Kamis, 27 November 2014

Bloody Kiss (Chapter.6)

Title                : Bloody Kiss
Author           : NtaKyung
Casts             : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Shim Miyoung, Park Jungsoo and OC
Length           : Series [On Writing]
Genre            : AU(Alternate Universe), Fantasy, Humor, Romance, Unrated
Rating           : NC-17
Disclaimer    : Seluruh casts dalam ff ini adalah milik Tuhan, Orang Tua dan Mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini seluruhnya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art    : By NtaKyung aka Saya sendiri!
-Bloody Kiss-
Jungsoo dan Jaehee duduk di salah satu sofa yang berada di ruang keluarga mansion itu. Tepat di hadapan mereka nampak ketiga anaknya beserta Kibum, Miyoung dan Sungyeon.
Tatapan Jaehee tertuju pada Miyoung dan dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat ke atas, ia seolah tengah menyindir Miyoung dengan senyuman sinisnya itu.
“Jadi… kau adalah seorang manusia?” Suaranya terdengar santai, tapi ntah mengapa Miyoung merasa risih dengan pertanyaannya itu.
“Yah…” Miyoung mengangguk enggan, ia memberanikan dirinya untuk tetap saling bertatap muka dengan Jaehee.
“Oh…” Jaehee beranjak dari tempatnya, lalu hanya dalam hitungan detik telah berada tepat di hadapan Miyoung. “Lalu… apa yang membuatmu dapat berada di tempat ini? Bukankah… ini adalah tempat yang sangat jauh dari pusat kota?” Lanjutnya.
“Itu karena…”
“Aku yang membawanya kemari, eomma.” Sela Eunhyuk dengan cepat. Ntah sejak kapan pria ini telah berdiri di sampingnya.
Jaehee menoleh padanya dengan sebelah alisnya yang terangkat. “Kau yang membawa gadis ini kemari? Oh… itu sangat menarik. Jadi, kau menyukai gadis ini, Eunhyuk-ah?”
“Apa? Tidak! Itu mana mungkin…” Ujar Eunhyuk kemudian, sedikit kaget dengan apa yang baru saja di katakan ibunya itu.
“Aah… kupikir kau yang menyukainya, jika saja begitu… mungkin saat ini juga aku akan segera menikahkan kalian berdua!”
Mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut Jaehee, tentu saja membuat semuanya kaget dan langsung menoleh ke arahnya. Tak terkecuali dengan Miyoung, Donghae, Eunhyuk dan juga Sungyeon.
“Eomma! Apa yang kau katakan!” Sentakan Donghae segera memecahkan keheningan yang ada. “Gadis ini bukan miliknya! Dia adalah milikku!” Lanjutnya dengan nada keras.
“Lee Donghae, jaga sikapmu!” Jungsoo segera beranjak dari duduknya dan hanya dalam satu detik saja ia telah berada di hadapan anak bungsunya itu.
“Aku memang benar kan? Dia adalah milikku, jadi tidak seharusnya eomma mengatakan hal seperti itu!” Ujar Donghae tak terima.
“Donghae-ah, tenanglah…” Kibum menepuk pelan pundak pria itu.
“Haish… bagaimana bisa aku tenang?!” Ia menepis tangan Kibum dengan kasar.
“Lee Donghae!!” Sentakan Jaehee sontak membuat pria itu menoleh padanya dan begitupun dengan tatapan yang lain. Ia menatap tajam ke arahnya, “Hentikan tingkah konyolmu itu! Kau bukanlah seorang bocah kecil yang pantas merengek!” Ujarnya dengan sarkastik.
Jaehee berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan tersebut. Jungsoo menatap isterinya sejenak sebelum akhirnya ia menoleh pada ketiga anaknya itu.
“Aku ingin berbicara dengan kalian semua nanti!” Ujarnya dengan tegas dan segera dibalas anggukan anak-anaknya itu, kecuali Donghae.
Dan setelah itu pun Jungsoo berjalan cepat mengikuti langkah isterinya yang telah menghilang ntah kemana.
Keadaan yang terasa cukup panas tadi langsung menyurut ketiga kedua orang itu telah pergi dari tempat itu.
“Hah… kau tak seharusnya mengatakan hal seperti itu tadi, Donghae-ah.” Sungmin menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya di salah satu sofa panjang yang ada di tempat itu.
“Yah… kau membuat ibumu dan ayahmu marah, Donghae-ah…” Sungyeon tiba-tiba saja telah berada di samping pria itu dan merangkul lengan pria itu erat.
Miyoung langsung mendelik tak suka pada gadis itu. Tapi nampaknya Sungyeon tak merasa terganggu dengan tatapannya.
“Bisakah kau tak melakukan hal ini padaku, Sungyeon-ah?!” Donghae berucap sinis sembari berusaha untuk melepaskan tangan Sungyeon dari lengannya tapi gadis itu menggeleng singkat dan justru bergumam manja.
“Ehmmm… apa yang salah dengan hal ini?! Kau kan calon tunanganku…” Sahut Sungyeon. Ia melirik sekilas pada Miyoung, “Dan… jika kau merasa keberatan untuk memperlihatkan hal ini di hadapan gadis manusia itu, mungkin… dia akan senang hati untuk dengan suka rela pergi dari tempat ini sekarang juga!” Ucapan Sungyeon jelas sedang menyindirnya saat ini dan Miyoung sadar akan hal itu. Gadis ini melirik kesal padanya.
“Aku memang ingin pergi dari tempat ini! Jadi, kau tak perlu menyindirku, nona!” Miyoung segera berbalik dan melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
“Miyoung-ah!” Donghae hendak mengejar Miyoung, tapi pegangan Sungyeon pada lengannya bertambah erat. “Ya! Lepaskan aku!” Sentak Donghae geram.
Sungyeon menatap tajam padanya, “Bagaimana jika aku tidak mau?! Apakah kau akan segera menyerangku dengan kekuatanmu itu, huh?!”
“Mwo? Ya! Kwan Sungyeon!”
“Sudah kukatakan aku tidak mau melepaskanmu!!” Balas Sungyeon dengan berteriak keras.
Kibum memutar kedua bola matanya malas, “Sudahlah, hentikan hal itu, Donghae-ah! Biar aku saja yang mengejarnya!” Putusnya dan kemudian bergegas pergi.
“Kurasa aku akan ikut dengannya!” Putus Eunhyuk seraya ikut berbalik juga.
Sungyeon melirik sekilas ke arah Eunhyuk yang berjalan menuju pintu, sekilas ada tatapan tak suka yang terpancar dari kedua matanya, dan ntah ia menyadarinya atau tidak, akan tetapi Sungmin memperhatikan hal itu dengan sebelah alisnya yang terangkat.
“Mungkinkah jika dia…” Sungmin bergumam dalam hatinya, seolah-olah ia tengah mengetahui sesuatu sekarang.
-Bloody Kiss-
“Hah! Dasar pria bodoh! Seharusnya jika aku adalah miliknya, kau mengejarku bodoh! Bukan tetap berada di dalam mansion itu! Dasar brengsek!” Miyoung terus menggerutu kesal sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya.
“Dia sudah mencobanya, Miyoung-ah… tapi dia tidak berhasil melarikan diri dari gadis manja itu.”
Miyoung terkesiap kaget begitu mendengar suara Kibum, ia menoleh ke arah samping dengan raut wajah yang terlihat kaget dan rupanya Kibum telah duduk di sampingnya.
“Kibum-ah! Bagaimana kau bisa berada di sampingku tanpa kusadari?!” Tanyanya, seolah-olah dirinya melupakan sosok Kibum yang sebenarnya bukanlah manusia biasa.
“Apakah kau lupa jika aku bukanlah manusia sepertimu? Aku tak perlu berjalan hanya untuk mengejarmu, Miyoung-ah…” Jelasnya seraya menoleh padanya sembari tersenyum tipis.
Miyoung tersadar akan ucapan Kibum tadi dan langsung mengangguk paham, “Ah… yah… maaf, aku melupakan hal itu.”
“Tidak apa-apa. Kurasa… aku akan senang jika kau tetap berfikir aku adalah manusia.” Sahut Kibum kalem.
“Hm, baiklah…”
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, namun keheningan itu langsung terpecahkan ketika Kibum kembali berkata, “Jadi… apa sekarang kau sedang merasa kesal pada Donghae?”
“Eh?” Miyoung segera menoleh padanya. “T-tidak… untuk apa aku marah padanya?!”
“Oh ayolah, Miyoung-ah… kau tak perlu berbohong pada kita! Itu sudah terlihat jelas sekali dalam wajahmu…” Suara Eunhyuk terdengar dari arah samping lainnya.
Dan ketika Miyoung menoleh ke arah tersebut, ia benar-benar terkesiap saat mengetahui jika Eunhyuk telah duduk di sampingnya dengan tenang sembari tersenyum jail padanya.
“Ayo katakan pada kami, kau marah pada bocah itu kan?” Ujar Eunhyuk kemudian, seakan sedang mencoba menggoda gadis yang telah di anggap sebagai adiknya sendiri.
Miyoung terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aah… aneh sekali! Kau begitu cepat sampai aku tidak menyadari kehadiranmu, Eunhyuk-ah… ha ha ha.” Ia mencoba untuk tertawa, tapi yang ada ia malah tertawa hambar.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Miyoung-ah…” Sela Kibum.
Tawa Miyoung seketika lenyap dan di gantikan dengan wajah kesal gadis itu. Ia melirik sekilas pada Eunhyuk dan Kibum. “Haish… aku memang sedang kesal pada pria itu! Wae?! Wae?! Apa aku tidak boleh kesal padanya?! Aish… jinja! Seharusnya jika dia berfikir aku adalah miliknya dia segera mengejarku tadi, atau mungkin dia membelaku di hadapan gadis manja itu! Argh… dia benar-benar pria menyebalkan!”
Miyoung langsung meluapkan segala kekesalannya dan hal itu tentu saja mengejutkan kedua pria di sampingnya itu. Tetapi, sesaat kemudian wajah kaget mereka langsung berubah datar dan dengan santainya, secara bersamaan kedua pria itu segera menepuk punggung Miyoung sambil mengatakan hal yang sama di saat waktu yang bersamaan juga.
“Tenanglah, Miyoung-ah…” Koor keduanya.
“Sudahlah, jangan membahas pria itu lagi!” Kesal Miyoung seraya menghela nafas cepat. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“As your wish, miss…” Sahut keduanya lagi, nyaris bersamaan.
Keheningan di tempat itu terjadi lagi, namun hanya bertahan untuk beberapa saat saja, karena Miyoung segera bertanya pada Eunhyuk.
“Ah yah! Eunhyuk-ah… maaf jika aku menyinggung perasaanmu. Tapi… aku benar-benar tak paham dengan hal ini… maksudku… makhluk demons seperti kalian… bagaimana bisa memiliki orang tua?!” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Miyoung.
Eunhyuk menatapnya dengan kening mengerut dan Miyoung tersadar jika pertanyaannya tadi tak seharunya terlontar dari mulutnya. “Err… maaf, aku tidak bermaksud…”
“Tidak apa-apa. Lagipula… jika di pikir-pikir, memang aneh juga jika kita memiliki orang tua, terlebih ketika mengingat kalau kita bukanlah seorang manusia sepertimu…” Ujar Eunhyuk santai, berbeda dengan Miyoung yang justru meringis pelan, merasa tak enak hati padanya.
“Dan lagi… kami bukan benar-benar terlahir darinya, Miyoung-ah.”
“Maksudmu?” Tanya Miyoung tak mengerti.
“Yah.. aku, Donghae dan Sungmin sebenarnya terlahir dari api. Tapi bukan dari sembarang api! Api itu adalah hasil perpaduan dari kekuatan kedua orang itu, maka dapat di katakan jika kami adalah anak mereka… karena kami terlahir dari api yang berasal dari kekuatan mereka. Kau paham maksudku kan?” Jelas Eunhyuk kemudian.
“Ah… jadi seperti itu.” Miyoung mengangguk paham, lalu ia menoleh pada Kibum. “Dan… apa itu pun berlaku padamu, Kibum-ah?”
“Tentu.” Sahut Kibum seraya mengangguk singkat, “Dan aku sangat yakin jika kau sama sekali tak berminat untuk menemui orang tuaku. Percayalah…” Lanjutnya.
“Eh? Kenapa?” Bingung Miyoung.
Kibum dan Eunhyuk tak langsung menjawab, mereka hanya saling bertukar pandang sesaat sebelum akhirnya keduanya tersenyum lebar.
“Kau akan mengetahuinya nanti…” Sahutnya kemudian dan hal itu tentu saja membuat Miyoung kesal karena kedua orang itu tak ingin memberitahunya.
“Baiklah, jika kalian tidak ingin memberitahuku. Lebih baik aku masuk mansion saja!” Ujarnya seraya beranjak dari duduknya dan bergegas memasuki mansion.
-Bloody Kiss-
“Hey, Miyoung-ah, tunggu aku! Miyoung-ah!”
Tanpa ingin mempedulikan panggilan Donghae sedikitpun, Miyoung terus melangkahkan kedua kakinya dengan cepat, menyusuri lorong mansion ini tanpa menoleh pada pria di belakangnya itu.
“Ya! Shim Miyoung!”
Sret!
Langkah Miyoung terhenti kala sosok Donghae tiba-tiba saja telah berada di hadapannya. Ia mendengus kesal dan menatap tajam kearahnya.
“Menyingkirlah dari jalanku, Tn.Lee! Aku ingin lewat!” Ujar Miyoung dengan nada dingin.
Bukannya mengikuti permintaan Miyoung, Donghae justru memiringkan kepalanya ke samping dengan kedua tangannya yang di letakkan di samping pinggulnya. Ia menghela nafas panjang.
“Ada apa denganmu?”
“Aku tidak apa-apa.” Sahutnya singkat, ada nada kekesalan yang terselip pada perkataannya tadi dan Donghae menyadari hal tersebut.
“Kau yakin?”
“Yah…”
Donghae terdiam sesaat, memandang wajah Miyoung yang justru terlihat jelas sekali jika gadis ini sedang merasa kesal setengah mati sekarang.
“Apa… kau kesal dengan kehadiran orang tuaku?”
“Tidak…”
“Benarkah? Apa kau tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka?” Tanya Donghae lagi, mencoba mencari tahu alasan kekesalan Miyoung saat ini.
Miyoung memutar kedua bola matanya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia mendengus kesal, “Kau tahu? Aku justru bingung, kenapa makhluk sepertimu dapat memiliki kedua orang tua yang utuh?! Belum lagi kau memiliki seorang tunangan, tidak masuk akal!”
Donghae tak merasa kesal dengan ucapan Miyoung yang jelas-jelas tengah menyindirnya, pria itu justru tersenyum tipis seraya memnyandarkan tubuhnya pada dinding. Melihat sikap Donghae, kini Miyoung lah yang berbalik bingung terhadap sikapnya.
“Kenapa kau harus tersenyum seperti itu?! Menyebalkan!”
Donghae masih tetap tersenyum dalam diam, perlahan tangan kanannya bergerak menyentuh pipi Miyoung dan gadis itu reflex segera menghindarinya.
“Jangan sentuh aku!” Ucap Miyoung dengan nada sarkastik.
Lagi, pria itu hanya tersenyum saat Miyoung mengucapkan kata-kata dingin terhadapnya. Dia seolah-olah telah mengetahui alasan di balik kekesalan Miyoung sekarang.
“Hey… apakah kau sedang merasa cemburu sekarang?” Tanya Donghae kemudian.
“Cemburu?” Miyoung mengerutkan keningnya dengan kedua alisnya yang menyatuh. “Untuk apa aku cemburu? Memangnya aku memiliki alasan untuk merasa cemburu?!”
“Oh, tentu saja ada… Misalnya, tentang perjodohanku dengan Sungyeon. Benar kan?”
Deg!
Sekujur tubuh Miyoung menegang dalam seketika, matanya jadi bergerak gelisah dan sikapnya menjadi salah tingkah.Donghae menyeringai puas, ia tahu jika tebakannya itu memang benar.
Tentu saja, ia sangatlah tahu reaksi Miyoung. Dan hanya dengan melihat gerakan kedua bola mata Miyoung saat ini, Donghae tahu jika Miyoung tengah gugup sekarang.
Perlahan, Donghae melingkarkan kedua tangannya di pinggul Miyoung dan sebelum gadis itu sempat memberontak, Donghae telah terlebih dahulu menarik tubuhnya ke dalam pelukannya yang ntah kenapa terasa begitu nyaman bagi Miyoung.
“Kau tahu, Miyoung-ah?” Donghae mulai berucap pelan, “Aku senang jika kau cemburu pada Sungyeon sekarang. Tapi ada hal lain yang harus kau ketahui… aku tidak mungkin berpaling ke gadis manapun, jadi karena itu… kau tak perlu mencemaskan hal ini. Arraseo?”
Miyoung tak menjawab. Ia hanya terdiam dalam dekapan hangat Donghae. Tanpa di sadarinya kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman malu-malu lengkap dengan semburat merah di kedua pipinya.
“Hey… kenapa diam saja? Apakah kau masih marah denganku?”
“Tidak.” Sahut Miyoung singkat.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku, Youngie-ya?”
Donghae hendak menunduk untuk memperhatikan raut wajah Miyoung, tapi gadis itu segera menahan gerakan Donghae dengan mengatakan, “Bisakah aku memelukmu untuk beberapa saat saja, Donghae-ah?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya dan hal itu jelas saja membuat seulas senyum bahagia langsung terkembang di wajah Donghae.
“Aku tidak masalah dengan hal itu… Lagipula, kau tak perlu meminta izin padaku, karena-”
Donghae segera menghentikan ucapannya ketika ia merasakan kedua tangan Miyoung telah merengkuhnya bagian pinggulnya dengan erat. Gadis itu sedikit menggerakkan kepalanya dan akhirnya terdiam ketika posisinya telah dirasanya nyaman.
“Terima kasih, Donghae-ah…”
“Untuk?”
Tak ada jawaban dari gadis itu, dan seakan tak ingin menuntut jawaban apapun darinya, pria ini pun segera membalas pelukan Miyoung. Dagunya bersandar pada puncak kepala Miyoung sementara tangan kanannya terus mengelus lembut rambut panjang gadis itu.
-Bloody Kiss-
Jungsoo dan Jaehee terus memperhatikan Donghae dan Miyoung yang tengah berpelukan itu. Keduanya nampak tenang dengan hal itu, tak ada raut kekesalan yang nampak di wajah kedua orang itu.
“Kau lihat mereka? Kurasa… tak ada yang salah dengan hubungan mereka.” Jungsoo berkata dengan kalem seraya menggedikkan kepalanya untuk menunjuk Donghae dan Miyoung.
Jaehee melirik suaminya sekilas sebelum akhirnya melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Aku tidak mempermasalahkan hubungan mereka sejak awal, Jungsoo-ya. Sekarang… yang aku pikirkan hanyalah… gadis itu.” Ia menunjuk sosok Sungyeon yang berdiri tak jauh darinya.
Jungsoo menoleh untuk menatap Sungyeon dan nampak jelas jika pandangan gadis itu hanya tertuju pada Donghae dan Miyoung. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya pun nampak mengeras.
“Hm, kau benar.” Jungsoo mengangguk singkat. “Gadis manusia itu pastilah akan kalah telak jika harus melawan gadis seperti Sungyeon…”
“Memang.” Sahut Jaehee seraya mengangkat kedua bahunya, “Dan kumohon hilangkan semua pikiranmu tentang diriku yang menentang hubungan gadis manusia itu dengan anakku! Walau bagaimanapun juga, aku tetaplah seorang Ibu… aku pasti ingin melihat anakku bahagia dengan seseorang yang di cintainya, arraseo?!” Nada Jaehee berubah sinis dan wanita itu pun tiba-tiba saja menghilang begitu saja dari hadapan pria itu.
Jungsoo masih mematung di tempatnya, terlalu terkejut dengan perubahan mood isterinya itu. “Haish… dia selalu saja seperti itu! Dasar pemarah!” Gerutu Jungsoo seraya mengacak-acak rambutnya. “Chagiya… jangan pergi!” Pekiknya dan di saat itu juga ia menghilang dari sana.
-Bloody Kiss-
Donghae membaringkan tubuh Miyoung yang telah tertidur pulas di atas ranjangnya yang empuk. Ntah sejak kapan gadis ini telah tertidur dalam pelukannya, namun dengan cekatan Donghae segera saja bergegas membawa gadis itu ke dalam kamarnya.
Di tariknya selimut berbahan sutra itu hingga ke bagian dada Miyoung. Tatapan matanya pun tertuju pada wajah Miyoung, ia menjelajahi setiap inchi dari wajah gadis itu dan tersenyum tipis seraya menggerakan tangannya, menyisikan beberapa helai rambut yang menutupi bagian kening gadis itu.
“Aku tak pernah menyangka jika aku akan jatuh hati pada gadis manusia sepertimu…” Pria ini bergumam pelan seraya membelai lembut pipi gadis itu.
“Ehm…” Miyoung sedikit terusik dengan hal itu, ia menggeliatkan tubuhnya pelan dan tak lama dari itu kedua matanya terbuka. Tatapannya langsung bertemu pandang dengan tatapan Donghae yang tengah mengarah padanya.
“Apa aku membangunkanmu?” Tanya Donghae lembut.
Miyoung menggeleng singkat, “Sejak kapan aku tertidur?”
“Ntahlah.. mungkin, kau terlalu nyaman berada di dalam pelukanku.” Sahut Donghae setengah menggoda gadis tersebut.
“Berhentilah menggodaku, Tn.Lee. Itu tidak akan mempan!” Desis Miyoung seraya menoleh arah lain, mencoba menghindari tatapan Donghae yang sebenarnya mampu membuat degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Donghae tak mengatakan apapun lagi, ia hanya duduk tepat di samping ranjang Miyoung. Di tariknya pundak gadis itu perlahan, membuatnya kembali menoleh padanya.
“Miyoung-ah… bolehkah aku… menciummu?”
Sebenarnya, Donghae tak perlu menanyakan hal itu. Tetapi ntah kenapa ia tiba-tiba saja bertanya seperti itu. Ia dapat dengan jelas melihat wajah kaget Miyoung, namun ketika gadis itu tiba-tiba saja mengangguk meski enggan, Donghae tak mampu menyembunyikan rasa senangnya.
Donghae perlahan mendekati wajah Miyoung, tubuhnya membungkuk dan jarak di antara merekapun semakin menipis.
Hanya dalam hitungan seperkian detik saja, tubuh Donghae telah menindih tubuh Miyoung. Di kecupnya bibir gadis itu dengan gerakan yang begitu perlahan. Miyoung menerima ciuman itu dengan sukarela, ia bahkan mengalungkan lengannya di leher Donghae.
Ciuman yang pada awalnya terbilang lembut itu, ntah sejak kapan telah berubah menjadi sebuah ciuman yang panas dan bergairah. Donghae menelisikkan lidahnya ke dalam rongga mulut Miyoung, saling bertautan dengan lidah Miyoung. Sesekali ia menghisap lidahnya dan menyebabkan sebuah decakan kecil terdengar di sela ciuman mereka itu.
Tangan kanan Donghae bergerak mengelus lembut leher serta rambut Miyoung yang tergerai bebas sementara itu, tangan kirinya menyusup masuk ke dalam pakaian Miyoung, meraba bagian dada gadis itu dan meremasnya dengan perlahan.
“Aaah…” Miyoung melepaskan ciumannya sesaat dan desahan itu terlontar dari mulutnya.
Donghae menghentikan sesaat remasannya dan kedua mata mereka saling bertemu pandang. “Apa kau ingin aku menghentikannya?” Donghae bertanya dengan nafasnya yang terdengar sedikit tercekat dan suara yang berat, sepertinya ia tengah berusaha menahan nafsu yang telah berkobar di dalam dirinya itu.
Miyoung terdiam sesaat, kedua bola mata hitamnya bergerak-gerak mengamati wajah pria di hadapannya itu. Dan beberapa detik setelahnya, ia mendekati wajah Donghae lagi kemudian ia pun mencium bibir Donghae seraya berusaha untuk beranjak dari posisinya.
Merasa jika Miyoung telah memberikan tanda lampu hijau, Donghae tentu saja tak ingin untuk menyia-nyiakan hal itu. Ia sedikit mengangkat tubuh Miyoung dan dengan mudahnya gadis itu kini telah berada di lahunannya sekarang.
Mereka masih terus berciuman dengan lidah yang saling bertautan. Pertukaran saliva sering kali terjadi di sela-sela ciuman mereka, bahkan tanpa enggan Donghae selalu saja menghisap lidah serta bibir Miyoung secara bergantian.
“Ehhn…” Miyoung sedikit mencengkram pundak Donghae kala pria itu menelisikkan jarinya ke celana dalamnya, ia mengusap-usap lembut bagian ms.vnya dan hal itu membuat Miyoung merasakan percikan panas pada sekujur tubuhnya.
Jari tengah Donghae tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam lubang kewanitaan Miyoung dan gadis itu terkesiap kaget, ia reflex melepaskan ciumannya dan mendesah pelan.
“Aahh…”
Seolah tak ingin melewatkan setiap inchi tubuh Miyoung, Donghae beralih menciumi leher gadis itu dengan sangat bernafsu. Ia sesekali menjilat serta menghisapnya dengan sangat kuat hingga meninggalkan tanda kiss mark di sana.
“Aahhh… D-Donghae-ah… Hnn…”
Donghae terus meninggalkan jejak di sana, dan ketiga jarinya pun telah bersarang di dalam lubang kewanitaan Miyoung. Mengoyak-ngoyak serta menggoda gadis itu untuk mencapai klimaks pertamanya.
“Aaahhh…”
Miyoung terus menerus mendesah ketika mendapatkan siksaan yang teramat nikmat itu. Dan ketika ia tak mampu membendungnya lagi, akhirnya klimaksnya pun tiba dan cairannya pun langsung meluncur dengan bebasnya dari lubang kewanitaannya.
Donghae tersenyum puas ketika melihat raut wajah Miyoung yang terlihat begitu puas ketika mencapai klimaks pertamanya itu. Nafas gadis itu tersenggal-senggal dan itu nampak semakin sexy bagi Donghae.
“Kau terlihat begitu menawan… bahkan saat ini kau terlihat sangat menawan, Youngie-ya…” Bisik Donghae seraya menggigit cuping telinga Miyoung.
“Hnn…” Miyoung menggigit bibir bawahnya, merasakan tubuhnya kembali bereaksi meski hanya karena nafas Donghae yang menerpa kulit lehernya.
“Donghae-ah… A-aku…”
Knock… Knock… Knock…
Ucapan Donghae terhenti kala seseorang mengetuk pintu kamar itu. Miyoung sempat terkejut dengan hal itu dan berniat untuk segera menarik dirinya dari atas tubuh Donghae, tapi dengan segera Donghae menahan tubuhnya dan mendorong tubuhnya hingga Miyoung kembali terlentang di atas ranjang.
“Donghae-ah, ada yang datang!” Desis Miyoung seraya memelotot padanya.
Donghae tak mengidahkan ucapannya dan justru melepaskan sabuk serta kancing celananya. “Maafkan aku, Miyoung-ah… tapi kurasa… aku tak dapat menahannya lagi.”
“Apa? Ahknnn!!”
Kedua mata Miyoung langsung terpejam ketika Donghae dengan tiba-tiba saja memasukkan mr.pnya yang telah keras itu ke dalam ms.vnya.
“Aahhh… Donghae-ah!” Miyoung meremas lengan pria itu dengan kuat, tetapi Donghae tak peduli dengan hal itu. Ia hanya terus berfokus untuk memasukkan miliknya lebih dalam lagi.
Donghae terus berusaha mendorong miliknya dan hanya dalam sekali hentakan saja miliknya telah tertanam sepenuhnya ke dalam milik Miyoung.
“Aaaaah!!” Miyoung mendesah keras, keningnya mengerut dan tanpa terasa air mata pun keluar dari sudut matanya.
Donghae segera menghapus air mata tersebut dengan cara mengecupnya, “Maafkan aku…” Bisiknya. “Tapi aku…”
“L-Lakukanlah…” Donghae terkejut ketika mendengar ucapan itu, Tetapi ketika Miyoung membuka kedua matanya, Donghae yakin jika dia tak salah dengar tadi. Mereka saling bertukar senyum sesaat, sebelum akhirnya Donghae mulai menggerakkan pinggulnya.
Dengan perlahan, Donghae memaju-mundurkan miliknya sementara itu Miyoung terus saja mendesah keras dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap, merasakan kenikmatan yang tak mampu di utarakan dalam kata-kamemaju-mundurkan miliknya sementara itu Miyoung terus saja mendesah keras dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap, merasakan kenikmatan yang tak mampu di utarakan dalam kata-kamemaju-mundurkan miliknya sementara itu Miyoung terus saja mendesah keras dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap, merasakan kenikmatan yang tak mampu di utarakan dalam kata-kamemaju-mundurkan miliknya sementara itu Miyoung terus saja mendesah keras dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap, merasakan kenikmatan yang tak mampu di utarakan dalam kata-kata.
“Aaahhh… Donghae-ah… A-aku… Ehmmmnn…”
“Ergh… Hhh… Aahh… ini benar-benar nikmat… Ohhnnn…”
“Aaaahhh… Hnnn…”
Donghae terus dan terus memaju-mundurkan miliknya, tangan kirinya sibuk meremas-remas dada Miyoung sementara bibirnya sibuk mencium bibir serta leher Miyoung secara bergantian.
Cukup lama keduanya melakukan hal tersebut, hingga akhirnya mereka merasa jika tak lama lagi mereka akan mencapai klimaksnya.
“Aaaaaaahhhh!!”
Gerakan Donghae semakin cepat dan desahan di antara keduanya pun semakin menjadi. Dan tak berapa lama keduanya mencapai klimaks di saat yang bersamaan di iringi sebuah desahan keras menandakan jika mereka begitu puas karena telah mencapai klimaksnya.
“Hah… hah… hah…”
Nafas mereka saling beradu dan kedua mata mereka saling bertemu pandang. Perlahan pria itu pun membaringkan tubuhnya di samping Miyoung dengan seulas senyum tipis yang nampak di wajah tampannya.
“Terima kasih, Miyoung-ah…” Bisik Donghae seraya mengecup keningnya singkat.
Miyoung membalas senyumannya dan menyandarkan kepalanya pada dada Donghae. Ia baru saja menyadari, jika selama ini ia tak pernah mendengarkan detak jantung Donghae meski ia bersandar pada dada pria ini.
“Donghae-ah…”
“Hm?”
Miyoung terdiam sejenak, dan hal itu membuat Donghae penasaran. Pria ini menunduk dan menarik dagu Miyoung ke atas, memaksa gadis itu menatap ke arahnya.
“Ada apa?” Tanya Donghae kemudian.
Hening, gadis itu masih terdiam.
“Miyoung-ah…” Panggilnya lagi.
Miyoung menghela nafas sesaat sebelum akhirnya membuka mulutnya dan berkata, “Jika aku… jika aku mengatakan padamu kalau… aku… aku mencintaimu… apakah kau juga begitu??”
Kedua bola mata Donghae terbuka lebar, ia benar-benar tak percaya jika kata-kata itu akan terlontar dari mulut Miyoung. Dan terlebih kata-kata itu di tujukan padanya!!
“Bisa… kau ulangi perkataanmu tadi?” Tanya Donghae memastikan.
Miyoung tersenyum malu-malu, kemudian kembali berkata, “Aku… mencintaimu, Lee Donghae…”
To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar