Kamis, 27 November 2014

Bloody Kiss (Chapter.10-End-)

Tittle              : Bloody Kiss
Author          : NtaKyung
Casts              : Lee Donghae, Shim Miyoung, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Heechul and OC
Genre            : Action, AU(Alternate Universe), Fantasy, Romance, Unrated
Rating           : PG-15
Disclaimer  : Seluruh cast dalam ff ini adalah milik Tuhan, orang tua dan mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini semuanya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art     : NtaKyung
-Bloody Kiss-
Pertarungan semakin bertambah sengit, namun Eunhyuk dan Sungmin masih tetap memberikan perlawanan yang tidak sia-sia. Berpuluh-puluh kawanan clan Minotaur mati di tangan mereka dan hal ini semakin menyudutkan Hyunja-sang ketua dari clan Medusa-, para prajuritnya yang berupa clan Ogre sudah hampir semua terbunuh dan dia pun bisa bernasib sama seperti mereka jika saja ia tak menyerang salah satu dari Eunhyuk ataupun Sungmin.
“Sial!” Umpat Hyunja geram, kedua matanya bergerak dengan gelisah mengamati peperangan sengit yang terjadi di hadapannya ini.
Tatapan matanya langsung tertuju pada sosok Eunhyuk yang kini tengah di kepung clan Minotaur dan Ogre. Seringaian licik langsung nampak di wajah gadis ini, “Sekarang adalah giliranku!” Desis Hyunja sembari berjalan ke arah Eunhyuk.
Langkah kakinya bertambah cepat dan hanya dalam satu hentakan kakinya saja, tubuhnya telah melayang di udara dan dengan memegang sebuah pisau belati yang di lumuri racun yang mampu menghancurkan kerja otot-otot saraf dalam tubuh para clan Demons, Hyunja telah bersiap untuk menusukkan pisau tersebut, tepat ke bagian jantung Eunhyuk.
“Matilah kau!!” Teriak Hyunja penuh dengan amarah.
Tersadar akan bahaya yang menyerangnya, Eunhyuk lantas menolehkan kepalanya ke atas dan menemukan Hyunja telah bersiap menyerangnya. Namun, belum sempat Hyunja mencelakainya, sosok Sungyeon tiba-tiba saja menghadangnya dan langsung menjatuhkan tubuh mereka ke atas tanah secara bersamaan.
Eunhyuk sempat terkejut dengan kehadiran Sungyeon, ia tak menyangka jika gadis itu akan datang dan menolongnya. Padahal, bukankah seharusnya dia membantu ayahnya?
Dengan segera, Eunhyuk mengerahkan seluruh tenaganya, melawan dan menghancurkan satu-per satu para clan Minotaur dan Ogre yang sedari tadi mengepungnya.
Brugh!
“Ahk! Sial!” Hyunja kembali mengumpat, di liriknya Sungyeon yang telah berdiri di hadapannya dengan sorot kilatan mata yang tajam. “Dasar gadis bodoh! Apa yang kau lakukan, huh?! Kau seharusnya membantu kawanan Ayahmu untuk memusnahkan para clan Demons sialan itu!” Ujar Hyunja geram.
“Aku bahkan tak pernah setuju dengan tindakannya ini, jadi haruskah aku mendukungnya? Aku bahkan tak peduli jika dia mati ataupun tidak!”
“Apa?! Sialan kau gadis bodoh!!”
Hanya dalam hitungan detik Hyunja telah berlari ke arah Sungyeon dan menyerang habis-habisan gadis di hadapannya itu. Sungyeon pun dengan cekatan mampu menghindari serangan tersebut, dan ia pun berusaha mati-mati-an menghindari tatapan mata Hyunja agar tetap aman.
Terdengar tawa Hyunja yang begitu meremehkannya, “Kenapa kau menghindari tatapanku, huh? Apakah kau takut aku merubahmu menjadi batu? Ha ha ha!” Tawanya terdengar menggelegar, dan ia tetap melakukan penyerangan secara bertubi-tubi.
Sret!
“Ahk!”
Tubuh Sungyeon tergelincir ke atas tanah dengan luka sayatan di bagian tangan kanannya yang terkena cakaran dari kuku-kuku tajam yang di miliki Hyunja.
Lalu, di tindihnya tubuh Sungyeon dan di cekiknya leher gadis itu dengan sangat kuat, membuat Sungyeon merasa kesulitan untuk bernafas. Belum lagi, racun yang berasal dari cakaran kuku-kuku Hyunja, langsung membuat sekujur saraf otot Sungyeon tak mampu berfungsi dengan baik.
Cekikan Hyunja bertambah kuat dan Sungyeon hanya mampu menggeliat-geliatkan tubuhnya, ia terlalu lemah akibat racun tersebut dan ia masih tetap berusaha menutup kedua matanya meski ular-ular kecil yang ada di atas kepala Hyunja mulai menggigit-gigit kecil wajahnya.
Memang ular-ular itu tak beracun sama sekali, tapi tetap saja, ular-ular itu seolah mampu untuk menghipnotis kita agar segera membuka kedua mata kita.
“Ayolah, Sungyeon-ah… kenapa kau terus menutup kedua matamu, huh? Ayolah… buka kedua matamu, sayang…” Desis Hyunja, berusaha membujuk Sungyeon agar membuka kedua matanya.
“T-tidak!”
Mulut Hyunja mengatup rapat, membentuk satu garis yang menandakan jika wanita ini merasa geram dengan penolakan Sungyeon. Ia lantas semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis di hadapannya ini, menyebabkan Sungyeon dapat merasakan hembusan nafasnya dan gadis itu pun reflex memiringkan wajahnya.
Hyunja menyeringai licik, “Kau tahu, Sungyeon-ah? Sebenarnya… aku sama sekali tak memihak pada Ayahmu. Aku hanya memanfaatkannya agar dapat menghancurkan gadis bernama Shim Miyoung itu! Dan sejujurnya… akupun begitu ingin memusnahkanmu, karena… kau juga adalah suatu benalu yang harus kusingkirkan agar priaku, Lee Donghae, hanya melihatk kepadaku!”
Deg!
Sungyeon terkesiap kaget mendengar pengakuan Hyunja tadi, kedua matanya reflex membuka dan gadis ini hampir saja menoleh dan bertatapan mata langsung dengan Hyunja, namun tiba-tiba saja seseorang menarik tubuhnya dan menendang tubuh Hyunja sekuat-kuatnya.
Tubuh gadis medusa itu langsung terlempar jauh dan menabrak sebuah batang pohon besar yang ada di belakangnya. Seketika itu juga, darah segar mengalir dari mulutnya dan tubuh Hyunja pun jatuh tak berdaya ke atas tanah.
Dan setelah itu pun, sosok Sungmin yang masih dalam wujud Demons kini berdiri tepat di depan gadis medusa itu. Di cengkramnya leher Hyunja dengan kuat, membuat tubuhnya terangkat dan Hyunja pun terus memekik kesakitan dengan nafas tersenggal-senggal.
Kilatan penuh amarah terpancar sangat jelas di kedua mata Sungmin, dan sebelum pria ini benar-benar menghancurkan gadis medusa itu, ia berkata.
“Bukankah dulu sudah kuperingatkan agar kau tak mengusik kehidupan kami lagi, Hyunja-ssi?! Sekarang, lihatlah apa yang kau perbuat!! Aku tak dapat mentolerirnya lagi!!” Desisnya emosi.
Creak!
“AARRGGHH!!” Teriakan yang memilukan itu terlontar dari mulut Hyunja ketika pria itu dengan kejamnya menancapkan kuku-kuku panjangnya di antara lehernya.
Mengoyaknya hingga akhirnya kepala Hyunja terpisah dari tubuhnya. Darah segar mengucur dari lehernya yang tak berkepala lagi tu, namun tanpa merasa iba sedikitpun, Sungmin hanya melemparkan tubuh tak bernyawa itu ke atas tanah.
Sementara itu, seseorang yang tadi sempat menarik tubuh Sungyeon dan menendang Hyunja, kini tengah merengkuh tubuh tak berdaya Sungyeon.
“Sungyeon-ah… kau baik-baik saja?” Suara orang itu terdengar lirih, di usapnya dengan perlahan wajah Sungyeon yang rupanya telah di penuhi oleh sayatan dan darah segar.
Perlahan, Sungyeon membuka kedua matanya, dan ketika ia menyadari jika seseorang yang telah menyelamatkannya adalah Eunhyuk, Sungyeon terlihat berusaha untuk tersenyum walaupun hasilnya gagal.
“Eunhyuk-ah… aku…”
“Jangan mengatakan apapun!” Larang Eunhyuk cepat. Di peluknya dengan sangat erat tubuh gadis itu. “Dasar bodoh! Kenapa kau harus muncul dan membantuku, hm?! Bukankah selama ini aku sudah memperlakukanmu dengan begitu buruk?!”
Sungyeon tersenyum lemah dalam pelukan Eunhyuk. “Karena… aku.. aku mencintaimu, Eunhyuk-ah…” Bisiknya dengan suara parau.
Dada Eunhyuk terasa di remas dengan sangat kuat, menyebabkan pria ini merasakan sakit yang menyesakkan. Air mata tak dapat terbendung lagi dari pelupuk matanya, dan sungguh ia tak dapat memungkiri perasaannya lagi, jika ternyata, ia pun masih mencintai gadis ini.
“Maafkan aku…” Dan hanya kata-kata itu yang mampu terlontar dari mulut Eunhyuk.
Keduanya larut dalam kesedihan yang mungkin akan memperbaiki hubungan mereka kelak, dan dari kejauhan nampak Sungmin yang memperhatikan mereka berdua dengan senyum bahagia. Ia merasa senang jika pada akhirnya kedua makhluk ini dapat bersatu kembali.
Tetapi, kesenangannya itu lenyap dalam seketika saat ia melihat sebuah cahaya hitam pekat yang terpancar dari arah mansion mereka. Kedua matanya membulat, ia tahu betul jika cahaya hitam itu merupakan sinyal kesedihan yang di berikan oleh para clan Djinn, memberitahukan jika ada orang terdekat mereka atau clan mereka yang telah meninggal.
“Oh, tidak!!” Ia buru-buru mendekati Eunhyuk, “Eunhyuk-ah, kita harus kembali ke mansion!” Teriak Sungmin, menyadarkan Eunhyuk akan cahaya hitam pekat itu.
Kedua bola mata Eunhyuk pun membulat saat menyadari akan cahaya hitam tersebut. Sekujur tubuh pria ini menegang, dan ingatannya akan kondisi Miyoung pun langsung terngiang-ngiang dalam benaknya.
“Miyoung…” Desisnya pelan. “Ini tidak mungkin!!” Serunya seraya beranjak dari posisinya dan mengangkat tubuh Sungyeon dalam pangkuannya. Dan setelah itupun, Eunhyuk dan Sungmin langsung melesat pergi menuju mansion.
-Bloody Kiss-
Sekujur tubuh Donghae menegang, tatapannya kini hanya tertuju kepada satu pria yang tengah bersimpuh lemas di hadapannya.
“Katakan yang jelas, Kibum-ah! Siapa yang kau maksud itu, huh?!” Sentakan Donghae terdengar menggelegar, ia mencengkram dengan sangat kuat pakaian Kibum, menarik tubuhnya dengan gerakan yang sangat kasar.
Hening. Tak ada sahutan dari pria itu, ia hanya tetap menunduk dan perlahan tubuhnya mulai bergetar, bersamaan dengan air mata yang mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.
“Maaf… maafkan aku, Donghae-ah…” Kibum berucap dengan nada bergetar dan suaranya yang parau. “Maafkan aku…” Lirihnya lagi.
Donghae menggeleng pelan, “Tidak! Jangan meminta maaf padaku, Kibum-ah! Jangan katakan itu padaku!” Elak Donghae cepat. “Kumohon jangan pernah katakan hal itu kepadaku!!” Dan di saat itu juga, cengkraman tangan Donghae mengendur.
Tubuhnya sama bergetarnya seperti Kibum, dan tubuhnya pun perlahan-lahan merosot terjatuh ke atas tanah yang dingin. Air mata tak kuasa terbendung lagi dan langsung membasahi wajah tampan Donghae yang saat ini justru hanya menyiratkan segurat luka dalam dan kepedihan.
“ARGH!” Teriakan penuh kepiluan itu terdengar sangat keras. Kedua tangannya terkepal sangat kuat dan terdengar suara gemelatuk giginya yang mengatup itu, seolah ia tengah melampiaskan semua rasa kekecewaan dan amarahnya pada dirinya sendiri.
Keduanya pun larut dalam kesedihan yang sama, Kibum terlihat begitu terpukul dengan hal ini, dan hal itu terasa lebih menyakitkan saat ia harus melihat Donghae terlihat begitu terpuruk dan bahkan terlihat lebih terpuruk darinya.
Ya, jelas saja. Gadis yang sangat di cintainya kini telah tak berada di dunia ini lagi, dan ia masih belum mampu menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa Shim Miyoung telah tiada.
Dan dari jarak yang tak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang, nampak beberapa orang tengah mengelilingi mereka sambil menampakkan tatapan sendu. Mereka sama-sama merasakan hal yang sama seperti kedua pria itu, dan terutama hal itu di rasakan oleh Lee Hyukjae. Pria yang selama ini begitu dekat dengan Shim Miyoung.
Sungyeon melirik sekilas ke arah Eunhyuk yang tertunduk dan tak kuasa menahan air matanya lagi. Gadis ini lantas tersenyum bersimpati dan menghapus jejak air mata itu dengan ibu jarinya. Dan pertahanan Eunhyuk semakin runtuh ketika merasakan kelembutan Sungyeon, tangis pria itu semakin menjadi.
Sementara di sisi lainnya, Jungsoo dan Heechul hanya terdiam menunduk. Sedangkan Jaehee kini tengah sibuk menenangkan sang bayi yang baru saja terlahir ke dunia ini. Seolah tangisan bayi itu, mengisyaratkan jika ia telah mengetahui bahwa Ibunya telah tiada lagi di dunia ini, dan ia bahkan tak mampu merasakan kehangatan dalam dekapan Ibunya itu.
“Seharusnya aku tidak menuruti perkataannya, dan mungkin… dia masih ada di sini.” Heechul berucap dengan nada lirih.
Jungsoo melirik kepadanya sekilas sebelum akhirnya menepuk pundak Heechul pelan. “Dia tidak ingin kau mati dalam penyesalannya, Heechul-ah. Dia ingin kau memperbaiki segalanya dan terutama hubungan di antara kau dan Kibum.”
“Tapi aku bahkan membiarkan kejadian Kibum kembali terulang pada bayi tak berdosa itu!”
“Dan aku yakin… bayi itu memiliki hati yang mulia seperti Ibunya.” Senyum Jungsoo. “Dia tak akan mengalami hal serupa seperti apa yang pernah di rasakan Kibum, Heechul-ah… percayalah.”
Dan setelah itu pun, Heechul tak mengatakan apapun lagi. Memilih untuk bungkam dan kembali menatap Kibum yang rupanya telah balik menatapnya.
Heechul dapat merasakan tatapan penuh kekecewaan yang di layangkan Kibum untuknya, dan ia memang sudah tahu jika akan seperti ini jadinya. Namun, sedetik kemudian anaknya itu mulai membuka mulutnya dan menggumamkan sesuatu.
Sebuah kata yang tak pernah Heechul kira sebelumnya akan keluar dari mulut anaknya itu.
‘Kau telah melakukan yang terbaik untuknya, Appa. Terima kasih.’
Heechul tersentak dan kediamannya, otaknya berusaha untuk mencerna dan mengelak kata-kata yang terlontar tanpa suara dari mulut Kibum. Tetapi, akal sehatnya menolak hal itu dan memilih untuk menyetujui pemandangan tadi. Dan setelah itu, Heechul hanya mampu menunduk, tak mampu lagi berkata-kata ataupun menatap Kibum kembali.
-Bloody Kiss-
<Flash Back Start>
Jungsoo dan Heechul telah berusaha keras mengerahkan seluruh tenaganya. Berharap jika ada satu reaksi yang berarti dari tubuh yang tengah terbaring kaku itu. Keputusasaan sudah terlihat jelas di raut wajah Jungsoo, namun pria itu tetap melakukan tugasnya untuk membantu Heechul.
Heechul mendesah berat, salah satu tangannya mengepal dengan kuat dan terdengar suaranya yang menggeram frustrasi. “Tak ada cara lain, aku harus menggunakan sisa kekuatanku yang terakhir untuknya.” Gumamnya.
Jungsoo lantas meliriknya dengan cemas. Ia menggeleng singkat, “Tidak, Heechul-ah! Kau bisa saja mati jika melakukan hal itu!” Teriaknya frustrasi.
“Tapi ini adalah cara yang memungkinkan gadis ini kembali sadar!”
“Dan kau rela mengorbankan nyawamu sendiri?!”
Heechul terdiam tapi beberapa detik kemudian, pria ini kembali berkata,
“Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Jungsoo-ya. Aku takkan membiarkan gadis ini bernasib sama seperti Raena.”
Tak ada yang mampu Jungsoo katakana kembali saat nama ‘Raena’ terucap dari bibir Heechul. Hal itu seakan sesuatu hal yang sensitif untuk di bahas.
Heechul kembali menghela nafas berat sebelum akhirnya memegang kembali pergelangan tangan Miyoung, mencoba mencari-cari denyut nadi gadis itu yang terasa sangat lemah.
“Aku akan melakukannya sekarang, Jungsoo-ya. Dan kuharap, kau masih mampu membantuku menyalurkan energimu ke seluruh tubuh gadis ini. Terutama ke bagian luka di perutnya.” Titah Heechul.
Jungsoo mengangguk tanpa protes. “Aku akan melakukan yang terbaik.” Sahutnya.
Pancaran cahaya yang tercipta dari energy yang di salurkan Heechul dan Jungsoo kembali terlihat di sekujur tubuh Miyoung yang masih terasa kaku dan dingin itu. Keringat dingin mulai mengucur dari kening kedua pria ini, dan perlahan-lahan Heechul dapat merasakan darah kembali mengalir dalam tubuh Miyoung. Menimbulkan rona merah kembali di sekujur tubuhnya, menandakan jika darah mulai mengalir normal sedikit demi sedikit.
Namun, wajah gadis ini masih terlihat sangat pucat. Heechul kembali mengerahkan energinya, ia benar-benar ingin menyembuhkan Miyoung. Tak peduli jika ia harus mati atau tidak, tetapi tak berapa lama sebuah cengkraman yang lemah terasa di antara pergelangan tangan Heechul.
Heechul tersentak dan reflex membuka kedua matanya, konsentrasinya buyar dan energinya pun terhenti untuk beberapa saat, tak lagi menyalurkan kekuatannya pada tubuh Miyoung.
“Miyoung-ah!” Pekik Heechul, kaget bercampur senang karena rupanya usaha ia menyadarkan gadis ini berhasil. “Tunggu sebentar lagi dan kau benar-benar akan pulih, Miyoung-ah!” Ujarnya sembari berusaha berkonsentrasi kembali, bersiap menyalurkan energinya kembali.
Tetapi, cengkraman lemah itu masih tetap menahan pergerakan tangannya, membuat segala hal yang di lakukan Jungsoo maupun Heechul terhenti.
“Miyoung-ah…” Jungsoo berucap pelan.
Gadis itu tersenyum lemah pada kedua pria itu, lalu ia menggeleng singkat.
“Hentikan… hentikan omong kosong ini.” Bisiknya dengan nada yang nyaris tak terdengar.
“Omong kosong apanya?! Kami hampir saja berhasil, Miyoung-ah!” Seru Heechul kemudian.
Miyoung lagi-lagi menggeleng singkat, “Tidak, Heechul-ah. Kalian harus menghentikan semua ini. Aku tak ingin menerimanya.”
“Apa maksudmu?!” Tanya Heechul tak mengerti. “Jangan bersikap konyol, Shim Miyoung!”
“Aku tidak bersikap konyol, Heechul-ah. Sungguh, aku takkan mampu bertahan dengan semua ini. Dan jika kalian terus melakukan hal ini… semuanya akan berakhir dengan sia-sia.” Bisik gadis itu dengan seulas senyum yang berusaha ia ciptakan.
“Apa?!”
“Aku.. aku tak ingin kau mati karenaku, Heechul-ah. Kibum telah kehilangan Ibunya sejak ia lahir. Dan aku tidak mungkin membiarkannya tak memiliki Ayah hanya karena kau harus berusaha untuk menyelamatkanku. Itu takkan pernah bisa kuterima!”
Heechul dan Jungsoo hanya terdiam, menatap gadis itu dengan kening yang mengkerut. Mereka tahu dengan jelas dengan hal yang di maksud Miyoung sekarang.
Kedua pria ini masih larut dalam pikiran mereka masing-masing, sampai akhirnya tersadarkan oleh suara sedakan Miyoung dan gadis itu pun langsung memuntahkan banyak darah segar dari dalam mulutnya.
“Miyoung-ah!” Pekik Jungsoo terkejut.
Heechul berniat meraih kembali tangan gadis itu, namun Miyoung menolak dan menggelengkan kepalanya cepat, rasa sakit dan ngilu di rasakannya di sekujur tubuhnya. Air mata kesakitan pun mengalir dari kedua kelopak gadis itu.
Darah segar tak henti-hentinya keluar dari mulut Miyoung, nafas gadis itu menjadi semakin tak teratur dan ketika Heechul telah berhasil meraih tangan gadis itu dan berusaha mengalirkan lagi energinya bersama Jungsoo.
Miyoung tersenyum lirih padanya, menatapnya dengan tatapan sendu.
“Aku… benar-benar… tak mampu… tak mampu bertahan lagi, Heechul-ah.” Lirihnya, dengan suara berbisik yang bahkan langsung lenyap tertelan angin.
“Miyoung-ah, kumohon… kau bisa melakukannya.” Bujuk Heechul dengan suara yang tak kalah lirihnya.
Tetapi, gadis itu hanya tetap tersenyum padanya sambil menggelengkan kepalanya lemah.
“Sampaikan kata maafku pada Donghae. Katakan… maaf, aku tidak bisa menunggunya hingga dia datang nanti. Dan kumohon, jagalah bayiku dengan baik-baik.” Ujarnya lagi.
Dan sebelum Miyoung mampu mengatakan apapun lagi, gadis itu kembali tersedak dan lagi-lagi darah segar kembali keluar dari dalam mulutnya. Kedua pria ini pun lantas mengerahkan lagi kekuatan mereka, berniat menyelamatkan nyawa Miyoung yang di ambang kematian.
Namun semuanya terlambat. Gadis itu telah menyerah dengan rasa sakit yang di mendera sekujur tubuhnya. Tangan Miyoung yang sedari tadi di pegang Heechul perlahan menjadi kaku dan tak lama kemudian terjatuh dengan lemah di sisi tubuhnya, menandakan gadis itu telah tiada.
Keduanya terkesiap, terkejut dengan hal ini, namun merekapun tak mampu berbuat apa-apa lagi. Mereka tertunduk lemas, dan tanpa terasa butiran air mata kesedihan pun mengalir dari sudut mata Jungsoo dan Heechul.
**********
Jaehee menghembuskan nafasnya dengan perlahan, dengan hanya bersandar pada pintu yang terhubung dengan kamar bawah tanah ini, Jaehee dapat mengetahui dengan jelas tentang hal apa yang telah terjadi di dalam.
Sang bayi yang sesaat telah tertidur pulas dalam gendongannya, perlahan bergerak dengan gelisah. Seakan-akan bayi ini mengetahui pertanda buruk yang akan terjadi, dan ketika pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Heechul dan Jungsoo, Jaehee dapat menebak hal apa yang telah terjadi pada gadis di dalam kamar itu.
Jaehee berniat mengatakan sesuatu, tetapi tertahan kala mendengar suara derap langkah kaki yang terburu-buru memasuki ruangan bawah tanah itu.
Dan di saat ketiga makhluk dewasa ini menoleh ke arah sumber suara, mereka melihat Kibum yang tengah berdiri dengan nafas tersenggal-senggal. Beberapa sayatan terlihat jelas di wajahnya dan terdapat banyak jejak cipratan darah pada pakaian pria ini, mungkin ia telah menghabisi semua pengganggu yang datang ke Mansion ini.
“Bagaimana… keadaannya?” Tanya Kibum dengan nafas tersenggal, ia begitu terlihat khawatir, terlihat jelas dari pancaran kedua matanya. Jelas saja, Kibum telah menganggap Miyoung sebagai adiknya sendiri semenjak gadis itu tinggal di Mansion ini.
Hening. Tak ada jawaban yang pasti dari ketiga orang itu.
Kedua kaki Kibum melemas dan bergetar hebat, kedua matanya mulai berkaca-kaca dan tatapan pria ini pun tertuju pada sang bayi yang mulai menangis kecil.
“Miyoung hanya meninggalkan bayi ini bersama kami…” Dan ketika kata-kata itu terlontar dari mulut Jaehee, Kibum merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Tatapan matanya langsung tertuju pada Heechul yang tak berani menatapnya sedikitpun. Dengan segala emosi yang meluap-luap dalam hatinya, Kibum tak mengatakan apapun lagi selain ia berbalik dan pergi dari ruangan tersebut.
Teriakan penuh kekesalan sekaligus kesedihan pun terdengar dari luar Mansion ini dan mereka tahu dengan jelas siapa pemilik teriakan itu. Ya, itu adalah suara kesedihan Kibum.
Cahaya hitam terpancar dari tubuh pria itu, menandakan jika ia tengah bersedih karena gadis yang selama ini ia anggap sebagai adiknya sendiri telah tidak berada di dunia ini lagi.
Shim Miyoung telah meninggalkan mereka semua, dan hanya menyisakkan bayinya yang masih memerluka kehangatan dan kasih sayang dari Ibunya itu.
<Flash Back End>
-Bloody Kiss-
Donghae menyeret kedua kakinya dengan lemas menuju ruang bawah tanah. Tatapan mata pria ini menerawang kosong, dan ntah sudah berapa banyak air mata yang telah mengalir dari kedua sudut matanya.
Langkah pria ini terhenti saat ia melihat sosok Heechul telah berdiri tepat di hadapannya. Emosi dan kekecewaan langsung memenuhi relung hati Donghae. Lalu, dengan penuh amarah Donghae berjalan ke arahnya, mencengkram kuat-kuat pakaian Heechul
“Sialan kau!! Apa yang kau lakukan padanya?! Kenapa kau membuatnya seperti ini?!! Kenapa kau membiarkannya mati!!!” Geraman Donghae terdengar menggema di ruangan itu, namun Heechul hanya tetap terdiam tanpa melakukan perlawanan sedikitpun.
Raut wajah Donghae memperlihatkan kesedihan yang mendalam, kedua matanya lagi-lagi telah mengeluarkan air mata penuh duka. Dan secara perlahan-lahan, cengkraman tangan Donghae pada tubuh Heechul pun mengendur.
Tubuhnya merosot ke atas lantai dan suara isak tangisnya pun mulai terdengar. “Kenapa kau tak dapat menyelamatkannya, Hyeong? Kenapa dia meninggalkanku seperti ini… dia… dia bahkan telah berjanji untuk menungguku hingga aku datang nanti.” Donghae berucap dengan nada lirih.
Sekujur tubuhnya bergetar dengan hebat, menahan rasa kekecewaan dan keamarahan yang kini terus melingkupi dirinya. Heechul hanya tetap diam sambil menatapnya dengan sedih, ia tahu ia seharusnya meminta maaf atas hal ini. Tetapi ntah kenapa bibirnya terasa kelu dan tak mampu untuk melontarkan kata-kata barang sedikitpun.
-Bloody Kiss-
Sungyeon tengah terbaring lemah di atas ranjang milik Eunhyuk. Gadis ini baru saja menerima pengobatan dari beberapa pelayan di Mansion itu.
“Sekarang pergilah beristirahat, aku harus pergi dulu…” Ujar Eunhyuk sembari menaikkan sebuah selimut tipis pada tubuh Sungyeon.
Sungyeon menahan tangan Eunhyuk, membuat langkah pria itu terhenti dan ia pun lantas melirik ke arahnya, menatap Sungyeon dengan tatapan bingung.
“Sungyeon-ah…”
“Kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?” Ujar Sungyeon, terlihat jelas jika gadis ini takut jika Eunhyuk kembali pergi darinya. Berfikir jika mungkin hal ini hanyalah mimpi semata.
Eunhyuk tersenyum tipis padanya, “Tidak akan, aku hanya akan pergi menemui kedua orang tuaku. Aku harus melihat keadaan mereka… dan juga, Donghae.” Jawabnya, sekilas tersirat raut kesedihan di wajah pria ini.
Sejenak, ruangan itu menjadi sepi. Kesedihan terlihat meliputi diri Eunhyuk dan Sungyeon benar-benar tak tega melihat kekasihnya bersedih seperti it uterus-menerus.
“Eunhyuk-ah.” Panggilnya kemudian, menyadarkan Eunhyuk dari lamunannya. Pria itu kemudian menoleh padanya tanpa mengatakan apapun. “Kurasa… aku bisa menghidupkan kembali gadis itu.”
Dan kata-kata Sungyeon seakan menyentakkan kesadaran Eunhyuk sepenuhnya.
“Kau bisa?!” Ada keraguan yang terlihat di raut wajahnya. “Bagaimana mungkin, Sungyeon-ah! Miyoung telah kehilangan nyawanya! Dia bukan sekarat, Sungyeon-ah. Dia telah mati!”
“Aku tahu… dan kupikir, aku memang bisa kembali menghidupkannya.”
“Dengan cara?”
“Dengan menggunakan bunga lotus putih yang ada di tubuhku.”
“A-apa?!” Eunhyuk hampir saja tersedak oleh kata-katanya sendiri, terkejut dengan perkataannya. “Apa yang kau maksud? Bukankah bunga lotus putih hanyalah…”
“Bunga itu benar-benar nyata, Eunhyuk-ah. Ayahku sendiri yang telah menanamkannya dalam diriku…”
“Tapi…”
“Kumohon, Eunhyuk-ah… anggap sajalah ini sebagai pembuktian cintaku padamu, Eunhyuk-ah. Aku akan berusaha menghidupkan gadis itu kembali…”
Eunhyuk tak berkomentar, tatapannya mengarah arah lain. Seakan ia tengah bergelut dengan pikirannya sendiri sekarang. Sungyeon tahu jika Eunhyuk meragukan keinginannya itu, tetapi gadis ini telah mantap dengan pilihannya, tak peduli dengan hal apa yang akan terjadi padanya jika ia benar-benar mengeluarkan bunga lotus putih itu dari dalam tubuhnya.
Dan setelah tarikan nafas yang kedua, Eunhyuk menoleh padanya, “Baiklah jika itu maumu.” Putusnya dan Sungyeon hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
-Bloody Kiss-
Donghae menatap miris pada sekujur tubuh yang telah terbaring tak bernyawa di atas ranjang. Ia perlahan berjalan mendekati sosok Miyoung yang kini telah terbalut sebuah Dress berwarna putih yang panjangnya hingga ke mata kaki gadis ini.
Rambutnya telah di sisir rapih dan kedua tangannya di lipat tepat di atas perut gadis itu. Semua ini di lakukan oleh Jaehee. Wanita itu tahu jika Donghae pastilah ingin melihat sosok Miyoung dalam keadaan yang lebih ‘layak’ daripada dalam kondisinya yang memiliki banyak luka serta jejak darah di mana-mana.
Sekujur tubuh Donghae bergetar hebat, pria ini tak mampu menahan tangisnya dan seketika itu juga tubuhnya jatuh bersimpuh di samping ranjang itu. Tangannya bergerak menyentuh tangan Miyoung yang telah sedingin es.
“Kau berjanji untuk menungguku, Miyoung-ah… tapi… tapi kau bahkan tak membiarkanku untuk melihatku di saat kau kesakitan saat itu.” Donghae berbisik pelan, butiran-butiran air mata terus mengalir dari sudut matanya.
Tatapan matanya mengarah pada kedua kelopak mata indah Miyoung yang kini telah tertutup rapat, tak lagi menatapnya dengan lembut seperti biasanya dan hal ini semakin membuat hati Donghae terasa di remas-remas oleh perasaan menyesakkan dan menyakitkan.
“Kumohon, Miyoung-ah… jangan terus diam seperti ini. Katakanlah sesuatu padaku… katakan padaku jika kau masih ada, dan bukalah matamu, Miyoung-ah!! Kau bahkan belum melihat anak kita seperti apa rupanya, kan?!” Donghae berucap sembari mengguncang-guncangkan tubuh tak bernyawa itu.
Tangisnya semakin meledak saat tak mendapatkan respon sedikitpun dari gadis yang tengah terbaring kaku itu. Donghae menarik tubuh Miyoung dan mendekapnya dengan sangat erat. Ia benar-benar tak menyangka jika akan seperti ini jadinya.
“Jangan tinggalkan aku dan anakmu, Miyoung-ah. Kumohon… kau sudah berjanji padaku.” Bisik Donghae dengan rasa frustrasi dan kesedihan yang mendalam, semua perasaannya bercampur menjadi satu.
Donghae merasa tak mampu lagi mengontrol dirinya, ia seolah bukanlah seorang Demons yang kuat. Ia hanya seperti manusia biasa yang lemah karena kehilangan isteri yang di cintainya.
Suara ketukan pintu di abaikan oleh pria ini. Ia tak ingin waktunya bersama Miyoung-yang tak lagi bernyawa-, terganggu ataupun terusik hanya karena kehadiran orang-orang yang mungkin merasakan hal yang sama sepertinya.
Merasa tak dapat sahutan dari Donghae, orang di balik pintu itu membukanya dengan segera, tak peduli jika harus mendapatkan amukan Donghae. Dan benar saja, saat orang-orang itu masuk ke dalam sana, Donghae telah melemparkan tatapan membunuh pada mereka semua.
“Apa yang kalian lakukan di ruanganku! Enyahlah dari hadapanku sekarang juga!” Sentak pria itu dengan nada ketus, tak seperti biasanya Donghae bersikap sedingin ini.
“Donghae-ah, ada hal yang harus kami bicarakan denganmu…” Ujar salah satu dari orang-orang yang telah masuk ke dalam ruangan itu, dan dia adalah Sungmin.
Donghae membuang muka, “Pergilah! Aku sedang tak ingin membahas apapun sekarang!” Tolak Donghae dengan nada kasar.
“Kau harus mendengarkannya, Lee Donghae!” Ujar Eunhyuk kemudian.
“Sudah kukatakan jika kalian pergi dari tempatku sekarang juga!” Sentak Donghae lebih keras.
“Tapi aku mungkin saja bisa menyelamatkan Miyoung, Donghae-ah!” Seru Sungyeon cepat.
Tubuh Donghae menegang dalam seketika, ia menoleh dengan cepat ke arah Sungyeon yang masih berdiri lemah dengan di papah Eunhyuk. Awalnya ia ragu akan perkataan gadis itu, tapi saat melihat kesungguhan dalam tatapannya, Donghae merasa tak mampu mengelaknya.
“Bagaimana kau melakukannya?” Tanya Donghae pada akhirnya.
“Dengan bunga lotus putih yang ada di dalam tubuhku. Tapi… aku juga membutuhkanmu dan bantuan yang lain. Aku sesungguhnya tak sepenuhnya yakin akan hal ini, tapi… bukankah tidak ada salahnya untuk mencoba?”
Kening Donghae mengkerut, “Kau yakin?”
“Sangat yakin.”
Sejenak Donghae terdiam. Sepertinya pria ini tengah berfikir akan sesuatu, namun pada akhirnya ia memilih untuk mengikuti perkataan Sungyeon dan mengangguk singkat.
Diangkatnya tubuh Miyoung dengan sangat perlahan dan begitu hati-hati, seolah-olah ia tak ingin menyakiti tubuh yang telah kaku itu barang sedikitpun. Membawanya kembali menuju ruangan bawah tanah yang telah di bersihkan sebelumnya.
Diruangan itu, telah menunggu Heechul, Jungsoo, Jaehee dan Kibum yang telah berkumpul. Tak ada satupun yang berbicara, mereka hanya bekerja dalam diam. Donghae pun perlahan mulai membaringkan tubuh Miyoung di atas ranjang itu kembali, memberikan posisi yang nyaman.
“Kau yakin akan melakukan hal ini, Sungyeon-ah?” Suara Heechul memecah keheningan dalam ruangan itu.
Sungyeon yang telah berbaring tepat di samping Miyoung mengangguk dengan mantap. “Hanya ini satu-satunya hal yang dapat kuberikan untuknya. Aku… ntah kenapa aku merasa berhutang budi pada gadis ini.” Ujarnya sembari menatap ke arah Miyoung yang masih saja terbujur kaku.
“Tapi, kau tahu akibat terburuk dari hal ini kan? Seperti yang kau ketahui… Bunga lotus putih yang ada dalam tubuhmu adalah sumber dari kekuatan yang kau miliki selama ini, dan jika sampai kau memberikan bunga lotus putih itu padanya kau mungkin bisa… kehilangan kekuatanmu atau lebih parahnya… kau bisa mati, Sungyeon-ah.” Tutur Heechul, memperingati gadis itu agar berfikir dua kali.
Seluruh pandang mata lantas tertuju padanya, tetapi Sungyeon hanya tersenyum tipis. “Aku tahu semua konskwensinya. Dan… jika aku sampai kehilangan kekuatanku, setidaknya… aku masih memilikinya di sampingku.” Sungyeon meraih tangan Eunhyuk dan menggenggamnya dengan erat.
Eunhyuk tak mengatakan segala penolakan yang sebenarnya sudah tertahan di kerongkongannya. Ia kalah dengan keberanian yang di perlihatkan Sungyeon, dan ia berjanji jika ia takkan pernah melukai gadis ini lagi.
“Ya, aku akan tetap di sisimu, Sungyeon-ah.” Bisik Eunhyuk sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan lembut pada kening Sungyeon.
Semua orang di ruangan itu terlihat bertanya-tanya akan hubungan Sungyeon dan Eunhyuk. Tapi terkecuali dengan Sungmin, namun karena keadaan Miyoung jauh lebih penting sekarang, maka akhirnya mereka memutuskan untuk memulai prosesnya.
Semua orang dalam ruangan itu terlihat fokus terhadap tugasnya masing-masing. Sungyeon telah tak sadarkan diri setelah di beri obat bius oleh Heechul dan pengangkatan bunga lotus putih yang rupanya berada di bagian dada Sungyeon pun di lakukan.
Tubuh Sungyeon memucat ketika bunga lotus putih itu di angkat, darah segar berwarna hitam itu mengalir perlahan dari dadanya, dan Eunhyuk benar-benar tak kuasa untuk melihat hal itu. Tapi ia tetap berusaha untuk berkonsentrasi menyalurkan energinya, sama seperti yang di lakukan oleh Jungsoo, Sungmin, dan Donghae. Sementara itu, Kibum dan Heechul melakukan pengangkatan bunga lotus tersebut. Sedangkan Jaehee lebih memilih untuk menenangkan sang Bayi yang baru lahir itu, berharap semuanya akan berjalan lancar.
Bunga lotus putih itu perlahan berguguran dan hanya menyisakkan sebuah biji yang merupakan bibit dari bunga lotus tersebut, dan setelah merobek bagian dada Miyoung dan menarik jantung yang tak berdetak lagi itu, Heechul seolah mengganti posisi jantung itu dengan bibit yang mulai ia tanam di sana.
“Donghae-ah, berikan sedikit darahmu untuknya!” Seru Heechul dengan keringat bercucuran.
Donghae menyobek tangannya sendiri, meneteskan darahnya yang merembes ke bagian bibit lotus yang mulai tertanam di dada Miyoung itu, menggantikan fungsi jantung gadis ini yang telah di lenyapkan terlebih dahulu.
Setelah itu, Heechul dan Kibum mulai mengerahkan energinya secara bersamaan dengan yang lainnya. Berusaha menutup luka pada dada Sungyeon dan Miyoung dan prose situ benar-benar memakan energi serta waktu yang tidak sedikit.
Mereka semua terlihat lelah dan seolah tak mampu untuk bertahan lagi, tetapi mereka tetap saja berusaha untuk tetap berdiri tegak dan menyalurkan kekuatan mereka sepenuhnya pada kedua gadis di hadapan mereka ini.
Gerakan serta tarikan nafas pertama terjadi pada Sungyeon dan tak berapa lama gadis itu telah terbangun dari ketidaksadarannya. Eunhyuk dapat bernafas lega ketika melihat gadis itu menoleh lemah padanya dan menatapnya dengan tatapan sendu.
Satu hal yang Eunhyuk ketahui, gadis itu sekarang memiliki warna mata cokelat pekat dan itu artinya Sungyeon telah kehilangan kekuatannya sepenuhnya. Kini, Sungyeon bukanlah makhluk yang mampu mengeluarkan kekuatan lagi. Ia hanyalah seorang clan Minotaur tanpa kekuatan apapun, namun masih memiliki keabadian dalam dirinya.
Tetapi, tak ada sedikitpun reaksi yang di berikan Miyoung. Gadis itu masih tetap terbaring lemah tak bernyawa dengan tubuhnya yang sedingin es. Donghae hampir saja merasa frustrasi dan putus asa. Tak tahu harus melakukan apa lagi.
“Kumohon Miyoung-ah… kau harus hidup kembali. Demi aku… demi anak kita.” Donghae berucap dalam hatinya, berharap jika perkataannya itu akan sampai ke benak Miyoung.
Dan seolah kata-kata Donghae benar-benar tersampaikan. Tak berapa lama, Heechul mulai dapat merasakan darah di setiap pembuluh nadi Miyoung mulai kembali mengalir cepat, memberikan suatu reaksi cepat ke seluruh tubuh gadis ini.
Seketika itu juga, denyut nad dalam pergelangan tangannya semakin terasa nyata dan kehangatan pun mulai menjalari tubuh Miyoung. Rona merah tanda darah di dalam tubuhnya telah bekerja dengan sangat baik mulai terlihat pada kulit Miyoung.
Wajahnya berubah menjadi seperti dulu. Tak ada lagi raut wajah pucat seperti beberapa jam yang lalu, dan bibir Miyoung pun terlihat berwarna merah pekat, persis seperti darah.
Semua orang dalam ruangan tersebut saling bertatapan gembira, senang karena akhirnya mereka mampu membangkitkan Miyoung kembali. Bukan dalam wujudnya sebagai manusia, dan bukan juga sebagai clan Minotaur ataupun Demons. Miyoung adalah sebuah spesies baru, di mana gadis ini memiliki kekekalan abadi yang di miliki Demons, dan bunga lotus putih yang ada pada dirinya pun akan memberikan sebuah kekuatan baru, sebuah kekuatan yang tak di ketahui oleh siapapun termasuk Sungyeon sendiri, sang pemilik pertama dari bunga lotus putih itu.
Proses penyembuhan pun telah selesai dan secara perlahan-lahan, akhirnya Heechul memasukkan tubuh Miyoung ke dalam sebuah peti kaca dengan posisi tertidur. Setidaknya, gadis ini perlu untuk beristirahat selama beberapa waktu untuk pemulihan seutuhnya.
Heechul dengan di bantu Jungsoo dan Kibum lantas membuat sebuah segel yang melingkupi peti kaca tersebut, tak ada yang dapat menembus segel tersebut bahkan oleh Donghae sekalipun. Dan mulai saat ini, Miyoung akan tertidur panjang untuk masa pemulihannya.
Donghae menatap sendu ke arah peti kaca itu, memandangi wajah Miyoung yang tengah tertidur dengan tenang. Ia tersenyum tipis, “Terima kasih karena telah bertahan untukku, Miyoung-ah… sekarang, akulah yang akan menunggumu nanti…” Bisiknya.
Dan seperti mampu dan memahami perkataan Donghae tadi, ntah kenapa raut wajah Miyoung berubah. Gadis itu, menarik kedua sudut bibirnya ke atas walau hanya sedikit, tetapi itu membuat satu lengkungan senyuman manis di wajah gadis itu.
Seolah gadis itu membalas ucapan Donghae dengan senyumannya.
-Bloody Kiss-
50 Tahun Kemudian…
Seorang bocah kecil yang baru berusia 5 tahun itu berlari-lari dengan riang menyusuri lorong di Mansion yang mewah itu. Senyumannya bertambah lebar dan di belakangnya nampak beberapa pelayan yang mengikutinya, tetapi bocah kecil itu seolah tak peduli.
“APPA!!!!” Jeritan melengking yang
Ia merentangkan kedua tangannya sembari berlari ke arah sesosok pria yang baru saja datang dari suatu tempat. Pria itu menoleh padanya, dan ketika melihat bocah kecil itu, seulas senyuman yang tak jauh berbeda dari senyuman bocah kecil itu pun terlihat jelas di wajah pria itu yang tak lain adalah Lee Donghae.
“Haejoon-ah..” Seru Donghae sembari memeluk sang bocah lelaki yang rupanya adalah anaknya. Anak yang dulu di kandung oleh Miyoung, hasil dari buah cinta Donghae dan Miyoung.
“Appa!! Ayo kita menengok Eomma di ruangannya!! Haejoon sudah tidak sabar untuk melihat dan mengobrol bersamanya, Appa!!” Pinta sang bocah bernama lengkap Lee Haejoon itu.
“Ah… benarkah? Baiklah kalau begitu… ayo kita bertemu dengan Eomma sekarang.” Sahutnya, membuat Haejoon berteriak kegirangan dan membuat Donghae lagi-lagi mengulum senyum.
Tanpa di sadari olehnya, sedari tadi Eunhyuk, Sungmin dan Sungyeon tengah mengamati kedua orang itu. Mereka mengulas senyum bahagia di wajah mereka.
“Haejoon tumbuh seperti ayahnya. Benar-benar anak yang pintar…” Puji Sungyeon, ia ingat betul bagaimana bocah kecil itu dapat dengan cepat mengerti penjelasan tentang Eomma-nya itu.
“Ya… Aku pun tidak menyangka jika Donghae akan bisa berubah dan menjadi sesosok Appa yang penyayang…” Lanjut Sungmin yang di balas anggukan Eunhyuk dan Sungyeon.
“Donghae memang pria sejati!” Celetuk Sungyeon cepat, tanpa sadar membuat pria yang berada tepat di sebelahnya itu langsung menatapnya dengan tatapan cemburu.
“Apa katamu tadi, Sungyeon-ah?!” Eunhyuk berdehem keras. Menyadarkan Sungyeon dengan apa yang baru saja di ucapkannya tadi.
“H-huh?” Sungyeon langsung berubah kikuk. “A-apa? Memangnya aku mengatakan apa?” Tanya Sungyeon sembari memasang wajah polos.
“O-oh… aku tidak tahu apa-apa.” Ujar Sungmin saat menyadari ada aura tak mengenakkan yang akan terjadi di antara kedua pasangan itu. Ia lantas bergegas pergi dari tempat itu.
“A-aku juga harus segera pergi untuk membantu Ryeowook dan Kibum memasak di dapur!” Ujar Sungyeon, berusaha melarikan dari amukan Eunhyuk.
Namun, sebelum Sungyeon benar-benar berhasil melarikan diri dari tempat itu, Eunhyuk telah lebih dulu menarik tangannya dan mengangkat tubuh gadis itu dalam pangkuannya, membuat Sungyeon berteriak karena terkejut.
“Ya! Apa yang kau lakukan?!” Sentak Sungyeon.
Eunhyuk menyeringai kecil. “Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana caranya pria sejati memperlakukannya isterinya!” Seru Eunhyuk sembari membawa Sungyeon menuju kamarnya.
“Apa?! Y-ya!” Dan semu merah itu pun terlihat jelas di antara kedua pipi Sungyeon, membuat Eunhyuk semakin gemas pada gadis yang telah resmi menjadi isterinya sejak beberapa tahun yang lalu itu.
“Aku mencintaimu, Sungyeon-ah.” Bisik Eunhyuk sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan lembut namun penuh dengan gairah pada bibir ranum milik Sungyeon. Dan tanpa perlawanan, Sungyeon pun menerima perlakuan itu dengan senang hati.
Ya, Eunhyuk dan Sungyeon memang telah resmi menikah. Jungsoo dan Jaehee menyetujui hal itu tanpa melakukan penolakan sedikitpun. Dan setelah itu pun, Jungsoo dan Jaehee memilih untuk kembali ke tempat mereka, bersama dengan Heechul yang akhirnya memilih untuk tinggal bersama-sama kedua orang itu.
Hubungan di antara Kibum dan Heechul pun semakin membaik, tetapi tetap saja, Kibum masih terlihat enggan dan terkadang masih gengsi untuk menyatakan jika ternyata ia sangat menyayangi Ayahnya itu. Ia bahkan selalu mengelak jika datang berkunjung menemui Ayahnya dengan mengatakan jika sebenarnya ia ingin menemui Jungsoo dan Jaehee, tetapi Heechul tahu jika sebenarnya Kibum memang menyayanginya.
Sementara itu, Donghae kini terlihat bahagia bersama Haejoon, malaikat kecil yang memiliki banyak kesamaan dengannya maupun Miyoung. Dan walaupun seharusnya Haejoon kini sudah berusia 50 tahun, tetapi pada kenyataannya fisik Haejoon masih terlihat seperti bocah kecil berusia 5 tahun.
Ya, pertumbuhan pada diri Haejoon memang berjalan dengan sangat lambat. Berbeda dengan pertumbuhan manusia ataupun Demons pada umumnya. Hal ini di karenakan karena ada darah manusia dan darah Demons yang mengalir dalam tubuh Haejoon, menyebabkan pertumbuhan bocah ini menjadi sangat-sangat lambat, tetapi Donghae tetap menyayanginya.
Keduanya akhirnya tiba di ruangan bawah tanah yang kini telah di rubah menjadi kamar pribadi Donghae. Di sana, tepat di samping ranjangnya, Miyoung terbaring di dalam kotak peti kaca yang masih tersegel oleh kekuatan yang tak mampu di tembus oleh siapapun.
“Eomma… Haejoon dan Appa datang lagi!! Bagaimana kabar Eomma sekarang?” Seru Haejoon bersemangat, dan meski Miyoung tetap tak bergeming, bocah kecil itu tetap terlihat senang.
“Eomma, jika eomma sudah bangun nanti… eomma harus mengajak Haejoon bermain, ya? Nanti kita bermain bersama dengan Appa dan juga Eunhyuk Ahjusshi, Kibum Ahjusshi, Sungmin Ahjusshi dan aaah… pokoknya semuanya!” Ujar Haejoon sembari membentuk sebuah lingkaran dengan kedua tangannya.
“Ah iya! Eomma… nanti juga Haejoon akan belajar memasak bersama Ryeowook Ahjusshi! Dia benar-benar memberiku makanan yang enak-enak!” Serunya lagi, dan Donghae hanya dengan tenang mendengarkannya, tersenyum bahagia.
Tatapannya beralih pada sosok Miyoung yang masih tetap tenang tertidur dalam kotak peti kaca itu. “Lihatlah Miyoung-ah… anak kita sudah tumbuh menjadi anak yang lucu. Tidakkah kau ingin memeluknya dan menciumnya?” Donghae berucap dalam hatinya.
“Appa…” Donghae merasakan Haejoon menarik tangannya, menyadarkannya dari lamunannya tadi. Donghae lantas menoleh padanya, dan ada raut kesedihan yang sedikit tergurat pada wajah Haejoon. “Appa… kapan eomma bangun?” Tanyanya kemudian.
Sekilas, Donghae dapat merasakan perasaan kesepiaan dan rasa rindu yang tak terbendung dari anak semata wayangnya ini. Dan hal itu pun di rasakan olehnya, tetapi Donghae buru-buru menepis perasaan itu dan berusaha untuk tetap memperlihatkan senyumnya yang lembut.
“Mungkin nanti, Haejoon-ah… tidak sekarang memang, tetapi percayalah jika Eomma akan segera bangun dari tidur panjangnya nanti.” Ujar Donghae dengan nada lembut, di usapnnya kepala Haejoon.
“Benarkah? Eomma tidak marah pada Haejoon kan? Karena itu Eomma terus tidur…”
Donghae kembali tersenyum, “Tidak sayang… Eomma sangat sayang kepadamu. Dan bukankah Haejoon adalah anak Appa yang baik, hm?”
“Ehm, tentu saja!” Seru Haejoon di barengi dengan anggukan semangatnya. Ia lantas memeluk Donghae dengan erat. “Haejoon menyayangi Appa!” Serunya lagi.
Donghae lantas balas memeluk anaknya itu. “Appa juga menyayangimu, Lee Haejoon…” Balas Dongahe sembari mengecup puncak kepala Haejoon.
Tatapannya sekilas tertuju kembali pada Miyoung dan seulas senyuman penuh cinta dan penuh dengan penantian itu terkembang di raut wajah tampan pria ini.
“Dan aku juga menyayangimu, Miyoung-ah. Kami begitu menyayangimu… karena itu, kami akan tetap menunggumu. Menunggumu hingga kau terbangun nanti dan bergabung bersama kami kembali…”
Dan tanpa di sadari oleh Donghae maupun Haejoon, perlahan jari-jari lentik yang selama ini tak pernah di gerakkan sedikitpun itu, mulai bergerak-gerak. Bola mata di balik kelopak mata yang tertutup pun terlihat bergerak.
Dan tak berapa lama, bunga lotus putih yang selama ini tumbuh di dada Miyoung perlahan mulai menggugurkan satu per-satu bunganya, hingga akhirnya pada bunga terakhir itu terjatuh di sekitar dada Miyoung.
Lalu, gadis itu membuka kedua matanya, menampakkan sorot matanya yang lembut dan bola matanya yang kini telah berubah menjadi warna ungu cerah seperti sebuah mutiara.
The End…

Bloody Kiss (Chapter.9)

Tittle             : Bloody Kiss
Author           : NtaKyung
Casts       : Lee Donghae, Shim Miyoung, Lee Hyukjae, Lee Sungmin, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Heechul and OC
Genre            : Action, AU(Alternate Universe), Fantasy, Romance, Unrated
Rating           : NC-17
Disclaimer  : Seluruh cast dalam ff ini adalah milik Tuhan, orang tua dan mereka sendiri! Tapi isi dalam cerita ini semuanya milik saya! So, Don’t BASH!!
Poster Art     : NtaKyung
-Bloody Kiss-
Heechul terdiam, otaknya kini tengah berusaha mencerna setiap kata demi kata yang di baru saja di lontarkan oleh Sungmin.
“Aku tidak memiliki banyak waktu, Hyeong. Dia sangat membutuhkan bantuanmu… dan dia bisa saja kehilangan nyawanya jika sampai kau tak datang secepatnya.”
Heechul masih tetap tak bergeming.
“Hyeong…”
“Maafkan aku, Sungmin-ah. Tapi kurasa… aku tidak dapat membantumu.”
Pria itu berbalik, hendak menaiki anak tangga yang ada di hadapannya saat ini. Namun seketika itu juga Sungmin telah berada di hadapannya, menahan langkahnya untuk pergi.
“Apakah kau begitu membenci manusia sampai-sampai kau tak mau menolong gadis itu?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Ini jelas urusanku! Nyawa seorang gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri kini tengah di pertaruhkan! Dan hanya kau yang dapat menolongnya saat ini!” Sungmin seolah kehilangan kendali, ia mulai meninggikan nada suaranya. Terlalu kesal dengan sikap Heechul yang tetap saja menolak permintaannya.
Heechul menggedikkan bahunya acuh sembari mendengus, seolah tengah mengejek ucapan pria di hadapannya itu.
“Aku sungguh-sungguh tidak peduli pada nasib gadis itu. Jadi, jika kau mengatakan hal seperti itu pun… kurasa, jawabannya aku tetap tidak akan membantumu!” Ujarnya kemudian.
Heechul kembali berbalik, tetap berusaha menghindari Sungmin.
“Apa kau tetap tidak peduli meski gadis itu begitu berarti bagi Kibum juga?”
Tep!
Langkah Heechul terhenti, sedetik kemudian pria itu berbalik menatap Sungmin dengan tatapan terkejut. Seolah-olah, nama ‘Kibum’ mampu mengubah segala keputusannya.
“Apa katamu?” Heechul menyipitkan kedua matanya.
“Ya… seperti yang kau dengar tadi. Gadis itu begitu berarti untuk kami… dan asalkan kau tahu, Kibum pun begitu menyayangi gadis ini seperti adiknya sendiri. Jadi dengan kata lain, jika kau mampu menyelamatkan nyawa gadis ini… kau mungkin saja dapat merubah pemikiran Kibum terhadapmu…” Jelas Sungmin sembari berjalan mendekatinya.
Heechul masih tetap memandangnya dengan kedua mata yang menyipit. “Jadi maksudmu… dia masih ada di mansion itu sampai saat ini?”
Sungmin mengangguk singkat. “Dia bahkan sudah seperti bagian dari keluarga kami…”
Keadaan berubah menjadi hening untuk beberapa detik selanjutnya. Heechul terlihat begitu serius memikirkan ucapan Sungmin. Sementara pria itu, nampaknya sedikit tak sabar karena masih harus menunggu jawaban Heechul juga.
“Bagaimana? Apakah kau ingin ikut denganku ke mansion itu, Hyeong?” Ucapan Sungmin segera memecah keheningan yang ada.
Awalnya pria itu masih tetap terdiam. Namun, setelah itu ia mendengus kesal sebelum akhirnya ia berkata, “Bawa aku ke tempatmu…”
Dan Sungmin hanya mampu tersenyum penuh kemenangan begitu mendengar jawabannya itu.
 -Bloody Kiss-
Kedua mata Miyoung terbuka secara perlahan-lahan. Di liriknya seseorang yang senantiasa duduk di samping ranjangnya, menemaninya di tempat ini sejak beberapa jam yang lalu.
Orang itu-yang tak lain adalah Shin Jaehee-, tersenyum tipis padanya begitu melihatnya sadar. Ia mengusap kening Miyoung dengan sebuah sapu tangan, lalu berucap,
“Kau sudah merasa lebih baik, Miyoung-ssi?” Ujarnya dengan lembut, terlihat jelas sekali ada jiwa ke-ibu-an yang begitu melekat pada wanita ini.
Miyoung mengangguk lemah, “Di-mana… Donghae?” Ia berucap dengan suaranya yang parau.
“Dia ada di luar… kami tidak membiarkannya masuk, karena kami takut jika ada sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi padanya jika ia terus-menerus melihat darah…” Jelasnya.
“Bayiku…” Miyoung memegangi perutnya, takut-takut jika ia kehilangan janinnya. Namun gadis ini langsung menghela nafas lega saat mengetahui perutnya masih membuncit.
Jaehee mengernyitkan keningnya, “Bagaimana kau bisa mengetahui tentang hal ini, Miyoung-ssi? Kenapa kau bisa begitu yakin, jika yang terjadi padamu adalah karena bayi dalam perutmu itu?”
“Karena aku dapat merasakannya…” Ujarnya sembari tersenyum tipis.
“Merasakannya?” Jaehee menaikkan sebelah alisnya.
“Ya…” Miyoung mengangguk singkat. “Aku dapat merasakannya dengan sangat jelas… semua ini benar-benar terasa nyata, karena ntah aku hanya berhalusinasi atau apa, tapi sungguh, aku seolah dapat merasakan jika aku memang tengah mengandung anak Donghae.” Paparnya.
Jaehee hanya terdiam mendengar ucapan Miyoung. Sungguh, ucapan gadis ini membuat dirinya mengingat kembali apa yang di ucapkan sahabatnya dulu. Shin Raena. Ia ingat, jika gadis itu pun mengatakan hal yang sama ketika ia mengandung Kibum. Bahkan, di saat itu pun gadis itu masih tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum, sama seperti apa yang di lakukan Miyoung sekarang.
“Dan bagaimana jika bayi itu justru akan membahayakanmu?” Ujar Jaehee dengan serius.
“Maka aku akan tetap memperjuangkannya agar ia tetap terlahir ke dunia ini.” Dan jawaban itu cukup membuat Jaehee yakin, jika gadis di hadapannya ini pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Raena lakukan dulu.
Jaehee menghela nafas panjang sebelum akhirnya melirik sekilas ke arah sebuah selang yang kini terhubung pada tabung yang berisikan darah.
“Kau membutuhkan lebih banyak transfusi darah agar rasa sakitnya semakin berkurang. Aku akan menyuruh beberapa makhluk lainnya untuk mencari persediaan darah dengan golongan yang sama sepertimu…” Ujar Jaehee sembari melangkahkan kakinya.
“Boleh aku meminta sesuatu padamu?” Seru Miyoung kemudian, menghentikan langkah Jaehee dengan segera.
“Apa?” Sahut Jaehee sembari menoleh padanya.
“Aku ingin kau memperbolehkan Donghae masuk kemari. Aku sangat membutuhkannya saat ini.”
“Apa? Tapi-”
“Aku mohon…” Pinta Miyoung, “Yang aku butuhkan saat ini hanyalah dirinya. Jadi… aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau memperbolehkannya menemaniku di sini.”
Jaehee mendesah panjang. “Akan kupikirkan.” Jawabnya, dan setelah itu pun ia bergegas keluar dari ruangan itu, meninggalkan Miyoung yang perlahan memejamkan kedua matanya dan tanpa terasa air matapun keluar dari pelupuk mata gadis itu.
-Bloody Kiss-
Donghae tengah duduk dengan perasaan gusar. Ia tak henti-hentinya memikirkan keadaan gadis yang sangat di cintainya itu, namun sedari tadi Jungsoo dan Jaehee tak kunjung memberikan satu penjelasan apapun padanya.
“Donghae-ah, gawat!” Teriakan Ryeowook yang terdengar begitu keras itu menyadarkan pria ini dari kegusarannya.
Ia menoleh ke arah Ryeowook yang baru memasuki ruangan itu, dan jika di lihat dari wajahnya sepertinya ada sesuatu yang buruk yang telah terjadi di mansion ini tanpa di sadari olehnya.
“Ada apa, Ryeowook-ah? Tidak bisakah kau tenang sedikit?! Aku sedang memikirkan keadaan Miyoung saat ini!” Ujar Donghae kesal.
“Maaf jika aku membuatmu semakin kesal, Donghae-ah… tapi, kau harus mengetahui ini!” Ujar Ryeowook dengan nada panik. “Dia… dia… Taeyang-ssi. Dia mengirimkan utusannya tadi! Dan rupanya, dia mengajakmu untuk berduel saat gerhana matahari nanti!!”
Kedua mata Donghae melebar dalam seketika.
“Apa katamu?! Dia mengajakku untuk berduel?!”
“Ya…”
Mendadak sekujur tubuh Donghae terasa menegang, ia langsung mengerang frustrasi, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebelum akhirnya ia melampiaskan rasa kesalnnya itu dengan menendang sekeras-kerasnya meja yang ada di hadapannya.
“SIAL!!” Umpatnya geram.
Brak!
Seketika itu juga, meja yang terlihat begitu kokoh itu langsung melayang dan hancur berkeping-keping karena menabrak dinding dengan begitu kuatnya. Sementara itu, Ryeowook hanya tetap diam sambil menatap Donghae dengan tatapan was-was.
-Bloody Kiss-
“Itu jelas tidak masuk akal! Bagaimana bisa dia mengajaknya berduel?! Bukankah selama ini tak ada masalah sedikitpun di antara clan Demons dan clan Minotaur?” Seru Jaehee tak terima.
Jungsoo terdiam, ia memegangi ujung pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.
“Pasti ada alasan yang kuat sampai-sampai dia meminta Donghae untuk berduel dengannya saat gerhana matahari nanti.” Ujarnya.
“Tapi itu tetap tidak masuk akal! Itu hanya akan membuat clan Demons dan clan Minotaur saling bermusuhan! Terutama jika ada salah satu dari mereka yang mati!” Sahut Jaehee sengit.
“Mungkinkah… dia mengetahui keberadaan Miyoung di sini? Bukankah, dia begitu menginginkan Sungyeon untuk menjadi pendamping Donghae? Mungkin… dia marah karena hal itu.” Kibum yang sedari tadi ada di ruangan itu mulai menyuarakan pemikirannya.
Seluruh mata pun langsung tertuju padanya, dan mereka benar-benar baru menyadari hal itu.
“Kau benar!” Donghae yang semenjak tadi hanya diam langsung mengangguk cepat. “Dia pasti mengetahui keberadaan Miyoung di mansion ini!”
“Tapi bagaimana bisa? Mungkinkah ada seseorang yang memberitahunya? Tapi siapa?”
“Itu yang sedang kupikirkan sekarang…” Sahut Donghae frustrasi, ia menghela nafas panjang dan nampak jelas sekali jika pria ini tengah benar-benar merasa cemas dan frustrasi.
Tanpa mereka sadari, Eunhyuk yang sejak tadi memilih untuk diam. Kini beranjak dari tempatnya dan bergegas keluar dari ruangan itu. Matanya menelusuri suatu tempat, dan ketika ia melihat sesosok gadis yang tak lain adalah Sungyeon, ia langsung menariknya secepat kilat.
“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” Sungyeon berteriak kesakitan sembari berusaha untuk melepaskan cengkraman Eunhyuk pada pergelangan tangannya.
Sret!
“Ahk!” Gadis ini meringis kesakitan ketika Eunhyuk menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke dinding yang ada di belakangnya.
“Katakan padaku!! Apakah kau yang memberitahu Ayahmu perihal keberadaan Miyoung disini?!” Sentak Eunhyuk keras, tak mempedulikan ringisan Sungyeon barang sedikitpun.
Sungyeon mendengus kesal. “Untuk apa aku memberitahunya? Itu jelas tidak menguntungkanku sedikitpun!”
“Jangan berbohong padaku! Jika bukan kau yang mengatakannya, lalu siapa? Bukankah selama ini kau memang membencinya bukan?!”
“Aku memang membencinya, tapi aku tidak mengatakan apapun pada Ayahku, Eunhyuk-ah! Apa kau masih tidak mempercayaiku juga?!”
“Cih! Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan menjijikanmu itu?!” Eunhyuk berdecak sebal. Ia menatap Sungyeon dengan tajam, “Selama ini… bukankah kau begitu membenci kami? Kau pasti sangat terganggu dengan kehadiran Miyoung bukan? Dengan begitu… kau tidak dapat merayu adikku dan sekarang… apakah kau berfikir untuk merayuku kembali? Apakah-”
Plak!
Tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus Eunhyuk. Gadis di hadapannya ini menatap penuh kebencian padanya, namun tetap tersirat kesedihan juga dalam tatapannya itu.
“Jaga ucapanmu, Lee Hyukjae!” Seru Sungyeon keras. “Aku tahu kau begitu membenciku karena kejadian itu! Tapi bisakah sedikit saja kau menghargai perasaanku?!” Ia menjerit penuh emosi.
Eunhyuk meliriknya sekilas, “Menghargai perasaanmu?” Ia sedikit memberi penekanan di setiap ucapannya itu. “Lalu bagaimana dengan perasaanku sendiri?! Kau bahkan tak pernah peduli akan perasaanku saat itu kan?!”
“Hentikan! HENTIKAN!!” Jerit Sungyeon sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya. “Kau yang membuatku seperti ini!! Kau yang membuatku jadi seperti ini, Lee Hyukjae!!!”
Deg!
Dan untuk pertama kalinya semenjak terakhir kalinya Eunhyuk merasakan perasaan ini. Pria ini lagi-lagi merasakan perasaan itu, perasaan dimana ia tak mampu melakukan apapun ketika ia melihat Sungyeon yang begitu rapuh seperti sekarang ini.
Sekujur tubuhnya membeku dan kini tak ada yang dapat ia lakukan selain berdiri mematung.
Sementara itu, perlahan demi perlahan tubuh Sungyeon merosot ke atas lantai. Gadis ini meraung sekeras-kerasnya sambil terus mengeluarkan ribuan air mata yang telah membasahi sebagian dari wajahnya itu.
“Kau yang membuatku seperti ini, Eunhyuk-ah…” Dan kata-kata itu kembali terlontar dari mulut Sungyeon di sela isak tangisnya.
-Bloody Kiss-
Suara erangan kesakitan yang berasal dari Miyoung kembali terdengar. Gadis itu terus memegangi perutnya yang terasa seperti di tusuk-tusuk oleh benda tajam, cairan kental berwarna hitam pekat itu kembali keluar dari mulut Miyoung dan gadis ini terlihat begitu kesulitan dalam bernafas.
Jungsoo dan Jaehee yang sejak tadi sudah berada di dalam ruangan itu, nampak sibuk mengganti persediaan darah dalam tabung itu. Beberapa selang medis yang mengalirkan darah segar kini telah tertancap di bagian kedua lengan Miyoung.
“Biarkan aku yang mengurusnya…” Sebuah suara terdengar di ruangan itu, menyadarkan Jungsoo dan Jaehee jika ada orang lain dalam ruangan tersebut.
Keduanya lantas menoleh ke arahnya, dan mereka nampak begitu terkejut ketika menyadari jika orang yang berbicara tadi adalah Kim Heechul. Mereka tidak percaya jika rupanya Sungmin telah berhasil membujuknya untuk datang ke Mansion ini.
“Heechul-ah…”
“Pergilah. Aku akan mengurus gadis ini sekarang…” Ujar Heechul tanpa mempedulikan panggilan Jaehee sedikitpun.
“Kau yakin?” Ragu Jungsoo.
“Tentu.”
Dan setelah itu pun, Jungsoo langsung melirik sekilas ke arah Jaehee. Seolah mengerti dengan arti tatapannya itu, Jaehee pun lantas mengikuti langkah Jungsoo untuk keluar dari tempat itu dan membiarkan Heechul menangani Miyoung sendiri.
Heechul meraba pergelangan tangan Miyoung, ia memejamkan kedua matanya sesaat, mencoba untuk merasakan denyut nadi Miyoung yang rupanya terasa semakin melemah tiap menitnya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya tangannya menyentuh bagian perut Miyoung.
Dari telapak tangannya, muncullah sebuah cahaya yang ntah kenapa terasa hangat dan mampu mengurangi rasa sakit pada perutnya itu. Miyoung terlihat sedikit lebih tenang, ia pun tak merasa sulit untuk bernafas lagi sekarang.
“Kau sudah merasa lebih baik sekarang?” Heechul beralih menatap Miyoung, sementara telapak tangannya masih tetap mengeluarkan cahaya yang mampu menghangatkan perut Miyoung itu.
Miyoung mengangguk singkat sambil tersenyum lemah.
“Terima kasih…”
“Aku tidak membutuhkan kata-kata itu.” Ujar Heechul dingin. Terdengar sedikit menyebalkan memang, tapi ntah kenapa Miyoung tak merasa tersinggung sama sekali dengan hal itu.
Heechul menoleh ke arah tabung yang berisikan darah segar itu. Selang-selang yang terhubung itu mengalirkan darahnya ke seluruh tubuh Miyoung dan kening Heechul mengernyit saat itu juga.
“Kau sudah kehilangan sebagian dari tulang rusuk belakangmu, dan kau masih dapat bertahan dengan semua ini?” Heechul bergumam pelan, melirik Miyoung yang terlihat mulai memejamkan kedua matanya, sepertinya gadis ini kelelahan.
-Bloody Kiss-
“Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah merasa lebih baik?” Donghae segera saja menghampiri Heechul kala pria itu baru saja keluar dari ruangan tersebut.
“Donghae-ah, tenanglah…” Ujar Jungsoo mengingatkannya untuk tetap tenang, tapi seolah tak dapat mendengarkannya, Donghae hanya mengabaikan ucapannya begitu saja.
“Hyeong…” Donghae kembali memanggil Heechul.
Pria itu menghela nafas cepat, “Dia sudah merasa lebih baik sekarang…” Ujarnya kemudian dan itu cukup membuat Donghae dapat bernafas lega.
Heechul melirik sekilas ke arah Kibum yang sedari tadi hanya tetap diam di sudut ruangan, sekilas ia dapat merasakan jika Kibum tengah menatapnya dingin dan penuh dengan kebencian, namun setelah itu pria itu berlalu begitu saja.
Menyadari kejadian itu, Jungsoo lantas menepuk pelan pundak Heechul, menyadarkannya dari kediamannya. “Biarkan dia sendiri dulu, Heechul-ah… mungkin dia membutuhkan waktu sendiri dulu…” Ujarnya.
“Aku tahu…” Ujar Heechul yang kemudian melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan itu.
Jaehee dan Jungsoo saling bertatapan sekilas sebelum akhirnya mereka memilih untuk pergi juga dari ruangan itu. Namun, langkah mereka terhenti kala Donghae berdiri di hadapannya.
“Apakah aku tetap tak dapat menemaninya sekarang? Aku begitu mencemaskannya…” Donghae berucap dengan nada yang terdengar penuh dengan keputusasaan.
“Tapi Donghae-ah…”
“Aku mohon…” Dengan tiba-tiba ia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya itu, air mata pun tak dapat ia bending lagi dan suara isak tangisnya mulai terdengar. “Biarkan aku menemaninya. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaannya… aku mohon…” Desisnya di sela isak tangisnya.
Merasa tak tega dengan keadaan Donghae sekarang, perasaan Jaehee sedikit terenyuh. Apalagi ia mengingat permintaan Miyoung padanya, dan ia tak mungkin mengabaikan hal ini begitu saja.
Walaupun dirinya seorang Demons. Ia tetaplah seorang Ibu yang tak tega jika melihat anaknya seperti ini. Sungguh, ini baru kali pertama untuknya melihat Donghae begitu rapuh dan bahkan meneteskan air mata hanya demi seorang manusia seperti Shim Miyoung.
“Baiklah… temuilah dia sekarang, Donghae-ah.”
“Jaehee-ya!”
“Biarkan saja.” Sela Jaehee cepat. “Sudahlah, Donghae-ah… cepat temui gadismu itu dan temani dia di sana. Dia juga pasti sangat membutuhkanmu saat ini…” Ujarnya kemudian.
Donghae tak mampu berkata apa-apa lagi, ia hanya bergegas melesat pergi ke dalam ruangan di mana Miyoung tengah tertidur sekarang.
Sementara itu, Jungsoo yang jelas tidak setuju dengan ucapan Jaehee, tentu saja menuntut satu jawaban yang pasti darinya.
“Kenapa kau membiarkannya masuk ke dalam ruangan itu?! Kau tahu kan jika Donghae bisa saja tergoda dengan darah-darah itu, Jae-ya!” Seru Jungsoo terdengar sedikit keras.
Jaehee menoleh padanya, menatap suaminya dengan tatapan meyakinkan.
“Dia tidak akan melakukannya, percayalah padaku… dia anakku, Jungsoo-ya. Aku percaya akan hal itu. Jadi kau pun harus percaya padanya…” Tutur Jaehee berusaha untuk meyakinkannya.
Seolah tak mampu menolaknya, Jungsoo pun hanya dapat menghela nafas berat sembari kedua tangannya mengusap peluh di wajahnya.
“Terserahmu sajalah.”
-Bloody Kiss-
Donghae berjalan lemah memasuki ruangan dimana Miyoung berada sekarang. Tatapan matanya begitu sendu, dan ia meraskan sekujur tubuhnya membeku dalam seketika saat dirinya melihat sosok Miyoung yang tengah tergeletak tak berada di atas ranjang itu.
Beberapa selang medis yang mengalirkan darah segar itu tertancap di kedua lengan Miyoung. Ia juga dapat melihat jelas lingkaran hitam yang nampak di bawah mata Miyoung, bibirnya putih pucat, tak semerah biasanya dan perutnya yang semakin membuncit itu seolah tak sesuai dengan kondisi badan Miyoung yang sekarang.
Tubuh Miyoung telah sepenuhnya menyusut, seolah-olah hanya tinggal tulangnya saja yang kini tersisa di balik kulit lembek gadis ini. 
Donghae memejamkan kedua matanya. “Maafkan aku, Miyoung-ah…” Lirihnya.
Dan air matapun kembali mengalir dari kedua sudut matanya, tubuhnya seketika ambruk di atas lantai. Ia benar-benar tak mampu melihat kondisi Miyoung yang seperti ini, pemandangan ini terasa begitu menyakiti dirinya sendiri.
Dalam benaknya pria ini berfikir, seandainya ia mampu menahan dirinya sendiri. Seandainya ia tak bertindak sesuai kehendaknya, dan seandainya ia tak membawa Miyoung ke mansion ini. Ia pastilah masih bisa melihat Miyoung seperti awal ia bertemu dengannya dulu.
“Maafkan aku… Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku, Miyoung-ah…”
-Bloody Kiss-
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, keadaan Miyoung pun terlihat lebih stabil setelah adanya Heechul di sana. Setiap tiga jam sekali, Heechul selalu mengecek keadaan Miyoung beserta bayi yang ada di dalam kandungannya.
Jungsoo dan Jaehee pun tak habis-habisnya terus-menerus mencari persediaan darah yang sama untuk Miyoung. Dan Donghae pun selalu menemaninya setiap saat, tak pernah sedikitpun pria ini meninggalkannya barang satu detikpun. Ia selalu setia menemani Miyoung.
Sama seperti pagi ini. Donghae nampak merangkul tubuh Miyoung, tangannya yang satu lagipun ia gunakan untuk mengelus-elus perut Miyoung yang semakin membuncit.
“Aku yakin dia akan tampan sepertimu nantinya…” Miyoung berucap di tengah keheningan itu.
Donghae tersenyum tipis saat mendengarnya. “Bagaimana kau mengetahuinya? Bagaimana jika bayi ini rupanya adalah bayi perempuan?” Ujarnya kemudian.
“Tidak, dia lelaki. Aku bisa merasakannya…” Sahut Miyoung sambil mendongakkan wajahnya, menatap Donghae dengan seulas senyuman tipis yang terkembang di wajah pucatnya.
Sekilas Donghae merasa sangat prihatin dengan hal itu, tapi ia buru-buru mengenyahkan segala pemikiran itu dan memilih untuk membalas senyuman Miyoung.
Ia semakin mengeratkan rangkulannya, membiarkan kepala Miyoung bersandar pada dadanya. “Aku mencintaimu, Miyoung-ah. Sangat-sangat mencintaimu.” Bisiknya sembari mengecup kening gadis itu.
“Aku juga.”
Miyoung memejamkan kedua matanya, merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan Donghae yang erat. “Donghae-ah…” Panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kau tidak akan meninggalkanku kan? Kau akan tetap di sampingku kan?”
“Tentu. Aku akan tetap bersamamu, Miyoung-ah… selamanya.”
-Bloody Kiss-
“Bayi itu akan lahir dalam waktu dekat ini, kurasa… mungkin sekitar dua hari lagi.” Ujar Heechul yang saat itu tengah mengobrol bersama Jungsoo dan Jaehee.
“Dua hari lagi?” Jaehee mengerutkan keningnya, “Bukankah itu…”
“Tepat saat gerhana matahari…” Lanjut Jungsoo dan langsung di balas anggukan singkat Heechul.
“Ya, dia akan melahirkan bayi itu saat gerhana matahari tiba…”
“Tapi, bukankah saat itu adalah saat dimana Taeyang dan Donghae akan bertemu? Kita takkan mungkin membiarkan Donghae bertemu dengannya sendirian!” Sela Jaehee cepat.
“Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, Jae-ya…”
“Tapi-”
“Aku akan sangat membutuhkan kalian… jadi, kuharap… kalian akan menemaniku saat itu. Dan kurasa… ada baiknya Donghae memang tidak berada di mansion ini saat itu…”
Jungsoo terdiam, merenungkan kata demi kata yang baru saja di katakan Jungsoo tadi.
“Ya, kau benar, Heechul-ah…”
-Bloody Kiss-
Heechul berjalan menuju sebuah taman yang berada di belakang mansion ini. Ia tersenyum tipis ketika melihat sesosok pria yang tak asing lagi baginya. Seseorang yang sudah sangat dirindukan olehnya, namun sayangnya pria itu pastilah membenci dirinya.
“Kurasa, kau memiliki banyak persamaan seperti Raena…”
Kibum meliriknya sekilas lalu kembali mengabaikannya karena ia mengetahui dengan jelas siapa pemilik suara itu. “Tinggalkan aku sendiri!”
“Tidak bisakkah kau bersikap lebih baik pada Ayahmu ini, Kibum-ah?” Ujar Heechul kemudian, ia duduk di samping Kibum namun pria itu tetap mengabaikannya.
“Apakah kau akan tetap mempertahankan bayi itu juga?! Apakah kau akan membuatnya sama seperti nasibku?! Menjadi setengah Djinn dengan darah manusia yang tetap mengalir di dalam tubuhku ini?!” Kibum bertanya dengan nada sinis.
Heechul hanya tersenyum kecut saat mendengarnya. “Kau pastilah masih sangat membenciku…”
“Lalu apa kau berharap aku akan berterima kasih atas semua ini? Berterima kasih karena kau telah membunuh Ibuku sendiri demi menyelamatkan bayi bodoh seperti aku! Apakah aku harus benar-benar berterima kasih akan hal itu?”
“Kibum-ah…”
“Kau membuatku muak. Pergilah dari hadapanku!”
Heechul terdiam. Ia memandang Kibum dengan tatapan sendu dan ia tahu betul jika sebenarnya pria itu hampir saja menangis, terlihat dari kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ia pun lantas berbalik, hendak meninggalkan Kibum. Namun sebelum itu, ia berkata,
“Bukan aku yang menginginkanmu untuk lahir ke dunia ini, Kibum-ah. Bukan aku!” Ujarnya dan setelah ia menghembuskan nafasnya sejenak, ia kembali berkata. “Shin Raenalah yang memintaku untuk menyelamatkanmu. Dia… Ibumu lah yang menginginkanmu untuk tetap hidup, dan jujur saja… aku pun masih belum bisa menerimamu, Kibum-ah… tapi, mengingat jika ada darah Raena yang mengalir dalam tubuhmu… aku tahu… aku tahu, jika tak seharusnya aku membencimu.”
Deg!
Kibum tertegun mendengar ucapan Heechul. Sungguh, selama ini ia tak mengetahui hal ini. Dan ketika ia mendengar semua ini, ntah kenapa perasaan menyesal karena telah berkata kasar pada Heechul tadi pun, langsung merambat perlahan-lahan dalam dirinya.
“Aku menyesal karena telah membuatmu tersakiti selama ini. Maafkan aku, Kibum-ah…” Heechul kembali bersuara, sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari tempat itu.
Kibum hanya tetap terdiam di tempatnya. Wajahnya tertunduk dalam dan kedua tangannya pun terkepal kuat, tubuhnya mulai bergetar dan tanpa terasa air matapun mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
“Kenapa… kenapa… kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?” Ujarnya di sela isak tangisnya.
 -Bloody Kiss-
Malam itu seperti biasanya Donghae akan tetap memeluk Miyoung hingga gadis ini terlelap tidur, namun sampai saat ini Miyoung tak kunjung menutup kedua matanya. Gadis ini masih tetap saja terjaga.
“Kenapa kau belum tidur juga, Miyoung-ah? Berisitrahatlah sekarang, sayang…” Ujarnya sembari mengelus-elus perut Miyoung.
“Kudengar… kau akan bertemu dengan raja dari clan Minotaur. Apakah itu benar?”
Donghae mengernyitkan keningnya, “Bagaimana kau bisa tahu hal itu?”
“Ada seseorang yang memberitahuku…”
“Haish… pastilah Heechul Hyeong yang mengatakannya kan?!” Tuduh Donghae, ia menggerutu kesal. Dalam hatinya, ia berkata, ‘Kenapa Heechul Hyeong harus mengatakan hal ini padanya?!’ Sungguh, Donghae tak ingin membuat Miyoung khawatir tentang hal ini.
“Aku tidak akan pergi…” Ujar Donghae kemudian.
Miyoung lantas menoleh padanya, menatapnya bingung. “Kenapa kau tidak pergi? Bukankah itu hanya akan memperburuk suasana saja, Donghae-ah?”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Miyoung-ah. Ck! Biarkan saja pria banteng itu marah ataupun mengamuk! Aku tidak peduli!”
“Kau tidak boleh seperti itu, Donghae-ah. Kau harus tetap datang menemuinya…”
“Dan kau ingin melihatku bertarung dengannya?! Oh ayolah, Miyoung-ah… bukankah aku sudah bersumpah untuk tidak meninggalkanmu barang sedetikpun?!”
Keduanya langsung terdiam, Donghae memandang Miyoung dengan tatapan sedikit kesal tapi sedetik kemudian tatapan itu kembali melembut dan telapak tangan Donghae pun bergerak ke arah pipinya, mengusapnya dengan lembut.
“Maaf… aku tidak bermaksud berbicara keras kepadamu.” Sesal Donghae.
Miyoung mengangguk singkat, ia lantas menyandarkan kepalanya pada dada Donghae. “Aku… tidak ingin melihatmu bertarung dengan siapapun, Donghae-ah. Tapi… aku juga tidak ingin jika sampai raja clan Minotaur itu mengamuk dan bahkan menghancurkan mansion ini.”
“Kenapa kau begitu peduli dengan mansion ini? Kita bisa pindah ke manapun kau mau.”
“Tidak.” Miyoung menggeleng. “Terlalu banyak kenangan yang tercipta di mansion ini… aku tak ingin meninggalkan mansion ini, Donghae-ah. Aku ingin tetap di sini…”
“Miyoung-ah…”
“Karena itu… temuilah raja clan Minotaur itu dan jelaskan semuanya. Jelaskan secara baik-baik padanya jika kau tak ingin menikahi anaknya. Aku yakin kalian dapat berbaikan tanpa harus bertarung…” Pinta Miyoung, berusaha membujuk Donghae untuk tetap menemui Taeyang.
“Tapi, Miyoung-ah… aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini sendirian!”
“Aku tidak sendirian…” Miyoung menyela. “Bukankah ada banyak orang yang menemaniku di sini? Termasuk kedua orang tuamu…”
“Tapi, Miyoung-ah…”
“Aku akan menunggumu, Donghae-ah. Percayalah… aku akan baik-baik saja.” Gadis ini bergerak sedikit, dan perlahan ia mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Donghae.
Donghae masih terdiam, menatap ragu pada gadis di hadapannya ini. Namun, Miyoung hanya tersenyum tipis padanya, seolah meyakinkan Donghae jika ia akan baik-baik saja.
“Aku mencintaimu. Dan aku akan menunggumu sampai kau datang nanti.” Bisiknya.
Dan pada akhirnya, keputusan Donghae pun sedikit tergoyahkan. Pria itu lantas menarik tubuh Miyoung kembali, memeluknya dengan erat lalu mendaratkan kecupan lembut di keningnya.
“Jika itu maumu… aku akan melakukannya, Miyoung-ah.” Desisnya. “Aku mencintaimu. Dan aku tak ingin kehilanganmu… karena itu, bertahanlah sampai aku datang nanti…”
“Ehm.” Miyoung hanya mengangguk singkat di dalam dekapannya.
Namun, tanpa Donghae sadari, sekilas tersirat kesedihan yang mendalam yang terpancar dalam kedua mata Miyoung. Gadis ini perlahan menutup kedua matanya dan setetes air matapun turun dari pelupuk matanya.
‘Maafkan aku, Donghae-ah…’ Gumamnya dalam hati.
-Bloody Kiss-
Hari itu tiba, hari dimana Donghae akan bertemu dengan sang ketua dari clan Minotaur itu. Pria ini tak datang sendiri, ia datang di temani Eunhyuk dan Sungmin. Sementara Kibum, Jungsoo, Jaehee dan Heechul berjaga-jaga di mansion bersama makhluk lainnya, takut-takut jika Taeyang mengirim utusan lain ke sana.
Taeyang pun tak datang sendiri, dia datang bersama beberapa pasukan kebanggaannya dan tak lupa juga, ada sosok Hyunja di tengah-tengah pasukannya itu.
“Hah… aku pikir kau tidak akan datang kemari, Lee Donghae-ssi!” Ujar Taeyang seolah tengah menyindir pria yang berada 9 meter di hadapannya itu.
“Lalu, dimana para prajurit-mu itu, huh?! Kenapa mereka tidak ikut bersamamu?” Tanyanya lagi.
“Kami datang kemari bukan untuk bertarung, Taeyang-ssi. Kami hanya ingin berdamai dan akan menjelaskan semuanya padamu.” Sahut Donghae tetap terlihat tenang walau sebenarnya ia tetap waspada.
“Berdamai katamu?!” Tawa Taeyang langsung terdengar menggelegar di puncak bukit itu. “Apa kau sedang bercanda denganku, Lee Donghae-ssi?!”
“Kami tidak bercanda! Kami memang datang untuk menjelaskan semuanya, kami tidak datang untuk bertarung denganmu!” Seru Eunhyuk dengan lantang, menyebabkan tawa dari Taeyang seketika lenyap.
“Cih! Kau pikir aku mau berdamai denganmu setelah kau telah berhasil mempermalukanku dan juga anakku, huh?!” Teriaknya penuh dengan penekanan.
Donghae masih tetap terlihat tenang sekarang, “Aku tidak bermaksud mempermalukan siapapun, Taeyang-ssi. Lagipula… bukankah yang menginginkan pernikahan ini adalah dirimu?”
“Apa katamu?! Jadi, kau ingin menyalahkanku, hah?”
“Aku tidak menyalahkanmu!” Balas Donghae mulai sedikit terpancing. “Seperti yang kau tahu… aku sudah memiliki gadis lain yang telah kutandai, dan kurasa… Sungyeon sudah mengetahui hal ini… karena itu… aku memang datang kemari untuk meminta maaf dan berdamai denganmu.”
“Omong kosong! Kau pikir, apakah mempermainkan para clan Minotaur itu mengasyikan?!”
“Kami tidak sedang mempermainkan kalian, kami-”
“Cukup! Kita hanya perlu menyelesaikan semua ini dengan bertempur!” Seru Taeyang keras dan di saat itu juga, ia merubah wujudnya menjadi sesosok Minotaur.
“Sial!” Umpat Donghae kesal.
Sungmin melirik ke atas langit, “Sebentar lagi akan terjadi gerhana matahari…”
“Kita tidak ada pilihan lain selain menerima ajakannya untuk bertarung.” Ujar Eunhyuk sembari menoleh pada Donghae dan Sungmin yang berdiri tepat di sampingnya.
Donghae menggeram, “Aku akan membereskan pria sialan itu, kalian urus sisanya!” Ujarnya dan setelah itu pun sosoknya langsung berubah menjadi sesosok Demons seutuhnya.
-Bloody Kiss-
Kibum kini tengah bersama Miyoung, dia menggantikan tugas Donghae untuk menjaga gadis ini dan ia memang tidak keberatan dengan hal itu. Hanya saja, ia sedikit tidak tega saat melihatnya harus terkapar lemah tak berdaya seperti sekarang ini.
“Kau terlihat begitu mengenaskan saat ini, Miyoung-ah…” Ungkap Kibum jujur.
Bukannya menjawab, gadis itu hanya tersenyum lemah seraya mengelus-elus perutnya. “Aku tahu hal itu.” Jawabnya dengan tenang.
Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya Miyoung kembali berbicara.
“Jadi, Heechul adalah ayahmu?”
“Ya, begitulah.” Jawab Kibum sambil tersenyum kecut.
“Dan ini adalah alasanmu mengatakan jika aku akan menyesal kalau bertemu Ayahmu karena dia begitu membenci manusia. Benarkan?” Ujar Miyoung lagi.
Kibum terdiam, “Bisakah kita tidak membahas hal ini?”
“Dia menyayangimu, Kibum-ah…”
“Tapi dia sudah membunuh Ibuku sendiri!”
“Bukan dia yang menginginkan semua ini Kibum-ah. Sebenarnya dia juga tak ingin melakukan hal itu. Itu adalah permintaan Ibumu sendiri…”
Hening, tak ada jawaban dari pria itu. Ia hanya tetap diam sambil memunggungi Miyoung. Lalu tak berapa lama, terdengar sebuah rintihan tertahan dan ketika Kibum berbalik padanya, ia dapat melihat darah segar mengalir di antara kedua paha Miyoung.
“Oh tidak! Kau mengalami pendarahan, Miyoung-ah!” Panik Kibum.
“Ahk!” Miyoung menekan keras-keras kepalanya ke bantal, rasa sakit pada perutnya mulai terasa kembali dan sekujur tubuhnya terasa bergetar sekarang.
Hanya selang beberapa detik saja, Heechul, Jungsoo dan Jaehee telah berada di dalam ruangan itu tanpa di sadari sedikitpun oleh Kibum.
“Pergilah keluar, Kibum-ah!” Suruh Heechul.
“Tapi, aku harus menemaninya!”
“Kibum-ah, kita di serang oleh kawanan clan Ogre dan clan Minotaur! Kau harus keluar dan pergi membantu yang lain agar mansion ini tidak berhasil di rusak oleh mereka!” Ujar Jaehee tegas.
“Apa?! Mereka datang menyerang kemari?!”
“Ya, karena itu pergilah sekarang juga!” Seru Jungsoo kemudian dan tak butuh waktu lama untuk Kibum bergegas pergi dari tempat itu.
Heechul melirik sekilas ke arah luar jendela, di lihatnya langit mulai menggelap dan di rasakannya denyut nadi Miyoung yang terasa semakin melemah itu.
“Ini sudah saatnya…”
“AHK!” Teriakan kesakitan itu kembali terlontar dari mulut Miyoung, nafasnya tersenggal-senggal dan keringat dingin pun langsung mengucur dari keningnya.
“Dia mengalami pendarahan yang hebat!” Seru Jungsoo ketika melihat darah segar yang mengalir di antara kedua paha Miyoung.
“Jae-ya, ambilkan aku pisau kecil di ujung sana, cepat!!” Seru Heechul sembari merobek pakaian Miyoung di bagian perutnya.
Jaehee segera membawakan pisau tersebut dan memberikannya pada Heechul. “Apa yang akan kau lakukan, Heechul-ah?”
“Aku harus merobek bagian perutnya, dia tidak mungkin melahirkan bayinya dengan cara biasa.” Ujar Heechul seraya mengarahkan pisau itu ke bagian perut Miyoung.
“ARRRRRRGHHH!!” Teriakan Miyoung seolah beradu dengan suara bising yang berasal dari luar mansion ini.
Darah mengalir semakin banyak dan Heechul masih nampak sibuk berkutat dengan perutnya.
“Jaehee-ya, jangan biarkan gadis ini kehilangan kesadarannya, buat dia tetap terjaga!” Serunya ketika melihat kedua mata Miyoung mulai meredup dan beberapa kali hampir menutup.
Jaehee buru-buru memegang tangan Miyoung, sesekali ia mengusap kening gadis itu yang terus mengeluarkan keringat dingin. “Miyoung-ah, bertahanlah… aku tahu kau bisa melakukannya.”
Seolah mampu mendengar segala ucapan Jaehee, namun tak dapat membalasnya sedikitpun. Gadis ini hanya terus berteriak kesakitan, tangannya menggenggam erat tangan Jaehee.
Sementara itu, Jungsoo nampak sibuk menambah persediaan darah pada tabung itu. Darah yang ada di dalam tabung itu, ntah kenapa cepat sekali habis, seolah-olah organ-organ dalam tubuh Miyoung menghisap darah-darah tersebut.
“AAAAAAARRRRRRGGGGGHHH!!” Gadis ini semakin berteriak kesakitan ketika merasakan ada sesuatu yang tertarik dalam tubuhnya.
Suara tangisan bayi yang merasa kesal karena telah di renggut dari kehangatan rahim ibunya seketika pecah dalam ruangan tersebut. Tubuh Miyoung melemas dan ia pun samar-samar dapat melihat Heechul tengah mengangkat sesosok bayi mungil yang masih di lumuri banyak darah.
Heechul menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Kau melahirkan bayi laki-laki, Miyoung-ah.”
Seulas senyuman bahagia pun terkembang di wajah pucatnya, air mata terharu meluncur dengan bebas dari kedua sudut matanya.
Namun, sedetik kemudian, Jaehee merasakan pegangan Miyoung melemah dan perlahan-lahan tubuh Miyoung terasa berubah menjadi dingin.
“Oh, tidak! Heechul-ah!” Ia langsung menoleh pada pria di belakangnya itu.
Heechul segera menarik salah satu kain yang ada di ruangan tersebut dan membungkus bayi itu dengan kain itu. “Bawa bayi ini bersamamu, Jaehee-ya! Aku akan mengurusnya!” Suruhnya.
Jaehee bergegas meraih bayi itu lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
“Jungsoo-ya, bantu aku salurkan energimu padanya! Tutup luka di perutnya!” Serunya lantang.
Jungsoo mengikuti perintah Heechul, ia berkonsentrasi sepenuhnya dan langsung menyalurkan segala energi kekuatannya pada bagian perut Miyoung, berusaha menutup kembali luka yang ada pada perut Miyoung.
Heechul pun nampak mengeluarkan cahaya dari kedua telapak tangannya, ia meletakkan salah satu tangannya di bagian pergelangan tangan gadis itu, sementara tangan yang satunya lagi di bagian dada Miyoung.
Cahaya putih pun melingkupi tubuh gadis ini, menggambarkan kekuatan yang terserap oleh tubuhnya yang berasal dari energi Jungsoo dan Heechul. “Kumohon bertahanlah!” Bantinnya.
 -Bloody Kiss-
Donghae dan Taeyang nampak terlihat kewalahan satu sama lain. Keduanya sudah berduel sejak tadi, dan sudah banyak luka yang nampak di tubuh kedua pria ini.
“Sialan!” Geram Taeyang sembari berlari kearahnya dan melihat hal itu, Donghae pun bergerak secepat kilat lalu muncul di balik punggung Taeyang dan menendang pria itu sekeras-kerasnya.
“Argh!” Tubuh Taeyang tersungkur ke atas tanah, tapi ia sama sekali tak terpengaruh akan hal itu, ia segera bangkit dari posisinya lalu menarik salah satu kaki Donghae dan melempar tubuh pria itu hingga mengenai batang pohon yang besar itu.
Brak!
“Ugh!” Donghae sedikit meringis kesakitan, batang pohon yang terkena olehnya tadi langsung saja ambruk seolah terkena hempasan badai yang begitu kuat. “Sial!!” Umpatnya.
Darah segar mulai keluar dari mulut Donghae, menandakan jika pria ini mengalami luka dalam pada tubuhnya. Ia mengerang kesakitan sementara Taeyang memandangnya penuh kemenangan.
“Bangunlah bocah bodoh!! Bukankah kau adalah Demons terkuat, huh?” Taeyang berucap sinis.
Donghae hanya tetap terdiam di tempatnya, mengumpat kesal karena tubuhnya harus terluka. Ia sebenarnya sudah merasa lelah dan seakan tak memiliki tenaga lagi untuk bertarung.
“Cih! Jadi, sebegini saja kah kekuatanmu?!” Seru Taeyang mencemooh, “Baiklah, kalau begitu aku akan menghabisimu sekarang dan setelah itu aku akan menghabisi wanita manusia murahan itu!”
Deg!
Mendengar kata ‘wanita manusia’ Donghae kembali teringat akan janjinya kepada Miyoung.
‘Aku akan menunggumu sampai kau datang nanti.’
Taeyang hampir saja melayangkan pukulannya ke tubuh Donghae, tetapi ntah kenapa Donghae merasakan jika tubuhnya terasa jauh-jauh lebih kuat, tidak seperti sebelumnya.
Ia pun segera menangkis pukulan Taeyang. Di tangkapnya kepalan tangan Taeyang itu, lalu tanpa ada rasa belas kasihan ia mendorong tubuh Taeyang sekaligus menendang perutnya.
“ARGH!” Teriakan kesakitan Taeyang terdengar, pria itu tersungkur ke atas tanah dengan darah yang memuncrat dari mulutnya.
Sedetik itu juga Donghae telah berada di hadapannya, ia mencekik leher Taeyang kuat-kuat dan melayangkan pukulan bertubi-tubi pada wajah pria itu hingga darah segar kembali keluar dari mulut pria itu.
“Rasakan itu! Rasakan itu, raja brengsek!!!” Maki Donghae sembari tetap menghajarnya.
Donghae langsung menarik tubuh Taeyang yang sudah lemah, dengan gerakan cepat pria ini pun melemparkan tubuh Taeyang ke atas. Lalu di susul olehnya yang ikut melompat dan melayang lebih tinggi di atas tubuhnya.
Taeyang melebarkan matanya ketika di rasakannya satu pukulan yang cukup keras pada perut dan dadanya itu, darah segar kembali keluar dan bersamaan dengan itu, Donghae menarik kepalanya sembari menukik bersamaan ke arah bawah.
Brak!
Tubuh keduanya langsung terjatuh ke atas tanah hingga membentuk lubang yang cukup dalam. Debu berterbangan di mana-mana, dan di saat itu pulalah Donghae beranjak dari atas tubuh pria itu sembari membawa kepala Taeyang yang rupanya telah terpisah dari tubuhnya.
“Ck!” Ia berdecak sebal sembari menghempaskan kepala Taeyang ke atas tanah.
Tubuhnya seketika ambruk, ia terlalu kelelahan dan nafasnya pun tersenggal-senggal. Akan tetapi di balik itu semua, ia tersenyum penuh kemenangan.
Ia berusaha beranjak dari posisinya sekarang, ingin bergegas kembali ke mansion dan menemui Miyoung secepatnya, tapi langkahnya terhenti kala ia melihat sebuah cahaya hitam pekat yang berasal dari arah mansionnya yang berjalak puluhan kilometer jauhnya dari tempat ini.
Kedua bola mata hitam Donghae melebar, ia tahu dengan jelas maksud dari cahaya hitam itu. Ia tahu jika cahaya itu hanya akan di keluarkan oleh para clan Djinn jika ada seseorang terdekat mereka atau kawanan mereka yang meninggal!
Dan ia tahu dengan jelas jika cahaya itu berasal dari kekuatan Kibum. Seolah kekuatan itu tengah memberitahu dirinya, bahwa ada sesuatu yang buruk yang telah terjadi di mansion.
“Tidak!! Jangan katakan jika…” Ia tak mampu lagi berkata-kata dan secepat itu pulalah ia pergi menuju mansion.
Tak butuh waktu lama untuknya agar tiba di mansion, ia hanya memerlukan beberapa menit saja. Dan ketika ia tiba di sana, ia telah menemukan berbagai mayat clan Ogre dan clan Minotaur yang tergeletak tak berdaya di luar mansion.
Langkahnya pun terhenti kala ia melihat sosok Kibum yang tengah terduduk lemas di atas tanah dengan wajah yang tertunduk. Sekujur tubuh Donghae pun menegang, dan ketika ia telah benar-benar berada di hadapan Kibum, pria itu mendongakkan wajahnya.
“Apa yang terjadi, Kibum-ah?” Tanya Donghae dengan suara bergetar.
“Donghae-ah…” Kibum berucap dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya. “Dia… dia sudah tiada sekarang…”
Deg!
To Be Continued…