Kamis, 27 November 2014

Bloody Kiss (Chapter.5)

Title              : Bloody Kiss
Author          : NtaKyung
Casts            : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Shim Miyoung and OC
Length          : Series [On Writing]
Genre           : AU(Alternate Universe), Fantasy, Humor, Romance, Unrated
Rating           : NC-21
Disclaimer    : Seluruh casts dalam ff ini adalah milik Tuhan, Orang Tua dan Mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini seluruhnya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art    : By NtaKyung aka Saya sendiri!
-Bloody Kiss-
Miyoung bergerak gelisah di atas ranjangnya, Berulang kali gadis ini menghela nafas panjang sambil mencoba untuk menutup rapat kedua matanya namun ia tetap terjaga dan hal ini benar-benar membuatnya sangat frustrasi.
Dengan kesal, Miyoung pun beranjak dari posisi tidurnya. Di perhatikannya pantulan dirinya dalam cermin, Ia tengah mengenakan sebuah kaus kebesaran berwarna putih polos yang hanya menutupi sampai sebagian lututnya saja, Selebihnya ia tidak mengenakan apapun lagi. Tangan kanannya menyibakkan rambutnya yang terurai panjang sampai ke pinggangnya dan gadis ini mendesah pelan saat menyadari jika dirinya terlihat begitu kacau malam ini.
“Mungkin berjalan-jalan sebentar dapat membuat pikiranku jadi tenang dan aku bisa tertidur dengan pulas sesudahnya…” Pikirnya yang kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Di sepanjang lorong mansion ini, Miyoung tak menemukan siapapun. Semua penghuni yang ada di sini mungkin sudah tenggelam dalam aktivitas mereka di dalam ruangannya sendiri.
Langkah Miyoung terhenti kala ia mendengar sebuah desahan serta pekikan manja seseorang dan Miyoung jelas tahu suara itu berasal dari seorang gadis. Tapi… Siapa gadis itu? Selama ia tinggal di tempat ini, Ia belum pernah bertemu dengan seorang gadis manapun yang tinggal di tempat ini juga. Itu pikirnya.
Miyoung ingin saja mengacuhkan hal itu, Tapi lagi-lagi suara desahan itu terdengar, Bahkan itu terdengar lebih keras dari yang tadi. Merasa penasaran, Akhirnya Miyoung pun memutuskan melangkahkan kakinya menuju asal sumber suara itu.
“Ooohhh… Op-Oppa… A-aku sudah… Aahh… T-t-terus Oppa…”
“Sebentar… Ssshh… Sebentar lagi… Jagiya! Ahhh…”
Miyoung mengerutkan keningnya, Merasa tak asing lagi dengan salah satu suara itu. Gerakan tubuh Miyoung terhenti saat ia samar-samar melihat sebuah bayangan dari pantulan lampu yang remang-remang. Dengan mengendap-endap, Miyoung menggerakkan kepalanya untuk mengintip dari balik tembok.
Kedua mata gadis itu langsung membulat saat menemukan Eunhyuk yang tengah bercumbu bersama seorang gadis dengan pakaiannya yang sudah nampak tak karuan. Berulang kali gadis itu mendekap Eunhyuk sambil mendesah panjang dan manja, Sedangkan Eunhyuk dengan gencar terus mendorong miliknya dalam milik gadis itu seraya menekan tubuh gadis itu pada dinding di belakang tubuhnya.
Miyoung jelas terkejut melihat hal itu. Ia memekik tanpa sadar dan Eunhyuk jelas mendengar hal itu, Ia menoleh segera ke arahnya tapi di saat itu jugalah ada seseorang yang menarik tubuh Miyoung dari belakang seraya membekap mulut gadis itu.
“Oppa… Ada apa?” Tanya sang gadis, Merasa kesal dengan gerakan Eunhyuk yang terhenti dan sontak itu menghilangkan rasa kenikmatan yang di rasakannya sejak tadi.
Eunhyuk menoleh padanya sambil tersenyum, “Tidak apa-apa… Ayo kita lanjutkan.” Ujarnya dengan kalem dan ia pun kembali menggerakkan pinggulnya.
“Oooh… Oppa… Kau… Ehnmm… Kau memang… Sshh… Nikmat!” Desis sang gadis di tengah desahannya yang semakin menggila itu. Tubuhnya menggeliat beberapa kali dan kenikmatan itu seakan bertambah saat Eunhyuk mulai menciumi kembali lehernya, Sepertinya ia tak peduli dengan kehadiran Miyoung tadi -yang jelas di ketahuinya-.
-Bloody Kiss-
Miyoung berniat protes pada seseorang yang kini membawanya ke dalam perpustakaan itu, Ia benar-benar terkejut dan kesal karena sikap orang ini yang begitu tiba-tiba itu.
Namun, Hal itu segera di urungkannya ketika ia sadar orang yang membawanya saat ini jelas tak lain adalah Lee Donghae. Pria yang membuatnya ‘tertahan’ di dalam mansion mewah ini.
“Aku tidak pernah tahu jika isteriku suka mengintip orang-orang yang tengah melakukan sex.” Donghae jelas tengah menyindirnya saat ini.
Miyoung melotot padanya. “Aku tidak suka mengintip! Itu hanya tidak di sengaja saja!” Kedua wajahnya sedikit bersemu merah saat mengingat kejadian tadi, Tapi ia segera menepis hal itu. “Dan aku bukanlah isterimu, Tn.Lee!” Ujarnya penuh penekanan.
“Berhenti mengelak sesuatu yang tak dapat kau tolak! Kau jelas adalah isteriku.” Sahut pria di hadapannya itu dengan tenang.
Miyoung memutar kedua bola matanya, Malas. Ia memilih untuk berbalik dan melangkahkan kakinya mendekati satu rak buku yang menyimpan berbagai buku sastra yang terbaru. Ia tahu hal itu dengan jelas, Karena walau bagaimanapun juga ia telah tinggal selama satu bulan di sini dan Miyoung sudah mengelilingi mansion ini berulang kali sehingga ia telah mengetahui tata letak segala peralatan di mansion yang begitu luas ini.
Tangan Miyoung baru saja akan menggapai salah satu buku sastra yang belum sempat di baca olehnya, Namun tiba-tiba saja sebuah lengan kekar dan kuat itu melingkar erat di pinggulnya dan Miyoung tentu mengetahui pemilik lengan itu.
“Kau marah padaku?” Miyoung tak menjawab. “Aku minta maaf… Aku hanya bercanda saja tadi.” Lanjutnya berbisik pelan di telinga Miyoung dan hal itu jelas membuat gadis ini bergidik geli di buatnya.
“Lepaskan aku, Donghae-ah. Aku mau membaca sekarang…” Sahut Miyoung tanpa menjawab terlebih dulu ucapan pria ini sebelumnya.
“Jika aku tidak mau? Apa yang akan kau lakukan?” Ujar Donghae seraya mengeratkan kedua lengannya di pinggul Miyoung, Bibirnya mulai bermain-main di sekitar telinga dan rambutnya.
Gadis ini sedikit menahan nafasnya, Jantungnya akan selalu berdegup kencang jika Donghae melakukan hal ini padanya. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab.
“Kau tahu aku takkan pernah bisa melakukan apapun untuk melawanmu…”
Donghae menyeringai puas mendengar jawaban Miyoung. “Bagus!”
Ia membalikkan tubuh Miyoung hingga menghadap ke arahnya dan tanpa berlama-lama lagi Donghae mulai mengecup perlahan bibir Miyoung. Lidahnya bergerak menjilat bibir bawah Miyoung, Mengecap setiap rasa manis dari ciuman ini dan ia tersenyum senang saat tahu jika Miyoung tak melawan dirinya sedikitpun. Dan Donghae memang tak mengharapkan hal itu tentunya.
“Kau tahu kan betapa aku sangat menyukaimu, Miyoung-ah?” Donghae berbisik pelan seraya mengusap leher Miyoung dengan tangan kanannya.
Ia mendongakkan kepala Miyoung kemudian menelisikkan lidahnya ke dalam rongga mulut Miyoung. Memeriksa setiap sudut dalam rongga mulutnya dan merasakan kembali kehangatan serta kelembutan lidah Miyoung. Tanpa ragu, Ia semakin memperdalam ciumannya memaksa Miyoung membalas ciumannya itu dan ia berhasil.
Miyoung mulai melingkarkan tangannya di leher Donghae, Lidah mereka saling bertautan dan berulang kali terdengar suara gigi yang bertubrukan akibat dalamnya ciuman mereka. Mereka menggerakkan kepala mereka, Berusaha untuk mencari kenikmatan lebih dari ciuman yang begitu intens itu.
Tangan kiri Donghae yang awalnya mengelus-elus rambut panjang gadis ini perlahan turun ke bagian paha Miyoung. Ia membelai bagian luar paha Miyoung dengan gerakan yang begitu perlahan hingga membuat tubuh Miyoung menggeliat karena geli. Gerakan tangannya terhenti di bagian sensitive Miyoung bersamaan dengan ciumannya yang terhenti.
Ia menyeringai pada gadis di hadapannya itu. “Kau sudah sangat basah, Eh?” Godanya sambil mengerling nakal dan kedua pipi Miyoung langsung bersemu merah.
“A-aku tidak!” Elaknya dengan gugup. “Lebih baik aku kembali ke kamar saja! Aku ingin tidur sekarang!” Ia hendak melangkahkan kakinya, Tapi Donghae menahannya dan mendorongnya sampai ke ujung meja yang ada di pojok ruangan perpustakaan ini.
“Apa kau pikir aku akan membiarkanmu tidur begitu saja, Miyoung-ah?” Ujar Donghae tajam. Tersirat dari perkataannya jika itu jelas pernyataan bukan pertanyaan.
Miyoung mengigit bibir bawahnya, Lalu dengan ragu ia membalas tatapan Donghae. “Yah…”
“Oh, Tidak. Shim Miyoung!” Tekan Donghae penuh dengan janji yang tak terelakkan. “Malam ini aku begitu membutuhkanmu dan aku tidak ingin kau pergi tidur! Tidak sampai kau sudah memuaskanku!”
Miyoung hendak menjawab ucapan Donghae, Namun sentuhan bibir Donghae di lehernya itu justru membuat jawabannya berubah menjadi sebuah desahan serta erangan kenikmatan.
“Hmnnn… Aaahh… D-Donghae-ah…”
Lidah Donghae bergerak menjilati setiap inchi lehernya, Tak ada satupun yang terlewatkan, Ia meninggalkan salivanya di antara jilatannya itu lalu tanpa ragu menghisapnya dengan kuat hingga meninggalkan sebuah tanda kemerahan yang berubah menjadi sedikit membiru. Dan Miyoung tentu hanya dapat mengerang nikmat menerima perlakuan itu.
“Ooohnn… Hmm…” Miyoung mencengkram pundak Donghae sebagai pegangan tubuhnya. Ia merasa kedua kakinya mulai melemas dan ia tak mungkin bisa berdiri dengan baik jika dirinya tak mencengkram pundak Donghae.
Kedua tangan Donghae menarik ujung kaus Miyoung lalu menariknya ke atas. “Angkat kedua tanganmu, Miyoung-ah! Aku ingin menyingkirkan pakaian ini!” Bisiknya terkesan memerintah.
Miyoung menurutinya, Ia mengangkat kedua tangannya dan Donghae pun langsung melepas kaus itu dari tubuh Miyoung. Dengan tak sabar ia ikut melepaskan bra serta underwear yang di kenakan Miyoung lalu ia mendorong tubuh Miyoung hingga terbaring di atas meja yang terasa dingin dan keras itu, Kedua tangannya bergerak mendekati payudara gadis itu.
Di remasnya dengan sangat lembut, Sesekali jari-jarinya bermain di sekitar puttingnya dan hal itu semakin membuat tubuh Miyoung menggelinjang nikmat.
“Aaahh… D-Donghae-ah… Hnnn…” Ia mengigit bibir bawahnya dengan kedua matanya yang terpejam. Melihat raut wajah Miyoung yang terlihat sangat terangsang itu jelas membuatnya menyeringai puas dan keinginannya untuk bercinta dengan Miyoung pun semakin bertambah.
Wajah Donghae kembali mendekati wajah Miyoung, Di ciumnya kembali dengan ganas bibir Miyoung dan kedua tangannya tak henti-hentinya mempermainkan payudara gadis itu hingga membuat kedua payudaranya itu menegang dan kedua puttingnya mulai mengeras.
“Aku suka semua yang ada padamu, Miyoung-ah…” Bisik Donghae seusai menciumnya.
Ia menuruni ciumannya menuju leher Miyoung kemudian beralih pada salah satu puttingnya. Di hisapnya putting itu bagai seorang bayi yang kehausan dan sesekali lidahnya pun bergerak menjilatinya dengan lembut.
“Hhnnnn… Aaaah… Aahhh…” Miyoung sedikit melengkungkan tubuhnya, Tak mampu dengan semua ‘godaan’ yang Donghae lakukan pada setiap inchi tubuhnya itu.
Merasa cukup puas di sana, Donghae beralih ke putting satunya lagi dan melakukan hal yang sama berulang kali dengan salah satu tangannya yang mulai bergerak perlahan ke bagian ms.v Miyoung.
“Aaaahhkk!” Miyoung menjerit di antara kenikmatan serta kesakitan saat jari telunjuk Donghae mulai masuk ke dalam miliknya, Mengoyak-ngoyak isinya dengan gerakkan maju-mundur dan tak lama dari itu Donghae kembali memasukkan dua jari lainnya.
“Ooohh… Aaahhh… D-Donghae-ah… Hentikan… Aahhh…”
Donghae menyeringai puas, Ia menggerakkan jari-jarinya itu dengan tempo yang beraturan. Ia menggoyang-goyangkan jarinya dalam ms.v Miyoung lalu kembali memaju-mundurkannya.
“Kau yakin ingin menghentikan semua ini, Miyoung-ah?” Seringainya seraya mengecup sekilas bibir Miyoung.
Gadis itu mengangguk sejenak seraya mengigit bibir bawahnya, Tapi keputusannya berubah hanya dalam hitungan detik dan ia menggeleng cepat.
“T-tidak… A-aku… Hhhnnn… L-Lanjutkan Donghae-ah… Aaahhh…”
Dan tak butuh untuk mendengar jawaban Miyoung untuk yang kedua kalinya, Donghae pun semakin mempercepat tempo gerakan jari-jarinya. Bibirnya bernafsu bermain di sekitar perut Miyoung sedangkan gadis itu terus melontarkan desahan demi desahan yang bergema di setiap sudut ruangan perpustakaan ini.
“Aaaaahhhhh…” Miyoung mendesah panjang kala dirinya telah mencapai klimaks pertamanya dan Donghae menghentikkan gerakan jari-jarinya itu.
Cairan bening keluar dari lubang kewanitaan Miyoung dan Donghae terlihat puas dengan itu. Ia menjilati jari-jarinya yang di penuhi dengan cairan bening milik Miyoung, Sedangkan gadis itu tengah mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Miyoung baru saja merasakan tenang saat tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang besar dan keras itu memenuhi ms.v-nya. Ia bahkan tak sempat berteriak karena gerakan tiba-tiba itu dan hal itu tergantikan dengan desahan yang kembali terlontar dari mulutnya.
“Aaahhh… D-Donghae-ah… K-kau… I-ini sakit sekali… Ooohhnnn…” Miyoung meremas kuat pundak Donghae, Melampiaskan perasaan sakit yang perlahan berganti dengan kenimatan itu pada pundak pria di hadapannya itu.
Donghae tak mempedulikan dengan kuku-kuku tajam Miyoung yang menancap pada bagian pundaknya, Ia hanya terus mengerang nikmat sambil memfokuskan mr.pnya yang tengah ada di dalam Miyoung. Ia memaju-mundurkan miliknya dengan gerakan perlahan dan semakin lama gerakannya itu semakin bertempo dan semakin cepat.
Bibirnya kembali mencium Miyoung dengan gerakan yang liar dan begitu membutuhkan. Dan Miyoung jelas tidak menolak, Ia menautkan lidahnya dengan lidah Donghae sementara itu jari-jari tangannya meremas rambutnya dengan gelisah.
“Oooh… Miyoung-ah… Milikmu… Milikmu begitu panas dan masih terasa sempit, sayang…” Bisik Donghae di sela ciumannya itu, Ia terus menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang sama dan Miyoung mengikuti gerakannya dengan seirama.
Donghae mulai merasakan milik Miyoung menjempit miliknya, Ia tahu jika ini adalah saatnya. Ia semakin mempercepat gerakannya sehingga membuat Miyoung semakin kewalahan dan semakin mendesah keras.
Miyoung dapat merasakan ujung mr.p Donghae menyentuh dinding rahimnya setiap kali pria ini menyentakkan miliknya dengan sangat keras dan begitu dalam. Dan Miyoung benar-benar menikmati hal itu.
“Donghae-ah… A-aku… Aaaaahhh… A-aku t-tidak tahan lagi… Uuuhhhnnn…”
“Bertahanlah… Ssshh… Sebentar lagi, Miyoung-ah…”
Sentakan demi sentakan yang Donghae lakukan semakin dalam dan semakin keras. Miyoung merasakan tubuhnya bergetar dan tak lama bak sebuah bendungan yang tak dapat tertahan lagi, Miyoung akhirnya mengalami klimaks keduanya.
“Aaaaahhhh…” Gadis ini kembali mendesah panjang tanda kepuasannya telah sampai.
Tapi Donghae masih belum menghentikan gerakannya, Ia terus dan terus melakukannya dan tak lama dari itupun ia mengalami hal yang serupa dengan Miyoung. Di tekannya sedalam mungkin mr.p-nya dalam milik Miyoung dan di saat itulah spermanya menyemprot keluar di dalam rahim Miyoung bersamaan dengan desahan yang penuh kenikmatan dan kepuasan.
Donghae nampak tenang dengan setelahnya, seolah ia mendapatkan ‘kekuatan’ penuh setelah mengalami sex dengan Miyoung, Berbeda dengan Miyoung yang justru nampak lelah. Nafas Miyoung nampak tersenggal-senggal dan keringat telah membasahi seluruh tubuhnya hingga terasa lengket. Bau khas habis bercinta pun terasa begitu kuat dalam ruangan ini.
Dengan gerakan perlahan dan berhati-hati, Donghae menarik mr.p-nya dari dalam milik gadis itu lalu di kecupnya dengan perlahan kening Miyoung, Ia tersenyum tipis padanya.
“Terima kasih, Miyoung-ah…” Bisiknya.
Miyoung tak berniat menjawabnya, Ia hanya mengangguk sembari membalas senyumannya. Dan tak lama dari itu pun Miyoung merasakan kantuk mulai menyerangnya, Ia memejamkan kedua matanya dan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam alam mimpinya, Ia jelas dapat merasakan sebuah rangkulan hangat pada tubuh polosnya itu.
Samar-samar ia pun dapat mendengar suara Donghae yang bergumam tepat di telinganya.
“Semoga mimpimu indah malam ini, Miyoung-ah. Tidurlah dengan nyenyak…” Dan Miyoung pun akhirnya benar-benar terlelap dalam tidurnya.
-Bloody Kiss-
Dengan mengenakan sebuah dress berlengan transparan berwarna pastel sepanjang lutut itu, Miyoung menuruti anak tangga dan berjalan menuju ruang makan. Di sana ia melihat beberapa orang tengah berkumpul dan mengobrol, Ada juga yang menyantap ‘makanan’ mereka sendiri.
“Pagi semuanya…” Sapa Miyoung seraya berdiri di hadapan mereka.
Semua orang yang ada di sana menoleh padanya lalu membalas sapaannya, Ada yang hanya mengangguk, Bergumam, Menjawab langsung dan ada juga yang tersenyum tipis padanya.
“Kemarilah, Miyoung-ah… Kau pasti lapar kan? Ini aku sudah membuatkan roti isi untukmu.” Ryeowook menunjuk sepiring roti isi yang di letakkan di hadapannya.
“Oh, Terima kasih, Wookie-ya. Kau memang baik.” Senangnya dan ia pun bergegas duduk di sampingnya lalu mulai menyantap sarapan paginya itu.
Di antara yang lain memang hanya Miyoung, Lee bersaudara dan Ryeowook saja yang makan-makanan biasa layaknya manusia, Berbeda dengan Kibum, Hankyung, Kangin, dan Kyuhyun yang mempunyai ‘selera makan’ tersendiri.
“Ah iyah… Di mana yang lainnya?” Tanya Miyoung setelah menyantap roti isinya, Ia sadar jika ia tak melihat tiga Lee bersaudara, Kyuhyun dan Kibum di sana.
“Mereka sedang berlatih…” Jawab Kangin dengan santai.
“Berlatih?” Miyoung menaikkan sebelah alisnya dan beralih menatap Kangin bingung.
“Yah, Berlatih…” Kangin mengangguk singkat, “Mereka sedang berlatih Kendo dan Anggar. Itu sudah biasa mereka lakukan…” Jelasnya kemudian.
“Wuah… Kalian melakukan olah raga seperti itu juga?!”
“Hanya mereka…” Kini Hankyung yang menjawab, “Kami biasa melakukan kegiatan yang lain daripada harus bermain permainan itu…”
Miyoung hanya membentuk mulutnya membentuk huruf ‘o’, Dan ia pun mengangguk singkat.
“Kau mau melihat mereka, Miyoung-ah?” Tawar Ryeowook kemudian.
“Apakah boleh?” Tanya Miyoung terlihat ragu, Namun ia sepertinya penasaran juga dengan hal itu, Buktinya ia seperti berharap Ryeowook untuk menjawab dengan kata ‘yah’.
“Tentu, Ayo…”
“Baiklah…” Senangnya lalu ia pun ikut beranjak dari duduknya, Mengikuti langkah Ryeowook dengan berjalan di sampingnya.
-Bloody Kiss-
Eunhyuk dan Sungmin nampak tengah serius berlatih Kendo, Sedangkan tak jauh dari posisi mereka sekarang, Nampak Donghae dan Kyuhyun yang tengah berlatih Anggar tanpa ada satu pelindung pun yang mereka gunakan begitupun dengan Eunhyuk dan Sungmin.
Suara-suara teriakan lantang itu terdengar begitu menggema dalam aula yang berukuran luas itu. Tak ada yang benar-benar merasa lelah dalam hal ini, Mereka malah semakin gencar untuk melawan satu sama lain, Berusaha ‘melumpuhkan’ sang lawan secepat mungkin.
“Yah… Inilah apa yang sering mereka lakukan setiap pagi…” Suara Ryeowook menyadarkan Miyoung dari lamunannya.
Gadis itu mengangguk seraya menoleh padanya, “Tapi aku baru mengetahuinya sekarang… Ini benar-benar menakjubkan! Mengingat jika kalian bukanlah sosok ‘biasa’ rasanya sedikit aneh jika membayangkan kalian melakukan hal yang sama seperti manusia pada umumnya…” Ujar Miyoung dengan jujur.
Ryeowook tak merasa tersinggung dengan hal itu, Ia hanya tersenyum lebar dan kemudian ia pun kembali memandang ke depan, Ikut memperhatikan pertandingan di antara ke-empat orang berwajah luar-biasa-tampan itu.
Miyoung tak banyak berbicara lagi, Ia kembali ikut memperhatikan pertandingan itu. Namun, Jika saja ia boleh jujur sebenarnya yang ia perhatikan saat ini hanyalah seorang dan itu tak lain tentu saja pria bernama Lee Donghae itu.
Bayangan akan kejadian tadi malam kembali terlintas dalam benaknya dan hal itu membuat kedua pipinya bersemu merah, Seulas senyum bahagia tanpa tersadar terukir indah di wajah gadis ini. Sentuhan demi sentuhan lembut yang Donghae berikan pada setiap inchi tubuhnya seakan masih terasa dan itu semakin membuat Miyoung tersipu malu saat mengingatnya.
Ia menundukkan wajahnya kemudian bergumam tanpa sadar seraya kembali menata Donghae yang masih nampak fokus dengan kegiatannya saat ini, “Oh… Haruskah aku beritahu pada seluruh penjuru dunia jika ada seorang Demons yang begitu tampan dan pintar dalam berhubungan sex?”
Miyoung segera tersadar akan gumamannya barusan. Dengan cepat ia menggelengkan kepala dan menepuk kedua pipinya, “Ya ampun! Apa yang baru saja aku pikirkan?! Kenapa kau harus berkata seperti itu, Shim Miyoung? Haish… Kau pasti sudah gila sekarang!”
Menyadari sikap Miyoung yang terlihat aneh, Ryeowook menatapnya dengan kening mengerut dan sebelah alis yang terangkat.
“Miyoung-ah… Kau baik-baik saja?” Tanya Ryeowook kemudian.
“Huh?” Miyoung segera menoleh padanya dengan panik, Ia menoleh kembali pada Donghae yang ternyata telah berhasil mengalahkan Kyuhyun dalam permainan anggarnya dan tiba-tiba saja ia merasa dirinya begitu gugup. “A-aku harus pergi dari sini, Wookie-ya. Aku ingin cari udara segar… Annyeong.”
Gadis itu langsung melesat pergi meninggalkan Ryeowook yang hanya dapat terdiam dengan memasang tampang bingung sekaligus tak mengerti.
“Ada apa dengannya?” Pikirnya.
“Wookie-ya!” Panggil Donghae yang ntah sejak kapan telah berada di sampingnya. “Tadi aku melihat kau bersama Miyoung… Di mana dia sekarang?” Tanyanya kemudian.
Ryeowook menaikkan kedua bahunya acuh, “Ntahlah… Dia pergi begitu saja tadi…” Jawabnya santai.
“Huh?”
-Bloody Kiss-
Miyoung terus berlari keluar dari mansion, Langkah kakinya menuju sebuah taman berukuran cukup luas yang berada di halaman belakang mansion ini. Sembari menepuk-nepuk pipinya yang terasa memanas, Miyoung pun memilih duduk di bawah pohon rindang yang ada disana.
“Aaah… Memalukan sekali! Apa yang baru saja aku katakan tadi? Ugh… Kenapa aku bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu?” Ia menggerutu pada dirinya sendiri.
“Memangnya apa yang kau katakan?”
Miyoung terkejut dengan suara yang tak asing lagi baginya itu, Ia mendongakkan kepalanya dan kedua bola matanya langsung membulat saat dia sadar jika ternyata Kibum tengah duduk di atas pohon itu dengan sebuah buku yang di pegang tangan kanannya.
“Kibum-ah!” Pekik Miyoung karena terkejut, Ia segera beranjak dari duduknya. “Apa yang kau lakukan di sana?”
“Membaca…” Jawab Kibum dengan polos seraya memperlihatkan buku yang di pegangnya itu.
Miyoung mendengus kesal, “Bukan itu maksudku… Maksudku, Apa yang kau lakukan dengan duduk di atas pohon sana? Turunlah…” Dan setelah Miyoung mengatakan hal itu, Kibum pun turun lalu berdiri di sampingnya tanpa kehilangan keseimbangan tubuhnya sedikitpun.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.. Apa yang kau katakan hingga kau merutuki dirimu sendiri, Eoh?” Tanya Kibum penasaran.
“Ah? Err… Itu…”
Belum sempat Miyoung menyelesaikan ucapannya, Angin tiba-tiba saja terasa berhembus keras di sekitar sana dan Miyoung dapat melihat sebuah pusaran pasir seakan mendekati mereka. Ia memelotot dengan kedua tatapan tak percaya, Antara bingung dan terkejut.
“A-apa itu?” Paniknya.
Kibum segera menyeret tubuh Miyoung ke belakang tubuhnya, “Tetap berada di belakangku, Miyoung-ah…” Ujarnya.
Miyoung tak menolak, Ia langsung berdiri cemas di belakang punggung Kibum. Semakin lama, Pusaran pasir itu semakin mendekati mereka dan perlahan-lahan menghilang dan di gantikan dengan sesosok wanita berparas cantik dengan kulitnya yang berwarna gelap namun nampak begitu sexy, Ia mengenakan sebuah gaun berbahan sutra berwarna hitam serta rambutnya pun di biarkan tergerai sepanjang bahu.
“S-siapa d-dia, Kibum-ah?” Miyoung mulai terlihat ketakutan tapi Kibum tak menjawabnya.
Sosok wanita itu tersenyum padanya dan ia pun sekilas menatap pada Miyoung tapi seolah ia mengabaikan dirinya ia pun kembali mengalihkan tatapannya.
“Hallo, Kibum-ah…” Sapanya dengan ramah.
Kibum tak menjawab, Tapi setelah beberapa saat ia memaksakan dirinya untuk tersenyum di hadapan wanita itu dan ia pun perlahan mengangguk padanya. “Lama tidak berjumpa… Nona Sungyeon-ssi…” Balasnya kemudian.
Wanita itu mengibaskan tangannya acuh, “Oh… Kau bersikap seolah aku orang lain saja.” Ia tertawa kecil. “Ah yah… Aku bisa mencium aroma aura manusia di sekitar sini… Hm, Biar aku tebak! Apakah… wanita di belakangmu itu adalah manusia?!”
Miyoung menegang mendengar ucapan wanita di hadapannya itu, Ia tahu jika wanita yang ada di hadapannya itu pastilah bukan makhluk sembarangan, Terlebih nampaknya Kibum pun seperti merasa enggan padanya.
Kibum hendak menjawab, Tapi tak berapa lama Miyoung melihat awan berubah mendung dan suara petir pun langsung menyambar keras. Miyoung yang merasa terkejut dengan hal itu reflex menutup telinganya. Tanpa di sadarinya, Nampaklah sesosok pria dan sosok wanita lainnya tepat di belakang wanita yang pertama datang.
“Sungyeon-ah… Bukankah kita sudah mengatakan padamu untuk tidak pergi sendiri?” Ujar sang pria dengan tenang.
Wanita itu tak menjawab, Ia hanya terdiam dan menatap Miyoung dingin. “Aku ingin melihat gadis itu sendiri. Dan aku sudah melihatnya sekarang…”
“Selamat datang di mansion ini lagi… Jungsoo-ssi… Jaehee-ssi…” Kibum membungkuk ramah pada kehadiran kedua sosok asing itu.
Miyoung tentu saja merasa panik, Pikirannya langsung berputar-putar dan beribu pertanyaan tentang siapakah mereka langsung memenuhi pikirannya saat ini.
Sang wanita yang baru datang itu menoleh padanya dan tersenyum ramah padanya. “Oh, Hai, Kibum-ah! Rasanya sudah lama sekali kita tidak berjumpa, yah?” Sapa sang wanita yang tak lain bernama Shin Jaehee itu.
Kibum hanya membalas senyumannya sebagai jawaban dan Miyoung menebak, Apakah orang itu memiliki ‘kekuasaan’ yang begitu tinggi sehingga Kibum bersikap sangat ramah padanya?
Miyoung ingin sekali bertanya pada Kibum saat ini, Namun ia merasakan bibirnya seperti kaku dan terkunci rapat sehingga ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“Eomma… Appa… Apa yang kalian lakukan di sini sekarang?!”
Mendengar suara Donghae yang tak jauh dari posisi mereka sekarang, Miyoung lantas menoleh padanya dan ia mendapati Donghae di ikuti Sungmin dan Eunhyuk di belakangnya tengah berjalan ke arah mereka.
“Donghae-ah!” Wanita bernama Sungyeon itu menjerit kesenangan begitu melihat kedatangan pria itu, Ia berlari hanya dalam seperkian detik dan tiba-tiba saja ia telah memeluk Donghae, Membuat pria itu terkejut karena tak menyadari kehadirannya.
“Sungyeon-ah?! Kenapa kau juga ada di sini?!” Kaget Donghae.
Miyoung hanya dapat membulatkan kedua bola matanya saat melihat pemandangan itu, Jujur saja ia terkejut dengan hal itu. Tapi daripada terkejut ia lebih merasa kesal dan tak suka, Seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya hingga ia benar-benar merasa muak untuk melihat pelukan mesra di antara Donghae dan Sungyeon.
Sungyeon memutar bola matanya lalu berucap dengan nada manja, “Oh ayolah… Apa yang salah dengan mengunjungi tunanganku sendiri, Hm?!”
Deg!
Miyoung kembali menoleh ke arah mereka, Jantungnya seakan berhenti berdegup dan kata-kata yang di lontarkan Sungyeon barusan berhasil membuat aliran di tubuhnya seolah berhenti dalam seketika. “Apa yang dia katakan tadi? Tunangan?!” Miyoung menjerit dalam hatinya.
To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar