Kamis, 27 November 2014

Bloody Kiss (Chapter.8)

Title                    : Bloody Kiss
Author             : NtaKyung
Casts                  : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Shim Miyoung, Park Jungsoo and OC
Length             : Series [On Writing]
Genre               : AU(Alternate Universe), Fantasy, Romance, Unrated
Rating              : NC-17
Disclaimer   : Seluruh casts dalam ff ini adalah milik Tuhan, Orang Tua dan Mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini seluruhnya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art    : By NtaKyung aka Saya sendiri!
-Bloody Kiss-
Sudah sejak tiga jam yang lalu Miyoung berbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Detak jantungnya terasa semakin melemah setiap detiknya, dan gadis ini tak memberikan sedikitpun reaksi meski Jungsoo telah berusaha menyalurkan energinya ke sekujur tubuh Miyoung.
“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” Jaehee mendekati Jungsoo yang sedari tadi terus duduk di samping ranjang Miyoung.
Jungsoo tak langsung menjawab, ia masih fokus merasakan denyut nadi Miyoung. Sejenak ada kerutan yang terlihat di keningnya dan pria ini menoleh pada Jaehee.
“Apakah ada yang salah dengan kondisinya?!” Jaehee bertanya lagi dan Jungsoo mengangguk singkat.
“Aku tidak terlalu yakin dengan hal ini, tapi… aku dapat merasakan ada denyut nadi yang lain yang ada pada tubuh gadis ini. Dan kurasa… gadis ini benar-benar hamil.” Ujarnya.
“Apakah kau serius dengan hal itu?”
“Ntahlah. Tapi mungkin… kita membutuhkan Heechul untuk mengetahui semua ini. Karena… walau bagaimanapun juga, bukankah dia pernah mengalami hal ini sebelumnya?” Ujar Jungsoo kemudian, mengingat akan seseorang yang sudah sangat dekat dengannya itu.
Jaehee terdiam sesaat, lalu ia menghembuskan nafasnya pelan. “Dan aku bersumpah jika kita takkan semudah itu membujuknya.”
“Ya, begitulah…” Jungsoo ikut menghela nafas. Ia dan Jaehee menoleh sekilas ke arah Miyoung, dan ada kecemasan yang nampak di wajah kedua orang ini.
“Apakah dia akan mati?” Pertanyaan Jaehee terlontar begitu saja dari mulutnya.
“Mungkin.” Jungsoo menjawab dengan nada setenang mungkin. “Bisa jadi anaknya yang mati dan dia yang selamat. Tapi… begitu mengingat sifat manusia yang penuh dengan kasih saying, kurasa… gadis ini jelas akan memilih mati dan membiarkan bayinya hidup jika saja dia tahu ada janin yang terkembang di dalam rahimnya sekarang.”
Jaehee melipat kedua tangannya di depan dadanya, memiringkan kepalanya ke samping. “Aku tahu dengan jelas perasaan itu…” Ujarnya menggantung dan Jungsoo hanya tersenyum miris ketika mendengar ucapannya.
-Bloody Kiss-
Donghae terus duduk dengan gelisah sembari sesekali melirik pintu kamar Miyoung yang tak kunjung terbuka. Sebenarnya ia ingin sekali mendobrak pintu itu dan bergegas masuk ke sana, melihat keadaan gadis yang di cintainya itu. Namun, apa daya? Jungsoo dan Jaehee melarang dia untuk masuk ke dalam dan Donghae tak mampu berbuat apa-apa sekarang.
“Haish, sebenarnya apa yang di lakukan dua makhluk tua itu?! Kenapa mereka berdua tak ada yang memberi kabar sedikitpun?!” Donghae menggeram frustrasi sembari meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
Kibum yang sedari tadi berada di sampingnya hanya memilih untuk diam. Dan beberapa detik selanjutnya pun, pintu terbuka memperlihatkan sosok Jaehee dan Jungsoo.
Donghae buru-buru saja beranjak dari duduknya, lalu berdiri di hadapan Jungsoo dan Jaehee dengan gerakan secepat kilat. “Apa yang terjadi padanya?! Dia baik-baik saja kan?!” Raut wajah Donghae jelas terlihat tegang sekarang.
Kedua orang di hadapannya itu tak langsung menjawab. Jungsoo hanya menepuk pundaknya dengan pelan, lalu ia pun menoleh pada Kibum.
“Kibum-ah… aku membutuhkan bantuanmu. Jadi, bisakah kau ikut denganku sebentar saja?” Ujar Jungsoo kemudian.
“Baiklah.” Kibum mengangguk singkat, tak ingin bertanya sedikitpun.
Merasa di abaikan, Donghae jelas saja merasa geram. “Aku bertanya bagaimana keadaannya! Apakah kalian tidak mendengarnya?!” Ia sedikit meninggikan nada suaranya.
“Diamlah, Lee Donghae!” Sentakan Jaehee jelas mengejutkan Jungsoo dan Kibum. “Semua ini tak mungkin terjadi jika bukan karena kecerobohanmu! Jadi, sekarang diamlah dan bersabarlah menunggu jawaban dari kami, karena kamipun merasa tidak yakin dengan kondisi gadis itu!”
Donghae seketika terdiam. Ketegangan masih sangat jelas terlihat di raut wajahnya. Merasa tak tega melihatnya, Jaehee lantas menghela nafas singkat sembari menyentuh pundaknya.
“Maaf jika aku harus berteriak padamu… tapi kumohon tenanglah, Donghae-ah.” Ujarnya.
“Aku hanya ingin mengetahui kondisinya!” Sahut Donghae setengah berdesis.
“Aku tahu.” Jaehee mengangguk singkat, “Tapi kami belum bisa memberitahukannya padamu sekarang. Jadi… aku ingin kau bersabar dan tetap tenang.
“Apakah dia sudah sadar?” Kini giliran Kibum yang bertanya, sejujurnya ia pun mencemaskan gadis yang sudah di anggapnya sebagai adiknya sendiri itu.
Jungsoo menggeleng lemah. “Aku sudah berusaha semaksimal untuk menyalurkan energiku ke seluruh tubuhnya, tapi ia masih belum sadarkan diri.” Jelasnya. Ia melirik pada Donghae dan pria itu hanya tetap diam.
“Temuilah dia sekarang, Donghae-ah. Kurasa kau ingin menemuinya kan? Dan jika dia sadar, beritahu kami…” Ujar Jungsoo yang kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu di ikuti oleh Jaehee dan Kibum,-setelah sebelumnya memberikan isyarat pada mereka untuk pergi-.
Awalnya, tak ada yang Donghae lakukan selain berdiri mematung di hadapan pintu kamar itu. Namun, perlahan tangan kanannya bergerak mendekati kenop pintu dan ia pun melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut.
Langkahnya tertahan ketika ia melihat sesosok tubuh lemah Miyoung yang terbaring kaku di atas ranjangnya, wajah gadis ini begitu terlihat pucat pasi sekarang. Tatapan Donghae beralih pada perut Miyoung yang ntah sejak kapan telah berubah menjadi sedikit membuncit itu.
“Sial!” Ia mengumpat kecil sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak sanggup untuk melihat keadaan Miyoung yang seperti ini.
“Argh!”
Bugh!
-Bloody Kiss-
Jungsoo, Jaehee dan Kibum saling bertukar pandang sesaat ketika mendengar suara dentuman yang begitu keras dan tentu saja mereka tahu darimana asal suara itu.
“Dia pasti sedang marah pada dirinya sendiri.” Ujar Jaehee pelan.
“Biarkan dia seperti itu.” Sahut Jungsoo sembari mengalihkan tatapannya kembali pada pria di sampingnya itu. “Kibum-ah… aku membutuhkan bantuanmu sekarang.” Ujarnya kemudian.
“Aku tentu akan membantu jika aku bisa melakukannya, Jungsoo-ssi.” Sahut Kibum kalem.
“Aku ingin kau membawa Heechul ke kastil ini. Kau dapat melakukannya kan?”
Sesaat Kibum terdiam. Tapi hanya dalam beberapa detik setelahnya, raut wajah Kibum terlihat memancarkan kesedihan, seolah nama ‘Heechul’ membuka satu luka lama yang telah lama ia pendam di sudut hatinya yang paling dalam.
“Kenapa?”
“Karena hanya dia yang mengetahui bagaimana caranya menyelamatkan Miyoung.”
“Itu tidak akan berhasil.”
“Kita belum mencobanya, Kibum-ah. Ayolah kumohon… hanya kau satu-satunya orang yang dapat membujuknya. Kau adalah anaknya!”
Kibum lantas mendongakkan wajahnya, menatap Jungsoo dengan tatapan penuh kepedihan. “Dia takkan pernah bisa menyelamatkannya, Jungsoo-ssi. Dia hanya dapat membunuh gadis itu dan membuat sang bayi yang ada di dalam kandungannya sendirian! Tidakkan kau paham akan hal itu?”
“Dia tidak membunuhnya, Kibum-ah.” Kini giliran Jaehee yang berbicara. “Dia hanya berusaha untuk menyelamatkan Raena… Ibumu.” Ujarnya lagi.
“Tapi dia tak dapat melakukan hal itu dan kau mungkin bisa melihat hasilnya pada diriku ini! Aku terlahir sebagai setengah manusia dengan sosok dan kekuatan Djinn yang bahkan masih melekat kuat di dalam diriku!” Kibum terlihat tak mampu mengontrol dirinya.
Ia terlihat begitu marah, kesal, kecewa dan putus asa. Jungsoo dan Jaehee tahu hal ini mungkin saja akan terjadi, tapi mereka tidak menyangka jika Kibum masihlah mengingat dengan jelas semua kejadian itu. Dan mungkin, bahkan pria ini masih membenci ayahnya sendiri.
“Kibum-ah.”
“Aku tidak akan melakukannya.” Putus Kibum. Ia lantas berbalik, meninggalkan ruangan itu, tak membiarkan Jungsoo ataupun Jaehee untuk mengatakan hal lain.
“Hah…” Jungsoo mendesah berat. “Sudah kuduga akan seperti ini jadinya. Dia pastilah masih sangat membenci Heechul.”
“Dia pantas mendapatkannya. Heechul terpaksa menyelamatkan Kibum saat itu dan memilih untuk membiarkan Raena mati karena permintaannya. Jadi… pria itu pantas di benci anaknya sendiri.” Ujar Jaehee sembari mengusap lengannya pelan, kedua matanya menyiratkan suatu kesedihan yang tak jauh berbeda dengan Kibum tadi.
Jungsoo melirik Jaehee dan pria itu tahu betul dengan apa yang di pikirkan isterinya itu. Wajar saja jika Jaehee berkata seperti itu, karena walau bagaimanapun juga, gadis bernama Raena itu tak lain adalah sahabat Jaehee sendiri. Gadis itulah yang telah mengenalkan Jaehee pada dunia manusia yang tak pernah di ketahui olehnya sebelumnya.
“Jika keadaannya sudah seperti ini, bagaimana jika aku yang berusaha membujuknya untuk datang ke kastil ini?” Sebuah suara terdengar, membuat Jungsoo dan Jaehee menoleh ke arah ambang pintu yang terbuka.
Di sana sudah nampak Sungmin yang tengah berdiri dengan menyandarkan tubuhnya. “Aku akan berusaha meyakinkan dirinya untuk datang kesini.” Ujarnya lagi.
“Kau yakin?” Tanya Jungsoo tak yakin.
“Sangat yakin.
Sesaat Jungsoo terdiam, ia berusaha menimang-nimang permintaan Sungmin ini. Tapi begitu ia mengingat kondisi Miyoung, ia akhirnya mengangguk paham. “Baiklah, kalau begitu aku serahkan semua ini padamu, Sungmin-ah.”
“Aku mengerti.” Dan secepat itu pulalah, Sungmin telah menghilang dari sana. Pergi ke suatu tempat yang di yakininya menjadi tempat tinggal untuk pria bernama Kim Heechul itu.
-Bloody Kiss-
<Flash Back Start>
Eunhyuk dan Sungyeon tengah berbaring di atas ranjang dengan hanya mengenakan sebuah selimut tipis yang menutupi tubuh telanjang mereka. Keringat membasahi tubuh keduanya dan aroma khas habis bercinta pun tercium sangat pekat di ruangan itu.
Sungyeon menyandarkan kepalanya di atas dada Eunhyuk dan pria itu merangkul tubuhnya dengan erat. “Aku mencintaimu.” Gadis itu berucap dengan sangat jelas.
“Aku tahu.” Senyum Eunhyuk seraya mendaratkan satu kecupan lembut di atas kepala gadis itu. “Dan begitupun denganku, Sungyeon-ah.”
Sungyeon terkekeh kecil, ia mendongakkan wajahnya ke atas, menatap wajah pria yang sangat di cintainya itu. “Bolehkah aku mengajukkan satu pertanyaan padamu?”
“Tentu.”
“Er… kenapa… kau tidak pernah melakukan ritual itu Eunhyuk-ah? Kenapa sampai saat ini kau masih belum juga menandaiku?”
Sesaat Eunhyuk hanya terdiam, senyuman di wajahnya menghilang dan ada ketegangan yang terlihat jelas di wajah pria ini.
Merasa tak ingin merusak suasana ini, Sungyeon lantas tersenyum, meski senyuman canggung yang terlihat tapi gadis ini tetap memaksakan dirinya untuk tersenyu. “Jika kau tak ingin atau tak bisa menjawabnya, tidak apa-apa. Aku mengerti…” Sahut Sungyeon seraya menundukkan wajahnya, berusaha untuk terlihat tenang meski hasilnya gagal.
“Sungyeon-ah?”
“Ya?”
Eunhyuk perlahan menarik dagu Sungyeon, membuat gadis itu mendongakkan wajahnya dan melihat ke arahnya kembali. “Apakah kau begitu menginginkan hal itu?” Tanyanya kemudian.
“I-itu…” Sungyeon terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa, “Aku hanya… aku hanya ingin tahu saja, maaf jika sudah menyinggungmu. Maksudku… kita sudah berhubungan seperti ini selama bertahun-tahun tapi bahkan seluruh orang terdekat kita tak pernah ada yang boleh mengetahui hubungan ini, dan… kau pun sampai saat ini belum menandaiku. Jadi…”
“Jadi kau meragukanku?”
“Tidak… bukan seperti itu!”
“Lalu?”
“Sudah kukatakan jika aku hanya penasaran, kumohon Eunhyuk-ah.. jangan berfikir seperti itu. Tadi aku hanya sedikit terbawa oleh suasana… maafkan aku.” Sesal Sungyeon.
Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Eunhyuk, merangkulnya dengan erat dan sungguh, gadis ini tak ingin Eunhyuk sampai membencinya. Karena walau bagaimanapun juga ia begitu mencintai pria ini. Tidak peduli meski orang-orang tak mengetahui hubungan mereka dan bahkan Eunhyuk belum menandainya sampai saat ini, yang terpenting hanyalah dia dapat terus berada di samping Eunhyuk dan menjadi satu-satunya gadis yang di cintai Eunhyuk itu sudah lebih dari cukup baginya.
**********
“Eoh! Taeyang-ssi… ada apa gerangan sampai kau bersedia datang ke kastil kami ini?” Jungsoo menyapa ramah pada sesosok pria dengan sepasang tanduk di kepalanya.
Pria itu adalah Taeyang, sang ketua dari makhluk bernama Minotaur. Sosoknya tak terlalu jauh berbeda dengan para makhluk Demons, dan kita tak mampu mengabaikan makhluk sepertinya ini. Karena makhluk ini, memiliki kekuatan yang sama besarnya seperti para Demons.
“Aku ingin mengutarakan sesuatu padamu, Jungsoo-ssi.” Ujar Taeyang dengan senyum lebar yang terpasang di wajahnya.
“Mengutarakan sesuatu?” Jungsoo mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksudnya. “Apa maksudmu?”
“Well… kudengar jika Donghae mendapatkan point tertinggi dalam pertarungan para Demons dengan makhluk lainnya. Dan kupikir… dia pantas bersanding dengan seseorang yang cocok dengannya…” Ujar Taeyang berbasa-basi.
Jaehee menyipitkan kedua matanya, menatap Taeyang curiga. “Apakah kau bermaksud untuk menjodohkan Donghae dengan anak semata wayangmu itu, Taeyang-ssi?” Ujar Jaehee yang sedari tadi hanya memilih untuk diam.
Senyuman di wajah Taeyang pun semakin bertambah lebar dan pria itu mengangguk singkat. “Kau selalu pintar seperti biasanya, Jaehee-ssi. Pantas Jungsoo begitu mencintaimu. Jika saja kau masih sendiri, mungkin aku akan menjadikanmu sebagai pengganti Ibu Sungyeon yang telah lama kubunuh itu.” Ujarnya dengan santai.
Ya, Taeyang memang membunuh isterinya sendiri karena hanya masalah sepele. Para makhluk Minotaur memang memiliki temperamental yang tinggi dan hal itu sangat-sangat berlaku pada Taeyang. Ia bahkan tega membunuh isterinya sendiri hanya karena masalah sepele.
Jaehee berdecak kecil mendengar ucapan Taeyang, seolah wanita ini tengah mencemooh pria di hadapannya itu. “Jangan mengatakan hal menjijikan seperti itu, Taeyang-ssi. Atau kau tahu dengan jelas konsekuensinya.” Ancam Jaehee.
“Jaehee-ya.” Jungsoo berusaha untuk menenangkan isterinya itu.
“Oh tenanglah, aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah, Jaehee-ssi.” Taeyang berucap dengan kedua tangannya yang terangkat ke atas, tak bermaksud untuk membuat Jaehee marah kepadanya. “Jadi, apakah kalian menerima tawaranku?” Tanyanya kemudian, kembali pada topik awal pembicaraan mereka.
“Kami akan memikirkannya.” Sahut Jungsoo dengan kalem.
Akan tetapi, tanpa disadari oleh mereka, Eunhyuk telah mendengar semuanya dan tangannya pun mengepal kuat, amarahnya mulai naik dan ada kilatan tajam yang terpancar di kedua mata pria ini.
**********
“Eunhyuk-ah, dengarkan aku dulu… aku mohon!” Sungyeon berusaha mengejar langkah pria di depannya itu dan ia berhasil menghadang langkah Eunhyuk dengan segera. “Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu!” Pinta Sungyeon dengan raut wajah sedih.
Eunhyuk menatapnya dengan datar, sesaat tersirat kebencian dan kekecewaan yang bercampur di raut wajahnya dan pria ini benar-benar muak hanya untuk sekedar melihat wajah gadis di hadapannya ini.
“Kenapa kau melakukan semua ini padaku, Sungyeon-ah?! Apakah kau sedang mencoba untuk mempermainkanku?!” Eunhyuk bertanya dengan tegas.
“Bukan sepertimu!” Sungyeon berucap frustrasi. “Aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti ini, Eunhyuk-ah. Appa yang menginginkan semuanya dan aku tidak dapat menolaknya! Aku tidak mungkin-”
“Jadi kau lebih memilih untuk menerima begitu saja permintaan ayahmu daripada mengatakan hubungan kita kepadanya? Apakah kau benar-benar ingin terikat dengan Donghae?! Apakah dia adalah Demons terkuat?!”
“Tidak!”
“Lalu kenapa kau membiarkan ayahmu menjodohkanmu dengan adikku sendiri?!”
“Itu karena kau tak juga menandaiku dan aku tak dapat berbuat apa-apa selain menerimanya! Aku tidak mau hubungan kita yang terus begini!! Aku tidak mau!!” Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Sungyeon, dan sedetik kemudian gadis itu tersadar dengan apa yang baru saja di ucapkannya.
Ia buru-buru menatap wajah Eunhyuk yang kini terlihat begitu kecewa padanya. “Sekarang aku yakin jika kau begitu meragukan ketulusan cintaku, Sungyeon-ah. Kupikir… kau akan tetap mempertahankan hubungan kita. Tapi ternyata… perasaanmu padaku hanya seperti ini…”
“T-tidak, Eunhyuk-ah! Aku hanya…”
“Kau tahu?” Eunhyuk menyela cepat. “Sempat terpikir olehku jika aku akan menandaimu jika waktunya sudah tepat, tapi… begitu melihat dirimu pasrah menerima perjodohan sialan itu dan bahkan kau meragukan diriku, kurasa… semua perkiraanku selama ini tentang dirimu adalah salah besar!”
“Eunhyuk-ah!”
“Mulai saat ini jangan temui aku lagi! Jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapanku lagi! Dan jika kau berani menyakiti adikku seperti kau menyakit diriku sekarang, maka di saat itulah kau akan melihatku membunuh dirimu sendiri, kau paham, Sungyeon-ssi?!”
Sungyeon tak mampu berkata-kata lagi, mulutnya terasa kaku dan tak mau terbuka sedikitpun. Dan ketika ia berusaha mengejar Eunhyuk yang telah menghilang dari hadapannya, ia hanya dapat merasakan kedua kakinya yang melemas dan akhirnya tubuhnya pun terjatuh.
Selebihnya, tak ada yang dapat ia lakukan lagi selain menangis sambil berteriak histeris. Sosok monster berupa Minotaur yang ada dalam dirinya kini langsung melingkupi tubuh mungilnya dan gadis ini benar-benar terlihat sangat murka sekarang, ia tak mampu mengontrol dirinya lagi seperti saat dulu ia bersama Eunhyuk.
Sementara itu, tak jauh dari sana, Eunhyuk masih mengamatinya dengan tatapan sedih. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, dan pria ini pun perlahan berbalik, tak sanggup untuk melihat sosok Sungyeon yang sudah tak dikenalinya lagi itu.
<Flash Back End>
-Bloody Kiss-
Eunhyuk perlahan membuka kedua matanya, untuk beberapa saat tadi pikirannya melayang dan ia terpaksa harus mengingat kejadian beberapa tahun silam itu. Tatapannya terarah pada langit yang mulai terlihat gelap ini dan ia pun perlahan beranjak dari posisi tidurnya.
Sudah sejak beberapa jam yang lalu ia terbaring di padang rumput ini, tempat yang jaraknya cukup jauh dari kastil dan setidaknya ia tidak perlu melihat wajah Sungyeon lagi.
“Hah…” Eunhyuk menghela nafas berat, dengan kasar ia mengusap wajahnya. “Sial! Kenapa aku harus mengingatnya lagi, ada apa denganmu ini, Lee Hyukjae?!” Ia menggeram kesal.
Ia berniat untuk beranjak dari tempat itu, tapi langkahnya terhenti kala melihat Kibum tengah berdiam diri tak jauh dari posisinya sekarang. “Untuk apa dia ada di sini?” Bingungnya.
“Kibum-ah!” Panggilnya seraya menghampiri Kibum yang posisinya tak terlalu jauh darinya. Tak butuh waktu lama untuknya agar dapat berdiri di samping Kibum.
“Apa yang kau lakukan di sini, Kibum-ah?” Tanya Eunhyuk kemudian.
“Mencari ketenangan.” Jawabnya singkat.
“Huh?” Eunhyuk hanya melemparkan tatapan bingung kepadanya. Tapi sesaat kemudian ia memilih untuk menggedikkan kepalanya dan memilih untuk tak bertanya lebih lanjut.
Sebaliknya, Kibum justru menoleh padanya dan raut wajahnya berubah menjadi tegang. “Ah, Eunhyuk-ah… kenapa kau masih di sini juga?!” Tanyanya panik.
Eunhyuk mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksud ucapan Kibum. “Memangnya kenapa?”
“Miyoung… apakah kau tidak tahu jika tadi siang gadis itu mengalami pendarahan hebat dan ia bahkan memuntahkan banyak cairan hitam?!”
“APA?!” Kedua bola mata Eunhyuk melebar dengan seketika, “Kenapa kau tidak mengatakan hal itu sejak awal, Huh?! Haish!!” Ia lantas berbalik dan menghilang secepat kilat.
Sementara itu, Kibum hanya tetap terdiam di tempatnya, tatapan matanya berubah sendu dan pria ini pun menunduk. “Dan mungkin ia tak memiliki banyak waktu lagi.” Bisiknya lemah.
-Bloody Kiss-
Kedua mata Miyoung perlahan terbuka dan samar-samar ia dapat melihat Donghae yang kini sedang terduduk lemas di sampingnya, memegang tangannya dengan lembut.
“D-Donghae-ah…” Suara Miyoung nyaris tak terdengar, tenggelam dalam udara kosong. Tapi hal itu samar-samar tetap terdengar oleh Donghae, dan pria itu langsung menatap ke arahnya.
“Miyoung-ah!” Donghae langsung berseru lega. “Kau sudah sadar? Apakah kau merasa sakit?” Ia segera mengusap wajah Miyoung yang terasa dingin itu.
“A-apa yang terjadi?” Miyoung bertanya dengan nada parau, masih terdengar sangat pelan.
Donghae tersenyum miris, “Kau mengeluarkan banyak darah dan kau langsung tak sadarkan diri. Untunglah Kibum menemukanmu tepat waktu.” Jelasnya.
Sejenak Miyoung terdiam. Dan ingatan gadis ini pun berputar kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Ia meringis pelan ketika semua kejadian itu terekam sangat jelas dalam ingatan otaknya dan ketika sadar, ia langsung menyentuh perutnya yang terasa sedikit membuncit itu.
Miyoung menatap panik ke arah Donghae. “Ada apa dengan perutku, Donghae-ah? Kenapa ini tiba-tiba saja… i-ini mustahil! Katakan padaku apa yang terjadi padaku!” Rentetan pertanyaan keluar dari dalam mulut Miyoung dan Donghae hanya dapat terdiam sambil menundukkan wajahnya.
Sadar akan hal itu, Miyoung tahu jika sesuatu yang buruk pastilah terjadi pada dirinya saat ini. “Donghae-ah… katakan padaku… kumohon.”
“Aku tidak tahu, Miyoung-ah.”
“Apa?”
Donghae menoleh padanya, memperlihatkan tatapan sendu yang begitu menyedihkan dan ini semakin membuat Miyoung yakin jika sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.
“Ayah dan Ibuku tidak mengatakan apapun padaku. Tapi… mungkin saja kau…”
“Mungkin saja aku apa, Donghae-ah?”
Sejenak pria itu terdiam. Namun sedetik kemudian ia menjawab, “Kau hamil, Miyoung-ah.”
“Apa?!” Miyoung memekik kaget, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Apa katamu tadi? A-aku… hamil? B-bagaimana bisa? Bahkan jikapun aku memang hamil, perutku tidak akan membuncit secepat ini!”
Tak ada jawaban dari Donghae, pria itu seolah tengah bertempur dengan dirinya sendiri dan Miyoung benci dengan sikap Donghae yang tiba-tiba berubah menjadi pengecut ini.
“Kenapa kau tidak menjawabku!! Katakanlah sesuatu padaku, Lee Donghae!” Tekan Miyoung.
“Kau hamil dari seorang Demons, Miyoung-ah! Tidakkah kau ingat hal itu?! Kau tidak sedang bercinta dengan seorang manusia biasa! Kau bercinta denganku! Seorang Demons! Apakah kau lupa akan hal itu?!”
Deg!
Sekujur tubuh Miyoung terasa menegang sekarang. Kedua mata gadis ini melebar dan bibirnya terasa kaku, tak mampu mengatakan apapun. Sadar jika dirinya telah keterlaluan, Donghae lantas menarik tubuh gadis itu dan langsung memeluknya erat.
“Maafkan aku, Miyoung-ah.. maaf karena telah membuatmu terkejut dengan teriakanku.” Sesal Donghae seraya mengecup singkat puncak kepala Miyoung.
Sejujurnya Miyoung tak tahu harus berbuat apa, ia masih terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya tadi. Namun, sesaat kemudian gadis ini mulai menitikkan air mata dan tangisnya pun seketika pecah di dalam pelukan Donghae.
“Maafkan aku, maafkan aku, Miyoung-ah…” Bisik Donghae.
Miyoung tak mengatakan sepatah katapun, gadis ini hanya terus menangis dan menangis.
-Bloody Kiss-
Setelah menangis cukup lama, kini Miyoung terlihat cukup tenang. Gadis ini tengah berada di dalam pelukan Donghae yang terasa hangat, dan Donghae tak henti-hentinya mengusap-usap punggungnya, memberikan kenyamanan lebih pada Miyoung.
“Aku… hamil anakmu?” Miyoung berucap lemah.
“Ya, mungkin. Ntahlah… aku belum dapat memastikannya, Miyoung-ah. Kedua orang tuaku masih belum mengatakan apapun.”
Miyoung terdiam. Tangannya bergerak reflex mendekati perutnya yang sedikit membuncit itu. Pikirannya akan bayi Donghae yang telah berkembang di dalam rahimnya pun ntah kenapa membuatnya merasa senang bukan main.
Seulas senyuman kecil terukir di wajah gadis ini. Hanya dalam beberapa detik yang lalu, tanpa sadar ia membayangkan bagaimana rupa anaknya kelak jika ia lahir. Apakah ia akan memiliki kemiripan dengan Donghae dan dirinya? Ia bahkan sejenak melupakan sosok Donghae yang sebenarnya adalah sosok Demons.
Perasaan senangnya kini tergantikan dengan rasa mual yang teramat, gadis ini segera beranjak dari pelukan Donghae dan kedua tangannya menangkup mulutnya dengan erat, berusaha untuk menahan sesuatu yang hendak keluar dari dalam mulutnya.
“Miyoung-ah, apa yang terjadi?” Tanya Donghae panik.
Miyoung tak langsung menjawab, ia buru-buru berlari menuju toilet dan memuntahkan sebuah cairan hitam lagi dari dalam mulutnya. Donghae yang ntah sejak kapan berada di belakangnya jelas terkejut, ia buru-buru mengusap punggung Miyoung dan gadis itu lagi-lagi memuntahkan cairan hitam kental itu lagi.
“Aargh! D-Donghae-ah, i-ini menyakitkan!” Miyoung memekik kesakitan sembari memegangi perutnya yang terasa melilit dan seperti ada sesuatu benda yang tajam yang menusuk-nusuk dari dalam.
Donghae tak tahu harus berbuat apa, ia hanya berusaha memegang tubuh Miyoung agar gadis ini tidak jatuh ke lantas dan untuk kesekian kalinya cairan hitam kental itu lagi-lagi keluar dari dalam mulutnya.
Kedua mata Miyoung mengerjap-ngerjap, menahan rasa sakit yang teramat itu. Donghae tetap menahan tubuhnya, dan tatapannya pun langsung mengarah pada lengan Miyoung yang semakin lama semakin bertambah kurus dan tak ada lagi rona merah darah yang terpancar di pipi putih gadis ini.
“Argh!! T-tolong aku, Donghae-ah!! Ahk!” Miyoung terus meringis kesakitan dan dengan cepat Donghae pun langsung menggendong tubuh gadis itu, membawanya kembali berbaring di atas ranjangnya.
“Tunggu di sini, Miyoung-ah, aku akan memanggilkan kedua orang tuaku.”
“Tidak!” Miyoung reflex mencengkram pergelangan tangan Donghae, kedua matanya masih terus mengerjap-ngerjap menahan rasa sakit. Ia menggeleng singkat padanya, “Jangan pernah tinggalkan aku, Donghae-ah. Tetaplah di sampingku aku mohon… Ahk!!”
Tangan Miyoung beralih memegang perutnya lagi dan Donghae menoleh ke arah perut itu. Ia dapat melihat perut Miyoung yang semakin bertambah buncit, seolah janin yang ada di dalam kandungan Miyoung dapat berkembang dengan cepat meski hanya beberapa jam saja.
“Aku mohon jangan tinggalkan aku, Donghae-ah-Ahk!!” Miyoung terus berteriak kesakitan.
“Aku tidak akan kemana-mana Miyoung-ah, aku akan tetap di sampingmu.” Donghae segera merangkul tubuh Miyoung dan menyandarkan sebagian tubuh Miyoung pada tubuhnya.
“Aaahk!!! Arghhh!! Aku… aku kesakitan!!”
“Aku tahu.” Donghae berbisik pelan, tak kuasa lagi mendengar jeritan Miyoung yang semakin menjadi dan dapat ia lihat kedua kaki Miyoung yang berubah menjadi bertambah kurus, seakan hanya tertinggal tulang saja di balik kulitnya itu.
Darah segar perlahan mengalir di antara kedua paha Miyoung dan gadis ini langsung menekan kepalanya pada dada Donghae, berusaha menahan rasa sakit itu. Sementara itu Donghae hanya dapat memeluknya dengan erat, membiarkan gadis itu meluapkan rasa sakitnya itu kepada dirinya.
Cengkraman Miyoung pada lengannya semakin bertambah lemah dan Donghae merasakan sekujur tubuh Miyoung semakin dingin. Detak jantungnya pun melemah dan ini semakin membuat Donghae panik.
“Miyoung-ah… bertahanlah. Kumohon Miyoung-ah. Aku tahu kau bisa melakukannya.” Bisik Donghae tepat di telinga gadis itu. Namun ucapannya tenggelam dalam teriakan kesakitan gadis itu. Nafasnya memburu dan semakin lama ia semakin terlihat susah untuk bernafas.
Brak!
Pintu terbuka dengan kasar dan muncullah Jungsoo dan Jaehee yang terlihat tak kalah panik seperti Donghae, di belakangnya pun terlihat Eunhyuk yang jelas mencemaskan kondisi gadis itu.
Jungsoo buru-buru mendekati Donghae dan menarik tubuh Miyoung dari pelukannya. Tak rela jika harus berjauhan dengan Miyoung yang tengah kesakitan, Donghae nyaris saja berteriak.
“Apa yang kau lakukan?! Dia sedang kesakitan!” Seru Donghae panik.
“Aku harus membawanya ke ruangan bawah tanah, Donghae-ah.” Ujar Jungsoo.
Dan dengan gerakan cepat, Jungsoo telah menghilang dari ruangan itu. Donghae berniat untuk mengejar langkah Jungsoo namun tertahan oleh Jaehee.
“Tetaplah di sini, Donghae-ah!”
“Apa katamu?! Bagaimana aku bisa tetap berada di sini sementara gadis yang kucintai bahkan sedang mengerang kesakitan tanpa ada seorangpun yang menemaninya!” Geram Donghae.
“Aku akan menemaninya, jadi lebih baik kau tetap di sini bersama Eunhyuk!”
“Omong kosong! Aku akan menemuinya sekarang juga!”
Donghae hendak melangkah secepat kilat, tetapi Jaehee segera menarik pergelangan tangannya dan sedetik kemudian wanita ini telah melemparkan tubuh Donghae ke sudut ruangan ini. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya berada di hadapan Donghae dan menekan tubuh pria itu ke dinding.
“Dengarkan aku, Lee Donghae. Jika kau ingin kami menyelamatkannya, lebih baik kau tetap diam di sini dan menunggu kabar dari kami… Apakah kau paham akan hal itu?” Ujar Jaehee penuh dengan ancaman mematikan.
Donghae tak menjawab ataupun melawan, sebenarnya ia bisa saja membuat Jaehee terlempar lebih keras daripada dirinya tadi, tapi ia masih menghargai wanita di hadapannya ini sebagai ibunya dan sekarang tak ada yang dapat ia lakukan selain berteriak frustrasi dan perlahan-lahan tubuhnya pun jatuh ke atas lantai.
Jaehee mundur beberapa langkah, ia menoleh pada Eunhyuk dan memberikan tanda isyarat pada anak keduanya itu. “Jangan biarkan dia pergi ke ruang bawah tanah.” Ujarnya sebelum ia benar-benar pergi dari ruangan itu.
“Aku mengerti.” Sahut Eunhyuk seraya mengangguk singkat. Ia menoleh pada Donghae dan pria itu tengah mengepalkan tangannya dengan kuat.
“ARGH!!!” Donghae berteriak sekeras-kerasnya dan langsung meninjukkan kepalan tangannya itu ke arah dinding di sampingnya, membuat dinding itu hamper saja hancur karena pukulan yang di layangkannya itu.
“Sial! Sial!” Ia kembali berteriak frustrasi sembari meremas rambutnya sendiri dan ntah ia sadar atau tidak, namun setetes air mata perlahan meluncur dari sudut matanya.
Sesuatu yang belum pernah atau bahkan tak pernah terbayangkan olehnya. Seorang Demons yang menangisi seorang manusia lemah. Ya, sosok Demons memang jarang atau bahkan tidak pernah terlihat menitikkan air mata barang sedikitpun, bahkan di saat ia kesakitan!
Tapi lihatlah dirinya sekarang? Ia menangis hanya karena melihat gadis manusia itu kesakitan. Dan lebih parahnya lagi, gadis manusia itu adalah gadis yang sangat di cintainya!
Suatu yang jarang terjadi untuk sesosok Demons benar-benar merasakan jatuh cinta dan sakit hanya karena oleh seorang wanita, terlebih wanita itu dalam sosok manusia.
-Bloody Kiss-
Jungsoo memasangkan berbagai peralatan medis ke sekujur tubuh Miyoung. Walau dirinya tak terlalu mahir dalam ilmu pengobatan seperti sahabat lamanya Kim Heechul itu, setidaknya ia tahu harus melakukan apa sekarang.
“Bawakan aku persediaan darah itu, Jae-ya!” Perintahnya ketika melihat Jaehee telah berada di ruangan itu dan tanpa banyak bicara lagi, Jaehee segera melesat cepat mengambilkan darah itu dan menyerahkannya pada Jungsoo.
Jungsoo menyobek bungkus persediaan darah itu, lalu memasukkannya pada sebuah botol yang terhubung dengan selang yang telah menancang di salah satu bagian tubuh Miyoung.
Gadis itu masih berteriak kesakitan namun tak sekeras tadi, ia sudah semakin lemah dan gadis ini merasa jika pandangannya mulai mengabur.
-Bloody Kiss-
Seorang pria tengah terduduk tenang di ruangan favoritnya. Alunan lagu jazz kesukaannya itu menemani kesepian malamnya yang terus seperti ini setiap harinya. Pria itu terus memejamkan kedua matanya sejenak, dan hanya dalam seperkian detik tangannya bergerak meraih sebuah pisau yang ntah dari mana asalnya lalu di lemparkannya ke arah sampingnya.
“Woa!” Teriakan Sungmin yang berhasil menghindari lemparan pisau dari pria itu terdengar, “Ya! Heechul-ssi, apakah kau berniat membunuh keponakanmu sendiri, eoh?” Ia berseru kesal.
Pria bernama lengkap Kim Heechul itu hanya menoleh padanya singkat, kepalanya miring ke samping dan ia berdecak pelan. “Apa urusanmu? Katakan dengan cepat!”
“Hm, tanpa berbasa-basi. Seperti biasanya…”
“Jika tak ada keperluan yang penting, kurasa kau sudah tahu harus keluar lewat pintu mana kan?” Ujar Heechul seraya beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan Sungmin.
“Aku membutuhkan bantuanmu.” Seru Sungmin segera.
“Bantuanku?” Tanya Heechul tanpa menoleh padanya.
“Ya…”
To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar