Rabu, 01 Oktober 2014

_“ ITS OVER! Part. 11”_ [Kyu-Hwi Private]

_“ ITS OVER! Part. 11”_ [Kyu-Hwi Private]


Tittle                       : “ ITS OVER!” [Kyu-Hwi Private]
Cast                        : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, And Other Cast
Rating                    : PG - 17 / Straight
Genre                     : Romance
This Story Original From @Jjea_



***



            “Maafkan aku Kyu, dan terima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini. Kurasa malam ini kita sudah resmi bercerai, aku tak akan menganggumu lagi. Terima kasih—terima kasih sudah melepaskanku.” Ucap Hiu hwi tersenyum seraya hendak memeluk tubuh Kyu dari arah belakang. Namun tidak! Sepertinya ia akan sulit melepaskannya, jika sampai hal itu ia lakukan.
            Gadis itu berbalik! Berbalik dan mulai berjalan meninggalkan tempat ini perlahan-lahan. Tangan kanannya begitu amat gemetar membawa amplop perceraian mereka itu. Entahlah, ini lebih menyakitkan daripada tertusuk duri yang dalam sekalipun.



‘Tak selamanya cinta itu indah,
Karena cinta itu...
Berada diantara senyuman dan air mata....’



_“ ITS OVER! Part. 11”_



            Cahaya lampu temaram tampak redup menembus sekat-sekat kegelapan malam yang semakin gelap, menutupi pesona anggunnya sang rembulan dan mencoba menghindari kelamnya dari semua kepalsuan dunia. Tak ada lagi yang dapat dilakukan rembulan, selain duduk termangu dalam diam bisu keanggunannya disisi Tuhan. Yah, mungkin masih ada keindahan dimalam yang gelap, sekalipun tanpa ada kehadiran bintang-bintang itu.


* When it all began, Its Over Dear! *



            Keheningan tampak terjadi didalam ruangan VVIP Pub malam ini. Tak ada yang berbicara, bahkan hanya untuk bersuara. Entahlah, semua terasa bungkam tak berkutik menghadapi semua keadaan menyakitkan ini.

BLAM!

             Terdengar hentakan bunyi pintu ruangan itu tertutup seketika, menandakan jika Hiu hwi benar-benar telah hilang dalam ruangan ini. Kedua kaki Kyu sentak bergerak sedikit untuk maju, bermaksud hendak mengejar Hiu hwi. Namun rasanya begitu aneh, terasa sedikit berat untuk melangkah.
             ‘Hiu hwi...’
             Bibir Kyu tampak bergetar hebat sekarang, memalingkan wajahnya pada pintu ruangan itu. Tak ada harapan lagi, bahkan Hiu hwi sepertinya benar-benar pergi dan meninggalkannya. Sakit? Pasti! Kyuhyun tak dapat lagi membendung air matanya ketika pintu itu tertutup dan menyangsikan gadis itu melangkah menjauhinya.
             “Kyu, kejar dia!”Ucap Eunhyuk berdiri dengan nada yang sedikit memerintah. Kyu merunduk, ia semakin menitikan air matanya yang sejak tadi memang tak bisa ia hentikan dengan mudah.
             “Hmmmphmm...” terdengar gumaman tangisan Kyuhyun sebagai pengganti jawabannya pada Eunhyuk. Ia tak kuat! Bahkan untuk mencegah Hiu hwi dan meminta gadis itu untuk tetap berada disisinya. Tidak! Kyuhyun sadar, jika selama ini ia sudah banyak melakukan kesalahan yang malah membuat gadis itu menderita. Ia memang sangat mencintai Hiu hwi, sangat mencintainya. Tapi, bukankah cinta tak terlahir dengan paksaan? Keegoisannya bahkan sudah membuat orang yang ia cintai malah menderita.

             “Suami? Geurae, aku sangat ingat dan tau betul jika kau adalah ‘suamiku’. Suami yang memaksakan aku menjadi istrinya.”
             “Kemana saja, asal menjauh darimu! Kau tau Tuan Cho? Aku sangat muak padamu!”
             “Kau brengsek! Jika bukan karna keluargaku, aku tak akan mau menikah denganmu. Dan seharusnya, aku sudah hidup bahagia dengan Changmin Oppa!”
             “Kau tau? Kaulah yang telah membuat hidupku hancur Cho Kyuhyun! Kau menikahiku dengan paksa dan tanpa alasan apapun. Sekalipun aku hina, tetapi aku tidak sehina dirimu Tuan Cho. Kau pikir aku tak tau, jika kau menikahiku hanya karna sebuah dendam. Jika saja aku bukanlah kekasih dari Changmin Oppa yang menjadi pesaingmu selama ini, mungkin kau tak akan pernah mau menikahiku.”
             “Aku bukan istri yang baik untukmu, tapi kenapa kau masih mempertahanku sampai sekarang? Kenapa kau masih berdiri untuk pernikahan yang tak membahagiakan ini? Kau mengatakan jika kau menikahiku untuk membalas dendam pada Changmin Oppa, tapi kenapa kau malah menyiksaku? Ini masalah antara kau dan Changmin Oppa, lalu kenapa aku yang malah tersiksa seperti ini? Apa salahku padamu Cho Kyuhyun? Hidupku sudah menderita, dari kecil aku tak pernah bisa hidup tenang dan bahagia. Aku mempunyai keluarga, tapi aku seolah tak memilikinya. Lalu sekarang, kau menambah semua rasa sakit itu, hingga membuat hidupku semakin tampak menyedihkan. Bukankah kau sudah berhasil? Apa selama ini kau masih belum puas? Kau belum puas membalas dendam padanya dengan menyakitiku? Kenapa—kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?”

             Kyuhyun sentak menahan tubuhnya dengan berpegang pada sebuah besi penyangga diruangan itu. Ia begitu ingat, semua perkataan dan kalimat yang pernah Hiu hwi ucapkan padanya. Ia menderita! Kyu sangat sadar, jika sampai sekarang Hiu hwi menderita bersamanya. Selama ini Kyu berhasil menahan Hiu hwi dan berusaha membuat agar gadis itu dapat membalasnya. Namun yang ada? Kyu malah merasakan sesak setiap kali Hiu hwi berteriak menderita padanya.
             ‘Sesakit itukah Hiu hwi? Mianhae... aku benar-benar minta maaf. Sungguh, aku akan melakukan apapun yang dapat membuatmu bahagia sekarang, bahkan jika kau memintaku untuk melepaskanmu....’
             Tubuh Kyu merosot kelantai, menekan dadanya agar sakit itu setidaknya sedikit berkurang sekarang.
             “Kyu,” desah Eunhyuk menghela nafas dalam. Dengan gelengan kepala putus asa, Eunhyuk pun dengan cepat berbalik, dan melangkah untuk berlari mengejar Hiu hwi. Ini sudah terlalu larut, ia tak mungkin membiarkan gadis itu pulang dalam keadaan yang mengkuatirkan seperti ini. Yah, setidaknya Eunhyuk masih memiliki kesadaran untuk melakukan itu.
             “Bodoh!” Hanya kata itulah yang terdengar oleh Kyu, saat Eunhyuk mengumpatinya dan berlari keluar. Kyu diam, ia hanya bisa mamandangi punggung Eunhyuk saat ini.


             Disatu sisi, tampak kini Hiu hwi terus menerus mengangkat kedua tangannya untuk menghapus air matanya itu seraya berlari-lari kecil. Tak perduli lagi dengan tatapan beberapa orang yang berada disekitarnya, yang Hiu hwi perlukan hanya pulang dan tertidur sekarang.
             ‘Kyuhyun-ah... aku mencintaimu, aku sebenarnya mencintaimu. Maafkan aku!’
             Hiu hwi memberhentikan langkahnya saat ia sudah berhasil keluar dari Pub itu, berdiri mematung dipinggir jalan seraya menatap nanar amplop coklat yang kini berada ditangannya. Miris! Hiu hwi merasakan ini kesakitan yang paling sakit selama ini. Entahlah, rasanya seperti ada bongkahan yang membuatnya berkata ‘Tak sanggup’ lagi sekarang.
             “Hiu hwi...” panggil Eunhyuk seketika dengan nafas sedikit tersengal. Hiu hwi sentak kembali mengangkat kedua tangannya dan menghapus jejak air mata itu dengan tangan gemetar.
             “Biar kuantar kau pulang.” Lanjut Eunhyuk seraya berjalan maju untuk lebih mendekat lagi pada yeoja itu. Hiu hwi berbalik, ia nampak berusaha tersenyum dengan mata membengkang seperti itu.
             “Aku tidak apa-apa Eunhyuk-shi. Ak-aku bisa pulang sendiri, terima kasih telah berniat mengantarku.”
             “Tapi ini sudah terlalu larut untuk yeoja sepertimu pulang. Setidaknya, aku akan memastikan jika istri sahabatku ini akan baik-baik saja dan selamat sampai tujuan.” Hiu hwi sentak kembali merunduk saat Eunhyuk berkata seperti itu. Istri? Itu bahkan terdengar menyakitkan baginya.
             “Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku hanya perlu sendiri untuk—”
             “Hiu hwi-ya... aku memang tak terlalu mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, tapi aku harap kau dapat memikirkan semua ini dengan perlahan-lahan. Kyuhyun sangat mencintaimu,  tanpa kuucapkan apa yang dia lakukan untukmu, kau pasti tau betapa dia sangat menyayangimu.”
             “Aku tau.”
             “Apa yang selama ia perbuat, tak lepas dari namamu. Jujur, aku tak pernah melihat Kyu lebih terpuruk seperti ini selama aku mengenalnya. Dan—”
             “Aku tau... aku tau!” Sela Hiu hwi seraya meremas ujung amplop itu untuk membantunya tetap berdiri tegap. Eunhyuk menghela nafas dalam, ia bahkan sudah kehabisan kata-kata lagi untuk menenangkan yeoja ini.
             “Kau sepertinya memang butuh istirahat. Kajja, biar aku yang mengantarmu pulang. Aku harap kau tak akan menolak ajakanku lagi setelah ini.” Hiu hwi tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengangguk. Hiu hwi tak bisa menolak lagi, ia bahkan memang merasakan tubuhnya benar-benar lemah saat ini.
             “Gomawo Eunhyuk-shi.” Balas Hiu hwi sembari berbalik dan berjalan mendahului Eunhyuk.
             Baru saja beberapa langkah mereka hendak melanjutkan perjalanan, terdengar bunyi pecahan yang begitu keras dari arah atas Pub itu. Hiu hwi dan Eunhyuk sentak kembali menoleh, menghadap kaca ruangan yang terlihat mati-hidup tak karuan disana. Eunhyuk sangat tau dimana lokasi ruangan itu! Yah, tempat dimana tadi ia dan...
             “Kyuhyun-ah...” desah Eunhyuk panik. Hiu hwi yang mendengar lontaran nama dari bibir Eunhyuk pun kontan ikut terbelalak. Bukan hanya pecahan lagi yang terdengar, tapi juga suara teriakan yang cukup kencang.
             “Hiu hwi-ya sepertinya Kyu mengamuk. Aku akan—aku akan mengantarmu pulang lebih dulu dan—”
             “Tidak perlu, kau cepat lihat saja keadaan Kyuhyun sekarang. Aku tidak apa-apa, aku bisa langsung pulang naik taksi saja.”
             “Jinchayo? Geurae, hati-hati Hiu hwi. Jika ada apa-apa, kau telpon aku saja.”
             “Ara.”
             “Nde, aku akan melihatnya dulu.” Ucap Eunhyuk seraya hendak bergegas berlari melihat kondisi Kyuhyun saat ini. Ia sangat hafal, jika Kyu tak akan pernah main-main dengan apa yang ia lakukan sekarang, bahkan mungkin untuk menyakiti dirinya sendiri.
             “Eunhyuk-shi,” panggil Hiu hwi seketika, membuat Eunhyuk kembali menoleh padanya. Tampak sekali, kekuatiran diraut wajah gadis itu sekarang. Kedua daun bibirnya nampak membiru dan bergetar, menahan semua apa yang ia rasakan saat ini.
             “Waeyo?”
             “Boleh aku meminta bantuanmu satu hal?”
             “Mwo?”
             “Tolong... jaga Kyuhyun-ku. Dekap dia dan katakan semuanya akan baik-baik saja. Tolong... jangan meninggalkannya sendiri, rangkul dia dalam keadaan apapun. Dia tak boleh menangis lagi seperti itu, dia pemuda yang keras dan kuat. Jaga Kyuhyun agar dia tak terlihat rapuh dihadapan siapapun. Tolong... huhh... jaga dia untukku Eunhyuk-shi.”
             “Hiu hwi-ya...”
             “Jaga dia dalam keadaan apapun.” Hiu hwi sepertinya tak mampu lagi berucap apapun saat ini. Kepalanya merunduk, semakin merunduk.
             “Arasseo. Kau tak perlu kuatir, pulanglah.” Balas Eunhyuk tersenyum. Namja ini sepertinya sudah menyadari sesuatu hal. Dengan gerakan cepat, ia kembali berbalik dan berlari masuk ke pintu Pub itu. Meninggalkan Hiu hwi yang kini malah mendongak menatapi jendela ruangan atas Pub itu yang berkedip nanar.
             “Aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Untuk hari ini saja, aku tak bisa membohongi perasaanku, jika aku sangat mencintaimu. Berbahagialah, orang sepertimu memang pantas untuk bahagia.” Ucap Hiu hwi seraya tak berniat sama sekali untuk mengalihkan pandangannya pada jendela ruangan atas Pub itu. Entah apa yang terjadi disana, yang jelas Hiu hwi hanya mampu menengadah dan berdoa agar Kyuhyun baik-baik saja disana.
             Yah, baik-baik saja? Itu terdengar seperti sebuah lelucon, jika mengingat bagaimana keadaan Kyuhyun diruangan itu sekarang. Jauh dari apa yang semua orang bayangkan, sosok Kyu kini terlihat begitu rapuh dalam balutan emosinya itu. Tak ada damai yang ia rasa sekarang, semua apa yang telah ia lakukan saat ini terasa begitu percuma.
             “ARGH...!” Pekiknya yang entah keberapa kalinya. Kembali, botol-botol alkohol itu bergeser dan jatuh dari tempatnya semula. Bahkan lihatlah, meja panjang kaca itu sudah pecah tak berbentuk lagi karna ulah Kyu. Bagaimana pun juga, ia masih dibawah kendali minuman keras. Semua apa yang tengah ia perbuat sekarang, tak ia pikirkan lebih dulu.
             “CHO KYUHYUN!” Pekik Eunhyuk dengan raut tak percaya, saat kini ia melihat ruangan ini sudah sangat berbeda dari yang tadi ia tinggalkan. Tak perduli akan hal itu, Eunhyuk pun dengan cepat menembus pecahan-pecahan gelas itu untuk menghampiri Kyu. Yah, apa namja itu gila? Bagaimana Kyu dapat meremas bongkahan pecahan itu pada telapak tangannya sendiri?
             “Ya Tuhan...” gumam Eunhyuk saat ia menatapi tangan kanan Kyuhyun mulai dibanjiri darah segar yang terus saja mengalir. Apa Kyu benar-benar sudah tak waras? Ia bahkan seolah tak perduli lagi dengan beberapa pecahan yang telah menusuk cukup dalam pada telapak tangannya.
             “Lepaskan aku!” Umpat Kyu saat Eunhyuk ingin menolongnya.
             “YA! Cho Kyuhyun...!”
             “Biarkan tangan ini lumpuh. Apa kau tak lihat tadi Eunhyuk-ah? Dia dengan bodohnya menanda tangani surat itu. Tangan ini sudah dengan beraninya menanda tangani surat perceraian itu. Aku tak bisa membiarkannya... aku akan—”
             “YA! Kyuhyun-ah sadarlah...! Apa yang tengah kau lakukan ini, huh? Jangan bersikap bodoh, bagaimana mungkin seorang Cho Kyuhyun dapat melakukan hal sebodoh ini?” umpat Eunhyuk seraya memeluk Kyu agar namja itu berhenti bergerak dan tak berbuat yang macam-macam lagi. Kyuhyun yang sudah terduduk ngilu itupun, tak bisa lagi berkutik. Hanya ada satu nama yang kini sangat ia ingat dalam otaknya... CHO HIU HWI miliknya.
             Eunhyuk sentak mengeluarkan sebuah ponsel, dan memencet nomor rumah Kyuhyun disana. Sesungguhnya, ia tak tau lagi harus menghubungi siapa untuk membantunya mengurus Kyu ke Rumah sakit.
             “Yeobosseyo...” jawab seseorang diseberang sana.
             “Kau Changmin?”
             “Nde, waeyo?”
             “Bantu aku mengurus Kyu sekarang!”
             “MWO?”



***



‘Cinta terkadang hanya terasa seperti sebuah fatamorgana,
Seperti sebuah impian kosong,
Dan seperti sebuah bayangan palsu....’



* When it all began, a farewell! *



@Seoul Hospital, -South Korea-



             Sudah hampir 3 hari ini, Kyu terbaring di Rumah sakit. Telapak tangannya tampak dibalut perban putih akibat luka pecahan gelas yang terjadi dimalam itu. Tak nampak seulas senyum diraut wajah Kyu saat ia mulai membuka mata. Entahlah, rasanya sedikit sesak menyadari semua ini adalah sebuah kenayataan pahit dan bukannya mimpi belaka.
             “Jadi maksud kalian, aku sudah terlambat?” tanya Kyu dengan kilatan mata tajamnya saat ini. Nyonya dan Tuan Cho hanya mampu menghela nafas panjang menatapi nasib putra bungsunya itu.
             “Hiu hwi sudah menaikkan surat perceraian kalian ke pengadilan. Berkas sudah lengkap, dan kalian sudah resmi bercerai sekarang.” Tandas Changmin seraya membenarkan letak kaca matanya itu. Kyu berpaling, membalas sorot mata Changmin padanya itu.
             “Cah...” tampak Kyu tersenyum miris sejenak, lalu berusaha merubah raut wajahnya itu agar kembali terlihat normal. Namun rasanya itu sulit dilakukan, mengingat kedua pelupuk matanya kini sudah memerah menahan rasa sakit dan emosi yang menjadi satu dalam dadanya. Hiu hwi... akhirnya, gadis itu benar-benar melakukannya.
             “Kyu, kau jangan berpikir hal yang seperti itu dulu. Eomma akan berbicara pada Hiu hwi untuk—”
             “Tidak perlu.” Sela Kyu cepat, membuat semua orang yang ada diruangan inap ini sedikit terkejut.
             “Dia sudah memilih, jadi untuk apa dibicarakan lagi? Lepas dariku adalah kebahagian untuknya, lalu aku bisa apa Eomma? Biarkan dia sendiri, biarkan dia hidup bahagia lepas dari semua pengekanganku. Itu adalah pilihan hidupnya, aku tak bisa merusaknya lagi.”
             “Kyu...”
             “Aku tidak apa-apa.” Balas Kyu seraya berpaling menatap Rae In dengan tajam. Seperti ada sebuah bongkah kebencian yang saat ini melanda tatapannya itu. Rae In merunduk, sudah sedari tadi ia tak bersuara apalagi berani menatap sorot mata Kyu.
             “Bisakah kalian tinggalkan aku dengan gadis itu lebih dulu?” tunjuk Kyu pada Rae In, tanpa memantau nama gadis itu lagi. Semua orang tampak saling menatap, hingga Nyonya Cho mengangguk dan menyuruh yang lainnya ikut keluar.
             Tubuh Rae In sontak bergetar. Selama beberapa hari Kyuhyun menginap di Rumah sakit ini, ia sendiri pun tak bisa bernafas dengan baik. Bagaimanapun juga ia mencintai Kyuhyun, ia tak ingin namja itu sakit dan frustasi seperti ini. Sungguh, ia sedikit merasa bersalah.
             “Ak-aku...” Rae In tampak berusaha membuka suaranya tatkala diruangan ini hanya tinggal ia dan Kyuhyun. Kedua bola matanya sedikit berpaling, menatapi tangan Kyuhyun yang masih tampak kaku untuk digerakkan itu.
             “Sekarang kau puas? Aku sudah bercerai dari Hiu hwi, kau pasti sangat senang menyadari fakta itu bukan? Kau sudah berhasil menghancurkan pernikahanku. Cah, kau benar-benar wanita luar biasa,”
             “Oppa.”
             “Saat pertama kali aku bertemu denganmu Kang Rae In, aku berpikir jika kau adalah wanita yang polos dan manis. Kau terlihat berbeda dari wanita yang pernah kutemui di Bar-bar malam yang pernah ku kunjungi. Kau memang cantik, bahkan bukan hanya itu yang kulihat saat pertama aku berkenalan denganmu, tapi juga rasa ingin menjagamu dari kehidupan malam yang begitu keras. Aku berpikir, jika gadis sepertimu perlu dibantu untuk keluar dari kehidupan kelam seperti itu.”
             “Kyuhyun Oppa...”
             “Tapi—” Kyuhyun sentak mendongak menatap Rae In. Gadis itu nampak menangis deras, entah itu tangisan tulus atau memang ia buat-buat. Namun jujur, Rae In benar-benar tak menyangka dengan semua ucapan yang tadi terlontar dari bibir Kyuhyun tentangnya.
             “Tapi sekarang pandanganku berubah. Aku muak melihatmu! Kau seperti seorang gadis hina yang telah menghancurkan kehidupan orang lain. Apa kau senang melihatku seperti ini? Kau bahagia?” lanjut Kyu dengan sorort mata yang berair. Rae In lagi-lagi tak bisa membalas perkataan Kyu. Setiap apa yang namja itu lontarkan padanya, seakan menjadi sebuah jarum yang menusuknya semakin dalam. Yah, mendengar orang yang ia cintai berucap seperti itu ternyata lebih sakit daripada mendengar sebuah penolakan langsung.
             “Aku sudah bercerai dari Hiu hwi. Sekarang, hanya kau gadis yang mungkin akan menjadi istriku. Hahaha, istri? Aku benar-benar tak berniat untuk melakukan itu! Sekalipun hubunganku dengan Hiu hwi sudah hancur seperti ini, tapi kau jangan pernah berharap aku akan mengalah dan mau menikahimu. Cih, kau pikir aku akan percaya jika anak yang ada rahimmu itu anakku? Bahkan, aku tak pernah merasa pernah menidurimu.”
             “Cukup Oppa! Kenapa kau selalu saja memandangku dengan rendah? Sudah aku katakan berulang kali, jika aku tak pernah mau tidur dengan namja yang tak kucintai! Jika kau tak percaya dengan anak ini, aku juga tak akan menuntut itu. Tapi asal kau tau... aku benar-benar mencintaimu.”
             “Mencintaiku? Hahaha, kau tak waras? YA! Bahkan sampai kapanpun, hanya akan ada Hiu hwi yang mengisi semua apa yang ada ditubuhku ini.”
             “Aku tidak perduli. Kau mencintainya, maka aku akan mencintaimu. Jika bukan karna bayi ini, aku tak akan bersikap hina seperti ini Oppa. Tapi—anak ini butuh masa depan! Bagaimana kelak, jika dia tau kalau dia dilahirkan haram? Aku sudah cukup merasakan kesakitan itu ketika kecil, jadi aku tak ingin anakku juga merasakan hal yang sama nantinya. Aku akan melakukan apapun demi pengakuanmu untuknya dan—”
             “Jangan pernah berharap itu! Sampai kapanpun, aku tak akan pernah menikahimu. Kau dengar ini? Aku tak akan pernah menikahimu, sekalipun Hiu hwi sudah pergi dariku.”
             “Oppa...”
             “Aku tak bisa hidup bersama orang lain selain Hiu hwi! Lebih baik aku mati, jika aku harus tetap menikahimu.”
             “Mwo?”
             “Diatas meja itu ada pisau, kau bisa menusuk jantungku sekarang juga. Aku tak bisa menikahimu, bahkan sampai kapanpun. Jika kau masih memaksa itu, kau bunuh saja aku.”
             ‘Oppa...’
             Gumam Rae In tak percaya atas lontaran kalimat Kyu kali ini. Tampak sekali, Kyu seakan tertekan dan begitu depresi.
             ‘Sebegitu besarkah kau mencintai gadis itu Oppa? Kenapa kau menjadi seperti ini? Bahkan kau mengatakan rela mati daripada harus menikahiku? Kau tau, huh? Itu sangat menyakitiku, sangat menyakitiku Oppa. Apa Hiu hwi berarti untukmu? Kenapa aku tak bisa menerima itu? Itu sulit, sangat amat sulit untukku!’
             “Kenapa kau diam, uh? Apa kau ingin aku ambilkan pisau itu? Oh... baiklah... baiklah.” Ucap Kyu seraya menggeser posisinya untuk sedikit kesamping, tepatnya bermaksud untuk mengambil pisau yang tergeletak diatas buah-buah segar itu. Sedikit susah untuk Kyu, namun sepertinya ia tak pantang menyerah.
             “Aniya Oppa...”
             “Aniya? Lalu aku ingin aku bagaimana? Aku sudah menyuruhmu untuk membunuhku, tapi kenapa kau menolak?”
             “Aniya!”
             “Kau ragu untuk memutuskan? Atau mungkin kau—”
             “ANIYA! Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Kau terlihat menderita, sama saja kau juga membunuhku. Aku mencintaimu, tapi aku adalah gadis yang cukup tau diri. Jika kau memang tidak mau menikah denganku, aku juga tak akan memaksanya. Aku tak akan menikah denganmu Oppa!” Pekik Rae In seraya terisak deras. Kyu menoleh padanya dengan tatapan tak percaya.
             “Maksudmu?”
             “Kau ingin membatalkan pernikahan ini, ohk? Baik! Baiklah, asal aku masih dapat melihatmu baik-baik saja. Kita tak akan menikah sampai aku melahirkan anak ini kelak! Aku akan membuktikan padamu, jika anak ini adalah anakmu.”
             “Kau serius? Apa aku bisa memegang janjimu itu? Tak akan ada pernikahan?”
             “Nde.”
             “Huhh... setidaknya aku bisa bernafas lega mendengarnya.”
             “Tapi dengan satu syarat.” Ucap Rae In lagi, membuat Kyuhyun sentak kembali menoleh padanya.
             “Mwo?”
             “Jika kelak anak ini lahir, dan aku bisa membuktikan kalau bayi yang ku kandung ini adalah darah dagingmu... kau harus berjanji sesuatu hal padaku,” Kyuhyun tampak memicing menatap Rae In yang juga kini menatapnya dengan sinis.
             “Tinggalkan Hiu hwi dan berusahalah untuk menerima anak ini.”
             “MWO? MWORAGO?”
             “Kenapa? Kau takut?”
             “ANIYA Nyonya Kang! Tapi—jika itu tidak terbukti anakku. Kau harus pergi sampai sejauh mungkin, dan jangan pernah kembali lagi dan muncul dihadapanku. Jika perlu, kau jangan pernah menganggapku mengenalmu, kau mengerti?” hardik Kyuhyun, membuat Rae In sentak mencengkram ujung kaos yang ia kenakan sekarang.
             “Baik... baiklah.” Balas yeoja itu seraya menitikan air matanya.



***



@Taman Hiburan_



             Hiu hwi tampak berdiri tegak seraya melentangkan kedua tangannya kedepan, memeluk angin dan membiarkan dinginnya merasuk ke balik-balik celah permukaan kulit putihnya itu. Sesekali, tampak ia menarik nafas panjang, lalu ia keluarkan dengan perlahan-lahan, seakan itu cukup membuatnya merasa tenang. Tenang? Hidupnya menjadi sangat amat tenang semenjak perceraian itu terjadi. Karna terlalu tenang, Hiu hwi bahkan merasa sama sekali tak bahagia.
             “Ini—minumlah...” ucap seseorang seraya menyodorkan sebuah air dingin pada gadis itu. Hiu hwi membuka matanya dan berusaha untuk kembali tersenyum.
             “Gomawo Changmin Oppa. Hari ini, kau sudah membawaku berkeliling untuk menghilangkan penatku. Yah, semua terasa lebih mudah sekarang,”
             ‘Mudah?’
             Gumam Changmin seraya diam menatapi wajah Hiu hwi yang menurutnya terlihat sangat jauh berbeda dari saat pertama kali ia melihat gadis ini. Benar, lebih cekung, kurus dan tampak sangat menyedihkan sekalipun ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
             “Hummm... Oppa tak bekerja?” tanya Hiu hwi seraya berbalik menghadap Changmin.
             “Hhhh... ani. Aku hanya berpikir kau butuh penyegaran, untuk itulah aku membawamu kemari. Tugasku sekarang adalah... menjagamu agar kau tak semakin jatuh.”
             “Oppa...” balas Hiu hwi dengan raut muram seperti sebelumnya. Hening! Gadis itu tampak merunduk dengan helaannya.
             “Hey, aku meluangkan waktuku kemari bukan untuk melihat ekspresimu seperti itu, tapi untuk melihat wajahmu tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. Kajja, kita bekeliling-keliling lagi.” Tarik Changmin sembari menggenggam tangan Hiu hwi untuk berlari menikmati refreshing mereka ini.
             Hiu hwi hanya diam saja sembari mengangguk singkat. Sesungguhnya, sekalipun ia merasa senang akan semua sikap Changmin ini padanya. Namun aneh, tak seperti dulu. Rasanya, ada sebuah celah yang masih melubangi perasaannya sekarang. Seperti... ada sesuatu yang telah berubah. Disini... dihati Hiu hwi.

             Bermain-main di Taman Hiburan ini bersama Changmin, dulu menjadi impian terbesar Hiu hwi. Saling berpegangan tangan, tertawa, dan bermain hal-hal apapun yang dapat mereka lakukan disini. Sepertinya, memang sangat menyenangkan. Seperti sekarang, keduanya tampak melakukan banyak hal yang dulu jarang mereka lakukan bersama selama menjadi sepasang kekasih. Changmin tampak juga memberikannya sebuah topi pikachu yang mereka dapatkan dari seorang penjual.
             Hiu hwi senang! Yah, terlihat seperti itu memang. Namun nyatanya, Changmin masih mampu menatapi sisi dibalik senyuman yeoja itu. Menurutnya, Hiu hwi bukan merasa senang, tapi mencoba untuk merasa senang. Sekalipun luka itu tertutupi, tapi terkadang Hiu hwi malah menampakkannya begitu jelas. Rengkuhan kedua mata sayunya itu sudah cukup untuk memperjelas.
             ‘Kyuhyun pasti baik-baik saja disana. Jika saja dia yang memakai topi Pikachu ini, pasti jauh terlihat lebih lucu...’
             Gumam Hiu hwi yang tanpa sadar terus mengucapkan nama Kyuhyun dalam gumaman batinnya.
             ‘Bukankah kemarin dia masuk Rumah sakit? Bagaimana keadaannya sekarang? Aku harap Tuhan akan selalu menjaganya...’
             Hiu hwi kembali menghela nafas, seakan tak sadar jika Changmin sudah sejak tadi memperhatikannya.
             “Hiu hwi...” entah sudah yang ke berapa kalinya Changmin mencoba untuk memantau nama gadis itu, tapi percuma... Hiu hwi seolah lebih sibuk dengan dunianya itu. Changmin berpaling kedepan dan tersenyum. Hiu hwi yang dulu ia kenal, kini sudah tampak berbeda sekarang.
             “Sepertinya, aku sudah terlambat.” Ucap namja itu seraya meneguk sebotol air soda dingin ditangannya.
             “Eh, apa maksudmu Oppa?” tanya Hiu hwi seketika. Changmin meliriknya sebentar, lalu tersenyum.
             “Aniya. Hanya saja, Kyuhyun baru kemarin pulang dari Rumah sakit.”
             “Mwo? Benarkah?” tanya Hiu hwi kikuk seraya kembali merunduk. Ada goresan kuatir yang dirasakan Changmin pada yeoja itu. Sudah hampir berjam-jam ia berusaha untuk menangkan Hiu hwi, namun gadis itu tetap bereaksi sama. Tapi, cobalah lihat ketika ia mendengar nama Kyuhyun disebut. Ekspresi yeoja itu, bahkan berubah drastis. Changmin tau, jika sebenarnya Hiu hwi memang tengah menunggu kabar dari Kyuhyun, sekalipun yeoja itu tak bertanya atau pun tak berniat ingin tau. Tetap saja, ia tampak masih perduli pada Kyu.
             “Eh... ba-baguslah,” gadis itu kembali berucap. Sungguh, ia tak pandai berbohong. Changmin mengangguk-angguk tak karuan, sepertinya ia juga sudah menyadari sesuatu hal akan yeoja ini. Sesuatu yang mungkin memang telah tumbuh tulus dalam hati Hiu hwi. Cintanya pada Kyuhyun!
             “Changmin Oppa, bagaimana jika kita lanjutkan perjalanan kita sekarang? Aku masih ingin—ingin melihat-lihat tempat ini sebentar.”
             “Benarkah? Tapi aku malah melihatmu seolah ingin beristirahat sekarang.”
             “Nde?”
             “Sudahlah, jangan terlalu memaksakan diri untuk terlihat bahagia dalam keadaan hatimu yang seperti itu. Kita pulang sekarang, ini juga sudah sore.”
             “Gwanchana. Aku tidak apa-apa. Sungguh Oppa, aku—aku tidak apa-apa.”
             “Bodoh!” Changmin tampak mengusap puncak kepala Hiu hwi sekilas, membuat yeoja itu hampir saja menangis deras. Ia merindukan Kyuhyun, ia sangat ingin melihat namja itu sekarang. Hiu hwi menautkan kedua tangannya dalam, bermaksud agar ia tak menangis lagi.



***



* When it all began, For Me, U’ar One *



             Sepertinya, Changmin mengabulkan permintaan Hiu hwi untuk tidak mengantarnya pulang lebih dulu. Namja itu kini sengaja membawanya ke Kantor, setidaknya Hiu hwi cukup akan melupakan masalahnya sejenak dengan menyalurkan hobinya menggambar Design baju. Bukankah Changmin adalah partner kerjanya, jadi itu akan terlihat lebih mudah jika Hiu hwi bisa menunjukan langsung semua hasil rancangannya itu.
             “Kau sudah memikirkan ide untuk musim ini?” tanya Changmin seraya berjalan setelah ia selesai memarkirkan mobilnya itu.
             “Ah, aku belum sempat memikirkan semuanya.”
             “Hahaha, aku mengerti. Aku rasa, kau harus menyibukkan diri dihari-hari berikutnya. Semua Design-mu sudah sangat ditunggu semua orang.”
             “Tentu saja. Lagi pula, aku sudah dikontrak dengan wakil Direktur tampan sepertimu, pasti bajuku akan jauh lebih terkenal.”
             “Yah, semua rancanganmu juga akan dipakai banyak artis. Jadi, kurasa kau akan untung besar nantinya. Dan mungkin saja, akan banyak artis-artis lainnya yang akan menunjukmu sebagai perancang mereka. Kau tau Hiu hwi? Kau punya bakat besar dibidang ini. Kuharap kelak kau—” perkataan Changmin sentak tercekat saat ia merasakan, jika Hiu hwi kini tak berjalan lagi disampingnya. Namja jangkung itu pun sentak berbalik, menatapi Hiu hwi yang mematung seraya menghadap lurus kedepan.
             “Hiu hwi, waeyo?” baru saja Changmin hendak kembali menghampirinya, kedua mata yeoja itu sudah menitikan air mata. Changmin tercenung, Hiu hwi seperti melihat sesuatu hal didepannya.
             “Kyu-kyuhyun-ah...” bibir gadis itu bergerak. Walau pelan, Changmin masih mendengarnya. Dengan cepat, ia balikan kepalanya itu menghadap kearah penglihatan Hiu hwi saat ini. Dan yah, yang benar saja... Kyuhyun kini tampak juga mematung tak jauh dari mereka sekarang. Sebenarnya, namja itu tak menyadari keberadaan Hiu hwi, jika tadi tak ada Staff yang menunjuk kearah Changmin.
             Kedua orang itu tampak saling berhadapan dengan sorot mata mereka yang saling menatap. Tubuh Hiu hwi bergetar, memandangi sosok Kyu yang sangat ingin ia lihat dari hari-hari kemarin. Sama halnya dengan Kyuhyun, selama beberapa hari ini ia seolah berusaha untuk hidup baik-baik saja tanpa kehadiran Hiu hwi, namun nyatanya itu begitu sulit.

Hening!

             Hiu hwi sentak berpaling kearah samping untuk meneteskan air matanya cepat. Ia tak bisa terus menerus saling menatap dengan Kyuhyun seperti itu. Tidak! Pasti ia tak akan kuat untuk tidak memeluk namja itu nantinya.
             Kyuhyun memalingkan pandangannya pada Changmin sejenak, lalu kembali menatap tajam kearah Hiu hwi. Baiklah, ia tak mungkin membiarkan keadaan ini lebih lama lagi seperti ini. Kyuhyun pun sontak menggerakkan kedua kakinya berjalan maju, tepatnya kearah Hiu hwi. Langkahnya semakin cepat bersama rahangnya yang mengeras. Betapa ia ingin sekali menyalurkan semua emosinya itu sekarang. Changmin tak berkutik, membiarkan Kyuhyun melewatinya dan kini berdiri tepat dihadapan yeoja itu.
             ‘Bantu aku Tuhan, tolong bantu aku...’
             Gumam Hiu hwi dengan tubuh yang benar-benar bergetar. Ia tak bisa menahan tangis, sungguh melihat Kyuhyun sudah cukup membuatnya merasakan sesak, apalagi berdekatan dengan namja ini. Hiu hwi tak berjanji bisa mengendalikan perasaannya lagi.
             “Ikut aku!” Ucap Kyu tertahan seraya mencengkram pergelangan tangan Hiu hwi dan menariknya paksa. Hiu hwi terlonjak, pegangan Kyu begitu erat padanya. Ingin memberontak ataupun menolak untuk tidak ikut? Sepertinya, Hiu hwi sudah tak punya tenaga lagi. Sedangkan Changmin? Sekali lagi, ia benar-benar tak dapat berkutik untuk membantu Hiu hwi. Ia sadar... jika kedua orang itu sudah memang seharusnya berbicara.

BRAAKKK

             Kyu menghempaskan tubuh Hiu hwi tepat disebuah dinding belakang gedung ini. Kedua tangan Kyu terangkat untuk mengunci kedua tangan Hiu hwi didinding itu. Mengerikan! Sorot mata Kyu benar-benar mematikan seperti saat Hiu hwi pertama kali mengenal namja ini.
             “Kyuhyun-ah...” desah Hiu hwi kalut. Kyuhyun tak meresponnya, membiarkan kedua matanya dengan puas menatap setiap tangis dan lekuk yang bergerak dari wajah gadis itu.
             “Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu? Jika kau memang ingin pergi dariku, kau—jangan pernah kembali, ataupun muncul dihadapanku lagi!”
             “Kyu...”

BRAKKK!

             Hiu hwi sedikit memberontak kecil, namun kini Kyu sudah kembali menghempaskan dan semakin menghimpit tubuhnya.
             “Kau muncul lagi, jangan salahkan aku jika kali ini aku tak akan melepaskanmu!”
             “Kita sudah bercerai Kyu! Kau ini kenapa? Apa kau tak sadar, jika kita sudah berpisah sekar—”
             “AKU TAU, AKU TAU! Dan aku... tidak perduli itu! Kau pikir hanya dengan perceraian itu aku akan meninggalkanmu, huh? Kau salah besar. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjauh dariku, tapi kau sendiri yang malah muncul dan membuatku kembali gila seperti ini.”
             “Kyu, kau sudah ingin menikah dengan Rae In. Kumohon, jangan membuat masalah lagi.” Isak Hiu hwi yang semakin merunduk, tak kuat menatapi mata dan wajah namja itu.
             “Menikah? Menikah katamu? YA! Sekali aku mengatakan, jika aku tak akan menikah dengan siapapun selain dirimu, kau pikir aku main-main? Sampai kapanpun, aku tak akan menikah dengan yeoja lain. Rae In sendiri yang telah membatalkan semua pernikahan itu! Kau tau? Kalian semua seperti menganganggapku lelucon!”
             “Mwo? Batal? Kau dan Rae In?”
             “Itu tidak penting! Yang kuinginkan sekarang hanyalah...” Kyuhyun sentak menggesekkan hidungnya pada Hiu hwi, menghembuskan nafas beratnya pada wajah gadis itu. Hiu hwi mengepalkan tangannya, berharap jika Kyu akan berhenti seperti ini.
             “Tidak perduli pernikahanmu dan Rae In batal atau tidak, yang jelas aku dan kau sudah bercerai. Lepaskan aku Cho Kyuhyun!”
             “Melepaskanmu? Jangan pernah berharap aku akan memberikan kesempatan kedua untuk hal itu!” Kyuhyun sentak mengecup lembut rahang pipi kanan Hiu hwi seketika, membuat gadis itu sontak bergidik.
             “Kyu...”
             “Diamlah!”
             “Lepaskan aku. Apa kau gila, huh?”
             “DIAM!”
             “KYU!”

CUP

             Kyuhyun kontan memindahkan bibirnya itu tepat pada kedua daun bibir gadis itu. Hiu hwi memberontak! Tentu saja ia memberontak akibat ciuman kasar yang Kyu lakukan saat ini. Betapa tidak, kini Kyu mulai menggila dengan tanpa perasaan mengigit bibir Hiu hwi cukup keras. Gadis itu tau, jika saat ini tubuh Kyuhyun menegang dengan emosi ketika ia melakukan semua itu.
             “Cho Kyu—”

SREETTT

             Kyuhyun merobek kaos Hiu hwi tepat dilengan yeoja itu, membuat tubuh Hiu hwi kini semakin bergetar tak karuan. Kyuhyun menghentikan aksinya sebentar, dan memandangi wajah Hiu hwi dengan nanar.
             “Dengarkan ini baik-baik... aku tak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun! Tak ada namja manapun yang bisa memilikimu selama masih ada aku bernafas didunia ini. Aku akan menghancurkan siapapun yang berani dekat denganmu, termasuk Changmin. Jadi, jangan macam-macam! Persetan dengan perceraian itu, kau mengerti?” Kyuhyun sontak melepaskan cengkramannya dari Hiu hwi dengan sedikit menghempaskan tubuh yeoja itu. Hiu hwi diam membeku, ia sungguh sudah kehilangan keberaniannya untuk dapat melawan Kyu seperti biasa. Cinta ini sudah melemahkannya, bahkan membuatnya tak dapat berkutik lagi.
             “Huhhh...” Kyu menarik nafas dalam seraya mengusap bibir gadis itu yang begitu merah akibat ulahnya. Bukan hanya bibirnya saja, tapi beberapa bagian rahang dan pipi Hiu hwi. Dengan tanpa dosa, Kyu pun sentak berbalik meninggalkan Hiu hwi yang masih mematung ditempatnya. Ini gila? Yah, terasa sangat gila dipikiran Hiu hwi yang begitu kalut. Yeoja itu sentak mengangkat tangan kanannya dengan gemetar, bermaksud untuk menutupi bagian sobekan baju akibat ulah seorang Cho Kyuhyun.



=TBC=


Next Part


“Tolong maafkan aku—Hiu hwi—Eonni...” ucap Rae In, membuat Hiu hwi mengepalkan tangannya dengan begitu keras.

===

“YA! Cho Kyuhyun... buka pintunya! YA! Kau gila, huh? Kenapa kau mengurungku disini?”
“Diamlah! Kau tak boleh keluar dan lari kemanapun yang tak bisa ku jangkau Hiu hwi, tidak bisa!”
“Kyuhyun-ah...”
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar