_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 2 [Kyu - Hwi School] 3Shoot
Cast :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre :: Romance, School Life
Rating :: PG + 17
This Story Original From @Jjea_
***
“Aku tau, Cho Kyu Hyun Hyung. Gadis ini; Lee Hiu Hwi ... bukankah dia hanya calon adik tirimu? Yah, calon adik tirimu.” Jawab Su Ho dengan senyuman tanpa dosanya, membuat Hiu Hwi yang tadinya merunduk, kini mendongak dengan terkejut. Kim Joon Myun ... apa ia sudah bosan hidup? Baru kali ini ada yang dengan beraninya menjawab pertanyaan Kyu Hyun itu.
“MWO?” Kyu Hyun sentak kembali menatap Su Ho dengan tatapan mengerikan. Rahang pria itu mengeras! Calon adik tiri? SHIT! Itu kata yang sebenarnya dapat membuat puncak emosi Kyu Hyun naik dengan cepat.
***

Cara terburuk merindukan seseorang adalah...
Ketika dia duduk tepat di sampingmu,
Tapi kamu tahu tak pernah bisa memilikinya....’
_“Your Kiss Is MINE!”_ Part. 2
Bebunyian burung-burung indah itu kembali terdengar, menyeruak bersama hembusan angin yang melayang dengan deruan kasar. Banyak bebunyian yang memang terjadi di tempat ini. Namun entahlah, ada suara yang berbeda sendiri dari lorong ujung yang memang terdapat di Sekolah ini. Sebuah suara erangan yang cukup mengerikan!
In Here ... all the stories began.
* FIGHT! *
“Yah, bu-bukankah aku benar Hyung? Hiu Hwi adalah calon adik tirimu ‘kan? Atau ... aku salah?” Su Ho membalas lagi dengan nada polos, tapi entah mengapa itu malah terkesan seperti sebuah kalimat menantang untuk Kyu Hyun. Su Ho sepertinya memang memiliki nyali yang cukup besar!
“Apa yang kau katakan, huh?” Kyu Hyun yang sudah nampak mulai emosipun sentak lebih mendekat ke arah Su Ho, mencengkram kerah baju Sekolah pria itu dengan cukup kasar.
“A-aku salah? Kalau begitu, apa kalian memiliki hubungan yang lebih? Tapi kenapa, Hyung dan gadis itu berciuman di depan Hiu Hwi Noona?” Baiklah! Nampak jari jemari Hiu Hwi bergetar saat mendengar penuturan Su Ho kali ini. Sebenarnya, pria itu benar. Yah, dia benar. Tapi, pada kenyataannya, Su Ho telah salah menanyakan hal semacam itu disaat emosi Kyu Hyun sedang meledak-ledak seperti ini. Sama saja, ia tanpa sengaja telah membangunkan singa besar yang tengah kelaparan.
“KAU—” rahang Kyu Hyun kembali mengeras. Terlihat jelas melalui kilatan matanya itu, jika saat ini ia sedang marah. Cengkraman tangan Kyu Hyun pun bergerak, mengayun seolah hendak menghajar wajah pria bodoh di hadapannya itu dengan sekali hentakan. Namun seketika....
“Sudahlah,” Hiu Hwi bersuara! Nadanya sedikit bergetar kali ini.
“Apa yang dikatakannya benar. Aku hanya calon adik tirimu, bukan? Jadi, untuk apa kau memukulnya? Untuk apa kau marah?” lanjut Hiu Hwi mendongak, membalas tatapan Kyu Hyun yang menghunus tajam ke arah manik matanya. Sial, tatapan Kyu Hyun yang seperti inilah yang membuat jantung Hiu Hwi selalu berdegup dengan amat begitu kencang. Apakah pria itu tak sadar, jika bahkan sorot matanya yang seperti itu dapat membuat banyak orang salah paham?
“Mworago?” Kyu Hyun kini mengalihkan tubuhnya menghadap Hiu Hwi, berdecak pinggang seolah ia juga ingin memukul Hiu Hwi sekarang. Baru kali ini, gadis itu menantang ucapannya.
“Sudahlah, biar aku yang berbicara dengannya. Kau masih ada urusan yang belum kau selesaikan, bukan?” Hiu Hwi menatap gadis di belakang Kyu Hyun itu dengan delikan sinis. Kyu Hyun semakin menatapnya. Persetan! Dengan gerakan cepat, Hiu Hwi sentak berpaling, menarik Su Ho untuk segera mengikutinya pergi dari tempat ini. Jika diteruskan, pasti akan ada adegan mengerikan disini.
Su Ho hanya tercenang diam, begitupula Kyu Hyun yang masih tampak serius mengikuti punggung Hiu Hwi dan Su Ho yang berjalan menjauh darinya. Gigi Kyu Hyun bergemerutuk kesal. Bahkan lihat, kedua tangannya mengepal dengan keras, menandakan jika sekarang ia benar-benar marah! Marah? Yah, emosinya semakin naik saat kedua matanya terhenti di tangan Hiu Hwi yang nampak menggandeng pergelangan tangan Su Ho. Gadis itu—bukankah selama hampir satu tahun ini, ia sama sekali tak pernah saling bersentuhan lagi dengan orang lain? Tapi kenapa sekarang ia mulai berani? Tak sadarkah ia, jika Kyu Hyun amat sangat tak menyukai itu?
“Kau dan pria itu dalam masalah besar, Lee Hiu Hwi!” Umpat Kyu Hyun memicing dengan seringai mengerikannya. Sepertinya kali ini, ia sama sekali tak main-main.
***
Kedua bahu kiri dan kanan Hiu Hwi nampak naik turun tak jelas semenjak tadi, ia bahkan tak sadar jika kini beberapa pasang mata mulai menatapi mereka; dia dan Su Ho. Bagaimana tidak, dengan masih memegangi pergelangan tangan Su Ho, Hiu Hwi terus berjalan melewati semuanya entah ke arah mana. Pikirannya melayang dan hanya fokus pada satu hal. Bahkan mungkin, ia tak sadar masih menarik tangan Su Ho dalam langkahnya itu.
“Noona, mianhae. Tapi..., kita mau kemana?” pertanyaan dari Su Ho kali ini kontan saja membuat Hiu Hwi tersadar. Gadis itu berbalik, menatapi jika tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Su Ho.
“Eh, maaf. Aku—”
“Tidak apa-apa, Noona. Aku ... sebenarnya juga senang,”
“Huh?”
“Pasti Noona sedang memikirkan kejadian tadi, bukan? Tidak, mungkin memikirkan Kyu Hyun Hyung.”
“Kau anak baru disini?”
“Mwo? Ah ya, Noona benar. Aku baru saja pindah dari New—”
“Pantas!”
“Nde?”
“Aku peringatkan padamu mulai dari sekarang, jangan pernah menggangguku lagi. Kau benar-benar bodoh, tadi apa yang kau lakukan? Kau tau siapa Kyu Hyun? Jika kau ingin hidup tenang sampai lulus nanti di Sekolah, berhenti bersikap kau ingin tau segalanya,”
“Noona, apa kau bahagia?”
“Mwo?” Hiu Hwi kontan mengubah ekspresinya kali ini. Bahagia? Haha, lelucon!
“Aku bahagia atau tidak, itu bukanlah urusanmu. Kau seharusnya tidak terlalu banyak ikut campur urusan orang lain,”
“Aku ingin menjadi temanmu.”
“Aku tidak tertarik! Aku tidak suka berteman! Aku lebih suka sendiri, itu jauh lebih tenang.”
“Maksud Noona, kau jauh lebih tenang, jika hanya bersama Kyu Hyun Hyung?” Su Ho tersenyum, membuat sontak saja Hiu Hwi mendongak.
“Kau berkata kau suka sendirian, tapi pada kenyataannya, bukankah Noona mempunyai Kyu Hyun Hyung? Aku rasa, itu bukan sendirian namanya. Aku memang orang yang selalu ingin tau, bahkan sekarang aku sangat penasaran tentang hubungan kalian berdua. Aku bukannya ingin ikut campur, tapi sejak awal aku mengenal Noona, aku sudah tertarik. Itulah mengapa, aku ingin tau banyak tentang Noona. Termasuk—tentang apakah Noona menyukai Kyu Hyun Hyung?”
“Huh?”
“Maaf, jika aku lancang. Tapi aku merasa, jika memang kau tidak menyukai Kyu Hyun Hyung, untuk apa Noona tetap tinggal bersamanya? Aku yakin kau gadis mandiri Noona, kau pasti bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dan pada kenyataannya, kalian tidak mempunyai hubungan apapun sekarang, tidakkah Noona pernah merasa tak enak dengan perkataan orang lain?” Hiu Hwi terdiam! Kedua daunnya bungkam dengan getaran yang tak bisa ia suarakan.
“Hubungan kalian memang bisa dikategorikan sebagai adik-kakak, tapi juga bisa dikategorikan sebagai pasangan kekasih bagi orang lain. Jika saja semua ini diteruskan, dua orang yang tinggal bersama, selalu bertemu lantas merasa telah terikat, selalu ada kemungkinan disana untuk mereka jatuh cinta satu sama lain. Lagipula jika ak....”
“Itu bukan urusanmu!” Potong Hiu Hwi cepat seraya menatap Su Ho dengan sinis. Gadis itu berbalik, berniat hendak pergi meninggalkan Su Ho. Entah terbuat dari apa lidah pria itu, bahkan sampai ia benar-benar dapat merusak mood Hiu Hwi sekarang.
“Hiu Hwi Noona,” cegat Su Ho lagi. Dan entahlah, Hiu Hwi sendiri bingung mengapa ia malah berhenti.
“Ini—sebenarnya tadi, aku hanya ingin memberikan ini padamu,” Su Ho tampak mengambil sesuatu di dalam tasnya, lalu menyodorkan sebuah botol bening berukuran sedang pada Hiu Hwi. Gadis itu mengernyitkan dahinya tak mengerti. Tapi itu....
“Aku membuat ini semalaman. Saat aku bertemu Noona menunggu bus waktu itu, aku melihat Noona tersenyum. Aku merasa, jika pasti Noona sangat menyukai lipatan kertas burung ini; origami. Jadi untuk itulah, aku membuatnya banyak, lalu aku masukkan ke dalam botol. Indah bukan?” Hiu Hwi menatap Su Ho dengan tatapan tak percaya. Banyak origami berwana-warni yang berada di dalam botol bening itu. Memang indah, sangat unik.
“Ini—ambillah, anggap saja sebagai permintaan maafku karna sudah terlalu lancang,” Su Ho menarik tangan Hiu Hwi untuk sedikit memaksa yeoja itu menerima botol berisi origaminya ini. Pria berkulit putih itu tersenyum, manis. Tubuhnya yang tegap membungkuk perlahan di hadapan Hiu Hwi.
“Sampai jumpa Noona.” Pamit Su Ho seraya menggerakkan kakinya untuk pergi meninggalkan Hiu Hwi yang masih mematung di tempat. Tampak bola mata gadis itu berpindah, melirik sebuah botol yang kini berada di tangannya.
“Huhhh....”
***
Tak banyak orang berpikir, betapa uniknya selembar kertas. Bukan hanya untuk dijadikan sebagai tempat untuk menulis, atau mungkin sebagai alas. Selembar kertas sendiri bisa menghasilkan banyak bentuk rupa yang indah. Bunga, pesawat terbang, kapal, bola, termasuk juga—origami. Ada beberapa pendapat unik tentang lipatan-lipatan kertas itu sendiri, salah satunya menyangkut tentang sebuah keajaiban.
“Ini—” Hiu Hwi tersenyum saat mendapati botol origami yang tadi sempat ia dapatkan dari Su Ho. Tangan kanannya bergerak, mengambil satu origami berwarna biru kesukaannya. Ia teringat akan perkataan Su Ho yang mengatakan, jika ia sangat menyukai lipatan kertas itu. Menyukainya? Su Ho nampaknya salah kali ini.
“Bukan aku yang menyukai origami ini, tapi...,” tubuh Hiu Hwi berbalik, tepatnya ia berdiri menyandar di dekat pintu kamarnya sekarang. Nampak seorang pria tengah duduk di meja makan seraya melipat-lipat kertas berwarna-warni di hadapannya membentuk sebuah burung kecil. Hiu Hwi tersenyum tipis, Kyu Hyun selalu melakukan itu diwaktu luangnya seperti ini.
“Cho Kyu Hyun, seharusnya kau memberikan ini padanya, bukan padaku,” Hiu Hwi terlihat memperhatikan satu per satu apa yang ada di diri Kyu Hyun saat ini. Rambut pria itu, matanya yang tengah mengerjap, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kadang terbuka kecil. Shit! Kenapa ia begitu sempurna? Kyu Hyun memang pria yang tampan, selain itu juga dia pria yang sangat unik. Lihatlah, disaat pria seusianya kebanyakan sibuk bermain alat musik dan membentuk sebuah grup, Kyu Hyun malah sibuk membuat banyak origami yang entah sudah berapa jumlahnya sekarang. Kyu Hyun selalu menggantungkan lipatan kertas itu di semua tempat, terutama di kamar pribadinya. Tak ayal, disaat siapapun yang masuk ke kamarnya itu pasti akan tercenang di buatnya. Akan ada ribuan—tidak—mungkin jutaan origami yang menggantung di langit-langit kamar pria itu. Berwarna-warni, tapi sepertinya Kyu Hyun lebih suka origami berwarna biru muda. Entah apa asalannya, yang pasti, Hiu Hwi sangat tau bagaimana bahagianya Kyu Hyun tatkala ia berhasil membuat banyak origami melalui tangannya sendiri.
“Kau merasa kenyang dengan mematung disana, lalu menatapku?” ucap Kyu Hyun seketika, membuat Hiu Hwi sontak terperanjat kaget dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak sadar sudah berapa lama ia menatapi Kyu Hyun seperti tadi. Memalukan!
“Eoh....” Balas Hiu Hwi kikuk seraya berjalan ke arah Kyu Hyun yang telah sedari tadi duduk manis dan bersiap menyantap makanan di hadapannya. Inilah dia! Kyu Hyun tak akan makan, jika ia sendirian. Pria itu bahkan rela menunggu, walau perutnya sudah sedari tadi berteriak minta dipenuhi.
Hiu Hwi menghela nafas panjang sebelum duduk dan mengambil nasi di hadapannya. Hanya sedikit, sebenarnya ia sedang tak nafsu. Hanya ingin agar Kyu Hyun makanlah, Hiu Hwi disini.
“Kau sakit?”
“Nde? Aaaaniya.”
“Kalau begitu, makanlah lebih banyak,” belum sempat Hiu Hwi hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, Kyu Hyun sudah lebih dulu membubuhkan lagi nasi itu ke dalam mangkok makannya dengan jumlah yang lebih banyak. Gadis itu menatap Kyu Hyun dengan sinis, seakan tak terima.
“Waeyo? Kau berharap aku mengizinkanmu untuk membuang nasi itu karna kau ingin mengatakan sedang tak nafsu makan?” Kyu Hyun balas menatapnya dengan sinis, seakan memberi kode ‘apakah ia berhak untuk menolak?’.
“Akan aku habiskan,” dengan terpaksa Hiu Hwi menyuapkan sendok itu ke dalamnya dengan isi yang sangat banyak. Masa bodoh jika pada akhirnya ia muntah atau apa. Toh, ia juga ingin melihat reaksi Kyu Hyun, jika ia benar-benar muntah karna hal ini.
Kyu Hyun hanya menatapnya, membiarkan Hiu hwi berbuat seperti itu. Benar, ia seolah tak perduli. Sial!
“Aku sudah selesai!” Ucap Hiu Hwi dengan isi mulut yang masih cukup penuh. Gadis itu menuangkan minumannya, berharap air itu bisa membantunya menelan dengan cepat. Lagi, Kyu Hyun hanya menatapinya tanpa ekspresi. Pria ini....
“Aku akan kembali ke kamar.” Lanjut Hiu Hwi seraya membereskan beberapa mangkok bekas ia makan tadi untuk ia bawa ke dapur. Nmaun....
“Jadi benar, kau mempunyai hubungan dengan pria bermarga Kim itu?” Hiu Hwi sintak menghentikan aktivitasnya tatkala ia mendengar lontaran pertanyaan dari Kyu Hyun kali ini. Pria bermarga Kim? Oh tidak, apa Kyu Hyun sudah mendaftarkan Su Ho sebagai musuh besarnya sekarang?
“Kau menyukainya? Apa sekarang kau berniat untuk memiliki seseorang selain aku?” Kyu Hyun nampak serius sekarang. Hiu Hwi berbalik, melirik Kyu Hyun sekilas untuk mengetahui apa pria ini sedang marah atau tidak.
“Aku tidak mengenalnya, dan aku juga tidak tau siapa dia,” jawab Hiu Hwi seadanya. Ia tak ingin beradu mulut dengan Kyu Hyun sekarang. Ia lelah....
“Kau berhak melakukan itu!” Hiu Hwi seketika mendongak mendengar ucapan Kyu Hyun yang ini. Tidak! Apa tadi ia tak salah dengar? Kyu Hyun tak marah? Kyu Hyun mengizinkannya berhubungan dengan orang lain selain dirinya?
“Tapi, tidak dengan tubuhmu! Lee Hiu Hwi ... kau tau siapa aku bukan? Aku paling tak suka apa yang sudah menyangkut hidupku, dapat disentuh oleh orang lain juga. Aku tidak bisa! Jauhi pria itu atau aku akan membunuhnya,” bisik Kyu Hyun yang sekarang sudah berdiri di belakang tubuh Hiu Hwi. Pria bermarga Cho itu mendekatkan tubuhnya, menyingkap lembut helai rambut panjang Hiu Hwi agar tak menutupi leher putih gadis itu.
Tubuh Hiu Hwi menegang! Ia merasakan tubuhnya menghangat tak karuan! Owh, pria ini....
“Kau milik Cho Kyu Hyun, ingat itu,” Kyu Hyun mengalungkan kedua tangan kekarnya pada pinggang ramping Hiu Hwi dari arah belakang, mendekatkan bibirnya itu untuk bersiap....
“Errr—Kyu—” tangan Hiu Hwi mengepal saat dengan begitu perlahan Kyu Hyun menjulurkan lidahnya, lalu menjilati leher gadis itu gemas. Dingin! Hiu Hwi merasa jika leher bagian kirinya itu sudah sedikit basah sekarang.
“Kumohon—jangan Kyu!” Hiu Hwi mulai memohon pada Kyu Hyun saat kini bibir pria itu juga hendak mengecupi lehernya. Tidak! Ia tidak ingin lagi bersekolah menggunakan syal tebal hanya karna lehernya memerah akibat ulah pria mesum ini.
“Tidak disana, tenang saja. Ini hukumanmu karna tadi siang kau dengan beraninya bersentuhan dengan pria lain!” Kyu Hyun tersenyum miring. Entah kenapa pria ini semakin lama semakin mengerikan menurut Hiu Hwi.
“Kyu kau—”
“Ini kimchi, bukan?” Kyu Hyun mengambil sebuah mangkok berisi makanan favoritnya itu, lalu meletakkan tangan Hiu Hwi untuk terjulur di atas mangkok kimchi itu. Yang benar saja, apa yang akan dilakukan oleh pria ini?
“Jangan pernah berani lagi menggandeng tangan orang lain selain aku, bodoh!” Hiu Hwi sentak tercenang saat kini tangan kanannya diolesi bumbu-bumbu kimchi itu oleh Kyu Hyun. Hiu Hwi tak dapat berkutik lagi, selain membuka sedikit bibir mungilnya itu.
“Makan malam yang enak!” Kyu Hyun tersenyum seraya membawa jari jemari tangan kanan Hiu Hwi masuk ke dalam mulutnya, menjilati bumbu-bumbu kimchi yang sudah melekat di jari-jari gadis itu.
“Kyu Hyun-ah....”
“Hemm?” Kyu Hyun tersenyum memandang Hiu Hwi. Sial! Kenapa pria ini seakan ingin menggoda. Gadis itu meneguk air liurnya, ada bekas-bekas bumbu kimchi yang berada dipinggiran bibir Kyu Hyun sekarang. Sekalipun terkadang mesra, kedua insan ini sama sekali belum pernah berciuman bibir. Entahlah, Kyu Hyun selalu saja mencari tempat-tempat lain, kecuali bibir gadis itu.
“Enak sekali Hiu Hwi! Terasa berbeda,” layaknya seorang anak kecil, pria itu lagi-lagi tersenyum senang. Oh god..., Hiu Hwi tak yakin jika ia tak mencintai pria tampan ini kelak. Tubuh Kyu Hyun mendekat, semakin dekat hingga kini satu gerakan maju lagi dari Kyu Hyun, akan membuat kedua daun bibir mereka beradu. Tapi....
“Jangan berdekatan lagi dengan pria bermarga Kim itu atau pria manapun. Cukup aku, mengerti?” Hiu Hwi dapat melihat bagaimana bibir Kyu Hyun itu bergerak. Ya Tuhan..., jantungnya seakan ingin melonjak keluar. Kyuuuu...!
Oh shit! Daun bibir atas Kyu secara tidak sengaja bersentuhan dengan daun bibir atas Hiu Hwi. Walau hanya sekilas, tapi rasanya....
“Hummmm....” Kyu Hyun bergumam—sangat manja! Ini tidak bisa dibiarkan, Hiu Hwi bahkan merasa jika ia ingin Kyu Hyun....
TIN TONG!
Bebunyian suara bel itupun sentak membuat Hiu Hwi tersadar seketika. Dengan cepat, gadis itu mendorong tubuh Kyu Hyun untuk menjauh. Kyu Hyun masih menatapnya. Entahlah, tatapan semacam itu, seakan ingin—ah—Hiu Hwi benar-benar merasa ia akan cepat gila, jika terus seperti ini.
“Apa kau mengundang taman wanitamu lagi? Jika benar, aku akan segera membereskan dan mengambil apa yang aku perlukan, lalu masuk ke kamar. Aku berjanji, aku tidak akan keluar setelah teman-teman wanitamu itu pergi. Ah ya satu lagi, ada baiknya kau suruh teman wanitamu itu agar jangan mendesah terlalu keras. Aku tak ingin semua orang malah menuduhku yang bukan-bukan.” Ujar Hiu Hwi tanpa berniat lagi membalas tatapan Kyu Hyun. Gadis itu sentak berbalik, pergi untuk masuk ke kamarnya segera. Ia tau jika sedari tadi Kyu Hyun menatapinya, tapi bisa apa? Merengek agar Kyu Hyun menyuruh semua teman-teman wanitanya pergi? Tidak akan! Ia masih tau diri, ia siapa.
BLAM!
Hiu Hwi menutup pintu kamarnya rapat, menguncinya agar siapapun tak ada yang mengganggunya lagi. Tangan kanannya yang masih bergetar itupun sontak bergerak, berhenti tepat di kedua daun bibirnya sendiri. Tingkah Kyu Hyun membuatnya benar-benar mabuk. Setetes air bening tak berdosa itu mentes. Ia menangis? Kenapa ia menangis? Hiu Hwi sendiri bahkan bingung kenapa ia menangis sekarang. Ia sadar, jika kini dia merasakan ada sesuatu yang indah di dalam hatinya, tapi juga hal indah itu terasa nyeri. Entah apa itu!
“Itulah mengapa, aku ingin tau banyak tentang Noona. Termasuk—tentang apakah Noona menyukai Kyu Hyun Hyung?”
“Maaf, jika aku lancang. Tapi aku merasa, jika memang kau tidak menyukai Kyu Hyun Hyung, untuk apa Noona tetap tinggal bersamanya?”
“Hubungan kalian memang bisa dikategorikan sebagai adik-kakak, tapi juga bisa dikategorikan sebagai pasangan kekasih bagi orang lain. Jika saja semua ini diteruskan, dua orang yang tinggal bersama, selalu bertemu lantas merasa telah terikat, selalu ada kemungkinan disana untuk mereka jatuh cinta satu sama lain.”
Kalimat-kalimat yang Su Ho katakan padanya itu terus terngiang di telinganya. Lagi-lagi, pria itu benar! Kenapa ia tetap berada disini? Ia tak pernah takut akan perkataan orang lain tentang mereka, tapi ... tidakkah Hiu Hwi takut jka pada akhirnya semua ini akan membuatnya malah bergantung pada Kyu Hyun? Jika hanya bergantung, mungkin tidak terlalu menyakitkan. Tapi ... bagaimana jika ia juga mencintai Kyu Hyun? Tidak! Itu tidak boleh! Hiu Hwi tau siapa Kyu Hyun, perlakuan pria itu selama ini padanya harus ia anggap biasa. Karna—seperti itu jugalah Kyu Hyun memperlakukan gadis-gadisnya yang lain. Menyedihkan! Hiu Hwi sangat berharap, jika kelak ia dapat jatuh cinta pada pria yang tepat.
“Tuhan, letakkan hatiku pada tempat yang benar. Aku tak bisa singgah di tempat yang salah hanya karna alasan kau ingin memberiku hukuman. Jangan dengan rasa cinta ini kau memberiku cobaan, jangan dengan rasa ini.”
***
Sekolah bagi beberapa orang adalah tempat untuk belajar dan mengejar ilmu. Tapi apa jadinya, jika orang-orang dari Sekolah itu sendiri membuat muak? Haruskah diam? Tidak ... yah tidak, bagi seorang Cho Kyu Hyun. Tak seperti biasanya, satu minggu penuh ini, ia sudah tak berkelahi lagi. Mungkin karna sudah kekurangan musuh, atau memang ia sedang tak ingin membuat ulah. Entahlah....
BRUKKK!
Entah ini disebut takdir atau bukan. Yang jelas, tanpa disengaja, Su Ho yang memang sudah masuk menjadi daftar hitam di otak Kyu Hyun kini menabraknya hingga buku-buku tebal pria itu berhamburan. Kyu Hyun yang tadinya tak terlalu memusingkan itupun malah berbalik, menatap wajah Su Ho yang berulang kali membungkuk meminta maaf padanya. Ini sudah jam pulang Sekolah, adakah yang bisa menghentikan Kyu Hyun untuk tidak memukul orang sekarang?
“Eh, Hyung—ash—sungguh, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja, maafkan aku.” Su Ho yang gamam pun sentak kembali membungkuk dan berusaha untuk membersihkan kemeja Kyu Hyun.
“Jangan menyentuhku!” Hentak Kyu Hyun keras, membuat semua orang yang tadinya masih berjalan keluar gerbang dengan santai, kini terhenti seketika. Sepertinya, akan ada tontonan baru disini. Apalagi, sudah banyak Guru yang pulang. Kebetulan sekali!
“Maafkan aku, Hyung.”
“Maaf?”
“Nde?”
“Oh, kau pria yang—” Kyu Hyun sengaja menggantungkan kalimatnya di titik ini, lalu tersenyum manis. Manis? Tidak sama sekali, mengingat rahang pria itu juga mengeras.
“Kau sengaja menabrakku?”
“Aaaaniyo, Hyung!”
“Kau benar-benar ingin mati sepertinya,” Kyu Hyun sontak mengangkat kemeja Sekolah Su Ho hingga naik ke atas. Sung Min yang melihat kejadian itu dari gedung atas Sekolah mereka dengan segera berlarian layaknya orang kesurupan. Ini berbahaya!
“A-aku tidak ingin mati Hyung, aku ingin pulang.” Balas Su Ho merunduk.
“Jangan pernah menyentuh barang yang kumiliki lagi, jika kau tidak mau wajah tak berdosamu ini hancur oleh tanganku,”
“Barang? Maksudmu kemeja ini? Tidak mungkinkan jika yang Hyung maksud itu Hi—”
“YAK!”
“Maaf Hyung.”
“Kenapa kau menganggu Hiu Hwi? Kau ingin menyakitinya?”
“Menyakitinya? Aniya Hyung!”
“Lalu kenapa?” Kyu Hyun nampak kembali mengerang. Entah kenapa ia malah terlihat lebih emosi dengan jawaban Su Ho ini.
“Aku menyukainya.” Damn! Su Ho benar-benar pria yang sangat jujur. Bahkan, ia tak tanggung-tanggung lagi mengatakan kalimat itu di depan Kyu Hyun. Tangan Kyu yang mencengran kemeja Su Ho pun nampak semakin kuat. Sepertinya, ia tak bisa lagi menahan ini.
“Katakan padaku sekali lagi!”
“Aku menyukai Noona, Hyung. Dia sangat cantik! Bukankah Hyung calon Kakak tirinya? Aku harap Hyung dapat....”
BUGH!
Belum sempat Su Ho hendak menyelesaikan jawabannya, Kyu Hyun sudah lebih dulu memotonganya dengan pukulan kerasnya itu. Semua orang berteriak! Persetan dengan hal itu.
“Jangan pernah berani untuk menyukainya! Kau ingat ini!” Kyu Hyun kembali menarik tubuh Su Ho yang telah tersungkur ke aspal jalan, lalu memukulnya lagi.
Semua orang berlarian ke arah luar, seakan moment ini benar-benar sangat hebat untuk mereka lihat segera. Yah, tak ada yang memerintah, tapi para siswa-siswi ini seakan sudah membentuk sebuah lingkaran dan mengelilingi dua pria tampan yang tengah berkelahi sengit ini. Bercak darah terlihat! Banyak yang memekik histeris!
“Ada yang berkelahi di depan gerbang, cepatlah!” Pekik beberapa orang berlarian di lorong. Hiu Hwi menyatukan alisnya bingung; tak mengerti. Berkelahi? Hiu Hwi mendesah panjang, pelajar-pelajar Sekolah memang sudah acap kali berkelahi bukan? Itu hal biasa! Hiu Hwi kembali melanjutkan pencarian bukunya di Perpustakaan Sekolah yang memang belum terkunci. Ia tak perduli dengan perkelahian itu! Tapi....
“Kyu Hyun ... Cho Kyu Hyun berkelahi dengan siswa baru itu. Ah, aku lupa namanya. Su—Su Ho—yah, cepatlah!”
Buku yang tadinya ingin Hiu Hwi pinjam itupun sentak saja terjatuh seketika, tatkala ia mendengar pekikan dari arah luar. Siapa? Kyu Hyun? Su Ho? Berkelahi?
“MWO?” Hiu Hwi sentak berbalik pergi dari tempat ini. Ia berlari dengan cepat untuk melihat apa yang terjadi di tengah-tengah kerumunan banyak orang itu. Tak ada yang berani mencoba untuk memisahkan keduanya. Entahlah....
Ramai! Layaknya acara ulang tahun kota yang diringi dengan arak-arakkan suara teriakan banyak orang. Bunyi pukulan demi pukulan itu terdengar—miris. Sangat! Hiu Hwi semakin cepat untuk masuk ke dalam lingkaran orang-orang ini dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ini tidak benar! Su Ho adalah siswa baru yang akan menjadi tumbal pukulan Kyu Hyun minggu ini? Oh Tidak! Jika sudah membenci orang, Kyu Hyun tak akan segan-segan mematahkan tulang lawannya.
“Kim Joon Myun! Kau benar-benar bodoh!”
Umpat Hiu Hwi terus memaksa masuk dari segerombolan orang-orang yang tengah memekik ini. Ia benar-benar tak bisa membayangkan akan jadi apa Su Ho ditangan Kyu Hyun sekarang. Apakah pria itu masih hidup? Atau sudah....
“Ya Tuhan....” Desah Hiu Hwi tercenang dengan bulatan mata yang lebar, saat kini ia sudah dengan jelas melihat apa yang terjadi disini. Tebakannya melenceng jauh! Bukan Su Ho yang kini tengah terkulai lemas di aspal itu, tapi—KYU HYUN?
“Hyung, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini....” Ucap Su Ho seraya mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang terasa nyeri setelah memukul Kyu Hyun. Tak ada kaca mata lagi yang bertengger pada kedua mata Su Ho sekarang. Hiu Hwi terkejut setengah mati! Tidak..., bukan hanya Hiu Hwi, tapi semua orang yang ada disini. Tak pernah sekalipun Kyu Hyun dikalahkan oleh siapapun dalam hal berkelahi, tapi ini? Tampak pria bermarga Cho itu terkulai di atas aspal dengan bercak darah di sudut bibirnya.
Su Ho memalingkan wajah ke arah samping, mendapati Hiu Hwi yang memucat disana. Apa yang sebenarnya terjadi?
=TBC=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar