Jumat, 19 Desember 2014

∆NOTHER LOVE….[KYU-HWI] PART 9

∆NOTHER LOVE….[KYU-HWI] PART 9


TITLE                        : ∆NOTHER LOVE….[KYU-HWI] PART 9
GENRE                      : MARRIED LIFE (MAYBE)
RATING                    : PG-17          
CAST                         : CHO KYU HYUN - LEE HIU HWI


The real story from Mayda Ahn


            Saat tengah malam semua orang tertidur lelap Hiu hwi sendiri sedang bergumul didalam lemari es, sibuk mencari makanan. Akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat dan jelas berat badannya pun menjadi korban. Tapi bukankah itu wajar bagi ibu hamil dan kini kandungannya sudah menginjak bulan ke tiga, sedikit membuncit, anehnya tangan dan kakinya sudah seperti gajah hamil—menurutnya. Tadi Hiu hwi sudah menghabiskan stock ice cream milik Gyeol yang baru dibeli bersama kemarin lusa, pasti bocah itu akan mengamuk jika tahu, tapi seperti biasa Hiu hwi seperti mengkambing hitamkan kehamilannya untuk membuat semua yang dilakukannya terlihat polos, seperti ciri-ciri khas ibu hamil. Heol~

            “Gyeol-ya…”

            Suara itu begitu pelan tapi mampu membuat Hiu hwi mendongak dari gumulannya bersama makanan manis. Dibawah temaram lampu sana, kyuhyun berdiri ragu melihat kearahnya, sepertinya pria itu terkejut menemukan gumpulan badan yang hanya diterangi oleh lampu lemari es, ataukah karena terkejut melihat gumpulan daging bokongnya yang menyembul dari dalam lemari es.

            “Astaga ! Apa yang sedang kau lakukan, hiu hamil !?” sentak kyuhyun melihat kepala Hiu hwi menyembul dari dalam sana, ia mengira itu Gyeol karena bocah itu memiliki kebiasaan tidur sambil berjalan saat ia merasa lapar di dalam mimpi dan berjalan ke lemari es untuk memakan atau meminum sesuatu dalam keadaan mata terpejam.

            Hiu hwi ingin menjawab tapi isi mulutnya penuh dengan puding coklat yang tadi siang sengaja dibuatnya untuk dimakan bersama, tapi ternyata ia sendiri yang menghabiskannya. Tidak terduga menjadi wanita hamil itu. Kyuhyun mendekat dan menyampirkan jaket serta topinya di meja makan, memperhatikan ekspresi Hiu hwi yang tak bersuara sama sekali, dan ternyata ia harus menghela nafas, wanita itu kembali berulah.

            “Lagi ?” tebaknya tepat “aku tidak pernah melarang kau memakan apapun, tapi ini tengah malam Hiu hwi, oh tuhan sayangku.. kau akan sakit perut jika menghabiskan semua isi lemari itu jika benar terjadi”

            Hiu hwi memandang kyuhyun datar tapi merasakan sensasi kenyal puding didalam mulutnya yang masih berpotong besar, dan ia mengerjap. Sayangku ?

            “Lebih baik aku buatkan susu agar kau cepat masuk ke alam mimpi mu yang selalu lambat selesai itu” kyuhyun meninggalkan Hiu hwi menuju konter, mengeluarkan kotak susu dan menyiapkan mug, pria itu benar-benar melakukannya.

            Hiu hwi masih disana mematung dan kyuhyun melihatnya, ia menghela nafas, berjalan kembali mendekat ke Hiu hwi, ia menutup pintu lemari es dan menggiring Hiu hwi yang masih keheranan sepertinya. Kyuhyun menarik kursi dan mendudukan Hiu hwi disana, dan ia kembali ke konter melanjutkan membuat susu. Ia meletakkan mug sapi milik Gyeol dan menatap Hiu hwi memerintah untuk menghabiskannya dalam jangka pendek. Pria itu benar-benar memiliki aura menindas dan memerintah yang tak bisa dibantah, terlihat jelas dan tatapannya yang tajam walau jarang terjadi. Pria itu lebih sering menampakkan tatapan sayu dan kepolosannya.

            Heol~ dia memanipulasi yang menguntungkan, melelehkan hati wanita yang hampir melupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya hanya dengan tatapan dan snyumnya, sebuah penjualan yang mudah dilakukan.

            “Bernafaslah hiu hamil” nah itu dia, bernafas. Bahkan Hiu hwi sendiri melupakan hal penting itu dalam hidupnya, bagaimana jika ia benar-benar melupakan hal itu hanya karena mendapat tatapan pria itu. Sungguh memalukan.

            Kyuhyun menatap Hiu hwi sejenak lalu menghela nafas puas, ia melihat garis wajah wanita itu sudah mengendur, tidak seperti tadi ketika memakan semua isi didalam lemari es, sungguh tegang. tubuh Hiu hwi memang akan mengendur jika ia sudah bersentuhan dengan rasa susu ibu hamil, entah mengapa tapi benda itu cukup ampuh sebagai obat tidurnya. Kyuhyun mengangkat tubuh Hiu hwi dan menuntunnya menuju kamar, ia lelah dan tak ingin lagi melakukan apapun walau itu bersangkutan dengan Hiu hwi. Sejak ia keluar dari pintu mobil pundaknya terasa berat, seakan beban yang ia tinggalkan tadi di udara saat menyetir langsung menubruknya saat ia menginjakkan kaki di tanah. Hari ini begitu lelah, otak dan hatinya. Bahkan jika diperintah untuk menangis, kyuhyun pastikan ia bersumpah orang itu akan hidup bahagia, begitulah perasaannya sekarang.





            Ruangan itu begitu sepi tidak ada suara apapun seperti beberapa bulan yang lalu, kini kamar itu terasa begitu sepi tanpa ada suara dentingan. Kamar luas yang hanya didesain untuk seorang didalam sana, walau ranjangnya diperuntukan untuk pasangan. Suasana kamar itu cukup nyaman dan menenagkan paru-paru saat bernafas. Tapi sayangnya cahaya matahari tidak dapat masuk dengan sempurna, teralis-teralis besi yang berbentuk vertikal menghambat cahaya masuk. Jika diberi persamaan nama, kamar ini seperti sebuah penjara khusus untuk orang-orang keatas, hanya karena teralis itu, terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.

            Lupakan dengan cahaya yang masuk tak sempurna, yang ada terlihat lebih sempurna. Benda itu hanya berbaring tak melakukan aktifas yang mencolak sedikit pun, lebih-lebih menggerakan salah satu organnya pun tidak. Seperti seonggoh benda tak berguna, tapi nyatanya benda tak berguna itu membuat ruangan itu begitu cocok dengannya. Seakan inilah sang pemilik ruangan, hanya dia dengan kesetaraan tubuh dan kedudukannya berada disana.

            Untuk kedua kalinya lupakan itu, ini bukan masalah bagaimana benda itu ada disana, tapi mengapa benda itu berada disana.






            “Lihatlah nyonya, ini adalah bentuk tubuh bayi yang ada dikandungan anda, masih terlalu kecil mengingat baru memasuki usia ke empat bulan, tapi sebentar lagi tangannya akan terlihat mungkin beberapi minggu lagi” jelas dokter yang berusaha berkonsentrasi dengan matanya untuk melihat gambar itu.

            Sang nyonya pemilik kandungan itu diam terpaku, bola matanya mengikuti setiap gerak benda hidup yang ada disana, didepannya dan didalam tubuhnya. Terlihat begitu intens tapi ia tak bisa meraskaan apapun didalam sana, ia meraba perutnya, mungkin belum terlalu kuat, pertahanan kantungnya begitu kuat dan tebal, ia bersyukur akan itu.

            Rasanya ingin Hiu hwi menangis, ia tak pernah memiliki pemikiran kejadian ini akan ia alami. Mengandung dan pergi konsultasi setiap dua minggu sekali, ini bukan dirinya yang dulu. Walau sebelum ia rusak sekalipun—masih berpikir labil—tak pernah sejauh ini ia bermimpi, dulu ia hanya tahu bahagia bersama keluarga masa depannya, tidak dengan proses mengandung dan melihat anaknya yang bergerak ragu disana.

            Oh Tuhan rasanya ingin memeluk monitor yang menampakkan anaknya sekarang.

            “Pesan saya masih sama, jaga kesehatan anda, jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan berat dan kelelahan. Jangan menunda makan atau menahannya, itu wajar saat masa hamil, Nyonya”

            Hiu hwi mengangguk walau tak sepenuhnya mendengar nasihat si dokter yang tak pernah berganti topik kesehatannya sejak tadi, oh ya ini adalah pusat kesehatan ia melupakan hal itu walau membencinya dan ia salah satu dari puluhan orang yang membutuhkan tempat dan orang-orang yang ada didalam bangunan ini walau ia berani bertaruh hanya ingin melihat benda hidup di monitor itu. Sungguh, ia tak pernah melebihkannya walau akhir-akhir ini ia selalu melebihkan segala yang dilakukannya atau ia rasakan, tapi tidak dengan sekarang, ia berkata sesuai dengan hatinya.

            Bergeraklah terus. Guncangkan kantung tebal perlindungku ini nak. Aku menantikan gerakan mu. Aku mantikan kehadiran mu. Secepatnya.

            “Uisa, boleh aku minta foto di monitor itu ?”





            Saat menuju tengah hari adalah hal menyenangkan untuk Hiu hwi sejak hamil, karena ia akan bermalas-malasan dan memakan semua makanan yang ada didalam lemari es sambil menunggu kehadiran bocah manisnya—oh ia bersumpah dan bahkan berani berlutut sepanjang malam pada Tuhan saat menciptakan rupa bayinya sedang dalam keadaan baik, ia sangat ingin bayinya seperti Gyeol, terlihat manis tapi tidak dengan menyebalkannya. Menonton film kartun adalah kebiasaan barunya lagi selama hamil, dan menurutnya hal itu begitu menyanangkan bahkan ia pernah memiliki pemikiran anaknya itu akan menjadi penyuka kartun dan berkemungkinan besar memiliki sikap yang manis dan menyenangkan. Oh sudah tentu pendek sekali pemikirannya itu, dan ia tak mau menyangkalnya karena ia sadar seratus persen walau mungkin semua dikendalikan setan jahil yang membuat otaknya menjadi terkontaminasi dengan pemikiran menggelikan.

            “Gyeol pulang…”

            Teriakan bocah itu sudah terdengar seperti biasanya, karena saat ia milirk jam di dinding memang sudah waktunya Gyeol pulang. Setelah kandungannya menginjak usia bulan ke empat kyuhyun melarangnya untuk mengantar jemput Gyeol dengan alasan keselamatannya yang sering mengalami kontraksi. Menurut dokter jarang ibu hamil mengalami kontraksi lebih awal sepertinya, memang tidak membahayakan tapi efeknya membuat Hiu hwi langsung lemas dan kehilangan rotasi pikirannya, ia akan melupakan sesuatu yang akan dilakukan sebelumnya. Ganjil memang, tapi itulah nyatanya, dan dokter hanya mengatakan itu bawaan bayinya, Hiu hwi pun tak ambil pusing untuk mengiakannya.

            “Anak manis..ayo kemari” Hiu hwi merentangkan tangannya siap menerima serbuan peluk manis Gyeol

            “Noona. bogosipho…” Dan sesuai harapan Hiu hwi bocah itu langsung menubruknya dengan peluk yang manis dan nyaman, Hiu hwi selalu suka moment seperti ini bersama Gyeol karena rasanya ia menyadari peran sebagai seorang ibu.

            “Bagaimana hari mu, tampan ?” Hiu hwi mengusap rambut Gyeol dengan sayang dan sepertinya Gyeol sangat menyukainya karena terlihat matanya yang besar itu tertutup sayu nyaman.

            Tapi sepertinya Gyeol tampang enggang dulu menjawab pertanyaan Hiu hwi karena ia merasa sangat nyaman setiap berada dipelukan wanita cantik itu. Seperti merasakan kehadiran ibunya. Ya, dia merindukan belaian ibunya, ia merindukan keluarganya.







            “Gyeol kau ingin ikut berbelanja ?” tanya Hiu hwi yang terlihat sedikit kerepotan mengenakan dress hamil yang sudah menjadi temannya tiga bulan terakhir ini.

            “Kau ingin berbelanja, lagi ?” seru suara dari kamar mandi beriringan dengan suara air yang memercik berhenti. Tentu saja pria itu bisa mendengar didalam sana karena tadi ia tak bisa menahan pekikannya, terlalu kesal dengan gaun menyebalkan itu.

            “Apa maksud mu dengan ‘lagi’,” Hiu hwi meladeni pertanyaan itu walau hanya setengah hati “Kau tidak lihat lemari makanan kesayangan mu itu.”

            Bunyi pintu terbuka dan menampakkan sosok hanya dengan balutan celana pendek selutut dan handuk yang tengah digesekan dengan rambut basah yang menyeruakan wangi semerbak, berlebihan hanya wangi biasa saja tapi menjadi ciri khas pria itu, entah ia tak pernah mencium wangi pria setelah mandi.

            “Ku rasa aku tak perlu menanyakan ‘bagaimana bisa’ karena sudah tertebak. Aku akan mengantar mu” ujar kyuhyun setengah kesal karena ‘hiu hamil’ itu selalu saja memiliki berbagai alasan untuk keluar rumah, padahal ia bisa menyuruh pelayan yang dipekerjakannya saat wanita itu hamil. Dasarnya Hiu hwi yang keras kepala rasanya ia tak tahu lagi bagaimana mencegah ego wanita hamil itu.

            Dan kembali terdnegar bunyi pintu terbuka disamping mereka dan menampakkan tubuh kecil. Gyeol sepertinya sudah siap bahkan sebelum Hiu hwi meneriakinya tadi. Gyeol sangat menyukai dunia luar dan bermain. Dan itu menjadi alasan untuk kesekian kalinya untuk menahannya melarang mereka untuk keluar dari Apartemen, menyusahkan saja.

            “Noona, kajja,” seru Gyeol penuh semangat, rasanya bocah itu sudah memprediksi kalau mereka akan keluar sore itu “kita akan belanja besal hali ini. Yipiii itu pasti akan menyanangkan, kajja noona !” kini Gyeol menarik-narik pelan lengan Hiu hwi.

            kyuhyun melihat kalau Hiu hwi kesulitan untuk menarik sleting gaun hamilnya yang terlihat begitu besar ditubuh mungilnya. Oh kyuhyun ingat gaun ini adalah gaun pertama Hiu hwi dimasa kehamilannya, dan gaun yang dibelikannya dengan usaha penuh. Bagaimana tidak ia harus rela masuk sendiri ke butik khusus ibu hamil karena tidak mungkin ia menyuruh orang, pasti akan mencurigakan. Lebih parahnya mungkin ketahuan tentang rahasia ini, astaga ia tak berani membayangkannya, semua orang tahu kyuhyun adalah pria lajang yang tengah berada dipuncak karier solonya beberapa minggu ini dan apakah lucu jika ia dibicarakan menyuruh seseorang ke butik ibu hamil. Pasti semua akan menyerbunya, tak mungkin juga ia memberi alasan untuk dirinya sendiri bukan ? Ia pria. Normal. Dan sempat terkejut seharian membaca artikel jika pria bisa mengandung. Perutnya memang sedikit lebih berisi sekarang, tapi itu karena ia terlalu malas untuk meluruskannya lagi, bukan karena ia menggantikan Hiu hwi mengandung anak mereka. Jangan salah sangka.

            Tangannya tanpa diperintah lagi sudah bergerak dan menarik resleting gaun itu dengan sedikit sulit karena sepertinya ada yang mengganjal “Kapan kau akan memeriksa kandungan mu lagi ?”

            “Lusa” jawab Hiu hwi seadanya, karena memang ia sendiri bingung menjawab pertanyaan kyuhyun, pria itu tidak pernah seperti itu sebelumnya.

            Kyuhyun mendesah senang, akhirnya sleting itu bisa ditarik ke atas “Aku belum pernah menemani, bukan ?”

            Walau masih bingung dengan arah pertanyaan kyuhyun, Hiu hwi tetap menjawabnya dengan anggukan. Ia menggerakan badannya mencari kenyamanan gaun sorenya ini, gaun yang indah menurut pandangan pertamanya dulu. Ia langsung jatuh cinta dengan gaun berwarna soft ini karena ia menyukai warna-warna seperti itu terlebih lagi ada aksen bunga-bunga yang mengumpul dibagian lehernya.

            “Kalau tidak terlalu sibuk aku akan mencoba meminta ijin.”

            Pernyataan kyuhyun membuatnya terpaku, pria itu mengatakan hal yang diluar akal sehat sepertinya. Hiu hwi tak pernah berpikir kyuhyun mengatakan hal itu atau bahkan terlintas pikiran untuk meminta ijin diwaktu sibuknya hanya untuk menemaninya ke dokter. Bukannya selama ini kyuhyun tidak peduli atau mengabaikan kehamilan Hiu hwi, hanya saja setiap jadwal pemeriksaan itu datang kyuhyun hanya akan mengatakn berbagai larangan juga nasihat saat Hiu hwi keluar rumah, mendengar nasihat dokter dnegan baik, meminta vitamin khusus jika memang perlu, dan akan menanyakan hasil singkatnya saja setelah ia pulang.

            Kyuhyun menyadari kalau perkataannya tadi terdengar aneh, dia orang yang sangat sibuk dan bertambah sibuk setelah mengeluarkan album terbarunya. Tapi entah kapan hari pikiran untuk menemani Hiu hwi ke dokter kandungan membuat hormon ‘inginnya’ berkembang, biasanya dia hanya akan menanyakan saat wanita itu pulang. Jadi wajar saja kalau ia melihat ekspresi Hiu hwi membeku, wanita itu sepertinya sedang berpikir keras karena keningnya berkerut. Rasanya ingin tertawa saja tapi melihat Gyeol ada diantara mereka ia urungkan.







            Sesuai dengan pernyataan kyuhyun, ia menemani Hiu hwi memeriksa kandungan walau datang terlambat karena jarak tempat pertunjukkannya jauh dari rumah sakit. Terlihat saat sebelum kyuhyun memasuki ruang pemeriksaan wajahnya tegang, mungkin ini pengalaman pertamanya. Tapi setelah mendengar penjelasan dokter tentang keadaan kandungan Hiu hwi dan pertumbuhan apa saja yang terjadi wajah itu mengendur, terlihat nyaman dengan perhatian tertuju penuh menyimak. Kembali Hiu hwi merasakan hal lain dari sisi kyuhyun, ini berbeda sekali.

            “Ku rasa semuanya baik-baik saja, tidak ada kelainan apapun dalam kandungan anda,” ujar sang dokter mengakhiri pemeriksaannya “apakah seperti biasa nyonya ?” tanya sang dokter pada Hiu hwi yang membuat kerutan dikening kyuhyun.

            Hiu hwi mengangguk pelan “Iya uisa”

            Kyuhyun tidak tahu maksud dokter dan Hiu hwi tadi yang pasti sekarang tubuhnya seperti mengalami sebuah uforia yang dasyat. Ia tak pernah merasakan ini sbeelumnya. Selama pemeriksaan mata dan otaknya terfokus pada suara merdu sang dokter cantik dan gambar di monitor yang ada didepannya. Memang hanya gambar tak jelas, tapi kyuhyun seolah melihat dengan begitu jelas. Melihat gerak-gerak kecil oleh tangan dan kaki yang menekan bulatan didepannya, seperti ingin cepat melarikan diri. Ingin rasanya ia menyentuh benda itu tapi sadar ia akan terlihat seperti orang tak waras. Mungkin sekarang cukup hanya dengan melihatnya saja, nanti ada saatnya ia akan menyentuh benda yang bergerak itu atau bahkan ia bisa menggendongnya, oh rasanya ia tak sabar menunggu saat itu.

            Hei, sebentar lagi. Kita akan bertemu. Didunia yang begitu banyak warna tidak lagi dunia sempit hanya sebesar telur dinasaurus itu. Kita akan bertemu. Kau menantikannyakan nak.






            Masa-masa tersulit dalam kehamilan adalah saat perut mu seperti kemasukan balon udara yang mengompa sendiri setiap waktunya. Ada banyak senasi yang kau rasakan, mual, perasaan buruk, pemikiran negatif, hilangnya kepercayaan diri, ketidak sabran menanti, keluhan berat dan bentuk badan menyedihkan mu serta guncangan yang selalu kau sertai kesyukuran. Ini bukan sebuah bualan walau memang dilihat dari kaca wanita manapun mereka seakan belum sanggup menerimanya. Begitu pun Hiu hwi.

            Mual adalah teman setianya setiap pagi dan tengah malam, tidak menutup kemungkinan jika kandungannya menginjak bulann ke enam, tinggal du abulan lagi masa-masa penuh sensasi itu diakhirinya. Setengah menanti-Setengah menahan.

            Tapi berkaca bagaimana indahnya mengalama sensasi itu membuatnya dilanda kesedihan, Tuhan tahu itu. Dia tak boleh egois dimasa kehamilannya ini, persetan dengan sensasi memuakan itu karena setiap detik terasa itu adalah sisa waktu yang dimilikinya merasakan hal ini. Kehamilan yang tak dikehendakinya, namun ada seseorang yang mengkehendakinya.

            Hiu hwi tak pernah bermimpi akan merasakan sensasi secepat ini di usianya yang terbilang begitu muda, dua puluh satu tahun. Jika ada survei tentang hal yang dialaminya ini ditanyakan pada wanita muda diluar sana, ia yakin tak akan pernah ada yang mau mengalaminya, jika jujur pun ia tak ingin. Walau hidupnya sudah hancur bukan berarti ia menginkan hidup dengan sesingkat ini, terlalu mendewasakan diri untuk ia alami. Hamil bukanlah hal yang umum dioemikiran wanita seusianya tapi inilah yang ia pilih, mengandung anak.

            Tuhan tahu ia begitu rapuh untuk menerima balon gas didalam perutnya ini, tapi Tuhan pun tahu dibalik kerapuhannya ia sanggup. Jadi untuk apa sekarang ini ia merasakan ‘harus menjadi egois’ jika padanya takdir Tuhan sudah tergaris untuknya seperti ini. Walau ia sudah tak mempercaya apakah Tuhan masih menyayanginya dan menganggapnya sebagai salah satu dari sekian milyar ciptaannya yang harus diperhatikan, tapi Hiu hwi percaya Tuhan selalu melihatnya.

            Buktinya adalah ia mengandung anak dari seorang yang begitu bertanggung jawab menampung hidupnya untuk keluar dari lingkaran gelap sana. Ia tak perlu lagi melakukan hal yang membuat kemurkaan penciptanya wlaau sekarang pun secara tidak langsung Tuhan mungkin sudah sangat muak dnegan hidupnya, lebih baik mungkin ia pergi saja dari dunia ini. Tapi satu yang ia pegang teguh tentang kepercayaannya tentang itu, ibunya pernah mengatakan ‘Kalau kau merasa diri mu lelah dan sendiri maka ingatlah untuk pergi ke bangunan ini dan berdoa pada Tuhan untuk menemani mu. Bunyikan lonceng dan berdoalah”

            Dan Hiu hwi tengah menatap benda itu, tergeletak tak bergeming dengan kehadirannya, benda mati. Lonceng tua yang masih sangat dikenalnya, ia selalu bertemu benda itu setiap minggunya. Keluarganya akan pergi ke tempat ini setiap minggu untuk berdoa dengan membunyikan lonceng sekeras mungkin—kata orang jaman dulu agar tuhan lebih mantap mendengar suara kita yang jauh dari atas sana—berharap Tuhan dengan kemurahan hatinya mengabulkan. Dulu ia dan sepupunya—Yun hee—berebut membunyikan lonceng tua itu dan harus diakahiri dengan tangis karena tak ada yang mau mengalah.

            Rasanya Hiu hwi ingin menangis mengingat semua kenangan masa kecilnya itu, walau itu tak berlangsung lama tapi ia bersyukur, Tuhan berbaik hati memberikannya kenangan baik yang terdominan pada buruknya.

            Hiu hwi masih mengamati benda itu ditengah kesunyian bangunan diatas bukit ini, suasana sepi selain percikan air dikolam ikan yang konon memberikan keberuntungan dan gesekan daun musim gugur yang sudah menguning mati. Niat awalnya ke tempat ini adalah berdoa agar proses melahirkannya lancar dan berharap masih berlaku ia mengucapkannya. Tapi setiap anak tangga yang ditapakinya mengingatkan pada masa lalunya, masa indahnya. Dimana dipenuhi dengan kebahagian dan tawa yang tak pernah ia rasakan lagi sekarang. Pertengkarannya dengan Yun hee, satu-satunya teman sebaya sekaligus sepupu yang kini entah bagaimana kabarnya setelah mereka pindah saat memasuki sekolah baru, Hiu hwi merindukan sepupunya, teman sebayanya, ia ingin bertemu.

            “Masih berlakukah aku berdoa disini ?” gumam Hiu hwi menatap sedih lonceng emas tua itu, terlihat begitu bodoh.

            Ingin sekali rasanya ia menangis dan meminta pada lonceng emas itu agar memberitahu Tuhan ia ingin kembali pada masa dulu itu. Ia lelah dengan kehidupannya sekarang ini.
            “Aku ingin kembali”

            “Kembali kemana nona ?” suara serak dan rapuh itu menyentakkan Hiu hwi dari lingkup masa lalunya. Suara dari orang tua dengan baju putih serta hitam khas biarawati dengan renda digaris pundak kebawah dan tudung panjang dibelakang kepala yang menutupi rambutnya

            “Apa kau sedang sedih ?” tanya orang tua itu sepertinya mengerti denga raut sedih yang terpatri jelas diwajah cantik yang menjadi perhatiannya sejak ia keluar dari tempat ibadah tadi.

            Hiu hwi sedikit ragu menjawab, tapi ia tahu orang tua ini adalah pengurus bangunan ini “Ya,” lirihnya “maaf apakah aku mengganggu kegiatan anda ?”

            Orang tua itu tersenyum lembut “Tidak. Apa kau berniat berdoa dengan membunyikan lonceng itu ?”
            Hiu hwi mengangguk walau sebenarnya ia sendiri tak yakin akan melakukannya.

            “Aku harap nona tidak membunyikannya dengan semangat, karena telinga ku akan berteriak lebih mengerikan dari bunyi yang dihasilkan lonceng emas tua itu” orang tua itu tertawa kecil mencoba menghibur dan Hiu hwi pun akhirnya tersenyum

            “Ku rasa aku akan mengurungkannya”

            Orang tua itu menatap Hiu hwi lembut mengamati jika wajah itu tak lagi terlihat begitu sedih seperti tadi dan tatapannya terpaku pada bagian tengah tubuh, perut.

            “Apa nona berdoa untuk proses melahirkan nanti ?” tebak orang tua itu dengan wajah perhatian.

            Sejak dulu ia menyukai ibu-ibu hamil yang datang kesini berdoa untuk keselamatan anaknya saat proses melahirkan dan memohon kebahagian untuk anaknya kelak ketimbang dengan anak muda yang meminta jodoh.

            Hiu hwi menganggu, “sepertinya begitu, tapi aku tak begitu yakin” sorot mata Hiu hwi kembali sedih.

            “Maukah nona berbagi ?” orang tua itu menawarkan diri dengan kelembutan dan kasih sayang yang begitu Hiu hwi rindukan, dan tak perlu pikir panjang lagi Hiu hwi mengangguk setuju. Mungkin ia butuh kelas rohani sejenak.





            Diruangan bewarna emas ini Hiu hwi menumpah segala yang dialami hidupnya ini, bahkan tak sangkanya ia menangis dengan deras didepan orang tua itu. Rasanya tak perlu ada yang ditutupi sekarang, mulutnya terlalu jujur didepan orang tua itu.

            “Nona pasti sangat lelah” komentar singkat orang tua itu. Hiu hwi tak mengelak bahkan ia juga lelah mengeluh.

            “Lebih dari lelah”

            “Apakah sudah selesai nona bercerita ?”    

            Hiu hwi mengangguk dan tersipu malu menghapus air matanya karena terlalu lancang berceri panjang pada orang tua yang sampai sekarang belum ia ketahui namanya.

            “Apa yang nona bayangkan saat melihat saya ? Pasti makhluk Tuhan yang suci dan setia beribadah ditempat membosankan dijaman sekarang ini. Sisa hidup yang ditemani dnegan bangunan tua yang memiliki warna sama, ikan-ikan yang dianggap sebagai simbol keberuntungan tapi tak begitu beruntung juga karena mati setiap waktunya dan lonceng emas tua yang jika tidak saya ganti talinya setiap tahun dengan meminta bantuan warga sekitar yang sering datang kemarin, tapi jika taka da warga maka saya sendiri yang menggantinya,” orang tua memulai ceritanya dengan senyum lembut “pada nyatanya semua itu adalah kebohongan belaka, saya bukan makhluk suci yang dimiliki Tuhan, tapi saya adalah makhluk yang berusaha mencoba mensucikan diri kembali.”

            “Dulu saya tak pernah membayangkan diri akan berada ditempat membosankan ini, tapi Tuhan sudah menggariskan takdir. Saya berasal dari keluarga yang mengutamakan adat dan kehormatan diri, tapi saya tak begitu. Masa sekolah menegah dulu saya sudah dinyatakan  hamil tanpa ikatan pernikahan. Keluarga saya tidak tahu dan saya juga tak berniat memberitahu sebelum bisa menemukan ayah anak yang dikandungan saya. Tapi saat lelaki itu sudah ditemukan dan bersedia menikahi saya, Tuhan menggariskan hal lain dibuku takdir saya, lelaki itu ternyata sudah memiliki istri dan membatalkan segalanya dihari pernikahan.” orang tua itu menghela nafas tampak mehana air matanya “Keluarga saya sangat malu dan akhirnya tahu kalau saya hamil. Mereka meminta saya menggugurkan kandungan dan pergi dari kota ini dengan tidak lagi menyandang nama keluarga. Rasanya hidup saya seperti tertimpa benda-benda yang ada dilangit, menjadi gelap dan saya ingin mati saja waktu itu. Karena tak ada pilihan lain didunia yang kejam ini, saya melakukannya dan kembali menjalani hidup sebagai orang yang tak memiliki keluarga. Beberapa tahun kemudian saya divonis mengidap tumor rahim karena proses aborsi yang tak bersih yang memaksa untuk mengangkatnya keluar dari tempatnya. Saat itu saya sedang menjalani masa-masa bahagia  kembali karena ada seorang pria baik hati yang mau menikahi wanita menjijikan seperti saya, tapi lagi-lagi itu bukan garis saya.”

            “Semua berjalan begitu cepat, pernikahan kedua yang batal dan operasi pengangkatan rahim saya. Tapi menurut teman-teman saya, lelaki itu masih mencari saya, ia sepertinya sangat mencintai saya begitupun sebaliknya. Saya sangat mencintai lelaki itu. Tapi Tuhan tak pernah mengikat kami, karena saya berpikir lelaki itu bisa mendapatkan kebahagiannya sendiri tanpa ada saya didalamnya. Sebulan kemudian saya kembali divonis menderita kanker payudara yang semakin membuat hidup saya terasa gelap gulita. Dan pada hari itu juga saya mangalami kecelakaan karena kekalutan yang saya rasakan. Saya buta. Tapi saya berharap saat itu saya mati. Pernah sekali saya mencoba melakukan hal bodoh dengan menuruni tangga bersama kursi roda berharap mati saat itu. Tapi ternyata seseorang menahan saya dan membisikan kata-kata indah yang seperti memberikan cahaya dikegelapan dunia saya. Ternyata orang itu adalah mantan calon suami saya, dia berhasil menemukan saya. Dia tahu semua yang saya alami dan meminta satu hal yang membuat saya mau melakukannya hingga samapai sekarang. Saya menjalani operasi untuk kesekian kalinya secara berturut-turut beberapa bulan karena ada pendonor yang menolong mata saya.”

            Hiu hwi menganga mendengar cerita orang tua itu, ia tak pernah menduga ada cerita yang begitu tragis selain dirinya. Mustahil. Bagaimana bisa orang sebaik orang tua ini bisa mengalami begitu banyak penderitaan dan masih mengingat jelas diusianya yang rentan ini. Bahkan ia tak sneggup menahan air matanya, ia menangis dan orang tua itu yang kini diketahuinya adalah seornag wanita tersenyum lembut mengenang masa kelamnya.

            “Benar kata orang dulu, jika kau melempar batu maka batu itu akan kembali pada mu. Jika kau melempar kebaikan maka kebaikan akan kau terima, tapi jika keburukan maka seperti inilah cerita saya. Disetiap cerita tragis pasti akan ada peran terbaik disana, dan dicerita tragis saya peran terbaik adalah mantan calon suami saya. Tapi peran terbaik itu adalah hal yang paling menyebalkan menurut saya, mereka pasti akan berperan juga seperti pahlawan. Lihat, perhatikanlah mata saya” orang tua itu menajamkan matanya dan baru Hiu hwi sadar jika mata itu bewarna biru legam yang indah “Ini bukan milik saya, tapi milik lelaki itu” orang tua itu menunjuk ke arah samping, Hiu hwi mengikuti arah tangan itu, jendela yang menampakkan taman besar samping tempat ini.

            Disana hanya ada bunga lily yang belum ia tahu dan juga kursi roda. Hiu hwi menajamkan penglihatannya dan ternyata dikursi roda itu ada penunggunya, lelaki tua yang rapuh sedang menyirami bunga tanamnya. Tatapan lelaki itu kosong dan penyiram ditangannya tak tepat menyirami ke bunga, ketika itu Hiu hwi sadar siapa lelaki itu. Ia menoleh kembali ke wanita tua itu dan mendapatkans enyum lemahnya yang lembut. Seakan mengerti arti tatapan itu, ia mengangguk.

            “Itu mantan calon suami saya. Pendonor mata biru legam indah ini.” ujar wanita tua itu masih dengan senyumnya.

            Pandnagan Hiu hwi kembali ke lelaki tua itu dan ia melihat senyum lemah menyertai tubuh rentan itu. Bagaimana bisa lelaki tua itu tersenyum dalam keadaannya yang begitu menyedihkan ?

            “Kami tak pernah menikah. Dia tak pernah meminta ku menikah dengannya lagi karena ia tahu penolakan akan menjadi jawabannya. Ia selalu ada disamping ku dan terus mengucapkan kata-kata indah yang menyelamatkan ku waktu itu.” wanita tua itu pun juga menatap sendu lelaki yang dicintainya sepanjang umur selama ini.

            “Kau pasti sanagat mencintainya.”

            “Kami mencintainya. Aku dan Tuhan mencintainya. Karena hari kami seperti yang dikatakannya selalu Tuhan menyertai.”

            “Kau pasti bahagia lelaki itu ada disisi mu”

Wanita tua itu mengalihakn tatapannya pada Hiu hwi dan kembali tersenyum “Lebih dari sekedar bahagia”

            Tatapan mereka kembali tertuju pada lelaki tua yang kini mencoba menundukkan kepalanya untuk mencium bunga yang tadi sudah ia raba-raba ada didepannya. Tapi meski sudah mencoba ia tetap gagal, bunga itu tertiup angin dan sudah tak berada tepat lagi ada didepannya. Pikiran mereka melayang pada cerita masing-masing betapa beruntung jika memiliki seorang lelaki seperti yang berada disana, pasti dunia tak akan lagi seperti tertimpa ribuan benda langit.

            Wanita itu menyadari keheningan yang ada diantara mereka, ia kembali menatap Hiu hwi dan tersenyum “Kau ingin tahu apa yang dikatakan lelaki itu saat menyelamatkan ku dan disetiap hari-hari ku ?” tanyanya mencoba mengalihkan tatapan kagum pada lelakinya

            Hiu hwi menoleh dengan bingung “Apa ?”

            Kembali, wanita tanpa bosannya tersenyum lembut “Cintaku. Kami mencintai mu. Aku dan Tuhan. Dan aku sangat mencintai mu, Hye ra.”




1 komentar:

  1. Authornim ceritanya bagus ^_^
    Mungkin sedikit koreksi untuk penjedaan bagian dialog.
    Semangat terus untuk ide cerita yang lain^^

    BalasHapus