Kamis, 27 November 2014

Bloody Kiss (Chapter.9)

Tittle             : Bloody Kiss
Author           : NtaKyung
Casts       : Lee Donghae, Shim Miyoung, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Heechul and OC
Genre            : Action, AU(Alternate Universe), Fantasy, Romance, Unrated
Rating           : NC-17
Disclaimer  : Seluruh cast dalam ff ini adalah milik Tuhan, orang tua dan mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini semuanya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art     : NtaKyung
-Bloody Kiss-
Heechul terdiam, otaknya kini tengah berusaha mencerna setiap kata demi kata yang di baru saja di lontarkan oleh Sungmin.
“Aku tidak memiliki banyak waktu, Hyeong. Dia sangat membutuhkan bantuanmu… dan dia bisa saja kehilangan nyawanya jika sampai kau tak datang secepatnya.”
Heechul masih tetap tak bergeming.
“Hyeong…”
“Maafkan aku, Sungmin-ah. Tapi kurasa… aku tidak dapat membantumu.”
Pria itu berbalik, hendak menaiki anak tangga yang ada di hadapannya saat ini. Namun seketika itu juga Sungmin telah berada di hadapannya, menahan langkahnya untuk pergi.
“Apakah kau begitu membenci manusia sampai-sampai kau tak mau menolong gadis itu?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Ini jelas urusanku! Nyawa seorang gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri kini tengah di pertaruhkan! Dan hanya kau yang dapat menolongnya saat ini!” Sungmin seolah kehilangan kendali, ia mulai meninggikan nada suaranya. Terlalu kesal dengan sikap Heechul yang tetap saja menolak permintaannya.
Heechul menggedikkan bahunya acuh sembari mendengus, seolah tengah mengejek ucapan pria di hadapannya itu.
“Aku sungguh-sungguh tidak peduli pada nasib gadis itu. Jadi, jika kau mengatakan hal seperti itu pun… kurasa, jawabannya aku tetap tidak akan membantumu!” Ujarnya kemudian.
Heechul kembali berbalik, tetap berusaha menghindari Sungmin.
“Apa kau tetap tidak peduli meski gadis itu begitu berarti bagi Kibum juga?”
Tep!
Langkah Heechul terhenti, sedetik kemudian pria itu berbalik menatap Sungmin dengan tatapan terkejut. Seolah-olah, nama ‘Kibum’ mampu mengubah segala keputusannya.
“Apa katamu?” Heechul menyipitkan kedua matanya.
“Ya… seperti yang kau dengar tadi. Gadis itu begitu berarti untuk kami… dan asalkan kau tahu, Kibum pun begitu menyayangi gadis ini seperti adiknya sendiri. Jadi dengan kata lain, jika kau mampu menyelamatkan nyawa gadis ini… kau mungkin saja dapat merubah pemikiran Kibum terhadapmu…” Jelas Sungmin sembari berjalan mendekatinya.
Heechul masih tetap memandangnya dengan kedua mata yang menyipit. “Jadi maksudmu… dia masih ada di mansion itu sampai saat ini?”
Sungmin mengangguk singkat. “Dia bahkan sudah seperti bagian dari keluarga kami…”
Keadaan berubah menjadi hening untuk beberapa detik selanjutnya. Heechul terlihat begitu serius memikirkan ucapan Sungmin. Sementara pria itu, nampaknya sedikit tak sabar karena masih harus menunggu jawaban Heechul juga.
“Bagaimana? Apakah kau ingin ikut denganku ke mansion itu, Hyeong?” Ucapan Sungmin segera memecah keheningan yang ada.
Awalnya pria itu masih tetap terdiam. Namun, setelah itu ia mendengus kesal sebelum akhirnya ia berkata, “Bawa aku ke tempatmu…”
Dan Sungmin hanya mampu tersenyum penuh kemenangan begitu mendengar jawabannya itu.
 -Bloody Kiss-
Kedua mata Miyoung terbuka secara perlahan-lahan. Di liriknya seseorang yang senantiasa duduk di samping ranjangnya, menemaninya di tempat ini sejak beberapa jam yang lalu.
Orang itu-yang tak lain adalah Shin Jaehee-, tersenyum tipis padanya begitu melihatnya sadar. Ia mengusap kening Miyoung dengan sebuah sapu tangan, lalu berucap,
“Kau sudah merasa lebih baik, Miyoung-ssi?” Ujarnya dengan lembut, terlihat jelas sekali ada jiwa ke-ibu-an yang begitu melekat pada wanita ini.
Miyoung mengangguk lemah, “Di-mana… Donghae?” Ia berucap dengan suaranya yang parau.
“Dia ada di luar… kami tidak membiarkannya masuk, karena kami takut jika ada sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi padanya jika ia terus-menerus melihat darah…” Jelasnya.
“Bayiku…” Miyoung memegangi perutnya, takut-takut jika ia kehilangan janinnya. Namun gadis ini langsung menghela nafas lega saat mengetahui perutnya masih membuncit.
Jaehee mengernyitkan keningnya, “Bagaimana kau bisa mengetahui tentang hal ini, Miyoung-ssi? Kenapa kau bisa begitu yakin, jika yang terjadi padamu adalah karena bayi dalam perutmu itu?”
“Karena aku dapat merasakannya…” Ujarnya sembari tersenyum tipis.
“Merasakannya?” Jaehee menaikkan sebelah alisnya.
“Ya…” Miyoung mengangguk singkat. “Aku dapat merasakannya dengan sangat jelas… semua ini benar-benar terasa nyata, karena ntah aku hanya berhalusinasi atau apa, tapi sungguh, aku seolah dapat merasakan jika aku memang tengah mengandung anak Donghae.” Paparnya.
Jaehee hanya terdiam mendengar ucapan Miyoung. Sungguh, ucapan gadis ini membuat dirinya mengingat kembali apa yang di ucapkan sahabatnya dulu. Shin Raena. Ia ingat, jika gadis itu pun mengatakan hal yang sama ketika ia mengandung Kibum. Bahkan, di saat itu pun gadis itu masih tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum, sama seperti apa yang di lakukan Miyoung sekarang.
“Dan bagaimana jika bayi itu justru akan membahayakanmu?” Ujar Jaehee dengan serius.
“Maka aku akan tetap memperjuangkannya agar ia tetap terlahir ke dunia ini.” Dan jawaban itu cukup membuat Jaehee yakin, jika gadis di hadapannya ini pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Raena lakukan dulu.
Jaehee menghela nafas panjang sebelum akhirnya melirik sekilas ke arah sebuah selang yang kini terhubung pada tabung yang berisikan darah.
“Kau membutuhkan lebih banyak transfusi darah agar rasa sakitnya semakin berkurang. Aku akan menyuruh beberapa makhluk lainnya untuk mencari persediaan darah dengan golongan yang sama sepertimu…” Ujar Jaehee sembari melangkahkan kakinya.
“Boleh aku meminta sesuatu padamu?” Seru Miyoung kemudian, menghentikan langkah Jaehee dengan segera.
“Apa?” Sahut Jaehee sembari menoleh padanya.
“Aku ingin kau memperbolehkan Donghae masuk kemari. Aku sangat membutuhkannya saat ini.”
“Apa? Tapi-”
“Aku mohon…” Pinta Miyoung, “Yang aku butuhkan saat ini hanyalah dirinya. Jadi… aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau memperbolehkannya menemaniku di sini.”
Jaehee mendesah panjang. “Akan kupikirkan.” Jawabnya, dan setelah itu pun ia bergegas keluar dari ruangan itu, meninggalkan Miyoung yang perlahan memejamkan kedua matanya dan tanpa terasa air matapun keluar dari pelupuk mata gadis itu.
-Bloody Kiss-
Donghae tengah duduk dengan perasaan gusar. Ia tak henti-hentinya memikirkan keadaan gadis yang sangat di cintainya itu, namun sedari tadi Jungsoo dan Jaehee tak kunjung memberikan satu penjelasan apapun padanya.
“Donghae-ah, gawat!” Teriakan Ryeowook yang terdengar begitu keras itu menyadarkan pria ini dari kegusarannya.
Ia menoleh ke arah Ryeowook yang baru memasuki ruangan itu, dan jika di lihat dari wajahnya sepertinya ada sesuatu yang buruk yang telah terjadi di mansion ini tanpa di sadari olehnya.
“Ada apa, Ryeowook-ah? Tidak bisakah kau tenang sedikit?! Aku sedang memikirkan keadaan Miyoung saat ini!” Ujar Donghae kesal.
“Maaf jika aku membuatmu semakin kesal, Donghae-ah… tapi, kau harus mengetahui ini!” Ujar Ryeowook dengan nada panik. “Dia… dia… Taeyang-ssi. Dia mengirimkan utusannya tadi! Dan rupanya, dia mengajakmu untuk berduel saat gerhana matahari nanti!!”
Kedua mata Donghae melebar dalam seketika.
“Apa katamu?! Dia mengajakku untuk berduel?!”
“Ya…”
Mendadak sekujur tubuh Donghae terasa menegang, ia langsung mengerang frustrasi, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebelum akhirnya ia melampiaskan rasa kesalnnya itu dengan menendang sekeras-kerasnya meja yang ada di hadapannya.
“SIAL!!” Umpatnya geram.
Brak!
Seketika itu juga, meja yang terlihat begitu kokoh itu langsung melayang dan hancur berkeping-keping karena menabrak dinding dengan begitu kuatnya. Sementara itu, Ryeowook hanya tetap diam sambil menatap Donghae dengan tatapan was-was.
-Bloody Kiss-
“Itu jelas tidak masuk akal! Bagaimana bisa dia mengajaknya berduel?! Bukankah selama ini tak ada masalah sedikitpun di antara clan Demons dan clan Minotaur?” Seru Jaehee tak terima.
Jungsoo terdiam, ia memegangi ujung pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.
“Pasti ada alasan yang kuat sampai-sampai dia meminta Donghae untuk berduel dengannya saat gerhana matahari nanti.” Ujarnya.
“Tapi itu tetap tidak masuk akal! Itu hanya akan membuat clan Demons dan clan Minotaur saling bermusuhan! Terutama jika ada salah satu dari mereka yang mati!” Sahut Jaehee sengit.
“Mungkinkah… dia mengetahui keberadaan Miyoung di sini? Bukankah, dia begitu menginginkan Sungyeon untuk menjadi pendamping Donghae? Mungkin… dia marah karena hal itu.” Kibum yang sedari tadi ada di ruangan itu mulai menyuarakan pemikirannya.
Seluruh mata pun langsung tertuju padanya, dan mereka benar-benar baru menyadari hal itu.
“Kau benar!” Donghae yang semenjak tadi hanya diam langsung mengangguk cepat. “Dia pasti mengetahui keberadaan Miyoung di mansion ini!”
“Tapi bagaimana bisa? Mungkinkah ada seseorang yang memberitahunya? Tapi siapa?”
“Itu yang sedang kupikirkan sekarang…” Sahut Donghae frustrasi, ia menghela nafas panjang dan nampak jelas sekali jika pria ini tengah benar-benar merasa cemas dan frustrasi.
Tanpa mereka sadari, Eunhyuk yang sejak tadi memilih untuk diam. Kini beranjak dari tempatnya dan bergegas keluar dari ruangan itu. Matanya menelusuri suatu tempat, dan ketika ia melihat sesosok gadis yang tak lain adalah Sungyeon, ia langsung menariknya secepat kilat.
“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” Sungyeon berteriak kesakitan sembari berusaha untuk melepaskan cengkraman Eunhyuk pada pergelangan tangannya.
Sret!
“Ahk!” Gadis ini meringis kesakitan ketika Eunhyuk menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke dinding yang ada di belakangnya.
“Katakan padaku!! Apakah kau yang memberitahu Ayahmu perihal keberadaan Miyoung disini?!” Sentak Eunhyuk keras, tak mempedulikan ringisan Sungyeon barang sedikitpun.
Sungyeon mendengus kesal. “Untuk apa aku memberitahunya? Itu jelas tidak menguntungkanku sedikitpun!”
“Jangan berbohong padaku! Jika bukan kau yang mengatakannya, lalu siapa? Bukankah selama ini kau memang membencinya bukan?!”
“Aku memang membencinya, tapi aku tidak mengatakan apapun pada Ayahku, Eunhyuk-ah! Apa kau masih tidak mempercayaiku juga?!”
“Cih! Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan menjijikanmu itu?!” Eunhyuk berdecak sebal. Ia menatap Sungyeon dengan tajam, “Selama ini… bukankah kau begitu membenci kami? Kau pasti sangat terganggu dengan kehadiran Miyoung bukan? Dengan begitu… kau tidak dapat merayu adikku dan sekarang… apakah kau berfikir untuk merayuku kembali? Apakah-”
Plak!
Tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus Eunhyuk. Gadis di hadapannya ini menatap penuh kebencian padanya, namun tetap tersirat kesedihan juga dalam tatapannya itu.
“Jaga ucapanmu, Lee Hyukjae!” Seru Sungyeon keras. “Aku tahu kau begitu membenciku karena kejadian itu! Tapi bisakah sedikit saja kau menghargai perasaanku?!” Ia menjerit penuh emosi.
Eunhyuk meliriknya sekilas, “Menghargai perasaanmu?” Ia sedikit memberi penekanan di setiap ucapannya itu. “Lalu bagaimana dengan perasaanku sendiri?! Kau bahkan tak pernah peduli akan perasaanku saat itu kan?!”
“Hentikan! HENTIKAN!!” Jerit Sungyeon sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya. “Kau yang membuatku seperti ini!! Kau yang membuatku jadi seperti ini, Lee Hyukjae!!!”
Deg!
Dan untuk pertama kalinya semenjak terakhir kalinya Eunhyuk merasakan perasaan ini. Pria ini lagi-lagi merasakan perasaan itu, perasaan dimana ia tak mampu melakukan apapun ketika ia melihat Sungyeon yang begitu rapuh seperti sekarang ini.
Sekujur tubuhnya membeku dan kini tak ada yang dapat ia lakukan selain berdiri mematung.
Sementara itu, perlahan demi perlahan tubuh Sungyeon merosot ke atas lantai. Gadis ini meraung sekeras-kerasnya sambil terus mengeluarkan ribuan air mata yang telah membasahi sebagian dari wajahnya itu.
“Kau yang membuatku seperti ini, Eunhyuk-ah…” Dan kata-kata itu kembali terlontar dari mulut Sungyeon di sela isak tangisnya.
-Bloody Kiss-
Suara erangan kesakitan yang berasal dari Miyoung kembali terdengar. Gadis itu terus memegangi perutnya yang terasa seperti di tusuk-tusuk oleh benda tajam, cairan kental berwarna hitam pekat itu kembali keluar dari mulut Miyoung dan gadis ini terlihat begitu kesulitan dalam bernafas.
Jungsoo dan Jaehee yang sejak tadi sudah berada di dalam ruangan itu, nampak sibuk mengganti persediaan darah dalam tabung itu. Beberapa selang medis yang mengalirkan darah segar kini telah tertancap di bagian kedua lengan Miyoung.
“Biarkan aku yang mengurusnya…” Sebuah suara terdengar di ruangan itu, menyadarkan Jungsoo dan Jaehee jika ada orang lain dalam ruangan tersebut.
Keduanya lantas menoleh ke arahnya, dan mereka nampak begitu terkejut ketika menyadari jika orang yang berbicara tadi adalah Kim Heechul. Mereka tidak percaya jika rupanya Sungmin telah berhasil membujuknya untuk datang ke Mansion ini.
“Heechul-ah…”
“Pergilah. Aku akan mengurus gadis ini sekarang…” Ujar Heechul tanpa mempedulikan panggilan Jaehee sedikitpun.
“Kau yakin?” Ragu Jungsoo.
“Tentu.”
Dan setelah itu pun, Jungsoo langsung melirik sekilas ke arah Jaehee. Seolah mengerti dengan arti tatapannya itu, Jaehee pun lantas mengikuti langkah Jungsoo untuk keluar dari tempat itu dan membiarkan Heechul menangani Miyoung sendiri.
Heechul meraba pergelangan tangan Miyoung, ia memejamkan kedua matanya sesaat, mencoba untuk merasakan denyut nadi Miyoung yang rupanya terasa semakin melemah tiap menitnya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya tangannya menyentuh bagian perut Miyoung.
Dari telapak tangannya, muncullah sebuah cahaya yang ntah kenapa terasa hangat dan mampu mengurangi rasa sakit pada perutnya itu. Miyoung terlihat sedikit lebih tenang, ia pun tak merasa sulit untuk bernafas lagi sekarang.
“Kau sudah merasa lebih baik sekarang?” Heechul beralih menatap Miyoung, sementara telapak tangannya masih tetap mengeluarkan cahaya yang mampu menghangatkan perut Miyoung itu.
Miyoung mengangguk singkat sambil tersenyum lemah.
“Terima kasih…”
“Aku tidak membutuhkan kata-kata itu.” Ujar Heechul dingin. Terdengar sedikit menyebalkan memang, tapi ntah kenapa Miyoung tak merasa tersinggung sama sekali dengan hal itu.
Heechul menoleh ke arah tabung yang berisikan darah segar itu. Selang-selang yang terhubung itu mengalirkan darahnya ke seluruh tubuh Miyoung dan kening Heechul mengernyit saat itu juga.
“Kau sudah kehilangan sebagian dari tulang rusuk belakangmu, dan kau masih dapat bertahan dengan semua ini?” Heechul bergumam pelan, melirik Miyoung yang terlihat mulai memejamkan kedua matanya, sepertinya gadis ini kelelahan.
-Bloody Kiss-
“Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah merasa lebih baik?” Donghae segera saja menghampiri Heechul kala pria itu baru saja keluar dari ruangan tersebut.
“Donghae-ah, tenanglah…” Ujar Jungsoo mengingatkannya untuk tetap tenang, tapi seolah tak dapat mendengarkannya, Donghae hanya mengabaikan ucapannya begitu saja.
“Hyeong…” Donghae kembali memanggil Heechul.
Pria itu menghela nafas cepat, “Dia sudah merasa lebih baik sekarang…” Ujarnya kemudian dan itu cukup membuat Donghae dapat bernafas lega.
Heechul melirik sekilas ke arah Kibum yang sedari tadi hanya tetap diam di sudut ruangan, sekilas ia dapat merasakan jika Kibum tengah menatapnya dingin dan penuh dengan kebencian, namun setelah itu pria itu berlalu begitu saja.
Menyadari kejadian itu, Jungsoo lantas menepuk pelan pundak Heechul, menyadarkannya dari kediamannya. “Biarkan dia sendiri dulu, Heechul-ah… mungkin dia membutuhkan waktu sendiri dulu…” Ujarnya.
“Aku tahu…” Ujar Heechul yang kemudian melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan itu.
Jaehee dan Jungsoo saling bertatapan sekilas sebelum akhirnya mereka memilih untuk pergi juga dari ruangan itu. Namun, langkah mereka terhenti kala Donghae berdiri di hadapannya.
“Apakah aku tetap tak dapat menemaninya sekarang? Aku begitu mencemaskannya…” Donghae berucap dengan nada yang terdengar penuh dengan keputusasaan.
“Tapi Donghae-ah…”
“Aku mohon…” Dengan tiba-tiba ia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya itu, air mata pun tak dapat ia bending lagi dan suara isak tangisnya mulai terdengar. “Biarkan aku menemaninya. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaannya… aku mohon…” Desisnya di sela isak tangisnya.
Merasa tak tega dengan keadaan Donghae sekarang, perasaan Jaehee sedikit terenyuh. Apalagi ia mengingat permintaan Miyoung padanya, dan ia tak mungkin mengabaikan hal ini begitu saja.
Walaupun dirinya seorang Demons. Ia tetaplah seorang Ibu yang tak tega jika melihat anaknya seperti ini. Sungguh, ini baru kali pertama untuknya melihat Donghae begitu rapuh dan bahkan meneteskan air mata hanya demi seorang manusia seperti Shim Miyoung.
“Baiklah… temuilah dia sekarang, Donghae-ah.”
“Jaehee-ya!”
“Biarkan saja.” Sela Jaehee cepat. “Sudahlah, Donghae-ah… cepat temui gadismu itu dan temani dia di sana. Dia juga pasti sangat membutuhkanmu saat ini…” Ujarnya kemudian.
Donghae tak mampu berkata apa-apa lagi, ia hanya bergegas melesat pergi ke dalam ruangan di mana Miyoung tengah tertidur sekarang.
Sementara itu, Jungsoo yang jelas tidak setuju dengan ucapan Jaehee, tentu saja menuntut satu jawaban yang pasti darinya.
“Kenapa kau membiarkannya masuk ke dalam ruangan itu?! Kau tahu kan jika Donghae bisa saja tergoda dengan darah-darah itu, Jae-ya!” Seru Jungsoo terdengar sedikit keras.
Jaehee menoleh padanya, menatap suaminya dengan tatapan meyakinkan.
“Dia tidak akan melakukannya, percayalah padaku… dia anakku, Jungsoo-ya. Aku percaya akan hal itu. Jadi kau pun harus percaya padanya…” Tutur Jaehee berusaha untuk meyakinkannya.
Seolah tak mampu menolaknya, Jungsoo pun hanya dapat menghela nafas berat sembari kedua tangannya mengusap peluh di wajahnya.
“Terserahmu sajalah.”
-Bloody Kiss-
Donghae berjalan lemah memasuki ruangan dimana Miyoung berada sekarang. Tatapan matanya begitu sendu, dan ia meraskan sekujur tubuhnya membeku dalam seketika saat dirinya melihat sosok Miyoung yang tengah tergeletak tak berada di atas ranjang itu.
Beberapa selang medis yang mengalirkan darah segar itu tertancap di kedua lengan Miyoung. Ia juga dapat melihat jelas lingkaran hitam yang nampak di bawah mata Miyoung, bibirnya putih pucat, tak semerah biasanya dan perutnya yang semakin membuncit itu seolah tak sesuai dengan kondisi badan Miyoung yang sekarang.
Tubuh Miyoung telah sepenuhnya menyusut, seolah-olah hanya tinggal tulangnya saja yang kini tersisa di balik kulit lembek gadis ini. 
Donghae memejamkan kedua matanya. “Maafkan aku, Miyoung-ah…” Lirihnya.
Dan air matapun kembali mengalir dari kedua sudut matanya, tubuhnya seketika ambruk di atas lantai. Ia benar-benar tak mampu melihat kondisi Miyoung yang seperti ini, pemandangan ini terasa begitu menyakiti dirinya sendiri.
Dalam benaknya pria ini berfikir, seandainya ia mampu menahan dirinya sendiri. Seandainya ia tak bertindak sesuai kehendaknya, dan seandainya ia tak membawa Miyoung ke mansion ini. Ia pastilah masih bisa melihat Miyoung seperti awal ia bertemu dengannya dulu.
“Maafkan aku… Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku, Miyoung-ah…”
-Bloody Kiss-
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, keadaan Miyoung pun terlihat lebih stabil setelah adanya Heechul di sana. Setiap tiga jam sekali, Heechul selalu mengecek keadaan Miyoung beserta bayi yang ada di dalam kandungannya.
Jungsoo dan Jaehee pun tak habis-habisnya terus-menerus mencari persediaan darah yang sama untuk Miyoung. Dan Donghae pun selalu menemaninya setiap saat, tak pernah sedikitpun pria ini meninggalkannya barang satu detikpun. Ia selalu setia menemani Miyoung.
Sama seperti pagi ini. Donghae nampak merangkul tubuh Miyoung, tangannya yang satu lagipun ia gunakan untuk mengelus-elus perut Miyoung yang semakin membuncit.
“Aku yakin dia akan tampan sepertimu nantinya…” Miyoung berucap di tengah keheningan itu.
Donghae tersenyum tipis saat mendengarnya. “Bagaimana kau mengetahuinya? Bagaimana jika bayi ini rupanya adalah bayi perempuan?” Ujarnya kemudian.
“Tidak, dia lelaki. Aku bisa merasakannya…” Sahut Miyoung sambil mendongakkan wajahnya, menatap Donghae dengan seulas senyuman tipis yang terkembang di wajah pucatnya.
Sekilas Donghae merasa sangat prihatin dengan hal itu, tapi ia buru-buru mengenyahkan segala pemikiran itu dan memilih untuk membalas senyuman Miyoung.
Ia semakin mengeratkan rangkulannya, membiarkan kepala Miyoung bersandar pada dadanya. “Aku mencintaimu, Miyoung-ah. Sangat-sangat mencintaimu.” Bisiknya sembari mengecup kening gadis itu.
“Aku juga.”
Miyoung memejamkan kedua matanya, merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan Donghae yang erat. “Donghae-ah…” Panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kau tidak akan meninggalkanku kan? Kau akan tetap di sampingku kan?”
“Tentu. Aku akan tetap bersamamu, Miyoung-ah… selamanya.”
-Bloody Kiss-
“Bayi itu akan lahir dalam waktu dekat ini, kurasa… mungkin sekitar dua hari lagi.” Ujar Heechul yang saat itu tengah mengobrol bersama Jungsoo dan Jaehee.
“Dua hari lagi?” Jaehee mengerutkan keningnya, “Bukankah itu…”
“Tepat saat gerhana matahari…” Lanjut Jungsoo dan langsung di balas anggukan singkat Heechul.
“Ya, dia akan melahirkan bayi itu saat gerhana matahari tiba…”
“Tapi, bukankah saat itu adalah saat dimana Taeyang dan Donghae akan bertemu? Kita takkan mungkin membiarkan Donghae bertemu dengannya sendirian!” Sela Jaehee cepat.
“Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, Jae-ya…”
“Tapi-”
“Aku akan sangat membutuhkan kalian… jadi, kuharap… kalian akan menemaniku saat itu. Dan kurasa… ada baiknya Donghae memang tidak berada di mansion ini saat itu…”
Jungsoo terdiam, merenungkan kata demi kata yang baru saja di katakan Jungsoo tadi.
“Ya, kau benar, Heechul-ah…”
-Bloody Kiss-
Heechul berjalan menuju sebuah taman yang berada di belakang mansion ini. Ia tersenyum tipis ketika melihat sesosok pria yang tak asing lagi baginya. Seseorang yang sudah sangat dirindukan olehnya, namun sayangnya pria itu pastilah membenci dirinya.
“Kurasa, kau memiliki banyak persamaan seperti Raena…”
Kibum meliriknya sekilas lalu kembali mengabaikannya karena ia mengetahui dengan jelas siapa pemilik suara itu. “Tinggalkan aku sendiri!”
“Tidak bisakkah kau bersikap lebih baik pada Ayahmu ini, Kibum-ah?” Ujar Heechul kemudian, ia duduk di samping Kibum namun pria itu tetap mengabaikannya.
“Apakah kau akan tetap mempertahankan bayi itu juga?! Apakah kau akan membuatnya sama seperti nasibku?! Menjadi setengah Djinn dengan darah manusia yang tetap mengalir di dalam tubuhku ini?!” Kibum bertanya dengan nada sinis.
Heechul hanya tersenyum kecut saat mendengarnya. “Kau pastilah masih sangat membenciku…”
“Lalu apa kau berharap aku akan berterima kasih atas semua ini? Berterima kasih karena kau telah membunuh Ibuku sendiri demi menyelamatkan bayi bodoh seperti aku! Apakah aku harus benar-benar berterima kasih akan hal itu?”
“Kibum-ah…”
“Kau membuatku muak. Pergilah dari hadapanku!”
Heechul terdiam. Ia memandang Kibum dengan tatapan sendu dan ia tahu betul jika sebenarnya pria itu hampir saja menangis, terlihat dari kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ia pun lantas berbalik, hendak meninggalkan Kibum. Namun sebelum itu, ia berkata,
“Bukan aku yang menginginkanmu untuk lahir ke dunia ini, Kibum-ah. Bukan aku!” Ujarnya dan setelah ia menghembuskan nafasnya sejenak, ia kembali berkata. “Shin Raenalah yang memintaku untuk menyelamatkanmu. Dia… Ibumu lah yang menginginkanmu untuk tetap hidup, dan jujur saja… aku pun masih belum bisa menerimamu, Kibum-ah… tapi, mengingat jika ada darah Raena yang mengalir dalam tubuhmu… aku tahu… aku tahu, jika tak seharusnya aku membencimu.”
Deg!
Kibum tertegun mendengar ucapan Heechul. Sungguh, selama ini ia tak mengetahui hal ini. Dan ketika ia mendengar semua ini, ntah kenapa perasaan menyesal karena telah berkata kasar pada Heechul tadi pun, langsung merambat perlahan-lahan dalam dirinya.
“Aku menyesal karena telah membuatmu tersakiti selama ini. Maafkan aku, Kibum-ah…” Heechul kembali bersuara, sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari tempat itu.
Kibum hanya tetap terdiam di tempatnya. Wajahnya tertunduk dalam dan kedua tangannya pun terkepal kuat, tubuhnya mulai bergetar dan tanpa terasa air matapun mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
“Kenapa… kenapa… kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?” Ujarnya di sela isak tangisnya.
 -Bloody Kiss-
Malam itu seperti biasanya Donghae akan tetap memeluk Miyoung hingga gadis ini terlelap tidur, namun sampai saat ini Miyoung tak kunjung menutup kedua matanya. Gadis ini masih tetap saja terjaga.
“Kenapa kau belum tidur juga, Miyoung-ah? Berisitrahatlah sekarang, sayang…” Ujarnya sembari mengelus-elus perut Miyoung.
“Kudengar… kau akan bertemu dengan raja dari clan Minotaur. Apakah itu benar?”
Donghae mengernyitkan keningnya, “Bagaimana kau bisa tahu hal itu?”
“Ada seseorang yang memberitahuku…”
“Haish… pastilah Heechul Hyeong yang mengatakannya kan?!” Tuduh Donghae, ia menggerutu kesal. Dalam hatinya, ia berkata, ‘Kenapa Heechul Hyeong harus mengatakan hal ini padanya?!’ Sungguh, Donghae tak ingin membuat Miyoung khawatir tentang hal ini.
“Aku tidak akan pergi…” Ujar Donghae kemudian.
Miyoung lantas menoleh padanya, menatapnya bingung. “Kenapa kau tidak pergi? Bukankah itu hanya akan memperburuk suasana saja, Donghae-ah?”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Miyoung-ah. Ck! Biarkan saja pria banteng itu marah ataupun mengamuk! Aku tidak peduli!”
“Kau tidak boleh seperti itu, Donghae-ah. Kau harus tetap datang menemuinya…”
“Dan kau ingin melihatku bertarung dengannya?! Oh ayolah, Miyoung-ah… bukankah aku sudah bersumpah untuk tidak meninggalkanmu barang sedetikpun?!”
Keduanya langsung terdiam, Donghae memandang Miyoung dengan tatapan sedikit kesal tapi sedetik kemudian tatapan itu kembali melembut dan telapak tangan Donghae pun bergerak ke arah pipinya, mengusapnya dengan lembut.
“Maaf… aku tidak bermaksud berbicara keras kepadamu.” Sesal Donghae.
Miyoung mengangguk singkat, ia lantas menyandarkan kepalanya pada dada Donghae. “Aku… tidak ingin melihatmu bertarung dengan siapapun, Donghae-ah. Tapi… aku juga tidak ingin jika sampai raja clan Minotaur itu mengamuk dan bahkan menghancurkan mansion ini.”
“Kenapa kau begitu peduli dengan mansion ini? Kita bisa pindah ke manapun kau mau.”
“Tidak.” Miyoung menggeleng. “Terlalu banyak kenangan yang tercipta di mansion ini… aku tak ingin meninggalkan mansion ini, Donghae-ah. Aku ingin tetap di sini…”
“Miyoung-ah…”
“Karena itu… temuilah raja clan Minotaur itu dan jelaskan semuanya. Jelaskan secara baik-baik padanya jika kau tak ingin menikahi anaknya. Aku yakin kalian dapat berbaikan tanpa harus bertarung…” Pinta Miyoung, berusaha membujuk Donghae untuk tetap menemui Taeyang.
“Tapi, Miyoung-ah… aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini sendirian!”
“Aku tidak sendirian…” Miyoung menyela. “Bukankah ada banyak orang yang menemaniku di sini? Termasuk kedua orang tuamu…”
“Tapi, Miyoung-ah…”
“Aku akan menunggumu, Donghae-ah. Percayalah… aku akan baik-baik saja.” Gadis ini bergerak sedikit, dan perlahan ia mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Donghae.
Donghae masih terdiam, menatap ragu pada gadis di hadapannya ini. Namun, Miyoung hanya tersenyum tipis padanya, seolah meyakinkan Donghae jika ia akan baik-baik saja.
“Aku mencintaimu. Dan aku akan menunggumu sampai kau datang nanti.” Bisiknya.
Dan pada akhirnya, keputusan Donghae pun sedikit tergoyahkan. Pria itu lantas menarik tubuh Miyoung kembali, memeluknya dengan erat lalu mendaratkan kecupan lembut di keningnya.
“Jika itu maumu… aku akan melakukannya, Miyoung-ah.” Desisnya. “Aku mencintaimu. Dan aku tak ingin kehilanganmu… karena itu, bertahanlah sampai aku datang nanti…”
“Ehm.” Miyoung hanya mengangguk singkat di dalam dekapannya.
Namun, tanpa Donghae sadari, sekilas tersirat kesedihan yang mendalam yang terpancar dalam kedua mata Miyoung. Gadis ini perlahan menutup kedua matanya dan setetes air matapun turun dari pelupuk matanya.
‘Maafkan aku, Donghae-ah…’ Gumamnya dalam hati.
-Bloody Kiss-
Hari itu tiba, hari dimana Donghae akan bertemu dengan sang ketua dari clan Minotaur itu. Pria ini tak datang sendiri, ia datang di temani Eunhyuk dan Sungmin. Sementara Kibum, Jungsoo, Jaehee dan Heechul berjaga-jaga di mansion bersama makhluk lainnya, takut-takut jika Taeyang mengirim utusan lain ke sana.
Taeyang pun tak datang sendiri, dia datang bersama beberapa pasukan kebanggaannya dan tak lupa juga, ada sosok Hyunja di tengah-tengah pasukannya itu.
“Hah… aku pikir kau tidak akan datang kemari, Lee Donghae-ssi!” Ujar Taeyang seolah tengah menyindir pria yang berada 9 meter di hadapannya itu.
“Lalu, dimana para prajurit-mu itu, huh?! Kenapa mereka tidak ikut bersamamu?” Tanyanya lagi.
“Kami datang kemari bukan untuk bertarung, Taeyang-ssi. Kami hanya ingin berdamai dan akan menjelaskan semuanya padamu.” Sahut Donghae tetap terlihat tenang walau sebenarnya ia tetap waspada.
“Berdamai katamu?!” Tawa Taeyang langsung terdengar menggelegar di puncak bukit itu. “Apa kau sedang bercanda denganku, Lee Donghae-ssi?!”
“Kami tidak bercanda! Kami memang datang untuk menjelaskan semuanya, kami tidak datang untuk bertarung denganmu!” Seru Eunhyuk dengan lantang, menyebabkan tawa dari Taeyang seketika lenyap.
“Cih! Kau pikir aku mau berdamai denganmu setelah kau telah berhasil mempermalukanku dan juga anakku, huh?!” Teriaknya penuh dengan penekanan.
Donghae masih tetap terlihat tenang sekarang, “Aku tidak bermaksud mempermalukan siapapun, Taeyang-ssi. Lagipula… bukankah yang menginginkan pernikahan ini adalah dirimu?”
“Apa katamu?! Jadi, kau ingin menyalahkanku, hah?”
“Aku tidak menyalahkanmu!” Balas Donghae mulai sedikit terpancing. “Seperti yang kau tahu… aku sudah memiliki gadis lain yang telah kutandai, dan kurasa… Sungyeon sudah mengetahui hal ini… karena itu… aku memang datang kemari untuk meminta maaf dan berdamai denganmu.”
“Omong kosong! Kau pikir, apakah mempermainkan para clan Minotaur itu mengasyikan?!”
“Kami tidak sedang mempermainkan kalian, kami-”
“Cukup! Kita hanya perlu menyelesaikan semua ini dengan bertempur!” Seru Taeyang keras dan di saat itu juga, ia merubah wujudnya menjadi sesosok Minotaur.
“Sial!” Umpat Donghae kesal.
Sungmin melirik ke atas langit, “Sebentar lagi akan terjadi gerhana matahari…”
“Kita tidak ada pilihan lain selain menerima ajakannya untuk bertarung.” Ujar Eunhyuk sembari menoleh pada Donghae dan Sungmin yang berdiri tepat di sampingnya.
Donghae menggeram, “Aku akan membereskan pria sialan itu, kalian urus sisanya!” Ujarnya dan setelah itu pun sosoknya langsung berubah menjadi sesosok Demons seutuhnya.
-Bloody Kiss-
Kibum kini tengah bersama Miyoung, dia menggantikan tugas Donghae untuk menjaga gadis ini dan ia memang tidak keberatan dengan hal itu. Hanya saja, ia sedikit tidak tega saat melihatnya harus terkapar lemah tak berdaya seperti sekarang ini.
“Kau terlihat begitu mengenaskan saat ini, Miyoung-ah…” Ungkap Kibum jujur.
Bukannya menjawab, gadis itu hanya tersenyum lemah seraya mengelus-elus perutnya. “Aku tahu hal itu.” Jawabnya dengan tenang.
Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya Miyoung kembali berbicara.
“Jadi, Heechul adalah ayahmu?”
“Ya, begitulah.” Jawab Kibum sambil tersenyum kecut.
“Dan ini adalah alasanmu mengatakan jika aku akan menyesal kalau bertemu Ayahmu karena dia begitu membenci manusia. Benarkan?” Ujar Miyoung lagi.
Kibum terdiam, “Bisakah kita tidak membahas hal ini?”
“Dia menyayangimu, Kibum-ah…”
“Tapi dia sudah membunuh Ibuku sendiri!”
“Bukan dia yang menginginkan semua ini Kibum-ah. Sebenarnya dia juga tak ingin melakukan hal itu. Itu adalah permintaan Ibumu sendiri…”
Hening, tak ada jawaban dari pria itu. Ia hanya tetap diam sambil memunggungi Miyoung. Lalu tak berapa lama, terdengar sebuah rintihan tertahan dan ketika Kibum berbalik padanya, ia dapat melihat darah segar mengalir di antara kedua paha Miyoung.
“Oh tidak! Kau mengalami pendarahan, Miyoung-ah!” Panik Kibum.
“Ahk!” Miyoung menekan keras-keras kepalanya ke bantal, rasa sakit pada perutnya mulai terasa kembali dan sekujur tubuhnya terasa bergetar sekarang.
Hanya selang beberapa detik saja, Heechul, Jungsoo dan Jaehee telah berada di dalam ruangan itu tanpa di sadari sedikitpun oleh Kibum.
“Pergilah keluar, Kibum-ah!” Suruh Heechul.
“Tapi, aku harus menemaninya!”
“Kibum-ah, kita di serang oleh kawanan clan Ogre dan clan Minotaur! Kau harus keluar dan pergi membantu yang lain agar mansion ini tidak berhasil di rusak oleh mereka!” Ujar Jaehee tegas.
“Apa?! Mereka datang menyerang kemari?!”
“Ya, karena itu pergilah sekarang juga!” Seru Jungsoo kemudian dan tak butuh waktu lama untuk Kibum bergegas pergi dari tempat itu.
Heechul melirik sekilas ke arah luar jendela, di lihatnya langit mulai menggelap dan di rasakannya denyut nadi Miyoung yang terasa semakin melemah itu.
“Ini sudah saatnya…”
“AHK!” Teriakan kesakitan itu kembali terlontar dari mulut Miyoung, nafasnya tersenggal-senggal dan keringat dingin pun langsung mengucur dari keningnya.
“Dia mengalami pendarahan yang hebat!” Seru Jungsoo ketika melihat darah segar yang mengalir di antara kedua paha Miyoung.
“Jae-ya, ambilkan aku pisau kecil di ujung sana, cepat!!” Seru Heechul sembari merobek pakaian Miyoung di bagian perutnya.
Jaehee segera membawakan pisau tersebut dan memberikannya pada Heechul. “Apa yang akan kau lakukan, Heechul-ah?”
“Aku harus merobek bagian perutnya, dia tidak mungkin melahirkan bayinya dengan cara biasa.” Ujar Heechul seraya mengarahkan pisau itu ke bagian perut Miyoung.
“ARRRRRRGHHH!!” Teriakan Miyoung seolah beradu dengan suara bising yang berasal dari luar mansion ini.
Darah mengalir semakin banyak dan Heechul masih nampak sibuk berkutat dengan perutnya.
“Jaehee-ya, jangan biarkan gadis ini kehilangan kesadarannya, buat dia tetap terjaga!” Serunya ketika melihat kedua mata Miyoung mulai meredup dan beberapa kali hampir menutup.
Jaehee buru-buru memegang tangan Miyoung, sesekali ia mengusap kening gadis itu yang terus mengeluarkan keringat dingin. “Miyoung-ah, bertahanlah… aku tahu kau bisa melakukannya.”
Seolah mampu mendengar segala ucapan Jaehee, namun tak dapat membalasnya sedikitpun. Gadis ini hanya terus berteriak kesakitan, tangannya menggenggam erat tangan Jaehee.
Sementara itu, Jungsoo nampak sibuk menambah persediaan darah pada tabung itu. Darah yang ada di dalam tabung itu, ntah kenapa cepat sekali habis, seolah-olah organ-organ dalam tubuh Miyoung menghisap darah-darah tersebut.
“AAAAAAARRRRRRGGGGGHHH!!” Gadis ini semakin berteriak kesakitan ketika merasakan ada sesuatu yang tertarik dalam tubuhnya.
Suara tangisan bayi yang merasa kesal karena telah di renggut dari kehangatan rahim ibunya seketika pecah dalam ruangan tersebut. Tubuh Miyoung melemas dan ia pun samar-samar dapat melihat Heechul tengah mengangkat sesosok bayi mungil yang masih di lumuri banyak darah.
Heechul menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Kau melahirkan bayi laki-laki, Miyoung-ah.”
Seulas senyuman bahagia pun terkembang di wajah pucatnya, air mata terharu meluncur dengan bebas dari kedua sudut matanya.
Namun, sedetik kemudian, Jaehee merasakan pegangan Miyoung melemah dan perlahan-lahan tubuh Miyoung terasa berubah menjadi dingin.
“Oh, tidak! Heechul-ah!” Ia langsung menoleh pada pria di belakangnya itu.
Heechul segera menarik salah satu kain yang ada di ruangan tersebut dan membungkus bayi itu dengan kain itu. “Bawa bayi ini bersamamu, Jaehee-ya! Aku akan mengurusnya!” Suruhnya.
Jaehee bergegas meraih bayi itu lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
“Jungsoo-ya, bantu aku salurkan energimu padanya! Tutup luka di perutnya!” Serunya lantang.
Jungsoo mengikuti perintah Heechul, ia berkonsentrasi sepenuhnya dan langsung menyalurkan segala energi kekuatannya pada bagian perut Miyoung, berusaha menutup kembali luka yang ada pada perut Miyoung.
Heechul pun nampak mengeluarkan cahaya dari kedua telapak tangannya, ia meletakkan salah satu tangannya di bagian pergelangan tangan gadis itu, sementara tangan yang satunya lagi di bagian dada Miyoung.
Cahaya putih pun melingkupi tubuh gadis ini, menggambarkan kekuatan yang terserap oleh tubuhnya yang berasal dari energi Jungsoo dan Heechul. “Kumohon bertahanlah!” Bantinnya.
 -Bloody Kiss-
Donghae dan Taeyang nampak terlihat kewalahan satu sama lain. Keduanya sudah berduel sejak tadi, dan sudah banyak luka yang nampak di tubuh kedua pria ini.
“Sialan!” Geram Taeyang sembari berlari kearahnya dan melihat hal itu, Donghae pun bergerak secepat kilat lalu muncul di balik punggung Taeyang dan menendang pria itu sekeras-kerasnya.
“Argh!” Tubuh Taeyang tersungkur ke atas tanah, tapi ia sama sekali tak terpengaruh akan hal itu, ia segera bangkit dari posisinya lalu menarik salah satu kaki Donghae dan melempar tubuh pria itu hingga mengenai batang pohon yang besar itu.
Brak!
“Ugh!” Donghae sedikit meringis kesakitan, batang pohon yang terkena olehnya tadi langsung saja ambruk seolah terkena hempasan badai yang begitu kuat. “Sial!!” Umpatnya.
Darah segar mulai keluar dari mulut Donghae, menandakan jika pria ini mengalami luka dalam pada tubuhnya. Ia mengerang kesakitan sementara Taeyang memandangnya penuh kemenangan.
“Bangunlah bocah bodoh!! Bukankah kau adalah Demons terkuat, huh?” Taeyang berucap sinis.
Donghae hanya tetap terdiam di tempatnya, mengumpat kesal karena tubuhnya harus terluka. Ia sebenarnya sudah merasa lelah dan seakan tak memiliki tenaga lagi untuk bertarung.
“Cih! Jadi, sebegini saja kah kekuatanmu?!” Seru Taeyang mencemooh, “Baiklah, kalau begitu aku akan menghabisimu sekarang dan setelah itu aku akan menghabisi wanita manusia murahan itu!”
Deg!
Mendengar kata ‘wanita manusia’ Donghae kembali teringat akan janjinya kepada Miyoung.
‘Aku akan menunggumu sampai kau datang nanti.’
Taeyang hampir saja melayangkan pukulannya ke tubuh Donghae, tetapi ntah kenapa Donghae merasakan jika tubuhnya terasa jauh-jauh lebih kuat, tidak seperti sebelumnya.
Ia pun segera menangkis pukulan Taeyang. Di tangkapnya kepalan tangan Taeyang itu, lalu tanpa ada rasa belas kasihan ia mendorong tubuh Taeyang sekaligus menendang perutnya.
“ARGH!” Teriakan kesakitan Taeyang terdengar, pria itu tersungkur ke atas tanah dengan darah yang memuncrat dari mulutnya.
Sedetik itu juga Donghae telah berada di hadapannya, ia mencekik leher Taeyang kuat-kuat dan melayangkan pukulan bertubi-tubi pada wajah pria itu hingga darah segar kembali keluar dari mulut pria itu.
“Rasakan itu! Rasakan itu, raja brengsek!!!” Maki Donghae sembari tetap menghajarnya.
Donghae langsung menarik tubuh Taeyang yang sudah lemah, dengan gerakan cepat pria ini pun melemparkan tubuh Taeyang ke atas. Lalu di susul olehnya yang ikut melompat dan melayang lebih tinggi di atas tubuhnya.
Taeyang melebarkan matanya ketika di rasakannya satu pukulan yang cukup keras pada perut dan dadanya itu, darah segar kembali keluar dan bersamaan dengan itu, Donghae menarik kepalanya sembari menukik bersamaan ke arah bawah.
Brak!
Tubuh keduanya langsung terjatuh ke atas tanah hingga membentuk lubang yang cukup dalam. Debu berterbangan di mana-mana, dan di saat itu pulalah Donghae beranjak dari atas tubuh pria itu sembari membawa kepala Taeyang yang rupanya telah terpisah dari tubuhnya.
“Ck!” Ia berdecak sebal sembari menghempaskan kepala Taeyang ke atas tanah.
Tubuhnya seketika ambruk, ia terlalu kelelahan dan nafasnya pun tersenggal-senggal. Akan tetapi di balik itu semua, ia tersenyum penuh kemenangan.
Ia berusaha beranjak dari posisinya sekarang, ingin bergegas kembali ke mansion dan menemui Miyoung secepatnya, tapi langkahnya terhenti kala ia melihat sebuah cahaya hitam pekat yang berasal dari arah mansionnya yang berjalak puluhan kilometer jauhnya dari tempat ini.
Kedua bola mata hitam Donghae melebar, ia tahu dengan jelas maksud dari cahaya hitam itu. Ia tahu jika cahaya itu hanya akan di keluarkan oleh para clan Djinn jika ada seseorang terdekat mereka atau kawanan mereka yang meninggal!
Dan ia tahu dengan jelas jika cahaya itu berasal dari kekuatan Kibum. Seolah kekuatan itu tengah memberitahu dirinya, bahwa ada sesuatu yang buruk yang telah terjadi di mansion.
“Tidak!! Jangan katakan jika…” Ia tak mampu lagi berkata-kata dan secepat itu pulalah ia pergi menuju mansion.
Tak butuh waktu lama untuknya agar tiba di mansion, ia hanya memerlukan beberapa menit saja. Dan ketika ia tiba di sana, ia telah menemukan berbagai mayat clan Ogre dan clan Minotaur yang tergeletak tak berdaya di luar mansion.
Langkahnya pun terhenti kala ia melihat sosok Kibum yang tengah terduduk lemas di atas tanah dengan wajah yang tertunduk. Sekujur tubuh Donghae pun menegang, dan ketika ia telah benar-benar berada di hadapan Kibum, pria itu mendongakkan wajahnya.
“Apa yang terjadi, Kibum-ah?” Tanya Donghae dengan suara bergetar.
“Donghae-ah…” Kibum berucap dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya. “Dia… dia sudah tiada sekarang…”
Deg!
To Be Continued…

3 komentar: