Kamis, 23 Oktober 2014

_“Your Kiss Is MINE!”_ Special Ending

_“Your Kiss Is MINE!”_ Special Ending


Tittle                      :: “Your Kiss Is MINE!”
Cast                      :: Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Joon Myun aka Su Ho, Lee Sungmin And Others Cast
Genre                   :: Romance, School Life
Rating                  :: PG + 17 
This Story Original From @Jjea_



***



             “Ini kenapa aku tidak mau mencium bibirmu sebelum kau utuh menjadi milikku kelak,”
             “Mwo?”
             “Aku benar-benar tak bisa mengontrol diriku lagi Hiu Hwi, kau benar-benar membuatku lemah.  Apa yang akan terjadi, jika selama ini aku tak bisa mengontrol semuanya. Dan apa jadinya kau, jika aku membuatmu hamil, bahkan sebelum kau resmi menjadi istriku,”
             “M-mmwo?”
             “Maafkan aku....” Ucap Kyu Hyun membelai wajah Hiu Hwi, dan mengecup dahi gadis itu dengan sangat lembut.



***



   
             Kau tau?
             Terkadang, melupakan itu lebih sulit, dari pada melepaskan



_“Your Kiss Is MINE!”_ Special Ending




             Malam ... inilah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan semua apa yang telah dilakukan pada saat siang hari. Tuhan mengirimkan malam dengan dunia sejuknya, dan membiarkan sang mentari tenggelam agar alam ini tak selamanya menghangat. Semuanya mempunyai waktu. Begitupula, waktu dimana tangis berubah menjadi tawa, dan waktu dimana tawa berubah menjadi tangisan.



             In Here ... all the stories began.
             * U’ar My Sweet *



             Sudah hampir 15 menit berlalu, gadis berambut panjang pirang ini hanya diam, seraya sesekali tersenyum kecil menatapi seorang pria yang tengah duduk berhadapan dengannya itu. Ini sudah ke-5 harinya mereka kembali tinggal bersama. Tak ada banyak hal yang berubah, tetap sama seperti dulu.
             “Apa wajahku lezat?” pertanyaan itu terlontar dari Kyu Hyun; pria yang kini memegang sendok dan garfu di tangannya. Hiu Hwi sentak berpaling, sedikit kikuk saat ketauan, jika sejak tadi kedua matanya sangat fokus menatapi pria itu.
             “Aaa ... ani, aku hanya....”
             “Hanya berpikir tentang betapa mempesonanya aku, sampai kau bahkan melupakan makan malam itu, benar?” tebak Kyu Hyun dengan senyum miring andalannya. Hiu Hwi mendengus, pria ini memang terkadang terlalu percaya diri sepertinya.
             “Terserah kau saja.” Dengus Hiu Hwi merunduk, untuk kembali fokus pada butiran nasi di dekatnya itu. Kyu Hyun tak membalas, pria itu hanya menyunggingkan senyumnya, lantas kembali membuka mulut untuk makan. Lihatlah, semenjak Hiu Hwi pulang ke rumah, nafsu makan Kyu Hyun kembali seperti dulu. Bahkan, bisa dikatakan meningkat. Ia selalu menghabiskan dan memakan apapun masakan Hiu Hwi dengan wajah berseri dan penuh antusias. Sungguh, itu membuat Hiu Hwi benar-benar sangat senang.
             Yah, Hiu Hwi sadar ia terlalu lemah dan akan selalu lemah, jika sudah berhadapan dengan sosok Kyu Hyun. Bukan apa-apa. Semenjak permintaan maaf Kyu Hyun yang ia lontarkan pada malam itu, entah mengapa rasanya begitu sulit bagi seorang Hiu Hwi untuk berlama-lama bersikap tak perduli. Ia mencintai pria ini, ia tak ingin meninggalkan Kyu Hyun dan membuatnya seperti hidup seorang diri lagi. Pria itu ... benar-benar berhasil membuat Hiu Hwi merasa tak tega.
             Seperti sekarang, melihat Kyu Hyun makan dengan lahap seperti itu, rasanya sudah sangat cukup. Hiu Hwi tau, jika Kyu Hyun tak suka makan sendiri. Bagaimanapun juga, ia tak ingin jauh dari Kyu Hyun dengan berakibat tubuh pria itu mengurus lagi.
             “Tidur denganku malam ini,” Kyu Hyun berucap itu seraya terus mengunyah dengan santai, seolah apa yang tadi ia lontarkan sama sekali biasa. Padahal itu....
             “Mmm-mmwo?”
             “Wae?” pelupuk mata Kyu Hyun mengerjap. Oh Tuhan..., kenapa kepolosan pria ini membuatnya malah semakin tampan berpuluh-puluh kali lipat?
             “Tidak! Bukankah kau sudah tau syarat utama yang aku berikan, saat aku setuju untuk kembali ke rumah ini?” Kyu Hyun menghela mendengar ucapan Hiu Hwi. Yah, ia ingat! Sangat ingat! Tapi itu ... sulit!
             “Kita tak boleh tidur satu ranjang lagi! Kau tau, itu tidak benar Cho Kyu Hyun?”
             “Tapi, bukankah selama ini aku dan kau sering tidur bersama? Jadi, kenapa kali ini tidak boleh? Selama ini, tak ada yang terjadi, bukan? Lalu, apa yang kau takutkan?”
             “Pokoknya, tidak boleh!”
             “Yak! Kau pikir, kau bisa menolakku?”
             “Mwo? Kau ingin berlaku semaumu lagi, Kyu?” tanya Hiu Hwi mendelik, membuat Kyu Hyun menghembuskan nafas kasarnya.
             “Ash! ARA...!” Balas Kyu Hyun seraya mempoutkan bibirnya sebal. Bingo! Baru kali ini, akhirnya Kyu Hyun mengalah dan tak bertindak sesuai keinginannya. Lee Hiu Hwi ... hanya gadis itu yang bisa melakukannya.
             “Baguslah....” Hiu Hwi nampak mengulum senyumnya, saat menatapi Kyu Hyun yang tengah menghabiskan makanan di hadapannya dengan dentingan kesal. Gadis ini harus perlahan-lahan mengajari Kyu Hyun, bagaimana untuk bersikap kepada orang lain.
             “Tapi Hwi—errr—malam ini saja, eoh? Kumohon....”
             “Aniya!”
             “ASHHH! Ya sudah....” Kyu Hyun sentak menghempaskan sendok dan garfu di tangannya, lalu berbalik pergi. Hiu Hwi terkikik pelan, betapa manisnya saat Kyu Hyun tengah berekspresi seperti itu.
             “Op-pa, kau mau kemana? Habiskan makan malammu sedikit lagi,” teriak Hiu Hwi sengaja dengan mengawali kalimatnya dengan sebutan ‘Oppa’. Sungguh, itu memang berhasil, membuat Kyu Hyun terhenti seketika.
             “Sekali lagi kau memantauku dengan nada yang seperti itu, akan aku patahkan tubuhmu malam ini, Hiu Hwi. Persetan dengan syaratmu itu!” Ancam Kyu Hyun, membuat Hiu Hwi sontak tertawa. Ia sangat tau, apa yang Kyu Hyun maksud dengan—patahkan tubuh? Baiklah, entah berasal darimana istilah yang Kyu Hyun katakan itu.



***



             Seperti biasa, selesai mencuci dan membersihkan ruang makan. Hiu Hwi bergegas mandi dan bersiap untuk mengerjakan pekerjaan Sekolahnya. Mereka akan menghadapi ujian kelulusan minggu depan, itu kenapa tak ada banyak waktu lagi untuk pergi dan bersenang-senang seperti dulu. Semua akan berakhir—pada saat musim kali ini juga akan berakhir.

             Jewel University, Australia

             Hiu Hwi sentak membuka amplop yang berisi surat mengenai salah satu universitas terbaik di Australi itu perlahan. Ada rasa ingin sekali menerima tawaran itu dan terbang kesana, tapi....
             “Apa itu?” suara yang tiba-tiba muncul itu sentak saja membuat Hiu Hwi menyembunyikan surat yang tadi ia tatapi. Gadis itu sedikit kikuk, ia tak tau kenapa ia menyembunyikan ini dari Kyu Hyun.
             “Tidak ada apa-apa. Ka-kau ada perlu apa ke kamarku?”
             “Menciummu...,”
             “NDE?”
             “Kemari!” Perintah Kyu Hyun seraya berdecak pinggang di dekat ranjang tidur gadis itu. Hiu Hwi meneguk air liurnya seraya berjalan. Pria ini benar-benar penuh kejutan.
             “Tutupi bibirmu itu! Aku benar-benar tidak tahan,” perkataan Kyu Hyun kali ini kontan saja membuat Hiu Hwi lagi-lagi membesarkan kelopak matanya. Baiklah, ia sekarang tau kenapa Kyu Hyun tak ingin menciumnya di bagian itu. Pria ini akan menjadi mengerikan, jika sudah mengecupi daun bibirnya itu.
             “Dasar...,” dengus Hiu Hwi seraya mengangkat tangannya, dan menutup mulutnya rapat. Kyu Hyun tersenyum, mengecup dahi Hiu Hwi, lalu membelai pinggiran rambut gadis itu dengan lembut.
             “Kau tak boleh tidur dengan rambut basah seperti ini,” Kyu Hyun mengambil alih handuk kecil di bahu Hiu Hwi untuk ia gosokkan ke kepala gadis itu. Hiu Hwi terdiam! Inilah mengapa, ia selalu yakin, jika ia tak mungkin dapat menolak pesona luar biasa dari pria ini.
             “Kyu...,”
             “Hemmm?”
             “Apa yang akan kau lakukan setelah lulus Sekolah nanti?”
             “Kau tau apa yang akan aku lakukan, sekalipun aku tak menjawabnya, bukan?”
             “Kau benar-benar akan mengambil alih Perusahaan Ayahmu lagi?”
             “Jika bukan aku, siapa lagi? Perjanjiannya sudah seperti itu. Jika aku lulus Sekolah, aku akan menggantikan apa yang dilakukan Ayahku sebelum meninggal.”
             “Hummm...,”
             “Wae?”
             “Aniya, hanya saja. Aku sebenarnya ingin....”
             “Pergilah...,”
             “Mwo?”
             “Kau ingin ke Autralia, bukan?”
             “Kyu....”
             “Aku tak yakin bisa melepaskanmu untuk pergi jauh dariku, tapi jika itu kemauan yang ingin kau lakukan, kau pikir aku bisa apa? Ahhh..., sekalipun tetap saja aku tak bisa,” Kyu Hyun menghentikan gosokkannya, lalu menatap Hiu Hwi dalam.
             “Jantungku sudah terbiasa berdetak bersamamu Hiu Hwi. Akan sulit bagiku untuk kembali membiasakan hidup tanpamu. Kau tau, apa yang paling tak bisa aku lakukan? Yah, aku tak bisa, jika aku tak melihatmu,” Kyu Hyun seketika mengecup bibir Hiu Hwi dan membuka daun bibirnya untuk membiarkan lidah itu mengecapi bibir mungil gadis di hadapannya ini. Hiu Hwi sedikit terkejut!
             “Oh Shit! Baiklah, satu menit lagi.” Keluh Kyu Hyun pada dirinya sendiri, seolah menyugestikan dirinya agar jangan lepas kendali. Hiu Hwi baru saja hendak tersenyum, sampai akhirnya, Kyu Hyun kembali mengamit daun bibirnya dan menghisap pelan bibir bawah gadis itu dengan godaan luar biasa.
              “Kyu....”
              “Ashh...! Arasseo!” Manja Kyu Hyun kesal, saat Hiu Hwi memberhentikan pautan mereka seketika. Hiu Hwi tersenyum kecil. Sebenarnya, ia ingin sekali berterima kasih kepada pria ini. Di tatapnya lekat, Kyu Hyun yang tengah menggosokkan kembali handuk kecil itu untuk mengeringkan rambutnya.
              “Bagaimana bisa aku meninggalkanmu pergi, Kyu? Jika bahkan, hatiku telah kau buat sedemikian rupa seperti ini....”



***



              Dalam masa Sekolah 3 tahun, ujian akhir menjadi babak penentuan dari perjuangan selama itu. Kadang jika dipikirkan, waktu 3 tahun cukup lama memang, tapi berbeda halnya ketika kau sudah berada di akhir. Semua waktu, seakan begitu cepat. Sama halnya dengan para pelajar-pelajar Yayasan Sekolah ini. Tak ada lagi waktu mereka untuk saling membolos saat jam pelajaran, atau meninggalkan buku pelajaran mereka di rumah. Semuanya mulai fokus ... fokus akan masa depan masing-masing.
              Termasuk, Hiu Hwi dan Kyu Hyun. Sebodoh-bodoh Pelajar yang ada di sini, tak ada satupun yang tak mau lulus. Keduanya kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama untuk membahas pelajaran dan rumus yang sulit untuk dipecahkan. Kadang Hiu Hwi heran, Kyu Hyun sangat pintar dalam bidang Matematika sekalipun tak belajar. Sedang dirinya? Ia memang mendapat ranking di kelas, tapi itu berkat buku. Yah, Hiu Hwi pintar karna selama ini ia berusaha untuk menghafal semuanya.
              “Yang ini atau yang—”

PIPP ... PIPP

              Hiu Hwi sentak menghentikan pertanyaannya, saat seketika ponsel di sakunya bergetar. Gadis itu melirik Kyu Hyun yang nampak masih fokus pada buku di hadapannya. Baiklah, tidak apa-apa bukan, jika ia menatap pesan masuk itu sejenak?
              SU HO KIM!
              Demi matahari dan bulan, Hiu Hwi sudah menduga, jika pria bermarga Kim inilah yang memberinya SMS kata semangat ‘lagi’. Yah, Su Ho tak pernah henti-hentinya menyemangati Hiu Hwi untuk ujian kelulusannya itu. Tentu saja, tanpa sepengetahuan Kyu Hyun. Selingkuh? Tidak! Toh, hubungan mereka sekarang masih belum jelas. Kyu Hyun memang berubah, ia tak lagi bermain-main dengan tubuh banyak gadis. Pria itu juga sudah tau, betapa Hiu Hwi mencintainya. Tapi, bagaimana dengan Kyu Hyun sendiri?
              “Dari siapa?” tanya Kyu Hyun membenarkan letak kaca matanya itu, tanpa menoleh ke arah Hiu Hwi. Gadis itu tergagap, otaknya mulai ia jalankan untuk cepat membuat alasan.
              “Dari—”
              “Aku rasa, tak ada operator kartu yang mengirimimu pesan selarut ini, bukan?” Damn! Kyu Hyun ternyata sudah lebih dulu menerka apa yang ingin ia jawab. Apa ... sebenarnya pria ini bisa membaca pikiran orang lain? Hiu Hwi menghela, ia bingung sekarang.
              “Dari Su Ho,” balas Hiu Hwi sesantai mungkin. Toh, tak ada salahnya ia saling memberi pesan kepada pria itu bukan?
              “Dulu, aku pernah memperingatkanmu untuk jangan....”
              “Waeyo? Aku rasa, Su Ho anak yang baik. Tak ada salahnya untuk berteman dengannya. Aku rasa dia—” ucapan Hiu Hwi tercekat tatkala ia menatap Kyu Hyun sudah mulai mengganti posisi duduknya. Raut pria itu mengerikan! Yah, Hiu Hwi tau mungkin ia akan dalam masalah besar.
              “Ak-aku rasa dia hanya ingin menyemangatiku. Tidak untuk apa-apa, aku juga tak berniat membalasnya. Aku ... aku tak suka pria yang berumur di bawahku. Yah, begitu.” Lanjut Hiu Hwi tersenyum paksa, bermaksud agar Kyu Hyun tak menelurkan api amarahnya itu. Sepertinya ia berhasil, Kyu Hyun kembali mengubah air wajahnya dari detik yang lalu.
              “Kemarikan ponselmu,”
               “Eoh?”
               “Ini sudah 3 bulan semenjak aku menghancurkan ponselmu untuk yang terakhir kali, bukan?”
               “Nde, ta-tapi—”

BRAAAKKK!

               Hiu Hwi sedikit terperanjat saat Kyu Hyun merampas ponsel mungilnya itu, lalu membenturkannya ke dinding. Hancur sudah, ponsel dengan harga mahal itu seketika.
               “Kau lupa, kita akan ujian? Ponsel tak baik untuk konsentrasimu!”
               “Mwo? Yak! Lalu, bagaimana denganmu, Kyu? Ponselmu juga....”

BRAAKKK!

               Lagi-lagi Hiu Hwi terperanjat saat Kyu Hyun mengambil ponsel di sakunya, lalu menghempaskannya juga ke dinding. Gadis itu mengerjap! Kyu Hyun benar-benar....
               “Kau puas?” Kyu Hyun mendelik seraya menatap Hiu Hwi sejenak, lalu kembali fokus pada bukunya. Tak ada yang dapat Hiu Hwi lakukan, selain diam. Ia takut menjadi seperti ponsel itu di tangan Kyu.
               “Hummm..., dan jangan berhubungan lagi dengan Su Ho.” Lanjut Kyu Hyun untuk terakhir, membuat Hiu Hwi terperangah. Jadi sebenarnya, pria ini marah karna ia bermain ponsel disaat akan ujian, atau marah karna Hiu Hwi mendapat pesan dari—Su Ho? Entahlah....



***



               Belajar ... belajar ... dan belajar! Hampir selama bulan-bulan terakhir ini, tak ada hal lain yang Hiu Hwi dan Kyu Hyun lakukan bersama, selain itu. Ujian akhir sudah mereka selesaikan dengan baik. Sulit! Sebenarnya tidak terlalu, jika semuanya percaya pada ketekunan mereka berusaha untuk belajar menghadapi itu.

               LULUS!

               Hiu Hwi ingat betul, saat pertama kali ia melihat Kyu Hyun tertawa senang mendapati surat kelulusan itu di tangannya. Yah, kelulusan mereka terjadi 2 minggu yang lalu. Dimana hari, yang terbaik dari yang terbaik yang pernah Hiu Hwi jalani selama ini.
               Kini, semuanya akan dimulai dengan hal baru. Termasuk kehidupannya, teman-teman Sekolahnya, dan Kyu Hyun. Sungguh, waktu benar-benar berputar begitu cepat, lebih cepat dari dugaan sebelumnya.
               “Ini tiketmu, masuklah,” sapaan seseorang ini sentak saja membuat Hiu Hwi membuyarkan lamunannya. Ia baru ingat, jika kini ia berada di Bandara untuk berangkat ke Autralia. Hiu Hwi mendapat beasiswa di sana. Sesuatu hal yang sebenarnya cukup membuat gadis itu bangga pada dirinya sendiri.
               “Kyu Hyun Oppa....” Hiu Hwi menatap Kyu Hyun dalam. Sekalipun pria itu seolah merelakannya pergi, tapi terlihat jelas Kyu memaksa untuk melakukan itu.
               “Jika kau berjalan masuk ke dalam, jangan pernah menoleh ke belakang. Aku akan menyeretmu pulang, jika kau berani melakukan itu.”
               “Oppa....” Hiu Hwi sontak mengepalkan tangannya pada ujung kaosnya itu, berharap jika tangisnya tak meledak di detik ini.
               “Masuklah, kau tak dengar pengumumannya?”
               “Kau membolehkanku pergi?”
               “Ani. Tapi, aku harus melakukannya.”
               “Maafkan aku.”
               “Untuk apa? Hanya ingat apa yang kukatakan padamu. Jangan pernah berhubungan dengan pria manapun di sana, berhati-hatilah dengan orang asing. Jika kau kesepian, carilah aku dan hubungi aku saja, kau mengerti?”
               “Arasseo.” Balas Hiu Hwi dengan nada bergetar.
               “Ya sudah, pergilah.”
               “Oppa....”
               “Aku tak bisa menciummu disini, itu akan berbahaya. Benar-benar sial, buk—”

CUP!

               Perkataan Kyu Hyun sentak terhenti seketika, saat Hiu Hwi menyelanya dengan membungkam bibirnya itu cepat. Kyu Hyun terpaku, ini kali pertamanya Hiu Hwi memulai untuk menciumnya.
               “Kau yang bertanggung jawab!” Bisik Kyu Hyun melepaskan bibir Hiu Hwi sejenak, lalu menarik pinggang gadis itu untuk ia dekap dengan erat. Tanpa membuang waktu, lidah Kyu Hyun mulai kembali menjelajah. Tapi....
               “Cukup! Aku tidak bisa—huhhh—aku tak bisa berlama-lama denganmu seperti ini Hiu Hwi. Kau pasti tak mungkin bisa lepas dariku.”
               “Kau mulai beurbah Oppa. Dan aku suka itu! Kau sudah bisa mengontrol banyak hal yang dulu tak bisa kau kendalikan dengan mudah. Kau berhasil, membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya,” Kyu Hyun terpaku mendengar perkataan Hiu Hwi kali ini. Ia hanya diam, seolah tak bisa membalas.
               “Baiklah, aku pergi.”
               “Hwi-ya,” cegat Kyu Hyun cepat. Hiu Hwi menoleh. Rasanya, ia ingin menangis. Kenapa harus berpisah seperti ini?
               “Ini—untukmu—” Kyu Hyun memberikan sebuah lipatan kertas origami itu pada Hiu Hwi. Gadis itu tersenyum, betapa ia tak bisa seperti ini.
               “Lipatan itu ke 1001 yang aku buat. Cah, sekarang pergilah.”
               “Gomawo,”
               “Hemmm....”
               “Tak ada yang ingin kau katakan padaku lagi, Oppa?”
               “Mwo? Hummm..., aniyo.” Jawab Kyu Hyun sekenanya, membuat ekspresi Hiu Hwi berubah kecewa. Kepala gadis itu mengangguk, seakan mengerti. Dengan gontai, Hiu Hwi melangkahkan kakinya menjauh dari Kyu Hyun, air mata gadis itu tumpah seketika.
               “Hwi-ya,” pantau Kyu Hyun lagi. Hiu Hwi lagi-lagi menghentikan jejak kakinya, lalu berbalik.
               “Mwo?”
               “Aniyo, hati-hati.” Baiklah! Kalimat itu seakan menambah betapa sakitnya Hiu hwi sekarang. Oh Kyu, tidak adakah kalimat indah dalam waktu mereka seperti ini? Tidakkah Kyu Hyun ingin berniat membalas ucapan suka Hiu Hwi tadi? Shit! Pria ini benar-benar menyebalkan!
               Dengan tanpa ingin berbalik lagi, Hiu Hwi sentak berjalan menuju pintu masuk untuk naik ke pesawat. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya, seolah tak ingin Kyu Hyun memantaunya lagi, dan membuatnya tak tega meninggalkan pria itu.
               “Hwi-ya...,” serak Kyu Hyun seraya menatap punggung Hiu Hwi yang tak lagi dapat dijangkau kedua bola matanya. Pria itu merunduk!
               “Kajima....” Lanjut Kyu Hyun menitikan bulir air matanya perlahan.




***



=FIN=




               Hiu Hwi nampak menatap origami 1001 yang sempat Kyu Hyun berikan padanya saat di Bandara itu. Gadis itu menghela nafas. Kini..., tak akan ada lagi sosok Kyu Hyun yang tanpa dosanya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk. Kini, semuanya sepi. Ruangan Apartment yang dibelikan Kyu Hyun di Australia ini benar-benar begitu sunyi.

PIPP ... PIPPP

               Hiu Hwi menatap ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk di sana. Cho Kyu Hyun! Baiklah, pria itu sudah sejak tadi tak pernah henti-hentinya mengiriminya pesan. Bahkan, semenjak Hiu Hwi baru menginjakkan kakinya ke Negara asing ini.

               “INGAT! Jangan berteman atau mengobrol dengan pria manapun di sana! Aku akan membunuhnya, jika ada yang berani menyentuh gadisku!”

               Hiu Hwi tersenyum kecil membaca pesan bodoh Kyu Hyun ini. Entah, seberapa kuatirnya Kyu Hyun, akan pria-pria tampan Negara ini. Yang pasti, pria itu selalu memperingatinya dengan kalimat-kalimat ancaman yang seperti ini. Oh Cho Kyu Hyun!
               “Huhh....” Hiu Hwi kembali menghela nafas. Di ambilnya, origami yang sejak tadi ia tatapi itu dengan perlahan. Tunggu ... seperti ada tulisan dalam lipatan kertas itu. Bodoh! Kenapa ia baru sadar?
               “Eh?” Hiu hwi dengan cepat membukanya. Ia hafal betul, bagaimana bentuk dan gaya tulisan tangan pria bermarga Cho itu. Dan itu....

               “Aku sangat mencintaimu, Lee Hiu Hwi. Menikahlah denganku setelah ini, kumohon. Ini keajaiban yang aku inginkan dengan 1001 lipatan kertas yang kubuat.”

               Hiu Hwi sontak membulatkan matanya lebar, tatkala membaca bait per bait kalimat yang terdapat di dalam lipatan kertas itu. Shock! Sangat!

PIIPP ... PIIPPP

               Belum selesai terkejut akan kalimat yang berada dalam lipatan kertas itu, Hiu Hwi sontak dikejutkan kembali pada pesan masuk di ponselnya. Kyu Hyun! Yah, siapa lagi? Kali ini, bukan pesan masuk teks, tapi pesan masuk suara!
               Dengan gerakan cepat, Hiu Hwi sentak menekan tombol dengar, ia tak ingin berlama-lama untuk mengetahui semua perasaan pria itu padanya.

               “Ini baru beberapa jam setelah kau meninggalkanku disini, tapi aku sudah merasa tak tenang. Aku ... merindukanmu Hiu Hwi. Bisakah kau pulang ke Korea, besok? Ah, baiklah, Itu tidak mungkin! Ash! Tapi aku merindukanmu!”

               Hiu Hwi sentak menitikan air matanya saat mendengar pesan masuk dari Kyu Hyun itu. Demi Tuhan, ia sangat mencintai pria ini. Tapi bisa apa sekarang? Ia sudah memilih masa depan yang lain lebih dulu.
               “Kyu....”
               Hiu Hwi terduduk dilantai. Perlahan tapi pasti, senyum itu terkembang manis di wajahnya. Sebuah senyuman yang membuat semua beban dipundaknya terangkat seketika. Ada kelegaan luar biasa yang saat ini ia rasakan. Lega? Yah, lega saat mengetahui, jika betapa Kyu Hyun juga sangat mencintainya.




-END-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar