnya pun telah membiru menahan dingin. Bodoh? Sepertinya, namja yang bernama Kyuhyun ini tengah bertindak bodoh sekarang. Ia terus menerus menunggu ditempat ini dengan hanya memakai baju lengan panjang pada cuaca sedingin ini. Terdengar, namja itu sesekali terbatuk dan bersin ditempat ini.
“Yak! Lee Hiu Hwi kau kemana, HUH? Ash..., dingin!”
=TBC=

Tidak ada komentar:
Posting Komentar