_“ ITS OVER! Part. 6”_ [Kyu-Hwi Private]
Tittle : “ ITS OVER!” [Kyu-Hwi Private]
Cast : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, And Other Cast
Rating : PG - 17 / Straight
Genre : Romance
This Story Original From @Jjea_
***
Terdengar bebunyian dari arah luar itu dengan cukup keras, membuat sentak saja Kyu dan Hiu hwi melepaskan pertautan mereka seketika. Hiu hwi menoleh kearah kanan, seolah ingin mengetahui darimana asal bebunyian itu. Sampai seketika...
‘Cha-changmin Oppa?’
‘Mencintai tak harus memiliki,
Tapi memiliki belum tentu dicintai....’
_“ ITS OVER! Part. 6”_
Tampak matahari kini seolah menguliti awan dengan kebisuannya, menari tak senada dengan iringan layangan angin yang begitu kencang. Dunia seperti menerang, memberikan jalan junjungan sang surya semakin menaik dari singgah sananya. Terkadang, alam lah yang membisikkan masa depan melalui bahasa ambigu mereka, memberikan lantunan singkat, lalu kembali tenggalam dipelukan awan.
* When it all began, I’m Your Boy! *
Hiu hwi tampak melongo saat kini kedua matanya saling bertatapan dari arah yang cukup jauh dengan Changmin. Gadis itu berani bertaruh, jika namja yang saat ini berdiri dari arah luar jendela itu adalah orang yang sangat ia kenali. Terlihat botol Wine mahal itu sudah pecah berkeping-keping disekitaran kakinya, seolah hanya menyisakan retakan kosong.
Wajah Hiu hwi memucat dengan tegangan tinggi tubuhnya sekarang, membuat Kyu hendak maju beberapa langkah kedepan untuk berpaling dan mengikuti arah pandangan gadis itu.
“Aish... siapa yang berulah aneh didepan rum—” perkataan Kyuhyun tercekat cepat, saat kini Hiu hwi dengan secara tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya ke wajah Kyu, dan menariknya untuk kembali saling bertatapan. Baiklah, Hiu hwi tak ingin Kyuhyun menatap Changmin saat ini. Ia takut... takut jika nanti kedua namja ini sama-sama kembali emosi.
“K-kkyu...” ucap Hiu hwi dengan nada suaranya yang bergetar. Kyuhyun melongo, seolah heran dengan tingkah Hiu hwi yang tak pernah ia lakukan ini. Apa ini mimpi? Hiu hwi saat ini tengah memegangi kedua pipinya dengan jarak yang cukup dekat. Betapa Kyuhyun ingin tersenyum malu saat ini, bahkan ia sentak lupa akan suara yang sempat terdengar diluar perkarangan rumahnya itu.
“Hummm?” Kyu kembali mengangkat kedua tangannya untuk melingkar dipinggang ramping gadis itu, memberikan sensasi hangat yang sebenarnya cukup menggelitik dada Kyuhyun. Hiu hwi meneguk air liurnya susah payah, sesekali berusaha untuk menoleh kearah Changmin. Yah, betapa kini posisinya begitu tersudut. Ia sangat sadar dan tau betul, jika Changmin tampak mengerang geram diluar sana.
'Mianhae Changmin Oppa, jeongmal mianhae...'
Hiu hwi benar-benar merasakan kedua kelopak matanya saat ini memanas. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya akan berada dimana ia harus menyakiti Changmin seperti ini. Bagaimanapun juga, namja itulah yang dulu pernah menjadi alasan utamanya untuk bertahan hidup.
"Wae? Kau kenapa, eh? Apa suara tadi itu—"
"Aniyo..." sela Hiu hwi cepat saat Kyu kembali hendak kembali berniat menatap kearah luar. Gadis itu tak dapat berpikir jernih lagi sekarang, selain sontak memeluk tubuh Kyuhyun, bermaksud untuk mengalihkan perhatian namja itu lagi.
"Eh..." Kyuhyun kembali terkejut. Dapat dirasakannya tubuh Hiu hwi seolah mendesak tubuhnya agar semakin mendekap erat. Kyuhyun tak tau apa yang terjadi pada sikap Hiu hwi sekarang! Kyu berpikir jika Hiu hwi seperti ini karna ciuman singkat yang mereka rasakan tadi. Tak perduli itu, Kyuhyun pun perlahan-lahan menutup kedua matanya, dan meletakkan kepalanya disela-sela tengkuk gadis itu. Harum... aroma Hiu hwi yang khas benar-benar mulai menggelitik indera penciumannya sekarang.
‘Changmin Oppa... kumohon pergilah, aku tak bisa semakin menyakitimu lagi seperti ini. Aku hanya tak ingin terjadi keributan lebih dulu sekarang, kumohon pergilah...’
Hiu hwi berusaha mati-matian untuk tidak menitikan air matanya dalam pelukan Kyuhyun. Changmin membeku, selain tadi ia melihat dengan jelas Kyuhyun dan Hiu hwi berciuman, sekarang bahkan ia melihat mereka saling berpelukan erat. Dada dan raut ekspresi Changmin berubah getir. Baru kali ini ia sadari, jika Hiu hwi lebih berarti dari apapun yang ia miliki sekarang. Seandainya saja waktu dapat kembali, akan ia pastikan Hiu hwi masih tetap berada disisinya sampai saat ini.
‘Nyatanya, kau begitu cepat melupakanku Hiu hwi. Sebernarnya, itu cukup membuatku sakit...’
Changmin tampak berbalik dan menjauh pergi untuk masuk kedalam mobilnya kembali. Sejujurnya, ia kesini hanya untuk meminta hasil coretan Design baju Hiu hwi untuk Perusahaan Manajemen keaartisannya. Toh, Minho telah menyepakati kesepakatan untuk menyalurkan pakaian-pakaian yang mereka ciptakan kepada Perusahaan tempat Changmin bekerja. Karna memang, Changmin adalah wakil Direktur utama sekaligus pemimpin beberapa acara TV Fashion ternama.
Benar, ia juga memang sengaja membawa Wine yang ia beli dari Jerman, sebagai tanda kesepakatan itu sekaligus berniat untuk memberikannya langsung kepada Kyuhyun. Sejujurnya, didalam lubuk hati Changmin, ia tak ingin permusuhannya dengan mantan sahabat kecilnya itu terus berkepanjangan. Namun sayang, Changmin sepertinya kembali akan mengubur niat itu dalam-dalam.
‘Mianhae Changmin Oppa...’
Tangan kanan Hiu hwi sedikit mencengkram bahu Kyu. Ini kali pertamanya ia menyakiti Changmin semenjak ia bertemu dengan namja itu. Telinganya sedikit mendengar suara gas mobil. Sekalipun pelan, tapi Hiu hwi tau jika itu adalah Changmin.
“Hummm... apa sebenarnya kau ingin menggodaku, huh?” tanya Kyu seketika dengan posisi yang masih sama seperti semula, hanya saja kini tangannya mulai mengusap-usap punggung Hiu hwi dengan lembut. Gadis itu sontak terlonjak, dengan cepat ia pun mendorong tubuh Kyu dan tampak merunduk malu.
“Mianhae, tadi aku—aku tidak bermaksud untuk—”
“Aku tau... sudahlah.”
“Mwo?”
“Aku tau kau akan malu mengakuinya. Hhh... baiklah, tak usah terburu-buru mengucapkan itu. Aku akan dengan sabar menunggu,” balas Kyu dengan senyuman yang terlihat—err—sangat begitu aneh. Hiu hwi sepertinya tak terlalu memperdulikan omongan gila Kyuhyun yang tak ia mengerti sama sekali itu, yang terpenting untuknya sekarang adalah... mengejar Changmin! Ia tak ingin namja itu salah paham atau... atau menganggapnya yang tidak-tidak.
“Kau kenapa, eh?”
“Kyu... aku ingin keluar sebentar!”
“Kemana?” cegat Kyu cepat saat tadi Hiu hwi sudah berniat untuk melangkah.
“Aku—aku ingin pergi membeli—membeli sayuran untuk makan malam nanti.”
“Biar kuantar, oeh?” Kyu kembali memeluk Hiu hwi dari arah belakang. Apa-apaan namja ini? Kenapa kedua matanya itu seolah sedari tadi mengerling mesum.
“Tidak usah, aku bisa sendiri. YA! Kenapa kau jadi mengerikan seperti ini huh? Urusi saja PSP dan Remote TV mu itu dulu!”
“Aku sudah bosan merusak mereka. Sekarang, aku ingin merusak hal baru.”
“Mwo?”
“Hummm...” gumam Kyu manja, membuat Hiu hwi menoleh dengan tampang yang sangat sulit dijelaskan.
“Hey, Cho Kyuhyun? Apa kau tak merasa jika tubuhmu saat ini seperti kerasukan sesuatu heh? Kau mabuk? Sungguh, dari bangun tidur tadi, kau bersikap aneh. Merusak semua barang, mengepel dan sekarang berbicara dengan bahasa setan yang tak kumengerti. Apa yang terjadi dengan otakmu? Kau menyukaiku?” tantang Hiu hwi seraya berbalik, hingga kini mereka saling berhadapan.
“Mm-mwo?”
“Kau benar menyukaiku? Tsk! Hey, Kuperingatkan padamu Tuan Cho, aku gadis normal. Aku akan berpikir milyaran ribu kali untuk membalas perasaanmu itu.”
“YA! YA! YA! Si-siapa juga yang menyukaimu huh? Ckckckck, kau percaya diri sekali!” Umpat Kyu gusar seraya kembali menarik tangannya dari gadis itu. Kenapa Hiu hwi malah merusak suasana seperti ini? Padahal tadi ia sudah susah-susah payah untuk memulai hal itu.
“Kau tau aku menikahimu dengan tujuan apa, jadi tidak usah berpikir yang macam-macam. Sekarang, siapkan makanan untukku, aku lapar.”
“Makanan sudah kusiapkan diatas meja. Sekarang, aku ingin pergi.”
“Tidak boleh! Kita makan siang bersama lebih dulu.”
“Aku sudah kenyang. Kau tak lihat jika diatas meja kerjaku itu banyak bungkus cemilan? Aish... sudahlah, mungkin nanti aku akan pulang terlambat.”
“Kau tak kuizinkan pergi sebelum kita makan bersama. Aku adalah suamimu, dan kau adalah istriku. Jadi apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu, harus kau laksanakan dan perhatikan tanpa perlu protes, kau mengerti?”
“Tap—”
“Kau ingin keluar atau tidak?”
“Ash... ARA! Cepatlah makan... kau benar-benar menyebalkan!” Dengus Hiu hwi seraya membanting tudung makanan mereka dengan kesal. Entahlah, apa alasan Tuhan melahirkan namja yang seperti ini, pikir Hiu hwi.
Kyuhyun tampak tersenyum miring seraya berjalan dibelakang punggung gadis itu. Memperhatikan Hiu hwi yang dengan wajah kusamnya meletakkan piring dan mangkok-mangkok dengan telaten. Sebenarnya... gadis ini memiliki sifat keibuan dan istri yang bertanggung jawab dan baik. Kyuhyun, benar-benar senang ketika menyadari jika hatinya tak salah telah memaksa minta dinikahkan dengan yeoja seperti ini.
“Cepat, makanlah...” Hiu hwi terduduk dihadapan Kyu. Memperhatikan namja ini yang dengan antusiasnya hendak menyisipkan sendok kedalam mulut. Hiu hwi terpaku, tangan kanannya terangkat untuk berpangku dagu sekarang. Entahlah... pikirannya kembali melayang pada sosok Changmin.
‘Setauku, Changmin Oppa tak pernah menatapku seperti tadi. Apa dia cemburu? Bukankah selama ini, aku merasa jika hanya akulah yang mencintainya...’
Hiu hwi menghela nafas panjang. Toh, sudah hampir 2 tahunan ia menjalin hubungan dengan Changmin. Sekalipun malam itu ia sudah mendengar semua rahasia masa lalu Kyu dan dan Changmin selama ini, tapi tetap Hiu hwi merasa jika Changmin juga orang baik.
‘Pasti hanya ada kesalahpahaman diantara mereka. Baiklah, sebenarnya aku tak ingin perduli, tapi—saat malam itu Kyuhyun menangis, hatiku merasa sesuatu yang berbeda...’
Hiu hwi memiringkan kepalanya menatap Kyuhyun. Namja itu terlihat masih sama, senang dengan masakan yang ia buat. Sungguh, ia tak menyangka jika permasalahan Changmin dan Kyuhyun ini benar-benar cukup pelik. Toh, ini bukan hanya tentang sebuah kenangan pahit, tapi juga tentang bagaimana belajar memaafkan dengan tulus.
“Kau tak ikut makan?” tanya Kyu seraya mengunyah. Hiu hwi cukup terlonjak seketika, mengingat Kyu sepertinya sadar jika sejak tadi gadis ini menatapinya.
“Tidak.”
“Makanlah...”
“Aku tidak lapar.”
“Siapa yang menyuruhmu menolak, eh? Makanlah atau kubanting semua piring-piring diatas meja ini. Bukankah kau juga tau, jika hobiku ini membanting sesuatu?”
“Banting saja! Toh, ini juga piringmu. Setelah tadi kau dengan teganya merusak ponselku, aku sudah tak berniat lagi mencegahmu. Lakukan apapun sesuka hatimu sekarang, aku ingin pergi.” Hiu hwi sentak berdiri seketika, lalu berniat pergi dari ruangan ini.
“Changkam...!”
“Ohk? Apa lagi?”
“Aku hanya memberimu waktu pergi 3 jam. Jika sampai lewat dari itu, jangan harap malam ini kau bisa tidur dengan nyenyak.” Balas Kyu seraya tetap memangsa beberapa daging dihadapannya. Hiu hwi mengerang sebal. 3 Jam? Itu bahkan mungkin hanya bisa ia habiskan untuk naik dan menunggu Bus.
“Terserahmu Tuan Cho...”
“YA! Satu lagi...”
“Mwo? Mwo? MWO?”
“Berhati-hatilah... kau tau jika aku hari ini libur, eh? Aku tak suka jika ditinggal terlalu lama sendiri disini. Jika kau terlambat pulang, maka aku akan membawa yeoja lain kemari!” Ancam Kyu yang sungguh... sebenarnya itu hanyalah main-main.
“Nde. Kalau perlu, kau bawa saja seluruh yeoja bayaran untuk kau bawa kemari.” Jawab Hiu hwi sekenanya seraya mengambil tas dan menutup pintu rumah ini dengan kasar.
“Ash... kenapa yeoja itu selalu bersikap seperti itu? Menyebalkan!” Umpat Kyu melempar sendok dan garfu ditangannya secara sembarang. Entahlah, saat ini ia bahkan sudah tak mood lagi untuk melanjutkan makan.
‘Pulanglah Hiu hwi...’
Gumam Kyu gusar, ia bingung harus melakukan apalagi sekarang. Bukankah tadi ia memang berniat membatalkan semua jadwalnya hanya untuk bersama Hiu hwi seharian ini. Tapi gadis itu pergi! Kyu hanya dapat mematuk seraya menatapi layar Televisi besar dihadapannya dengan frustasi. Yah, bahkan layar itu pun tak bisa dihidupkan akibat ulahnya membongkar paksa Remote TV tadi. Baru 5 menit yang lalu gadis itu pergi keluar, tapi Kyu sudah ingin kembali memaksanya pulang.
***
‘Cinta bukanlah dari kata-kata,
Tapi dari segumpal keinginan,
Dan diberi pada hati yang memerlukan....’
@FlowerBlue, Apartment_ Seoul, South Korea_
Sudah hampir 5 menit yang lalu, Hiu hwi tampak hanya berdiri didepan sebuah pintu Apartment ini dengan gamam. Sesekali ia tampak berbalik untuk mengurungkan niatnya, sesekali ia tampak hendak mengetuk pintu itu dengan cepat. Tak aneh memang, toh ia sudah cukup lama tidak kemari lagi.
“Tapi—nanti apa yang harus aku katakan padanya?” Hiu hwi tampak merunduk, memikirkan alasan yang tepat untuk mengatakan mengapa ia datang kemari.
“Sebaiknya aku—”
CKLEKKK
Hiu hwi sentak terperanjat kaget, saat kini pintu Apartment itu terbuka secara tiba-tiba. Tak hanya kedua bola matanya yang melotot, tetapi juga kedua bola mata namja yang kini berdiri tegap dihadapannya sekarang.
“Hiu hwi...” ucap Changmin dengan raut wajah yang amat sangat tak percaya.
“Ak-aku... aku...”
“Masuklah dulu.” Ucap Changmin lemas seraya membuka sedikit lebar daun pintunya. Hiu hwi mengernyit, kenapa wajah Changmin tampak pucat?
“Hummm... apa aku tak menggangumu?”
“Aniya, duduklah.”
“Gomawo.”
“Hummm...”
“Tadi sepertinya kau ingin pergi? Sebaiknya aku—”
“Aniya, tadi aku hanya ingin ke Loby sebentar. Aku sedang mencari obat unt—” perkataan Changmin sentak terhenti saat tangannya secara tak sadar terangkat dan menyentuh dada. Sesak! Namja jangkung itu merasakan jika ia sulit bernafas sekarang.
“Oppa, gwanchana?” tanya Hiu hwi kuatir. Yeoja ini pun sentak duduk mendekat disamping Changmin.
“Ah, gwanchana. Hummm... untuk apa kau kemari?”
“Nde? Itu aku—aku—”
“Ash...” sela Changmin saat ia semakin merasakan sesak dilanda tubuhnya. Hiu hwi berpaling panik, tampaknya Changmin memang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
“Oppa... YA! Apa Asma-mu kambuh eh?”
“Hwi... hwi-ya... tolong ambilkan obatku... dilemari... itu...” ujar Changmin terbata seraya menunjuk sebuah loker diarea kamarnya. Hiu hwi sontak mengangguk, dan dengan cepat ia pun berdiri dan berlari menuju apa yang tadi ditunjuk Changmin. Dapat! Portable Nebulizer Omron... sebuah alat yang menghasilkan kabut tipis yang digunakan untuk dapat mencapai sistem pernapasan secara lebih dalam.
Hiu hwi sentak kembali berlari dan menyodorkan alat itu pada Changmin. Nampak tubuh Changmin bergetar dengan desahan nafasnya yang benar-benar terlihat begitu sesak. Bahkan sekarang, tubuhnya sudah duduk dilantai dengan lemas.
“Hhhh... Hhhh...” Changmin tampak mulai kembali mengatur nafasnya secara perlahan-lahan. Hiu hwi merunduk dalam, ia benar-benar sungguh tak bisa melihat Changmin yang memang terkadang tiba-tiba kambuh seperti ini. Hiu hwi sangat tau, jika Changmin punya penyakit Asma.
“Aku... tidak apa-apa,” ucap Changmin yang kini kembali bisa mengontrol dirinya. Hiu hwi tak mendongak, ia sibuk menyembunyikan air matanya sekarang.
“Hiu hwi...” panggil Changmin lagi. Ia baru sadar, jika ternyata yeoja ini juga belum banyak berubah. Lihat saja sekarang, tatapan kekuatiran itu masih memupuk dikelopak matanya.
“Kenapa bisa kambuh Oppa? Kau sedang banyak pikiran? Kau pasti juga lelah dan—”
“Aku hanya merasakan kepalaku berdenyut, seperti ada yang menghantamnya.”
“Jeongmal?” Hiu hwi sentak mengangkat tangannya hingga menyentuh dahi namja itu. Panas! Hiu hwi sangat yakin, jika sekarang suhu tubuh Changmin berada di celcius derajat yang tak semestinya.
“Oppa, apa kau demam ohk?”
“Aku—Ah, ini hanya demam biasa. Pulanglah... suamimu pasti tak suka jika kau berada disini.”
“Oppa...”
“Kurasa kita tak bisa berteman Hiu hwi, untuk itu pulanglah...”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Aku dari kecil hidup seorang diri, dan aku masih bisa hidup sampai sekarang. Tak perlu sekuatir itu, kau malah akan membuatku semakin lemah.” Changmin tampak berdiri dan hendak berjalan menuju tempat tidurnya. Entahlah, yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah—tertidur.
Tubuh Hiu hwi bergetar, ia sungguh tak bisa jika harus meninggalkan Changmin sendiri seperti ini. TIDAK! Bagaimana jika asma namja itu kembali kambuh? Hiu hwi dengan cepat berbalik kearah dapur dan mengambil sebuah mangkok untuk ia isikan beberapa es. Setidaknya, sebelum ia pulang, ia harus memastikan jika keadaan Changmin akan baik-baik saja. Entahlah, Hiu hwi merasa memiliki hutang budi dengan namja ini.
“Apa yang kau lakukan?” cegat Changmin saat kini Hiu hwi ingin membubuhkan sebuah sapu tangan ke dahi namja itu.
“Tentu saja mengompresmu. Diamlah, dan biarkan aku membantumu sebentar. Anggap saja, ini sebagai tanda permintaan maafku.” Balas Hiu hwi seraya kembali meneruskan aktivitasnya. Changmin terdiam, ia hanya terbaring sendu seraya menatapi wajah Hiu hwi begitu lekat.
“Ak-aku akan memasakanmu makanan sebentar, kau pasti belum makan.”
“Hummm...” Changmin hanya bergumam singkat sebagai tanda jawabannya. Tampak ia hanya mengerjap sejenak dan kembali menatapi punggung Hiu hwi yang tak terlalu jelas dipelupuk matanya sekarang. Sungguh, bahkan untuk bergerak ia terlalu lemas.
Ditempat lain, tampak kini Kyuhyun tengah mondar-mandir seraya sesekali mengumpat-umpat kasar tak jelas. Kenapa? Kenapa ia begitu bodohnya hingga baru sadar jika Hiu hwi tak membawa ponsel? Toh, bukankah tadi dia sendiri yang menghempaskannya hingga sekarang tinggal berkeping-keping.
“Aish... kenapa tadi aku harus melemparkan ponselnya!” Kyuhyun sentak mengambil kunci mobil mewah milknya, lalu beranjak pergi mencari Hiu hwi. Entah kemana, yang ada dipikiran Kyuhyun hanyalah pasar dan Mall yang sering yeoja itu kunjungi. Jika tetap tak ada, Kyu berniat mencari ketempat-tempat yang bahkan mungkin saja didatangi gadis itu.
“Aku bisa gila!” Pekik Kyuhyun seraya menghidupkan gas mobilnya dan berlalu.
***
* When it all began, Me Or Him! *
Seruan debu-debu itu tampak menempel dibebatuan karang, menimbulkan warna yang tak begitu nyata dari sebelumnya. Angin seolah bermain, menari-nari mengikuti gerakan awan yang tampak tak membiru lagi sekarang. Semua yang diatas sana tampak putih, bahkan mungkin mengelap.
“Setelah kau bangun nanti, cepatlah makan bubur ini. Kumohon, jagalah kesehatanmu,” usap Hiu hwi pada puncak kepala Changmin sejenak. Namja itu tampak tertidur pulas diatas ranjang. Untunglah, suhu tubuh Changmin sudah sedikit menurun dari sejak awal tadi.
Hiu hwi tampak mendongak, menatapi jarum jam yang menandakan jika ia sudah berada ditempat ini sekitar 3 jam kurang. Itu berarti, ia pasti akan terlambat untuk sampai dirumah. Ia sangat sadar, apa nanti hukuman yang akan diberikan Kyuhyun padanya. Ah baiklah, Hiu hwi juga tak tega meninggalkan suaminya itu sendiri.
“Aku pulang dulu Oppa, semoga kau cepat sembuh.” Hiu hwi berdiri dari sisi ranjang Changmin seketika. Mengambil tas lalu hendak berbalik keluar Apartment ini. Namun sayang, seketika saja...
“Kumohon... jangan meninggalkanku dulu.” Entah itu racauan Changmin atau bukan, yang pasti Hiu hwi merasakan pergelangan tangannya digenggam erat seseorang.
“Oppa...” Hiu hwi tampak mematung untuk sejenak, membiarkan pikirannya memutuskan sesuatu. Changmin memang masih menutup kedua matanya, apa memang tadi ia hanya meracau saja?
“Istirahatlah Oppa...” ucap Hiu hwi dengan secara perlahan-lahan menurunkan tangan Changmin yang menahannya. Aneh, genggaman hangat itu kini malah semakin mengerat, bahkan sekarang Changmin yang masih menutup kedua matanya itu kontan menghentakkan cengkramannya, hingga kini tubuh gadis itu jatuh tepat ditubuh Changmin.
“Oppa,”
“Untuk kali ini saja, kumohon...” Hiu hwi terpaku mendengar pelasan Changmin dengan nada gemetarnya. Apa namja ini menangis? Ya Tuhan...
“Dari kecil aku tak memiliki siapa-siapa, dan bahkan sampai sekarang. Tapi kumohon, disaat aku sakit seperti ini, jangan biarkan aku sendiri. Hwi-ya, aku—” masih dengan mata yang tetutup, Changmin sentak kembali mengeratkan genggaman tangannya. Hiu hwi mematung! Ia tau ini tidaklah benar. Bagaimanapun juga, ia seorang yeoja yang sudah memiliki suami. Ia sadar, jika ini tak sepantasnya dilakukan. Tapi—apakah ia tega meninggalkan Changmin yang memelas padanya untuk tetap tinggal?
Hiu hwi sedikit tau kehidupan Changmin, namja itu selama ini memang tak memiliki siapa-siapa untuk mengurusnya. Waktu itu, dia hanya mengatakan pada Hiu hwi, jika ia menetap hidup sendiri dari sejak lulus Sekolah Menangah Atas. Memang, dulu namja itu pernah bercerita tentang keluarga angkatnya yang begitu baik padanya. Hiu hwi benar-benar tak menyangka jika keluarga yang sering diceritakan Changmin dengan wajah berbinar bahagia itu adalah keluarga Kyuhyun.
Dari menurut cerita Kyu, wajar saja jika ia sangat membenci Changmin. Lalu, bagaimana menurut sisi Changmin? Belum tentu dia juga tak menderita dengan semua kenyataan ini. Ia dititipkan disebuah Panti asuhan semenjak ia berumur 5 bulan. Kedua orang tuanya bercerai dan saling tak ingin mengambil hak asuhnya saat itu. Untuk itulah, Changmin tumbuh menjadi sosok yang cukup dingin. Bukan karna ia tak butuh seseorang, tapi ia terlalu sulit untuk mengekspresikan semua keinginannya. Sampai, keluarga Kyu datang dan memberikannya secercah kebahagian yang tak pernah ia dapat selama ini. Dicintai... sebenarnya hanya itu yang dia inginkan. Ia berusaha mati-matian untuk tak mengecewakan keluarga Kyu yang telah memberikan kebahagiaannya itu. Sebuah kebahagian ketika ia diberi kesempatan dapat memanggil seseorang dengan sebutan Ibu, Ayah, dan Kakak. Sejujurnya, ia sama sekali tak berniat dan tak sadar jika niatannya untuk menjadi sempurna itu, malah membuat Kyu merasa tersisihkan.
Kematian Ah Ra, sungguh diluar kendalinya. Seandainya saja, Changmin bisa menjelaskan semuanya pada Kyu. Mungkin, permusuhan mereka tak akan seburuk ini.
Hiu hwi nampak tertunduk lesu, tatkala ia mendengar deru nafas Changmin yang tak beratur. Sungguh, jika seperti ini ia benar-benar tak tega meninggalkan Changmin. Toh, bagaimanapun juga namja ini dulu pernah mengisi masa lalu indahnya.
“Geurae, istirahatlah Oppa. Aku akan tetap disini,” Hiu hwi memaksakan senyumannya sekilas. Sungguh, ini dilema besar untuknya. Jika ia tetap disini, lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Suaminya itu juga tengah membutuhkannya sekarang. Bahkan Hiu hwi tak tau, jika saat ini Kyuhyun sudah mencarinya kemana-mana dengan ekspresi takut, kalut dan kuatir. Ini sudah lebih dari 3 jam, Hiu hwi sadar ia kini tengah membuat sebuah kesalahan besar pada Kyu.
‘Apa yang harus aku lakukan?’
Gumam Hiu hwi seraya menatapi tangan kanannya yang digenggam penuh oleh Changmin. Dulu, ini hal yang dapat menjadi moment paling ditunggu gadis itu; saling bergenggaman tangan dengan Shim Changmin. Namun sekarang? Entah mengapa, wajah Kyu yang akan frustasi lah yang kini terlintas diotaknya.
“Oppa, bisakah kau bangun sebentar? Makanlah dulu bubur yang aku buatkan ini.”
“Humm...” Changmin hanya menggeleng singkat. Ia hanya butuh istirahat saat ini.
“Sebentar saja, lalu setelah itu minumlah obat in—”
BRAAAAKKK
Belum sempat Hiu hwi hendak kembali membujuk Changmin untuk memakan bubur buatannya, pintu Apartment ini pun sentak terbuka dengan tiba-tiba. Yah, terdengar tergesa-gesa dan begitu keras; seolah didobrak dengan sengaja dari arah luar. Hiu hwi kontan saja menoleh, mendongak untuk mengetahui siapa yang telah dengan seenaknya masuk bahkan tanpa mengetuk.
“CHO HIU HWI! KAU DIMANA HUH?”
DEG
Jantung Hiu hwi sontak saja berdegup kencang tatkala ia mendengar lengkingan yang cukup keras menggema diruangan ini. Dan yang anehnya adalah... Hiu hwi seakan sangat mengenal pemilik suara dengan warna dan ritme seperti ini.
“Kkk-Kyuhyun Oppa...” ucap Hiu hwi dengan raut pucat saat kini Kyu sudah berdiri tak jauh darinya.
PRAANGGGG
Mangkok bubur yang seharusnya masih tergeletak diatas tangan kiri Hiu hwi, kini dengan mudahnya jatuh tanpa bentuk lagi kelantai. Yeoja itu sentak berdiri, namun sial! Ia baru sadar jika Changmin masih menggenggam erat tangan kanannya saat ini. Dapat Hiu hwi lihat, raut tak percaya Kyuhyun saat menatapinya.
‘Matilah aku...’
Gumam Hiu hwi seraya menghela nafas panjangnya sekarang. Kyuhyun malah tampak tersenyum sinis dengan sorot mata yang begitu tajam. MENGERIKAN!
“Kyu... sebenarnya ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku—”
BRAAKKK
Kyuhyun menendang kursi yang berada didekatnya, lalu beringsut berjalan menghampiri Changmin dan Hiu hwi dengan langkah lebar. Rahang namja itu mengeras, dibuangnya syal abu-abu yang tadi melekat indah pada lehernya itu segera.
“Kkkkkyu...”
“Minggir kau!” Bentak Kyuhyun seraya mencengkram tangan kiri Hiu hwi dengan keras, membuat cengkraman Changmin terlepas. Tak hanya itu, Kyu yang sudah kehilangan alam sadarnya itu pun sontak saja menghempaskan tubuh Hiu hwi kelantai. Namja itu tampak hendak beralih pada Changmin yang masih tergeletak lemah.
“YA! Cho Kyuhyun...” pekik Hiu hwi melotot tak percaya, saat kini Kyuhyun malah melanjutkan aksi emosinya dengan mengangkat kerah kemeja Changmin agar namja itu sedikit berdiri dihadapannya.
“Bangun kau... BANGUN!”
BUKK
Kyu sontak memukul wajah Changmin tepat dipipi kananya, membuat Hiu hwi terhenyak setangah mati. Sungguh, Kyu menitikan air matanya ketika ia melakukan itu.
“Kemari kau...! Ayo bangun....” Umpat Kyu yang kini hendak menduduki tubuh Changmin yang kini tampak tak berdaya pada tingkahnya.
“Kyu...”
=TBC=

Cast : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, And Other Cast
Rating : PG - 17 / Straight
Genre : Romance
This Story Original From @Jjea_
***
Terdengar bebunyian dari arah luar itu dengan cukup keras, membuat sentak saja Kyu dan Hiu hwi melepaskan pertautan mereka seketika. Hiu hwi menoleh kearah kanan, seolah ingin mengetahui darimana asal bebunyian itu. Sampai seketika...
‘Cha-changmin Oppa?’
‘Mencintai tak harus memiliki,
Tapi memiliki belum tentu dicintai....’
_“ ITS OVER! Part. 6”_
Tampak matahari kini seolah menguliti awan dengan kebisuannya, menari tak senada dengan iringan layangan angin yang begitu kencang. Dunia seperti menerang, memberikan jalan junjungan sang surya semakin menaik dari singgah sananya. Terkadang, alam lah yang membisikkan masa depan melalui bahasa ambigu mereka, memberikan lantunan singkat, lalu kembali tenggalam dipelukan awan.
* When it all began, I’m Your Boy! *
Hiu hwi tampak melongo saat kini kedua matanya saling bertatapan dari arah yang cukup jauh dengan Changmin. Gadis itu berani bertaruh, jika namja yang saat ini berdiri dari arah luar jendela itu adalah orang yang sangat ia kenali. Terlihat botol Wine mahal itu sudah pecah berkeping-keping disekitaran kakinya, seolah hanya menyisakan retakan kosong.
Wajah Hiu hwi memucat dengan tegangan tinggi tubuhnya sekarang, membuat Kyu hendak maju beberapa langkah kedepan untuk berpaling dan mengikuti arah pandangan gadis itu.
“Aish... siapa yang berulah aneh didepan rum—” perkataan Kyuhyun tercekat cepat, saat kini Hiu hwi dengan secara tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya ke wajah Kyu, dan menariknya untuk kembali saling bertatapan. Baiklah, Hiu hwi tak ingin Kyuhyun menatap Changmin saat ini. Ia takut... takut jika nanti kedua namja ini sama-sama kembali emosi.
“K-kkyu...” ucap Hiu hwi dengan nada suaranya yang bergetar. Kyuhyun melongo, seolah heran dengan tingkah Hiu hwi yang tak pernah ia lakukan ini. Apa ini mimpi? Hiu hwi saat ini tengah memegangi kedua pipinya dengan jarak yang cukup dekat. Betapa Kyuhyun ingin tersenyum malu saat ini, bahkan ia sentak lupa akan suara yang sempat terdengar diluar perkarangan rumahnya itu.
“Hummm?” Kyu kembali mengangkat kedua tangannya untuk melingkar dipinggang ramping gadis itu, memberikan sensasi hangat yang sebenarnya cukup menggelitik dada Kyuhyun. Hiu hwi meneguk air liurnya susah payah, sesekali berusaha untuk menoleh kearah Changmin. Yah, betapa kini posisinya begitu tersudut. Ia sangat sadar dan tau betul, jika Changmin tampak mengerang geram diluar sana.
'Mianhae Changmin Oppa, jeongmal mianhae...'
Hiu hwi benar-benar merasakan kedua kelopak matanya saat ini memanas. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya akan berada dimana ia harus menyakiti Changmin seperti ini. Bagaimanapun juga, namja itulah yang dulu pernah menjadi alasan utamanya untuk bertahan hidup.
"Wae? Kau kenapa, eh? Apa suara tadi itu—"
"Aniyo..." sela Hiu hwi cepat saat Kyu kembali hendak kembali berniat menatap kearah luar. Gadis itu tak dapat berpikir jernih lagi sekarang, selain sontak memeluk tubuh Kyuhyun, bermaksud untuk mengalihkan perhatian namja itu lagi.
"Eh..." Kyuhyun kembali terkejut. Dapat dirasakannya tubuh Hiu hwi seolah mendesak tubuhnya agar semakin mendekap erat. Kyuhyun tak tau apa yang terjadi pada sikap Hiu hwi sekarang! Kyu berpikir jika Hiu hwi seperti ini karna ciuman singkat yang mereka rasakan tadi. Tak perduli itu, Kyuhyun pun perlahan-lahan menutup kedua matanya, dan meletakkan kepalanya disela-sela tengkuk gadis itu. Harum... aroma Hiu hwi yang khas benar-benar mulai menggelitik indera penciumannya sekarang.
‘Changmin Oppa... kumohon pergilah, aku tak bisa semakin menyakitimu lagi seperti ini. Aku hanya tak ingin terjadi keributan lebih dulu sekarang, kumohon pergilah...’
Hiu hwi berusaha mati-matian untuk tidak menitikan air matanya dalam pelukan Kyuhyun. Changmin membeku, selain tadi ia melihat dengan jelas Kyuhyun dan Hiu hwi berciuman, sekarang bahkan ia melihat mereka saling berpelukan erat. Dada dan raut ekspresi Changmin berubah getir. Baru kali ini ia sadari, jika Hiu hwi lebih berarti dari apapun yang ia miliki sekarang. Seandainya saja waktu dapat kembali, akan ia pastikan Hiu hwi masih tetap berada disisinya sampai saat ini.
‘Nyatanya, kau begitu cepat melupakanku Hiu hwi. Sebernarnya, itu cukup membuatku sakit...’
Changmin tampak berbalik dan menjauh pergi untuk masuk kedalam mobilnya kembali. Sejujurnya, ia kesini hanya untuk meminta hasil coretan Design baju Hiu hwi untuk Perusahaan Manajemen keaartisannya. Toh, Minho telah menyepakati kesepakatan untuk menyalurkan pakaian-pakaian yang mereka ciptakan kepada Perusahaan tempat Changmin bekerja. Karna memang, Changmin adalah wakil Direktur utama sekaligus pemimpin beberapa acara TV Fashion ternama.
Benar, ia juga memang sengaja membawa Wine yang ia beli dari Jerman, sebagai tanda kesepakatan itu sekaligus berniat untuk memberikannya langsung kepada Kyuhyun. Sejujurnya, didalam lubuk hati Changmin, ia tak ingin permusuhannya dengan mantan sahabat kecilnya itu terus berkepanjangan. Namun sayang, Changmin sepertinya kembali akan mengubur niat itu dalam-dalam.
‘Mianhae Changmin Oppa...’
Tangan kanan Hiu hwi sedikit mencengkram bahu Kyu. Ini kali pertamanya ia menyakiti Changmin semenjak ia bertemu dengan namja itu. Telinganya sedikit mendengar suara gas mobil. Sekalipun pelan, tapi Hiu hwi tau jika itu adalah Changmin.
“Hummm... apa sebenarnya kau ingin menggodaku, huh?” tanya Kyu seketika dengan posisi yang masih sama seperti semula, hanya saja kini tangannya mulai mengusap-usap punggung Hiu hwi dengan lembut. Gadis itu sontak terlonjak, dengan cepat ia pun mendorong tubuh Kyu dan tampak merunduk malu.
“Mianhae, tadi aku—aku tidak bermaksud untuk—”
“Aku tau... sudahlah.”
“Mwo?”
“Aku tau kau akan malu mengakuinya. Hhh... baiklah, tak usah terburu-buru mengucapkan itu. Aku akan dengan sabar menunggu,” balas Kyu dengan senyuman yang terlihat—err—sangat begitu aneh. Hiu hwi sepertinya tak terlalu memperdulikan omongan gila Kyuhyun yang tak ia mengerti sama sekali itu, yang terpenting untuknya sekarang adalah... mengejar Changmin! Ia tak ingin namja itu salah paham atau... atau menganggapnya yang tidak-tidak.
“Kau kenapa, eh?”
“Kyu... aku ingin keluar sebentar!”
“Kemana?” cegat Kyu cepat saat tadi Hiu hwi sudah berniat untuk melangkah.
“Aku—aku ingin pergi membeli—membeli sayuran untuk makan malam nanti.”
“Biar kuantar, oeh?” Kyu kembali memeluk Hiu hwi dari arah belakang. Apa-apaan namja ini? Kenapa kedua matanya itu seolah sedari tadi mengerling mesum.
“Tidak usah, aku bisa sendiri. YA! Kenapa kau jadi mengerikan seperti ini huh? Urusi saja PSP dan Remote TV mu itu dulu!”
“Aku sudah bosan merusak mereka. Sekarang, aku ingin merusak hal baru.”
“Mwo?”
“Hummm...” gumam Kyu manja, membuat Hiu hwi menoleh dengan tampang yang sangat sulit dijelaskan.
“Hey, Cho Kyuhyun? Apa kau tak merasa jika tubuhmu saat ini seperti kerasukan sesuatu heh? Kau mabuk? Sungguh, dari bangun tidur tadi, kau bersikap aneh. Merusak semua barang, mengepel dan sekarang berbicara dengan bahasa setan yang tak kumengerti. Apa yang terjadi dengan otakmu? Kau menyukaiku?” tantang Hiu hwi seraya berbalik, hingga kini mereka saling berhadapan.
“Mm-mwo?”
“Kau benar menyukaiku? Tsk! Hey, Kuperingatkan padamu Tuan Cho, aku gadis normal. Aku akan berpikir milyaran ribu kali untuk membalas perasaanmu itu.”
“YA! YA! YA! Si-siapa juga yang menyukaimu huh? Ckckckck, kau percaya diri sekali!” Umpat Kyu gusar seraya kembali menarik tangannya dari gadis itu. Kenapa Hiu hwi malah merusak suasana seperti ini? Padahal tadi ia sudah susah-susah payah untuk memulai hal itu.
“Kau tau aku menikahimu dengan tujuan apa, jadi tidak usah berpikir yang macam-macam. Sekarang, siapkan makanan untukku, aku lapar.”
“Makanan sudah kusiapkan diatas meja. Sekarang, aku ingin pergi.”
“Tidak boleh! Kita makan siang bersama lebih dulu.”
“Aku sudah kenyang. Kau tak lihat jika diatas meja kerjaku itu banyak bungkus cemilan? Aish... sudahlah, mungkin nanti aku akan pulang terlambat.”
“Kau tak kuizinkan pergi sebelum kita makan bersama. Aku adalah suamimu, dan kau adalah istriku. Jadi apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu, harus kau laksanakan dan perhatikan tanpa perlu protes, kau mengerti?”
“Tap—”
“Kau ingin keluar atau tidak?”
“Ash... ARA! Cepatlah makan... kau benar-benar menyebalkan!” Dengus Hiu hwi seraya membanting tudung makanan mereka dengan kesal. Entahlah, apa alasan Tuhan melahirkan namja yang seperti ini, pikir Hiu hwi.
Kyuhyun tampak tersenyum miring seraya berjalan dibelakang punggung gadis itu. Memperhatikan Hiu hwi yang dengan wajah kusamnya meletakkan piring dan mangkok-mangkok dengan telaten. Sebenarnya... gadis ini memiliki sifat keibuan dan istri yang bertanggung jawab dan baik. Kyuhyun, benar-benar senang ketika menyadari jika hatinya tak salah telah memaksa minta dinikahkan dengan yeoja seperti ini.
“Cepat, makanlah...” Hiu hwi terduduk dihadapan Kyu. Memperhatikan namja ini yang dengan antusiasnya hendak menyisipkan sendok kedalam mulut. Hiu hwi terpaku, tangan kanannya terangkat untuk berpangku dagu sekarang. Entahlah... pikirannya kembali melayang pada sosok Changmin.
‘Setauku, Changmin Oppa tak pernah menatapku seperti tadi. Apa dia cemburu? Bukankah selama ini, aku merasa jika hanya akulah yang mencintainya...’
Hiu hwi menghela nafas panjang. Toh, sudah hampir 2 tahunan ia menjalin hubungan dengan Changmin. Sekalipun malam itu ia sudah mendengar semua rahasia masa lalu Kyu dan dan Changmin selama ini, tapi tetap Hiu hwi merasa jika Changmin juga orang baik.
‘Pasti hanya ada kesalahpahaman diantara mereka. Baiklah, sebenarnya aku tak ingin perduli, tapi—saat malam itu Kyuhyun menangis, hatiku merasa sesuatu yang berbeda...’
Hiu hwi memiringkan kepalanya menatap Kyuhyun. Namja itu terlihat masih sama, senang dengan masakan yang ia buat. Sungguh, ia tak menyangka jika permasalahan Changmin dan Kyuhyun ini benar-benar cukup pelik. Toh, ini bukan hanya tentang sebuah kenangan pahit, tapi juga tentang bagaimana belajar memaafkan dengan tulus.
“Kau tak ikut makan?” tanya Kyu seraya mengunyah. Hiu hwi cukup terlonjak seketika, mengingat Kyu sepertinya sadar jika sejak tadi gadis ini menatapinya.
“Tidak.”
“Makanlah...”
“Aku tidak lapar.”
“Siapa yang menyuruhmu menolak, eh? Makanlah atau kubanting semua piring-piring diatas meja ini. Bukankah kau juga tau, jika hobiku ini membanting sesuatu?”
“Banting saja! Toh, ini juga piringmu. Setelah tadi kau dengan teganya merusak ponselku, aku sudah tak berniat lagi mencegahmu. Lakukan apapun sesuka hatimu sekarang, aku ingin pergi.” Hiu hwi sentak berdiri seketika, lalu berniat pergi dari ruangan ini.
“Changkam...!”
“Ohk? Apa lagi?”
“Aku hanya memberimu waktu pergi 3 jam. Jika sampai lewat dari itu, jangan harap malam ini kau bisa tidur dengan nyenyak.” Balas Kyu seraya tetap memangsa beberapa daging dihadapannya. Hiu hwi mengerang sebal. 3 Jam? Itu bahkan mungkin hanya bisa ia habiskan untuk naik dan menunggu Bus.
“Terserahmu Tuan Cho...”
“YA! Satu lagi...”
“Mwo? Mwo? MWO?”
“Berhati-hatilah... kau tau jika aku hari ini libur, eh? Aku tak suka jika ditinggal terlalu lama sendiri disini. Jika kau terlambat pulang, maka aku akan membawa yeoja lain kemari!” Ancam Kyu yang sungguh... sebenarnya itu hanyalah main-main.
“Nde. Kalau perlu, kau bawa saja seluruh yeoja bayaran untuk kau bawa kemari.” Jawab Hiu hwi sekenanya seraya mengambil tas dan menutup pintu rumah ini dengan kasar.
“Ash... kenapa yeoja itu selalu bersikap seperti itu? Menyebalkan!” Umpat Kyu melempar sendok dan garfu ditangannya secara sembarang. Entahlah, saat ini ia bahkan sudah tak mood lagi untuk melanjutkan makan.
‘Pulanglah Hiu hwi...’
Gumam Kyu gusar, ia bingung harus melakukan apalagi sekarang. Bukankah tadi ia memang berniat membatalkan semua jadwalnya hanya untuk bersama Hiu hwi seharian ini. Tapi gadis itu pergi! Kyu hanya dapat mematuk seraya menatapi layar Televisi besar dihadapannya dengan frustasi. Yah, bahkan layar itu pun tak bisa dihidupkan akibat ulahnya membongkar paksa Remote TV tadi. Baru 5 menit yang lalu gadis itu pergi keluar, tapi Kyu sudah ingin kembali memaksanya pulang.
***
‘Cinta bukanlah dari kata-kata,
Tapi dari segumpal keinginan,
Dan diberi pada hati yang memerlukan....’
@FlowerBlue, Apartment_ Seoul, South Korea_
Sudah hampir 5 menit yang lalu, Hiu hwi tampak hanya berdiri didepan sebuah pintu Apartment ini dengan gamam. Sesekali ia tampak berbalik untuk mengurungkan niatnya, sesekali ia tampak hendak mengetuk pintu itu dengan cepat. Tak aneh memang, toh ia sudah cukup lama tidak kemari lagi.
“Tapi—nanti apa yang harus aku katakan padanya?” Hiu hwi tampak merunduk, memikirkan alasan yang tepat untuk mengatakan mengapa ia datang kemari.
“Sebaiknya aku—”
CKLEKKK
Hiu hwi sentak terperanjat kaget, saat kini pintu Apartment itu terbuka secara tiba-tiba. Tak hanya kedua bola matanya yang melotot, tetapi juga kedua bola mata namja yang kini berdiri tegap dihadapannya sekarang.
“Hiu hwi...” ucap Changmin dengan raut wajah yang amat sangat tak percaya.
“Ak-aku... aku...”
“Masuklah dulu.” Ucap Changmin lemas seraya membuka sedikit lebar daun pintunya. Hiu hwi mengernyit, kenapa wajah Changmin tampak pucat?
“Hummm... apa aku tak menggangumu?”
“Aniya, duduklah.”
“Gomawo.”
“Hummm...”
“Tadi sepertinya kau ingin pergi? Sebaiknya aku—”
“Aniya, tadi aku hanya ingin ke Loby sebentar. Aku sedang mencari obat unt—” perkataan Changmin sentak terhenti saat tangannya secara tak sadar terangkat dan menyentuh dada. Sesak! Namja jangkung itu merasakan jika ia sulit bernafas sekarang.
“Oppa, gwanchana?” tanya Hiu hwi kuatir. Yeoja ini pun sentak duduk mendekat disamping Changmin.
“Ah, gwanchana. Hummm... untuk apa kau kemari?”
“Nde? Itu aku—aku—”
“Ash...” sela Changmin saat ia semakin merasakan sesak dilanda tubuhnya. Hiu hwi berpaling panik, tampaknya Changmin memang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
“Oppa... YA! Apa Asma-mu kambuh eh?”
“Hwi... hwi-ya... tolong ambilkan obatku... dilemari... itu...” ujar Changmin terbata seraya menunjuk sebuah loker diarea kamarnya. Hiu hwi sontak mengangguk, dan dengan cepat ia pun berdiri dan berlari menuju apa yang tadi ditunjuk Changmin. Dapat! Portable Nebulizer Omron... sebuah alat yang menghasilkan kabut tipis yang digunakan untuk dapat mencapai sistem pernapasan secara lebih dalam.
Hiu hwi sentak kembali berlari dan menyodorkan alat itu pada Changmin. Nampak tubuh Changmin bergetar dengan desahan nafasnya yang benar-benar terlihat begitu sesak. Bahkan sekarang, tubuhnya sudah duduk dilantai dengan lemas.
“Hhhh... Hhhh...” Changmin tampak mulai kembali mengatur nafasnya secara perlahan-lahan. Hiu hwi merunduk dalam, ia benar-benar sungguh tak bisa melihat Changmin yang memang terkadang tiba-tiba kambuh seperti ini. Hiu hwi sangat tau, jika Changmin punya penyakit Asma.
“Aku... tidak apa-apa,” ucap Changmin yang kini kembali bisa mengontrol dirinya. Hiu hwi tak mendongak, ia sibuk menyembunyikan air matanya sekarang.
“Hiu hwi...” panggil Changmin lagi. Ia baru sadar, jika ternyata yeoja ini juga belum banyak berubah. Lihat saja sekarang, tatapan kekuatiran itu masih memupuk dikelopak matanya.
“Kenapa bisa kambuh Oppa? Kau sedang banyak pikiran? Kau pasti juga lelah dan—”
“Aku hanya merasakan kepalaku berdenyut, seperti ada yang menghantamnya.”
“Jeongmal?” Hiu hwi sentak mengangkat tangannya hingga menyentuh dahi namja itu. Panas! Hiu hwi sangat yakin, jika sekarang suhu tubuh Changmin berada di celcius derajat yang tak semestinya.
“Oppa, apa kau demam ohk?”
“Aku—Ah, ini hanya demam biasa. Pulanglah... suamimu pasti tak suka jika kau berada disini.”
“Oppa...”
“Kurasa kita tak bisa berteman Hiu hwi, untuk itu pulanglah...”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Aku dari kecil hidup seorang diri, dan aku masih bisa hidup sampai sekarang. Tak perlu sekuatir itu, kau malah akan membuatku semakin lemah.” Changmin tampak berdiri dan hendak berjalan menuju tempat tidurnya. Entahlah, yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah—tertidur.
Tubuh Hiu hwi bergetar, ia sungguh tak bisa jika harus meninggalkan Changmin sendiri seperti ini. TIDAK! Bagaimana jika asma namja itu kembali kambuh? Hiu hwi dengan cepat berbalik kearah dapur dan mengambil sebuah mangkok untuk ia isikan beberapa es. Setidaknya, sebelum ia pulang, ia harus memastikan jika keadaan Changmin akan baik-baik saja. Entahlah, Hiu hwi merasa memiliki hutang budi dengan namja ini.
“Apa yang kau lakukan?” cegat Changmin saat kini Hiu hwi ingin membubuhkan sebuah sapu tangan ke dahi namja itu.
“Tentu saja mengompresmu. Diamlah, dan biarkan aku membantumu sebentar. Anggap saja, ini sebagai tanda permintaan maafku.” Balas Hiu hwi seraya kembali meneruskan aktivitasnya. Changmin terdiam, ia hanya terbaring sendu seraya menatapi wajah Hiu hwi begitu lekat.
“Ak-aku akan memasakanmu makanan sebentar, kau pasti belum makan.”
“Hummm...” Changmin hanya bergumam singkat sebagai tanda jawabannya. Tampak ia hanya mengerjap sejenak dan kembali menatapi punggung Hiu hwi yang tak terlalu jelas dipelupuk matanya sekarang. Sungguh, bahkan untuk bergerak ia terlalu lemas.
Ditempat lain, tampak kini Kyuhyun tengah mondar-mandir seraya sesekali mengumpat-umpat kasar tak jelas. Kenapa? Kenapa ia begitu bodohnya hingga baru sadar jika Hiu hwi tak membawa ponsel? Toh, bukankah tadi dia sendiri yang menghempaskannya hingga sekarang tinggal berkeping-keping.
“Aish... kenapa tadi aku harus melemparkan ponselnya!” Kyuhyun sentak mengambil kunci mobil mewah milknya, lalu beranjak pergi mencari Hiu hwi. Entah kemana, yang ada dipikiran Kyuhyun hanyalah pasar dan Mall yang sering yeoja itu kunjungi. Jika tetap tak ada, Kyu berniat mencari ketempat-tempat yang bahkan mungkin saja didatangi gadis itu.
“Aku bisa gila!” Pekik Kyuhyun seraya menghidupkan gas mobilnya dan berlalu.
***
* When it all began, Me Or Him! *
Seruan debu-debu itu tampak menempel dibebatuan karang, menimbulkan warna yang tak begitu nyata dari sebelumnya. Angin seolah bermain, menari-nari mengikuti gerakan awan yang tampak tak membiru lagi sekarang. Semua yang diatas sana tampak putih, bahkan mungkin mengelap.
“Setelah kau bangun nanti, cepatlah makan bubur ini. Kumohon, jagalah kesehatanmu,” usap Hiu hwi pada puncak kepala Changmin sejenak. Namja itu tampak tertidur pulas diatas ranjang. Untunglah, suhu tubuh Changmin sudah sedikit menurun dari sejak awal tadi.
Hiu hwi tampak mendongak, menatapi jarum jam yang menandakan jika ia sudah berada ditempat ini sekitar 3 jam kurang. Itu berarti, ia pasti akan terlambat untuk sampai dirumah. Ia sangat sadar, apa nanti hukuman yang akan diberikan Kyuhyun padanya. Ah baiklah, Hiu hwi juga tak tega meninggalkan suaminya itu sendiri.
“Aku pulang dulu Oppa, semoga kau cepat sembuh.” Hiu hwi berdiri dari sisi ranjang Changmin seketika. Mengambil tas lalu hendak berbalik keluar Apartment ini. Namun sayang, seketika saja...
“Kumohon... jangan meninggalkanku dulu.” Entah itu racauan Changmin atau bukan, yang pasti Hiu hwi merasakan pergelangan tangannya digenggam erat seseorang.
“Oppa...” Hiu hwi tampak mematung untuk sejenak, membiarkan pikirannya memutuskan sesuatu. Changmin memang masih menutup kedua matanya, apa memang tadi ia hanya meracau saja?
“Istirahatlah Oppa...” ucap Hiu hwi dengan secara perlahan-lahan menurunkan tangan Changmin yang menahannya. Aneh, genggaman hangat itu kini malah semakin mengerat, bahkan sekarang Changmin yang masih menutup kedua matanya itu kontan menghentakkan cengkramannya, hingga kini tubuh gadis itu jatuh tepat ditubuh Changmin.
“Oppa,”
“Untuk kali ini saja, kumohon...” Hiu hwi terpaku mendengar pelasan Changmin dengan nada gemetarnya. Apa namja ini menangis? Ya Tuhan...
“Dari kecil aku tak memiliki siapa-siapa, dan bahkan sampai sekarang. Tapi kumohon, disaat aku sakit seperti ini, jangan biarkan aku sendiri. Hwi-ya, aku—” masih dengan mata yang tetutup, Changmin sentak kembali mengeratkan genggaman tangannya. Hiu hwi mematung! Ia tau ini tidaklah benar. Bagaimanapun juga, ia seorang yeoja yang sudah memiliki suami. Ia sadar, jika ini tak sepantasnya dilakukan. Tapi—apakah ia tega meninggalkan Changmin yang memelas padanya untuk tetap tinggal?
Hiu hwi sedikit tau kehidupan Changmin, namja itu selama ini memang tak memiliki siapa-siapa untuk mengurusnya. Waktu itu, dia hanya mengatakan pada Hiu hwi, jika ia menetap hidup sendiri dari sejak lulus Sekolah Menangah Atas. Memang, dulu namja itu pernah bercerita tentang keluarga angkatnya yang begitu baik padanya. Hiu hwi benar-benar tak menyangka jika keluarga yang sering diceritakan Changmin dengan wajah berbinar bahagia itu adalah keluarga Kyuhyun.
Dari menurut cerita Kyu, wajar saja jika ia sangat membenci Changmin. Lalu, bagaimana menurut sisi Changmin? Belum tentu dia juga tak menderita dengan semua kenyataan ini. Ia dititipkan disebuah Panti asuhan semenjak ia berumur 5 bulan. Kedua orang tuanya bercerai dan saling tak ingin mengambil hak asuhnya saat itu. Untuk itulah, Changmin tumbuh menjadi sosok yang cukup dingin. Bukan karna ia tak butuh seseorang, tapi ia terlalu sulit untuk mengekspresikan semua keinginannya. Sampai, keluarga Kyu datang dan memberikannya secercah kebahagian yang tak pernah ia dapat selama ini. Dicintai... sebenarnya hanya itu yang dia inginkan. Ia berusaha mati-matian untuk tak mengecewakan keluarga Kyu yang telah memberikan kebahagiaannya itu. Sebuah kebahagian ketika ia diberi kesempatan dapat memanggil seseorang dengan sebutan Ibu, Ayah, dan Kakak. Sejujurnya, ia sama sekali tak berniat dan tak sadar jika niatannya untuk menjadi sempurna itu, malah membuat Kyu merasa tersisihkan.
Kematian Ah Ra, sungguh diluar kendalinya. Seandainya saja, Changmin bisa menjelaskan semuanya pada Kyu. Mungkin, permusuhan mereka tak akan seburuk ini.
Hiu hwi nampak tertunduk lesu, tatkala ia mendengar deru nafas Changmin yang tak beratur. Sungguh, jika seperti ini ia benar-benar tak tega meninggalkan Changmin. Toh, bagaimanapun juga namja ini dulu pernah mengisi masa lalu indahnya.
“Geurae, istirahatlah Oppa. Aku akan tetap disini,” Hiu hwi memaksakan senyumannya sekilas. Sungguh, ini dilema besar untuknya. Jika ia tetap disini, lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Suaminya itu juga tengah membutuhkannya sekarang. Bahkan Hiu hwi tak tau, jika saat ini Kyuhyun sudah mencarinya kemana-mana dengan ekspresi takut, kalut dan kuatir. Ini sudah lebih dari 3 jam, Hiu hwi sadar ia kini tengah membuat sebuah kesalahan besar pada Kyu.
‘Apa yang harus aku lakukan?’
Gumam Hiu hwi seraya menatapi tangan kanannya yang digenggam penuh oleh Changmin. Dulu, ini hal yang dapat menjadi moment paling ditunggu gadis itu; saling bergenggaman tangan dengan Shim Changmin. Namun sekarang? Entah mengapa, wajah Kyu yang akan frustasi lah yang kini terlintas diotaknya.
“Oppa, bisakah kau bangun sebentar? Makanlah dulu bubur yang aku buatkan ini.”
“Humm...” Changmin hanya menggeleng singkat. Ia hanya butuh istirahat saat ini.
“Sebentar saja, lalu setelah itu minumlah obat in—”
BRAAAAKKK
Belum sempat Hiu hwi hendak kembali membujuk Changmin untuk memakan bubur buatannya, pintu Apartment ini pun sentak terbuka dengan tiba-tiba. Yah, terdengar tergesa-gesa dan begitu keras; seolah didobrak dengan sengaja dari arah luar. Hiu hwi kontan saja menoleh, mendongak untuk mengetahui siapa yang telah dengan seenaknya masuk bahkan tanpa mengetuk.
“CHO HIU HWI! KAU DIMANA HUH?”
DEG
Jantung Hiu hwi sontak saja berdegup kencang tatkala ia mendengar lengkingan yang cukup keras menggema diruangan ini. Dan yang anehnya adalah... Hiu hwi seakan sangat mengenal pemilik suara dengan warna dan ritme seperti ini.
“Kkk-Kyuhyun Oppa...” ucap Hiu hwi dengan raut pucat saat kini Kyu sudah berdiri tak jauh darinya.
PRAANGGGG
Mangkok bubur yang seharusnya masih tergeletak diatas tangan kiri Hiu hwi, kini dengan mudahnya jatuh tanpa bentuk lagi kelantai. Yeoja itu sentak berdiri, namun sial! Ia baru sadar jika Changmin masih menggenggam erat tangan kanannya saat ini. Dapat Hiu hwi lihat, raut tak percaya Kyuhyun saat menatapinya.
‘Matilah aku...’
Gumam Hiu hwi seraya menghela nafas panjangnya sekarang. Kyuhyun malah tampak tersenyum sinis dengan sorot mata yang begitu tajam. MENGERIKAN!
“Kyu... sebenarnya ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku—”
BRAAKKK
Kyuhyun menendang kursi yang berada didekatnya, lalu beringsut berjalan menghampiri Changmin dan Hiu hwi dengan langkah lebar. Rahang namja itu mengeras, dibuangnya syal abu-abu yang tadi melekat indah pada lehernya itu segera.
“Kkkkkyu...”
“Minggir kau!” Bentak Kyuhyun seraya mencengkram tangan kiri Hiu hwi dengan keras, membuat cengkraman Changmin terlepas. Tak hanya itu, Kyu yang sudah kehilangan alam sadarnya itu pun sontak saja menghempaskan tubuh Hiu hwi kelantai. Namja itu tampak hendak beralih pada Changmin yang masih tergeletak lemah.
“YA! Cho Kyuhyun...” pekik Hiu hwi melotot tak percaya, saat kini Kyuhyun malah melanjutkan aksi emosinya dengan mengangkat kerah kemeja Changmin agar namja itu sedikit berdiri dihadapannya.
“Bangun kau... BANGUN!”
BUKK
Kyu sontak memukul wajah Changmin tepat dipipi kananya, membuat Hiu hwi terhenyak setangah mati. Sungguh, Kyu menitikan air matanya ketika ia melakukan itu.
“Kemari kau...! Ayo bangun....” Umpat Kyu yang kini hendak menduduki tubuh Changmin yang kini tampak tak berdaya pada tingkahnya.
“Kyu...”
=TBC=

Tidak ada komentar:
Posting Komentar