
Title : Bloody Kiss
Author : NtaKyung
Casts : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Kim Ryeowook, And Shim Miyoung
Length : Series [On Writing]
Genre : AU(Alternate Universe), Fantasy, Humor, Romance, Unrated
Rating : NC-17
Disclaimer : Seluruh casts dalam ff ini adalah milik Tuhan, Orang Tua dan Mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini seluruhnya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art : By NtaKyung aka Saya sendiri!
Summary : Shim Miyoung, Seorang gadis berusia 18 tahun yang hidup sebatang kara. Dia bekerja siang dan malam demi melunasi hutang-hutang kedua orang tuanya yang sekarang ntah di mana keberadaannya. Hingga suatu hari, Para penagih hutang datang tapi ia tidak memiliki uang untuk membayarnya. Para penagih hutang pun memaksa dirinya agar ikut dengan mereka dan menjadikannya sebagai gadis malam!! Mengetahui hal itu, Miyoung pun memberontak dan berencana untuk kabur, Tapi tiba-tiba saja seorang pria tampan muncul dan berkata akan memberikan mereka uang, Asal mereka mau melepaskan Miyoung.
Merasa tak mengenal pria ini, Miyoung akhirnya menanyakan kenapa ia menolangnya? Namun ia hanya tersenyum padanya lalu berkata, “Kau adalah pengantinku! Dan kita akan kembali bertemu saat waktunya tiba!” Kemudian dia pun menciumnya dan pergi begitu saja. Miyoung hanya membatu di tempatnya sambil berfikir, “Siapa dia sebenarnya?!”
-Bloody Kiss-
Prang!!Vas bunga kesayangan Miyoung pecah begitu saja di hadapannya saat para penagih hutang itu datang dan mengobrak-abrik seluruh isi dalam rumahnya.
“YA!! Apa yang kau lakukan?! Sudah kukatakan berikan aku waktu sampai akhir bulan ini!! Dan aku akan membayar hutang-hutang itu!” Kesal Miyoung karena rumahnya di buat berantakan.
Greb!!
Salah satu dari penagih hutang itu mencengkram dagu Miyoung dengan tangannya. “Kau akan membayarnya dengan apa, Huh?! Bahkan kau bekerja siang dan malam pun kau belum tentu bisa melunasi hutang-hutang kedua orang tuamu!!”
“Kau lihat saja nanti! Aku pasti akan membayarnya, Jadi berikan aku waktu lagi!” Pinta Miyoung mencoba meyakinkannya.
“Cih!! Tidak akan!” Sahut pria itu dengan wajahnya yang sangar, Ia lantas memperhatikan wajah serta tubuh Miyoung dengan seksama. “Hm… Lumayan juga!”
Sadar dengan tatapan ‘mesum’ pria itu, Miyoung segera mendorong tubuhnya dan menjauh dari pria tersebut.
“Apa yang kau lihat, Huh?! Dasar otak mesum!!”
“Tidak perlu banyak bicara lagi, Kau sekarang juga ikut dengan kami!”
“Apa?!”
“Cepat bawa dia!” Suruh pria itu pada pengikutnya.
“Baik tuan!” Sahut kedua pengikutnya itu seraya menghampiri Miyoung lantas menarik tubuhnya dengan cengkraman yang begitu kuat.
“Tidak!! Lepaskan! Untuk apa aku ikut dengan kalian?!” Teriak Miyoung panik.
Pria itu berbalik padanya sebelum masuk ke dalam mobilnya, Kemudian menyeringai kecil pada Miyoung seakan menyiratkan sesuatu yang terkesan licik.
“Kau… Akan kami jadikan gadis malam di club kami! Karena kau tidak membayar hutang-hutang orang tuamu dengan uang, Maka kau membayarnya dengan tubuhmu!! Cukup adil bukan?”
“MWORAGO?!” Jerit Miyoung. “Tidak!! Aku tidak mau!! Lepaskan aku!!” Miyoung terus saja memberontak dengan sekuat tenaga.
“Bawa dia ke dalam mobil!” Suruh pria itu sambil menggedikan kepalanya.
“Ya, Tuan…”
“YA!! Lepaskan aku!! Lepaskan aku!!!”
Tin… Tin… Tin…
Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di hadapan mereka, Membuat mereka sedikit terkejut dengan kehadirannya karena mobil tersebut melaju dengan sangat cepat.
“Apa ini?! Berani-beraninya dia parkir mobil di hadapanku!!” Seru pria itu geram.
Seorang pria berparas tampan dengan mengenakan kaca mata hitam dan pakaian yang serba berwarna hitam turun dari dalam mobil itu.
“Siapa kau?! Kenapa kau memarkirkan mobilmu di hadapan kami, Huh?! Kau tidak tahu jika aku ini adalah seorang lintah darat yang terkenal di wilayah ini!!” Sentaknya dengan keras.
Pria itu tersenyum tipis, Kemudian ia pun menjentikkan jarinya dan di saat itu juga seorang pria lainnya muncul dari dalam mobil itu dengan membawa dua koper besar.
“Lepaskan gadis itu!” Ujar pria itu dengan kalem.
“Apa katamu?! Lepaskan dia?! CIH! Enak saja! Gadis ini telah berhutang besar padaku!! Jangan harap dia bisa lepas dari tanganku!”
“Jika aku memberikan uang yang besar untukmu bahkan melebihi hutang gadis ini, Apa kau masih tetap menginginkan gadis itu?”
“Apa?” Pria itu mengerutkan keningnya, Menatap heran pada pria tampan ini.
Pria itu lantas memberikan aba-aba pada pria yang membawa koper itu, Mengerti dengan hal itu pria itu membuka koper itu dengan segera yang ternyata isinya adalah uang!!
Kedua mata pria penagih hutang itu membulat saat melihat uang yang begitu banyak ada di hadapannya. “U-u-uang itu…” Ujarnya terbata.
“Aku akan memberikan uang ini sebagai imbalannya, Asalkan kau lepaskan gadis itu! Apakah kau tertarik tuan?” Ujar pria itu kemudian.
Untuk beberapa saat sang penagih hutang itu hanya terdiam, Ia menatap sekilas pada Miyoung lalu berganti pada koper uang yang sudah kembali tertutup itu. “Lepaskan dia!” Suruhnya pada pengikutnya yang masih saja memegangi Miyoung.
“Baik tuan!” Sahut mereka yang kemudian melepaskan Miyoung dan mendorong tubuh Miyoung pada pria tampan itu.
“Ahk!!” Teriak Miyoung saat mereka mendorongnya.
Sret!
Sang pria tampan itu lantas merangkul tubuh Miyoung dengan erat dan kedua mata merekapun saling bertemu, Ia pun kemudian tersenyum padanya. “I got u, My bride!” Bisiknya.
“Eh?!” Kedua mata Miyoung membulat begitu menyadari ucapan pria tersebut.
“Sekarang berikan uang itu padaku!!” Sentak pria penagih hutang dengan suaranya yang keras.
“Kibum-ah, Berikan uang itu padanya!” Suruh pria itu kemudian.
Pria yang di panggil Kibum pun memberikan koper itu pada para penagih hutang. “Ini, Sekarang kalian pergilah dari sini!!” Ujarnya dengan nada dingin.
“Tentu, Untuk apalagi kami berada di sini! Kami tak ada urusan lagi dengannya!” Dan setelah itu pun, Mobil yang di bawa para penagih hutang tersebut mulai melaju pergi dari kawasan rumah Miyoung.
Merasa tak nyaman dengan posisinya sekarang, Miyoung pun segera melepaskan pelukan pria ini. “Siapa kalian? Kenapa kalian menolongku?” Tanya Miyoung kemudian.
Pria itu tak menjawab, Dia hanya tersenyum tipis padanya sambil memandang lekat setiap lekuk wajah Miyoung. Tangannya menyentuh lembut rambut Miyoung, Dan tiba-tiba saja ia menghirup aroma dari setiap helai rambut Miyoung.
Blush!!
“A-apa yang kau lakukan?!” Kaget Miyoung seraya menjauhkan dirinya dari pria itu.
Melihat hal itu, Pria bernama lengkap Kim Kibum itu hanya menghela nafas panjang lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya. “Ya! Lee Donghae, Kita harus segera pulang sekarang!” Serunya.
“Eoh? Baiklah! Tunggu sebentar, Kibum-ah…” Sahut sang lelaki yang bernama Lee Donghae itu.
Ia kembali menoleh pada Miyoung, “Kau adalah pengantinku! Dan kita akan kembali bertemu saat waktunya tiba!” Bisiknya.
Miyoung mengerutkan keningnya, “A-apa?!” Bingungnya, Tak mengerti dengan maksud ucapan pria di hadapannya ini.
Tiba-tiba saja, Donghae merengkuh dagu Miyoung lalu mendaratkan satu kecupan lembut di bibir Miyoung. Kedua mata Miyoung membulat dalam seketika, Dan di saat Donghae melepaskan ciumannya, Ia pun berbisik pada Miyoung.
“I’ll be waiting you, My bride!”
“Lee Donghae, Cepatlah!” Teriak Kibum lagi.
“Ahh… Ne…” Sahut Donghae yang kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Miyoung lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya dan mobil itu pun mulai melaju meninggalkan tempat ini.
Sedangkan Miyoung? Jangan ditanya! Gadis ini sejak tadi hanya dapat mematung tanpa melakukan apapun. “A-apaan dia? Kenapa… Kenapa dia menciumku?!” Pikirnya dan tangannya pun meraba pelan bibirnya, Sungguh ia masih dapat merasakan manisnya ciuman pria itu.
-Bloody Kiss-
Cling!!Miyoung masuk ke sebuah café yang berada tak jauh dari rumahnya, Ia menelusuri seluruh sudut dari ruangan café ini. Dan ia tersenyum kecil saat mendapati sosok yang sedang di carinya.
“Eunhyuk-ah!” Serunya seraya berjalan menghampiri seorang pria yang tengah duduk dengan santai sambil menikmati pesanannya.
“Mau pesan apa?” Tanya Lee Hyukjae atau lebih sering di sapa Eunhyuk. Dia merupakan Sunbae Miyoung saat di SMA, Dan mereka menjadi cukup dekat hingga seperti adik dan kakak kandung.
“Tidak usah, Aku sudah sarapan di rumah tadi…” Jawab Miyoung kemudian.
“Hm, Lalu… Ada perlu apa kau mengajakku keluar sepagi ini?” Heran Eunhyuk.
“Ah yah… Tunggu sebentar!” Miyoung merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebuah cek yang kemudian di berikannya pada Eunhyuk. “Ini… Aku mengembalikannya…”
“Eh?! Bukankah kau membutuhkannya? Kenapa mengembalikannya padaku?!”
Miyoung menggeleng singkat sambil tersenyum tipis, “Aku tidak membutuhkan uang ini lagi sekarang. Kemarin aku dapat sebuah keajaiban…” Jawabnya.
“Huh?” Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya. “Apa maksudmu dengan keajaiban, Miyoung-ah?”
“Yah… Kemarin, Seseorang datang dan membayarkan hutang-hutangku…”
“Apa?! Benarkah? Siapa orang itu??” Tanya Eunhyuk penasaran.
“Ntahlah…” Miyoung menaikkan kedua bahunya, “Aku tidak mengenalnya…”
“Apa?! Kau tidak mengenalnya, Tapi dia membayarkan hutang-hutangmu begitu saja?!” Kaget Eunhyuk tak percaya dengan ucapan Miyoung.
“Yah, Begitulah…” Miyoung mengangguk singkat, Dan tiba-tiba saja ia teringat akan ucapan Donghae padanya kemarin.
“Miyoung-ah…” Eunhyuk menjentikkan jarinya di hadapan Miyoung karena sejak tadi gadis ini terlalu larut dalam pikirannya.
“Eoh, Ya?” Jawab Miyoung tersadar dari lamunannya.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Huh? Ah, Aku baik-baik saja..” Sahutnya sambil tersenyum enggan, “Err.. Eunhyuk-ah. Sepertinya aku harus pergi sekarang…” Ujar Miyoung seraya merapihkan jaket kulit yang di kenakannya lalu menyelendangkan tas berwarna ungu muda seperti warna kesukaannya.
“Eh? Memangnya mau kemana?” Tanya Eunhyuk kemudian.
“Tentu saja mencari pekerjaan, Kau tahu kan karena harus melunasi hutang-hutangku pada para penagih hutang itu, Aku terpaksa keluar dari restoran tempatku bekerja dan mengambil gajiku yang terakhir…” Jelas Miyoung.
“Ooh…” Eunhyuk mengangguk singkat.
“Baiklah, Kalau begitu aku pergi dulu. Bye..” Pamit Miyoung seraya beranjak dari duduknya. Eunhyuk terdiam sesaat. Namun ia kemudian menghela nafas panjang dan akhirnya ia beranjak dari duduknya untuk mengejar Miyoung yang baru saja keluar dari café ini.
“Miyoung-ah!” Panggil Eunhyuk saat Miyoung hendak pergi.
Miyoung berbalik padanya, “Ada apa, Eunhyuk-ah?” Tanya Miyoung heran.
“Err.. Itu… Sebenarnya, Aku… Aku memiliki satu lowongan pekerjaan yang gajinya cukup besar. Apakah kau tertarik?” Ujar Eunhyuk terlihat sedikit ragu.
Kedua mata Miyoung membulat dan senyum lebar langsung terkembang di wajahnya. “Kau tidak sedang bercanda denganku kan?”
“Tidak… Aku serius. Tapi kerjaan ini… Sedikit… Err… Berat!”
“Ahh, Itu tidak masalah!! Asalkan gajinya bisa memenuhi kebutuhanku sehari-hari, Aku pasti mau!! Memangnya kerjaan apa itu?” Ujar Miyoung antusias.
“Menjadi seorang pelayan di sebuah Mansion yang besar.. Yah, Tapi… Sebenarnya, Bukan itu yang kumaksud dengan kerjaannya yang berat itu…”
“Aku mau!!” Sela Miyoung cepat tanpa mendengarkan ucapan Eunhyuk terlebih dulu.
“Ahh… Benarkah?” Ujar Eunhyuk tersenyum kecut, Seakan tak suka dengan jawaban Miyoung ini.
“Ehm!” Miyoung mengangguk cepat, “Berikan alamat mansion itu! Jadi, Besok aku bisa datang ke tempat itu. Bukankah lebih cepat, Lebih baik?”Ujar Miyoung semangat.
“Hm, Baiklah… Tunggu sebentar!” Ujar Eunhyuk seraya mengeluarkan sebuah kartu nama lalu ia pun memberikannya pada Miyoung. “Besok saat jam makan siang datanglah ke alamat ini…”
“Ehmm!! Aku pasti tidak akan terlambat!” Miyoung terlihat senang saat mendapatkan kartu nama itu. “Terima kasih, Eunhyuk-ah. Aku tahu kau orang yang baik…” Riang Miyoung seraya memeluk Eunhyuk singkat.
“Yah, Tentu…” Jawab Eunhyuk tak seantusias Miyoung.
“Kalau begitu aku pulang dulu sekarang, Bye…” Pamit Miyoung yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Eunhyuk.
Eunhyuk terdiam, Menatap punggung Miyoung yang semakin menjauh dari posisinya sekarang. Ia pun menghela nafas panjang.
“Cihh… Baik apanya?!! Menjerumuskanmu pada lelaki sepertinya apa bisa di sebut dengan orang baik?!” Celoteh Eunhyuk sambil meletakkan kedua tangannya pada saku celananya.
“Berhenti menggerutu seperti itu, Eunhyuk-ah! Ini semua permintaan Donghae, Kita tidak mungkin menolaknya kan…” Ujar seorang pria yang tiba-tiba saja muncul.
“Ahh… Aku membenci anak itu jika sudah bersikap seenaknya seperti ini! Jika saja Lee Donghae itu bukanlah adik kita, Aku mungkin akan mencekiknya sekarang juga!” Ujar Eunhyuk kesal.
Pria itu terkekeh kecil saat mendengar celotehan adik pertamanya itu, “Aku tahu kau tidak akan bisa melakukannya, Eunhyuk-ah…” Ujarnya kemudian.
“Kenapa tidak bisa?!” Jawab Eunhyuk dengan sinis.
“Karena kau begitu menyayanginya, Lee Hyukjae!! Sudahlah… Jangan bersikap seperti kau ini membencinya, Jelas-jelas kau yang mempertemukan Donghae dan Miyoung sebelumnya, Kenapa sekarang kau yang marah-marah?”
Eunhyuk terdiam, Dia membetulkan ucapan pria yang tak lain adalah kakak pertamanya ini, Lee Sungmin. “Itu karena… Haish!! Pokoknya aku tidak bisa memberikan Miyoung pada seseorang yang pervert seperti Lee Donghae!” Jawab Eunhyuk kemudian.
“Hah, Sudahlah… Tidak ada gunanya lagi menggerutu seperti sekarang ini. Kecuali… Kau marah seperti sekarang ini, Karena sebenarnya… Kau memiliki perasaan khusus pada gadis itu!” Goda Sungmin.
“Apa?! Mustahil! Aku tidak mungkin menyukai gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku, Lee Sungmin!” Jawab Eunhyuk cepat, “Ahh.. Sudahlah, Ayo kita pulang saja!” Ajaknya.
“Hahaha, Aku tahu itu. Kau tak perlu segugup itu…” Tawa Sungmin merasa puas telah menggoda adiknya itu. Dan kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah yang di bawa Eunhyuk itu.
-Bloody Kiss-
Wush!!Angin berhembus pelan, Perlahan jendela kamar Miyoung terbuka. Sebuah bayangan berwarna hitam pekat masuk ke dalam ruangan itu, Dan sedikit demi sedikit bayangan itu berubah menjadi sesosok pria yang tak lain adalah, Lee Donghae.
Donghae mendekati Miyoung yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya, Matanya menatap lekat pada Miyoung. Ia menelusuri setiap lekuk tubuh Miyoung dengan matanya yang berwarna ungu tua yang terlihat kosong, Serta jari-jari tangannya pun memiliki kuku hitam yang panjang.
“Ehmm…” Miyoung menggeliat pelan, Wajahnya nampak gelisah sepertinya ia mengalami mimpi buruk saat ini.
“Kau terlihat begitu menawan malam ini, Shim Miyoung-ssi…” Bisik Donghae seraya membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Miyoung.
Satu kecupan lembut nan manis mendarat tepat di bibir tipis milik Miyoung. Semakin lama ciuman Donghae berubah menjadi lumatan kecil dan mulai menelisikkan lidahnya ke dalam rongga mulut Miyoung.
“Enghhh…” Lenguhan kecil milik sang gadis mulai terdengar dan di saat itu juga ia segera membuka kedua matanya.
Deg!!
Kedua mata Miyoung seketika melebar saat dia sadar seseorang tengah mencium dirinya dengan sangat intim dan bahkan tubuh orang itu telah setengahnya menindih dirinya.
“Emnhh!!!”
Miyoung mencoba mendorong tubuh lelaki itu, Memukulnya dengan kepalan tangannya dan menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya untuk menolak ciuman yang semakin terasa mendalam itu.
Sret!
Tangan Donghae meraih kedua tangannya yang sedari tadi terus memukuli tubuhnya, Lalu ia pun mulai berpindah dari bibirnya kemudian menyerang bagian lehernya yang terekspos dengan sempurna.
“Uhnn!! Engh!! Hentikan! Siapa k-kau?!”
Donghae tak menggubris ucapannya, Ia terus menelusuri bagian leher serta pundak Miyoung dengan gerakan lidahnya yang begitu lihai. Tak jarang ia meninggalkan tanda kiss mark serta menggigit perlahan hingga terkadang tanda kemerahan itu terlihat lebih keunguan.
“I like your smell…” Bisik Donghae sambil mengulum cuping telinga Miyoung.
“Ughh.. Hen-hentikan!!” Lirih Miyoung, Ia mencoba menahan suara desahannya agar tidak terlontar dari mulutnya.
Donghae memasukkan tangan kirinya ke dalam piyama yang Miyoung kenakan, Lalu meremas perlahan payudara Miyoung yang masih terbungkus bra.
“Ahhh… Hentikan!! S-siapa k-kau?! Jangan.. Ahh.. K-kurang ajar!” Miyoung mencoba untuk tetap berbicara meski terbuai dalam perlakuan Donghae yang membuat tubuhnya seakan memanas dan menegang.
“I’m your man… And you… Is my bride!”
“M-mwoya?! Ahhnnn.. T-tidak!” Merasa tak ingin mendengar kata penolakan lagi darinya, Donghae lantas kembali mencium bibir Miyoung. Melumatnya dengan penuh gairah dan nafsu yang seakan sudah tertahan cukup lama.
“Ehnn… Uhmmm…” Desahan kecil terus terlontar dari mulut Miyoung -yang masih terkunci akibat ciuman Donghae- saat tiba-tiba saja tangan kiri Donghae sudah berada di bagian ms.vnya.
Ingin rasanya Miyoung memberontak pada lelaki ini, Tapi kedua tangannya di pegang kuat oleh tangan kanan Donghae. Tubuhnya yang semakin menegang pun seakan lemas dan tak kuasa untuk menolak semua ini.
“Ahkknn!” Miyoung sedikit menaikkan tubuhnya saat merasakan tekanan kecil pada ms.vnya. “Ehnn!!” Ia menggeleng cepat, Mencoba melepaskan ciuman Donghae.
Donghae lantas melepaskan ciumannya dan di saat itu juga kedua mata mereka saling bertemu dan berpandangan cukup lama.
“Kau?!” Pekik Miyoung tiba-tiba, “Kenapa.. K-kau ada di.. Di sini?!” Ujar Miyoung terbata-bata.
“Jadi kau tak suka aku datang? Apa kau berharap jika orang lain yang datang?!”
“Apa?!” Miyoung menatapnya bingung.
Donghae tak juga melepaskan cengkraman tangannya pada Miyoung, Ia hanya tetap menatap wajah Miyoung yang begitu dekat dengan wajahnya saat ini.
“Wajahmu begitu menggairahkan! Membuat nafsu birahiku semakin bertambah, Shim Miyoung!” Desis Donghae.
Blush!
Ntah kenapa, Miyoung merasakan kedua pipinya seketika memanas dan jantungnya berdebar sangat kencang. Terlebih ketika tangan kiri Donghae kembali menelusuri setiap lekuk tubuhnya dan lelaki itu melemparkan senyumannya yang mempesona.
“Jangan mencoba berselingkuh dariku… Kau hanya milikku dan hanya untukku! Apa kau mengerti?!” Ucap Donghae kemudian.
Miyoung mengerutkan keningnya, “M-mwo? Kau pikir kau siapaku?!” Nadanya mulai meninggi. “Sekarang lepaskan aku!! Dasar pervert!!!”
Bukannya melepaskan Donghae justru sengaja semakin merapatkan tubuhnya pada Miyoung. Hal ini tentu saja membuat Miyoung terkejut dan langsung terdiam. Merasa jika Miyoung sedikit panik, Donghae terlihat senang dan malah tersenyum penuh arti padanya.
“I’ll be waiting you… At my place!” Bisiknya sambil menyeringai kecil.
Seketika itu juga, Angin bertiup dengan sangat kencang di ruangan itu. Seluruh tubuh Donghae perlahan menjadi sebuah bayangan berwarna hitam pekat. Kemudian bersamaan dengan angin itu, Bayangannya perlahan menghilang dan pergi meninggalkan Miyoung yang hanya dapat terdiam. Ntah dia takjub atau justru terkejut yang jelas saat ini dia tak dapat mengatakan apapun.
-Bloody Kiss-
Deg!!Miyoung membuka kedua matanya dan di saat itu juga ia menoleh ke segala arah dengan wajah cemas dan panik.
“Hah.. Mungkin ini hanya mimpi!” Lirihnya sambil menyibak rambut panjangnya lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Miyoung beranjak dari ranjangnya, Berjalan menuju kamar mandinya. Ia membuka satu persatu pakaiannya tanpa menyadari ada sesuatu yang berbekas di tubuhnya. Sampai pada akhirnya, Miyoung berbalik ke arah cermin dan semuanya langsung terpampang jelas dalam pantulan cermin tersebut.
Mata Miyoung langsung membulat, Ia tak percaya semua ini! Beberapa tanda kiss mark dan gigitan yang masih nampak jelas kini terpampang di tubuhnya! Berarti ini menandakan jika kejadian tadi malam itu bukanlah mimpi, Melainkan kenyataan!
“Tidak… Ini tidak mungkin!! Dia… Benar-benar datang tadi malam?!” Batinnya.
Miyoung memeluk tubuhnya sendiri dan ia tiba-tiba saja dapat mengingat betapa tubuhnya itu sangat terbuai pada perlakuan Donghae terhadap dirinya.
“Jika tadi malam bukanlah mimpi… Lalu… Siapa dia sebenarnya?! Kenapa dia.. Tak seperti manusia biasa?! Apakah dia…”
Ia tak melanjutkan perkataannya dan memilih untuk segera membersihkan dirinya. Miyoung seakan tak mampu untuk memikirkan makhluk apa sebenarnya lelaki yang telah menolongnya sekaligus melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
-Bloody Kiss-
Saat ini, Miyoung tengah berdiri di hadapan sebuah mansion mewah yang
terletak cukup jauh dari keramaian pusat kota. Walaupun begitu,
Keadaannya terasa menenangkan dan udaranya cukup segar.“Ayo, Shim Miyoung! Fighting! Kau pasti bisa mendapatkan pekerjaan ini!!” Gumamnya.
Miyoung melangkahkan kakinya menuju gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya itu, Di dorongnya gerbang yang lumayan berat itu lalu ia pun melangkah mantap melewati jalan menuju pintu utama mansion tersebut. “Eh?! Mansion semewah ini tidak memiliki bel?! Aneh sekali…” Pikirnya saat dirinya tak menemukan tombol bel.
Ia pun mengetuk pintu tersebut dengan sebuah besi berbentuk bulat dengan ukiran bunga di tengahnya yang terpasang pada dua sisi pintu mansion itu.
Cklek!!
Pintu terbuka dengan perlahan, Seakan membuat kita tahu jika pintu ini pasti berat sekali! Mengingat jika pintunya terbuat dari kayu jati asli.
Seorang lelaki muda dengan wajahnya yang terlihat sedikit cekung dan memiliki senyum yang ramah muncul di hadapan Miyoung. Ia mengenakan sebuah pakaian bak seorang bartender yang bekerja di pub terkenal.
“Mencari siapa, Agaesshi?” Tanyanya sopan.
Miyoung mengangguk singkat padanya lalu tersenyum tipis padanya. “Aku sedang membutuhkan pekerjaan.. Kudengar di mansion ini sedang membutuhkan tenaga kerja lainnya, Jadi…”
“Siapa namamu?” Ujar lelaki itu memotong ucapan Miyoung.
“Eoh?” Miyoung sedikit bingung saat lelaki tersebut bertanya tentang namanya. “A-aku, Miyoung… Namaku Shim Miyoung…”
Tep!!
Tiba-tiba, Seseorang menepuk pundak lelaki itu. Miyoung dapat melihat sesosok lelaki lain yang seakan tak asing lagi baginya tengah tersenyum tipis padanya.
“Biarkan dia masuk, Ryeowook-ah. Biar aku yang mengantarnya untuk menemui dia…” Ujar lelaki itu tak kalah ramahnya dari sang lelaki bernama Kim Ryeowook itu.
“Baiklah…” Balas Ryeowook santai. Dirinya melirik Miyoung sesaat, “Masuklah, Agaesshi. Aku tak ingin dia mengomel terus menerus hanya karena kau tak datang!”
“Eh? Dia? S-siapa m-mak-sud anda?!” Tanya Miyoung tak mengerti.
Lelaki lain itu yang ternyata adalah Kibum, Hanya menarik tangan Miyoung agar masuk ke dalam mansion tanpa menjawabnya terlebih dulu.
“T-tunggu! Ki-kita.. A-a-akan kemana?” Tahan Miyoung mencoba untuk mencari tahu.
Kibum menoleh sambil tersenyum lembut padanya. “Kau akan mengetahuinya nanti.. Sekarang ikutlah dulu denganku…” Ujarnya kemudian.
Merasa tak kuasa untuk menolak ajakannya, Apalagi saat melihat senyumnya yang begitu tulus membuat Miyoung tak mampu berkata-kata lagi selain mengangguk dan mengikuti langkah Kibum dari belakangnya. Selama mengikuti langkah Kibum, Sekali-kali Miyoung mengamati setiap penjuru ruangan yang ia lewati. Mansion ini benar-benar mewah!
Di sisi lain…
Sepasang mata tengah mengawasi setiap gerak-gerik dan tujuan Miyoung pergi di dalam mansion ini. Ia melirik seorang lelaki yang duduk di sebuah kursi goyang berukir bunga serta suatu lambang yang ntah apa itu serta memiliki lapisan kapuk yang empuk berwarna hitam.
“Ya! Eunhyuk-ah… Mau sampai kapan kita mengawasinya, Hm?” Tanya Sungmin yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Miyoung.
“Sampai aku yakin jika Donghae tak akan melakukan apapun pada Miyoung untuk saat ini…” Jawab Eunhyuk tanpa mau menatap ke arah Miyoung.
Sungmin menaikkan sebelah alisnya. Lalu ia tertawa sinis pada adiknya itu. “Hanya untuk saat ini? Lalu nanti?”
“Setidaknya Donghae tidak mengejutkannya dan membuatnya mengetahui jika akulah yang membuat dirinya masuk ke dalam sarang iblis ini! Kau tahu? Aku sudah merasa bersalah hanya karena melihatnya masuk mansion ini tadi…” Celoteh Eunhyuk.
“Salahmu sendiri kenapa tidak bisa menolak keinginan si bungsu!” Ejek Sungmin sambil kembali menoleh pada Miyoung dan Kibum yang mulai memasuki sebuah ruangan.
Eunhyuk terdiam, Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi goyang itu. Perlahan ia menghela nafas panjang.
“Seandainya saat itu aku tidak pergi begitu saja dan membiarkannya berkelilingan di bumi… Mungkin, Saat ini… Miyoung takkan pernah masuk ke dalam sarang iblis dan mengetahui makhluk asing seperti kita ini..” Ujarnya mengingat masa-masa dulu.
Sungmin yang ntah sejak kapan sudah berdiri di hadapan Eunhyuk segera saja mendaratkan satu jitakan yang cukup keras pada kepalanya.
“Ahk! Hyung!” Kesal Eunhyuk, Jika marah ia pasti langsung menyebut Sungmin dengan sebutan ‘Hyung’.
“Kita ini bukan makhluk asing, Bodoh! Kita hanya sedikit berbeda dengannya! Mungkin kita memang bukanlah manusia ataupun makhluk bernama vampire dan dracula. Tapi kita juga adalah makhluk immortal yang telah tercipta akibat hukum alam! Jadi, Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi di hadapanku! Kau mengerti, Lee Hyukjae?!” Celoteh Sungmin panjang lebar.
Eunhyuk menatap kesal pada Sungmin, Ia mengusap-ngusap kasar kepalanya yang masih terasa sakit itu.
“Aku mengerti! Kau ini cerewet sekali sih! Aku sudah mendengar perkataan itu ratusan kali!!” Cibirnya.
“Karena itu berhenti mengatakan hal itu di hadapanku! Lagipula… Penyesalan memang selalu datang terakhir kan?”
“Ck! Yah, Yah, Yah..” Balas Eunhyuk dengan nada malas membuat Sungmin terkekeh kecil.
-Bloody Kiss-
Kibum membawa Miyoung ke dalam sebuah ruangan yang ada di lantai tiga, Di ujung sudut mansion ini.“Masuklah…” Suruh Kibum seraya membuka satu pintu besar yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Tapi..”
“Masuk saja dulu.. Kau akan mengetahuinya saat di dalam. Percayalah…”
“Hah…” Miyoung menghela nafas panjang. “Baiklah…” Putusnya kemudian melangkah mendekati pintu itu dan masuk ke dalam satu ruangan yang justru luasnya mengalahkan ruangan tadi tanpa di temani Kibum.
Di dalam ruangan itu ada sebuah meja kerja dan berbagai buku bisnis dan bahkan medis, Tertata rapih di rak buku yang terpajang. Ada juga tanaman hias, aquarium dan satu set sofa lengkap dengan meja kaca yang terdapat satu vas bunga cantik di atasnya.
“Tempat ini indah sekali seperti ruang kerja yang di satukan dengan ruang tamu! Terasa nyaman sekali…” Pikir Miyoung.
Rasa takjub Miyoung berubah menjadi rasa penasaran saat menyadari seseorang tengah duduk di atas kursi kerja dengan posisi yang membelakanginya. Keningnya sempat mengerut, Berfikir jika mungkinkah orang tersebut adalah pemilik mansion ini?
“Chogi.. Apakah kau adalah…” Miyoung menghentikan ucapannya saat orang tersebut memutar posisi duduknya, Membuat Miyoung dapat melihat jelas sosok yang tak asing lagi baginya itu.
Orang itu menyeringai puas pada Miyoung, Seakan ia baru saja memenangkan undian berhadiah yang bernilai miliaran dolar.
“Kau?!!” Pekik Miyoung tertahan bahkan nyaris tak terdengar.
“Annyeong, Miyoung-ah. Kita bertemu lagi!” Sapa orang tersebut dengan kalem.
-Bloody Kiss-
Miyoung terpaku begitu melihat Donghae kini berada di hadapannya,
Tubuhnya seketika menjadi kaku. Otaknya pun membeku, Tak mampu berfikir
sedikitpun.“Bagaimana perjalananmu kemari? Melelahkan? Apa ingin aku ambilkan minum?” Dengan perlahan Donghae berjalan mendekatinya.
Ntah bagaimana caranya, Hanya dalam hitungan detik kini ia sudah berada di hadapan Miyoung, Padahal jarak di antara mereka terbilang cukup jauh. Kemudian, Wajahnya pun mendekati wajah Miyoung membuat gadis itu reflex segera menolehkan wajahnya ke arah samping.
“Kenapa kau diam saja, Miyoung-ah? Katakan sesuatu padaku…” Bisik Donghae. Ia meraih beberapa helai rambut Miyoung, Dan mencium aroma rambutnya. “Kau begitu menawan… Sama seperti setiap malam aku memperhatikanmu…”
Deg!!
Seakan sadar dari kediamannya, Dengan segera Miyoung menjauh dari Donghae. Langkah kakinya terus melangkah mundur meski pelan.
“K-kau… Siapa kau? Apa maumu?!” Pekik Miyoung tertahan.
“Aku?” Donghae tersenyum tipis sambil menunjuk dirinya sendiri, “Bukankah kau sudah tahu siapa aku? Atau… Haruskah aku beritahu padamu, Jika aku adalah pemilik mansion ini? Shim Miyoung-ssi…”
“M-mwo?” Miyoung tertegun mendengar ucapannya. “Kau pemilik mansion ini?” Desisnya.
“Yah…” Jawab Donghae singkat seraya mengangguk, “Dan kau harus ingat!” Ia mendekati wajah Miyoung dan berbisik pelan. “Kau berhutang padaku!”
Sadar dengan maksud ucapan Donghae, Kedua mata Miyoung sontak melebar. Langkahnya yang hendak menjauhi Donghae, Langsung terhenti kala Donghae tiba-tiba saja merengkuh tubuhnya dan mendekatkannya agar jarak di antara mereka menipis.
“A-apa yang k-kau… mau?!” Panik Miyoung.
Donghae menarik ujung bibirnya hingga membuat satu seringaian yang seakan bermakna. “Menjadikanmu milikku…”
Deg!!
“M-mworago? Apa maksudmu?”
“Seperti ini!” Bisik Donghae langsung menyerang bibir Miyoung, Ia tak segan untuk melumat bibir Miyoung, Sedangkan gadis ini hanya dapat membulatkan kedua matanya. Tubuhnya seakan membeku, Tak bisa di gerakkan sedikitpun.
To Be Continued…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar