Kamis, 27 November 2014

Bloody Kiss (Chapter.7)

Title                  : Bloody Kiss
Author            : NtaKyung
Casts                 : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Shim Miyoung, Park Jungsoo and OC
Length             : Series [On Writing]
Genre                : AU(Alternate Universe), Fantasy, Romance, Unrated
Rating               : NC-17
Disclaimer    : Seluruh casts dalam ff ini adalah milik Tuhan, Orang Tua dan Mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini seluruhnya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art    : By NtaKyung aka Saya sendiri!
-Bloody Kiss-
Senyuman di wajah Donghae semakin terkembang jelas, ia mengeratkannya pelukannya lalu meletakkan dagunya di atas puncak kepala Miyoung.
“Kau tahu, Miyoung-ah?” Ia mulai bersuara, “Seorang Demons sepertiku tak memiliki jantung yang dapat berdetak cepat ketika merasa gugup ataupun senang. Tapi hanya karena ucapanmu tadi… sungguh, aku dapat merasakan hal itu! Seolah aku memiliki jantung sepertimu, seolah aku dapat merasakan debarannya dan ini benar-benar membuatku sangat bahagia mengetahui dirimu pun mencintaiku, Miyoung-ah.”
Miyoung mendongakkan wajahnya, menatap Donghae dengan mata sayupnya. “Benarkah itu? Benarkah kau dapat merasakannya hanya karena ucapanku ini?”
“Yah..” Donghae mengangguk singkat sembari tetap tersenyum. “Semua yang kau miliki selalu membuatku merasakannya, Miyoung-ah…”
Semu rona kemerahan mulai tampak di kedua pipi Miyoung. Ia hendak kembali menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang ada pada kedua pipinya itu. Namun, Donghae justru menahan dagunya dan membuat gadis ini untuk tetap memandangnya.
“Aku mencintaimu, Shim Miyoung…” Desisnya dengan sepenuh perasaannya. Wajahnya pun bergerak mendekati wajah Miyoung, hendak kembali mendaratkan bibirnya di bibir ranum Miyoung, tetapi hal itu terhenti kala sebuah suara ketukan pintu menginterupsi ‘kegiatan’ mereka saat ini.
Dengan geram Donghae menoleh kearah pintu itu, merasa kesal karena suara ketukan pintu. Ia mengumpat dalam hatinya, bersumpah jika siapapun orang yang ada di balik pintu itu akan ia hajar habis-habisan setelah ini. “Siapa?!” Suara Donghae terdengar lantang dan penuh dengan penekanan.
“Aku tahu jika saat ini kau sudah bersiap untuk menghajarku, Lee Donghae!” Ujar seseorang dari balik pintu itu, dan ia tak lain adalah Lee Sungmin. “Tapi aku harus mengatakan jika Appa sudah menunggumu sejak beberapa waktu yang lalu, jadi… jika kau tak keberatan… bisakah kau bangkit dari atas tubuh Miyoung sekarang juga dan bergegas ikut denganku?” Lanjutnya.
Kedua pipi Miyoung kembali memerah ketika mendengar ucapan Sungmin, dengan reflex ia pun memukul dada Donghae, membuat pria itu menoleh padanya dan mendapatkan tatapan memperingatkan dari Miyoung yang justru malah membuat Donghae tersenyum jail padanya.
“Kau pikir ini lucu?! Cepat bangun dan temui Sungmin sekarang juga!” Desis Miyoung pelan, ia tak ingin Sungmin bisa mendengar suaranya.
“Aku tidak mau!” Sahut Donghae dengan suara kencang, seolah tengah menggoda Miyoung.
Miyoung langsung memelototinya dan kembali memukul pria itu, berharap jika Donghae akan segera beranjak dari atas tubuhnya.
“Lee Donghae, cepatlah bangun dari atas tubuhku!!” Miyoung menggerutu kesal, rona merah di wajahnya semakin bertambah jelas.
Donghae terkekeh menyadari hal itu, dan akhirnya memilih untuk mengalah lalu hanya dalam seperkian detik saja ia telah beranjak dari posisinya kemudian mengenakan seluruh pakaiannya dan semua itu bisa di kerjakannya hanya dalam satu kedipan mata saja.
“Tidurlah… aku tahu kau lelah, Miyoung-ah.” Donghae mengecup singkat keningnya sembari membelai lembut pipi gadis itu.
“Tentu. Sudahlah, sana temui Sungmin dan Ayahmu.” Suruh Miyoung sembari merapatkan selimutnya hingga ke atas.
Donghae tersenyum dan mengangguk, ia berjalan menuju pintu kemudian bergegas keluar dari dalam ruangan itu dan langsung di sambut oleh senyuman menggoda dari Sungmin.
Ia menyipitkan matanya dengan kening yang mengerut, “Wae?!” Tanya Donghae heran, jujur saja, ia merasa sedikit risih dengan tatapan Sungmin itu.
Sungmin tak langsung menjawab, hanya melipatkan kedua tangannya di depan dadanya lalu ia pun menyandarkan tubuhnya pada dinding di sampingnya. “Katakan padaku… berapa lama Miyoung bisa menangani ‘permainan’-mu itu, huh?”
Seketika itu juga senyum bahagia yang tak dapat di sembunyikan olehnya pun terkulum jelas di wajah tampannya, kemudian ia pun memalingkan wajahnya sembari berjalan cepat.
“Bukankah kau mengatakan padaku jika Appa sedang menunggu kita?” Sepertinya Donghae tengah berusaha untuk mengalihkan pembicaraan di antara mereka dan Sungmin tentu saja tahu akan hal itu.
“Baiklah, aku tahu. Semua itu jelas sekali terlihat dari raut wajahmu yang sangat ‘puas’!” Sindir Sungmin sembari tersenyum jail, tapi Donghae tak terlalu menanggapinya dan hanya terus pergi tanpa menoleh pada kakaknya itu.
-Bloody Kiss-
“Apa kau tahu alasanku menyuruhmu menemuiku di sini?” Jungsoo menatap lekat pada kedua anaknya ini, namun tujuan utamanya mengatakan hal itu jelas saja hanya di tujukan untuk Donghae saja.
Sungmin menggedikkan bahunya acuh, sementara itu Donghae lebih memilih diam tanpa ingin berkomentar sedikitpun.
“Kami ingin membicarakan tentang keberadaan gadis manusia itu.” Ucapan Jaehee sontak saja membuat Donghae mendongakkan wajahnya dan langsung menatapnya tajam.
“Apakah kita harus terus membicarakan tentangnya?! Bukankah semuanya sudah jelas? Gadis itu adalah milikku, jadi dengan kata lain dia sudah menjadi bagian dari diriku sendiri!” Seru Donghae dengan nada dingin.
Jungsoo melirik Donghae dengan kedua mata yang sedikit menyipit, bibirnya mengatup rapat dan keningnya mengerut dalam. “Atas dasar apa kau mengatakan jika dia adalah milikmu Lee Donghae?!”
“Karena begitulah adanya…” Sahut Donghae sekenanya.
“Dia belum milikmu sepenuhnya! Kau tahu kan jika-”
“Aku sudah melakukan semuanya!!” Donghae berteriak keras sembari beranjak dari duduknya dan menatap kedua orang tuanya itu dengan tajam.
“Apa?” Jaehee tertegun mendengar ucapannya.
“Yah… kami sudah melakukan ritual itu. Semua yang harus di lakukan oleh bangsa kami jika ingin memiliki seseorang…” Donghae terdiam sesaat lalu melanjutkan. “Aku telah melakukan semua itu, dan dengan kata lain… gadis itu adalah milikku sekarang. Dia adalah isteriku!”
Jungsoo dan Jaehee seketika tak mampu berkata-kata, mereka begitu nampak terkejut saat tahu jika Donghae telah melakukan ritual itu.
“Apa kau bodoh?! Bagaimana bisa kau melakukan ritual itu dengan gadis manusia sepertinya, Lee Donghae?!” Jungsoo tiba-tiba bersuara lantang dan hanya dalam seperkian detik, pria itu telah berada di hadapan Donghae, mencengkram kuat pakaiannya.
“Appa!” Sungmin segera beranjak dari duduknya, berusaha menahan keamarahannya.
Bukannya merasa takut, Donghae malah membalas tatapan tajam Jungsoo dengan tatapan yang tak kalah sengitnya. “Apa yang salah dengan semua itu? Bukankah aku berhak menentukan pilihanku sendiri?!” Balasnya sinis.
“Kau!!” Jungsoo semakin mencengkram kuat pakaiannya sehingga tubuh Donghae hampir saja terangkat ke atas, jika saja Sungmin tak segera menahannya.
“Appa, hentikan!” Seru Sungmin keras. “Memangnya apa yang salah dengan memilih seorang gadis manusia sebagai isteri kita? Itu bukanlah masalah besar kan?” Lanjutnya.
Jungsoo lantas menoleh pada Sungmin lalu mendengus sebal. “Bukan masalah besar katamu?! Ya! Lee Sungmin, gadis itu bisa hamil!!”
Sekujur tubuh Donghae seketika menegang. Bola matanya melebar dan tenggorokannya kini terasa tercekat, seolah-olah ia tak mampu mengatakan apapun saat ini. “A-apa?” Suaranya saat ini berhasil keluar meski hanya sebuah bisikan pelan.
Tak kalah terkejutnya dengan Donghae, Sungmin pun menatap Jungsoo tak percaya. Sejauh ini dia tak pernah mengetahui jika hal itu akan terjadi jika mereka melakukan ritual itu dengan seorang manusia.
“Yah… itu memang benar.” Jaehee memecah suasana keheningan yang terjadi sesaat itu. Wanita ini berjalan mendekati Jungsoo dan hanya dengan satu gerakan saja, ia telah berhasil menarik tubuh Jungsoo mundur beberapa langkah dan melepaskan cengkramannya dari Donghae.
“Tapi… bagaimana bisa?” Tanya Sungmin heran, ia melirik Donghae sejenak dan pria itu kini hanya dapat tercenung di tempatnya, sepertinya ia benar-benar terkejut mendengar hal itu.
Jaehee menggedikkan bahunya acuh, “Mereka adalah manusia… jadi tentu saja mereka dapat mengalami proses kehamilan.” Sahutnya santai. “Tapi sebenarnya bukan itu permasalahannya. Yang jadi permasalahannya saat ini adalah, jika gadis itu berhasil hamil dari makhluk seperti kita, maka… kecil kemungkinan untuknya bertahan hidup… dan bahkan, jika ia pun berhasil melahirkan anak itu, maka… anak itu akan menjadi makhluk setengah manusia dan setengah demons seperti kita.”
“Itu tidak mungkin!!” Donghae langsung menoleh ke arah Jaehee, berusaha menepis penjelasan Jaehee tadi dan menganggapnya sebagai angin lalu saja. “Hal gila seperti itu tidak mungkin akan terjadi!! Miyoung akan tetap bertahan hidup dan ia takkan mungkin memiliki anak!”
“Apanya yang tidak mungkin? Semuanya bisa saja terjadi, Donghae-ah…” Sahut Jaehee, masih terlihat santai.
“Aku tetap tidak percaya!” Bantah Donghae dengan nada lantang.
“Lalu bagaimana dengan Kim Kibum?!” Seru Jungsoo tak kalah lantangnya dan hal itu sukses membuat Donghae terdiam, kening pria itu mengerut, tak mengerti dengan maksud ucapan Jungsoo tadi.
“Apa maksudmu?”
Jungsoo tak segera menjawab, ia melirik sekilas pada Sungmin dan seolah mengerti maksud dari tatapan itu, Donghae lantas ikut menoleh pada Sungmin yang sedari tadi tetap diam saja.
“Apakah kau mengetahui sesuatu, Sungmin-ah?” Donghae bertanya dengan setengah berbisik.
Hening. Untuk beberapa saat itu, Sungmin masih memilih untuk tetap diam. Namun beberapa saat kemudian, ia segera mengangguk dan berkata, “Kim Kibum… sebenarnya… dia bukanlah sepenuhnya sesosok Djinn… ada darah manusia yang mengalir pada tubuhnya dan jika saja kau tahu… Kibum bahkan masih memiliki jantung yang dapat berdetak setiap detiknya.” Jelasnya kemudian.
Deg!
Sekujur tubuh Donghae melemas dan kedua kakinya pun terasa bergetar hebat. Perlahan pria ini pun menjatuhkan dirinya di atas sofa yang berada di belakangnya, tatapannya terlihat kosong tapi memancarkan rasa terkejut yang tak mampu di utarakan dalam kata-kata.
Jungsoo bergerak mendekatinya dan menepuk pundaknya pelan, “Dan bukan hanya itu saja yang akan kau hadapi kelak, Donghae-ah. Kau tahu dengan jelas kan jika Ayah Sungyeon begitu menginginkanmu untuk menikah dengan anaknya?”
Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan, “Dan jika saja ia mengetahui jika mungkin saja kau memiliki seorang anak dari gadis manusia sepertinya, mungkin… kita akan mendapat masalah besar, Donghae-ah.”
Donghae tak berkata apa-apa lagi dan ruangan itu pun perlahan berubah menjadi hening sesaat setelah Jungsoo dan Jaehee meninggalkan ruangan tersebut di ikuti oleh Sungmin di belakang mereka.
“ARGH!! SIALAN!!”
BUGH!
Donghae langsung meninju lantai itu dengan kekuatan penuh, menyalurkan segala kekesalan dan juga keamarahannya saat ini pada lantai tersebut. Ia tak merasakan sakit sedikitpun, tapi ntah kenapa perasaan kesal dan marahnya itu pun tak dapat lenyap.
Bayangan akan wajah Miyoung yang tengah tersenyum padanya pun langsung terlintas dalam benaknya dan itu benar-benar membuat Donghae merasa putus asa sekarang. Ia menutup kedua matanya sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Apa yang harus kulakukan jika kau benar-benar hamil, Miyoung-ah?!” Ia menggeram kesal dan ketika ia membuka kedua matanya, seketika itu juga bola mata hitamnya berubah menjadi warna ungu pekat yang kelam.
-Bloody Kiss-
“Eunhyuk-ah, tunggu aku! Ya!! Lee Hyukjae!” Sungyeon berusaha menghentikan langkah pria di hadapannya itu dengan berteriak sekeras mungkin.
Dan hal itu berhasil, Eunhyuk menghentikan langkahnya dan hanya dalam seperkian detik pria itu telah berada di hadapannya, menatap tajam padanya.
“Apa yang kau inginkan, Kwan Sungyeon?! Bukankah sudah kuperingati jika kau harus tetap menjauh dariku meski tidak ada siapapun di sekitar kita?!” Eunhyuk mendesis dingin padanya.
Tatapan geram Sungyeon perlahan melembut dan gadis itu mulai menggapai tangan Eunhyuk, menyentuhkan telapak tangan Eunhyuk pada wajahnya yang terasa sedingin bongkahan es itu.
“Apakah kau tidak merindukanku, Eunhyuk-ah? Aku sungguh merindukanmu… aku sungguh merindukan sentuhanmu, senyumanmu dan-”
Greb!
Ucapan Sungyeon terhenti dan berubah menjadi ringisan yang menyesakkan ketika Eunhyuk menggerakkan telapak tangannya dengan cepat, lalu mencengkram leher Sungyeon dengan jari-jarinya yang kuat itu.
“Apakah kau tidak mendengarkanku, Kwan Sungyeon?” Eunhyuk mengucapkannya dengan penuh penekanan seiringan dengan bertambah kuatnya cengkraman tangannya pada leher mungil Sungyeon, “Hubungan kita telah berakhir… dan seharusnya kau menjauhiku! Apakah kau mengerti?!” Eunhyuk menyentakkan tangannya hingga tubuh Sungyeon terdorong sangat kuat ke belakang, kemudian ia pun melepaskan cengkramannya itu.
Sungyeon terdiam, menatap Eunhyuk dengan tatapan sendu yang seolah memancarkan rasa kagum dan mendamba. Seakan-akan gadis ini memiliki perasaan yang khusus pada Eunhyuk.
Tubuhnya perlahan bergerak mendekati Eunhyuk, di lingkarkannya kedua tangannya di antara pinggang Eunhyuk, membuat jarak di antara mereka terpisahkan. Tanpa ragu, Sungyeon pun menyandarkan kepalanya tepat di dada Eunhyuk dan pria itu hanya terdiam ketika Sungyeon melakukan semua itu.
“Aku tahu kau masih mencintaiku, Eunhyuk-ah.. aku tahu itu.” Gumamnya sembari tersenyum tipis. Kepalanya mendongak ke atas, telapak tangannya menangkup wajah Eunhyuk dan membuat pria itu menundukkan wajahnya. “Kau… masih memiliki perasaan itu padaku kan?” Bisik Sungyeon kemudian.
Untuk beberapa saat Eunhyuk terdiam, tapi setelah itu ia tersenyum dan langsung mendorong tubuh Sungyeon dengan mencengkram kuat pundaknya hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
“Ahk! Kau menyakitiku, Eunhyuk-ah…” Rengek Sungyeon, dapat ia rasakan jika jari-jari tangan Eunhyuk telah menancap dalam pada kulit pundaknya. Ia juga bisa merasakan darah segar perlahan mengalir secara perlahan menuruni lengannya.
Eunhyuk tak mempedulikan ringisan gadis itu. Ia malah mendekatkan wajahnya ke telinga Sungyeon, lalu berbisik pelan. “Jika kau mengatakan hal itu lagi… maka percayalah… di saat itu juga aku akan membunuhmu, Kwan Sungyeon!”
Ada penekanan di setiap perkataannya itu, dan setelah mengatakannya, Eunhyuk lantas segera melepaskan cengkramannya dan meninggalkan Sungyeon begitu saja. Sementara itu, Sungyeon nampak terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tubuhnya perlahan merosot ke atas lantas dan darah segar yang berasal dari luka di pundaknya pun mulai mengalir ke bagian telapak tangannya.
Wajah gadis ini menunduk dan tanpa terasa butiran-butiran air mata mulai turun dari kedua sudut matanya. Telapak tangannya mengepal dengan kuat hingga membuat getaran kecil dan gadis ini pun berteriak sekeras-kerasnya, meluapkan segala kekesalannya saat ini.
“Aku bersumpah jika kau hanya akan menjadi milikku, Eunhyuk-ah!! Hanya milikku!!” Gadis itu berteriak dengan nada angkuh, tapi tak dapat di pungkiri jika suaranya sedikit bergetar sekarang.
Kepalanya mendongak ke atas dan pancaran matanya pun langsung berkilat merah, kuku-kuku jarinya dengan cepat berubah menjadi panjang dan berwarna hitam dan tubuh gadis ini pun di liputi oleh aura hitam yang pekat. Luka yang di akibatkan oleh Eunhyuk tadi dapat dengan mudahnya tertutup kembali dan gadis ini pun mulai beranjak dari tempatnya, berjalan menuju suatu tempat.
Akan tetapi, tanpa di sadari oleh keduanya, rupanya Sungmin telah mengamati kejadian tadi sejak awal. Kedua tangannya melipat di depan dadanya dan matanya menyipit, menyiratkan sesuatu yang mungkin saja di ketahuinya.
“Kurasa… apa yang kupikirkan sejak kemarin memang benar.” Gumamnya dan pria ini pun menghilang begitu saja dari tempat persembunyiannya itu.
-Bloody Kiss-
Miyoung bergerak gelisah dalam tidurnya, ia merasa ada sesuatu yang menyakitkan di dalam perutnya. Rasa mual perlahan naik hingga ke kerongkongannya dan gadis ini pun langsung saja meloncat dari atas ranjangnya, berlari secepat mungkin menuju kamar mandi dan segera memuntahkan segala hal yang tertahan di dalam mulutnya itu.
Namun, tak ada yang benar-benar keluar dari dalam mulutnya selain cairan berwarna hitam pekat yang berlendir dan kental. Miyoung sampai harus meringis karena jijik saat melihat hal itu. Tapi tak lama dari itu, ia merasakan mual kembali dan cairan itu kembali keluar dalam jumlah yang banyak dan bahkan sampai mengotori sebagian pakaiannya.
Sementara mulutnya sibuk mengeluarkan cairan yang menjijikan itu, tangan kirinya terlihat sibuk meremas perutnya yang ntah kenapa terasa begitu sakit dan melilit. Miyoung merasakan ada yang aneh di dalam perutnya ini, ia seperti di tusuk-tusuk dengan benda tajam dari dalam perutnya ini dan ntah Miyoung menyadarinya atau tidak, tetapi perut gadis ini tiba-tiba saja membuncit dan darah segar pun perlahan mengalir di antara kedua pahanya.
Miyoung tersentak dengan hal itu, matanya terpejam menahan rasa sakit yang teramat dan mulutnya tanpa henti terus mengeluarkan cairan berwarna hitam pekat itu.
“Aaaaahk!!!” Gadis ini berteriak kesakitan dengan kepalanya yang mendongak ke atas ketika ia merasakan perutnya kembali membuncit dan darah segar itu pun terus mengalir.
Kedua kakinya melemas dan tubuh gadis ini pun langsung merosot terjatuh di atas lantai yang dingin dan telah di lumuri banyak darah miliknya itu. Tubuhnya menggeliat-geliat kecil karena kesakitan sementara kedua tangannya terus meremas perutnya yang terasa begitu menyakitkan itu. Pandangannya mengabur dan gadis ini benar-benar tak sanggup bertahan lagi.
Knock… Knock… Knock…
Samar-samar Miyoung dapat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, ia berusaha untuk menyuarakan suaranya, memberitahu jika dirinya tengah berada di ruangan itu. Namun hasilnya sia-sia, ia seolah kehilangan suaranya dan kesadaran gadis ini pun lenyap.
Kibum yang rupanya mengetuk pintu kamarnya, langsung saja membuka pintu kamar tersebut karena Miyoung tak kunjung menyahutnya ataupun membukanya dari dalam.
“Miyoung-ah… apakah kau ada di dalam?” Kibum menengok ke beberapa sudut kamar ini, tapi pria ini tak menemukan siapapun di sana.
Keningnya mengerut, “Tidak biasanya Miyoung keluar dari dalam kamarnya… kemana gadis itu?” Pikirnya. Ia terdiam sesaat, tapi setelah itu ia menggedikan kepalanya dan berbalik, hendak meninggalkan ruangan itu kembali.
Namun tiba-tiba saja ia dapat mencium aroma darah segar yang berasal dari kamar mandi. Ia lantas berbalik dan segera berjalan cepat menuju kamar mandi itu.
Kibum tersentak kaget ketika melihat keadaan Miyoung yang telah tak sadarkan diri. Pria ini buru-buru merengkuh tubuh Miyoung dalam pelukannya dan menepuk pelan pipi gadis itu.
“Miyoung-ah! Miyoung-ah, sadarlah!! Miyoung-ah!!!” Ia terus memanggil nama gadis itu, tapi Miyoung tetap tak bergeming barang sedikitpun.
“APA YANG TERJADI DI SINI?!” Donghae berteriak panik ketika ia baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan dapat dengan jelas mencium aroma darah Miyoung yang terasa begitu kuat memenuhi ruangan tersebut.
“Donghae-ah, ada yang terjadi pada Miyoung!” Seru Kibum dari arah kamar mandi dan pria itu pun dengan secepat kilat telah berada di hadapannya.
Kedua mata Donghae seketika melebar dan pria itu begitu terlihat syok ketika melihat sekujur tubuh Miyoung di lumuri begitu banyak darah dan ada beberapa cairan kental berwarna hitam yang menempel di bagian pakaiannya juga, belum lagi perutnya yang ntah kenapa tiba-tiba saja telah berubah menjadi membuncit layaknya seorang wanita yang hamil.
“PANGGILKAN AYAH DAN IBUKU SEKARANG JUGA!!” Teriak Donghae kemudian, dan tanpa banyak bicara lagi Kibum pun langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas mencari Jungsoo dan Jaehee.
Sementara itu, Donghae buru-buru mengangkat tubuh Miyoung yang masih di lumuri banyak darah itu. Membawanya untuk segera di baringkan ke atas ranjangnya yang empuk.
-Bloody Kiss-
Hyunja, gadis yang memiliki tak lain merupakan ratu medusa itu, berjalan angkuh melewati lorong menuju sebuah singgasana yang letaknya berada tepat di tengah kastil tua itu.
Sesampainya di hadapan sebuah pintu yang menjulang tinggi yang terbuat dari besi itu, gadis ini menghentikan langkahnya. Ia menatap sekilas kepada dua penjaga yang berdiri tepat di sisi-sisi pintu itu dan ia pun tersenyum singkat pada mereka.
“Buka pintunya! Aku harus menemui tuan kalian!” Titahnya dan tanpa banyak bicara lagi, kedua penjaga yang memiliki sosok Cyclops itu perlahan membuka pintu yang terlihat sangat berat itu dengan mudahnya, lalu mempersilahkan Hyunja untuk masuk begitu saja.
Gadis ini mulai melangkahkan kakinya, memasuki ruangan singgasana itu tanpa merasa takut ataupun cemas sedikitpun. Tatapannya langsung tertuju pada sesosok Minotaur, di mana itu adalah sesosok makhluk bertubuh manusia namun berkepala banteng. Ia memiliki tatapan mata yang tajam dan berkilat merah. Kuku-kuku jarinya berwarna hitam panjang dan tubuhnya pun bisa di bilang berukuran sangat besar, nyaris menyamai besar tubuh Demons.
“Apa yang kau mau, Hyunja-ssi?! Kenapa kau masuk ke dalam kediamanku?!” Suaranya yang terdengar menggelengar itu seolah memberi peringatan bagi Hyunja.
Gadis itu masih terlihat tenang, kedua tangannya terlipat di depan dadanya dan senyum licik nampak jelas di wajahnya. “Aku membawa kabar tentang calon suami anakmu kelak, Taeyang-ssi.” Ucap Hyunja mantap.
“Apa?” Kening pria bernama Taeyang itu mengerut, ia menatap Hyunja setengah tak percaya. “Kabar apa yang kau punya tentang Donghae?!” Tanyanya kemudian.
Hyunja kembali tersenyum licik, senang karena pria di hadapannya ini merasa penasaran dengan berita yang akan di sampaikannya sekarang.
“Lee Donghae… pria itu telah melakukan ritual pernikahan dengan seorang manusia bernama Shim Miyoung…” Ujarnya kemudian dan hal itu sukses membuat kedua mata Taeyang melebar dan tubuh besar pria itu pun langsung menjulang tinggi muncul tepat di hadapannya.
Denbgan kuku-kukunya yang tajam, ia mencengkram kuat dagu gadis ini, mengangkat dagu Hyunja dengan kasar dan memaksa gadis ini menatap matanya.
“Jangan main-main denganku, Hyunja-ssi!! Lee Donghae jelas hanya akan menjadi pasangan untuk anakku kelak! Kwan Sungyeon!” Serunya dengan nada marah.
Bukannya menciut dengan perlakuan Taeyang, gadis ini malah terkekeh dan menghempaskan cengkraman Taeyang pada dagunya.
Dengan angkuh ia balik menatap tajam ke arah Taeyang, ia tahu jika pria di hadapannya ini takkan terpengaruh dengan kekuatan matanya yang mampu membuatnya menjadi sesosok patung batu sama halnya seperti Demons, jadi karena itu Taeyang pun balas menatapnya tajam.
“Jika kau tidak percaya, kau bisa menanyakan hal ini pada anakmu sendiri, Taeyang-ssi. Bukankah dia sedang berada di kastil para Demons itu sekarang?”
Taeyang memundurkan langkahnya, sebelah alisnya terangkat dan dengan teliti ia mengamati Hyunja. Tak ada satupun kebohongan yang terpancar dalam raut wajah gadis ini, ia bahkan terlihat yakin dengan hal itu dan hal ini ntah kenapa membuat Taeyang merasa benar-benar geram sekarang.
“Apa aku dapat memegang perkataanmu ini, Hyunja-ssi?!”
Hyunja mengangguk dengan mantap, “Tentu. Kau bahkan bisa datang ke kastil itu jika ingin langsung melihat gadis manusia terkutuk itu…”
Dan rahang Taeyang mulai mengeras dalam seketika mendengar ucapan Hyunja tadi. Dengan satu hentakan kakinya saja, ia langsung membuat lantainya retak dan pria ini jelas terlihat sangat marah sekarang.
“SIALAN KAU LEE DONGHAE!!!” Geramnya penuh dengan amarah.
Hyunja hanya tersenyum kecil ketika melihat keamarahan yang muncul dari Taeyang. Sorot matanya jelas memancarkan rencana licik yang telah di susunnya secara matang.
“Yah… benar! Teruslah seperti itu padanya… dan ketika kau berhasil membuat Donghae terpisah dengan gadis menjijikan itu, maka… aku dapat merebut Donghae untuk menjadi milikku seutuhnya dan aku pun akan mengambil kekuasaan berhargamu ini, Taeyang-ssi!!” Gadis ini bergumam licik dalam hatinya dan segurat senyuman penuh kemenangan pun nampak jelas di wajahnya.
To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar