“I Love You In The Form Of My Silence”
Present : Cho Kyuhyun, Cho Hiu hwi, Cho Gyu Yong
This Story Original From @Jjea_
***
‘Aku belajar Diam dari banyaknya bicara
Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan
Aku belajar mengalah dari suatu keegoisan
Aku belajar menangis dari kebahagiaan
Aku belajar tegar dari kehilangan.
Karna hati dapat melihat apa yang tak terlihat’
Debu-debu itu terlihat terhuyung terbawa angin untuk berhinggap ditempat lain, memberikan bias cahaya biru berkelebat dalam mendung. Tak ada yang berpangkal manis diujung getir awan abu-abu itu, seolah alam memang sengaja menutup diri. Dingin ... sang surya sepertinya memang enggan untuk terlihat saat ini.
* When it all began ... Love Story *
Cat warna rumah tua ini tampak sedikit pudar termakan waktu, seolah teriris pekatnya musim yang memang terkadang begitu tak menentu. Warna silver yang memang mendominasi daerah luar rumah ini, terlihat berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Jamur-jamur kecil itu tampak terlihat di pinggiran dindingnya, sedikit banyak. Namun tetap, itu tak mengurangi keindahan yang memang telah tercipta dirumah ini. Sebuah rumah sederhana yang memang tak terlalu besar, tapi menyimpan begitu banyak cinta dan kebahagiaan.
14 JULI
Tepat ditanggal itu, tanda merah tampak melingkar disebuah kalender dinding rumah ini. Wanita yang mengenakan sweater panjang itu pun tampak tersenyum memandangi tanggal itu, sedikit rasa ingin menangis melandanya sekarang.
“Hummm..., hari ini kembali tiba. Beruntungnya, aku masih dapat kembali ke tanggal ini lagi. Tuhan, aku sangat berterima kasih padamu atas ini,” wanita itu tampak tersenyum lebar dengan ekspresi haru. Direkatkannya kembali sebuah syal yang cukup tebal yang melingkari lehernya kini. Kepalanya merunduk, mengingat telah begitu banyak hari, bulan dan tahun yang telah ia jalani sampai sekarang. Kembali, tangan kanannya terangkat menyentuh tanggal didalam kalender itu. Sesungguhnya, ada banyak hal yang telah berbeda dari kehidupannya sekarang, bahkan mungkin semua yang ada dalam dirinya itu. Yah, semuanya sudah berubah dan itu memang jelas sekali terlihat. Cho Hiu hwi! Itulah nama wanita itu. Seorang wanita tua yang memiliki garis kecantikan yang sempurna, bahkan kecantikan itu seakan terlihat abadi diantara kerutan kulitnya kini.
“Eungh ... eungh ....” Suara erangan seseorang sentak terdengar, menghentakkan lamunan Hiu hwi yang sedetik lalu masih mengulang bagaimana masa mudanya beberapa tahun silam. Tubuh Hiu hwi yang sudah ringkih itu perlahan-lahan menoleh kearah samping, menatapi seorang pria tampan yang sangat ia cintai. Sungguh, ketampanan pria itu seolah tak terkikis masa sedikitpun. Ia masih tetap tampan, bahkan akan terus sangat tampan dimata Hiu hwi.
“Kyuhyun Oppa...,” suara Hiu hwi terdengar serak. Bahkan nada bicaranya pun kini sudah berubah banyak, tak semerdu dahulu. Hiu hwi tersenyum, menekuk pelan kedua kakinya untuk berjongkok agar dapat sejajar dengan kursi roda suami terkasihnya ini.
“Hemm? Oppa butuh sesuatu?” Hiu hwi menjulurkan tangannya menyentuh kulit wajah Kyuhyun, mengelus kerutan yang terlihat pada pria itu. Kedua mata mereka bertemu pandang dalam ikatan sendu. Jalinan mata itu bahkan sama sekali tak berubah dari beberapa puluh tahun silam. Pria yang bernama Kyuhyun itu kini sudah berusia 85 tahun. Namun sungguh, tatapan tajam khas miliknya itu benar-benar masih sangat terasa bagi Hiu hwi. Mempesona, sekalipun keriput terlihat dimana-mana, senyuman yang tanpa gigi tak utuh lagi atau helaian rambut putih dan tipis yang mungkin sebentar lagi benar-benar akan habis. Tetap, Kyuhyun memilki pesona yang tak akan pernah berubah.
“Oppa sangat tampan sekarang,” Hiu hwi memiringkan sedikit kepalanya, menatapi Kyuhyun dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Ia sangat mencintai pria ini. Yah, walau sekarang ... dia bukanlah pria yang digilai lagi oleh banyak gadis, bukan pria gagah yang sangat populer, dan bukan pria yang selalu dipuji banyak orang lagi, tapi Hiu hwi tetap sangat mencintainya dari dulu, sampai sekarang. Bahkan lihatlah, Hiu hwi sama sekali tak mengurangi rasa dalam hatinya itu sekalipun Kyuhyun kini tak dapat lagi berbuat apa-apa. Kyuhyun mengalami Stroke, membuatnya kesulitan untuk berbicara lagi. Suara emasnya yang indah itu, kini belum dapat lagi Hiu hwi dengar. Tidak perduli akan hal itu, baginya kehadiran Kyuhyun yang masih terus bertahan di sisinya kini, itu sudah jauh lebih dari cukup.
Hari ini; 14 Juli..., tepat keduanya saling mengikat janji pernikahan 65 tahun silam. Angka yang cukup lama dan fantastis bagi mereka. Yah, bukan hanya saja kebahagiaan yang telah mereka hadapi selama itu, tapi juga kesedihan, jerit tangis, kelelahan, keputus-asaan dan banyal hal. Semua itu pernah mereka rasakan bersama dan akan terus menjadi pelabuhan kenangan yang kelak akan menjadi sejarah hidup mereka.
“Oppa...,” Hiu hwi sedikit mencodongkan tubuhnya kedepan, memeluk tubuh lemah Kyuhyun diatas kursi roda itu. Sekalipun Kyuhyun tak dapat mengucapkan apapun lagi, tapi Hiu hwi sudah bisa mengerti. Benar, hanya dengan saling menatap diam.
Kyuhyun menutup kedua matanya menikmati dekapan dari istrinya ini. Hangat, Hiu hwi memang selalu dapat membuatnya merasa nyaman. Ia tak tau, jika wanitanya itu kini tengah menitikan air mata dalam pelukannya. Semakin lama tubuh mereka akan semakin tampak rapuh, dan Hiu hwi memang sangat takut, jika kelak ia tak bisa memeluk tubuh Kyuhyun lagi. Tak ada manusia yang hidup abadi di dunia ini, semuanya akan kembali ke tanah dan menetap dikediaman yang sebenarnya. Hiu hwi sadar akan hal itu, dan ia memang merasa sangat takut menyadari kelak, jika diantara mereka pasti akan ada yang lebih dulu pergi. Demi Tuhan, dia sangat mencintai Kyuhyun, bahkan semenjak Kyuhyun menatapnya pertama kali saat ia berada dibangku Sekolah.
Banyak orang sekarang menilai, jika menjadi tua itu sama sekali tak menyenangkan. Namun menurut beberapa peneliti, banyak orang-orang yang lanjut usia mengatakan jika mereka merasa lebih bahagia dengan hidup mereka diusia tua daripada ketika mereka berumur 18 tahun. Temuan ini berasal dari survei lewat telepon tahun 2008 terhadap lebih dari 340 ribu orang dewasa berusia antara 18 dan 85 tahun di Amerika Serikat.
Menurut satu teori, sewaktu usia bertambah, orang-orang semakin bersyukur pada apa yang mereka miliki dan lebih mampu mengendalikan emosi. Mereka juga meluangkan waktu lebih sedikit untuk memikirkan pengalaman buruk. Mungkin, seperti itulah yang Kyuhyun dan Hiu hwi rasakan sekarang. Bersyukur! Yah, mereka sangat bersyukur dapat bersama didunia ini sampai sekarang.
“Euongg...,” Kyuhyun bersuara lagi. Dia sepertinya ingin mengucapkan kalimat kepada Hiu hwi. Wanita itu tak menggubrisnya lebih dulu, ia lebih sibuk mendekap tubuh Kyuhyun semakin erat. Ia tak ingin suaminya itu melihat tangisannya yang telah pecah saat ini. Sesungguhnya, suara Kyuhyun ketika ia berumur 20an dulu sangat terdengar begitu indah, dia pandai bernyanyi. Namun sekarang....
Kyuhyun tau apa yang terjadi pada Hiu hwi yang tengah memeluknya ini. Laki-laki itu tampak mengubah ekspresinya menjadi sedih. Pasti Hiu hwi menangis lagi, wanitanya itu benar-benar tak dapat berbohong dan berakting jika berada didekatnya. Sungguh, Kyuhyun ingin sekali membalas pelukan Hiu hwi saat ini. Namun apa daya, kedua tangannya seolah beku dan begitu sulit untuk ia gerakan.
‘Hwi-ya, jangan menangis....’
Hanya gumaman suara hati Kyuhyun lah yang kini dapat bersuara, berharap jika Tuhan akan membantunya untuk menyampaikan panggilan itu melalui pelukannya. Keduanya masih tampak saling berpelukan, seolah esok mereka mungkin akan dipisahkan oleh waktu.
Kedua orang tua ini sama sekali tak perduli lebih dulu akan sekelilingnya, bahkan mereka tak menyadari keberadaan seorang namja tampan yang kini tengah mematung memandangi mereka. Senyum namja muda itu mengembang seiring dengan matanya yang berkaca-kaca, menatapi kedua orang yang sangat berharga baginya itu kini saling berpelukan dengan mesra. Sungguh, tak pernah berubah.
“Ehem..., Appa-Eomma kalian ini benar-benar selalu membuatku cemburu,” rajuk namja itu membuat Kyuhyun dan Hiu hwi sentak melepaskan dekapan mereka.
“Gyu Yong-ie...,” Hiu hwi sentak tersenyum menghapus jejak air matanya tatkala ia menatapi sang anak tengah berdiri tegap dengan sebuket bunga lily ditangannya.
“Ini untukmu Mom,” namja yang bernama Gyu Yong ini pun sentak berjongkok dan mencium pipi sang Ibu dengan lembut. Hiu hwi lagi-lagi tersenyum. Putra tunggalnya ini benar-benar tak pernah berubah, selalu manja, bahkan disaat umurnya kini sudah beranjak dewasa. Gyu Yong sudah menikah dan memiliki dua anak yang sangat Kyuhyun dan Hiu hwi syukuri keberadaannya kini.
“Appa baik-baik saja?” Kyuhyun mengalihkan tubuhnya pada sang Ayah, mencium sejenak tangan kanan pria itu. Kyuhyun hanya menjawabnya dengan gerakan kecil, sebagai tanda ia baik-baik saja.
“Kau tak membawa istri dan anakmu kemari, Yong?”
“Tidak Eomma, anak bungsuku besok masih ada ujian di Sekolahnya,” Gyo Yong tampak tersenyum dan bergelayut manja dibahu sang Ibu. Dapat dilihat perubahan ekspresi Kyuhyun saat ini melihat adegan mesra anak dan Ibu itu.
“Lihatlah Eomma, sepertinya Appa masih saja cemburu padaku,” Gyu Yong mencibir kearah Appa-nya, membuat Hiu hwi tertawa dan menepuk pelan kepala anaknya itu. Gyu Yong benar-benar sangat mirip dengan Kyuhyun disaat ia muda. Tampan, berkharisma, dan juga memiliki mata, hidung, dan bentuk wajah yang sempurna seperti Kyuhyun. Gyu Yong juga begitu jahil, dia juga menuruni sifat buruk Kyuhyun yang begitu manja dan sedikit—err—nakal.
“Eonghh...,” Kyuhyun mengerang seraya memberi pelototan kecil pada Gyu Yong. Anaknya itu tiba-tiba mengangguk, seolah ia mengerti akan apa yang ingin Ayah-nya itu katakan.
“Hummm ... Eomma,”
“Nde?”
“Hari ini, apa boleh aku mengajak Appa pergi ke suatu tempat sebentar?”
“Kemana Yong?” tanya Hiu hwi tampak memandangi anak dan suaminya itu bergantian.
“Waktu itu, aku sudah berjanji dengan Appa untuk pergi ke suatu tempat. Eomma tidak perlu kuatir, aku akan menjaga Appa dengan taruhan nyawaku sendiri,”
“Yong, Appa-mu masih dalam kondisi kurang fit. Sebaiknya, kalian batalkan lebih dulu rencana kalian itu, hem?” Hiu hwi tampak mengelus puncak kepala Yong, membuat anaknya itu tersentak menatap Kyuhyun yang sepertinya tetap ingin pergi. Yong tau akan hal itu, karna memang Appa-nya itu sudah sangat lama ingin melakukan sesuatu ini.
“Eomma, kami hanya sebentar. Aku berjanji akan menjaga Appa.”
“Kalau begitu, Eomma juga akan ikut.”
“Hummm..., Eomma ayolah, kami tidak akan lama.” Pelas Gyu Yong seraya menggenggam kedua tangan sang Ibu untuk meyakinkannya. Hiu hwi menghembuskan nafasnya, ia juga dapat melihat sebuah siratan memohon dimata Kyu saat ini.
“Baiklah, tapi jangan membawa Appa-mu terlalu lama diluar. Eomma akan menyiapkan makan malam, kalian harus pulang sebelum jam itu. Kau mengerti Yong?”
“Aku mengerti Eomma, akan aku pastikan kami akan sampai kesini tepat waktu. Thank You, Mom.” Kecup Gyo Yong singkat seraya tersenyum.
“Ya, kalian harus hati-hati.”
“Pasti, Mom. Appa, ayo kita berangkat sekarang.” Gyu Yong tampak berdiri dan bersiap untuk menuntun kursi roda Appa-nya itu keluar.
“Tunggu dulu—ini—” cegat Hiu hwi tiba-tiba sembari melepaskan syal yang ia pakai.
“Diluar begitu dingin, Oppa harus selalu merasa hangat,” Hiu hwi kembali berjongkok dan memasangkan syal tebal itu dileher Kyuhyun. Kyu sontak menatap istrinya itu, memandanginya dengan rasa takjub yang luar biasa. Sungguh, Hiu hwi selalu berusaha yang terbaik untuknya selama ini.
“Aku mencintaimu Oppa. Hati-hati,” ucap Hiu hwi seraya mencium pipi Kyu dengan hangat. Gyu Yong tersenyum melihat itu, betapa ia sangat iri dengan cinta kedua orang tuanya itu.
“Kami pergi Eomma, jangan terlalu lelah.” Gyu Yong kembali hendak mendorong kursi roda Kyuhyun menuju pintu. Hiu hwi mengangguk, lalu melambaikan tangannya kearah dua namja tampan yang sangat ia sayangi itu.
‘Tuhan, jaga mereka untukku....’
Gumam Hiu hwi dalam hati. Ia tak perduli, jika Kyuhyun tak mengingat lagi hari ini adalah hari perayaan pernikahan mereka. Sekalipun beberapa jam yang lalu, Hiu hwi sebenarnya ingin mengajak Kyuhyun untuk makan malam dan mengenang masa muda mereka seperti tahun kemarin, berpelukan melihat salju turun dari jendela rumahnya ini sampai tertidur lelap bersama. Tidak apa, Hiu hwi mengerti jika ingatan Kyuhyun tak sebaik dahulu. Ia masih bisa merayakan hari ini disaat kedua pria tampan itu pulang nanti malam.
***
‘Cinta itu tak perlu melihat tapi ia merasakannya
Karna cinta tak pernah mensyaratkan kesempurnaan
Karna cinta adalah menerima, memahami, dan rela berkorban demi kebahagiaan bersama’
Sudah dari setengah jam yang lalu, wanita tua ini tampak menengok kearah luar jendela. Ini sudah lewat dari jam makan malam. Namun, tak ada tanda-tanda anak dan suaminya itu akan pulang. Hiu hwi cemas, ia benar-benar sangat kuatir sekarang. Apalagi, diluar sana salju turun dengan lumayan lebat.
“Kalian kemana?” Hiu hwi benar-benar tak tenang saat ini. Ia takut sesuatu terjadi pada kedua orang itu. Tubuhnya sedikit bergetar dan lemas. Hiu hwi duduk dipinggiran kursi dekat jendela seraya berusaha untuk menekan nomor Yong. Tak ada jawaban, itu membuat Hiu hwi benar-benar semakin panik.
“Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka. Ya Tuhan...,” Hiu hwi mulai memejamkan matanya untuk berdoa. Ia belum berniat makan, tanpa kehadiran suami dan anaknya itu. Yah, sekalipun ia merasakan lapar saat ini.
KRING ... KRINGGG...!
Hiu hwi kontan terlonjak seketika saat ia mendengar deringan telpon rumah ini berbunyi. Tanpa membuang waktu, wanita itu pun sentak mengangkatnya, berharap ini bukan berita buruk atau semacamnya.
“Hallo Mom?” suara itu terdengar merdu, membuat Hiu hwi menghembuskan nafasnya lega.
“Yong-ie, kalian kemana saja? Apa semuanya baik-baik disana? Appa-mu—”
“Kami baik-baik saja Eomma, Appa ada disampingku sekarang.”
“Baguslah, cepat kalian pulang sekarang.”
“Hummm..., tidak sekarang Eomma. Ada sesuatu yang harus aku dan Appa lakukan lebih dulu. Mianhae...,”
“Lalu kapan kalian pulang?”
“Setelah semuanya selesai. Eungh..., bisakah Eomma berdiri sebentar dan mengambil radio diatas meja didekat kamarku dulu?”
“Untuk apa Yong?”
“Eomma nanti akan tau sendiri. Sekarang, Eomma hidupkan saja radio itu dan dengar siaran di Radio KJ Seoul sekarang,”
“Baiklah. Lalu, apa yang harus Eomma lakukan?”
“Diam dan dengarkan saja radio itu sampai habis,”
“Yong, sebenarnya kal—”
“I Love You, Mom”
TUTTT ... TUTTT ...!
Belum sempat Hiu hwi menanyakan sesuatu dengan rasa paniknya itu secara mendetail, Yong pun sudah lebih dulu menutup sambungan telpon mereka. Hiu hwi tampak menggeleng-geleng, lalu mengalah untuk menghidupkan radio seperti apa yang Yong katakan tadi.
Terdengar bunyi gemerusuk iklan dan lagu mellow yang tersambung di Radio itu. Hiu hwi sedikit mengernyit tanda bingung. Tidak ada apa-apa yang terdengar didalam Radio itu, sedikit membosankan. Sampai—
“Annyeong, selamat malam pendengar setia Radio KJ Seoul. Bagaimana kabar kalian malam ini? Burukkah? Atau malah lagi bahagia? Hahaha, baiklah. Karna malam ini cukup spesial, Radio kami akan mendatangkan bintang tamu yang juga sangat spesial. Siapa mereka? Yah, mereka dua orang pria tampan yang saat ini tengah duduk berhadapan denganku. Siapa yang bisa menebak siapa kedua pria tampan ini? Hahaha, mereka kedua pria yang sama-sama memiliki kemiripan dari visual sekalipun. Ck, benar-benar membuat iri,” terdengar sapaan suara khas nan merdu dari salah seorang penyiar wanita radio itu seketika. Hiu hwi mulai tampak antusias lagi sekarang, ia sedikit memutar volume radio itu semakin membesar.
“Kedua pria tampan yang mirip ini sebenarnya Ayah dan anak. Siapa mereka? Yah, Radio kami tengah kedatangan sosok petenis yang sangat terkenal ‘CHO GYU YONG’ berserta Appa-nya ‘CHO KYUHYUN’ sekarang. Wah, studio disini mendadak ramai,” penyiar itu terkikik pelan, membuat Hiu hwi sontak membulatkan matanya penuh. Apa tadi ia tak salah dengar? Yong dan Kyu berada di Radio itu?
“Karna ini adalah malam spesial untuk semua manusia yang mengenal cinta. Untuk itu, kami mengundang sosok seorang Cho Kyuhyun untuk berbagi pengalamannya selama ini. Tentangnya, cintanya, tentang semua pengalaman hidupnya selama 85 tahun, dan tentang semua apa yang telah beliau miliki dan beliau dapatkan sampai sekarang. Baiklah, mungkin semua sudah sangat penasaran, ne? Tenang, kami akan segera memulai ini. Untuk Gyu Yong, silahkan menyapa lebih dulu pendengar yang tengah menunggumu sejak tadi.” Penyiar itu sentak mengangkat jempolnya pada Yong, seolah memberi kode agar namja itu mulai bersuara. Gyu Yong tampak mengangguk dan menghela nafas sejenak. Nampak sang Ayah kini tengah berada disampingnya seraya berusaha untuk tersenyum.
“Selamat malam semuanya. Aku Cho Gyu Yong, salam kenal,” sapa Yong, membuat Hiu hwi yang mendengar suara itu sentak kembali menaikan volume radio miliknya itu.
“Hummm..., untuk Ibuku yang tercinta disana, selamat malam juga dan selamat mendengarkan ini. Sebelumnya, terima kasih untuk para Staff Radio ini yang telah mengundang dan mengizinkan aku dan Ayahku untuk bersuara disini. Kami benar-benar sangat berterima kasih,”
“Harusnya kami yang berterima kasih Gyu Yong-shi.” Canda sang Penyiar itu membuat Yong tersenyum kecil.
“Hummm..., Appa-ku sedang sakit, aku mohon maaf karna beliau tak dapat menyapa semua pendengar Radio ini secara langsung. Sebenarnya, hari ini adalah hari yang spesial untuk keluarga kami, jadi itu mengapa aku ingin meminta waktu kalian sedikit untuk mendengarkan sesuatu ini, terutama untuk Ibuku. Ditanganku sekarang, aku memegang beberapa gulungan kertas yang ditulis sendiri oleh Ayahku sebelum ia terkena Stroke hingga menjadi tak bisa melakukan banyak hal seperti sekarang. Gulungan kertas ini seharusnya ingin beliau bacakan sendiri pada Ibuku disana sejak beberapa bulan yang lalu, disaat Eomma-ku ulang tahun. Namun Tuhan berkehendak lain, hingga sekarang akulah yang akan menggantikan Appa membacakan ini untuk Eomma-ku disana,” Gyu Yong tampak menoleh kearah Kyuhyun yang kini tengah menatapnya sendu.
“Eomma..., kurahap kau akan mendengarkan ini dengan baik,” Yong membuka gumpalan kertas ditangannya dan merunduk sejenak. Hening! Tampak sepertinya beberapa orang disini cukup antusias dengan isi kertas itu.
“Hummm...,” Yong membenarkan letak posisi duduknya sejenak, lalu mendekatkan kembali bibir mungilnya itu pada salah satu Mic didalam ruangan ini. Hingga ia menghembuskan nafas panjang, lalu bersuara kembali.
Dear Hiu hwi, Cho Hiu hwi istriku...,
Apa kau mendengarnya sayang? Mendengar setiap detak jantungku memanggil namamu? Kau tau Hiu hwi? Kau wanita pertama dan terakhir yang telah menyempurnakan hidup pria sepertiku. Wanita yang selama ini menemaniku, memberiku kekuatan dan terus berdiri disisiku tanpa pernah lelah dan mengeluh apapun. Maaf ... maaf dan maaf. Tak ada yang dapat aku lontarkan lagi selain kata itu untukmu. Yah, sekalipun aku mengucapkan kata itu ribuan kali, mungkin tak akan bisa menebus semua perlakuanku terhadapmu selama ini. Sungguh, aku benar-benar sangat malu padamu. Aku merasa menjadi pria yang tak pantas untuk memilikimu.
Selama 65 tahun lebih kau mengenalku, selama itu juga hidupmu tak pernah lepas dari penderitaan yang telah kubuat selama ini. Dari sejak kita saling mengenal semasa kau Sekolah dulu. Aku tak pernah peka terhadap perasaanmu yang sangat menyukaiku, menjagaku dalam wujud diam cintamu. Aku terus menerus mencari wanita yang mencintaiku dan dapat menerimaku apa adanya, sampai aku terus berkelana kesetiap wanita untuk tujuan tak jelasku itu. Aku benar-benar terlalu bodoh untuk menyadari keberadaanmu saat itu sayang. Sampai akhirnya, kesabaranmu lah yang membuatku berpaling menatapmu.
Saat kita berkencan untuk pertama kalinya, aku berpikir itu biasa saja. Yah, sama seperti saat aku berkencan dengan wanita-wanitaku yang lain. Bahkan pada saat itu, sejujurnya bukan hanya kau kekasihku dan sebenarnya aku juga bermaksud untuk hanya melakukan pendekatan padamu lebih dulu. Namun ternyata dugaanku salah, kau wanita yang sangat berbeda. Keluargamu sangat menjunjung tinggi adat dan budaya yang memang begitu kental terasa. Hingga aku benar-benar sangat terkejut saat aku mengantarmu pulang pada saat itu. Ayahmu memintaku untuk menikahimu. Itu benar-benar sangat gila! Dipikiranku saat itu adalah ... Ayahmu tengah bercanda padaku. Yah, kita baru saja berkencan satu kali, tapi beliau sudah menyuruhku untuk menikahimu di usia kita yang masih terbilang muda. Itu sedikit berlebihan menurutku. Namun, aku tak tau jika itu sudah menjadi tradisi di dalam keluargamu. Siapapun pria yang membawa anak gadis mereka keluar dan menghabiskan banyak waktu bersama, itu sama halnya dengan meminta izin untuk menikah. Aku merasa seolah terjebak pada saat itu! Aku sempat menolak dengan banyak alasan, tapi Ayahmu mengatakan jika tak ada hubungan sepasang kekasih lagi jika aku memang menginginkanmu. Beliau ingin kita tak berpacaran lebih dulu, tapi langsung menikah. Itu sedikit kolot bukan? Aku akan dianggap pecundang dalam deretan keluargamu, jika aku saat itu menolak. Yah, aku mencintaimu ... aku sangat mencintaimu. Kau gadis cantik yang juga cukup kaya untuk kujadikan pendampingku. Aku hanya berpikir hal itu saat aku bertekad untuk melamarmu menjadi istriku tepat disaat kau lulus Sekolah menangah dulu. Mungkin, aku masih terlalu muda untuk memikirkan masa depan pernikahan kita kelak, yang kutau saat itu adalah ... menikahimu tak terlalu merugikan untukku.
Tampak Gyu Yong sedikit menarik nafas panjang, sebelum ia kembali membaca isi gulungan kertas itu.
Kita menikah! Baiklah, sesuatu hal yang cukup tak terbayang akan terjadi secepat ini dalam hidupku, tanpa berpikir panjang dan tanpa persiapan yang matang. Semuanya terjadi begitu saja, hanya dalam beberapa menit kita sudah menjadi sepasang pengantin baru. Kau sangat cantik Hiu hwi, kau sadar itu hem? Dengan balutan baju pernikahan putih panjang yang sederhana, kau bak seorang putri khayangan pada saat itu. Kau benar-benar memiliki paras yang begitu indah dari semua benda langit diatas sana. Jujur, aku sangat bahagia dapat menikahimu. Membawamu pergi dari keluargamu dan hidup dalam sebuah rumah kecil yang aku sewa dengan uang sisa tabunganku. Kau tak pernah mengeluh dengan apapun keadaaan kita, kau akan selalu tersenyum dan memelukku dengan ucapan terima kasih. Kau benar-benar wanita yang spesial.
Setahun sudah, semuanya berjalan dengan baik. Kau akhirnya hamil seorang bayi hasil benih cintaku padamu. Namun sesuatu merubahku, aku bahkan sampai sekarang masih menyesal mengingatnya. Aku sering berpergian setiap malam meninggalkanmu untuk bersenang-senang dengan dunia malamku. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku diluar ketimbang memperhatikan keadaanmu. Kau pernah mencegahku untuk berhenti, tapi aku malah berteriak ... “ITU BUKAN URUSANMU!” Aku masih sadar, jika pada waktu itu aku memang masih terlalu muda untuk terikat hubungan sakral seperti ini pada seorang wanita. Aku merasa kebebasanku seakan terenggut, statusku yang telah beristri membuatku banyak mendapat ejekan dari semua teman-temanku. Terkadang aku benar-benar muak melihatmu pada waktu itu, kau terus saja berusaha terlihat baik-baik saja, sekalipun aku tak pernah lagi bersikap baik padamu.
Perasaanku padamu saat itu seolah tengah diuji oleh sang kuasa. Aku menjadi tak sering pulang kerumah dan bahkan hampir selama berhari-hari. Aku meninggalkanmu sendiri, meninggalkan semua tanggung jawab dan beban berat padamu. Kau bekerja menjadi seorang penjual baju keliling dengan memberi kredit kepada mereka-mereka yang memang belum mampu membayar. Kau melakukan itu untuk menghidupimu dan membayar sewa rumah yang seharusnya menjadi tanggunganku. Hiu hwi, kau pasti sangat tersiksa pada waktu itu. Sedangkan aku? Aku hanya menghabiskan waktuku dengan percuma bersama alkohol dan wanita-wanita yang hanya memberikanku kebahagiaan sesaat. Bahkan disaat itu, aku hanya pulang untuk mengambil baju gantiku, lalu pergi lagi. Kau begitu baik Hiu hwi! Dulu aku menyangka kaulah yang sangat bodoh, tapi ternyata akulah yang bodoh. Aku pulang bersama seorang wanita dan memasuki kamar kita dan berkata ... “Istriku yang baik, buatkan kami minum ya?” Aku tau itu sangat menyakitimu waktu itu. Tapi apa kau ingat, apa yang kau balas padaku? “Baik Oppa, aku juga akan menyiapkanmu makan siang. Kau terlihat kurus, aku tak ingin kau sakit.” Entah dimana harga dirimu waktu itu sayang, hingga kau mengalah dan terus menerus memperhatikanku. Bahkan, aku melakukan itu disaat kau tengah mengandung buah hati kita; Cho Gyu Yong.
Gyu Yong tampak sedikit meremas kertas yang kini berada didua tangannya itu. Ada perasaan berbeda ketika ia semakin membaca tulisan Appa-nya ini lebih lama lagi. Ia tau jika dulu Ibu dan Ayahnya pernah mengalami masa dimana mereka benar-benar hampir terpisah. Namun Yong tak pernah menyangka, jika penyiksaan sang Ibu yang pada saat itu mengandungnya benar-benar sangat menyakitkan.
Semua tingkahku semakin lama semakin menjadi. Kau tak pernah sama sekali melawanku, disaat aku marah, kau hanya mampu merunduk dan mengalah. Lagi ... lagi ... dan lagi kau selalu membuatku tak dapat berkata apa-apa. Bahkan, disaat anak pertama kita akan lahir ke dunia ini. Aku tetap pada kesibukanku itu, sedangkan kau berjuang sendiri untuk melahirkan anak kita dengan segenap taruhan nyawamu pada saat itu. Kau berteriak, menangis, dan memperjuangkan itu semua tanpa kehadiranku disampingmu. Kau benar-benar wanita yang sangat kuat yang pernah kukenal setelah Ibuku. Kau tersenyum dalam balutan air matamu saat kau berhasil mengeluarkan benih yang kutanam padamu. Kini ia tumbuh menjadi seorang bayi mungil, tampan dan kupastikan sangat mirip padaku. Aku sedikit merubah sikapku saat orang tuaku menasehatiku dengan berbagai macam hal yang mereka ketahui untukku. Aku memang sudah berniat ingin berubah dan memulai semuanya lagi denganmu setelah itu. Namun sayang, tak bertahan terlalu lama, aku kembali terjerumus dalam kebahagian yang semu itu. Aku kembali meninggalkanmu dan kali ini juga meninggalkan anak kita. Aku tau kemarin-kemarin kau bertahan karna benih yang ada dalam rahimmu, tapi sekarang? Gyu Yong telah lahir, kau seharusnya bisa bebas dari semua penderitaan yang telah kubuat untukmu. Namun apa? Kau malah berkata ... “Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi Oppa. Aku tidak mungkin pulang ke Desaku dan mengatakan, jika aku tak bisa mempertahankan Rumah tanggaku. Ayahku pasti marah dan mungkin dia akan mengejarmu sampai kapanpun. Lagipula, Gyu Yong masih terlalu kecil untuk ditinggalkan oleh Ayahnya. Aku tidak apa-apa, asal kau bahagia dan masih dapat menjadi sosok Ayah untuk Gyu Yong. Oppa..., Yong-ie masih sangat membutuhkan kasih sayang darimu.”
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi saat kau mengatakan itu. Kau lebih memilih mempertahanku sebagai suamimu daripada bebas dan meraih kebahagiaanmu yang lain. Sungguh, rasaku padamu pada saat itu sudah hampir memudar, tapi kau selalu dapat membuatnya kembali berkembang. Kau memang membuktikannya! Kau mampu bertahan bertahun-tahun menyandang status sebagai istriku dan membesarkan Gyu Yong dengan tanganmu sendiri. Sekalipun aku sangat sadar, jika selama itu juga kau tak pernah henti mengeluarkan air mata dan terus berdoa untukku. Aku ingat, pada saat itu umur Yong baru 5 tahun, kau menelponku dan memintaku untuk pulang sebentar karna Yong tengah sakit keras dan butuh pertolongan secepatnya. Namun dengan kejamnya, aku menutup telponmu dan mengatakan jika aku sibuk. Hiu-ie..., aku melakukan kesalahan yang besar berulang kali padamu. Kau gadis yang tak pernah putus asa, kau mencariku kemanapun yang kau tau. Dan kau menemukanku tengah bermesraan dengan gadis lain didalam sebuah rumah bersama teman-temanku yang lain. Aku masih ingat bagaimana ekspresimu saat itu. Kau terluka, tidak ... sepertinya lebih dari itu. Kau menghampiriku dan lagi-lagi menyuruhku pulang. Aku merasa menjadi pria yang paling kejam didunia karna membuat wanita sepertimu berlutut dan mengemis dihadapanku pada saat itu. Kulihat pula semua teman-temanku menatapmu iba dan prihatin. Kau hanya mengatakan ini ...
“Kumohon, pulanglah sebentar Oppa. Sejak tadi Yong-ie tak henti-hentinya menyebut namamu. Dia mengalami demam tinggi sekarang, kumohon bantu aku dan anakku.”
Kau menangis dengan kelemahan tubuhmu pada saat itu. Aku yakin kau pasti belum memakan apapun saat kau mendatangiku. Kau benar-benar gadis bodoh yang pernah kukenal, sangat bodoh Hiu hwi! Kau lagi-lagi membuatku bungkam dan merasa begitu kejam. Kau melawan semua apa yang kulakukan dengan diam dan ketulusan hatimu, itu yang membuatku tak bisa lagi membalasnya. Aku menurutimu begitu saja dan pulang untuk membawa Yong ke Rumah sakit. Tanganku gemetar, Yong hampir tak selamat karna kebodohanku.
Gyu Yong tampak gemetar memegang gulungan kertas itu ditangannnya. Ada perasaan yang sedikit benci ketika ia mengetahui bagaimana dulu sang Ayah menyiksa Ibu dan dirinya. Sekejam inikah seorang Cho Kyuhyun dulu? Yong benar-benar tak percaya!
Aku banyak sekali melakukan kesalahan padamu Hwi-ya, aku sadar itu. Aku bahkan pernah merasakan titik dimana aku sudah merasa aku tak lagi menyukaimu seperti disaat aku pertama kali mengenalmu. Entahlah, aku pernah sempat berpikir untuk menuruti nafsuku dan membingkai masa depanku dijalan lain; tak bersamamu. Untuk itulah, tepat disaat ulang tahunmu, aku malah memberikan hadiah yang mungkin tak akan kau lupa sepanjang hidupmu. Dimana aku meminta kau lepas dariku! Baiklah, untuk kali ini kau membiarkanku pergi. Aku pergi bersama wanita lain yang aku pikir mencintaiku. Kau melepaskanku ... sesuatu yang sempat tak kuduga. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang menjanggalku ketika kau membiarkanku pergi bersama wanita lain. Kau tersenyum disaat aku tau kau benar-benar sangat hancur. Kau berkata ...
“Aku sudah mencoba hidup tanpamu dan ternyata aku bisa. Kalau memang ini keputusanmu Oppa, pergilah.”
Ada sesuatu yang berat menghantamku ketika kau mengatakan itu. Kenapa Hiu hwi? Kenapa kau tak memintaku sekali lagi untuk tak meninggalkanmu? Bisakah waktu itu kau tak mengalah dan memakiku saja? Apa kau tak lagi mencintaiku? Kenapa? Kenapa rasanya aku tak rela?
Selama hampir 2 bulan lebih kita tak bertemu lagi. Yang kudengar, kau dan Yong baik-baik saja. Seseorang mengatakan padaku, jika kau menyekolahkan Yong melalui bantuan seseorang yang kau dapat. Hatiku seolah merasa ngilu, ada sebuah rasa penasaran dimana aku ingin tau kehidupanmu semenjak kita berpisah. Lebih baikkah atau malah lebih buruk? Kurasa, kau memang lebih baik tanpa kehadiranku. Baiklah, sekali lagi aku mencoba untuk melepaskanmu dan memulai semuanya dengan wanita yang saat itu tinggal bersamaku. Namun ternyata aku salah, entah kenapa dulu aku lebih memilih tinggal bersama wanita jalang yang juga berselingkuh dibelakangku ketimbang kau ... wanita yang selama ini tak memberikanku banyak kata, tapi tindakan yang menyentuh. Aku kira aku mencintai wanita itu Hiu hwi, tapi aku salah besar. Aku hanya dikendalikan oleh nafsu yang benar-benar hampir membuatku hancur!
Aku rindu Yong, selama berbulan-bulan tak bertemu dengan kalian lagi, aku merindukan semua apa yang pernah kau berikan padaku yang tak kudapat dengan wanita lain. Sekeras apapun sikapku, kau masih melakukan tugasmu sebagai istriku. Ketika wanita lain akan menantang dan juga berteriak ketika aku marah, kau malah mengalah dan lebih memilih diam. Ketika wanita lain pergi ketika aku membentak mereka, kau malah tetap bertahan dan masih melayaniku dengan baik. Menyiapkanku makan, membasuh pakaianku, dan menengadahkan kedua tanganmu untuk berdoa akan keselamatanku. Hiu hwi-ya, sungguh saat itu aku sangat merindukanmu.
Gyu Yong menghentikan bacaannya dititik ini. Hening! Semuanya diam tanpa suara. Entahlah, kenapa suasana di Studio Radio ini mendadak sepi. Mungkin bukan hanya di Studio ini saja, tapi juga ditempat para orang-orang yang tengah mendengarkan saluran Radio ini, termasuk Hiu hwi. Tampak wanita tua itu tak kuasa menahan air matanya ketika mendengarkan penuturan polos dari isi kertas itu. Semuanya benar, dan itu seolah membuka kembali kenangan buruk dan luka yang paling dalam dihati Hiu hwi.
Hiu hwi-ya ... aku laki-laki seperti apa dimatamu? Pengecut? Brengsek? Atau aku sudah seperti empedu yang terus menerus membuat hidupmu terasa pahit? Aku pantas mati dan dihukum karna telah melukai hati gadis yang sangat sabar sepertimu. Aku malu padamu Hwi-ya, aku malu. Kau ingat saat aku kembali bertemu denganmu setelah perpisahan itu, huh? Sungguh, bukan maksudku untuk menyakitimu lagi. Aku hanya ingin kau bebas sesungguhnya dariku. Tapi apa? Kau malah berkata yang mampu membuatku tersudut kembali. Benar, aku memang sengaja membawa gadis lain ikut bersamaku pulang untuk menghadapmu dengan tujuan kau terlepas dariku. Tapi lagi-lagi, kau membalikkan keadaan yang dapat membuatku mati kutu tak berdaya. Kau ingat apa yang terjadi saat itu?
“Hiu hwi Eonni, aku—aku Kim Jung Ae. Aku—aku kemari ikut dengan Kyuhyun Oppa untuk—untuk memberitaumu jika kami akan menikah. Hummm..., aku sudah menjalin hubungan dengan suamimu hampir 1 bulan ini. Kami saling mencintai, jadi aku ingin agar Eonni dapat mengizinkanku menikah dengan Kyuhyun Oppa.”
“Dan jika memang kau tak ingin ku madu, kita bisa berpisah.”
Aku menimpali kalimat Jung Ae dengan menyisihkan hati nuraniku. Kau memang tak menitikan air mata ketika itu, tapi aku tau kau tengah menahan tangismu. Sungguh, kau sangat kurus dan seolah tak pernah mengurus dirimu lagi saat itu. Kau tersenyum, senyuman bodoh yang benar-benar bodoh dimataku. Kenapa Hiu hwi? Kenapa kau tidak menampar dan memakiku saja, huh? Dengan polos dan lugunya, kau malah berkata ...
“Aku rela kau madu Oppa, aku rela membagimu, tapi tolong jangan ceraikan aku. Aku harus berkata apa ketika kelak Gyu Yong menanyakanmu? Aku memang sudah lelah padamu, aku memang sudah sangat tersakiti akan sikapmu, tapi aku rela ... aku rela merasakan semua itu asal kau bahagia dan masih tetap bertanggung jawab untuk mengurus Yong. Setiap hari anak itu selalu menyebut namamu, aku bisa apa?”
Gyu Yong kembali menghentikan bacaannya dititik ini. Sepertinya ia tengah menahan tangisnya. Tidak, sepertinya ia memang sudah menangis sekarang. Sejujurnya, ia benar-benar tak menyangka, jika sosok sang Ibu-nya dahulu begitu baik dan sangat sabar. Gyu Yong tak bisa menahan dirinya lagi, ia meletakkan gulungan kertas itu dan berpaling kearah samping. Ia menangis! Demi Tuhan, ia tak menyangka, jika Ibu-nya rela merasakan penderitaan itu hanya karna dirinya.
“Gyu Yong-shi...,” sapa penyiar Radio itu untuk bermaksud menanyakan kondisi batin Gyu Yong saat ini. Sungguh, situasi seperti ini sangat mengharukan. Kyuhyun sadar akan hal itu. Ia tak perduli, jika kelak anaknya itu akan membencinya atau tidak. Yang jelas, saat ini Kyuhyun ingin mengungkapkan apa yang selama ini terkurung dan menjadi beban dihati Hiu hwi.
“Maaf,” desah Gyu Yong dengan gemetar. Tangannya kembali terangkat dan berniat untuk kembali membaca isi kalimat per kalimat dari gulungan kertas itu.
Hwi-ya ... aku membatu ketika kau mengatakan rela untuk membagiku pada wanita lain. Kau tau? Hal itulah yang paling sulit untuk semua istri di dunia ini lakukan, tapi kau? Kau dengan bodohnya mengatakan kalimat seperti itu. Aku tak tau dimana harga dirimu, kenapa kau masih tetap memilih bertahan disisiku?
Setiap hari kau semakin tampak kurus. Kau wanita yang luar biasa! Kenapa aku berkata seperti itu? Benar, karna kau telah dengan tulusnya membantu persiapan pernikahanku dengan Jung Ae dikala itu. Kau tertawa, kau menasehati Jung Ae seolah dia adikmu dan bukannya sebagai perebut suamimu. Aku tau disatu sisimu itu sangat menderita menanggung ini, tapi kau lagi-lagi menutupinya dengan diam. Kau membawa Jung Ae untuk tinggal bersama di rumah yang kau sewa sendiri sampai aku resmi menikah dengannya. Kau benar-benar membuka kedua tanganmu menyambut Jung Ae dengan belas kasihmu. Sampai kau berkata ...
“Aku menderita! Bohong jika aku mengatakan jika aku tidak merasakan sakit dilubang hatiku yang paling dalam. Oppa, aku manusia ... aku hanya manusia yang masih memiliki hati dan perasaan. Aku membencimu? Sangat! Aku sangat membencimu. Karna kau, masa depanku jadi seperti ini. Karna kau aku harus melupakan impianku menjadi Guru dan malah memilih menikah denganmu. Karna kau, aku harus tinggal jauh dari keluargaku, dan malu untuk kembali kepada mereka lagi. Dan karna kau, aku mengurangi kebahagian masa mudaku dengan menjalani hidup dengan menangis setiap malam seperti ini. Tapi apa? Aku bisa apa Oppa? Rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku itu. Kau sudah memberikanku Gyu Yong yang tak akan pernah aku sesali hidup di dunia ini. Aku tak punya apa-apa lagi, aku tak punya tempat untuk pulang dan kembali lagi. Jadi, apakah aku punya pilihan? Sekalipun aku mati dan gantung diri karnamu, kau tak akan pernah berubah. Aku sakit ... disini Oppa ... dihati ini aku sangat sakit.”
Aku dan Jung Ae terdiam tatkala kau berteriak dengan lantang semua kalimat itu. Aku senang kau dapat melakukan itu Hwi-ya, aku senang kau memaki dan berteriak padaku. Aku ingat, pada saat itu kau menangis dengan berbicara tersendat-sendat, seolah apa yang telah kau rasakan itu benar-benar menyakitkan. Aku tau ... kau putus asa pada saat itu. Pada saat dimana aku akan menikah dengan Jung Ae.
“Jika dulu aku mempunyai pilihan antara terbunuh ditanganmu atau membiarkanmu menyiksaku seperti ini, maka aku akan lebih memilih agar kau membunuhku saja Oppa. Aku hancur! Aku tak punya apapun dan tak punya tempat untukku berbagi semua ini lagi. Aku sendiri ... aku sendiri menanggung se—”
Yong sentak menghentikan bacaannya lagi saat ini. Suaranya terdengar serak dan tangisnya pecah! Kedua tangannya lagi-lagi bergetar memegang gulungan kertas itu. Sesungguhnya, ia tak kuat melanjutkan ini lagi.
“Demi Yong aku mengurungkan niatku untuk menusukkan perutku sendiri. Jika aku boleh jujur, aku bukanlah wanita yang baik. Aku terluka, aku merasakan keputus asaan yang hebat. Tapi lagi-lagi aku bisa apa Oppa? Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Disini, dihatiku ini ... ia setiap malam merintih kesakitan. Aku menangis! Aku lupa bagaimana caranya untuk tersenyum sampai sekarang. Aku merasa ingin mati, aku merasa sudah tak—”
“Eomma...,” Gyu Yong sentak bersuara ketika membaca kalimat ini. Cukup sudah! Ia tak bisa lagi. Betapa inginnya sekarang ia berlari dan memeluk sang Eomma sekuat yang ia bisa. Nafasnya sedikit tersendat-sendat, bulir air matanya itu tak bisa berhenti keluar lagi. Ia ingin bungkam saja, tapi gulungan kertas itu seolah memaksanya untuk kembali bersuara. Yah, sekalipun dengan tersendat-sendat.
Hwi-ya ... apa kau tau bagaimana perasaanku saat aku mendengar penuturan jujur darimu saat itu? Perih! Aku juga ingin mena—menangis saat melihatmu seperti itu. Aku ingin memelukmu dan berkata maaf. Bahkan Jung Ae! Wanita bayaranku itu menitikan air matanya seraya berlutut dihadapanmu.
“Hwi Eonni Mianhae, aku benar-benar minta maaf. Aku juga seorang wanita, aku tau betapa sakitnya ketika orang yang kita cintai mengkhianati kita. Eonni, terimalah maafku ini. Kau wanita yang baik, bagaimana mungkin wanita hina semacamku dapat dengan teganya menyiksamu. Tidak, aku tidak akan menikah dengan Kyuhyun Oppa. Aku tidak bisa! Sungguh, kau wanita yang benar-benar hebat. Kau telah dengan baiknya menerimaku tanpa tatapan dendam padaku. Kau mengajarkan dan memberitauku tentang Kyuhyun Oppa. Tak ada wanita yang akan dapat dengan mudahnya melakukan itu selain dirimu Eonni. Tolong, maafkan aku!”
Setelah itu, aku dan Jung Ae benar-benar tak jadi menikah. Ada satu sisi dimana aku sangat bahagia menyadari hal itu. Aku bahagia Hiu hwi-ya, sangat bahagia. Untuk kali ini, aku tak menambah luka batinmu. Kau memaafkanku hanya dengan satu detik. Bayangkan, hanya satu detik dari hitungan tahun berlalu aku menyakitimu. Betapa kau wanita luar biasa yang telah membantuku keluar dari jurang kehancuran. Saat itu, aku berjanji, aku akan menjaga dan tak akan mengulangi kesalahan yang pernah kuperbuat padamu.
Beberapa sahabatku memang benar. Mereka sempat mengatakan, jika aku adalah pria yang beruntung mendapatkan gadis yang sangat sabar sepertimu, yang sangat mencintaiku dengan tulus, yang dapat bertahan disisiku dengan hebatnya. Kau tau sayang? Cintaku kembali bersinar saat kau dengan cantiknya menggapai tanganku kembali untuk memulai lembaran yang baru. Tak terlalu sulit untuk jatuh cinta padamu lagi. Kegigihan dan semangatmu membuatku kembali mengerti bagaimana caranya tersenyum dengan tulus pada orang lain. Kau menggenggam tanganku, mengajariku banyak hal tentang kehidupan, mengajariku kebahagiaan yang tak pernah kulihat selama ini.
Perlahan-lahan kau membuat Rumah tangga kita kembali seperti dulu. Kau benar-benar melakukannya. Untuk itulah, aku juga berusaha dengan keras untuk berubah. Tak ada wanita sepertimu yang pernah mengajariku bagaimana untuk memberi tanpa harus meminta, bagaimana caranya untuk hidup dengan tenang dijalan yang maha kuasa. Kau mengajariku hal-hal yang jarang dan bahkan hanya beberapa kali kulakukan dalam hidupku dulu. Kau tau Hiu hwi? Apa yang pernah kau ajarkan padaku, dan tak bisa aku lupakan sampai sekarang? Kau mengajarkanku bagaimana untuk berdoa dan—dan—
Gyu Yong lagi-lagi menghentikan kalimatnya karna tersendat air matanya yang mengalir deras saat ini. Tangan kanannya teralih untuk terangkat menutup kedua daun bibirnya agar tak terlalu keras menangis didepan Mic yang mampu didengar oleh semua orang itu.
“Eunghh ... eonghhh....” Kyuhyun mulai bersuara seraya berusaha untuk mengangkat tangannya menyentuh ujung baju Yong. Kyuhyun juga menangis! Melalui balutan air mata dan mata merahnya itu, bulir-bulir air bening mengalir dan berjalan turun melewati kerutan kedua pipinya. Jika saja Kyuhyun diberi satu kali kesempatan untuk berbicara satu kata, mungkin ia hanya akan mengatakan ini ...
‘Maaf....’
Gyu Yong tak memutar tubuhnya untuk menatapi sang Ayah saat ini. Tidak, ia belum dapat menoleh dengan kedua mata merah seperti sekarang. Jujur saja, ini kali pertamanya ia menangis dihadapan semua orang. Sakit! Ia seolah juga merasakan tusukan tajam yang diterima sang Ibu ketika membaca kalimat per kalimat dari gulungan kertas itu. Tampak sang penyiar radio wanita itu merunduk, ikut menangis menatapi Yong dan sosok pria tua dihadapannya itu tengah menitikan air mata mereka bersama. Untuk beberapa detik, Yong terlihat berusaha untuk mengambil nafas panjang dan akhirnya mulai membaca lagi.
Kau mengajarkanku bagaimana untuk berdoa dan beribadah Hwi-ya. Itulah hal yang membuatku tak bisa melupakannya. Kau seolah memperkenalkanku dengan Tuhan, menyadarkan diri jika masih ada sang Maha Pencipta yang akan menemaniku. Itu kali pertama aku menangis dan bersujud dengan kerendahan hatiku. Aku sadar ... selama ini aku mencari kebahagian yang bukan kebahagian abadi. Aku berkelana mencari kebahagian itu tanpa sadar jika ternyata kebahagiaan itu sendiri berada disampingku. Kau dan Gyu Yong, kalianlah sumber senyum dan air mataku.
Sebenarnya bukan hanya kata maaf yang ingin kukatakan padamu disini, tapi juga kata ... terima kasih. Entah apa jadinya aku tanpamu Cho Hiu hwi. Terima kasih telah berjuang dan tetap berada untuk merangkulku. Terima kasih atas semua pengabdianmu sebagai istriku, menghormatiku sebagai suamimu. Terima kasih ... terima kasih untuk semua apa yang telah kau korbankan, perjuangkan, dan kau pertahankan untukku. Aku mencintaimu istriku, aku sangat mencintaimu. Sekarang dan untuk selamanya, aku akan berusaha untuk tetap berada disampingmu tanpa menorehkan lagi luka itu. Aku berjanji akan menjagamu sesuai sumpah yang kukatakan sendiri saat kita menikah. Jika saja aku dapat mengorbankan satu hembusan nafasku untuk manambah umurmu, aku akan melakukannya. Kau harus hidup lebih panjang dan merasakan lebih banyak kebahagiaan.
Kau tau sayang? Dulu kau yang takut kehilanganku, tapi sekarang ... akulah yang takut kehilanganmu. Aku tak tau apa lagi yang harus aku katakan padamu. Maaf, terima kasih, dan aku mencintaimu. Mungkin hanya itu yang dapat kukatakan sekarang.
Dan untuk Gyu Yong..., maafkan Appa sayang. Sejak kecil, kau telah kehilangan banyak kasih sayang dan perhatian karna Appa. Appa sangat senang, kau dapat tumbuh dan mewarisi sifat rendah hati dan budi luhur dari Ibu-mu. Kelak, jika Appa tak ada, tolong bantu Appa menjaga Ibu-mu, buatlah dia bahagia semampu yang kau bisa. Hanya satu pinta Appa pada Tuhan sekarang ... kalian.
Sudah, sepertinya Appa sudah terlalu banyak bercerita disini. Tangan Appa sudah sakit menulisnya. Mungkin, sebentar lagi Appa tak dapat menulis seperti ini lagi. Tidak apa-apa. Sekalipun kelak Appa tak bisa lagi berbicara, tak bisa lagi mendengar, tak bisa lagi berjalan dan bergerak, asal ada kalian disamping Appa, semuanya akan terasa sempurna. Saranghae Hiu hwi, jeongmal saranghae. Aku ingin berteriak ini padamu sekarang. Tidak, aku akan berteriak ini setelah kau selesai membaca semua ini. Kau sangat cantik sayang, kau wanita tercantik di dunia ini.
Terus tersenyum dan berbahagialah Cho Hiu hwi. Kumohon....
FROM : CHO KYUHYUN
Gyu Yong tampak menghela nafas panjangnya tatkala selesai membaca semua isi yang terdapat didalam gulungan kertas itu. Ada perasaan lega yang luar biasa setelah membacanya, entah karna apa itu. Namja tampan ini tampak mengangkat kedua tangannya dan menghapus jejak air mata yang telah membuat matanya memerah itu.
“Eomma ... apa Eomma masih mendengarkan kami disini? Apa Eomma baik-baik saja? Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada Eomma yang seharusnya disampaikan Appa sekarang. Sebenarnya, dari semenjak seminggu yang lalu, Appa memintaku untuk membaca surat ini padamu. Eomma, sesungguhnya Appa sama sekali tidak lupa akan hari ini. Dia ingat, sangat ingat jika hari ini adalah hari perayaan pernikahan kalian. Untuk itulah, aku membantu Appa untuk menyiapkan ini sebagai kado untuk Eomma. Sebagai seorang anak, betapa aku sangat merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang tiada tara kepada kalian. Maaf Eomma, Appa ... mungkin sampai sekarang aku tak dapat membalas apapun yang telah kalian berikan padaku. Terima kasih telah bertemu dan jatuh cinta, terima kasih telah menikah, dan terima kasih telah mengizinkanku lahir ke dunia ini. Selamat hari perayaan pernikahan kalian Appa-Eomma. Aku berharap dapat seperti kalian kelak. Aku—aku sangat mencintai kalian. Bolehkah aku meminta satu hal lagi? Tolong ... tolong tetaplah disisiku, tetaplah berada disampingku. Jangan pergi kemanapun, jangan meninggalkan Yong.”
Gyu Yong tampak kembali merunduk dan menitikan air matanya. Kyuhyun menggeser kursi rodanya perlahan, berusaha untuk menyentuh punggung sang anak lelakinya itu.
“Oeonghh ... Oeonghh....” Erang Kyuhyun, membuat Gyu Yong sentak menoleh perlahan-lahan.
“Mmmmmaa ... maffftthh....” Kyuhyun sepertinya tengah berusaha untuk bersuara lagi. Gyu Yong semakin merunduk, ia mengerti apa yang tengah Appa-nya itu ingin lontarkan. Maaf!
“Appa....” Balas Yong seraya sontak saja turun dari kursinya itu, lalu berjongkok tepat dihadapan Kyuhyun. Yong memeluk Appa-nya dengan getaran tubuhnya yang hebat. Kyuhyun menangis! Betapa ia sangat bahagia saat ini, sangat bahagia. Kyuhyun merasakan tangan Yong menggenggam tangannya seraya memeluknya dengan erat.
‘Maafkan Appa Yong, maafkan Appa’
Gumam Kyuhyun seraya tersenyum dalam balutan tangisnya yang pecah. Semua yang berada di Studio ini pun sentak berdiri, bertepuk tangan menatapi pemandangan Ayah dan anak yang sangat mengharukan ini. Bukan hanya didalam Radio ini saja, tapi juga para orang-orang yang mendengarkan isi gulungan kertas itu sejak tadi. Beberapa deringan telpon berbunyi di Radio ini, seolah banyak orang yang ingin mengucapkan kata-kata haru mereka secara langsung.
Sedangkan Hiu hwi? Baiklah, wanita tua itu terlihat terduduk dilantai seraya menangis dengan memeluk radio kecil yang tadi ia dengari itu. Tak ada perasaan terluka lagi seperti beberapa tahun lalu yang ia tampakkan, semuanya terasa sangat membahagiakan. Betapa inginnya ia segera memeluk Yong dan Kyuhyun saat ini. Ia sungguh tak perduli lagi akan penderitaannya dulu, yang terpenting untuknya sekarang hanyalah ... kebahagiaannya dimasa sekarang. Kata memaafkan itu bahkan sudah ia lakukan sebelum Kyuhyun meminta maaf padanya.
‘Karna aku mencintaimu, Cho Kyuhyun....’
***
‘Cinta sejati adalah...
Ketika hatimu dan pikiranmu mengatakan hal yang sama’
@Kyu-Hwi Home’s
Hiu hwi sentak saja beranjak dari tempatnya saat ia merasakan pintu utama rumahnya terbuka. Senyum simpul terlihat dikerutan wajah tuanya itu. Sungguh, ia tak sabar lagi bertemu dengan anak dan suaminya itu. Sejak tadi, pekerjaan utamanya hanyalah menunggu Yong dan Kyuhyun kembali.
“Kami pulang,” sapa Yong bersuara seraya mendorong kursi roda Kyuhyun untuk masuk. Kaki Hiu hwi tercekat dititik ini. Dapat ia sadari kedua matanya kembali berkaca-kaca menatapi Kyuhyun yang juga tengah menatapinya sekarang. Setitik rasa tercipta kembali dihati keduanya. Benar, hanya saling menatap seperti ini saja, mereka seolah sudah dapat berkata satu sama lain.
‘Kyuhyun Oppa....’
Batin Hiu hwi berdendang menyebut nama itu. Perlahan-lahan,ia langkahkan kakinya berjalan menghampiri Kyuhyun. Pandangan mereka tak pernah lepas, membuat Yong tersenyum menyadarinya.
‘Hiu hwi-ya....’
Kyuhyun berusaha untuk menampakkan senyum diwajahnya. Sebuah senyuman yang mampu membuat Hiu hwi seketika menitikan air matanya. Cantik! Kyuhyun berani bertaruh, jika Hiu hwi memang sangat cantik dari apapun. Saat wanitanya itu berjalan ke arahnya sekarang, yang ada dipikiran Kyuhyun adalah wujud muda dari Hiu hwi beberapa puluh tahun silam. Begitu anggun dan sangat mempesona!
“Oppa....” Ucap Hiu hwi sembari dengan cepat memeluk Kyuhyun, menyandarkan kepalanya dibahu namja itu.
“Unghh....” Kyuhyun membalas ucapannya dengan erangan itu. Menggerakkan kembali kedua tangannya untuk berusaha membalas pelukan Hiu hwi. Sungguh, ia ingin sekali melakukannya.
“Eonghh ... aaahhh ... ku ... mmeemmmhh ... memmmhcin ... ccintaimu ... Hhhhhwi .... hhhwi-ya....” Kyuhyun sentak bersuara lagi! Dan kali ini dengan kalimat yang—
“Oppa.” Hiu hwi tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dan menatap Kyuhyun dengan tak percaya. Ia benar-benar berharap, jika tadi ia tak salah dengar. Kyuhyun ... namja itu mengatakan mencintainya. Itu hal yang benar-benar luar biasa. Sesuatu hal yang sempat dijanjikan Kyuhyun di akhir gulungan kertas itu tadi.
“Oppa.”
“Hhhhhhwi ... wi-ya....”
***
Bagi seorang anak, tak ada yang dapat lebih membahagiakan lagi ketimbang menatapi kedua orang tua mereka bahagia. Seperti sosok Yong sekarang, namja itu beserta sang Istri dan anak-anaknya tengah berdiri untuk mengintip sebuah meja yang berada didepan teras samping sebuah Restoran yang terdapat dijarak dekat rumah mereka. Terlihat banyak pengunjung berusia muda yang saling memadu kasih ditempat ini, hal biasa. Namun, ada sebuah meja yang malah membuat tempat ini menjadi terlihat luar biasa. Meja yang ditempati pasangan tua yang saling duduk berhadapan dengan saling menatap satu sama lain. Kedua tangan mereka bertautan, seolah mengikis semua penderitaan yang terjadi di dunia ini. Kyuhyun dan Hiu hwi ... inilah kedua orang tua yang menjadi sorotan mata para pengunjung ditempat ini. Tanpa berbicara, mereka bahkan dapat mengutarakan bagaimana itu cinta.
Yah, karna cinta tak berasal dari ucapan semata, tapi dari sebuah rasa yang ada. Memaafkan hal yang biasa, tapi sulit untuk dilakukan dengan tulus. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, setiap detiknya menyimpan sebuah kenangan yang mungkin akan kita rindukan kelak. Untuk itu, tak perduli kita hidup sampai seribu tahun sekalipun, akan terasa percuma jika orang-orang yang kita cintai tak ada lagi disamping kita. Peluklah, lafalkanlah ... jika kalian benar-benar mencintai orang itu, karna waktu tak akan menunggu.
=THE END=
Kyuhyun tampak merenggangkan pelukannya dari Hiu hwi, kembali merubah posisi untuk memeluk tubuh wanita itu dengan erat diatas ranjang empuk ini. Terdengar bunyi rintik gerimis diluar, membuat Hiu hwi dengan cepat menaikkan kembali selimut tebal yang menutupi tubuh mereka bersama. Ruang kamar ini tak terlalu luas memang, tapi terasa begitu nyaman bagi keduanya.
“Tihhhh ... durhlahh....” Hiu hwi mengangguk mendengar ucapan bisikan Kyuhyun tepat ditelinganya. Wanita itu tersenyum, menyadari betapa adil dan baiknya Tuhan memberikan akhir hidupnya seperti ini. Hiu hwi sadar, jika tak ada air mata yang sia-sia untuk dikeluarkan.
“Evil Cho, juga tidur.” Kyuhyun tiba-tiba tersenyum saat mendengar panggilan sayang dari Hiu hwi saat ini. Sebuah panggilan yang sempat wanita itu berikan padanya disaat mereka masih menjadi sepasang kekasih dulu. Bukan hanya uang, kedudukan dan mempunyai banyak harta untuk dibanggakan kelak, tapi cinta dan kasih suci.
Karna cinta kami sederhana ... tak perlu dengan menguasai bumi, tak perlu dengan membelah langit, tak perlu mengerti rumus yang rumit, tak perlu memasuki dunia fantasy, tak perlu dengan membelah samudera, tak perlu mengambil bintang, dan bahkan tak perlu menggenggam rembulan.
Cinta kami sederhana ... yang hanya membutuhkan sebuah kejujuran, ketulusan, pengorbanan, dan kepercayaan. Karna kami saling mencintai dan bukannya untuk saling menguasai.
=FIN=
Percayalah, tak ada yang tidak memiliki alasan di dunia ini. Termasuk dengan alasan mengapa Tuhan selalu memberikan setiap manusia sebuah masalah hidup. Hanya tinggal bagaimana manusia itu sendiri menghadapinya. Bertahan ataukah menyerah. Ada senyuman untuk menemani air mata, dan ada kesakitan untuk menemani kebahagiaan. Sungguh, bahagia itu sebenarnya begitu mudah.
Thank You For READ My Simple Story. Sejujurnya, ini FF spesial untuk Ultah Appa-ku pada tanggal 14 Juli kemarin. Entah kenapa tiba-tiba aja punya ide bikin yg beginian =_=. Jujur ya, tentang isi dalam gulungan kertas yang aku ceritakan diatas itu, sebenernya... ide itu secara garis besar emank pernah terjadi dalam kehidupan kedua orang tua ku. Merekalah yang selama ini menjadi inspirasi terbesar untukku, mengajarkanku banyak hal, terutama Ibu-ku. Beliau wanita yang paling kuat dari siapapun, wanita yang paling sabar menghadapi tingkah Appa. Ketika ditanya apa cita-citaku? Sejak SMP aku akan mengatakan kepada semua orang, jika cita-citaku ingin menjadi seorang Ibu. Ibu seperti Ibu-ku. Beliau hebat melebihi Superman yang dapat terbang, beliau hebat melebihi Wonder woman yang pernah ku tonton. Beliau wanita yang spesial! Mom, aku mencintaimu. Entah bagaimana kelak jadinya aku tanpamu. Membayangkannya pun sulit.
Terima kasih telah hidup, terima kasih telah melahirkanku dengan segenap tangis dan jerit kesakitanmu. Ayah... aku juga berterima kasih padamu. Kaulah yang telah mendidikku dengan keras, hingga aku menjadi gadis seperti ini. Kalianlah satu-satunya alasanku untuk tidak berputus asa, untuk kuat dalam keadaanku yang dulu benar-benar merasa berada diujung nyawa. Aku tak bisa membalas apapun untuk kalian. Setiap ibadah dan doaku tak pernah tinggal nama kalian. Tolong ... ampuni aku, dan temani aku sampai akhir kelak. Jangan pergi kemana-mana Appa, eomma.... tetaplah disini, bersamaku. Aku mencintai kalian, aku sangat mencintai kalian lebih dari nyawaku sendiri.
Terima kasih!

My Mom and My Dad
Can beautiful sleep now....
Present : Cho Kyuhyun, Cho Hiu hwi, Cho Gyu Yong
This Story Original From @Jjea_
***
‘Aku belajar Diam dari banyaknya bicara
Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan
Aku belajar mengalah dari suatu keegoisan
Aku belajar menangis dari kebahagiaan
Aku belajar tegar dari kehilangan.
Karna hati dapat melihat apa yang tak terlihat’
Debu-debu itu terlihat terhuyung terbawa angin untuk berhinggap ditempat lain, memberikan bias cahaya biru berkelebat dalam mendung. Tak ada yang berpangkal manis diujung getir awan abu-abu itu, seolah alam memang sengaja menutup diri. Dingin ... sang surya sepertinya memang enggan untuk terlihat saat ini.
* When it all began ... Love Story *
Cat warna rumah tua ini tampak sedikit pudar termakan waktu, seolah teriris pekatnya musim yang memang terkadang begitu tak menentu. Warna silver yang memang mendominasi daerah luar rumah ini, terlihat berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Jamur-jamur kecil itu tampak terlihat di pinggiran dindingnya, sedikit banyak. Namun tetap, itu tak mengurangi keindahan yang memang telah tercipta dirumah ini. Sebuah rumah sederhana yang memang tak terlalu besar, tapi menyimpan begitu banyak cinta dan kebahagiaan.
14 JULI
Tepat ditanggal itu, tanda merah tampak melingkar disebuah kalender dinding rumah ini. Wanita yang mengenakan sweater panjang itu pun tampak tersenyum memandangi tanggal itu, sedikit rasa ingin menangis melandanya sekarang.
“Hummm..., hari ini kembali tiba. Beruntungnya, aku masih dapat kembali ke tanggal ini lagi. Tuhan, aku sangat berterima kasih padamu atas ini,” wanita itu tampak tersenyum lebar dengan ekspresi haru. Direkatkannya kembali sebuah syal yang cukup tebal yang melingkari lehernya kini. Kepalanya merunduk, mengingat telah begitu banyak hari, bulan dan tahun yang telah ia jalani sampai sekarang. Kembali, tangan kanannya terangkat menyentuh tanggal didalam kalender itu. Sesungguhnya, ada banyak hal yang telah berbeda dari kehidupannya sekarang, bahkan mungkin semua yang ada dalam dirinya itu. Yah, semuanya sudah berubah dan itu memang jelas sekali terlihat. Cho Hiu hwi! Itulah nama wanita itu. Seorang wanita tua yang memiliki garis kecantikan yang sempurna, bahkan kecantikan itu seakan terlihat abadi diantara kerutan kulitnya kini.
“Eungh ... eungh ....” Suara erangan seseorang sentak terdengar, menghentakkan lamunan Hiu hwi yang sedetik lalu masih mengulang bagaimana masa mudanya beberapa tahun silam. Tubuh Hiu hwi yang sudah ringkih itu perlahan-lahan menoleh kearah samping, menatapi seorang pria tampan yang sangat ia cintai. Sungguh, ketampanan pria itu seolah tak terkikis masa sedikitpun. Ia masih tetap tampan, bahkan akan terus sangat tampan dimata Hiu hwi.
“Kyuhyun Oppa...,” suara Hiu hwi terdengar serak. Bahkan nada bicaranya pun kini sudah berubah banyak, tak semerdu dahulu. Hiu hwi tersenyum, menekuk pelan kedua kakinya untuk berjongkok agar dapat sejajar dengan kursi roda suami terkasihnya ini.
“Hemm? Oppa butuh sesuatu?” Hiu hwi menjulurkan tangannya menyentuh kulit wajah Kyuhyun, mengelus kerutan yang terlihat pada pria itu. Kedua mata mereka bertemu pandang dalam ikatan sendu. Jalinan mata itu bahkan sama sekali tak berubah dari beberapa puluh tahun silam. Pria yang bernama Kyuhyun itu kini sudah berusia 85 tahun. Namun sungguh, tatapan tajam khas miliknya itu benar-benar masih sangat terasa bagi Hiu hwi. Mempesona, sekalipun keriput terlihat dimana-mana, senyuman yang tanpa gigi tak utuh lagi atau helaian rambut putih dan tipis yang mungkin sebentar lagi benar-benar akan habis. Tetap, Kyuhyun memilki pesona yang tak akan pernah berubah.
“Oppa sangat tampan sekarang,” Hiu hwi memiringkan sedikit kepalanya, menatapi Kyuhyun dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Ia sangat mencintai pria ini. Yah, walau sekarang ... dia bukanlah pria yang digilai lagi oleh banyak gadis, bukan pria gagah yang sangat populer, dan bukan pria yang selalu dipuji banyak orang lagi, tapi Hiu hwi tetap sangat mencintainya dari dulu, sampai sekarang. Bahkan lihatlah, Hiu hwi sama sekali tak mengurangi rasa dalam hatinya itu sekalipun Kyuhyun kini tak dapat lagi berbuat apa-apa. Kyuhyun mengalami Stroke, membuatnya kesulitan untuk berbicara lagi. Suara emasnya yang indah itu, kini belum dapat lagi Hiu hwi dengar. Tidak perduli akan hal itu, baginya kehadiran Kyuhyun yang masih terus bertahan di sisinya kini, itu sudah jauh lebih dari cukup.
Hari ini; 14 Juli..., tepat keduanya saling mengikat janji pernikahan 65 tahun silam. Angka yang cukup lama dan fantastis bagi mereka. Yah, bukan hanya saja kebahagiaan yang telah mereka hadapi selama itu, tapi juga kesedihan, jerit tangis, kelelahan, keputus-asaan dan banyal hal. Semua itu pernah mereka rasakan bersama dan akan terus menjadi pelabuhan kenangan yang kelak akan menjadi sejarah hidup mereka.
“Oppa...,” Hiu hwi sedikit mencodongkan tubuhnya kedepan, memeluk tubuh lemah Kyuhyun diatas kursi roda itu. Sekalipun Kyuhyun tak dapat mengucapkan apapun lagi, tapi Hiu hwi sudah bisa mengerti. Benar, hanya dengan saling menatap diam.
Kyuhyun menutup kedua matanya menikmati dekapan dari istrinya ini. Hangat, Hiu hwi memang selalu dapat membuatnya merasa nyaman. Ia tak tau, jika wanitanya itu kini tengah menitikan air mata dalam pelukannya. Semakin lama tubuh mereka akan semakin tampak rapuh, dan Hiu hwi memang sangat takut, jika kelak ia tak bisa memeluk tubuh Kyuhyun lagi. Tak ada manusia yang hidup abadi di dunia ini, semuanya akan kembali ke tanah dan menetap dikediaman yang sebenarnya. Hiu hwi sadar akan hal itu, dan ia memang merasa sangat takut menyadari kelak, jika diantara mereka pasti akan ada yang lebih dulu pergi. Demi Tuhan, dia sangat mencintai Kyuhyun, bahkan semenjak Kyuhyun menatapnya pertama kali saat ia berada dibangku Sekolah.
Banyak orang sekarang menilai, jika menjadi tua itu sama sekali tak menyenangkan. Namun menurut beberapa peneliti, banyak orang-orang yang lanjut usia mengatakan jika mereka merasa lebih bahagia dengan hidup mereka diusia tua daripada ketika mereka berumur 18 tahun. Temuan ini berasal dari survei lewat telepon tahun 2008 terhadap lebih dari 340 ribu orang dewasa berusia antara 18 dan 85 tahun di Amerika Serikat.
Menurut satu teori, sewaktu usia bertambah, orang-orang semakin bersyukur pada apa yang mereka miliki dan lebih mampu mengendalikan emosi. Mereka juga meluangkan waktu lebih sedikit untuk memikirkan pengalaman buruk. Mungkin, seperti itulah yang Kyuhyun dan Hiu hwi rasakan sekarang. Bersyukur! Yah, mereka sangat bersyukur dapat bersama didunia ini sampai sekarang.
“Euongg...,” Kyuhyun bersuara lagi. Dia sepertinya ingin mengucapkan kalimat kepada Hiu hwi. Wanita itu tak menggubrisnya lebih dulu, ia lebih sibuk mendekap tubuh Kyuhyun semakin erat. Ia tak ingin suaminya itu melihat tangisannya yang telah pecah saat ini. Sesungguhnya, suara Kyuhyun ketika ia berumur 20an dulu sangat terdengar begitu indah, dia pandai bernyanyi. Namun sekarang....
Kyuhyun tau apa yang terjadi pada Hiu hwi yang tengah memeluknya ini. Laki-laki itu tampak mengubah ekspresinya menjadi sedih. Pasti Hiu hwi menangis lagi, wanitanya itu benar-benar tak dapat berbohong dan berakting jika berada didekatnya. Sungguh, Kyuhyun ingin sekali membalas pelukan Hiu hwi saat ini. Namun apa daya, kedua tangannya seolah beku dan begitu sulit untuk ia gerakan.
‘Hwi-ya, jangan menangis....’
Hanya gumaman suara hati Kyuhyun lah yang kini dapat bersuara, berharap jika Tuhan akan membantunya untuk menyampaikan panggilan itu melalui pelukannya. Keduanya masih tampak saling berpelukan, seolah esok mereka mungkin akan dipisahkan oleh waktu.
Kedua orang tua ini sama sekali tak perduli lebih dulu akan sekelilingnya, bahkan mereka tak menyadari keberadaan seorang namja tampan yang kini tengah mematung memandangi mereka. Senyum namja muda itu mengembang seiring dengan matanya yang berkaca-kaca, menatapi kedua orang yang sangat berharga baginya itu kini saling berpelukan dengan mesra. Sungguh, tak pernah berubah.
“Ehem..., Appa-Eomma kalian ini benar-benar selalu membuatku cemburu,” rajuk namja itu membuat Kyuhyun dan Hiu hwi sentak melepaskan dekapan mereka.
“Gyu Yong-ie...,” Hiu hwi sentak tersenyum menghapus jejak air matanya tatkala ia menatapi sang anak tengah berdiri tegap dengan sebuket bunga lily ditangannya.
“Ini untukmu Mom,” namja yang bernama Gyu Yong ini pun sentak berjongkok dan mencium pipi sang Ibu dengan lembut. Hiu hwi lagi-lagi tersenyum. Putra tunggalnya ini benar-benar tak pernah berubah, selalu manja, bahkan disaat umurnya kini sudah beranjak dewasa. Gyu Yong sudah menikah dan memiliki dua anak yang sangat Kyuhyun dan Hiu hwi syukuri keberadaannya kini.
“Appa baik-baik saja?” Kyuhyun mengalihkan tubuhnya pada sang Ayah, mencium sejenak tangan kanan pria itu. Kyuhyun hanya menjawabnya dengan gerakan kecil, sebagai tanda ia baik-baik saja.
“Kau tak membawa istri dan anakmu kemari, Yong?”
“Tidak Eomma, anak bungsuku besok masih ada ujian di Sekolahnya,” Gyo Yong tampak tersenyum dan bergelayut manja dibahu sang Ibu. Dapat dilihat perubahan ekspresi Kyuhyun saat ini melihat adegan mesra anak dan Ibu itu.
“Lihatlah Eomma, sepertinya Appa masih saja cemburu padaku,” Gyu Yong mencibir kearah Appa-nya, membuat Hiu hwi tertawa dan menepuk pelan kepala anaknya itu. Gyu Yong benar-benar sangat mirip dengan Kyuhyun disaat ia muda. Tampan, berkharisma, dan juga memiliki mata, hidung, dan bentuk wajah yang sempurna seperti Kyuhyun. Gyu Yong juga begitu jahil, dia juga menuruni sifat buruk Kyuhyun yang begitu manja dan sedikit—err—nakal.
“Eonghh...,” Kyuhyun mengerang seraya memberi pelototan kecil pada Gyu Yong. Anaknya itu tiba-tiba mengangguk, seolah ia mengerti akan apa yang ingin Ayah-nya itu katakan.
“Hummm ... Eomma,”
“Nde?”
“Hari ini, apa boleh aku mengajak Appa pergi ke suatu tempat sebentar?”
“Kemana Yong?” tanya Hiu hwi tampak memandangi anak dan suaminya itu bergantian.
“Waktu itu, aku sudah berjanji dengan Appa untuk pergi ke suatu tempat. Eomma tidak perlu kuatir, aku akan menjaga Appa dengan taruhan nyawaku sendiri,”
“Yong, Appa-mu masih dalam kondisi kurang fit. Sebaiknya, kalian batalkan lebih dulu rencana kalian itu, hem?” Hiu hwi tampak mengelus puncak kepala Yong, membuat anaknya itu tersentak menatap Kyuhyun yang sepertinya tetap ingin pergi. Yong tau akan hal itu, karna memang Appa-nya itu sudah sangat lama ingin melakukan sesuatu ini.
“Eomma, kami hanya sebentar. Aku berjanji akan menjaga Appa.”
“Kalau begitu, Eomma juga akan ikut.”
“Hummm..., Eomma ayolah, kami tidak akan lama.” Pelas Gyu Yong seraya menggenggam kedua tangan sang Ibu untuk meyakinkannya. Hiu hwi menghembuskan nafasnya, ia juga dapat melihat sebuah siratan memohon dimata Kyu saat ini.
“Baiklah, tapi jangan membawa Appa-mu terlalu lama diluar. Eomma akan menyiapkan makan malam, kalian harus pulang sebelum jam itu. Kau mengerti Yong?”
“Aku mengerti Eomma, akan aku pastikan kami akan sampai kesini tepat waktu. Thank You, Mom.” Kecup Gyo Yong singkat seraya tersenyum.
“Ya, kalian harus hati-hati.”
“Pasti, Mom. Appa, ayo kita berangkat sekarang.” Gyu Yong tampak berdiri dan bersiap untuk menuntun kursi roda Appa-nya itu keluar.
“Tunggu dulu—ini—” cegat Hiu hwi tiba-tiba sembari melepaskan syal yang ia pakai.
“Diluar begitu dingin, Oppa harus selalu merasa hangat,” Hiu hwi kembali berjongkok dan memasangkan syal tebal itu dileher Kyuhyun. Kyu sontak menatap istrinya itu, memandanginya dengan rasa takjub yang luar biasa. Sungguh, Hiu hwi selalu berusaha yang terbaik untuknya selama ini.
“Aku mencintaimu Oppa. Hati-hati,” ucap Hiu hwi seraya mencium pipi Kyu dengan hangat. Gyu Yong tersenyum melihat itu, betapa ia sangat iri dengan cinta kedua orang tuanya itu.
“Kami pergi Eomma, jangan terlalu lelah.” Gyu Yong kembali hendak mendorong kursi roda Kyuhyun menuju pintu. Hiu hwi mengangguk, lalu melambaikan tangannya kearah dua namja tampan yang sangat ia sayangi itu.
‘Tuhan, jaga mereka untukku....’
Gumam Hiu hwi dalam hati. Ia tak perduli, jika Kyuhyun tak mengingat lagi hari ini adalah hari perayaan pernikahan mereka. Sekalipun beberapa jam yang lalu, Hiu hwi sebenarnya ingin mengajak Kyuhyun untuk makan malam dan mengenang masa muda mereka seperti tahun kemarin, berpelukan melihat salju turun dari jendela rumahnya ini sampai tertidur lelap bersama. Tidak apa, Hiu hwi mengerti jika ingatan Kyuhyun tak sebaik dahulu. Ia masih bisa merayakan hari ini disaat kedua pria tampan itu pulang nanti malam.
***
‘Cinta itu tak perlu melihat tapi ia merasakannya
Karna cinta tak pernah mensyaratkan kesempurnaan
Karna cinta adalah menerima, memahami, dan rela berkorban demi kebahagiaan bersama’
Sudah dari setengah jam yang lalu, wanita tua ini tampak menengok kearah luar jendela. Ini sudah lewat dari jam makan malam. Namun, tak ada tanda-tanda anak dan suaminya itu akan pulang. Hiu hwi cemas, ia benar-benar sangat kuatir sekarang. Apalagi, diluar sana salju turun dengan lumayan lebat.
“Kalian kemana?” Hiu hwi benar-benar tak tenang saat ini. Ia takut sesuatu terjadi pada kedua orang itu. Tubuhnya sedikit bergetar dan lemas. Hiu hwi duduk dipinggiran kursi dekat jendela seraya berusaha untuk menekan nomor Yong. Tak ada jawaban, itu membuat Hiu hwi benar-benar semakin panik.
“Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka. Ya Tuhan...,” Hiu hwi mulai memejamkan matanya untuk berdoa. Ia belum berniat makan, tanpa kehadiran suami dan anaknya itu. Yah, sekalipun ia merasakan lapar saat ini.
KRING ... KRINGGG...!
Hiu hwi kontan terlonjak seketika saat ia mendengar deringan telpon rumah ini berbunyi. Tanpa membuang waktu, wanita itu pun sentak mengangkatnya, berharap ini bukan berita buruk atau semacamnya.
“Hallo Mom?” suara itu terdengar merdu, membuat Hiu hwi menghembuskan nafasnya lega.
“Yong-ie, kalian kemana saja? Apa semuanya baik-baik disana? Appa-mu—”
“Kami baik-baik saja Eomma, Appa ada disampingku sekarang.”
“Baguslah, cepat kalian pulang sekarang.”
“Hummm..., tidak sekarang Eomma. Ada sesuatu yang harus aku dan Appa lakukan lebih dulu. Mianhae...,”
“Lalu kapan kalian pulang?”
“Setelah semuanya selesai. Eungh..., bisakah Eomma berdiri sebentar dan mengambil radio diatas meja didekat kamarku dulu?”
“Untuk apa Yong?”
“Eomma nanti akan tau sendiri. Sekarang, Eomma hidupkan saja radio itu dan dengar siaran di Radio KJ Seoul sekarang,”
“Baiklah. Lalu, apa yang harus Eomma lakukan?”
“Diam dan dengarkan saja radio itu sampai habis,”
“Yong, sebenarnya kal—”
“I Love You, Mom”
TUTTT ... TUTTT ...!
Belum sempat Hiu hwi menanyakan sesuatu dengan rasa paniknya itu secara mendetail, Yong pun sudah lebih dulu menutup sambungan telpon mereka. Hiu hwi tampak menggeleng-geleng, lalu mengalah untuk menghidupkan radio seperti apa yang Yong katakan tadi.
Terdengar bunyi gemerusuk iklan dan lagu mellow yang tersambung di Radio itu. Hiu hwi sedikit mengernyit tanda bingung. Tidak ada apa-apa yang terdengar didalam Radio itu, sedikit membosankan. Sampai—
“Annyeong, selamat malam pendengar setia Radio KJ Seoul. Bagaimana kabar kalian malam ini? Burukkah? Atau malah lagi bahagia? Hahaha, baiklah. Karna malam ini cukup spesial, Radio kami akan mendatangkan bintang tamu yang juga sangat spesial. Siapa mereka? Yah, mereka dua orang pria tampan yang saat ini tengah duduk berhadapan denganku. Siapa yang bisa menebak siapa kedua pria tampan ini? Hahaha, mereka kedua pria yang sama-sama memiliki kemiripan dari visual sekalipun. Ck, benar-benar membuat iri,” terdengar sapaan suara khas nan merdu dari salah seorang penyiar wanita radio itu seketika. Hiu hwi mulai tampak antusias lagi sekarang, ia sedikit memutar volume radio itu semakin membesar.
“Kedua pria tampan yang mirip ini sebenarnya Ayah dan anak. Siapa mereka? Yah, Radio kami tengah kedatangan sosok petenis yang sangat terkenal ‘CHO GYU YONG’ berserta Appa-nya ‘CHO KYUHYUN’ sekarang. Wah, studio disini mendadak ramai,” penyiar itu terkikik pelan, membuat Hiu hwi sontak membulatkan matanya penuh. Apa tadi ia tak salah dengar? Yong dan Kyu berada di Radio itu?
“Karna ini adalah malam spesial untuk semua manusia yang mengenal cinta. Untuk itu, kami mengundang sosok seorang Cho Kyuhyun untuk berbagi pengalamannya selama ini. Tentangnya, cintanya, tentang semua pengalaman hidupnya selama 85 tahun, dan tentang semua apa yang telah beliau miliki dan beliau dapatkan sampai sekarang. Baiklah, mungkin semua sudah sangat penasaran, ne? Tenang, kami akan segera memulai ini. Untuk Gyu Yong, silahkan menyapa lebih dulu pendengar yang tengah menunggumu sejak tadi.” Penyiar itu sentak mengangkat jempolnya pada Yong, seolah memberi kode agar namja itu mulai bersuara. Gyu Yong tampak mengangguk dan menghela nafas sejenak. Nampak sang Ayah kini tengah berada disampingnya seraya berusaha untuk tersenyum.
“Selamat malam semuanya. Aku Cho Gyu Yong, salam kenal,” sapa Yong, membuat Hiu hwi yang mendengar suara itu sentak kembali menaikan volume radio miliknya itu.
“Hummm..., untuk Ibuku yang tercinta disana, selamat malam juga dan selamat mendengarkan ini. Sebelumnya, terima kasih untuk para Staff Radio ini yang telah mengundang dan mengizinkan aku dan Ayahku untuk bersuara disini. Kami benar-benar sangat berterima kasih,”
“Harusnya kami yang berterima kasih Gyu Yong-shi.” Canda sang Penyiar itu membuat Yong tersenyum kecil.
“Hummm..., Appa-ku sedang sakit, aku mohon maaf karna beliau tak dapat menyapa semua pendengar Radio ini secara langsung. Sebenarnya, hari ini adalah hari yang spesial untuk keluarga kami, jadi itu mengapa aku ingin meminta waktu kalian sedikit untuk mendengarkan sesuatu ini, terutama untuk Ibuku. Ditanganku sekarang, aku memegang beberapa gulungan kertas yang ditulis sendiri oleh Ayahku sebelum ia terkena Stroke hingga menjadi tak bisa melakukan banyak hal seperti sekarang. Gulungan kertas ini seharusnya ingin beliau bacakan sendiri pada Ibuku disana sejak beberapa bulan yang lalu, disaat Eomma-ku ulang tahun. Namun Tuhan berkehendak lain, hingga sekarang akulah yang akan menggantikan Appa membacakan ini untuk Eomma-ku disana,” Gyu Yong tampak menoleh kearah Kyuhyun yang kini tengah menatapnya sendu.
“Eomma..., kurahap kau akan mendengarkan ini dengan baik,” Yong membuka gumpalan kertas ditangannya dan merunduk sejenak. Hening! Tampak sepertinya beberapa orang disini cukup antusias dengan isi kertas itu.
“Hummm...,” Yong membenarkan letak posisi duduknya sejenak, lalu mendekatkan kembali bibir mungilnya itu pada salah satu Mic didalam ruangan ini. Hingga ia menghembuskan nafas panjang, lalu bersuara kembali.
Dear Hiu hwi, Cho Hiu hwi istriku...,
Apa kau mendengarnya sayang? Mendengar setiap detak jantungku memanggil namamu? Kau tau Hiu hwi? Kau wanita pertama dan terakhir yang telah menyempurnakan hidup pria sepertiku. Wanita yang selama ini menemaniku, memberiku kekuatan dan terus berdiri disisiku tanpa pernah lelah dan mengeluh apapun. Maaf ... maaf dan maaf. Tak ada yang dapat aku lontarkan lagi selain kata itu untukmu. Yah, sekalipun aku mengucapkan kata itu ribuan kali, mungkin tak akan bisa menebus semua perlakuanku terhadapmu selama ini. Sungguh, aku benar-benar sangat malu padamu. Aku merasa menjadi pria yang tak pantas untuk memilikimu.
Selama 65 tahun lebih kau mengenalku, selama itu juga hidupmu tak pernah lepas dari penderitaan yang telah kubuat selama ini. Dari sejak kita saling mengenal semasa kau Sekolah dulu. Aku tak pernah peka terhadap perasaanmu yang sangat menyukaiku, menjagaku dalam wujud diam cintamu. Aku terus menerus mencari wanita yang mencintaiku dan dapat menerimaku apa adanya, sampai aku terus berkelana kesetiap wanita untuk tujuan tak jelasku itu. Aku benar-benar terlalu bodoh untuk menyadari keberadaanmu saat itu sayang. Sampai akhirnya, kesabaranmu lah yang membuatku berpaling menatapmu.
Saat kita berkencan untuk pertama kalinya, aku berpikir itu biasa saja. Yah, sama seperti saat aku berkencan dengan wanita-wanitaku yang lain. Bahkan pada saat itu, sejujurnya bukan hanya kau kekasihku dan sebenarnya aku juga bermaksud untuk hanya melakukan pendekatan padamu lebih dulu. Namun ternyata dugaanku salah, kau wanita yang sangat berbeda. Keluargamu sangat menjunjung tinggi adat dan budaya yang memang begitu kental terasa. Hingga aku benar-benar sangat terkejut saat aku mengantarmu pulang pada saat itu. Ayahmu memintaku untuk menikahimu. Itu benar-benar sangat gila! Dipikiranku saat itu adalah ... Ayahmu tengah bercanda padaku. Yah, kita baru saja berkencan satu kali, tapi beliau sudah menyuruhku untuk menikahimu di usia kita yang masih terbilang muda. Itu sedikit berlebihan menurutku. Namun, aku tak tau jika itu sudah menjadi tradisi di dalam keluargamu. Siapapun pria yang membawa anak gadis mereka keluar dan menghabiskan banyak waktu bersama, itu sama halnya dengan meminta izin untuk menikah. Aku merasa seolah terjebak pada saat itu! Aku sempat menolak dengan banyak alasan, tapi Ayahmu mengatakan jika tak ada hubungan sepasang kekasih lagi jika aku memang menginginkanmu. Beliau ingin kita tak berpacaran lebih dulu, tapi langsung menikah. Itu sedikit kolot bukan? Aku akan dianggap pecundang dalam deretan keluargamu, jika aku saat itu menolak. Yah, aku mencintaimu ... aku sangat mencintaimu. Kau gadis cantik yang juga cukup kaya untuk kujadikan pendampingku. Aku hanya berpikir hal itu saat aku bertekad untuk melamarmu menjadi istriku tepat disaat kau lulus Sekolah menangah dulu. Mungkin, aku masih terlalu muda untuk memikirkan masa depan pernikahan kita kelak, yang kutau saat itu adalah ... menikahimu tak terlalu merugikan untukku.
Tampak Gyu Yong sedikit menarik nafas panjang, sebelum ia kembali membaca isi gulungan kertas itu.
Kita menikah! Baiklah, sesuatu hal yang cukup tak terbayang akan terjadi secepat ini dalam hidupku, tanpa berpikir panjang dan tanpa persiapan yang matang. Semuanya terjadi begitu saja, hanya dalam beberapa menit kita sudah menjadi sepasang pengantin baru. Kau sangat cantik Hiu hwi, kau sadar itu hem? Dengan balutan baju pernikahan putih panjang yang sederhana, kau bak seorang putri khayangan pada saat itu. Kau benar-benar memiliki paras yang begitu indah dari semua benda langit diatas sana. Jujur, aku sangat bahagia dapat menikahimu. Membawamu pergi dari keluargamu dan hidup dalam sebuah rumah kecil yang aku sewa dengan uang sisa tabunganku. Kau tak pernah mengeluh dengan apapun keadaaan kita, kau akan selalu tersenyum dan memelukku dengan ucapan terima kasih. Kau benar-benar wanita yang spesial.
Setahun sudah, semuanya berjalan dengan baik. Kau akhirnya hamil seorang bayi hasil benih cintaku padamu. Namun sesuatu merubahku, aku bahkan sampai sekarang masih menyesal mengingatnya. Aku sering berpergian setiap malam meninggalkanmu untuk bersenang-senang dengan dunia malamku. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku diluar ketimbang memperhatikan keadaanmu. Kau pernah mencegahku untuk berhenti, tapi aku malah berteriak ... “ITU BUKAN URUSANMU!” Aku masih sadar, jika pada waktu itu aku memang masih terlalu muda untuk terikat hubungan sakral seperti ini pada seorang wanita. Aku merasa kebebasanku seakan terenggut, statusku yang telah beristri membuatku banyak mendapat ejekan dari semua teman-temanku. Terkadang aku benar-benar muak melihatmu pada waktu itu, kau terus saja berusaha terlihat baik-baik saja, sekalipun aku tak pernah lagi bersikap baik padamu.
Perasaanku padamu saat itu seolah tengah diuji oleh sang kuasa. Aku menjadi tak sering pulang kerumah dan bahkan hampir selama berhari-hari. Aku meninggalkanmu sendiri, meninggalkan semua tanggung jawab dan beban berat padamu. Kau bekerja menjadi seorang penjual baju keliling dengan memberi kredit kepada mereka-mereka yang memang belum mampu membayar. Kau melakukan itu untuk menghidupimu dan membayar sewa rumah yang seharusnya menjadi tanggunganku. Hiu hwi, kau pasti sangat tersiksa pada waktu itu. Sedangkan aku? Aku hanya menghabiskan waktuku dengan percuma bersama alkohol dan wanita-wanita yang hanya memberikanku kebahagiaan sesaat. Bahkan disaat itu, aku hanya pulang untuk mengambil baju gantiku, lalu pergi lagi. Kau begitu baik Hiu hwi! Dulu aku menyangka kaulah yang sangat bodoh, tapi ternyata akulah yang bodoh. Aku pulang bersama seorang wanita dan memasuki kamar kita dan berkata ... “Istriku yang baik, buatkan kami minum ya?” Aku tau itu sangat menyakitimu waktu itu. Tapi apa kau ingat, apa yang kau balas padaku? “Baik Oppa, aku juga akan menyiapkanmu makan siang. Kau terlihat kurus, aku tak ingin kau sakit.” Entah dimana harga dirimu waktu itu sayang, hingga kau mengalah dan terus menerus memperhatikanku. Bahkan, aku melakukan itu disaat kau tengah mengandung buah hati kita; Cho Gyu Yong.
Gyu Yong tampak sedikit meremas kertas yang kini berada didua tangannya itu. Ada perasaan berbeda ketika ia semakin membaca tulisan Appa-nya ini lebih lama lagi. Ia tau jika dulu Ibu dan Ayahnya pernah mengalami masa dimana mereka benar-benar hampir terpisah. Namun Yong tak pernah menyangka, jika penyiksaan sang Ibu yang pada saat itu mengandungnya benar-benar sangat menyakitkan.
Semua tingkahku semakin lama semakin menjadi. Kau tak pernah sama sekali melawanku, disaat aku marah, kau hanya mampu merunduk dan mengalah. Lagi ... lagi ... dan lagi kau selalu membuatku tak dapat berkata apa-apa. Bahkan, disaat anak pertama kita akan lahir ke dunia ini. Aku tetap pada kesibukanku itu, sedangkan kau berjuang sendiri untuk melahirkan anak kita dengan segenap taruhan nyawamu pada saat itu. Kau berteriak, menangis, dan memperjuangkan itu semua tanpa kehadiranku disampingmu. Kau benar-benar wanita yang sangat kuat yang pernah kukenal setelah Ibuku. Kau tersenyum dalam balutan air matamu saat kau berhasil mengeluarkan benih yang kutanam padamu. Kini ia tumbuh menjadi seorang bayi mungil, tampan dan kupastikan sangat mirip padaku. Aku sedikit merubah sikapku saat orang tuaku menasehatiku dengan berbagai macam hal yang mereka ketahui untukku. Aku memang sudah berniat ingin berubah dan memulai semuanya lagi denganmu setelah itu. Namun sayang, tak bertahan terlalu lama, aku kembali terjerumus dalam kebahagian yang semu itu. Aku kembali meninggalkanmu dan kali ini juga meninggalkan anak kita. Aku tau kemarin-kemarin kau bertahan karna benih yang ada dalam rahimmu, tapi sekarang? Gyu Yong telah lahir, kau seharusnya bisa bebas dari semua penderitaan yang telah kubuat untukmu. Namun apa? Kau malah berkata ... “Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi Oppa. Aku tidak mungkin pulang ke Desaku dan mengatakan, jika aku tak bisa mempertahankan Rumah tanggaku. Ayahku pasti marah dan mungkin dia akan mengejarmu sampai kapanpun. Lagipula, Gyu Yong masih terlalu kecil untuk ditinggalkan oleh Ayahnya. Aku tidak apa-apa, asal kau bahagia dan masih dapat menjadi sosok Ayah untuk Gyu Yong. Oppa..., Yong-ie masih sangat membutuhkan kasih sayang darimu.”
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi saat kau mengatakan itu. Kau lebih memilih mempertahanku sebagai suamimu daripada bebas dan meraih kebahagiaanmu yang lain. Sungguh, rasaku padamu pada saat itu sudah hampir memudar, tapi kau selalu dapat membuatnya kembali berkembang. Kau memang membuktikannya! Kau mampu bertahan bertahun-tahun menyandang status sebagai istriku dan membesarkan Gyu Yong dengan tanganmu sendiri. Sekalipun aku sangat sadar, jika selama itu juga kau tak pernah henti mengeluarkan air mata dan terus berdoa untukku. Aku ingat, pada saat itu umur Yong baru 5 tahun, kau menelponku dan memintaku untuk pulang sebentar karna Yong tengah sakit keras dan butuh pertolongan secepatnya. Namun dengan kejamnya, aku menutup telponmu dan mengatakan jika aku sibuk. Hiu-ie..., aku melakukan kesalahan yang besar berulang kali padamu. Kau gadis yang tak pernah putus asa, kau mencariku kemanapun yang kau tau. Dan kau menemukanku tengah bermesraan dengan gadis lain didalam sebuah rumah bersama teman-temanku yang lain. Aku masih ingat bagaimana ekspresimu saat itu. Kau terluka, tidak ... sepertinya lebih dari itu. Kau menghampiriku dan lagi-lagi menyuruhku pulang. Aku merasa menjadi pria yang paling kejam didunia karna membuat wanita sepertimu berlutut dan mengemis dihadapanku pada saat itu. Kulihat pula semua teman-temanku menatapmu iba dan prihatin. Kau hanya mengatakan ini ...
“Kumohon, pulanglah sebentar Oppa. Sejak tadi Yong-ie tak henti-hentinya menyebut namamu. Dia mengalami demam tinggi sekarang, kumohon bantu aku dan anakku.”
Kau menangis dengan kelemahan tubuhmu pada saat itu. Aku yakin kau pasti belum memakan apapun saat kau mendatangiku. Kau benar-benar gadis bodoh yang pernah kukenal, sangat bodoh Hiu hwi! Kau lagi-lagi membuatku bungkam dan merasa begitu kejam. Kau melawan semua apa yang kulakukan dengan diam dan ketulusan hatimu, itu yang membuatku tak bisa lagi membalasnya. Aku menurutimu begitu saja dan pulang untuk membawa Yong ke Rumah sakit. Tanganku gemetar, Yong hampir tak selamat karna kebodohanku.
Gyu Yong tampak gemetar memegang gulungan kertas itu ditangannnya. Ada perasaan yang sedikit benci ketika ia mengetahui bagaimana dulu sang Ayah menyiksa Ibu dan dirinya. Sekejam inikah seorang Cho Kyuhyun dulu? Yong benar-benar tak percaya!
Aku banyak sekali melakukan kesalahan padamu Hwi-ya, aku sadar itu. Aku bahkan pernah merasakan titik dimana aku sudah merasa aku tak lagi menyukaimu seperti disaat aku pertama kali mengenalmu. Entahlah, aku pernah sempat berpikir untuk menuruti nafsuku dan membingkai masa depanku dijalan lain; tak bersamamu. Untuk itulah, tepat disaat ulang tahunmu, aku malah memberikan hadiah yang mungkin tak akan kau lupa sepanjang hidupmu. Dimana aku meminta kau lepas dariku! Baiklah, untuk kali ini kau membiarkanku pergi. Aku pergi bersama wanita lain yang aku pikir mencintaiku. Kau melepaskanku ... sesuatu yang sempat tak kuduga. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang menjanggalku ketika kau membiarkanku pergi bersama wanita lain. Kau tersenyum disaat aku tau kau benar-benar sangat hancur. Kau berkata ...
“Aku sudah mencoba hidup tanpamu dan ternyata aku bisa. Kalau memang ini keputusanmu Oppa, pergilah.”
Ada sesuatu yang berat menghantamku ketika kau mengatakan itu. Kenapa Hiu hwi? Kenapa kau tak memintaku sekali lagi untuk tak meninggalkanmu? Bisakah waktu itu kau tak mengalah dan memakiku saja? Apa kau tak lagi mencintaiku? Kenapa? Kenapa rasanya aku tak rela?
Selama hampir 2 bulan lebih kita tak bertemu lagi. Yang kudengar, kau dan Yong baik-baik saja. Seseorang mengatakan padaku, jika kau menyekolahkan Yong melalui bantuan seseorang yang kau dapat. Hatiku seolah merasa ngilu, ada sebuah rasa penasaran dimana aku ingin tau kehidupanmu semenjak kita berpisah. Lebih baikkah atau malah lebih buruk? Kurasa, kau memang lebih baik tanpa kehadiranku. Baiklah, sekali lagi aku mencoba untuk melepaskanmu dan memulai semuanya dengan wanita yang saat itu tinggal bersamaku. Namun ternyata aku salah, entah kenapa dulu aku lebih memilih tinggal bersama wanita jalang yang juga berselingkuh dibelakangku ketimbang kau ... wanita yang selama ini tak memberikanku banyak kata, tapi tindakan yang menyentuh. Aku kira aku mencintai wanita itu Hiu hwi, tapi aku salah besar. Aku hanya dikendalikan oleh nafsu yang benar-benar hampir membuatku hancur!
Aku rindu Yong, selama berbulan-bulan tak bertemu dengan kalian lagi, aku merindukan semua apa yang pernah kau berikan padaku yang tak kudapat dengan wanita lain. Sekeras apapun sikapku, kau masih melakukan tugasmu sebagai istriku. Ketika wanita lain akan menantang dan juga berteriak ketika aku marah, kau malah mengalah dan lebih memilih diam. Ketika wanita lain pergi ketika aku membentak mereka, kau malah tetap bertahan dan masih melayaniku dengan baik. Menyiapkanku makan, membasuh pakaianku, dan menengadahkan kedua tanganmu untuk berdoa akan keselamatanku. Hiu hwi-ya, sungguh saat itu aku sangat merindukanmu.
Gyu Yong menghentikan bacaannya dititik ini. Hening! Semuanya diam tanpa suara. Entahlah, kenapa suasana di Studio Radio ini mendadak sepi. Mungkin bukan hanya di Studio ini saja, tapi juga ditempat para orang-orang yang tengah mendengarkan saluran Radio ini, termasuk Hiu hwi. Tampak wanita tua itu tak kuasa menahan air matanya ketika mendengarkan penuturan polos dari isi kertas itu. Semuanya benar, dan itu seolah membuka kembali kenangan buruk dan luka yang paling dalam dihati Hiu hwi.
Hiu hwi-ya ... aku laki-laki seperti apa dimatamu? Pengecut? Brengsek? Atau aku sudah seperti empedu yang terus menerus membuat hidupmu terasa pahit? Aku pantas mati dan dihukum karna telah melukai hati gadis yang sangat sabar sepertimu. Aku malu padamu Hwi-ya, aku malu. Kau ingat saat aku kembali bertemu denganmu setelah perpisahan itu, huh? Sungguh, bukan maksudku untuk menyakitimu lagi. Aku hanya ingin kau bebas sesungguhnya dariku. Tapi apa? Kau malah berkata yang mampu membuatku tersudut kembali. Benar, aku memang sengaja membawa gadis lain ikut bersamaku pulang untuk menghadapmu dengan tujuan kau terlepas dariku. Tapi lagi-lagi, kau membalikkan keadaan yang dapat membuatku mati kutu tak berdaya. Kau ingat apa yang terjadi saat itu?
“Hiu hwi Eonni, aku—aku Kim Jung Ae. Aku—aku kemari ikut dengan Kyuhyun Oppa untuk—untuk memberitaumu jika kami akan menikah. Hummm..., aku sudah menjalin hubungan dengan suamimu hampir 1 bulan ini. Kami saling mencintai, jadi aku ingin agar Eonni dapat mengizinkanku menikah dengan Kyuhyun Oppa.”
“Dan jika memang kau tak ingin ku madu, kita bisa berpisah.”
Aku menimpali kalimat Jung Ae dengan menyisihkan hati nuraniku. Kau memang tak menitikan air mata ketika itu, tapi aku tau kau tengah menahan tangismu. Sungguh, kau sangat kurus dan seolah tak pernah mengurus dirimu lagi saat itu. Kau tersenyum, senyuman bodoh yang benar-benar bodoh dimataku. Kenapa Hiu hwi? Kenapa kau tidak menampar dan memakiku saja, huh? Dengan polos dan lugunya, kau malah berkata ...
“Aku rela kau madu Oppa, aku rela membagimu, tapi tolong jangan ceraikan aku. Aku harus berkata apa ketika kelak Gyu Yong menanyakanmu? Aku memang sudah lelah padamu, aku memang sudah sangat tersakiti akan sikapmu, tapi aku rela ... aku rela merasakan semua itu asal kau bahagia dan masih tetap bertanggung jawab untuk mengurus Yong. Setiap hari anak itu selalu menyebut namamu, aku bisa apa?”
Gyu Yong kembali menghentikan bacaannya dititik ini. Sepertinya ia tengah menahan tangisnya. Tidak, sepertinya ia memang sudah menangis sekarang. Sejujurnya, ia benar-benar tak menyangka, jika sosok sang Ibu-nya dahulu begitu baik dan sangat sabar. Gyu Yong tak bisa menahan dirinya lagi, ia meletakkan gulungan kertas itu dan berpaling kearah samping. Ia menangis! Demi Tuhan, ia tak menyangka, jika Ibu-nya rela merasakan penderitaan itu hanya karna dirinya.
“Gyu Yong-shi...,” sapa penyiar Radio itu untuk bermaksud menanyakan kondisi batin Gyu Yong saat ini. Sungguh, situasi seperti ini sangat mengharukan. Kyuhyun sadar akan hal itu. Ia tak perduli, jika kelak anaknya itu akan membencinya atau tidak. Yang jelas, saat ini Kyuhyun ingin mengungkapkan apa yang selama ini terkurung dan menjadi beban dihati Hiu hwi.
“Maaf,” desah Gyu Yong dengan gemetar. Tangannya kembali terangkat dan berniat untuk kembali membaca isi kalimat per kalimat dari gulungan kertas itu.
Hwi-ya ... aku membatu ketika kau mengatakan rela untuk membagiku pada wanita lain. Kau tau? Hal itulah yang paling sulit untuk semua istri di dunia ini lakukan, tapi kau? Kau dengan bodohnya mengatakan kalimat seperti itu. Aku tak tau dimana harga dirimu, kenapa kau masih tetap memilih bertahan disisiku?
Setiap hari kau semakin tampak kurus. Kau wanita yang luar biasa! Kenapa aku berkata seperti itu? Benar, karna kau telah dengan tulusnya membantu persiapan pernikahanku dengan Jung Ae dikala itu. Kau tertawa, kau menasehati Jung Ae seolah dia adikmu dan bukannya sebagai perebut suamimu. Aku tau disatu sisimu itu sangat menderita menanggung ini, tapi kau lagi-lagi menutupinya dengan diam. Kau membawa Jung Ae untuk tinggal bersama di rumah yang kau sewa sendiri sampai aku resmi menikah dengannya. Kau benar-benar membuka kedua tanganmu menyambut Jung Ae dengan belas kasihmu. Sampai kau berkata ...
“Aku menderita! Bohong jika aku mengatakan jika aku tidak merasakan sakit dilubang hatiku yang paling dalam. Oppa, aku manusia ... aku hanya manusia yang masih memiliki hati dan perasaan. Aku membencimu? Sangat! Aku sangat membencimu. Karna kau, masa depanku jadi seperti ini. Karna kau aku harus melupakan impianku menjadi Guru dan malah memilih menikah denganmu. Karna kau, aku harus tinggal jauh dari keluargaku, dan malu untuk kembali kepada mereka lagi. Dan karna kau, aku mengurangi kebahagian masa mudaku dengan menjalani hidup dengan menangis setiap malam seperti ini. Tapi apa? Aku bisa apa Oppa? Rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku itu. Kau sudah memberikanku Gyu Yong yang tak akan pernah aku sesali hidup di dunia ini. Aku tak punya apa-apa lagi, aku tak punya tempat untuk pulang dan kembali lagi. Jadi, apakah aku punya pilihan? Sekalipun aku mati dan gantung diri karnamu, kau tak akan pernah berubah. Aku sakit ... disini Oppa ... dihati ini aku sangat sakit.”
Aku dan Jung Ae terdiam tatkala kau berteriak dengan lantang semua kalimat itu. Aku senang kau dapat melakukan itu Hwi-ya, aku senang kau memaki dan berteriak padaku. Aku ingat, pada saat itu kau menangis dengan berbicara tersendat-sendat, seolah apa yang telah kau rasakan itu benar-benar menyakitkan. Aku tau ... kau putus asa pada saat itu. Pada saat dimana aku akan menikah dengan Jung Ae.
“Jika dulu aku mempunyai pilihan antara terbunuh ditanganmu atau membiarkanmu menyiksaku seperti ini, maka aku akan lebih memilih agar kau membunuhku saja Oppa. Aku hancur! Aku tak punya apapun dan tak punya tempat untukku berbagi semua ini lagi. Aku sendiri ... aku sendiri menanggung se—”
Yong sentak menghentikan bacaannya lagi saat ini. Suaranya terdengar serak dan tangisnya pecah! Kedua tangannya lagi-lagi bergetar memegang gulungan kertas itu. Sesungguhnya, ia tak kuat melanjutkan ini lagi.
“Demi Yong aku mengurungkan niatku untuk menusukkan perutku sendiri. Jika aku boleh jujur, aku bukanlah wanita yang baik. Aku terluka, aku merasakan keputus asaan yang hebat. Tapi lagi-lagi aku bisa apa Oppa? Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Disini, dihatiku ini ... ia setiap malam merintih kesakitan. Aku menangis! Aku lupa bagaimana caranya untuk tersenyum sampai sekarang. Aku merasa ingin mati, aku merasa sudah tak—”
“Eomma...,” Gyu Yong sentak bersuara ketika membaca kalimat ini. Cukup sudah! Ia tak bisa lagi. Betapa inginnya sekarang ia berlari dan memeluk sang Eomma sekuat yang ia bisa. Nafasnya sedikit tersendat-sendat, bulir air matanya itu tak bisa berhenti keluar lagi. Ia ingin bungkam saja, tapi gulungan kertas itu seolah memaksanya untuk kembali bersuara. Yah, sekalipun dengan tersendat-sendat.
Hwi-ya ... apa kau tau bagaimana perasaanku saat aku mendengar penuturan jujur darimu saat itu? Perih! Aku juga ingin mena—menangis saat melihatmu seperti itu. Aku ingin memelukmu dan berkata maaf. Bahkan Jung Ae! Wanita bayaranku itu menitikan air matanya seraya berlutut dihadapanmu.
“Hwi Eonni Mianhae, aku benar-benar minta maaf. Aku juga seorang wanita, aku tau betapa sakitnya ketika orang yang kita cintai mengkhianati kita. Eonni, terimalah maafku ini. Kau wanita yang baik, bagaimana mungkin wanita hina semacamku dapat dengan teganya menyiksamu. Tidak, aku tidak akan menikah dengan Kyuhyun Oppa. Aku tidak bisa! Sungguh, kau wanita yang benar-benar hebat. Kau telah dengan baiknya menerimaku tanpa tatapan dendam padaku. Kau mengajarkan dan memberitauku tentang Kyuhyun Oppa. Tak ada wanita yang akan dapat dengan mudahnya melakukan itu selain dirimu Eonni. Tolong, maafkan aku!”
Setelah itu, aku dan Jung Ae benar-benar tak jadi menikah. Ada satu sisi dimana aku sangat bahagia menyadari hal itu. Aku bahagia Hiu hwi-ya, sangat bahagia. Untuk kali ini, aku tak menambah luka batinmu. Kau memaafkanku hanya dengan satu detik. Bayangkan, hanya satu detik dari hitungan tahun berlalu aku menyakitimu. Betapa kau wanita luar biasa yang telah membantuku keluar dari jurang kehancuran. Saat itu, aku berjanji, aku akan menjaga dan tak akan mengulangi kesalahan yang pernah kuperbuat padamu.
Beberapa sahabatku memang benar. Mereka sempat mengatakan, jika aku adalah pria yang beruntung mendapatkan gadis yang sangat sabar sepertimu, yang sangat mencintaiku dengan tulus, yang dapat bertahan disisiku dengan hebatnya. Kau tau sayang? Cintaku kembali bersinar saat kau dengan cantiknya menggapai tanganku kembali untuk memulai lembaran yang baru. Tak terlalu sulit untuk jatuh cinta padamu lagi. Kegigihan dan semangatmu membuatku kembali mengerti bagaimana caranya tersenyum dengan tulus pada orang lain. Kau menggenggam tanganku, mengajariku banyak hal tentang kehidupan, mengajariku kebahagiaan yang tak pernah kulihat selama ini.
Perlahan-lahan kau membuat Rumah tangga kita kembali seperti dulu. Kau benar-benar melakukannya. Untuk itulah, aku juga berusaha dengan keras untuk berubah. Tak ada wanita sepertimu yang pernah mengajariku bagaimana untuk memberi tanpa harus meminta, bagaimana caranya untuk hidup dengan tenang dijalan yang maha kuasa. Kau mengajariku hal-hal yang jarang dan bahkan hanya beberapa kali kulakukan dalam hidupku dulu. Kau tau Hiu hwi? Apa yang pernah kau ajarkan padaku, dan tak bisa aku lupakan sampai sekarang? Kau mengajarkanku bagaimana untuk berdoa dan—dan—
Gyu Yong lagi-lagi menghentikan kalimatnya karna tersendat air matanya yang mengalir deras saat ini. Tangan kanannya teralih untuk terangkat menutup kedua daun bibirnya agar tak terlalu keras menangis didepan Mic yang mampu didengar oleh semua orang itu.
“Eunghh ... eonghhh....” Kyuhyun mulai bersuara seraya berusaha untuk mengangkat tangannya menyentuh ujung baju Yong. Kyuhyun juga menangis! Melalui balutan air mata dan mata merahnya itu, bulir-bulir air bening mengalir dan berjalan turun melewati kerutan kedua pipinya. Jika saja Kyuhyun diberi satu kali kesempatan untuk berbicara satu kata, mungkin ia hanya akan mengatakan ini ...
‘Maaf....’
Gyu Yong tak memutar tubuhnya untuk menatapi sang Ayah saat ini. Tidak, ia belum dapat menoleh dengan kedua mata merah seperti sekarang. Jujur saja, ini kali pertamanya ia menangis dihadapan semua orang. Sakit! Ia seolah juga merasakan tusukan tajam yang diterima sang Ibu ketika membaca kalimat per kalimat dari gulungan kertas itu. Tampak sang penyiar radio wanita itu merunduk, ikut menangis menatapi Yong dan sosok pria tua dihadapannya itu tengah menitikan air mata mereka bersama. Untuk beberapa detik, Yong terlihat berusaha untuk mengambil nafas panjang dan akhirnya mulai membaca lagi.
Kau mengajarkanku bagaimana untuk berdoa dan beribadah Hwi-ya. Itulah hal yang membuatku tak bisa melupakannya. Kau seolah memperkenalkanku dengan Tuhan, menyadarkan diri jika masih ada sang Maha Pencipta yang akan menemaniku. Itu kali pertama aku menangis dan bersujud dengan kerendahan hatiku. Aku sadar ... selama ini aku mencari kebahagian yang bukan kebahagian abadi. Aku berkelana mencari kebahagian itu tanpa sadar jika ternyata kebahagiaan itu sendiri berada disampingku. Kau dan Gyu Yong, kalianlah sumber senyum dan air mataku.
Sebenarnya bukan hanya kata maaf yang ingin kukatakan padamu disini, tapi juga kata ... terima kasih. Entah apa jadinya aku tanpamu Cho Hiu hwi. Terima kasih telah berjuang dan tetap berada untuk merangkulku. Terima kasih atas semua pengabdianmu sebagai istriku, menghormatiku sebagai suamimu. Terima kasih ... terima kasih untuk semua apa yang telah kau korbankan, perjuangkan, dan kau pertahankan untukku. Aku mencintaimu istriku, aku sangat mencintaimu. Sekarang dan untuk selamanya, aku akan berusaha untuk tetap berada disampingmu tanpa menorehkan lagi luka itu. Aku berjanji akan menjagamu sesuai sumpah yang kukatakan sendiri saat kita menikah. Jika saja aku dapat mengorbankan satu hembusan nafasku untuk manambah umurmu, aku akan melakukannya. Kau harus hidup lebih panjang dan merasakan lebih banyak kebahagiaan.
Kau tau sayang? Dulu kau yang takut kehilanganku, tapi sekarang ... akulah yang takut kehilanganmu. Aku tak tau apa lagi yang harus aku katakan padamu. Maaf, terima kasih, dan aku mencintaimu. Mungkin hanya itu yang dapat kukatakan sekarang.
Dan untuk Gyu Yong..., maafkan Appa sayang. Sejak kecil, kau telah kehilangan banyak kasih sayang dan perhatian karna Appa. Appa sangat senang, kau dapat tumbuh dan mewarisi sifat rendah hati dan budi luhur dari Ibu-mu. Kelak, jika Appa tak ada, tolong bantu Appa menjaga Ibu-mu, buatlah dia bahagia semampu yang kau bisa. Hanya satu pinta Appa pada Tuhan sekarang ... kalian.
Sudah, sepertinya Appa sudah terlalu banyak bercerita disini. Tangan Appa sudah sakit menulisnya. Mungkin, sebentar lagi Appa tak dapat menulis seperti ini lagi. Tidak apa-apa. Sekalipun kelak Appa tak bisa lagi berbicara, tak bisa lagi mendengar, tak bisa lagi berjalan dan bergerak, asal ada kalian disamping Appa, semuanya akan terasa sempurna. Saranghae Hiu hwi, jeongmal saranghae. Aku ingin berteriak ini padamu sekarang. Tidak, aku akan berteriak ini setelah kau selesai membaca semua ini. Kau sangat cantik sayang, kau wanita tercantik di dunia ini.
Terus tersenyum dan berbahagialah Cho Hiu hwi. Kumohon....
FROM : CHO KYUHYUN
Gyu Yong tampak menghela nafas panjangnya tatkala selesai membaca semua isi yang terdapat didalam gulungan kertas itu. Ada perasaan lega yang luar biasa setelah membacanya, entah karna apa itu. Namja tampan ini tampak mengangkat kedua tangannya dan menghapus jejak air mata yang telah membuat matanya memerah itu.
“Eomma ... apa Eomma masih mendengarkan kami disini? Apa Eomma baik-baik saja? Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada Eomma yang seharusnya disampaikan Appa sekarang. Sebenarnya, dari semenjak seminggu yang lalu, Appa memintaku untuk membaca surat ini padamu. Eomma, sesungguhnya Appa sama sekali tidak lupa akan hari ini. Dia ingat, sangat ingat jika hari ini adalah hari perayaan pernikahan kalian. Untuk itulah, aku membantu Appa untuk menyiapkan ini sebagai kado untuk Eomma. Sebagai seorang anak, betapa aku sangat merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang tiada tara kepada kalian. Maaf Eomma, Appa ... mungkin sampai sekarang aku tak dapat membalas apapun yang telah kalian berikan padaku. Terima kasih telah bertemu dan jatuh cinta, terima kasih telah menikah, dan terima kasih telah mengizinkanku lahir ke dunia ini. Selamat hari perayaan pernikahan kalian Appa-Eomma. Aku berharap dapat seperti kalian kelak. Aku—aku sangat mencintai kalian. Bolehkah aku meminta satu hal lagi? Tolong ... tolong tetaplah disisiku, tetaplah berada disampingku. Jangan pergi kemanapun, jangan meninggalkan Yong.”
Gyu Yong tampak kembali merunduk dan menitikan air matanya. Kyuhyun menggeser kursi rodanya perlahan, berusaha untuk menyentuh punggung sang anak lelakinya itu.
“Oeonghh ... Oeonghh....” Erang Kyuhyun, membuat Gyu Yong sentak menoleh perlahan-lahan.
“Mmmmmaa ... maffftthh....” Kyuhyun sepertinya tengah berusaha untuk bersuara lagi. Gyu Yong semakin merunduk, ia mengerti apa yang tengah Appa-nya itu ingin lontarkan. Maaf!
“Appa....” Balas Yong seraya sontak saja turun dari kursinya itu, lalu berjongkok tepat dihadapan Kyuhyun. Yong memeluk Appa-nya dengan getaran tubuhnya yang hebat. Kyuhyun menangis! Betapa ia sangat bahagia saat ini, sangat bahagia. Kyuhyun merasakan tangan Yong menggenggam tangannya seraya memeluknya dengan erat.
‘Maafkan Appa Yong, maafkan Appa’
Gumam Kyuhyun seraya tersenyum dalam balutan tangisnya yang pecah. Semua yang berada di Studio ini pun sentak berdiri, bertepuk tangan menatapi pemandangan Ayah dan anak yang sangat mengharukan ini. Bukan hanya didalam Radio ini saja, tapi juga para orang-orang yang mendengarkan isi gulungan kertas itu sejak tadi. Beberapa deringan telpon berbunyi di Radio ini, seolah banyak orang yang ingin mengucapkan kata-kata haru mereka secara langsung.
Sedangkan Hiu hwi? Baiklah, wanita tua itu terlihat terduduk dilantai seraya menangis dengan memeluk radio kecil yang tadi ia dengari itu. Tak ada perasaan terluka lagi seperti beberapa tahun lalu yang ia tampakkan, semuanya terasa sangat membahagiakan. Betapa inginnya ia segera memeluk Yong dan Kyuhyun saat ini. Ia sungguh tak perduli lagi akan penderitaannya dulu, yang terpenting untuknya sekarang hanyalah ... kebahagiaannya dimasa sekarang. Kata memaafkan itu bahkan sudah ia lakukan sebelum Kyuhyun meminta maaf padanya.
‘Karna aku mencintaimu, Cho Kyuhyun....’
***
‘Cinta sejati adalah...
Ketika hatimu dan pikiranmu mengatakan hal yang sama’
@Kyu-Hwi Home’s
Hiu hwi sentak saja beranjak dari tempatnya saat ia merasakan pintu utama rumahnya terbuka. Senyum simpul terlihat dikerutan wajah tuanya itu. Sungguh, ia tak sabar lagi bertemu dengan anak dan suaminya itu. Sejak tadi, pekerjaan utamanya hanyalah menunggu Yong dan Kyuhyun kembali.
“Kami pulang,” sapa Yong bersuara seraya mendorong kursi roda Kyuhyun untuk masuk. Kaki Hiu hwi tercekat dititik ini. Dapat ia sadari kedua matanya kembali berkaca-kaca menatapi Kyuhyun yang juga tengah menatapinya sekarang. Setitik rasa tercipta kembali dihati keduanya. Benar, hanya saling menatap seperti ini saja, mereka seolah sudah dapat berkata satu sama lain.
‘Kyuhyun Oppa....’
Batin Hiu hwi berdendang menyebut nama itu. Perlahan-lahan,ia langkahkan kakinya berjalan menghampiri Kyuhyun. Pandangan mereka tak pernah lepas, membuat Yong tersenyum menyadarinya.
‘Hiu hwi-ya....’
Kyuhyun berusaha untuk menampakkan senyum diwajahnya. Sebuah senyuman yang mampu membuat Hiu hwi seketika menitikan air matanya. Cantik! Kyuhyun berani bertaruh, jika Hiu hwi memang sangat cantik dari apapun. Saat wanitanya itu berjalan ke arahnya sekarang, yang ada dipikiran Kyuhyun adalah wujud muda dari Hiu hwi beberapa puluh tahun silam. Begitu anggun dan sangat mempesona!
“Oppa....” Ucap Hiu hwi sembari dengan cepat memeluk Kyuhyun, menyandarkan kepalanya dibahu namja itu.
“Unghh....” Kyuhyun membalas ucapannya dengan erangan itu. Menggerakkan kembali kedua tangannya untuk berusaha membalas pelukan Hiu hwi. Sungguh, ia ingin sekali melakukannya.
“Eonghh ... aaahhh ... ku ... mmeemmmhh ... memmmhcin ... ccintaimu ... Hhhhhwi .... hhhwi-ya....” Kyuhyun sentak bersuara lagi! Dan kali ini dengan kalimat yang—
“Oppa.” Hiu hwi tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dan menatap Kyuhyun dengan tak percaya. Ia benar-benar berharap, jika tadi ia tak salah dengar. Kyuhyun ... namja itu mengatakan mencintainya. Itu hal yang benar-benar luar biasa. Sesuatu hal yang sempat dijanjikan Kyuhyun di akhir gulungan kertas itu tadi.
“Oppa.”
“Hhhhhhwi ... wi-ya....”
***
Bagi seorang anak, tak ada yang dapat lebih membahagiakan lagi ketimbang menatapi kedua orang tua mereka bahagia. Seperti sosok Yong sekarang, namja itu beserta sang Istri dan anak-anaknya tengah berdiri untuk mengintip sebuah meja yang berada didepan teras samping sebuah Restoran yang terdapat dijarak dekat rumah mereka. Terlihat banyak pengunjung berusia muda yang saling memadu kasih ditempat ini, hal biasa. Namun, ada sebuah meja yang malah membuat tempat ini menjadi terlihat luar biasa. Meja yang ditempati pasangan tua yang saling duduk berhadapan dengan saling menatap satu sama lain. Kedua tangan mereka bertautan, seolah mengikis semua penderitaan yang terjadi di dunia ini. Kyuhyun dan Hiu hwi ... inilah kedua orang tua yang menjadi sorotan mata para pengunjung ditempat ini. Tanpa berbicara, mereka bahkan dapat mengutarakan bagaimana itu cinta.
Yah, karna cinta tak berasal dari ucapan semata, tapi dari sebuah rasa yang ada. Memaafkan hal yang biasa, tapi sulit untuk dilakukan dengan tulus. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, setiap detiknya menyimpan sebuah kenangan yang mungkin akan kita rindukan kelak. Untuk itu, tak perduli kita hidup sampai seribu tahun sekalipun, akan terasa percuma jika orang-orang yang kita cintai tak ada lagi disamping kita. Peluklah, lafalkanlah ... jika kalian benar-benar mencintai orang itu, karna waktu tak akan menunggu.
=THE END=
Kyuhyun tampak merenggangkan pelukannya dari Hiu hwi, kembali merubah posisi untuk memeluk tubuh wanita itu dengan erat diatas ranjang empuk ini. Terdengar bunyi rintik gerimis diluar, membuat Hiu hwi dengan cepat menaikkan kembali selimut tebal yang menutupi tubuh mereka bersama. Ruang kamar ini tak terlalu luas memang, tapi terasa begitu nyaman bagi keduanya.
“Tihhhh ... durhlahh....” Hiu hwi mengangguk mendengar ucapan bisikan Kyuhyun tepat ditelinganya. Wanita itu tersenyum, menyadari betapa adil dan baiknya Tuhan memberikan akhir hidupnya seperti ini. Hiu hwi sadar, jika tak ada air mata yang sia-sia untuk dikeluarkan.
“Evil Cho, juga tidur.” Kyuhyun tiba-tiba tersenyum saat mendengar panggilan sayang dari Hiu hwi saat ini. Sebuah panggilan yang sempat wanita itu berikan padanya disaat mereka masih menjadi sepasang kekasih dulu. Bukan hanya uang, kedudukan dan mempunyai banyak harta untuk dibanggakan kelak, tapi cinta dan kasih suci.
Karna cinta kami sederhana ... tak perlu dengan menguasai bumi, tak perlu dengan membelah langit, tak perlu mengerti rumus yang rumit, tak perlu memasuki dunia fantasy, tak perlu dengan membelah samudera, tak perlu mengambil bintang, dan bahkan tak perlu menggenggam rembulan.
Cinta kami sederhana ... yang hanya membutuhkan sebuah kejujuran, ketulusan, pengorbanan, dan kepercayaan. Karna kami saling mencintai dan bukannya untuk saling menguasai.
=FIN=
Percayalah, tak ada yang tidak memiliki alasan di dunia ini. Termasuk dengan alasan mengapa Tuhan selalu memberikan setiap manusia sebuah masalah hidup. Hanya tinggal bagaimana manusia itu sendiri menghadapinya. Bertahan ataukah menyerah. Ada senyuman untuk menemani air mata, dan ada kesakitan untuk menemani kebahagiaan. Sungguh, bahagia itu sebenarnya begitu mudah.
Thank You For READ My Simple Story. Sejujurnya, ini FF spesial untuk Ultah Appa-ku pada tanggal 14 Juli kemarin. Entah kenapa tiba-tiba aja punya ide bikin yg beginian =_=. Jujur ya, tentang isi dalam gulungan kertas yang aku ceritakan diatas itu, sebenernya... ide itu secara garis besar emank pernah terjadi dalam kehidupan kedua orang tua ku. Merekalah yang selama ini menjadi inspirasi terbesar untukku, mengajarkanku banyak hal, terutama Ibu-ku. Beliau wanita yang paling kuat dari siapapun, wanita yang paling sabar menghadapi tingkah Appa. Ketika ditanya apa cita-citaku? Sejak SMP aku akan mengatakan kepada semua orang, jika cita-citaku ingin menjadi seorang Ibu. Ibu seperti Ibu-ku. Beliau hebat melebihi Superman yang dapat terbang, beliau hebat melebihi Wonder woman yang pernah ku tonton. Beliau wanita yang spesial! Mom, aku mencintaimu. Entah bagaimana kelak jadinya aku tanpamu. Membayangkannya pun sulit.
Terima kasih telah hidup, terima kasih telah melahirkanku dengan segenap tangis dan jerit kesakitanmu. Ayah... aku juga berterima kasih padamu. Kaulah yang telah mendidikku dengan keras, hingga aku menjadi gadis seperti ini. Kalianlah satu-satunya alasanku untuk tidak berputus asa, untuk kuat dalam keadaanku yang dulu benar-benar merasa berada diujung nyawa. Aku tak bisa membalas apapun untuk kalian. Setiap ibadah dan doaku tak pernah tinggal nama kalian. Tolong ... ampuni aku, dan temani aku sampai akhir kelak. Jangan pergi kemana-mana Appa, eomma.... tetaplah disini, bersamaku. Aku mencintai kalian, aku sangat mencintai kalian lebih dari nyawaku sendiri.
Terima kasih!

My Mom and My Dad
Can beautiful sleep now....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar